Oleh: edratna | Mei 15, 2008

Selamat jalan Lena

Hari ini saya melawat ke rumah Lena dan mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir bersama teman-teman. Akhirnya Lena terpaksa menyerah setelah berjuang melawan kanker payudara sejak tahun 2005. Saya masih ingat di penghujung tahun 2005, Lena masuk ke ruanganku dengan wajah pucat pasi, saya merasa tak nyaman dan mulai membatin, ada apa gerangan. Dengan terputus-putus, Lena menceritakan bahwa ada benjolan di payudaranya.

Saat itu saya spontan menyarankan untuk segera ke dokter, siapa tahu kalau masih dini, bisa di operasi dan bisa menyelamatkan nyawanya. Lena hanya berkata pelan..”Baiklah mbak, akan saya pikirkan bersama suami.” Lena adalah senior instruktur di Divisi Pendidikan dan Pelatihan, saya mengenalnya sejak pertama kalinya dia ditempatkan di Divisi Bisnis Komersial kira-kira 24 tahun yang lalu, dan saya banyak berhubungan dengan Lena untuk pekerjaan se hari-hari. Hubungan tersebut makin dekat, saat dia menjadi asisten manager di Departemen Industri. Tak lama kemudian Lena dipindahkan ke Divisi Diklat, dan pada 2 (dua) tahun terakhir sebelum saya pensiun, saya memimpin Divisi Diklat dan Lena adalah salah satu instrukturnya.

Lama Lena tak datang ke ruanganku, tapi saya masih sering ketemu di loby dan di ruang rapat, saya menghargai keputusannya dan tak berani ikut campur tangan. Suatu ketika, Lena mengatakan bahwa dia akan melakukan pengobatan secara holistik, dan mohon doa nya. Saya mengatakan..”Jangan dipaksakan ya, kalau badan tak kuat, nggak perlu masuk bekerja, yang penting istirahat cukup…dan silahkan jika sewaktu-waktu harus menjalani pengobatan. Cukup saya di sms saja, surat pemberitahuan tertulis dapat menyusul belakangan.” Sayapun meminta teman instruktur lain membuat back up, tapi Lena tetap dilibatkan agar tak terlalu merasakan sakitnya, dan tetap dapat berkarya sesuai dengan kekuatannya.

Setelah pensiun, dan menjadi pengajar profesional di suatu Lembaga pendidikan, pada saat itu saya mendengar Lena dirawat di RSPAD, tangannya bengkak. Akhirnya teman-temannya dapat membujuknya untuk mencoba pengobatan ke negara China, dan jika Lena mau, teman-teman akan memintakan izin pada Direksi agar dapat dibiayai perusahaan. Akhirnya Lena ditemani suami berangkat ke China. Lama tak mendengar kabarnya, hanya diberitahu sepulangnya dari China, kondisinya membaik. Namun seminggu yang lalu, saya mendapat sms, bahwa Lena kembali di rawat di RS Gading Indah, Kelapa Gading, karena kondisinya kritis dan kanker telah mencapai otak. Sepulang kantor bersama teman, saya menengok ke RS Gading Indah, yang sayangnya tak bisa masuk ruangan ICU karena bukan jam besuk. Saya hanya ketemu suaminya, dan hanya mengobrol serta mendoakan yang terbaik bagi Lena.

Kemarin siang saya mendapat sms, bahwa Lena telah meninggalkan kami semua. Selamat jalan Lena, semoga amal baikmu diterima oleh Allah swt. Tak usah berat memikirkan anak-anak karena Allah swt akan menjaganya menjadi anak yang tetap sholeh. Ya, Lena meninggalkan suami dan kedua putranya, yang besar mahasiwa dan yang bungsu kelas 2 SMA.

Iklan

Responses

  1. mungkin lbh baik teman ibu memang brada di sana, ga ngrasa kesakitan lagi.

    turut berduka cita

    Gita,
    Itu memang yang terbaik buat Lena, kasihan udah bolak balik ke Rumah sakit, juga kedua putranya selama beberapa tahun ini menjadi sedih melihat mamanya menderita. Semoga Lena berbahagia di sana.

