Perencanaan matang, mengetahui jalan tikus, agar hidup nyaman di Jakarta

Hidup di Jakarta harus pandai mencari jalan tembus, atau jalan-jalan tikus agar tak terjebak dalam kemacetan. Mengapa disebut jalan tikus? Karena pada umumnya jalannya berkelak kelok, hanya cukup untuk dua mobil, di tengah pemukiman padat. Saya pikir tadinya hanya saya dan teman-teman yang memberi istilah jalan tikus ini, ternyata beberapa minggu yang lalu, Kompas menceritakan tanggapan orang asing yang pernah tinggal di Jakarta, yang menceritakan pengalamanannya tinggal di Jakarta selama beberapa tahun. Katanya, asal pandai mencari jalan tikus, dan di Jakarta ini banyak sekali jalan tikus, maka kita tak terjebak dalam kemacetan.

Bagaimana cara mempelajari jalan tikus?

Pengetahuan jalan tikus, selain harus berani mencoba, biasanya saya peroleh jika naik taksi, atau naik bajay. Merekalah orang yang tiap hari berada di jalanan, serta tak tergantung pada rute jalan, sehingga lebih mudah mencari alternatif jalan. Misalkan jalan dari daerah Citos ke arah Semanggi, ada beberapa alternatif. Jalan yang cukup lebar dan padat adalah jalan Fatmawati atau melalui jalan Pangeran Antasari. Tapi sebetulnya diantara kedua jalan tadi ada jalan yang jarang diketahui orang (sekarang sudah banyak yang tahu, tapi tetap lumayan lancar). Demikian juga antara jalan Fatmawati dengan jalan Metro Pondok Indah yang berlanjut ke jalan Sultan Iskandar Muda, terdapat jalan-jalan kecil. Namun jalan-jalan tikus ini harus dilupakan jika mobil anda besar, seperti Camry, Mercedes dan lain-lain, karena akan menyulitkan sopir.

Perencanaan yang matang

Diperlukan perencanaan matang, apa kesibukan kita untuk esok hari, agar bisa dilakukan dalam sekali jalan, untuk menghindari kemacetan. Sekitar tahun 2000, saat itu belum ada jalan Tol Simatupang yang tembus ke daerah Bintaro, maka teman saya yang rumahnya di daerah Bintaro dan kerja di Menteng Prapatan, setiap hari harus berangkat jam 5.30 wib dari rumah, dan pulangnya setelah jam 9 malam, karena terlambat sedikit jalan sudah macet dan terlambat datang ke kantor. Dulu, jalan Pangeran Antasari termasuk nikmat untuk dilalui, namun sejak adanya jalan Tol Simatupang, maka banyak teman-teman dari Bekasi, dari Depok yang melalui jalan Pangeran Antasari, sehingga kalau dulu berangkat dari daerah Cipete cukup jam 6.45 wib, maka sekarang jam 6.30 wib harus sudah berangkat, bahkan kalau perlu lebih pagi lagi. Begitu juga kalau kantor ke arah Ragunan atau Pasar Minggu dari arah Cipete, yang pada tahun 2000 bisa berangkat jam 7 pagi, sekarang jam 6.30 wib harus sudah berangkat. Tambahan jalan baru bisa memudahkan akses dari berbagai arah, tapi di satu sisi kita juga dituntut berangkat lebih pagi, karena semakin banyak orang yang melalui jalan yang baru dibuka tersebut.

