Majalah keluarga yang banyak membantuku

Sejak awal menikah, saya belajar mengemudikan rumah tangga melalui majalah. Mengapa? Sebagai anak sulung, ayah meninggal saat saya mau menikah dan ibu masih bekerja, maka saat awal berumah tangga ibu tak bisa sering-sering menengok saya ke Jakarta. Pada waktu kelahiran anak pertama pun, ibu tak dapat menunggui saya melahirkan dan hanya sempat menengok sesuai jadual cutinya, alhasil saya pulang dari rumah sakit menggendong bayi hanya ditemani suami.

Jadilah majalah keluarga, terutama majalah “Ayah Bunda” yang menjadi acuan saya. Jika bayi saya pantatnya merah karena saat itu terserang diare, saya mulai membolak balik majalah, apa yang harus saya lakukan untuk mengatasi hal tersebut. Dari majalah itu pula saya belajar, bagaimana menyiapkan anak mandiri, bagaimana mendidik anak, dan bagaimana nantinya jika kami berniat memberikan adik bagi si kecil. Ada artikel yang selalu tak saya lewatkan, yaitu artikel psikologi, dengan judul “Dapatkah perkawinan ini diselamatkan?” Dari artikel ini, yang merupakan masalah rumah tangga dan diasuh oleh seorang psikolog, saya belajar banyak, dan mencoba memahami permasalahan yang menimpa rumah tangga orang lain, serta alternatif solusinya. Disini psikolog sekedar memberikan beberapa alternatif, dan yang bersangkutan sendirilah yang menentukan keputusan apa yang akan dilakukan.

Sebagaimana rumah tangga umumnya, banyak permasalahan yang menimpa dan pasang surut yang terjadi, tapi pemahaman saya tentang kehidupan rumah tangga, dari bacaan yang pernah saya baca menguatkan saya, untuk terus maju dan menyelesaikan persoalan satu per satu. Awal perkenalanku dengan psikolog mungkin diilhami oleh majalah keluarga tersebut, saat saya mulai dibingungkan oleh tingkah laku anak sulung, yang saat itu sedang dalam masa ingin tahu segalanya, maka mulailah saya berkenalan dengan psikolog yang memang menangani masalah anak-anak. Saya konsultasi ke Psikologi Terapan UI, yang saat itu masih ber lokasi di jalan Salemba. Psikolog nya sangat ramah, anak saya diajak mengobrol, diberi berbagai mainan, sehingga test psikologi yang memerlukan waktu lama tak terasa. Disini saya juga belajar, bahwa dari sudut pandang psikologi, tak ada anak yang salah, yang salah adalah cara mendidik orangtuanya.

Sejak itu setiap kali muncul masalah, yang saya sendiri tak tahu apa yang sebaiknya saya lakukan, saya mendatangi psikolog, dan diskusi apa yang sebaiknya dilakukan, agar masalah tak berkembang kearah yang makin buruk. Saya sendiri semakin siap setelah si bungsu semakin besar, ternyata saya tak terlalu mengalami kesulitan, mungkinkah karena saya sebagai ibu, lebih mudah memahami anak perempuan, sehingga saya bisa membayangkan seperti apa keinginan saat saya kecil dulu. Sedangkan untuk anak laki-laki, saya agak kawatir, jika saya terlalu keras, dia malah akan mendengarkan teman-temannya yang belum tentu benar, sedangkan jika saya terlalu longgar juga kawatir tak ada rem. Kebetulan saya tinggal di kompleks yang sebagian besar anak-anak teman saya adalah anak laki-laki. Saya banyak bertanya pada temanku, bagaimana memperlakuan anak laki-laki. Walaupun masih kecil, anak laki-lakiku mempunyai perasaan bahwa dia sebagai pengayom keluarga, dan melindungi ibu dan adik perempuannya jika bapak tidak di rumah (suami kebetulan kerja di luar kota, hanya sesekali pulang).

