Kencangkan atau longgarkan ikat pinggang?

BBM akhirnya beneran mulai naik tengah malam kemarin, setelah rencana berita kenaikannya sudah lama terdengar. Sebagai warganegara yang baik, kita harus mendukung keputusan pemerintah. Bukankah dulu saat belum punya mobil, kita juga jarang keluar rumah, piknik ke daerah hiburan pun belum tentu sebulan sekali. Dan kita masih bisa naik angkutan umum, naik bis, angkot, bajay atau taksi (bagi yang keuangannya cukup longgar). Membaca postingan anakku, saya juga ingin memberikan sedikit tambahan pemikiran.

Apakah kita perlu mengencangkan ikat pinggang?

Jawabannya ya, untuk kondisi dan situasi tertentu. Kondisi tertentu itu seperti apa? Misalkan, membeli kebutuhan sekunder, mengurangi wisata (yang dulu seminggu sekali sekarang cukup 3 minggu sekali atau sebulan sekali), jika mau keluar rumah rencanakan dengan matang sehingga selain waktunya efisien, juga penggunaan premium tidak boros. Saya jadi ingat sekitar tahun 80 an, saat itu di kantor ada penawaran pemberian kredit dengan bunga murah untuk membeli sepeda motor, bagi karyawan yang telah bekerja minimal 3 tahun. Ternyata sebagian besar tak mau mengambil kredit motor tersebut dan lebih memilih naik kendaraan umum ke kantor. Saat itu, kendaraan umum di Jakarta, sebagian besar di dominan oleh bis PPD. Bisnya bersih dan terawat, walaupun kalau pergi dan pulang kantor sering tak dapat tempat duduk, tak menjadi masalah karena rata-rata penumpang adalah para pekerja dan mahasiswa/i yang bersih dan wangi. Bahkan banyak yang mendapatkan jodoh disini, karena kita menjadi hafal siapa-siapa penumpang yang naik dari terminal S dan kemudian turun di halte tertentu. Saya lupa tepatnya, sejak kapan bis PPD berkurang, dan malah Jakarta dipenuhi angkot, yang jelas saat anak-anak saya SMA, yang sekolahnya lumayan jauh dari rumah, mereka menggunakan angkot untuk pergi dan pulang sekolah. Walau saat itu anak sulungku sudah bisa mengendarai sepeda motor dan sudah dibelikan, namun kami sebagai orangtua, tetap mewajibkan naik kendaraan umum, agar anak kami dapat mengerti kesulitan orang lain. Setelah mahasiswa, baru si sulung boleh menggunakan sepeda motor ke kampus. Si bungsu sampai saat ini masih menikmati naik angkot, walau sudah lulus kuliah dan meneruskan S2, dia merasa nyaman naik angkot, dan pernah posting tulisan tentang posisi duduk pada angkot. Katanya pernah dia duduk disamping pak sopir, dan mengobrol ngalor ngidul dengan pak sopir, ternyata saat turun, pak sopir tak mau dibayar, entah mungkin mengingatkan pada anaknya atau apa.

Apa lagi yang bisa dihemat? Sejak suami didiagnosa diabetes, masakan di rumah lebih banyak bersifat rebusan, panggang, pepes dan bakar, serta jarang menggunakan minyak goreng. Kalaupun menggunakan minyak goreng hanya sedikit sekali, untuk tumis. Kebutuhan sekunder yang lain, seperti pakaian, buku (bukan untuk keperluan kuliah atau pekerjaan)….walaupun untuk buku rasanya sedih sekali, apa boleh buat, saya harus berpikir realistis, untuk tidak membeli buku tanpa berpikir dua kali.

Kapan kita mesti melonggarkan ikat pinggang?

Teman saya sering berjalan-jalan dan berolah raga di Senayan, selesai olahraga biasanya mampir ke penjual pecel. Tukang pecel cerita, jika keluarganya masih bisa ikut numpang makan, dia bersyukur, karena dia tak berani menaikkan harga jual yang berakibat pembeli berkurang. Kemarin siang saya naik taksi BB untuk suatu keperluan, rasanya sedih sekali mendengarkan ceritanya, namun pada percakapan terakhir sebelum saya turun, dia berkata..”Ya bu, yang penting kita harus tetap optimis, agar tidak sakit dan masih bisa bekerja, sekedar bisa memberi makan anak dan isteri,”katanya.

