Sulitkah memahami pikiran anak?

Saya ingin sekedar sharing pengalaman, semoga nantinya ada psikolog yang bersedia menambahkan komentar. Setelah anak pertama dirasakan telah cukup umur untuk mempunyai adik, maka orangtua mulai memutuskan kapan sebaiknya menambah punya anak, agar si sulung mempunyai teman bermain.Terus terang saya “agak kawatir” juga jika jaraknya terlalu lama, karena teman saya ingin menambah anak, saat sulungnya berumur 7 (tujuh) tahun dan mulai memahami arti adik, ternyata anak ini protes tak ingin punya adik karena kawatir kasih sayang orangtuanya terbagi.

Kapan berani memutuskan menambah anak?

Saat itu, ekonomi keluarga masih sangat pas-pas an, ditambah harus menanggung biaya pendidikan adik-adik ipar, sehingga pemikiran untuk menambah anak, memerlukan pertimbangan yang matang. Dari beberapa kali diskusi dengan suami, mengobrol dengan orang yang lebih tua, akhirnya saya dan suami berani memutuskan menambah anak. Dan sebetulnya, yang membuat saya terdorong untuk menambah anak, karena sentilan dokter kandungan..”Nyonya, kalau nyonya tak segera menambah anak, nanti tambah males lho. Udah keenakan berkarir, karir semakin meningkat, anak sudah ada dan anaknya semakin tak rewel karena udah bisa jalan. Ayolah nyonya, tambah satu lagi..”

Setelah saya renungkan, kenapa saya takut punya anak lagi, padahal banyak contoh disekeliling saya, seperti anak buah saya, yang gajinya lebih kecil dari saya, berani punya anak tiga, dan isterinya tidak bekerja. Sedangkan biaya melahirkan akan diganti penuh oleh kantor. Saya berhitung, berapa tambahan biaya per bulan yang dibutuhkan jika menambah anak? Teman saya mengomel…”Kamu itu kok nggak percaya sama Tuhan, nanti juga gaji akan semakin naik, siapa tahu rejekinya bayi, kamu bisa naik pangkat..”

Akhirnya saya mulai memeriksakan kandungan, dan diberi terapi agar mudah mengalami kehamilan (kandungan saya termasuk lemah, dan anak pertama keguguran), syukurlah saat mengandung anak kedua tak mengalami permasalahan yang berarti. Sampai kehamilan bulan ketujuh, saya masih bisa tahan mengajar 3 (tiga) hari berturut-turut dengan perut membesar…dan si bungsu ini baru lahir setelah bulan kesepuluh. Sejak mulai hamil dan kandungan terasa ada gerakan, setiap kali si sulung diajak mengobrol, bahwa ada adik didalamnya, diajak ikut meraba merasakan tendangan kaki adiknya, dan setiap periksa ke dokter, dokter kandungan dengan sabar menjawab pertanyaan si sulung tentang adiknya.

Pengenalan pertama kakak dengan adiknya

Saat masih dirawat di rumah sakit, si kakak rajin menengok, bayangan saya dia akan senang hati jika melihat adiknya dibawa kerumah. Hari itu, hanya berdua suami saya pulang ke rumah. Saya telah menyediakan bermacam-macam hadiah, sehingga setiap kali ada tamu yang datang membawa hadiah, si sulung juga mendapat hadiah (dari orangtua, tentunya). Kata adik saya, saat ini di lingkungan temannya, jika tahu yang lahir anak kedua, tamunya membawa dua macam hadiah, untuk diberikan pada si kakak agar tidak iri kepada adiknya. Keadaan berjalan normal, namun kira-kira dua minggu kemudian, karena kesibukan kami “agak” melalaikan anak sulungku, di cari-cari nggak ketemu. Rupanya dia ada di bawah pohon, merenung seorang diri. Perasaan dingin menjalari hatiku, segera saya mendatangi si kakak, dan mendengar komentarnya…”Saya mau adik laki-laki, tukar dengan Yosi.” (Yosi ini bayi laki-laki, yang lahir seminggu setelah kelahiran anak keduaku, putra tetangga di depan rumah). Sejak itu, saya hanya menggendong si kecil saat dia menyusui, setelah itu segera memperhatikan kakaknya, karena kakaknya terlihat makin pendiam, padahal biasanya banyak mengajukan pertanyaan. Syukurlah akhirnya si kakak mau mengajak bercanda adiknya, ikut memegang tangannya jika ibu lagi menyusui, ikut menenangkan adik jika rewel. Tahun-tahun berjalan…..dan mulailah anak-anak usia masuk sekolah.

