Sekilas mengenai usaha “Pembiayaan”

Kita mengenal usaha pembiayaan, atau lebih dikenal dengan usaha “leasing“. Pada umumnya usaha pembiayaan di Indonesia, erat kaitannya dengan industri besar, dan merupakan diversifikasi usaha dari industri tersebut. Untuk lebih mengenal apa dan bagaimana strategi usaha pembiayaan, di bawah ini secara garis besar saya akan mencoba menguraikan apa yang dimaksud dengan usaha pembiayaan, dan bagaimana strategi pengembangannya.

1. Sekilas mengenai industri pembiayaan.

Industri pembiayaan berkembang pesat dan saat ini terdapat ± 130 perusahaan aktif yang dapat dikelompokkan dalam beberapa segmen: perusahaan pembiayaan besar (aset Rp. 1 triliun ke atas; 22 perusahaan), menengah (aset Rp.100 miliar s/d di bawah Rp. 1 triliun; 47 perusahaan), dan kecil (aset di bawah Rp.100 miliar; 72 perusahaan). Pada industri pembiayaan (multifinance) umumnya pemenangnya adalah mereka yang menerapkan harga pasar. Umumnya mereka adalah pemuka lama yang memiliki funding di atas rata-rata, yang bersumber dari pasar modal atau grup/perbankan (Rico, B dan Woro, D.W., 2006).

Persaingan industri sangat ketat, karena perusahaan pembiayaan ingin menguasai pasar yang selama ini didominasi pemain lama dan perbankan. Seperti usaha pembiayaan skala menengah ke bawah lainnya, ketergantungan funding terhadap grup atau perusahaan induk sangat besar. Saat ini funding perusahaan umumnya tergantung dari perbankan, yang mayoritas berasal afiliasi perusahaan pembiayaan yang bersangkutan. Kondisi ini menyebabkan perusahaan berisiko terhadap perubahan suku bunga. Di samping itu perubahan BI rate yang terlalu cepat dapat menyebabkan risiko pada nilai tukar rupiah.

Perusahaan pembiayaan perlu mengkaji pertumbuhan modal dengan penambahan modal disetor, disamping pertumbuhan dari laba. Sesuai peraturan Menteri Keuangan No.84/PMK.012/ 2006 tanggal 29 September 2006,

pasal 13 menyatakan bahwa “modal disetor atau simpanan pokok dan simpanan wajib dalam rangka pendirian perusahaan pembiayaan, untuk perusahaan swasta atau perusahaan patungan sekurang-kurangnya sebesar Rp.100 miliar.”

Di dalam pasal 45 dijelaskan, bahwa “perusahaan pembiayaan pada saat ditetapkan peraturan Menteri Keuangan tersebut, tidak wajib menyesuaikan persyaratan modal disetor sepanjang tidak melakukan perubahan pemegang saham.”

Perusahaan pembiayaan merupakan perusahaan yang mempunyai risiko tinggi, sehingga ada kemungkinan pemerintah akan sering mengeluarkan beberapa kebijakan, dan perusahaan harus mentaati agar tidak terkena sanksi pencabutan izin usaha.

2. Tujuan usaha pembiayaan pada umumnya sebagai berikut

  • Menyediakan produk yang berkualitas dan pelayanan yang profesional untuk menjamin kesetiaan pelanggan.
  • Memanfaatkan sumber daya yang ada secara maksimal untuk memperoleh revenue yang dapat memberikan kontribusi bagi pemegang saham, dan kesejahteraan bagi karyawan.