Setiap hari si mbak belanja ke pasar Mede, biasanya dia sering beli kue basah, atau penganan kecil-kecil lainnya. Saat saya tanya kenapa dia nggak beli? Barang-barang mahal bu, ibu kan udah pensiun, jadi saya membeli yang perlu saja. Saya berterimakasih sama si mbak, yang ikut di keluargaku sudah lama sekali, namun saya berkata, kalau kita nggak beli penganan kecil itu, siapa yang akan beli…kasihan mereka. Belilah, cuma nggak usah terlalu banyak. Betapapun kesulitan saat ini, namun kesulitan yang saya hadapi sekarang jauh lebih ringan dibanding kesulitan pada masa kecil saya, yang harus antri beras, gula, minyak goreng dan minyak tanah. Saat itu saya juga harus rajin membantu berkebun, agar hasil kebun bisa diolah menjadi sayur untuk lauk. Namun saya percaya masih banyak keluarga miskin di Indonesia yang mengalami kesulitan jauh lebih parah dibanding masa kecil saya dulu. Semoga para petugas yang menyalurkan BLT mengerjakan tugasnya dengan baik, dan tak menyelewengkan uang yang ada, agar para keluarga miskin dapat tertolong.

Marilah kita semua tetap berpikir optimis sambil mengupayakan jalan keluar yang baik, agar paling tidak bangsa ini bisa bertahan dan semakin baik. Saatnya memberikan kepedulian pada sesama, walau sekedar membeli makanan atau barang-barang yang tak terlalu penting buat kita, namun sangat berperan pada kehidupan ekonomi keluarga penjual.

42 pemikiran pada “Kencangkan atau longgarkan ikat pinggang?

  1. sepakat, harus kencangkan ikat pinggang.
    ga usah makan banyak2, kecuali gratis hehe.

    uh..semua jadi lebih mahal.
    *biaya nikah nantinya jd lebih mahal bu :p

    btw bu, ada mp3 di blog ini? request: gimana kl dihilangkan, spy sy ga di blok internet kantor.

    Trian,
    Lama tak terdengar, sibuk dilapangan ya….kalau dilapangan kan makannya ga bisa pilih-pilih.
    MP3? Waduhh kok kayak saya ahli teknologi aja….wong bisanya cuma nulis. Mungkin maksudnya karena dipojok kanan ada account multiply? Itu cuma sekedar gambar, mulai dibuat saat si sulung menikah, fotonya buat kenangan, karena banyak yang ga diundang…..hehehe, sorry, habis mendadak banget….

    Agar bisa lihat dari kantor, baca caranya di komentar kunderemp di bawah ini…..dia akhirnya bisa buka internet dari kantor.

  2. Gak ada mp3 di blog ibuku.
    Kalau proxy-nya menggunakan websense kemungkinan terjadi salah kategorisasi. Mungkin karena di-blog ini ada tulisan “account multiply” sementara zaman dulu multiply dikenal sebagai sarana untuk berbagi mp3.

    Gunakan cara untuk menembus proxy seperti open proxy atau kalau mau cara yang lebih licik, dengan menggunakan fitur-fitur google seperti cache atau translate πŸ˜›

    Kunderemp,
    Thanks infonya…semoga Trian baca.

  3. salam
    Yup Mba setuju, optimis hadapi hari esok, kencangkan keuangan dan longgarkan pikiran πŸ™‚

    Nenyok
    ,
    Saya habis jalan-jalan ke pasar, terus naik angkot, dan jadi punya kebiasaan baru, mengajak ngobrol pedagang…seharusnya kita malu dengan mereka, sopir angkot, sopir bajay…mereka tak mengeluh, dan tetap optimis….padahal penghasilan tak pasti.