Perkenalan pertama kali dengan psikolog

Suatu ketika Guru sekolah di SD mengadu pada kami, bahwa anakku sering termenung melihat keluar jendela, dan kadang tak membuat Pekerjaan Rumah. Kebetulan suami sedang mengikuti kursus paten di Fak Hukum UI, dan diantara teman kursusnya ada yang latar belakangnya psikolog. Teman ini menyarankan untuk membawa anakku ke Psikolog di Fak Psikologi Terapan UI. Ternyata anakku senang, karena disitu dia diajak bermain, menggambar sambil mengobrol. Dari gambarnya, dia menggambar sebuah rumah, didepannya ada gambar perempuan dan laki-laki. Kata psikolog…”Ini mama?” Bayangan psikolog, anakku merasa kehilangan mama, karena kesibukan mamanya kerja. Jawabannya mengagetkan..”Bukan, ini adikku. Adikku sekarang udah punya teman, jadi jarang main sama aku lagi.” Dari obrolan, ternyata anak pertamaku sangat menyayangi adiknya, bahkan cenderung over protektif, padahal adiknya perempuan, yang tentu cara bermainnya agak berbeda. Dari obrolan dengan psikolog ini, akhirnya saya juga memeriksakan si kecil, agar akhirnya kami sebagai orangtua tahu apa yang sebaiknya dilakukan.

Dan sejak itulah perkenalanku dengan psikolog, setiap hal yang menunjukkan anakku melakukan hal, yang agak di luar perilaku sehari-hari, saya menjadi rajin datang ke psikolog….padahal setiap datang ke psikolog orangtua selalu yang disalahkan. Yahh memang menjadi orangtua ternyata tidak mudah, ternyata sangat sulit memahami jalan pikiran anak-anak kita sendiri, mungkin ini juga yang membuat kami akhirnya memutuskan dua anak sudah cukup, dan berdoa semoga dengan dua anak ini kami bisa menjaganya, dan bisa mendidiknya agar menjadi orang yang berguna bagi masyarakat kelak.

Iklan

29 pemikiran pada “Sulitkah memahami pikiran anak?

  1. Eh, ke FPSi UI ya bu ? πŸ™‚ Dulu saya juga sempat magang di LPT (Lembaga Psikologi Terapan) UI, tapi setelah pindah ke Salemba. Tapi tidak menangani psikologi perkembangan anak. Jadi kangen ke sana lagi. πŸ™‚

    Saya sendiri setelah belajar psikologi jadi tahu bagaimana sulitnya dulu ortu merawat anak semi-hiperaktif spt saya. πŸ™‚

    Pyrrho,
    Iya, Lembaga Psikologi Terapan UI, di Salemba. Dan mendatangi psikolog menjadi hobi, karena saya bisa belajar, diskusi berbagai hal…

    Saya sempat resah juga saat si sulung remaja, tapi temanku sekantor (cowok) mengatakan tak perlu terlalu kawatir. Kemudian dia cerita saat kecilnya nakal banget dan hiperaktif. Ibunya kepala SD. Suatu ketika, dia lupa penyebabnya, saat remaja dia marah dan membanting semua barang yang ada di dapur. Ibunya hanya menangis terduduk di pojok dapur…tanpa berkata apa-apa. Karena kelelahan temanku akhirnya ikut menangis dan memeluk ibunya…sejak itu dia kalau mau nakal selalu terbayang wajah ibunya yang menangis di pojok dapur. Yang disesalinya, ibunya tak sempat melihat dia maju dalam karirnya, menjadi seorang ayah yang baik, punya isteri cantik…karena ibu tadi telah dipanggil Yang Maha Kuasa saat dia disekolahkan lagi ke Amrik oleh perusahaan, dimana sekarang dia menjadi salah satu Direkturnya.

    Psikologi UI menyediakan waktu, kalau ada permasalahan dengan mahasiswa, konsultasinya ke Fak Psikologi yang ada di kampus UI, tanpa membayar. Ini saya tahu, sejak anak saya jadi mahasiswa, saya juga sering diskusi dengan dosen dan wakil dekan, untuk melihat kemajuan anak, dan apakah dia ada kesulitan …..justru karena inilah saya dekat dengan bapak ibu dosennya anak-anak. Kalau dengan anak yang satunya,… kenal dengan dosen dan rektornya…jadi saya bilang…”Awas lho ya, jangan bikin malu, ntar rektormu ngomeli ibu, kalau nilaimu jelek…” Mengenal mereka juga menjadi memahami kesulitan anak, dan tidak meminta hal yang berlebihan yang diluar kapasitas anak.

  2. adipati kademangan

    wooo ternyata dia waktu kecil seperti itu yah
    pantesan gedhenya seperti ini
    *sok kenal, kayak orang pernah ketemu dimana gitchu. hehehehe*

    Adipati Kademangan,
    Komentar untuk Pyrrho?

  3. Kalo nanti sudah punya anak, harus sering konsultasi sama bang fertob nih bu:

    Itikkecil,
    Boleh tuh….karena lebih baik kita diskusi dengan orang yang ahli dalam masalah anak, agar tak salah langkah.

  4. Pengalaman yang berharga. Trims, bu. Saya juga sedang menimbang2, jarak berapa tahun sebenarnya yang efektif antara anak pertama ke anak kedua. Maksimal 5 tahun atau cukup 3 tahun?

    Indra,
    Butuh pemikiran matang…saya dulu memperpendek jarak, karena saya harus melahirkan paling lambat sebelum umur 35 tahun.