  2. mendengar kata kanker rasanya menakutkan. tapi itu kalo kita ga mengenalnya sama sekali. mencari tau segala informasi tentang pencegahan dini sangat penting.

    turut berduka bu… saya setuju ini jalan terbaik yang Tuhan kasih.

    Biyung Nana,
    Kadang kanker baru terasa pada saat sudah stadium berat…..awalnya tak terasa…

  3. Turut berduka Bu, yang terbaik adalah keputusan dariNya dan dalam tiap musibah selalu ada hikmah baik bagi ybs, keluarga dekat maupun orang-orang disekitar. InsyaAllah tulisan Ibu menjadi pembelajaran tentang pentingnya pemeriksaan secara teratur untuk mendeteksi gejala-gejala penyakit terutama penyakit-penyakit yang berbahaya dan bisa menyebabkan penurunan kualitas hidup atau malah berpotensi menyebabkan kematian–terutama bagi kaum perempuan.

    ##

    Mudah-mudahan keluarga yang ditinggal tabah dan Ibu Lena beroleh tempat yang terbaik disisiNYa. Amien.

    Yoga,
    Pemeriksaan teratur memang diperlukan…namun dikala sibuk orang suka lupa memperhatikan kesehatan.

  4. Saya mempunyai beberapa teman dan saudara yang menderita kanker payudara. Dua orang meninggal, dua orang survive. Dua orang yang survive ini, dengan berani segera memutuskan untuk melakukan operasi (kedua payudara dibuang sama sekali meskipun kaker baru sebesar kedelai). Dua-duanya sedang menempuh studi S3, dan tetap melanjutkan studi mereka meskipun dalam kondisi sakit. Salah satu hampir menjalani ujian terbuka. Saya benar-benar kagum pada ketegaran, keteguhan dan keberanian sahabat-sahabat saya ini.

    Dua saudara saya yang berpulang, mereka menolak operasi, dan memilih pengobatan-pengobatan alternatif. Keputusan untuk membuang payudara memang sangat berat, apalagi bagi wanita yang masih muda. Kalaupun akhirnya dilakukan, biasanya sesudah ragu-ragu cukup lama, sehingga banyak waktu terbuang, kanker sudah terlanjur menyebar dan operasi tidak banyak manfaatnya lagi.

    Saya ikut mendoakan, semoga teman Mbak Enny mendapat tempat yang terbaik disisiNya.

    Tuti Nonka,
    Mudah2an itu memang jalan terbaik, karena menderita sekali, berkali-kali keluar masuk rumah sakit.

  5. Jadi ingat kisah sahabat yg ditinggal ibunya krn kanker payudara. Waktu itu dia br kls 2 SD,dan adiknya br 3 tahun.. Sedih ingat kisah sesudahnya, krn sang ayah tdk kuat u merawat kduanya. Dititip dari saudara ke saudara, dimasukkan ke pesantren, kabur, dititip ke nenek.. 😦

    saya salut pd akhirnya dia bs sukses. Hidup dan Sekolah dgn beasiswa. Memimpin salah 1 perusahaan dr nol yg berkantor d wisma dharmala sakti di usia 25

    Dilla,
    Kita tak pernah tahu kehendak Allah swt, tapi pasti ada tujuannya….

  6. innalillahi wainna ilaihirojiun

    Zoel,
    Iya, semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat kekuatan dan ketabahan….

  7. turut berduka cita… semoga diterima amal ibadahnya 🙂

    Dobelden,
    Iya, dan semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat kekuatan dan ketabahan.

  8. kita semua pasti akan pergi juga. tapi, tidak semua dituliskan obituarinya oleh rekannya seperti kepergian ibu lena.

    tentunya ini sangat berarti buat kawan-kawan dan keluarga almarhumah.