Apabila ada tugas ke luar kota dan memerlukan naik pesawat udara, yang harus dipertimbangkan adalah kapan pesawat akan berangkat. Kalau masih pagi hari (sebelum jam 6 pagi), maka berangkat dari rumah cukup dua jam sebelumnya, namun jika pesawat mengudara tengah hari, maka perlu waktu 4 jam sebelumnya harus berangkat, karena ada risiko kemacetan di jalan, apalagi jika berangkatnya bersamaan dengan orang yang pulang kantor. Kemenakan saya mula-mula tak percaya, suatu ketika dia ada rencana pulang ke Semarang dan saat itu kami sedang naik taksi ke tempat lain. Karena saya jarang naik kereta siang ke stasiun Gambir (saya lebih suka berangkat pagi-pagi sekali), saya bertanya sama sopir taksi…”Pak, kalau mau ke stasiun Gambir, untuk naik kereta api jam 10 pagi, jam berapa pesan taksinya?”. Jawab sopir taksi,”Jam 6.30 wib udah harus berangkat bu, karena kalau pagi macet sekali, bersamaan orang berangkat ke kantor.” Akhirnya kemenakan saya memilih naik kereta api yang berangkat dari stasiun Gambir jam 6.30 wib, dan berangkat dari rumah di Cilandak jam 5.30 wib.

Selalu buat plan A, plan B, dan seterusnya

Hidup di Jakarta selalu penuh kejutan, jadi kita harus membekali anak-anak apa yang harus dilakukan jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Saat anak saya masuk SMA, saya berusaha menjelaskan, apa yang harus dilakukan jika harus pulang mendadak, jalan alternatif mana saja yang bisa dilalui. Saat terjadinya kerusuhan tahun 1998, anak sulung saya masih kelas 2 SMA, umur yang selalu ingin tahu dan ingin mencoba. Sayapun menjelaskan kepada anak-anak, apabila terjadi hal di luar kebiasaan, yang penting orangtua diberi kabar posisinya ada dimana, dan kalau terjebak di sekolah tak bisa keluar, sebaiknya tunggu sampai situasi aman.

Tawuran remaja, termasuk bahaya yang harus diperhatikan. Kedua anak saya sekolah di daerah Blok M, jadi mereka oleh gurunya juga dibekali apa yang harus dilakukan agar tak terjebak pada saat ada tawuran. Oleh karena itu, kegiatan sekolah yang sampai sore hari sebenarnya sangat menolong, karena tawuran pada umumnya terjadi siang hari sepulang sekolah.

Pengalaman ini akhirnya menyatu menjadi kebiasaan anak-anak. Dan saat si bungsu mulai kuliah di Bandung, dia bingung menghafal jalanan di kota Bandung, maklum selama ini kalau ke Bandung diantar kemana-mana oleh ayahnya. Menjadi mahasiswa memang harus mandiri, dan harus naik angkot dari rumah ke kampus. Maka yang dilakukan adalah mengamari, rute mana yang paling mudah di capai dan paling lancar dari rumah sampai ke kampusnya di daerah Dago. Dan dari hasil pengamatan ini, akhirnya anak saya membuat peta Bandung ala Narpen, yang dapat dilihat disini….dan tak disangka-sangka ternyata petanya cukup laris, terutama diperlukan oleh para mahasiswa baru yang berasal dari luar kota Bandung,

Iklan

21 pemikiran pada “Perencanaan matang, mengetahui jalan tikus, agar hidup nyaman di Jakarta

  1. Wah kalau di Jogja, saya hapal bukan saja jalan tikus budhe, jalan coro pun apal di luar kepala
    Biasanya sangat bermanfaat kalau pas dibedhag polisi 😆

    Nayantaka,
    Wahh kebayang deh…pasti masuk-masuk gang kecil ya…..tapi saya dulu setahun di Yogya juga kost di gang kecil, tapi becak masih bisa lewat. Gang nya bersih, beraspal, dan kiri kanannya penuh tanaman, jadi asri dan segar.

  2. wah niya bener…apalagi klo ada kecelakaan… biar cepet nyampe rumah harus lewat jalan tikus

    Cewek tulen,
    Iya, kalau nggak bisa macet berjam-jam.

  3. kalo begini mah, di tempat saya (Banjarbaru) juga banyak jalan tikus. Tapi ditempt saya jarang macet, belum serame JEKATE.. 🙂

    SQ,
    Bersyukurlah jika tak pernah mengalami macet…kayaknya sekarang jalan macet tak hanya di Jakarta. Bandung, Surabaya, dan Makassar pada jam tertentu macet.
    Saya ke Banjarmasin sekitar 10 tahun yang lalu, tak bisa membayangkan kondisi sekarang.