  5. lebih enak mungkin ketika kedua anak tidak sama2 lulus sekolah dan hrus masuk ke sekolah yg baru krena itu akan pusing di biaya, mungkin lbh baik ktika kakak masuk sma, si adik masih di kelas 2 smp. jd kira2 3 tahun jaraknya ya bu?

    Aprikot,
    Anak saya jaraknya 2 tahun 9 bulan…akibatnya biaya besar jika keduanya mulai masuk/pindah sekolah baru. Kakaknya masuk SMA dan adiknya masuk SMP. Kedua adikku (yang no.2 dan bungsu jaraknya 1,5 tahun), karena ayah saya kawatir kalau si kakak di susul adiknya dan menjadi teman sekelas, akhirnya si adik sekolahnya dimundurkan…padahal si kakak tak pernah kesusul adik. Mungkin saya ketularan ayah ya…mikirnya jauh banget.

  6. Saya sebenarnya sudah ingin Si Berseri-seri Cahaya Kemuliaan punya adik lagi tetapi yang di atas belum memberi tambahan. Pada saat dia berusia 18 bulan ibunya hamil tetapi keguguran pada umur kandungan 3 bulan. Oleh kakeknya jenazah janin itu diberi nama Muhammad Kasimun.

    Namun, saya tidak mau memaksa Tuhan. Kalau memang jatah hanya 1 ya saya akan tawakkal menerima. Tentu setelah ikhtiar dan berdoa.

    Kang Kombor,
    Kadang kita tak tahu apa rencana Tuhan. Karena umur saya “sudah sangat cukup”…maka begitu menikah inginnya segera punya anak, yang sayangnya keguguran…dan perlu waktu setahun kemudian baru hamil lagi.

    Ada lagi yang setelah punya anak pertama ingin menambah, tak berhasil…dan setelah si sulung kelas 1 SMA, barulah temanku tadi hamil lagi, dan berturut-turut melahirkan dua anak lagi. Jadi memang manusia berencana, tapi Tuhan yang menentukan.. semoga rencana Tuhan adalah yang terbaik bagi kita.

  7. wah, sebuah pengalaman menarik dan layak untuk dicontoh bagaimana seharusnya menghadapi anak ketika sedang menghadapi masalah. terima kasih sharingnya, bu. alhamdulillah, sekarang anak kami sudah mempunyai 3 anak. secara pribadi, saya melihat mereka kok ceria2 saja, tapi entah kalau konsultasi dg psikolog, sebab anak saya yang ketiga yang masih di TK, perilakunya agak hyperaktif. kalau siang hampir tak pernah mau bobok, hehehehe πŸ˜† *kok malah jadi curhat*

    Pak Sawali,
    Nggak masalah kok pak, yang penting diamati saja. Saya termasuk terlambat mengenal kelemahan anakku, sehingga “sleeping disorder” nya baru ketahuan saat dia kuliah dan jauh dari orangtua. Syukurlah anaknya tetap semangat (sering juga down karena ketinggalan dengan teman), mau pindah ke universitas yang satu kota dengan ortu, dan akhirnya bisa menyelesaikan kuliahnya dengan pejuangan yang berat. Tapi saya berpikir ini cobaan bagi kami (saya dan suami), untuk lebih dekat pada Allah swt…dan benar juga…Allah swt akhirnya mengabulkan doa kami siang malam,…..dan dia bisa lulus kuliah dengan nilai sangat memuaskan. Yang penting adalah orangtua tetap mendampingi anak, jangan menyalahkan anak, cobalah memahami kalau kita berada pada posisi dia…dengan begini anak akan mengerti kalau ortu akan selalu mendukung untuk kemajuannya, serta mengerti kesulitannya.

  8. maaf, kok ada yang jangga, bu. kalimat “… sekarang anak kami sudah memounyai 3 anak…”, maksud saya, “…..kami…”, hehehehe πŸ˜† kalau anak kami …. berarti saya sudah kakek dong. wah, salah ketik. hehehehe πŸ™‚

    Pak Sawali,
    Nggak apa-apa kok……:P

  9. kalau seperti saya ini bagaimana bu? anak 1 saya umurnya baru 1 th 4 bln. yang kedua baru 1 bulan. apa terlalu dekat ya? apa berpengaruh pada psikologi anak?

    Yuswae,
    Sebetulnya banyak juga yang mempunyai anak jaraknya berdekatan, yang penting orangtua harus memahami dan memberikan perhatian yang sama, jangan salah satu dikalahkan, karena trauma masa kecil ini akan terkenang terus selamanya, dan membuat hubungan kakak adik tidak mulus.

  10. bagaimana caranya menjelaskan kepada kakak kalau akan ada adik baru?