  4. Menegaskan ucapan ibuku lagi:

    “Saatnya memberikan kepedulian pada sesama, walau sekedar membeli makanan atau barang-barang yang tak terlalu penting buat kita, namun sangat berperan pada kehidupan ekonomi keluarga penjual.”

    Pada masa-masa susah ini, orang sering berpikir tentang kehidupannya sendiri. Buktinya, kemarin, bahkan para pengemudi Mercy dan BMW sampai ikut antre, rebutan BBM dengan sopir angkot.

    Aku dan ibuku mengajak untuk tetap tidak mengurangi keperdulian pada sesama. Misalnya, dengan sekali-kali jajan. Kita berpikir bukan pada perut kita tetapi pada perut mereka yang hidup dari berjualan makanan-makanan kecil di pinggir jalan.

    Kunderemp,
    Ternyata sopir bajay, sopir angkot…sopir taksi, juga pedagang eceran, tukang foto kopi, menanggapi semua dengan santai, dan berdoa. Mereka berharap situasi akan membaik….
    Jadi betul pendapat pak Sartono Mukadis saat di wawancara di radio, bahwa masyarakat kecil mempunyai sifat lentur, tanpa diminta mereka sudah menambah ongkos angkot.

  5. aminhers

    Mari berbagi dengan kaum yang tidak berpunya

    Aminhers,
    Betul, mereka malah tak teriak, tapi tetap bekerja keras, walau hasilnya tak pasti. memang ada yang mengeluh, tapi yang mengeluh ini dari hasil pengamatan saya (jalan-jalan naik angkot, ke pasar daerah Cipete) lebih sedikit.

  6. semalam saya dari semarang, setelah menempuh perjalanan dari klaten, saya melihat pemadangan di SPBU yang tidak biasanya. Antrean memanjang. sekadar utk bisa mendapatkan bensin 1 lt saja mesti harus antre berjam-jam lamanya. mudah2an knaikan BBM bersubsidi ini tidak seperti tahu sebelumnya, ya, bu. banyak yang salah sasaran sehingga saudara2 kita yang seharusnya dapat subsidi malah ndak dapat apa2.

    Pak Sawali,
    Bapak memperhatikan nggak, kalau mobilnya bagus mestinya tak ikutan antre bensin…

  7. saya g; make ikat pinggang πŸ˜† hohohoho namun apa yang mbak tulis bener banget tu!!

    Zoel Chaniago,
    Saatnya berbagi dengan lingkungan, agar masyarakat kecil tetap punya penghasilan. Nggak usah gembar gembor, lakukan langkah nyata, sedikit-sedikit kalau banyak yang menaruh perhatian, ekonomi akan tetap bergulir.

  8. diet, bu…diet

    Wennyaulia,
    Wahh dietnya sejak dulu….karena sejak suami ketahuan diabetes, untuk mendorong semangat kepala keluarga, yang lain ikutan makan dengan cara direbus,dikukus, di pepes….dan menghindari minyak. Dan lebih baik makan ikan, kurangi daging….hehehe, jadi tak terpengaruh minyak goreng naik.
    Masalahnya kalau ke kantor, malah banyak makanan, apalagi kalau rapat terus menerus…dan makan sering gorengan…mesti tahan mental untuk tidak mengambil.

  9. Wah, sekarang sih sudah bukan masalahnya kencangkan atau longgarkan lagi Bu, tapi sudah:

    “Gadaikan ikat pinggang!”

    Catchade,
    Kayaknya yang pake ikat pinggang wajib adalah cowok…cewek sering tanpa ikat pinggang, dan blouse malah dikeluarkan, untuk menyamarkan perut.
    Tapi, kita harus tetap memotivasi sekeliling bukan, membantu walau sedikit, jadi ingat ibu saya…walau gaji guru kecil, ibu tak tega kalau becak langganan menawari ibu, dan tak memberi harga. Tapi ibu selalu berusaha memberi lebih dari cukup, kata ibu…”Biar pak becak bisa beli beras untuk anak isterinya”.

    Mempunyai ibu seperti ini, dulunya sebel juga, tapi setelah besar saya memahami, dan kenyataannya kalau saya mendapat kesulitan, selalu ada yang menolong.

