Upgrade jaringan broadband yang bikin pusing

Selama ini rumah saya di Cilandak menggunakan jaringan Kabel Vision untuk televisi dan internet. Saya menggunakan Kabel Vision (sekarang First Media atau disingkat FM) sejak tinggal di kompleks rumah dinas di Cipete Selatan. Memang yang membuat saya tertarik adalah jaringan untuk internetnya, karena dengan membayar fixed rate, maka kita bisa menggunakan internet selama 24 jam. Kalaupun ada permasalahan, perusahaan juga mudah ditelepon dan memberikan solusi pemecahannya.

Pada pertengahan Maret 2008, saya mendapatkan surat dari FM antara lain berbunyi sebagai berikut:

Pelanggan FIRST Media yang terhormat,

Terimakasih atas kepercayaan Anda memilih FIRST Media sebagai penyedia sarana informasi, edukasi dan hiburan bagi keluarga Anda. Untuk selalu memberikan kualitas servis yang terbaik, FIRST Media akan melakukan upgrade jaringan Broadband yang ada di daerah Anda. Dengan migrasi ini Anda akan mendapatkan peningkatan servis yang lebih baik dan pilihan produk yang lebih bervariasi…..dst

Surat tadi saya simpan, dan saya telah melupakan permasalahan tersebut. Seminggu yang lalu saya ditelepon dari FM, bahwa petugasnya akan datang ke wilayah Cilandak, memberikan pinjaman 2 (dua) decoder untuk televisi. Kenapa dua? Karena sebelumnya saya menyatakan bahwa televisi yang menggunakan kabel hanya dua, karena kabel satunya untuk internet. Saya berusaha berdebat, bagaimana jika tetap seperti semula, karena selama ini saya sudah merasa nyaman, karena TV hanya disambungkan ke kabel, tinggal dinyalakan serta cara memilih channel yang ditonton dengan mengklik menunya. Permintaan saya ditolak, dengan uraian panjang lebar, bahwa dengan migrasi ini jika terjadi permasalahan atau menambah channel akan lebih mudah, karena bisa diatur dari Kantor Pusat tanpa perlu teknisi datang ke rumah. Disamping itu, migrasi ini dilaksanakan untuk seluruh pelanggan First Media tanpa terkecuali secara bertahap, sehingga kalau tak mengikuti, maka nantinya tak bisa mengakses FM.

Padahal sebetulnya saya cuma punya dua TV, satu di ruang keluarga dan satunya di kamar si mbak. Untuk TV di kamar si mbak masih pakai antena biasa. Sedang TV di kamar keluarga jarang ditonton, hanya kadang-kadang jika anak saya telah pulang kantor malam-malam, karena saya lebih suka membaca dan mencari berita dari media, baik dari koran maupun media elektronik. Akhirnya pada hari Jumat tanggal 11 April 2008, teknisi dari FM datang kerumah, mengajarkan cara menyalakan TV dan mengatur channel. Syukurlah perubahan ini tak mengganggu kelancaran internet, sehingga saya masih bisa menulis di blog.

Memang kemungkinan saya gaptek teknologi, rasanya setalah migrasi kok mengatur channel menjadi lebih sulit. Banyak terjadi hal konyol, saat anak saya sedang berbicara ditelepon dengan isterinya (pakai skypee), saya ingin merubah channel…ternyata saya bolak balik salah klik malah jadi kacau. Akhirnya saya berhenti mencoba dan menunggu anak saya selesai menilpon. Dia hanya ketawa, dan bilang memang “agak ribet” kok bu. Kalau dulu hanya kabel disambung televisi, serta power diaktifkan, maka televisi langsung dapat dinikmati. Sekarang dari kabel harus melalui modem dulu, sehingga setiap kali merubah channel, maka remote diarahkan ke modem dulu (kok susah ya……kadang nggak ada reaksi)….baru deh dipilih channelnya. Dan karena barang baru, lokasi channel untuk stasiun televisi menjadi berubah semua, dan terpaksa belajar dari awal.

Saya jadi berpikir, sekarang ini segala sesuatu begitu cepat berubah, kemarin tampilan wordpress berubah saya baru mulai menyesuaikan, sekarang mesti belajar lagi mengoperasikan televisi. Kayaknya kita mesti belajar terus menerus nih…syukurlah saya tak tergantung pada acara televisi, dan internet tak bermasalah, jadi keselnya tak bertambah.

Sebetulnya apa sih kegunaan migrasi ke arah digital?

17 pemikiran pada “Upgrade jaringan broadband yang bikin pusing

  1. Jangankan ibu, saya yang masih muda aja stress kalo ngikutin perkembangan teknologi sekarang…rasanya terlalu cepat :))

    Donny Reza,
    Saya pikir cuma saya sendiri….kalau diikuti kayaknya waktu 24 jam/hari kurang ya untuk mempelajari hal-hal baru.