    Robert Manurung,
    Kita semua akan pergi, dan tak tahu dengan cara apa. Di sisa waktu kita, marilah kita berbuat kebaikan, agar memudahkan nantinya dalam perjalanan selanjutnya.

  9. Turut berduka cita yaa bu 😦

    Iko,
    Makasih…..

  10. semoga mendapat tempat yang terbaik di sisiNYA
    amin

    realylife,
    Amien…

  11. ibu, aku sedih, jadi menitikan air mata ingat temanku jugaa… seumur, meninggal setahun yg lalu akibat tbc usus yah… itulah hidup, kematian, kelahiran, suka dan duka datang silih berganti…
    bu Lena sudah menyelesaikan tugasnya… semoga tenang di sisiNya…

    Ruth,
    Kita semua akan meninggalkan dunia yang fana ini, cuma tak tahu kapan dan dengan cara bagaimana. Mudah2an teman-teman yang udah duluan meninggalkan kita, dibukakan pintu sorga untuknya. Amien.

  12. Terimakasih sharingnya bu, mengingatkan kita lagi kepada maut.

    Memang susah zaman sekarang ini mau hidup sehat, terlalu banyak racun di sekitar kita. Makan sayur saja juga masih tetap bisa kemasukan carcinogen.

    http://harry.sufehmi.com/archives/2008-05-03-1640/

    Sebagai laki-laki saya sudah menyaksikan sendiri beberapa anggota keluarga menderita dari kanker prostat. Kasihan sekali.
    Kuncinya memang hidup sehat, tapi ini tidak mudah jika terlalu banyak racun di sekitar kita.

    Sufehmi,
    Memang semakin banyak racun di sekitar kita, jadi kita harus menjaga kesehatan. Dan ini sulit karena hari-hari kita banyak di luar, jajan di luar yang kadang tak terjamin kebersihannya. Kadang kanker juga sulit dideteksi, saat ketahuan seringnya udah pada stadium menengah-lanjut, yang sulit disembuhkan, namun kita harus tetap percaya pada Nya, karena kalau bukan takdir, kadang ada juga pasien yang sudah stadium lanjut masih dapat disembuhkan.

  13. hallo ibu edratna?
    salam kenal. nyasar ke blog ini dari biyung nana. karena tidak mungkin membaca semua, saya memilih satu tulisan ini karena judulnya. firasat saya benar…hmm…saya juga mengenal orang yang mempunyai pengalaman yang sama. dan saya belajar banyak darinya. ada di blog saya. kanker memang kejam ya?
    i will visit more your blog…:)) sampai nanti, ibu…

    Metta,
    Salam kenal. makasih kunjungannya. Iya biyung Nana lagi di Jakarta, sayang acaraku padat sekali, jadi sulit ketemu. Mungkin lain kali.

  14. tante, saya kehilangan bibi (adik kandung bapak) saya karena kanker otak. Sempat dibedah namun takdir berbicara lain, ia pun dipanngil keharibaanNya. Ketika itu 16 tahun yg lalu dunia kedokteran indo belum secanggih sekarang. Kemudian setahun kemudian kakak perempuan saya meninggal kan kami untuk selama2nya, akibat gagal ginjal.

    11 tahun yang lalu ibu saya terkena tumor, semenjak dini ia periksakan penyakitnya ke dokter, dan ayah serta kami sebagai anak sangat mendukung beliau agar segera dioperasi, dan alhamdulillah beliau sehat sampai sekarang.

    Intinya jika ada sesuatu yang ganjil dari diri kita kenali sejak dini dan segera periksakan ke dokter mudah2an belum terlambat sehingga bisa dilakukan tindakan segera.

    Resi Bismo,
    Betul, dua temanku sebetulnya telah diketahui sejak dini, tapi keduanya ingin pakai cara alternatif…dan keduanya memang akhirnya tak tertolong. Yahh walaupun berpendidikan dan sadar, serta punya kakak kandung seorang dokter, tak membuat seseorang berani menghadapi kata “operasi”. Apapun, saya menghormati pilihannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: