Early warning signals

Early Warning Signals (EWS) adalah suatu mekanisme atau sistem deteksi atau pengenalan terhadap tanda-tanda atau gejala awal yang diperkirakan dapat mempengaruhi perkembangan atas maju mundurnya suatu perusahaan. Tujuan dilakukan EWS adalah untuk memberikan tanda atau peringatan atas kondisi berbagai hal, yang dapat berdampak pada kelancaran perusahaan.

EWS ini umumnya dilakukan pada perusahaan besar, namun juga dapat dilakukan dalam berbagai usaha kecil dan menengah, sebagai salah satu alat Manajemen untuk mengetahui tanda-tanda yang dapat mempengaruhi perkembangan perusahaan. Sasaran dilakukan EWS, antara lain:

  • Mengidentifikasi dan mendeteksi pelanggan yang diperkirakan akan gagal dalam memenuhi kewajibannya
  • Mendukung proses pemantauan portfolio secara keseluruhan
  • Mengidentifikasikan langkah-langkah perbaikan dan menetapkan rencana tindak lanjut.

EWS bisa dilihat dari keseluruhan operasi perusahaan, sebagai berikut

  • Financial Warning Signals, antara lain terlihat pada: a) Cost of Good Sold (Harga pokok Produksi) semakin meningkat, b) BOPO (Biaya Operasional dibanding Pendapatan Operasional) semakin meningkat, c) Perputaran persediaan dan perputaran piutang semakin melambat, d) Angka-angka likuiditas menurun (dilihat dari Current Ratio, Cash Ratio dan Quick Ratio, yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya).
  • Operating Warning Signals, antara lain terlihat; a) Hasil produksi tidak mencapai target dan di bawah kapasitas produksi, b) Lay out pabrik tidak efisien, c) Pemeliharaan mesin yang terpasang semakin buruk, d) Adanya penundaan-penundaan penggantian peralatan produksi yang sudah tidak efisien lagi, e) Produksi sempat terhenti dengan berbagai alasan teknis dan non teknis.
  • Management Warning Signals, antara lain terlihat; a) Perubahan perilaku dan gaya hidup manajemen serta para eksekutif perusahaan, b) Perubahan kepemilikan dan kepengurusan usaha (bisa berakibat baik atau buruk), c) Adanya perselisihan antara pengurus perusahaan, e) Perusahaan terlibat dalam suatu perkara dengan pihak ketiga, d) Kemampuan dan pengalaman pengurus perusahaan masih kurang.

Penyebab kemunduran usaha bisa disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal perusahaan. Oleh karena itu perusahaan yang sudah cukup besar dan mempunyai portfolio produk yang cukup banyak, hendaknya melakukan mapping atau peta atas jenis produk yang dihasilkan, pemasaran, serta jenis pelanggan. Dari peta pelanggan ini, jika memungkinkan perusahaan membuat rating masing-masing pelanggan, terutama mendeteksi para pelanggan yang sering melakukan keterlambatan pembayaran. Perusahaan juga hendaknya memantau perubahan kebijakan perilaku pembelian dari pelanggan ini, sehingga dapat segera dideteksi secara dini apabila terjadi perubahan yang mengarah dapat mengakibatkan kesulitan pada cash flow perusahaan.

Apakah sistem EWS ini juga dapat digunakan untuk hal lainnya?

EWS ini dapat digunakan dalam berbagai segi kehidupan. Misalkan jika kita mempunyai anak yang menderita asthma, maka orangtua perlu memahami hal-hal yang dapat menyebabkan serangan asthma, dan hal ini dapat dideteksi sejak awal, sebelum munculnya gejala asthma yang lebih berat. Serangan asthma biasanya dipicu oleh hal-hal tertentu, seperti adanya zat-zat yang merangsang alergi, perubahan cuaca, anak terlalu lelah, dan sebagainya.

EWS dapat digunakan untuk memantau perkembangan anak, karena orangtua perlu memantau perubahan perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari. Apakah anak yang biasanya periang, tiba-tiba berubah menjadi pendiam? Apakah anak menjadi tidak berselera makan, padahal kelihatannya tidak menunjukkan ada penyakit tertentu? Hal ini sangat diperlukan agar tak terjadi masalah yang terlanjur berat, karena sebelumnya tak dilakukan pemantauan secara dini.

Kesimpulannya, EWS diperlukan berbagai bidang, baik dalam pengelolaan usaha, maupun dalam pengelolaan kehidupan sehari-hari.

Sumber Bacaan:

Dikutip dari berbagai sumber (bahan mengajar Credit Risk Management dll), serta diolah kembali.

9 pemikiran pada “Early warning signals

  1. Pagi Bu, EWS yang Ibu jelaskan sepertinya hampir sama dengan EWS untuk bencana alam (cmiiw).

    Yoga,
    EWS berasal dari ilmu manajemen, jadi bisa digunakan di perbankan, di perusahaan, untuk mengelola rumah tangga, maupun juga mengelola negara. Prinsipnya, kita harus mengelola, memperhatikan tanda-tanda dini segala sesuatu yang kita kelola, agar segera dicari jalan keluar, dan tak menimbulkan akibat yang tak diinginkan.

    Dalam Perbankan aturan tentang EWS diatur secara ketat, dan merupakan bagian dari Risk Management Bank.

  2. Saya selama ini tahunya EWS untuk bencana, ternyata malah bisa diperluas yak, atau saya saja yang hidup di cangkang kura-kura?
    -makasih bu-

    Goop,
    Secara luas, yang dituangkan di media adalah dalam manajemen bencana…tapi sebetulnya hal ini telah lama digunakan untuk mengelola perusahaan, terutama perusahaan korporasi, dan lembaga keuangan.

  3. Wah .. postingannya mengasikan. Jadi ingat, ketika badan meriang-meriang, itu early warning kalo kita butuh segera istirahat ya bu .. ga kerja mulu hehehe 🙂

    Erander,
    Betul…kalau kelelahan akibatnya bisa kemana-mana.
    Masih lebih baik badan terasa pusing, jadi kita langsung istirahat. Suami seorang teman, karena jarang mengeluh sakit, saat dia membangun rumah…kecapekan dan lemas…setelah dibawa ke dokter ternyata levernya terkena dan sudah parah…dua minggu dirawat dan tak tertolong lagi. Jadi sebetulnya kita harus bersyukur, kalau ada tanda ga enak badan, karena bisa segera beristirahat…dan jika tak segera sehat, pergi ke dokter.

  4. kalau dalam dunia pendidikan sering menggunakan analisis SWOT utk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangannya. biasanya dilakukan ketika hendak melaksanakan sebuah program. mekanisme EWS kira2 sama atau tidak dengan SWOT, ya, Bu?

    Pak Sawali,
    Berbeda dengan SWOT pak. Kita melakukan SWOT kalau hendak menilai kekuatan-kelemahan-peluang dan ancaman…sebagai dasar untuk menetapkan strategi. Jika strategi telah ditetapkan dan dilaksanaan…maka dalam pelaksanaan tadi, harus dipantau terus agar tak terjadi segala sesuatu yang berakibat tidak baik dan menghambat atau bahkan strategi tadi tak jalan.

    Contoh suatu perusahaan besar, harus mengelola stok agar selalu ada dipasaran, tidak out of date, dan tak ada stok yang menumpuk. Selain itu juga mengelola piutang pada beberapa klien, piutang ini biasanya dilakukan aging…..atau pengelompokan piutang didasarkan atas lama pitang, besaran, wilayah regional dsb nya. Jika piutang semakin lambat perputarannya, semakin banyak yang tak tertagih…perusahaan harus mengambil langkah…misal membuat cadangan, menggerakkan tim penagihan dsb nya.

    Untuk Bank, pengelompokan ini bisa dilihat dari kelancaran pinjaman (BI membagi dalam 5 kategori kolektibilitas; lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet). EWS digunakan untuk memantau pinjaman lancar dan dalam perhatian khusus. Sedangkan ketiga kolektbilitas lainnya, harus langsung masuk unit kerja restrukturisasi (semacam rumah sakit….untuk diteliti, apakah ada kemungkinan disehatkan kembali). Jika suatu pinjaman menunjukkan terjadi gejala penurunan, maka segera dilakukan on the spot pada perusahaan ybs, mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya, dan mencari jalan keluarnya, agar tak semakin menurun dan berubah menjadi pinjaman macet. Manajeman akan setiap kali melihat seperti apa peta pelanggan, peta stok/persediaan, dilihat dari berbagai segi.

  5. gimana teknisnya bisa mendeteksi lebih awal masalah finansial ini bu? menggunakan angka2 dalam neraca kah? kalau begitu harus di akhir periode neraca. atau ada cara2 yang lebih praktis?

    btw, apa kabar bu??
    akhirnya kembali ke ‘dunia’ bu hehehe

    Trian,
    Mendeteksinya harus menggunakan sistem. Pertama-tama dilakukan mapping atas portfolio perusahaan, misalkan stok persediaan dan piutang. Perusahaan membuat kebijakan, yang didasarkan atas angka-angka finansial dan non finansial (dikuantitatifkan). Misalkan untuk angka finansial, dilihat dari ratio-rationya untuk menentukan pada score mana piutang dan atau persediaan dimasukkan dalam risiko yang harus masuk dalam kategori EWS. Sedangkan aspek non finansial, bisa dilihat dari; tingkat persaingan pasar, dan faktor makro serta mikro lainnya.

    EWS ini harus dibuat dalam sistim, dan merupakan bagian manajemen risiko perusahaan tadi, jadi harus pro aktif. Angka ratio hanya sebagai dasar, yang penting adalah bagaimana profil risiko kedepannya. Misalkan saat ini inflasi tinggi, maka kita harus sudah memperhitungkan apakah daya beli konsumen menurun, apakah akan mempengaruhi penjualan? Perlukan meningkatkan penjualan secara kredit, atau mengurangi margin? Dan apakah akan semakin banyak piutang yang tak tertagih? Jika kita menggantungkan pada laporan keuangan yang past performance, maka jika terjadi sesuatu, antisipasi kita sudah terlewat.
    (Kapan-kapan ngobrol lagi ya…bagaimana manajemen risiko perusahaan minyak, ada nggak EWS nya…PR nih Trian)

  6. Dalam sistem tubuh kita juga kan ada Early Warning Signal ya bu? contohnya…ya, kentut itu…hihi. Jadi malu nulis yang begituan 😀

    Donny Reza,
    Itu juga bagian dari EWS kan? Kalau keluar angin terlalu sering, berarti ada yang salah…salah makan, atau memang badan kurang enak (perut kembung).

  7. mesti mendalami ews saya ini

    Peyek,
    EWS bisa dilakukan pada banyak segi kehidupan, tinggal disesuaikan sesuai profil risiko masing-masing.

  8. adipati kademangan

    EWS ini mirip dengan control pada PDCA atau DMAIC. Pada intinya adalah fungsi kontrol agar prose berjalan dengan semestinya, apabila ada ketidaksesuaian akan dilakukan tindakan pencegahan lebih lanjut

    Adipati Kademangan,
    Saya tak terlalu memahami masalah teknik. Tapi kira-kira mirip seperti itu…EWS merupakan sistim deteksi dini, jika ada hal-hal yang kurang sesuai dengan yang distandarkan perusahaan.

  9. Kristy

    saya baru masuk sbg staf man.risk dan msh dalam taraf belajar di perusahaan BUMN , yang bidang usahanya meliputi perdagangan, agrobisnis dan farmasi dan memiliki banyak anak perusahaan…
    Dalam membangun Risk Awarness di korporat, strategi2 yg coba diterapkan adl Risk Outlook, Risk Assessment (mapping, register etc) dan Risk Alignment….Setelah itu baru mencoba membuat Early Warning System.yang akan di infokan kpd msg2 anak perusahaan.
    Kira2 sudah tepat belum ya bu? dan di bagian apa perlu perhatian lebih? apakah penyajian EWS itu dengan grafik2 atau cukup dgn deskripsi? mohon masukkannya….

    Kristy,
    Untuk bisa menjawab pertanyaanmu, harus mempelajari struktur organisasi, dan SOP nya…baru diketahui titik-titik mana yang mengandung risiko. Tanpa memahami itu, tentu saja tak bisa dijawab di sini, karena akan terlalu umum. Risk management untuk masing-masing perusahaan berbeda, bahkan untuk bidang perbankan yang sama, oleh karena itu BI hanya memberikan pertunjuk umum saja…semua kembali pada masing-masing Bank dalam penerapannya…walau nanti akan dikonsultasikan pada BI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s