  2. keuntungan digital ya bu ..
    sound lebih baik, kalo sering denger sound yg enak jadi males lho bu kalo pake sound standar.
    gambar lebih jernih, bandingkan saja kualitas gambar saat nonton VCD dan DVD. DVD (digital) lebih bagus kan.
    keamanan, analog mudah di paralel sehingga yg tidak bayarpun bisa kebagian. digital lebih aman.
    dll dll ..
    kebetulan saya juga pake fastnet tapi gak langganan TV kabelnya. 😀 .. colokin aja bu jalur kabel dari Fistmedia ke TV, ibu masih bisa dapet channel standar plus FamilyTV kok .. lumayan lah gambarnya meski kualitas analog… tinggal beli cabang untuk kabel itu bisa buat nonton serumah dech .. decoder tinggal diangkut-angkut di TV yg mana kalo mau nonton digitalnya.
    selamat memasuki dunia digital bu ..
    btw, dunia udah pake High Definition TV (HDTV) yg menggunakan jalur digital. sayang di Indonesia belum. dan analog di Eropa serta Amerika kalo gak salah 2009 dah gak boleh lagi. di indonesia tahun 2012 kayaknya.. masih lama.

    Nindityo,
    Katanya memang digital lebih menguntungkan, mungkin karena hal baru membuat harus dipelajari lagi. Bisa ya pake Fast Net tanpa langganan TV kabelnya. Soalnya sejak awal saya pake KV (atau FM) karena tertarik dengan internetnya…dan ternyata memang sekaligus dapat fasilitas TV kabelnya. Memang membuat anak-anak bisa belajar bahasa Inggris, jadi nggak se gaptek ibunya.

  3. saya malah blom pake, bu
    masih ngandelin koneksi di kantor :mrgreen:

    Edy,
    Wahh harus bersyukur tuh…bisa menggunakan koneksi dikantor. Pekerjaan saya, ditambah tugas anak-anak, yang memaksa harus ada sambungan internet ke rumah. Kalau dikantor, tak mungkin ada waktu untuk internet an, paling-paling jika pagi-pagi, sebelum kantor mulai, sekilas mengecek email masuk. Karena begitu jam kantor mulai, udah sibuk urusan rapat dan yang lain-lain.

    Apalagi sekarang pekerjaan saya banyak dirumah, menengok kantor sesekali. Dapat tugas mengajarpun, melalui sms atau email, kemudian saya mulai menyusun materi…baru ketemu dan rapat antar pengajar, untuk check dan re check apakah materi yang disusun telah sesuai dengan tujuan pembelajaran, dilihat dari sisi kedalamannya dan kognitif nya, serta bahan apa saja yang digunakan untuk menyusun materi.

  4. utk koneksi net saya masih menggunakan boradband unlimited juga, Bu, Enny. Kebetulan ada teman yang baik hati. Bisa pakai 24 jam non-stop dg langganan bandwith sebesar 175 rb rupiah.

    Pak Sawali,
    Saya lihat pak Sawali tak ada masalah dengan koneksi internet.
    Seneng juga ya pak bisa pake 24 jam un limited. Kadang-kadang FM kalau siang agak lambat, yang paling cepat adalah saat pagi hari….

  5. Kegunaannya, mungkin biar budhe Enny tertantang untuk belajar mengikuti kemajuan teknologi terus, hehehe …
    Ulun mboya ngerti ngger (saya tak tahu lah)

    Bodronoyo,
    Ini aliasnya Nudee ya.
    Betul….biar saya dipaksa belajar terus, biar tunak-tunuk tapi maju terus.

  6. Tukang Ketik

    hiks5x

    enak banget tinggal di cilandak, terkoper FM , sedangkan rumah saya, duren sawit, ga nyampe…

    hiks5x

    Tukangketik,
    Jangan sedih…bagaimana kalau pindah ke Cilandak?
    Memang ada daerah yang bisa dijangkau oleh FM, mungkin Adi harus mengajak orang-orang di kompleksmu berlangganan FM…seperti awal teman-teman saya di kompleks rumah dinas Cipete dulu.

  7. Saya sih pake koneksi XL sekedar untuk bisa chatting aja sih.. tapi di kantor saya mengabuse jaringan koneksi internet kantor..

    Koko,
    Sekarang dikantor-kantor mulai bagus kok akses internetnya…risikonya memang digunakan saat jam kosong (pagi hari atau sore/malam hari), sambil menunggu 3 in 1…biar tak kena macet.

