Oleh: edratna | Mei 5, 2008

Kesibukan Senin Pagi setelah akhir pekan.

Gara-gara jarak yang terbentang antara Jakarta-Bandung dapat ditempuh selama 2 (dua) jam, maka bepergian dari Jakarta ke Bandung terasa seperti pergi ke Bekasi tahun 80 an. Pada tahun 1984 saya pernah mendapat tugas ke Purwakarta, jarak antara Jakarta-Purwakarta ditempuh dalam waktu 5 (lima) jam, melalui pintu kereta api (pintu tek-tek, istilah saat saya masih kecil) beberapa kali. Jadi saat itu setelah tugas selesai, dari Purwakarta jam 7 (tujuh) malam, baru sampai di Jakarta jam 1 (satu) malam.

Kondisi saat ini berbeda, jarak Bekasi dari rumah saya bisa ditempuh dalam waktu nggak sampai 10 menit, jika berangkat sebelum jam 6 pagi. Hari Jumat, tumben si bungsu datang dari Bandung masih siang, sempat mengajari ibu untuk buat bahan presentasi, tahu-tahu jam 5 sore dia bilang…”Bu, aku mau balik ke Bandung, ada yang ketinggalan di lab. Mas kan hari Sabtu mau ke Bandung sama teman-temannya, kalau saya tak sempat balik ke Jakarta, laptop ku titip mas aja ya.” Saya agak kawatir karena hari Jumat sore travel agak sulit, tapi si bungsu meyakinkan, kalau nggak dapat travel, akan ke Bandung pagi-pagi sekali. Ternyata dia dapat travel untuk berangkat malam itu…dan besoknya saat ditanya, laptop mau dititipkan ke mas nggak, jawabannya dia udah mau jalan lagi ke Jakarta. Benar-benar deh, padahal dia agak kurang sehat, pilek dan batuk, tapi tetap nekat ke Jakarta.

Sabtu siang, anak sulung dan teman-temannya berangkat ke Bandung jam 11 siang, karena hari Minggu ada acara kopdar dengan “Ajangkita”. Saya dan suami tak keberatan menerima rombongan menginap, asal mau sederhana, kalau cuma untuk tidur dan makan secara sederhana rumah kami di Bandung memang terbiasa menerima tamu temannya anak-anak, teman keponakan dsb nya. Si mbak di Bandung juga sudah terbiasa melayani tamu, paling tidak menyediakan masakan sederhana. Begitulah akhir pekan ini, si bungsu ke Jakarta dan si sulung ke Bandung.

Karena si bungsu baru datang lagi ke Jakarta hari Sabtu sore, maka dia berniat pulang ke Bandung Senin pagi. Dari awal saya sudah sibuk mengingatkan agar segera pesan travel….tapi dasar anak-anak, jawabnya…”ntar…ntar…” dan saat pesan, keberangkatan jam 6.30 pagi sudah penuh, terpaksa dia ambil jam 5.30 pagi karena langsung ke lab tanpa pulang dulu ke rumah di Bandung. Jadi Minggu malam saya menunggu si sulung, agak kawatir juga karena dia baru berangkat jam 7 malam dari Bandung bersama teman-temannya, walaupun sebenarnya tak perlu kawatir karena ada temannya yang bisa menggantikan memegang setir mobil. Ternyata si sulung baru sampai Jakarta jam 1.30 dini hari, karena harus mengantar teman-temannya dulu ke rumah masing-masing. Dan jam 4.15 wib alarm jam saya sudah berbunyi, untuk membangunkan si bungsu karena dia harus sudah siap jam 5 pagi, agar tak terburu-buru.

Mempunyai anak yang sudah dewasa, kesibukannya memang lain, walaupun mereka telah mandiri, ternyata perasaan seorang ibu masih sama, merasa kawatir kalau anak-anak belum pulang, Dan kadangkala si anak belum tentu merasakan kekawatiran orangtuanya, kadang mereka lupa memberitahu jika sudah sampai di tempat tujuan dengan selamat. Saya jadi teringat alm ayah dan ibu, mungkin seperti inilah perasaan beliau dulu, jika anak-anaknya belum sampai ke rumah. Dulu, kami bertiga (saya dan adik-adik), tak berani mengabarkan kalau mau pulang ke Jawa Timur, karena ayah ibu bisa tak tidur semalaman, membayangkan perjalanan anaknya udah sampai dimana…dan hal ini bisa berakibat kesehatan terganggu, apalagi saat itu belum ada telepon seluler.

Iklan

Responses

  1. Ah, ibu..saya bakal punya perasaan seperti ini juga ya dg anak nantinya?
    Tapi, skrg saja dgn suami yg diperjalanan dinas, adik yg bepergian dg teman, papa yg ttp bekerja meski dlm tahap pemulihan dr RS, saya juga dah was-was terus kalo mereka telat (cape sendiri mikirnya)

    Dilla
    ,
    Saya dulu diingatkan ibu temanku, kalau anak udah keluar rumah, harus percaya sama Tuhan, karena kita tak bisa mengikuti terus. Kenyataannya tetap ada rasa kawatir, dan suamipun begitu…pas jam 11 malam dia sms menanyakan anaknya sudah sampai Jakarta apa belum. Syukurlah sulungku sebelumnya sms, minta maaf kalau terlambat karena jalanan padat dan hujan, jadi jalannya pelan-pelan, dan harus mengantarkan teman-temannya dulu.
    Dilla nanti juga akan seperti itu, cuma kadarnya mungkin berbeda, ada orang yang santai, namun ada juga seperti saya.

  2. emang anak-anak sekarang kelakuannya kayak gitu bu **ngeles dot com** 😀

    Iway,
    Bukan anaknya, ibunya aja yang terlalu kawatir…saya yakin ibunya Iway juga akan begitu.

  3. wah, saya selau merindukan tulisan ibu tentang suasana keakraban yang berada di dalam keluarga ibu di mana di situ anak2 dan temen2nya bisa bergaul secara akrab dan ramah; tidak ada diskriminasi. tulisan yang inspiratif untuk bisa dijadikan sbg panduan dalam membangun sebuah keluarga yang harmonis, terima kasih, bu.

    Pak Sawali
    ,
    Saya yakin keluarga bapak juga akan begitu. Kuncinya harus mau saling memafkan pak, karena dalam perjalanan kadang kita melakukan kesalahan, entah anak, entah orangtua.

  4. aahhh…dasar si pektong dan si pepen.
    anak muda jaman sekarang…ck..ck..ck…

    Poppy,
    Hehehe…keponakanmu…

  5. *surga itu di telapak di kaki seorang ibu*
    dan ibu telah menyampaikannya dengan indah.
    btw, soal tidak ngabari ke rumah kalo mo pulang 100% sama dengan alasan saya. tidak ingin menambah kekawatiran orang tua.

    Nindityo
    ,
    Saya selalu ingat film seri “Oshin” pada tahun 80 an….Saat ditanya, mengapa Oshin selalu baik hati, jawabnya..”Cobalah untuk memahami orang lain, bagaimana perasaan kita jika berada disisinya.” Karena itu Oshin sangat memahami ibu mertuanya, mengapa ibu mertua cara memberikan kasih sayang dengan cara berbeda…kalau tak bisa dikatakan buruk. Kalau kita selalu melihat dan menempatkan diri pada orang lain, saat mau bertindak, paling tidak kita tak memikirkan diri sendiri. Hanya dengan begitu kita bisa memahami orang lain


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: