Efisiensi, merupakan program jangka pendek untuk mengatasi inflasi.

“Bu, minggu depan temani saya ke lokasi usaha ya,” kata temanku. “Boleh mas, asal saya disamperin, lagipula rumahku kan dekat jalan tol ke arah Bogor, jadi sekalian jalan,” jawab saya menyambut ajakan temanku. Ya, kondisi akhir-akhir ini semakin memusingkan kepala. Uang ibarat air mengalir, berapapun uang yang ada, terasa tak berarti apa-apa.”Bagaimana mas, kondisi usahamu, apakah masih untung?” tanya saya lagi. “Itulah bu, saya justru ingin mengajak kesana, untuk membantu diskusi, mencari jalan keluarnya, jawab temanku lagi.

Saat ini, memang di semua bidang usaha mengalami kesulitan yang berarti. Banyak pelanggan menunda untuk membeli produk/jasa, karena satu-satunya yang ada dipikiran untuk menyiasati situasi sekarang ini adalah dengan efisiensi. Ya, kalau kita mau melakukan marketing, maka hasilnya masih memerlukan waktu, bisa sebulan dua bulan ke depan, namun dengan efisiensi, maka hasilnya akan terlihat langsung secara nyata. Namun efisiensi ini bisa menjadi bumerang, karena efisiensi yang terlalu ketat, juga akan mengendorkan perasaan para karyawan, karena mereka dipaksa untuk efisien di segala bidang.

Agar para karyawan memahami kondisi riil perusahaan, manajemen perlu sering turun kebawah, melakukan komunikasi dengan para karyawan, agar mereka mendukung program efisiensi ini, karena taruhannya sangat berat. Perusahaan yang tak bisa mengatasi krisis, ada risiko ditutup. Oleh karena itu perlu dipahami oleh semua pihak, bahwa persoalan yang ada di depan mata harus diantisipasi bersama, baik karyawan maupun manajemen harus bersatu padu, merancang pogram efisiensi, menunda investasi yang tak prioritas, serta tetap menggalakkan pelayanan, agar pelanggan tetap membeli produk/jasa perusahaan.

Dari media telah disampaikan, bahwa perusahaan padat karya, yang akan terkena imbas paling berat. Perusahaan yang dipimpin temanku tadi adalah perusahaan yang telah berjalan belasan tahun, dan selama ini telah memperoleh laba. Dan sebagaimana perusahaan yang telah berjalan lama, 80 persen dari tenaga kerjanya adalah pekerja tetap, sehingga apapun harus dilakukan untuk menyelamatkan usaha tadi. Tenaga kerja tadi sebagian besar juga merupakan penduduk yang tinggal di sekitar perusahaan yang dipimpin temanku tadi berada. Di satu sisi hal ini merupakan keuntungan, karena pekerja merasa memiliki perusahaan, karena lokasi dekat dan telah diangkat sebagai pekerja tetap. Namun di sisi lain, sebagaimana layaknya pekerja lain, mereka juga suka menuntut kenaikan gaji, padahal kondisi perusahaan saat ini sangat sulit. Banyak pelanggan membatalkan pesanan, karena mereka lebih baik menunda melakukan kegiatan untuk tahun depan, yang diharapkan situasi lebih baik.

Memang kondisi saat ini, membuat semua lini harus berpikir untuk melakukan efisiensi, dan menunda melakukan hal yang bukan prioritas. Harga yang semakin membubung tinggi, membuat harga pokok yang dulunya hanya berkisar di angka 57 persen, meningkat menjadi 70 persen. Padahal belum biaya pegawai, biaya administrasi dan operasional lainnya. Dengan kondisi seperti ini maka efisiensi merupakan jalan satu-satunya untuk penyelamatan jangka pendek, dan secara paralel melakukan marketing serta meningkatkan pelayanan. Semoga perusahaan yang dipimpin temanku tadi bisa mengatasi kesulitannya.