Suatu ketika, anak laki-lakiku masih usia 11 tahun, masih SD kelas 5, pada saat mau menyeberang jalan, saya memegang tangannya. Dia memberontak, nggak mau dipegang tangannya. Akhirnya saya berkata..”Nak, ibu kan takut menyeberang, jadi pegang tanganmu.” Dia langsung menjawab…”Iya bu, sini pegang tanganku erat-erat, kan kata bapak, saya harus melindungi ibu” Pembelajarannya, adalah perlakukan anak laki-laki sebagai pelindung, maka dia akan merasa diberikan tanggung jawab, dan tak merasa disepelekan.

Apakah saya telah menjadi ibu yang baik? Saya tak bisa menilainya, pasti saya mempunyai banyak kekurangan, saya terlalu kawatir kalau anak-anak belum pulang pada waktunya. Teman saya mengajarkan, agar jika saya kawatir, lebih baik ambil air wudhu, dan sholat dua rakaat, memohon pada Allah swt semoga anak saya dilindungi di jalan, dan ingat pulang karena ibunya sudah menunggu. Ternyata apa yang dikatakan teman saya benar, setengah jam kemudian anakku datang dan berkata …”Maaf ibu, tadi telepon umumnya rusak, dan jalannya macet. Ibu pasti kawatir ya…” betapa leganya hati saya, sejak itu, jika saya kawatir, maka saya langsung ambil air wudhu…..dan sholat mohon perlindungan pada Allah swt.

Seiring berjalannya waktu, hanya melalui doa inilah yang membuat saya kuat, kalau saya lagi bingung, kawatir, apalagi saat anak-anak semakin besar, karena begitu banyaknya pengaruh buruk diluaran. Saya percaya, tanpa pertolongan Allah swt, saya belum tentu sekuat sekarang, dan saya bersyukur bahwa Allah swt memberikan karunia yang tak habis-habisnya kami syukuri.

Mudah-mudahan anak-anakku, jika membaca blog ini memahami bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu, karena tak ada job training untuk menjadi orangtua yang baik. Dan semoga anak-anakku mau memahami kesulitan itu, dan memaafkan orangtuanya, jika ada sesuatu yang dirasakan kurang pas dalam mendidik mereka sejak masa kecil.

36 pemikiran pada “Majalah keluarga yang banyak membantuku

  1. wahh.. pengen jadi jadi ibu kaya ibu edratna..

    Qnoi,
    Semoga Qnoi lebih baik dari saya, karena semakin banyak ilmu yang dapat diperoleh darimana saja.
    Tak ada job training menjadi ibu, jadi kita yang setiap kali harus belajar menyesuaikan diri, apa yang cocok untuk keluarga kita, belum tentu cocok untuk keluarga lainnya. Pada prinsipnya masing-masing keluarga berbeda, karena prioritasnya juga berbeda…tergantung dari hobi ayah ibu dan anak-anak, dan banyak hal lainnya.
    Jangan pernah takut mencoba, kalaupun ada kesalahan kita masih bisa memperbaikinya.

  2. Saya jadi ingat orang tua saya Bu. Saya takut mungkin tanpa saya sadari–dulu sering memberi masa sulit bagi beliau berdua.

    Yoga,
    Setiap orangtua akan selalu menyayangi dan memaafkan kelakuan anak-anaknya. Jika orangtua masih hidup, jangan lupakan beliau, sekedar hanya menilpon (jika sibuk dan tak sempat menengok)…dan kalau sudah tiada, jangan lupa mendoakan agar diringankan siksa kuburnya, setiap kita selesai sholat.

  3. terharu bu baca curhatnya πŸ˜€

    Iway,
    Iya…kadang iri juga baca blognya teman, ada orangtua dan keluarga yang siap membantu. Saya dulu benar-benar hanya berdua….dan saat mau pulang dari Rumah Sakit latihan dulu untuk memandikan bayi. Saat jam pengunjung, tetangga sebelah ditengoki keluarga besarnya…saya hanya ditengok suami…yang kadang tak bisa menengok karena kesibukan di kantor.