3. Strategi pengelolaan dan pengembangannya

  • Bidang Pemasaran : a).Membangun kerjasama dengan dealer. b)Sinergi bisnis dengan grup/induk perusahaan, untuk membangun captive market. c)Pemilihan konsumen sangat menentukan terhadap keberhasilan pembayaran kembali produk yang dijual.
  • Bidang Produk: a).Kegiatan usaha masih tetap diutamakan kepada sewa guna usaha dan pembiayaan konsumen. b)Menciptakan produk yang sederhana di mata konsumen, dan dari sisi mitigasi risiko masih tetap aman. c) Produk yang di jual adalah produk yang kualitasnya bagus, serta mudah dijual bila terjadi penarikan kembali dari konsumen.
  • Bidang Keuangan: a). Bila tak memungkinkan dan funding mayoritas dari Bank, ada keterbatasan untuk menambah jumlah funding yang diperoleh. Oleh karena itu perlu dipertimbangkan untuk memperoleh pendanaan dari berbagai sumber. b)Risiko terhadap kenaikan NPL (Non Performing Loan) dapat dijaga apabila produk hanya dijual kepada konsumen yang telah memenuhi kriteria kelayakan dan risiko yang dapat diterima. c) Apabila terjadi keterlambatan pembayaran oleh konsumen, harus segera dilakukan analisis dan dilakukan restrukturisasi, agar tidak berkembang menjadi pemburukan. d) Diperlukan diversifikasi pembiayaan kepada konsumen agar tidak terjadi penumpukan risiko hanya pada beberapa konsumen tertentu.
  • Bidang Permodalan: a)Secara bertahap perusahaan perlu melakukan pemupukan modal, atau berusaha mendapatkan penambahan modal disetor dari para pemegang saham. Peraturan Menteri Keuangan no.84/PMK.012/2006 tanggal 29 September 2006 tidak mewajibkan menyesuaikan persyaratan modal disetor bagi perusahaan pembiayaan yang telah berdiri sebelum peraturan Menkeu tersebut dikeluarkan. Namun mengingat risiko usaha pembiayaan yang tinggi, dikawatirkan pemerintah akan terus melakukan serangkaian kebijakan untuk mengatur perusahaan pembiayaan. b)Rasio modal terhadap aset total masih di bawah rata2 industri pembiayaan (25%). Kecukupan modal sangat diperlukan untuk mengcover risiko yang mungkin timbul.
  • Bidang Sumber Daya manusia: a)Diperlukan Sumber Daya Manusia yang berkualitas agar dapat melakukan marketing, menganalisis risiko, dan melakukan perbaikan jika terjadi risiko gagal bayar dari konsumen. b)Perlu dilakukan training untuk memperkuat jajaran marketing dan analisis risiko, sehingga dapat diperoleh nasabah yang potensial. c) Perlu diperhatikan kemampuan untuk membangun dan menjaga corporate image agar menarik minat konsumen.

4. Program kerja yang dilakukan

  • Melakukan mapping terhadap jenis kegiatan usaha yang selama ini telah dilaksanakan oleh perusahaan. Selanjutnya hasil mapping ini akan diketahui: nasabah-nasabah yang potensial, sektor usaha mana yang masih layak dikembangkan, serta sektor usaha yang risikonya tinggi.
  • Setelah mengetahui hasil mapping kemudian dilakukan langkah-langkah; mengembangkan usaha kepada sektor yang masih mempunyai prospek baik, mencari ceruk jenis usaha lain yang layak dikembangkan, membangun kerjasama dengan dealer.
  • Sedangkan bagi sektor usaha yang mempunyai Non Performing Loan (NPL) tinggi, perlu dilakukan langkah-langkah: menilai kembali apakah masih dapat diperbaiki dengan restrukturisasi, melakukan serangkaian negosiasi dengan konsumen untuk melakukan pembayaran, melakukan penagihan ataupun litigasi bilamana tidak mungkin dapat dibayar kembali.
  • Diversifikasi dalam funding untuk memperbaiki struktur pendanaan.
  • Perlu dilakukan perbaikan-perbaikan agar dapat memenuhi kriteria sebagaimana digariskan dalam peraturan Menteri Keungan no.84/PMK.012/2006 tanggal 29 September 2006, antara lain: a)Pemenuhan setoran modal secara bertahap. b) Perusahaan wajib memiliki piutang pembiayaan sekurang-kurangnya 40% dari total aktiva. c)Jumlah pinjaman selain kepada Bank, sekurang-kurangnya Rp.1 miliar untuk setiap investor, dengan jangka waktu minimal 1 (satu) tahun. d)Jumlah pinjaman dibanding modal sendiri (net worth) dan pinjaman subordinasi dikurangi penyertaan (gearing ratio) setinggi-tinggi nya sebesar 10 kali.
  • Perlu dilakukan pemantauan yang terus menerus, untuk menjaga agar NPL tidak melampaui 5%. Perusahaan juga perlu melakukan diversifikasi pembiayaan, agar terjadi penyebaran risiko.
  • Meningkatkan dan mengoptimalkan Sumber Daya Manusia. Keberhasilan usaha pembiayaan sangat dipengaruhi oleh kualitas Sumber Daya Manusia yang dimiliki, sehingga perbaikan kualitas Sumber Daya Manusia merupakan hal yang sangat penting.
  • Perbaikan Sumber Daya Manusia dapat dilakukan melalui training, baik secara internal maupun eksternal. Pertemuan antara pimpinan dengan staf untuk membahas masalah-masalah yang dihadapi perlu dilakukan secara rutin, sebagai wadah untuk komunikasi dua arah dan pembahasan rencana ke depan bagi perusahaan.