    *masih jauh, pingin tau aja πŸ™‚

    Trian,
    Sejak anakku satu tahun, udah sering didongengi…dan pertanyaannya macam-macam. Saat positif hamil, secara perlahan orangtua harus menjelaskan datangnya adik baru, dan si kakak diajak mengikuti prosesnya, juga diajak saat periksa ke dokter kandungan. Dokterku dulu baik sekali, anakku bahkan boleh mencoba menggunakan stetoskopnya, ikut mendengar suara adiknya di perut dan mau menjawab pertanyaan si kakak kok suara adik di perut ibu aneh.

    Walaupun begitu, saat si adik udah lahir dan di bawa ke umah, tetap ada shock, disebabkan para tamu lebih memperhatikan si adik…disini peran ayah diperlukan agar si kakak tak cemburu (kita tak mungkin menjelaskan pada tamu kan, untuk memperhatikan si kakak). Saya dulu membeli kado banyak, jadi setiap kali tamu memberi hadiah, si kakak menerima hadiah pula….dan dia yang membuka hadiahnya…malah komentarnya lucu.
    Ga usah kawatir, nanti proses belajarnya berjalan sendiri kok…apalagi majalah tentang keluarga semakin banyak, saya dulu belajar dari majalah “Ayahbunda”, satu-satunya majalah tentang keluarga saat itu. But, thanks to Ayah bunda yang banyak membantuku.

  11. Menurut pengalaman saya, ini di luar dari konteks perekonomian keluarga tentu saja, fikiran anak2 senantiasa berubah, terkadang ingin punya “teman bermain” terkadang ia sangat menikmati kesendiriannya bak seorang “raja” yang tidak ada saingannya. Jadi kesimpulannya menambah anak sebenarnya lebih banyak pada keinginan orang tua saja terlepas dari sudut aspek psikologis baik atau tidaknya si anak punya teman bermain di rumah… hehehe…..

    Apalagi kalau punya dua anak laki yang terpaut hanya dua tahun seperti saya, wah jadinya bukan malah jadi teman bermain malah seringkali jadi teman ribut. Seringkali berebut dan membeli segalanya harus dua buah. Untuk itu orangtua harus bersikap ekstra adil jangan pernah pilih kasih, saya khawatir jikalau orang tua tidak bisa adil (biasanya orang tua selalu condong ‘memihak’ yang kecil) saya takutkan akan terjadi rasa cemburu yang tidak sehat atau akan menjadi persaingan berlebihan antara keduanya yang akan terbawa2 hingga mereka dewasa kelak…………

    Kang Yari NK,
    Sebetulnya yang sulit adalah jika kita mempunyai dua anak atau lebih, adalah bersikap adil…se adil-adilnya kita, tetap aja baik adik maupun kakak ada perasaan bahwa ibu atau ayah, lebih menyayangi adik atau kakaknya. Komunikasi harus dilakukan terus menerus…saya kebayang betapa ramainya rumah kang Yari, yang keduanya cowok. Tapi anakku cewek, impiannya punya anak lelaki semua, katanya laki-laki lebih seru…duhh karena kebanyakan temannya laki-laki, serta kaka satu-satunya juga laki-laki…dan katanya, kalau cewek kebanyakan ngerumpi.

    Anak saya sepasang, tapi adiknya jadi tomboy karena cenderung ikut kakaknya, walau saya berusaha memberikan mainan boneka…tapi kalau mainnya bersama si kakak, hasilnya adalah main perang-perangan menggunakan boneka. Dan kalau bonekanya boncel, si adik menangis, dan si kakak dengan polosnya menjahitkan boneka yang robek tadi…hasilnya, boneka penuh jahitan warna warni. Adiknya udah tersenyum dan main lagi….saya awalnya mau membereskan jahitan tadi…tapi kawatir si kakak tak merasa dihargai kerja kerasnya. ….Lucu kalau mengingat hal itu….hehehe.

  12. sebagai anak pertama, saya dulu cemburu sama adik. padahal kasih sayang buat saya sebenernya sangat berlimpah, namanya juga anak pertama ya, Bu.

    tapi setelah saya ngobrol dengan teman” (sekarang), kebanyakan yang anak pertama juga cemburu pada adiknya. teman” yang bukan anak pertama juga banyak yang dicemburui kakaknya πŸ™‚

    jalan pikiran anak memang susah ditebak ya, Bu. saya sendiri kesulitan membaca apa yang dirasakan adik bungsu saya. dia sangat introvert, apalagi setelah ditinggal mama.

    Mieke,
    Saya dulu juga merasa ibu lebih menyayangi adik, dan ternyata adikku juga berasa ibu lebih menyayangi kakak….hahaha.
    Kondisi ini yang membuat saya berusaha untuk mencoba komunikasi, kalau orangtua itu sayang pada anak-anaknya, perbedaan karena memang setiap anak dilahirkan berbeda, bukan beda perlakuan. Mudah2an anakku memahami hal ini. Blog ini juga membuat anak-anakku makin mengenal pandangan ibu, isi hati ibu, ide-idenya ibu….dan ternayata hubungan menjadi lebih dekat. Masing-masing anak mempunyai keistimewaan, dan ini perlu disadari.