  8. blogade

    Saya ngenet masih pakai jaringan kampus ^_^

    Blogade,
    Hi Ade, apa kabar. Lama ga sms an, terakhir lihat fs mu, ehh kenapa bisa cocok begituya? Ade gingsulnya disebelah kanan dan si Dia disebelah kiri, jodoh?

    Dimanapun berada, yang penting dapat jaringan internet yang bisa dipake.

  9. yah…ngikutin teknologi bisa gila….hehehe… lom mahir yang satunya, eh, satu lagi produk baru muncul. ga ngerti saya

    Yati,
    Sama ….hehehe…
    Di satu sisi harus diikuti agar tak ketinggalan.

  10. Wah jangankan ibu, saya aja pertama2 menggunakan teknologi yg baru juga masih canggung.
    Tapi bu, memang sekarang FirstMedia sudah go digital, sebenarnya malah bagus itu bu. Pertama2 memang kita sih bingung karena harus pasang set-top box atau istilah ‘awam’nya decoder. Banyak sekali lho bu, aplikasi2 menarik yang akan ditawarkan TV kabel digital kelak, seperti StarHub Cable di Singapura.
    Di antaranya bisa mengirim dan menerima SMS dari televisi, atau bisa satu channel untuk banyak siaran, bisa pilih sendiri, tidak seperti siaran yang kita kenal saat ini. Atau bisa juga seperti Demand TV, di mana ibu bisa memilih sendiri alternatif acara di TV kapanpun ibu suka!! Jadi nggak seperti sekarang, mau nonton acara TV tertentu terikat oleh jadwal waktu stasiun televisi! Wah pokoknya aplikasi TV kabel digital canggih deh bu ke depannya, tunggu saja bu, nggak rugi deh bu pindah ke sistem digital. 😀

    Kang Yari NK,
    Memang ga ada pilihan lain, ya harus belajar lagi.
    Tapi kalau diperhatikan sih, memang lumayan kok, jaringannya lebih luas, dan katanya kalau mau menambah, tinggal diatur dari kantor pusatnya.

  11. dengar FM langsung ngiler, lantaran lama saya menunggu layanan ini hadir dikota saya, mungkinkah?

    Peyek,
    Mudah2an pemilik FM segera ekspansi kekotamu.
    Hmm siapa tahu?

  12. ngiler juga bu denger FM, di bandung ga ada kalo ada pasti juga ga nyampe daerah saya tuh..pake indosat broadband terbatas di quota hiks..

    Bagus,
    Di Bandung saya pake Melsa, dan enaknya bisa dibuat semacam hotspot ke kamar-kamar. Jadi kalau si bungsu mau pake internet, dia bisa tetap dikamar pake lapie nya…tak pernah naik ke atas. Bayarnya sih memang lebih mahal….namun selain untuk internet, bisa untuk acara TV yang bervariasi (di rumah Bandung ini percuma, anak-anak lebih sibuk di kampus….yang nonton cuma si mbak). Langganan Melsa memang untuk internet, jadi layanan TV anggap sebagai bonus nya.

  13. jangan pusing dong -_- caranya gampang banget, buang semua TV.

    Awalnya mungkin protes, ngamuk, tapi kisaran 3 bulanan aja kalau sudah dibiasakan, malah yang anak-anak aja bisa bilang, “Please turn that off and throw it away, that’s annoying”. Kebiasaan anak-anak membaca kan harus dibiasakan dari kecil. Kalau soal takut ketinggalan berita ya pakai Internet aja (note, saya jarang percaya berita dari media konvensional malah, lebih percaya sama orang yang mengalami kejadian langsung alias blog or whatever its name is).

    Seriously, Saya jadi tertarik kalau sampai betulan ada aksi pembuangan TV setelah ini, saya akan tonton analisis keuangan beserta perputarannya sebagai implikasi aksi.
    peace…

    Arie,
    Yang ada bukan aksi pembuangan TV, malah orang menjadi biasa dan keasyikan nonton TV. Gejala ini saya lihat pada kelasnya si mbak (pembantu), dulu namanya radio nggak pernah berhenti menyala, dan harus diingatkan kalau nyetel jangan kenceng-kenceng…sekarang saya lihat TV nya nyala terus, padahal orangnya sedang tak dikamarnya.

    peace…

  14. dengar2 dari temen yang datang dari tanah air, internet diindo lebih baik kualitasnya dari 5 tahun yang lalu, syukur deh kalo begitu, sehingga dengan internet yang berkualitas masyarakat bisa menggunakannya untuk kemajuan bersama dan ilmu pengetahuan.
    Saya malah jarang2 nonton TV, paling cuma acara olahraga, selebihnya ya ngeblog 😀

    Resi Bismo,
    Saat ini internet relatif lebih mudah terutama di kota besar. Saya bisa pake 24 jam terus menerus, asalkan nggak hujan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s