Iklan

18 pemikiran pada “Efisiensi, merupakan program jangka pendek untuk mengatasi inflasi.

  1. Banyak banget karyawan tetapnya? Padahal perusahaan sekarang ini lebih suka punya karyawan kontrak.

    Edipsw,
    Memang kayaknya terjadi kesalahan dalam penempatan pegawai. Dibanding perusahaan sejenis, seharusnya pegawai tetapnya tak sebanyak itu. Namun ini harus diatasi, dan diupayakan tak mengurangi pegawai, oleh karena itu dalam jangka pendek harus melakukan efisiensi, disamping perbaikan di bidang lainnya.

  2. wah ini solusi dari kenaikan harga2

    Hanggadamai,
    Solusi jangak pendek, agar tak terjadi bleeding…namun secara paralel harus dilakukan perbaikan di bidang lainnya, meningkatkan marketing, mencari celah pasar yang masih bisa dimasuki, agar perusahaan bisa mengatasi krisis.

  3. hehehe…
    ternyata emang lagi pada berat yah?
    memang perlu efisiensi dimana2. tapi seperti ibu bilang, perlu pintar2. apa lagi seperti saya yang bergerak di bisnis kreatif, yang meskipun tidak padat karya tapi core businessnya memang pada SDM.

    saya terus terang lebih senang untuk lebih agresif memang daripada efisien. meskipun resikonya sebagai seorang marketer saya harus jungkir balik.

    but, saya fikir dalam kondisi seperti ini kita harus optimis. atau malah harus optimis.
    seperti judul tema majalah business week minggu ini. ketika CEO Google diwawancarai tentang beratnya kondisi business di Amerika, sang CEO cuma bilang
    ” justru, dalam kondisi yang serba terbatas inilah kreatifitas seharusnya tumbuh dan berkembang”
    ucapan ini sangat inspiring buat saya. saya jadi ingat perjalanan yang saya jalani selama ini. yap. saya harus optimis, dan yakin akan lahir ide2 segar. kondisi sulit ini bukan alasan untuk tidak profit 🙂

    Edo,
    Sektor riil memang berat terutama yang padat karya. Hal ini jika berlarut-larut akan membuat pengusaha menghindari padat karya, selain biaya tetapnya tinggi, juga mudah sekali terjadi demonstrasi yang mengganggu kontinuitas usaha….yang kemudian juga membuat perusahaan semakin menurun. Yang sulit adalah mendiskusikan dengan para karyawan tentang kesulitan perusahaan, tanpa ada unsur pihak ketiga…dengan diskusi dan saling memahami, tentunya masih banyak hal yang dapat dilakukan.

    Efisiensi hanya solusi jangka pendek, secara paralel, karyawan harus tetap meningkatkan kualitas produk/jasa, serta bagaimana perusahaan meningkatkan pemasaran di bidang yang segmennya tak terlalu terpengaruh pada perubahan suku bunga/harga.

  4. setuju bu
    yukkk mulai berhemat demi masa depan

    Realylife,
    Kita memang dipaksa melakukan penghematan di segala bidang….baik secara perorangan, organisasi, perusahaan dll.

  5. Saya belum akrab bu dengan yang namanya prioritas.
    Tapi semoga aja yang lain tidak..

    Petak,
    Memang kita harus mulai memahami apa yang disebut prioritas….sehingga inilah yang diutamakan. Seperti keuangan rumah tangga, pada masa sulit, prioritas yang tak dapat diganggu adalah pendidikan untuk anak, biaya rumah tangga harus ditekan…kalau dulu ada jajan keluar, sekarang dikurangi. Juga rekreasi…dulu banyak beli buku, sekarang karena udah terlanjur langganan internet, ya baca aja di internet.

  6. aminhers

    [Memang kondisi saat ini, membuat semua lini harus berpikir untuk melakukan efisiensi, dan menunda melakukan hal yang bukan prioritas…]

    sangat setuju !
    kita mulai dari diri kita, keluarga ,…..