  4. wah saya aja ke jakarta beberapa kali sama teman, jalan2 aja blum seberapa tau…
    wah harus bawa peta lagi 😀
    hehehe

    Arul,
    Sayapun kalau pergi ke daerah yang tak biasa dikunjungi juga bawa peta…bahkan satu peta Jakarta (sekarang ditambah Bandung) selalu tersedia di mobil. Maklum perubahan sangat cepat sekali.

  5. hingga sekarang, kalau ke jakarta sendirian masih bingung juga, bu, hiks. jangankan jalan tikus, jalan raya yang jelas-jelas aja seringkali masih bingung membedakan jalan A, B, atau C. Maklum, biasa hidup di kampung, jalan yang dilalui itu2 mlulu, hehehehe 😆

    Pak Sawali,
    Jalan di Jakarta memang membuat bingung pak, saya hapalnya juga cuma jalan besarnya saja…kecuali daerah dari rumah ke kantor, atau sekitar rumah saja. Jadi, kalau ada rencana pergi ke suatu tempat, lihat peta dulu, terus tanya teman yang biasa kesana, paling enak lewat mana, karena kadang kalau salah jalan bisa kesasar kemana-mana, puterannya bisa jauh sekali.

  6. Kalau ingat Jalan Pangeran Antasari jadi ingat zaman dulu. Kalau nggak salah dulu itu disebut jalan arteri. Jalan itu dulu enak sekali karena sebagai jalan alternatif dari jalan Fatmawati menuju dan dari Blok M, jalan tersebut relatif bebas macet.

    Tapi lihat sekarang! Kayaknya sih sama aja macetnya, malah mungkin terkadang lebih macet dari jalan Fatmawatinya sendiri….. hehehe……

    Kang Yari NK,
    Kayaknya jalan-jalan di Jakarta enak di lewati kalau lagi libur panjang, pada saat penghuninya kabur ke tempat wisata, atau ke Bandung, barulah rasanya nikmat melihat kota Jakarta, yang teduh, dan kendaraan tak ramai.

    Rumahku masuk ke jalan kecil, begitu keluar udah ramai banget….dan saya memang lebih suka pakai kendaraan umum kalau perginya jarak dekat, biar ga lelah….hehehe…tapi memang jarang keluar dari wilayah Jakarta Selatan…paling-paling ke arah Jakarta Pusat.

  7. Wah jadi takut ke Jakarta Nih…entar tersesat
    Salam

    Latip,
    Sebetulnya enggak kok, cuma kemana-mana macet saat jam tertentu.

  8. Bener kata Mas Sawali…jalan yang jelas jelas saja bingung apalagi jalan Tikus.

    John Etawa,
    Iya memang…..tapi kalau udah sehari-hari menjadi terbiasa.

  9. sosro

    Benar Bu Edratna, klau kita kluar rumah dngn bawa kendaraan, yang utama jalur/jalan yang akan kita lewati ke tujuan hars sdh ada dipikiran kita, termasuk alternatifnya. klau saya jabar,jateng,jatim sdh hafal jalannya, apalagi Bandung,jogya,smrng dan surabaya.klau jkt. jalan yang yang besar2 aja. Soalnya bekas sopir travel. Salam

    Sosro,
    Hallo Pri, apa kabar? Ngeblog dong…cerita pengalaman kerja di Pertamina, dan dipindah kemana-mana …pasti seru deh.

  10. mas Yari NK:
    iyah.. dulu disebut sebagai arteri. Tetapi masalahnya ada dua jalan yang disebut arteri, yang satu Cipete (tidak terkenal) dan yang satu lagi Kebayoran Lama (lebih terkenal). Akhirnya orang-orang di Cipete lebih suka menyebut dengan nama aslinya, “Antasari”.