    Mieke nggak ingin mengajak adik ke psikolog…mungkin diawali Mieke duluan yang konsultasi menjelaskan permasalahannya…terus berikutnya (sesuai saran psikolog) adik diajak, jelaskan untuk test kemampuan, karena biasanya psikolog memulai dengan test kemampuan untuk mengetahui potensi si anak, baru nanti hasilnya didiskusikan dengan anak. Lebih baik lagi, jika papamu mau ikut. Dulu, setiap kali saya konsultasi dengan psikolog, dan suami akhirnya juga menyenangi hal ini…agar kita tak salah melangkah.

  13. sebelumnya terima kasih πŸ™‚

    Dalam Topik parenting sy ndak punya pengalaman pribadi. kecuali, kita boleh memasukkan kucing dan ibunya. Namun satu yg sy tau dlm linguistik : anak anak di jepang mempunyai versi bhs jepang sendiri lengkap dgn grammer dan vocabulary yg cuma bisa dimengerti antar mereka. Seolah punya dunia sendiri berbeda dgn para orang tua.

    πŸ™‚

    Uwiuw
    ,
    Sebenarnya anak-anak di Indonesia juga punya bahasa sendiri (bahasa gaul), yang dimengerti oleh lingkungannya. Tapi karena saya dekat dengan mereka, lama-lama tahu juga apa maksudnya…..
    Istilah seperti ..dudul…secara (ini bahasa darimana ya asalnya)….pewe (posisi uenaak) dan lain-lain.
    Saat anak remaja, sering melihat buku hariannya tergeletak, tapi saya tetap tak bisa memahami isinya, karena berupa komik tanpa kata-kata. Kebetulan anak-anakku selalu mengenalkan ibu pada teman-temannya, yang akhirnya temannya juga menjadi anakku juga.

  14. Iya bu, di Fak. Psi UI ada unit kegiatan yang berfungsi jadi semacam lembaga konseling dan psikoterapi bagi mahasiswa-mahasiswa. Gratis. Jadi mahasiswa yang punya masalah-masalah apa saja bisa berkonsultasi kesitu. Dulu letaknya di pusat kegiatan mahasiswa.

    Bukan hanya mahaiswa yang bisa berkonsultasi tetapi orangtua juga bisa berkonsultasi. Dan setiap hari biasanya ada psikolog yang praktek disitu. Tetapi saya dulu jarang memakai fasilitas ini karena bisa langsung ke dosen pembimbing. πŸ™‚

    Soal jarang kelahiran anak, setahu saya dari beberapa penelitian psikologi perkembangan, memang dianjurkan jangan terlalu jauh. Idealnya dibawah 5 tahun, dengan beberapa pertimbangan psikologis.

    @ Itikkecil :

    Kalo nanti sudah punya anak, harus sering konsultasi sama bang fertob nih bu:

    Uh, saya bukan psikolog perkembangan anak lho… πŸ™‚ Saya psikolog intervensi sosial. Dulu waktu ambil ambil majoring sosial memang diwajibkan magang di klinis perkembangan anak selama 6 bulan. Juga di psikologi perkawinan dan keluarga. Dan nggak terlalu memahami perkembangan anak.

    Tapi kalau konsultasi non-profesi, sekedar ngobrol-ngobrol berbagi pengalaman, tukar pikiran, saya dengan senang hati melakukannya. Apa sih yang nggak saya lakukan buat Ira ? πŸ˜‰

    Tuh Ira, bung Fertob udah siap menjadi konsultannya Ira, dimanapun Ira berada.

  15. waduh bunda…saya belum tahu yang berkaitan dengan pikiran anak, maklum jagnkan punya anak pacara aja belum (ya ke-2 maksudnya….hehhe :), canda).
    Yg jelas, saya sebagai anak, kadang sebaliknya, sulit banget memahami pikiran ortu ? :)..blog dan postngannya bagus bgt….

    Hilman,
    Nanti pada waktunya, akan bisa melalui proses kok, nggak usah kawatir.

  16. Puspa

    Sharing yang berguna sekali bagi saya… makasih ibu…
    Menurut pengamatan saya…
    Sepertinya yang harus dipertimbangkan itu bukan jarak umur antar anak, tapi kesiapan si kakak menerima sang adik.
    Meskipun jarak antara kakak dan adik sudah jauh, tapi kalau dari awal si kakak tidak di didik mandiri, dan terlalu dimanja, tetap aja tidak bisa menerima adiknya.
    Sekarang saya lagi pusing nih bu… anak pertama saya sayang banget sama adiknya (jarak 2.5 thn), tapi… dia jadi meniru sang adik.
    contohnya: nangis2an (bukan nangis beneran) gak jelas , balik lagi suka ngompol… waaa…. benar2 kesabaran kita lagi diuji…

    Puspa,
    Kebetulan saya bukan ahli dan bukan dari psikologi perkembangan anak. Tapi dari majalah yang pernah saya baca, maka kemungkinan si kakak cemburu pada adik, karena ibu dirasa lebih memberi perhatian pada adik…dia mengompol karena berharap mendapat perhatian lagi dari ibu.
    Yang ditekankan disini, pujilah si kakak jika menunjukkan kemandiririannya, dan diajak membantu momong adik….agar hubungan bisa baik dengan adik, tanpa merasa cemburu (kenyataannya susah)…atau minimal rasa iri nya dikurangi. Juga minta bantuan pihak lain kalau ada, untuk membantu momong adik, dan ibu lebih memperhatikan kakaknya.