  10. pandangan seorang Ibu memang selalu menyegarkan,..
    beda dengananak muda yang berapi-api dan meledak2…
    lama saya tidak kesini Bu πŸ™‚

    Leksa,
    Anak muda memang masih penuh energi. Pertanyaanmu mirip wakilku dulu, dia bilang…”Bunda, kenapa bunda bisa sabar mendengar keluhan orang lain, dan sabar mendengarkan omongan mereka yang sering tak masuk akal?” Apa jawab saya?…..”Saya dulu termasuk tak sabaran, sekarangpun masih, tapi saya berusaha keras untuk merubah sifat saya yang kurang baik tadi, untuk menjadi ke arah yang lebih baik”.
    Di blog inipun kadang saya juga kurang sabar, justru anak saya sering mengingatkan, bahwa kemungkinan saya dulu juga seperti itu, jadi jangan menilai pada posisi sekarang, tapi cobalah memahami jika kita di posisi mereka.

  11. Kalau yang masih ada pinggangnya ya bisa mengencangkan ikat pinggang dan melonggarkannya. Lha, yang udah nggak ada pinggang ini yang repot, mau mengencangkan, ya apanya yang dikencangi lagi wong pinggangnya udah nggak ada….. mau melonggarkan, apanya yang mau dilonggari wong pinggangnya juga udah nggak juga…. serba salah…. hehehe……

    Tapi bu, sejak hari Bumi lalu, saya usahakan kalau berpergian bisa ditempuh dengan naik angkot sekali (kecuali kalau bawa barang tentu saja), saya akan naik angkot. Maunya sih naik sepeda, biar sekalian sehat, tapi ya kita semua tahu kebanyakan jalan2 di Indonesia ini keamanan bersepeda tidak dapat dijamin….. 😦

    Kang Yari NK,
    Memang, harus dimulai dari kita sendiri untuk bisa menerima keadaan, daripada teriak nggak karuwan. Jadi saya mencoba memahami, dan anak-anak saya memang terbiasa sederhana sejak dulu….bahkan saat saya puji kok sepatunya bersih, dia cuma bilang…”Iya, kemarin ada anak kecil menyemir sepatu, kasihan bu, cuma Rp.3000,- kan saya sudah bekerja, tak apa-apa membagi sedikit-sedikit.”

  12. pasrah aja.

    hiks… :((

    Junarto,
    Jangan pasrah, tapi kita mesti mulai berpikir mencari alternatif, apa menambah penghasilan, atau efisiensi, juga memberi kail pada sekeliling kita, agar masyarakat kecil juga ada pemasukan.

  13. qizinklaziva

    kita sudah tak lagi punya pinggang!! karena sudah habis digerogoti pejabat!

    Qizinklaziva,
    Kita tak perlu menyalahkan orang lain, banyak juga pejabat yang baik. Tapi bagaimana kita mulai action, membantu masyarakat kecil, dengan kondisi kita masing-masing walau terbatas. Kalau semua bergerak, berpikir positif, mencari alternatif, tak cuma menyalahkan saja…nanti situasi juga akan bisa diatasi. Kalau cuma mengeluh, maka energi yang kita peroleh juga energi negatif…padahal ada kemungkinan harga minyak bisa diatas 200 dolar/barel pada tahun 2009 (per 22 Mei 08 menembus 135 dolar/barel).

  14. mestinya negeri ini kan “kenduren” karena melonjaknya harga minyak dunia, tapi kok malah megap-megap, kita kan kaya akan sumber daya alam?

    Wier,
    Kalau ingin tahu permasalahannya, bukan sepenuhnya salah pemerintah, banyak sekali faktor makronya. Pembahasan komprehensip bisa dibaca di blognya mas Nofeiiman (http://nofieiman.com).

  15. bukankah kita biasa hidup sesuai sikon, maju kena mundur kena, kencang ok longgar ok..hehehehe

    Cewektulen,
    Yup….kalau mengingat pengalamanku masa kecil, sekarang ini saya masih lebih happy. Apalagi jika membaca bukunya Nh Dini, saat masa kecil dan remajanya. Memang ada beberapa hal yang akhirnya ditunda, dan dipikirkan dulu setiap mau beli sesuatu.