    Selamatan? Tak ada dalam kamus keluargaku kecilku, bagaimana mau selamatan…lha pusing mikirin belajar menyusui, mengganti popok, memandikan, dan semuanya sendiri…pembantu hanya diikutkan setelah saya bersiap mau mulai bekerja lagi. Tapi justru inilah yang membuat kami mandiri.

  4. saya malah banyak belajar dari blog ibu πŸ˜€

    Itik kecil,
    Syukurlah kalau blog ku bermanfaat….karena pengalaman seperti ku akan semakin banyak dihadapi oleh para keluarga muda, yang keduanya bekerja dan jauh dari sanak keluarga. Apalagi kalau berasal dari keluarga kecil, seperti saya, dan orangtua juga bekerja.

  5. wah, pengalaman bu enny dg memanfaatkan majalah untuk mendapatkan info2 penting yang berkaitan dengan pengasuhan anak layak dicontoh bagi pasangan muda nih. hal itu sudah sangat sesuai dg konteks zamannya ketika dunia sudah memasuki abad gelombang informasi. yang terbiasa mengakses internet, dunia maya pun bisa dijadikan sebagai pemerkaya wawasan, bu.

    Pak Sawali,
    Hal yang terpaksa harus saya lakukan, karena benar-benar hidup mandiri…..

  6. salut bu…..anda pasti berhasil jadi panutan anak2 …

    Cewektulen,
    Biasanya orangtua sebagai panutan untuk kesabarannya, karena kalau ilmu pengetahuan dan pengalaman dalam menjelajah dunia (riil ataupun maya), jelas lebih banyak dimiliki anak-anaknya.

  7. .. tak ada anak yang salah, yang salah adalah cara mendidik orangtuanya.

    Saya jadi ingat dengan kata-kata bijak bahwa anak itu ibarat kertas putih. Apakah kertas itu nanti akan menjadi kelam hitam atau tetap bersih tergantung bagaimana kita menjaga kertas tersebut.

    Bu .. tulisan ibu sangat menyentuh hati saya. Terutama ketika anak tidak mau kita bimbing menyeberang jalan, kemudian kalimatnya ibu ganti dengan minta mereka yang menyeberangkan kita.

    Memang sudah saat nya, kita orang tua, menggunakan ‘kaca mata’ mereka. Bukan kah dulu kita juga seperti mereka??

    Postingan ini mengingatkan saya kembali untuk tidak perlu kawatir. Karena, saya sering kawatir kalau ada anggota keluarga
    yang belum pulang dan tidak dapat dihubungi atau memberikan kabar.

    Pengalaman ibu sholat ketika rasa kawatir muncul adalah jalan terbaik dalam mendidik anak. Sehingga anak tetap merasa bebas, tapi kita tetap mengawasinya.

    Semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholeh ya bu.

    Erander,
    Orangtua berusaha mendoakan agar anak-anak menjadi anak yang sholeh dan berguna untuk masyarakat disekitarnya. Sebetulnya kalau kita bisa empaty pada anak-anak, bukankah kita dulu juga bandel, kita akan ebih mudah memahami. Memang seperti main layang-layang, ada waktu kapan dilepas, ada waktu kapan ditarik…tapi memang saya selalu kembali pada Allah swt, apalagi kalau anak sudah di luar rumah, kemana lagi kita bersandar kalau tidak pada Allah swt, dengan demikian kita bisa pasrah,tak bolak balik telepon anak, dan bisa membuat anak tenang. Katanya sih, kalau ibunya tenang, anaknya juga akan lebih nyaman.

  8. baca ini kok saya jadi pengen nangis ya? :(jadi ibu bukan hal mudah….

    Mbak Yati,
    Pengin nangis? Jangan dong, saya sekedar sharing, karena nantinya akan semakin banyak keluarga muda yang harus mandiri tanpa adanya keluarga terdekat yang ikut, di saat-saat anak masih kecil, padahal ibu juga terpaksa bekerja di luar rumah.
    Tapi dengan doa, semuanya bisa diatasi.

  9. ok, i’ll only respond to this quote cos words you meantioned at the end of this blog post was touching and I don’t feel like being so sweet and losing my cruel sense.