  17. amin bu . sebenarnya , anak katanya adalah cerminan dari kita .
    pahamilah dengan hati Insya Allah tidak akan sulit
    berilah kasih sayang dengan sepenuh hati dan kehangatan , Insya Allah dia akan merasakannya
    didiklah dengan baik

    Realylife,
    Betul, walau prakteknya tak semudah itu….perlu jiwa besar, disiplin diri (karena ibu sebagai panutan), dan kasih sayang yang tak terbatas. Juga diperlukan kerjasama dari pihak ayah, syukur kalau ada keluarga lain, untuk membantu ibu momong si kecil, agar ibu tetap bisa memberi perhatian sama terhadap kakanya.

  18. aktual dan intim.

    mungkin, yang membuat kita sulit memahami anak-anak adalah karena kita terus-menerus berusaha menjadi dewasa, alias menyangkal sisi kekanak-kanakan dalam diri kita.

    aku juga memposting artikel dengan topik ini, Ibu. Bagi yang berminat silakan baca di :

    http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/03/27/totto-chan-pendidikan-berbasis-kepribadian-1/

    Robert Manurung,
    Saya udah menengok rumahmu.

    Ibu, mohon komentar yang pertama dihapus saja karena ada kesalahan pada linknya.

  19. Hemmm…hmmm….
    Kasusnya mirip-mirip dengan kami bu, cuman klu ibu selisih 7 tahun si Sulung baru punya adik. Lah…saya cuman selisih 1 tahun heks..heks…

    Ketika si Sulung dah bisa berjalan umur 8 bulan dan membutuhkan TOTALITAS pengawasan…eh…tak lama kemudian adiknya nongol. Ada perubahan Psikologis memang terhadap si Sulung. Terkadang adik kecilnya dicubitlah, ditarik-tarik rambutnyalah, digigitlah, gara-gara ” NENENYA ” diempeng sama adiknya heks..heks..
    ahh…Namun…hal itu gak berlangsung lama dan kami gak sampai menggunakan jasa Psikholog.

    Cuman saya memang ekstra keras menyediakan waktu buat si Sulung. Dan, dampaknya si Sulung lebih deket dengan saya ketimbang dengan ibunya.

    Selamat berbahagia yah bu…

    Santri gundul,
    Inilah contoh seorang bapak yang baik. Jarak yang dekat, memerlukan perhatian yang ekstra, dan tak mungkin dibebankan pada ibu saja. Tapi dengan membantu momong si sulung, hubungan si sulung dengan ayah menjadi dekat….dan kan menyenangkan mengobrol dan bermain dengan anak..serta melihat perkembangannya setiap saat…Salut deh.

  20. ekapratiwi

    ceritanya kok orang tua semua yaaa. aku sebagai seorang anak tidak tahu dulu diajari phsycologi apa tidak dibawa ke phsycolog apa tidak saya ngga pernah tanya sama bapak atau ibu… yang jelas apa tabiatku apa sifatku bahkan apa kesenanganku juga jalan pikiranku tidak jauh berbeda dengan kedua orang tuaku dan kedua orang tuaku ngerti banget aku bahkan aku kagum, semuanya bisa ditebak oleh kedua orang tuaku……….. (bahasa jawa: ora ono kebo kabotan sungu) saya kira gen orang tuaku berdua sangat dominan terhadap diriku sehingga mereka seolah olah dewaku.

    sehingga dapat saya simpulkan…
    apapun yang menjadi sifat orang tua tidak akan jauh berbeda dengan anaknya, dan apapun yang dilakukan orang tua bakal dilakukan pula oleh anaknya. buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya….. semoga banyak ibu yang perhatiannya seperti anda terhadap anak kesayangan. terimakasih ibu… terimakasih mama. kasih ibu sepanjang jalan kasih anak sepanjang penggalah. Sukses selalu ibu yang perhatian.
    dari anakmu tersayang. eka pratiwi gadis desa

    Ekapratiwi,
    Mengapa ceritanya tentang orangtua…karena penulisnya memang orangtua, yang ingin sharing pada para murid, mantan murid, anak buah, hal-hal yang sekiranya dapat memberikan tambahan ilmu. Beberapa jenis postingan justru atas usulan pembaca, antara lain; seniornya anakku, teman-teman anakku, sehingga segmen tulisan memang ditujukan lebih kepada usia dewasa atau 20 tahun ke atas.

    Udah baca tulisanku tentang https://edratna.wordpress.com/2007/05/04/
    apakah-sikap-dan-perilaku-diturunkan-dari-orang-tua/….. Bahwa selain genetika, pengaruh lingkungan, cara mendidik juga berperan besar terhadap pertumbuhan anak.