  16. intinya tetap bersyukur. alhamdulillah masih bisa membaca tulisan ibu. semoga negeri kita menjadi lebih baik. amin. salam kenal ya bu, buat rekan2 sekalian juga πŸ™‚

    Pimbem,
    Saya telah mengalami berbagai zaman, yang penting tidak mengeluh, bersyukur dan bisa berpikir positif, serta sehat. Mudah2an masih ada rejeki, agar kita tak perlu berhutang sekedar untuk makan.

  17. jadi sekali-sekali beli cemilan di warungku ya..meski gak terlalu penting

    -dari sisi pedagang πŸ™‚

    Dika,
    Cemilanmu apa…bukan pusisi kan? Puisi juga bisa menyejukkan jiwa dan jiwa yang tenang akan mampu berpikir positif.

  18. Lho khan ada BLT bu ….
    Bikin Lauk Tahu……aja ah.

    Semelekethe,
    Hmm tahu tempe mah kesukaan saya, di meja makan selalu ada tahu dan tempe…makanya sedih kalau tempe menghilang.

  19. saya jadi mikir kira2, masyarakat kelas menengah dan kelas bawah di satu sisi memang perlu kencangkan ikat pinggang. tapi buat masyarakat kelas kaya dan super kaya, mestinya di dorong tetap belanja supaya perekonomian masyarakat kecil tetap berputar.

    lagian kayaknya sistim pajak mesti dibikin, makin kaya seseorang, makin besar juga pajaknya.

    well, suka tidak suka, kenyataan harus dihadapi :mrgreen:

    Sahatmart,
    Memang harus dihadapi, apalagi jika baca Kompas hari ini, tahun 2009 harga minyak bisa mencapai 200 dolar per barel. Akhirnya memang manusia akan dipaksa berpikir positif dan punya berbagai alternatif, bagaimana mesti hidup efisien….

    Di Indonesia, pengenaan pajak sudah progresif, dari 5 persen s/d 35 persen. Dan ini juga berlaku di negara maju…tinggal apakah masyarakat sudah kena pajak semua, tentunya jika gajinya tak dipotong langsung oleh bendahara kantor…ini tugas dari kantor pajak untuk meningkatkan pendapatan pajak dari orang-orang yang selama ini tak bayar pajak. Kalau saya, selama ini penghasilan langsung dipotong pajak, dan awal tahun melaporkan PPH 21.

  20. Terima kasih atas tulisannya Bu,

    memang dalam kondisi ini harus mengencangkan ikat pinggang,tp tetap berbuat baik thd sesama.

    Bgmn pun kondisi tdk akan berubah dgn hanya berkeluh kesah.

    Hanya ikhtiar dan doa yg dapat merubahnya πŸ™‚

    Maliki,
    Betul, saya mengalami berbagai hal, yang kalau nggak kuat bisa depersi. Tapi berpikir positif, berdoa dan bersyukur, sambil terus mencari alternatif, akan membuat kita menemui jalan keluar yang baik. Dan saya percaya Tuhan itu ada.

  21. setuju sama kunderemp dan ibunda πŸ˜€

    Paman Tyo,
    Betul paman, kita memang harus membantu memotivasi orang-orang di sekitar kita, menolong sesuai kemampuan…kalau semua berpikir baik, tak saling menyalahkan, saya berpikir negara kita ini indah.

  22. yang membuat saya sedih, anggaran buku saya juga harus distop dulu.

    Itik kecil,
    Apa boleh buat, saya juga mesti menyetop beberapa hal yang tidak prioritas….semoga nantinya akan membaik…

  23. Yang bisa saya lakukan adalah: memotong uang jajan kuliah saya untuk mengisi premium… karena uang bensin tidak dinaekan dirumah πŸ™‚

    Rinduku,
    Nggak apa-apa kan, kita masih bersyukur dibanding orang yang harus bekerja banting tulang hanya cukup untuk bisa makan.