  11. kang4roo

    KALO MAU BIKIN BLOG, JANGAN LUPA MASUK “Leoxa.com”
    (Themenya Keren Abiss & Bisa Pake Adsense)

  12. yang ketimpa macetnya sekarang warga kompleks kaya saya…. banyak orang lewat jalan pintas jadinya jalan2 di kompleks kami jadi sumpek, bising, dan berpolusi… walhasil portal pun dipasang di titik2 tertentu. sebaiknya jangan lewat jalan kompleks deh.. menganggu privasi warga.

    Junarto,
    Memang ada risikonya, kalau macet, kendaraan akan mencoba cari jalan kemana-mana. Saat awal tinggal di daerah Cipete tahun 83, wilayah Jakarta Selatan masih nyaman, perumahan Dikti (termasuk rumah dinas Dirjen Dikti) di jalan ke arah Tarogong, rasanya nyaman sekali, luas dan dipojokan jalan Fatmawati…sekarang tak terbayang bisingnya. Begitu pula jalan Cipete Raya, anak saya masih bisa berlarian di jalan…sekarang penuh rumah makan, salon, alfamart dsb nya. Kasihan pasar inpresnya, kalah bersaing.

    Jadi, kalau warga akhirnya memportal jalan, tak bisa sepenuhnya disalahkan, karena kalau jalan rusak, yang iuran untuk memperbaiki aspal adalah warganya, bukan dari pemerintah daerah.

  13. Sejak tahun 1994 akhir sudah tinggal di Tangerang tetapi sampai sekarang belum hafal jalanan ibukota. Yang saya tahu hanya jalan dari rumah ke kantor dan sebaliknya.

    Bang Kombor,
    Sayapun tahu dan hafal jalan tikus, hanya jalan dari rumah ke kantor atau ke daerah yang sering dikunjungi. Jakarta memang cepat berubah, jadi kalau lama tak melewati daerah tsb,sudah terjadi perubahan.

  14. enak lwat jalan tikus…. rame, seru, degdegan kalo nyasar… *halah* 😀

    Ghatel,
    Lewat jalan tikus lebih enak, kalau situasi lagi nggak macet, sambil melihat pemandangan sekeliling, mengamati bentuk bangunan rumah dikiri kanan jalan.

  15. haha, jalan tikus ya bu.. emang sih itu alternatif bagus banget.. tapi ya resiko, harus pinter nyetir ala
    supir angkot di jalan sempit, terus juga resiko kesasar, di Indo juga masih jarang pake GPS sih ya bu..

    Wil,
    GPS? hahaha…masih lama mungkin, betapa nyamannya menyopir pakai GPS…tapi katanya taksi BB udah pake GPS. Yang saya tahu, saat saya pergi ke Jerman, perjalanan dari Berlin ke Dresden menggunakan bis yang dilengkapi GPS ini…lengkap dengan petanya, dan penumpang bisa melihat arah jalan yang dituju, udah sampai mana…dan apakah didepan jalannya macet dsb nya. Di Jakarta malsih harus mengandalkan feeling…kalau biasanya macet cet…kok tiba-tiba sepi, kita harus waspada dan sebaiknya berganti arah…hehehe

  16. Cah Semarang bilang :
    menurut penelitian entah siapa *saya baca sekilas di intisari* semarang adalah kota besar di Indonesia yang penduduknya paling bahagia 😀
    I love my city

    Tomy
    ,
    Katanya kota Semarang itu yang paling cocok untuk digambarkan dalam pewayangan…ada jalan di kota bagian bawah yang ramai, ada wilayah di perbukitan….dinaungi awan.
    Saya termasuk cukup sering ke Semarang, sayangnya selalu diantar, jadi ya nggak hafal….