    Jadilah majalah keluarga, terutama majalah β€œAyah Bunda” yang menjadi acuan saya.

    After being a blogger for this not so long time ago, will you say that “especially some blogs and sites on the net” became my reference? if yes, i’ll be interested to know the listing of your reference on the net. otherwise, no worries, fine.

    Arie,
    Itu kan cerita zaman “jebot” (istilah anak saya)…dan majalah itu satu-satunya yang terjangkau untuk keuangan saya (bayangkan pegawai baru, gaji kecil, biaya rumah akit selangit…..duhh).
    Kalau sekarang sih, lebih mudah, bisa dilihat di internet…..saya sering tanyanya sama mbah Google…hehehe

  10. Aduh ibu ini situasinya sama seperti aku; cuma masalahnya saat ini aku tdk kerja. Mau undang orang tua, uangku cukup utk bayar 1 tiket saja dan Bapakku tak mau ditinggal, sedangkan dia pelit sekali tak mau keluar uang utk berkunjung ke anak cucunya.

    Never mind, bikin kami tambah mandiri. Sekarang Ines 8th : udah bisa bikin indomie, semur telor, nasi goreng sendiri, bisa disuruh momong adiknya; sedangkan Vicky 14 bulan: sudah bisa makan sendiri, tidur sendiri tanpa kelonan, jalan tanpa dititah, yg paling aneh jika kejeduk/jatuh/ada kecelakaan dikit obatnya Coca-cola dan maminya tinggal teriak, “Sana ambil Coca!”, otomatis dia berhenti nangis, ditangan kanannya nyeret botol Coca 1l dan di tangan kirinya gelas plastik. Tentu saja Coca selalu aku taruh di lantai.

    Juliach,
    Tinggalnya di luar negeri kan,pasti lebih berat. Di satu sisi anak-anak lebih mandiri.
    Saya membayangkan, andaikata si sulung nanti bisa mengikuti isteri ke Miami, saat punya anak akan mengalami seperti saya. Sepanjang antara suami isteri bisa bekerja sama tak ada masalah, dan anak-anak biasanya memahami kesulitan orangtua, tidak rewel dan mau membantu pekerjaan sesuai umurnya.

  11. Ibu, terima kasih nasehatnya. Beberapa hari ini memang saya sedang menghitung-hitung frekuensi tatap muka dengan orang tua. Kami tinggal di kota yang berlainan, praktis telpon dan sms besar peranannya. Tapi apakah itu cukup untuk bakti saya terhadap beliau-beliau. Maafkan saya Bu, jadi curhat.

    Yoga,
    Orangtua yang baik akan memahami kesulitan anak-anaknya. Apalagi kalau melihat anaknya mesti jungkir balik bekerja, belum mesti ninggalin anak sendirian sama pembantu di rumah.
    Menurut saya, telepon dan sms sudah cukup, jika waktu longgar baru pulang kampung…apalagi cutinya terbatas kan?

  12. adipati kademangan

    saya sudah lama tidak bertemu dengan ibu.
    ternyata ibu melakukan hal yang luar biasa dari yang saya duga selama ini.
    Coba ibu tuliskan pengalaman2 ibu ratna yang laen, bair saya belajar …

    Adipati Kademangan,
    Syukurlah kalau bermanfaat….sambil mikir nulis apa lagi ya???

  13. kalau saya sejak beberapa tahun sebelum menikah suka membaca majalah Ummi, ibu pernah coba?

    setelah menikah, nemu situs tabloid Nakita di http://tabloid-nakita.com. enaknya, kita bisa membaca semua semua artikel dari edisi 1 sampai sekarang (463).

    Rita,
    Sekarang udah jarang membaca majalah, paling-paling sejenis Tempo, Gatra yang dibeli anakku.
    Adanya internet yang dapat diakses kapan aja (asal lagi nggak ngadat) juga lebih memudahkan.

  14. Jadi memahami bagaimana hubungan antara ibu dan anak dari sisi orang tua. Dan satu pelajaran yang di dapat, membaca adalah jendela ilmu pengetahuan..

    Isnuansa,
    Iya, biasanya anak tak tahu seperti apa perasaan orangtuanya. Novel tentang “Gerhana” karangan Clara Ng yang pernah dimuat bersambung di Kompas, menyentuh hati saya…disitu diceritakan bagaimana sang cucu menjadi memahami Omanya karena sang Oma menulis semacam diary yang tersimpan rapi di almarinya, dan baru terbaca saat Oma sudah dalam kondisi sakit parah.
    Andaikata saya sempat memahami hati ibu dan ayah saya yang paling dalam…….

  15. ibu dah did the best bahkan sampe anak gede, persiapan merit, dll..
    base buku/majalah masih ok kok bu, drpd percaya mitos ga jelas misalnya..

    Sakuralady,
    Lha adanya cuma buku dan majalah….tapi lumayan lho sebagai bahan acuan, karena isinya banyak tip untuk kondisi sehari-hari. Kalau sekarang majalah seperti itu banyak , jadi bisa memilih.

  16. Wah … wah … ini pengalaman sangat berharga langsung dari pelaku. Berbahagialah calon ibu rumah tangga yang mendapat pasokan mBak Ratna. Saya yang laki-laki aja menikmati. Salam.

    Pak Ersis,
    Makasih jika bermanfaat. Karena pada dasarnya kelancaran rumah tangga juga tergantung kerjasama suami isteri, jadi suami juga sangat berperanan.

  17. simbah

    He..he..rupaya Aku tak sendiri. ‘Tingkeban’ bikin rujak sendiri, tidak pula slametan ‘brokohan’, ‘piton2’. Dus anakku dua-duanya tidak pernah di ‘slameti’. Di Jkt tidak ada satupun sodara, tinggal di komplek yg juga baru dibangun tetangga masih jarang2. Kebetulan istriku melahirkannya dgn sectio cesaria, hinga belum boleh banyak bergerak. Anak2 ku kumandikan sendiri, pembantu belum punya, ekonomi masih pas2an. Hanya saja yg kusesali kenapa saat itu potongan tali pusarnya kubuang, padahal nantinya bisa buat obat mujarab bila mereka dewasa. Gimana Bu Edratna, tali pusar putra-putri Ibu apa masih disimpan?

    Simbah,
    Karena rumah berpindah-pindah, tali pusar si sulung di tanam di pekarangan rumah kontrakan di Rawamangun dan si bungsu di kompleks rumah dinas, yang pertama kali saya tempati (saya sempat berpindah tiga kali dalam satu kompleks yang sama).
    Saya tetap percaya pada Allah swt….kalau anak sakit pun, berobat merupakan sarana, tapi doa kita yang merupakan kekuatan.

  18. enak dadi wong ndeso. Banyak hal yang bisa diceritakan saat tinggal di ibukota.
    di media juga ya, mbak?
    salam kenal

    Antown,
    Saya nggak bekerja di media…..wahh cocokkah saya kerja di media?

  19. liswari

    Ini mana yah anak2 kandungnya kok gak ada yg koment yah *hehehe piss :p.. sengaja nyebutnya pakai anak kandung soalnya aku yg juga anaknya (bukan kandung) mau memberi komentar nih…hihihi

    Ok, one thing that only I can tell is… She is awesome… !
    If my boss in Miami used to tell me ‘No pain No gain’, I can tell that she is the example of that. Life was so hard and challenging for her, as a mother, a wife, an employee and now mother in law…She is doing great in all of that.. She gives her best..
    Kekurangan of course every body has and if sometimes I dont agree with her I would just think She is a mother.. and like all good mother she just want the best for her children.. thats all.. πŸ™‚

    Lis,
    Anak-anak malah cuma ketawa-ketawa aja kalau baca blog ibunya. Kan pergi pagi pulang malam, karena si bungsu sudah mulai menulis thesis, dan mengerjakan proyek bersama dosennya. Malah sering tidur di lab kalau bokap ada di Jakarta dan tak ada yang menjemput tengah malam. Ari pulang malam terus, jadi dia cuma senyum-senyum aja.