    Aminhers,
    Yup…dimulai dari keluarga…matikan listrik jika tak perlu, juga matikan TV jika tak ditonton. Usahakan makan di rumah, lebih sehat dan tak menggunakan vetsin…Banyak hal bisa dilakukan, bukankah dulu saat nggak punya apa-apa kita juga bisa melakukan hal tsb?

  7. sepakat efisiensi. tapi ya kalau efisiensi terlalu ketat apa gak menggangu produktifitas, bu?

    saya gak trll paham manajemen

    Rezco,
    Efisiensi tentunya bukan untuk hal prioritas. Misalnya untuk perusahaan, harus dilihat lagi manajemen stoknya….perlu dicari pembanding untuk mendapatkan harga bahan baku yang lebih bersaing. Dan efisiensi adalah solusi jangka pendek, secara paralel juga mesti diperbaiki bidang lainnya, melakukan pemasaran pada segmen yang tak sensitif terhadap kenaikan harga, meningkatkan kualitas produk agar mendapat margin lebih besar dan biaya overhead lebih rendah dsb nya.

    Bahkan untuk biaya rumah tangga banyak yang bisa diirit, seperti: menonton hanya sebulan sekali ke bioskop, karena akan menambah biaya lain, seperti biaya makan di luar, beli baju dll.

  8. kondisi ekonomi memang lagi mengalami kemerosotan tajam, perusahaan dituntut survive sedangkan karyawan dibuat terkaget-kaget dengan harga kebutuhan yang melambung.

    wah.. saya yang karyawan biasa, juga ketir-ketir PHK masal, tapi apa boleh buat, live must go on

    Peyek,
    Justru kesadaran manajemen perusahaan untuk memperbaiki dan antisipasi dini diperlukan, agar bisa menghindari PHK, karena untuk PHK perusahaan juga harus mengeluarkan biaya yang besar sekali.

  9. sepakat bu… efisiensi yang terbaik dulu 🙂

    Arul,
    Betul…yuk kita lakukan efisiensi..mulai dari diri sendiri, kemudian lingkungan kecil kita.

  10. Ooooaaaalah…kirain Perusahaannya sendiri Bu…Bu.
    Hiks…jangan2 yang punya SAHAM neh.

    Efisien guna KESEJAHTERAAN Karyawannya. Bagus banget…mo jadi karyawannya ah..

    Nyodhorin Lamaran….

    Santri Gundul,
    Tanggung jawab pengusaha berat, karena tak hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga memikirkan kelanjutan hidup karyawannya, yang merupakan gantungan hidup keluarganya. Oleh karena itu, diskusi antara pemilik, manajemen dan karyawan sangat perlu, sehingga masing-masing memahami kesulitan, dan jika nantinya telah ditetapkan kebijakan…semua akan melaksanakan dengan senang hati, karena hanya itulah jalan keluar jangka pendek saat ini.

  11. sepakat, bu…
    hmm, efisiens dan efektif juga kali ya..biar komplit :mrgreen:

    Wennyaulia,
    Ya betul…efisien dan efektif.
    Efisien ini tak boleh diartikan mengirit ya….karena tetap yang prioritas dijalankan. Sebetulnya saya pribadi lebih suka jungkir balik menambah pendapatan, daripada memotong pos-pos pengeluaran yang sebetulnya juga penting.

  12. Kasus makronya mungkin mirip dengan negara kita (secara makro) ya, bu.

    Andaikan misalnya rakyat bisa menghemat penggunaan BBM dengan signifikan maka mungkin kenaikan harga BBM dapat dihindari. Pasalnya, sebagian besar (hampir 80%) penggunaan BBM dikonsumsi oleh orang2 mampu yang “tidak bisa atau tidak terbiasa” dengan penghematan energi, sedangkan rakyat miskin yang memang sudah mengalami “krisis” energi sejak dulu ya tidak berpengaruh apa2. Apanya yang mau dihemat lagi, wong dari dulu juga udah “krisis” kok. Dengan begitu, subsidi kalau dipikir2 sebenarnya memang yang jauh lebih banyak menikmati adalah mereka yang kaya2. Uang “dihambur2kan” untuk mensubsidi kerakusan konsumsi BBM untuk orang2 kaya. Pengeluaran negara jadi kurang efisien…. (apalagi keefektifannya).

    Tapi masalahnya juga nggak sesederhana itu, sebenarnya ceritanya masih panjang kalau dituliskan di sini kayaknya capeeek deh… hehehe…

    Ok.. kita kembali ke masalah mikro saja, sebenarnya efisiensi bisa dimulai pada saat sebelum masa krisis, hanya saja kita sebagai manusia sangat wajar untuk CENDERUNG tidak melakukan efisiensi pada saat perekonomian makro dan mikro membaik. Semakin baik perekonomian semakin banyak dikeluarkan biaya2 yang bersifat konsumptif yang tidak berhubungan dengan biaya produksi ataupun biaya penjualan. Akibatnya manakala “hujan turun” kita tidak punya payung atau payung yang tersedia sudah tak layak pakai…….

    Kang Yari NK,
    Memang sulit mengurus ekonomi keluarga…mengurus ekonomi keluarga saja, tanpa kerjasama yang baik antara suami isteri juga akan kedodoran. Banyak sekali yang saat muda, menjadi pejabat hidup mewah, saat tuanya kesulitan…karena kita terbiasa tidak hidup ekonomis, dan berpikir jangka panjang….jadi sebenarnya, betapapun sulitnya hidup, kita tetap harus kreatif mencari jalan keluar. Dan saat ekonomi agak membaik, cadangan sebagai cussion (bantalan) tetap harus disiapkan.
    Setelah banyak membantu dalam sektor riil, ternyata memonitor dan memotivasi pegawai merupakan hal yang sangat sulit…kita tak terbiasa disiplin, dan hanya baik jika ada atasan yang melihat.

  13. Betul… saya setuju…
    Effisiensi harus yang pertama sebelum… berusaha mencari “pemasukkan tambahan”… Hanya sepertinya kata-kata ini (yang sering dikenal dengan penghematan) sangat asing… untuk orang Indonesia… ditambah dengan banyaknya ajakan (iklan-iklan) untuk selalu mengikuti “tren” terbaru….

    *heh mudah-mudahan segera sadar dan jadi bagian dari budaya Indonesia ya….

    Kenalan ya bu…
    saya ada di http://maaini.wordpress.com

    Yanti
    ,
    Mengubah kebiasaan masyarakat memang sulit, kecuali bisa menunjukkan contohnya. Jadi lebih baik kita fokus pada keluarga inti kita dulu, menyiapkan payung untuk anak-anak, mengajarkan mereka hidup hemat, bermoral dan beretika baik. Dan hanya membeli sesuatu yang memang diperlukan, tidak terpengaruh oleh iklan….

  14. Wah ini nyambung dengan uneg-uneg di kepala saya beberapa hari ini, ini tentang nasib masyarakat kecil yang paling merasakan imbas kenaikan harga BBM. Sudah terbayang di mata saya orang-orang kecil yang kemungkinan besar akan kehilangan mata pencahariannya. Terbayang pula, kepala yang tidak jernih dan hati yang susah adalah santapan setan yang membisikkan jalan-jalan pintas yang berujung ke neraka atau setidaknya bui di dunia ini. Saya puyeng Bu mikirin ini.

    Yoga,
    Sama-sama deh puyengnya…..hehehe…
    Tapi mesti berpikir positif, bagaimana bisa mendapatkan tambahan penghasilan, plus secara paralel melakukan efisiensi.

  15. choky pramuditya

    beberapa hari ini saya berfikir u buka usaha, modalnya dari kredit. mhn bantuannya, apa saja yang perlu saya siapkan. bgmn menentukan tempat usaha itu strategis atau tidak, and bgmn memilih karyawan ? trimakasih atas bantuannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s