  17. Wah Bu.. 2 minggu lagi saya liburan kejakarta lho (hehe liburan kok ke jakarta :lol:).. mana hari kerja, mmm… saya harus buru2 cari peta nih.. ow ya postingan ibu yg laen yg sangat membantu liburan saya ini adalah informasi tentang liburan ibu ke kota tua dengan busway. 😉

    mau oleh2 dari Bali bu? hihihihihi

    Nana,
    Kalau hari kerja harus pastikan waktunya (waktu mulai kerja dan pulang kantor macet banget), dan jangan naik taksi selain Blue bird dan groupnya, kecuali ada teman cowok yang mendampingi. Sebenarnya Jakarta menarik untuk berlibur, bisa keliling naik busway (perhatikan terminal bisnya, agar kalau kesasar bisa balik lagi…pesan saya ke anak-anak saat kecil, kalau bingung cari bis ke arah terminal Blok M, ntar baru cari bajay kerumah…bisa dibayar di rumah). Jika suka museum, dari arah blok M ke Jakarta kota, melewati jalan Sudirman Thamrin dengan gedung pencakar langit di kiri kanan, nanti pas di kiri Monas ada museum nasional. Kalau terus saja sampai mentok (halte Jakarta Kota)…sebetulnya tinggal jalan lurus kira-kira 150 meter sudah ketemu museum Fatahilah, dan disebelah kirinya ada museum wayang. Didepan museum ada restoran, yang memajang foto-foto selebritis zaman dulu, di rumah tua…makanannya lumayan tapi mahal. Saya dulu pengin ke museum keramik, tapi waktunya ga sampai. Beli peta Jakarta saja, untuk memudahkan….selamat jalan-jalan.

    Oleh-oleh dari Bali? Tentu saja mau, tapi apa mungkin kita sempat ketemu ya…..

  18. 1/2 saja dari seluruh penduduk jakarta tidak berangkat ke kantor, maka sy rasa jakarta bakal terhindar dari macet terutama di jam2 sibuk

    nah pertanyaanya, kalau tidak ke kantor lalu kerja di mana ?……. ya di rumah masing2, dengan teknologi telekomunikasi yang canggih ini, beberapa posisi pekerjaan (akunting, writer, programmer, sysadmin bahkan sekretaris) bisa dikerjakan di rumah

    hanya pertanyaanya ?, maukah perush2 tsb menerapkan kebijakan spt ini ? atau maukah karyawan2 tsb menjalani telecommuting work ….

    kalau mau, kan tidak perlu susah payah menghapal jalan tikus, lagipula lewat jalan tikus pun tidak menjamin 100% terbebas dari kemacetan…….. terutama kalo jalan tikus tersebut mulai diketahui oleh orang2 😀

    Adit,
    Sayangnya tak semua pekerjaan dapat dilakukan dari rumah….

  19. Th.2001-2003, dr Depok ke Imigrasi Jakarta Pusat menghabiskan 45 menit dengan motor dan jalan tikus.

    Juliach,
    Sekarang ditempuh sekitar 1,5 sampai 2 jam…..kalau pas barengan jam masuk kantor.

  20. (hai… pembaca baru nih…) Huhu.. setuju2.. jalan tikus bisa menghindarkan dari kemacetan! Tp.. aku pendatang di jkt dan skrg ini baru tau dikit jalan tikus. Taunya paling cuma lewat jalan2 gede aja.. Hmm.. tips belajar jalan tikus dengan taxi or bajaj okeh juga tuh.. Tapi… ada masalah lagi… Sayah paling susah hapal jalan… Jalan2 gede di jkt aja mesti ditunjukin minimal 2 kali, truz aku mesti buat catatan untuk hapalin jalannya.

    Ada tips kah untuk bisa hapalin jalan secara cepat? Haha…

    Vi,
    Untuk menghafalkan jalan…pertama-tama beli peta Jakarta. Nanti perhatikan tempat-tempat tertentu, biasanya dari gedungnya, atau ada jembatan melengkungnya atau apanya….hal yang mmbuat berbeda dari tempat lainnya.
    Awalnya sih saya juga sering kesasar, tapi lama kelamaan hafal juga.

  21. Ping-balik: Waspada,,,MACET merubah kita menjadi ‘TIKUS’ !!! « jP's BeLOG's

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s