  20. Ping-balik: Anak adalah fitnah .. « KU LETAK KAN KATA DISINI

  21. Iya, Tante, sepakat. Jadi ibu itu tidak mudah.. walaupun menyenangkan sekali πŸ™‚

    Waktu lulus sekolah psikologi dulu, rasanya confident sekali sudah tahu banyaaaaak tentang mendidik anak. Ternyata.. dari hari ke hari, tetap harus ada penyesuaian dengan kenyataan dan kreativitas dalam penerapan teorinya πŸ™‚

    Mirip pengalaman Tante menyebrang jalan, dulu waktu anak saya umur 2 thn dan mogok gosok gigi, perlu kreativitas dengan memintanya menggosokkan gigi ibunya. Biar jadi permainan yang menyenangkan, menempatkannya sebagai “dibutuhkan oleh ibunya”, walaupun bibir sempat jontor karena anak umur 2 thn tuh main sodok sikat gigi ke sana kemari.. hehehe..

    BTW, senang berkenalan dengan Tante. Jadi nambah pengetahuan πŸ™‚

    May,
    Salam kenal juga. saya kenal blogmu gara-gara baca tulisannya Fertob, blogmu lucu, mengingatkan saya semasih muda dulu…Kalau masalah anak, kayaknya ceritanya nggak habis-habis ya…

  22. Jadi ingat ibu saya yang rajin mengkliping artikel-artikel tentang pengasuhan anak dari koran dan majalah.
    Kalau sekarang lebih mudah ya Bu mencari referensi tentang dunia anak. Search di google atau ikutan milis ibu-ibu.
    Baca paragraf terakhir, saya hampir menangis…

    Ratna,
    Kakak sepupu saya rajin mengkliping resep masakan dari Kompas…..wahh lha sekarang tinggal lihat di internet…
    Ya itulah, kita semakin dimudahkan, tapi waktu juga tersita…

  23. Iya Ayah Bunda..istri saya dulu juga begitu kok..lebih praktis dan memang bermanfaat

    Mas Iman,
    Ayah Bunda saat itu memang majalah yang menulis artikel tentang tip masalah bayi, perkawinan, dan masalah keluarga lainnya. Saya bersyukur ada majalah tersebut….

  24. tp bu, menjadi ibu itu adalah prestasi terbaik sepanjang hidup dan tentunya dengan berbagai pembelajaran termasuk majalah keluarga

    Aprikot,
    Memang benar….kalau lahir kembali saya tetap memilih jadi perempuan.
    Menjadi seorang ibu sangat membahagiakan kalau melihat anak-anak semakin besar, sehat dan anak yang mengerti kesulitan orangtua, dan tak menuntut macam-macam.

  25. Luthfi

    Saya jadi teringat mama saya di Medan. Sudah hampir setahun ini tidak berjumpa dgn beliau.

    Yang paling kutakutkan adalah membuat khawatir mama. Terkadang sbg anak, saya sering tidak ada takutnya. Sedih hati ini kalau melihat kenakalan saya waktu dulu.

    Luthfi,
    Memang bagi seorang ibu paling sulit memahami anak laki-laki (ini bagi saya lho), mungkin karena tak pernah mengalami sendiri menjadi seorang laki-laki. Tapi percayalah seorang ibu akan selalu memaafkan dan mendoakan anak-anaknya.

  26. Kasih Ibu kepada Beta, tak terkira sepanjang MASA….
    Hanya MEMBERI tak harus kembali….

    Bagai sang SURYA menyinari dunia….

    Kemandirian, menjadi diri sendiri..menjadikan kita semakin KUAT ditempa TANTANGAN….