  21. perasaan kakak pertama kali mempunyai adik pasti senang luar biasa, tetapi begitu si adik sering mendapatkan hadiah dari teman dan saudara si kakak jadi mulai merasa iri dan mulai meminta kepada kami untuk dibelikan ini dan itu.. tetapi setelah diberikan pengertian dulu kakak waktu bayi juga mendapatkan hadiah yang sama barulah dia mulai mengerti. kami belum pernah mendatangi psikolog untuk mengkonsultasikan maslah perilaku anak-anak kami, mugkin bagi kami karena masih belum terlihat adanya masalah πŸ˜€

    Totok Sugianto,
    Saya kok kemarin ga bisa menulis komentar di blogmu ya, udah dicoba tiga kali, tapi setiap kali hilang lagi.
    Yang harus diwaspadai adalah kadang kita telat membaca/melihat, adanya perubahan perilaku yang bisa kearah yang kurang optimal untuk pertumbuhan anak. Ini tak saya sadari, saat anakku malas belajar (karena tanpa belajar udah dapat ranking), terus tidurnya banyak…..setelah mahasiswa tahun pertama baru tahu bahwa itu masalah besar, sehingga recovery nya perlu waktu cukup lama, dia harus pindah kuliah dsb nya. Syukurlah akhirnya dia bisa mengatasi cobaan itu dengan segala kesulitannya, saya sempat patah semangat dan merasa gagal menjadi ibu.

    Yang penting diamati terus mas, mudah2an perkembangan anak tetap baik.

  22. mahal gak sih bu kalo ke psikolog ? πŸ˜€
    anak saya yang sulung (saat itu umur 2 taon) langsung step dan masuk rumah sakit ketika adiknya yg baru lahir 3 hari sebelumnya dibawa pulang ke rumah. bisa dibayangin rasa istri saya liat anak step padahal untuk melangkah saja dia masih kesakitan akibat operasi cesar nya.
    padahal kita udah memberikan pengertian kalo dia mo punya adik, bahkan dia juga sangat senang mo punya adik. tapi kok bisa kejadian seperti itu.
    dan sewaktu di rumah sakit dia juga mengatakan hal tersebut, 2 taon bilang kalo “ibu lebih sayang adik”.
    sih beberapa kali keluar sifat cemburunya meski tidak sampai step. bedanya si adik (3 taon) jugakejadian berulang lagi ketika baby sitter adiknya pulang (tepat adiknya umur setaon) karena istri saya otomatis lebih sering megang adiknya karena baby sitter dia masih ada (kebetulan baby sitternya bagus sehingga kita pertahankan). Sekarang (dia 5 taon) masih beberapa kali keluar sifat cemburunya meski tidak sampai step. Bedanya si adik (3 taon) juga mulai bisa cemburu.
    wuih.. bener-bener musti belajar dari acara Nanny 911 nih.. πŸ™‚

    Nindityo,
    Saya sarankan mencoba pergi ke psycholog deh…biaya kayaknya hampir sama pergi ke dokter. Yang paling baik adalah ke Lembaga Psikologi Terapan Psikologi UI, saya tak tahu pasti apakah di Depok atau di Salemba. Di sini yang memberikan konsultasi, memang psikolog yang mengambil jurusan untuk psikologi perkembangan anak. Semakin dini, akan semakin mudah menghanddle nya…..kawatirnya yang besar introvert, sehingga orangtua sulit memahami perasaannya. Atau coba tanya aja dulu kepada mas Fertob (http://fertobhades.wordpress.com), walaupun beliau bukan dari psikologi perkembangan anak, paling tidak tahu ke mana sebaiknya.

  23. Hahaha gambarnya hampir sama, cuma ditambah ada perempuan di pesawat terbang dan di pabrik/hutan. Anakku itu tahu benar pekerjaanku dulu, sering juga aku bawa ke pabrik/ke hutan/ke kantor orang utk negosiasi. Habisnya bagaimana pula ex-suami tdk pernah akur dengan pembantu/baby sitter/ibuku sedangkan dia sendiri tdk bisa merawat anak.

    Tapi ketika masuk sekolah th. 2004 (aku juga sudah pisahan dgn bapaknya), setiap aku tinggal meeting (selalu diluar kota/negri), anakku bengong di sekolah. dia cerita ke psy sekolah kalo ibunya pergi-pergi terus dan bapaknya sudah meninggal. Aku jadi terancam jika hal ini diteruskan negara bisa ambil anakku. Jadi aku putuskan stop kerja.

    Sampai sekarang setahun 2/3 kali kami selalu konsultasi ke psy, karena dia bikin banyak
    kelakuan-kelakuan yg aneh-aneh.

    Juliach,
    Anak kecil ternyata juga bisa stres atau trauma karena beberapa keadaan, dan hal ini memang harus ditanggulangi, agar dia tetap mempunyai rasa aman.

  24. @nindityo (dan bu edratna):
    Kalau mau konsultasi ke psikolog UI, bisa ke Fakultas Psikologi yang di Depok (LPT UI ada di Salemba, tapi setahu saya mereka lebih fokus ke pelatihan dan tes untuk korporat). Sekretariat bagian perkembangan anaknya ada di gedung C lantai dasar, silakan ditanya2 di situ. πŸ™‚

    Catshade,
    Thanks infonya….saya juga pernah dua kali ke Psikologi Depok….tapi selanjutnya cuma sms an dengan ibu psikolog nya. Kalau saya pikir-pikir, sebetulnya yang lebih stres orangtuanya ya……syukurlah masa itu akhirnya lewat juga dengan baik. Thanks dengan para psikolog yang banyak membantu memahami anak-anak.

  25. Eh, sudah ada catshade yang njawab… πŸ™‚

    Iya bu dan mas nindityo. Fak. Psikologi UI juga menyediakan layanan masyarakat. Tempatnya seperti yang disebutkan Catshade, di Gedung C lantai dasar. Banyak psikolog handal disitu.

    LPT UI alamatnya di Salemba. Alamatnya ini :

    Jl. Salemba Raya No.4 – Jakarta 10430, Indonesia
    Telp : (021) 314 5078, 390 7408, 390 8995
    Fax : (021) 314 5077
    Email : lptui@cbn.net.id

    Mereka memang lebih fokus ke psikologi industri dan assessment center. Walaupun begitu ada juga Divisi Klinik dan Layanan Masyarakat, yang lebih mengarah pada layanan individu.

    Tetapi lebih enak kalau langsung ke FPsi UI. Saya sendiri ada nama dan nomor dari beberapa psikolog perkembangan anak yg bisa dihubungi, tapi nggak etis kalau saya tulis disini. πŸ™‚

    Pyrrho,
    Thanks infonya, saya udah email mas Nindityo.

  26. Kebetulan saya anak bungsu dan semua mbak saya perempuan. Sempet juga jadi bahan mainan kakak2 yg centil maklum namanya anak kecil lihat adik cowo malah didandanin perempuan dikasih gincu bibir dsb, untungnya gak keterlaluan amat sehingga saya tumbuh normal. Sebagai anak bungsu, saya termasuk anak yang penurut tidak pernah sedikitpun bapak atau emak memukul bahkan mencubit, cuma kalo ngomel mah sering.

    Resi Bismo,
    Berarti paling ganteng dong di rumah, berdua dengan ayahmu.
    Sebetulnya orangtua tak perlu menggunakan tangan (mencubit, memukul) saat mendidik anak, karena selain dapat menyebabkan trauma pada anak kecil, pengalaman ini akan terekam seumur hidupnya. Dengan kasih sayang, dan perhatian, anak-anak berkembang baik…kalau cuma omelan….itu juga maksudnya baik, karena anak-anak pasti juga pernah berbuat salah atau melakukan hal-hal yang akan membahayakan dirinya, sehingga kaum ibu cenderung kawatir…dan ini menjadi semacam omelan, yang sebetulnya berarti sayang.

  27. Yahh memang menjadi orangtua ternyata tidak mudah, ternyata sangat sulit memahami jalan pikiran anak-anak kita sendiri

    Betul bu. Bahkan ketika jalur komunikasi sudah kita buka seluas-luasnya, tetap kita harus punya inisiatif untuk mengorek-ngorek cerita dari mereka; dan baru kemudian ketahuan berbagai masalah yang sedang mereka alami.

    Dan masalahnya mereka lucu-lucu, hal yang menurut kita sepele ternyata masalah besar bagi mereka πŸ˜€
    Kadang payah saya menahan tawa ketika mendengar curhat mereka, tapi tetap harus serius karena bagi mereka itu adalah masalah besar.

    Anak saya ada empat pada saat ini, masing2 jaraknya 2 tahun. Ada juga hikmahnya, seperti mereka cukup kompak karena secara umur masih tidak terlalu jauh. Dari segi biaya juga bisa diakali, misalnya dengan homeschooling dan asuransi kesehatan.

    Pembantu kami juga cukup satu orang dan bisa menghandle mereka semua. Tapi kami memang tegas menjelaskan bahwa mereka tidak boleh menyusahkan pembantu kami dan harus menurut kepada dia; sambil kami juga memonitor kalau ada kekeliruan dari pembantu kami tsb (awalnya banyak, setelah dipandu selama beberapa waktu maka sekarang sudah bisa diandalkan).
    Jadinya istri saya sekarang bisa cukup bebas keluar rumah jika ada keperluan.

    Lha jadi kepanjangan… trims untuk posting ini bu edratna.

    Sufehmi,
    Hmm kita harus bisa membayangkan bagaimana sikap kita pada waktu seumurnya. Jika anak cerita, dengarkan baik-baik, tak terasa kita akan bisa mengerti apa yang diinginkan…dan tanyakan mengapa dia punya pendapat seperti itu? Yahh, anak kecil sering kali malah seperti mengajari kita, dengan celotehannya yang seringkali lucu, dan idenya sering tak terpikirkan oleh kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s