Dari program kerja di atas, maka siapapun yang akan berusaha di bidang pembiayaan harus mempunyai program kerja yang jelas, komprehensip, serta dilakukan pemantauan secara terus menerus, untuk mengetahui apakah program kerja dapat dilakukan sesuai yang ditentukan, dan apabila ada kendala bagaimana cara mencari solusinya.

5. Apa yang dapat disimpulkan tentang usaha pembiayaan?

Dari pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Perusahaan pembiayaan masih mempunyai prospek yang baik.
  2. Agar perusahaan pembiayaan dapat bertahan menghadapi persaingan yang ketat, perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan secara terus menerus, antara lain: diversifikasi funding, diversifikasi pembiayaan, membangun kerjasama dengan dealer, mempertahankan NPL agar tidak melampaui 5%, serta meningkatkan dan mengoptimalkan Sumber Daya Manusia.
  3. Perlu dilakukan perbaikan-perbaikan agar dapat memenuhi kriteria sebagaimana digariskan dalam peraturan Menteri Keuangan no.84/PMK.012/2006 tanggal 29 September 2006.

Untuk mencapai target sesuai strategi yang ditetapkan di atas, diperlukan program kerja yang teratur, disiplin dalam pelaksanaannya, dan dapat terukur pencapaiannya.

    Sumber bacaan:

    1. Rico, B dan Woro, D.W., “Ulasan Industri dan Kinerja, Perusahaan Anak DPBRI.” Info Dana Pensiun BRI. Jakarta, edisi XXXVI, 29 September 2006.
    2. Peraturan Menteri Keuangan no.84/PMK.021/2006 tanggal 29 September 2006

    Iklan

    13 pemikiran pada “Sekilas mengenai usaha “Pembiayaan”

    1. saya rasa saya ndak bakat bisnis financing company, sepertinya risk managementnya mesti bener2 canggih. Kendalanya adalah bila pengucuran pembiayaan dengan prasyarat yang ketat maka konsumen jadi males, tapi kalo gak ketat beresiko mengerek naik NPL. saya berbakat pusing untuk ngatur cashflow yang sangat rely on day-to-day operation, hehehehe

      Oya, kalo pembiayaan proyek atau trading dengan jaminan SPK atau trading contract itu bisa dikelola financing company gak bu ?

      Andri,
      Pembiayaan proyek, yang ada alat-alat beratnya, dapat dibiayai oleh Finance Company…..jadi memang agak beda dengan Bank, finance company lebih ke arah investasi, pembiayaan terhadap perolehan aktiva tetap. Masalah jaminan SPK, sepanjang sumber dananya jelas, dan ada cessie pihak ketiga yang dialihkan pada perusahaan pembiayaan…tentunya akan memperkuat posisi finance company. Tapi kalau pembiayaan untuk investasi, jaminan aktiva tetap yang dibiayai pembeliannya sudah cukup, karena kalau wan prestasi aktiva tetap tadi bisa ditarik.