    Nggelesod….ndheprok….memandangi Bu Ratna

    Santri Gundul,
    Saya ketawa membaca komentarmu….hehehe…

  27. fauzansigma

    saya .. mama .. bapak .. atau keluarga lain.. udah sejak idul fitri ga bertemu .. sedih memang tapi ini lah jalan hidup,, yg paling membuat saya takut adalah membuat mama saya sakit

  28. Benar Bu, waktu cuti saya terbatas, hanya saja saya masih lajang jadi semestinya lebih flexible daripada yang sudah menikah. Terima kasih sekali lagi atas nasehatnya.

    Yoga,
    Sama-sama…..
    Kalau staf masih muda, gaji kecil, cuti terbatas…kalau udah lama (6 tahun) dapat cuti besar 3 bulan…tapi udah repot dengan anak dan suami….jadi memang kayaknya kita harus pandai-pandai mengatur waktu ya.

  29. Baca sampai habis tulisan ini, haduh sangat mencerahkan dan belajar memang bisa dari mana saja

    Peyek,
    Belajar memang bisa dari mana saja, tak harus dari sekolah formal.

  30. buat ibu yang ada di seluruh dunia , berikanlah cinta dan kasih sayang dengan setulusnya
    karena semua itu akan kami ingat selalu
    ibuku , aku tak pernah bisa membalas jasa-jasamu

    Realyfife,
    Yang dibutuhkan seorang ibu hanya kasih sayang anaknya, dan bukan materi. Kasih sayang ini juga bukan harus datang, sowan, tetapi sekedar menilpon atau sekedar mengirim sms pun.
    Ibu sudah berbahagia jika anaknya menjadi anak baik, dan bisa mandiri.

  31. Meski nggak ada “pelatihan menjadi ibu” tapi saya kira rata-rata semua ibu di dunia berhasil mendidik anaknya kok.

    Paling-paling cuma satu-dua yang membunuh anaknya sendiri. Atau menyuruh-nyuruh jadi artis sinetron.

    Ikram,
    Jadi artis juga susah lho…..saya pasti udah stres kalau jadi artis…lha disuruh pose untuk difoto aja, rasanya kok repot amat….mungkin memang nggak bakat:P

  32. makasih ya Bu atas tulisannya. insya alloh akan dipersiapkan dengan lebih baik..menjadi seorang ibu.doakan!

    Dika,
    Semoga Dika akan menjadi seorang ibu yang baik.

  33. rinaihujan

    Bu edratna, mau ya jd guru sy? Sy br aja punya bayi. Baru 7bulan. Dan berharap bs memberi pendidikan yg lbh baik drpd yg dl sy dptkan dr ortu sy. Sy belajar untk tdk mengulang kesalahan yg sama.

    Rinaihujan,
    Wahh saya bukan siapa-siapa…tulisannya hanya sekedar berbagi. Masih banyak orang yang jauh lebih baik dan lebih sukses.
    Tapi benar kata Ikram, sebetulnya setiap perempuan berbakat menjadi seorang “ibu yang baik”….tinggal kemauan dan motivasinya.

  34. evi

    Salut Ibu.. dan saya selama ini langsung atau tidak langsung sudah banyak belajar dari pengalaman & cerita ibu saat masih bertemu dg ibu… Saat ini saya juga belajar lagi dari tulisan – tulisan Ibu… Terima kasih Bu, dan salam buat keluarga

    Evi,
    Ini Evi yang mana? Instruktur?
    Syukurlah jika tulisanku ada manfaatnya.
    Salam untuk Evi dan keluarga.

  35. evi

    Iya Bu… Alhamdulillah saya sekarang bisa menambah pemahaman dari tulisan – tulisan Ibu.. Terimakasih, dan salut buat Ibu.

    Evi,
    Mulai menulis di blog dong. Gampang kok, Evi bisa cerita tentang murid-murid nya, juga permasalahan yang dihadapi. Dan jika menunggu pesawat saat transit, bisa membuat konsep tulisan. Apalagi jika ada tugas keluar kota, ke Makassar, Padang, Yogya dsb nya…banyak hal yang bisa ditulis dan di sharing disini. Jika sibuk banget, menulisnya seminggu sekali atau sebulan dua kali sudah cukup.

    Ntar kabari ya kalau udah punya blog. Thanks kunjungannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s