    2. mbak, ada kalimat yg sy tidak mengerti…”dapat terukur pencapaiannya ”

      maksudnya apa…bisa tolong jelasin ?

      Uwiuw,
      Dapat terukur pencapaiannya, maksudnya target harus jelas, dalam kuantitas dan kualitas, serta rupiahnya. Karena pencapaian target inilah, yang bisa dinilai apa strategi usaha pembiayaan tadi dapat tercapai. Bahkan untuk unit kerja support, targetnya juga harus dikuantitatifkan, sehingga pada akhirnya semua harus dapat diukur.

    3. jujur nggak ngeri masalah kayak ginian, tapi baca ini jadi rada ngerti diki. makasih bu..

      Cewek tulen,
      Sama-sama….sekadar berbagi untuk memahami finance company.

    4. wah info yg singkat tapi padat Bu..
      ma kasih …

      ada leasing buat resepsi pernikahan ga ya? ;P

      Aldi,
      Leasing umumnya untuk pembelian aktiva tetap….kapan nih nikahnya?

    5. Luthfi

      Makasi bu atas infonya. Dari yg tadinya ga ngarti, jadi mudeng deh skrg.

      Luthfi,
      Sama-sama….thanks telah mampir

    6. Informasi yang sangat berharga bu. Terutama masalah peraturan Menkeu dan juga strategi-strategi : diversifikasi funding, diversifikasi pembiayaan, membangun kerjasama dengan dealer, mempertahankan NPL agar tidak melampaui 5%, serta meningkatkan dan mengoptimalkan Sumber Daya Manusia.

      Terimakasih bu.

      Ihedge,
      Sama-sama, setiap usaha memang mempunyai key success factor masing-masing, dan juga harus dikenali titik-titik risikonya.

    7. Salam,

      BU kalo pembiayaan yang dilakukan BPR/BMT yang kecil-kecil itu masuknya kemana ya? kalo kreitria secara umum diatas aga beda ga?

      Ira tertarik pada microcredit kaya yg dilakukan M Yunus, pembayaran pembiayaannya dilakukan harian dan mingguan. Ibu pernah membahas tentang hal ini, atau ada blog yg bisa dikunjungi ttg ini?

      Ira,
      Kalau kreditnya kecil-kecil (dibawah Rp.50 juta per nasabah) bisa dikategorikan dalam kredit mikro….asalkan memang untuk usaha (bukan untuk konsumtif).

      Microcredit oleh M. Yunus, dalam bentuk kelompok, dan setiap kelompok bertanggung jawab (penjamin) jika ada anggota yang tak bayar. Buku tentang ini ada di toko buku Gramedia, juga ada di LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengembangan Manajemen), di Jl. Menteng Raya (dekat patung Tani, Kramat, Jakarta Pusat).

    8. nyong

      salam,

      mohon info dan bantuannya tentang Modal Ventura ?

      Apakah Modal Ventura Boleh menerima JAMINAN terkait penyaluran kreditnya ? dan dasar hukumnya yang mana ?

      tengkyu pak

    9. rita

      Salam,

      ibu, informasinya berguna sekali..

      btw, kalau baru mau mendirikan usaha pembiayaan, apa berkas2 permohonannya boleh dikirim via pos, ataukah harus antar langsung ke depkeu…
      fyi, saya di luar p. jawa…

      terimakasih…

    10. Nandie

      bu punya bahan “contek”an ga pedoman dalam melakukan restrukturisasi pembiayaan di perusahaan pembiayaan, kan industri dan konsumennya berbeda nih dengan industri perbankan..

      bagaimana sih agar restrukturisasi kepada end user dapat berjalan maksimal?

      thanks ya bu..

    11. keo

      mbak thanks ya buat infonya mengenai bisnis leasing..nah skalian mau tanya deh bagaimana sih cara menganalisa kelayakan customer yg mengajukan leasing dan apa saja yg harus diperhatikan guna meminimalisasi resiko…thanks

    12. nico

      btw sa’at ini masih sulit mendapatkan sumber pembiayaan yang ketika kita butuh bisa langsung cair 🙂

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s