  24. andy

    alhamdulillah… ternyata banyak juga yang berpikir positif n te2p bersyukur dalam menghadapi situasi,, saya dukung bu.. lam kenal juga bunda

    Andy,
    Bantu juga memotivasi teman-teman, orang di sekitarmu, agar kita berpikir positif, mencari alternatif, dll….untuk menambah penghasilan, dan membantu masyarakat kecil disekitar kita dengan membeli barang/jasa yang mereka perdagangkan.

  25. termasuk sesekali belanja pada pedagang asongan dan kaki lima ya bu. wah, kalo di jalan nggak ada pengasong kadang malah repot..

    Mpkb,
    Iya betul…tanpa pedagang kaki lima, dunia kurang seru…..ya marilah kita saling membantu, mendorong perekonomian masyarakat kecil……

  26. Thanks bu, untuk senantiasa mengingatkan kita agar selalu berhati-hati dalam perencanaan hidup dan berempati terhadap sesama.

    Yoga,
    Saya juga melihat kang Yari NK memposting hal yang positif, blogger bisa membantu untuk saling mengingatkan, tak hanya protes…marilah singsingkan baju, bantuan sekecil apapun berarti bagi mereka…pak sopir bajay, sopir angkot, penjual kue basah dll.Siang ini hati saya terharu, sopir angkot masih tegar, demikian juga sopir bajay yang saya tumpangi, walaupun jam 12 siang baru mendapat Rp.20.000,-

  27. Kita kecangkan ikat pinggang supaya pejabat bisa melonggarkan ikat pinggangnya…..

    Eddymesakh,
    Udah baca Kompas hari ini, tg. 26 Mei 2008 halaman 1 (satu), karangannya pak Kurtubi. Tulisan tsb akan menjelaskan persoalan minyak bumi dan ada kemungkinan harga minyak akan terus naik….bahkan bisa sampai 200 dolar per barel. Ini masalah makro, saya tak berani komentar tentng pejabat, karena tak semua pejabat bersikap jelek. Daripada suuzon (berpikir jelek tentang orang lain) sama orang yang akan membuat dosa, mengapa kita nggak membantu orang-orang yang membutuhkan, dan Tuhan akan mencatat pahala kita, serta memberi rejeki yang lebih baik. Saya lebih percaya ini, walau saya datang dari keluarga sederhana, ayah ibu guru, tapi ayah ibu suka menolong, dan dalam kesulitan selalu anak-anaknya ada yang menolong.

    Untuk memahami kenapa BBM naik, mas Eddy bisa membaca blognya mas Nofei Iman ,yang saya lihat mempunyai pandangan kritis dan komprehensip…silahkan berkunjung disini

  28. saya pilih longgarin pinggang aja. biar nyaman aja nafasnya. πŸ˜€
    lagipula hidup itu sudah susah, ngapain lagi dipikir susah klo nyatanya sudah begini. nyadar aja. kita hidup di indonesia. udah begitu adanya.

    Rizki on Benbego,
    Yup benar, dilonggarkan kan bisa ambil nafas, oksigen masuk…dan bisa berpikir untuk mencari peluang

  29. Saatnya bangsa ini berfikir kreatif, hidup lebih hemat, memilih pemimpin yang amanah, menjadi bangsa yang mandiri mentang2 bumi indonesia dikaruniai kekayaan yang banyak trus lupa berkreasi, yang diingat hanya kekayaan alam, tapi belum mau belajar memanfaatkan dengan baik.
    Setuju tante, kita harus kencangkan ikat pinggang tapi tidak lupa pula ΓΌada orang kecil paling tidak bisa menyisihkan sedikit anggaran untuk membeli sesuatu dari mereka.

    ResiBismo,
    Betul, kita memang harus berpikir luas, sabar dan mencari jalan keluar….nantinya pasti ada jalannya dan kita harus optimis.

  30. masseko

    banyak cara untuk bisa tetap happy menghadapi dampak kenaikkan bbm, tetapi hanya ada satu cara untuk merasa sengsara…MERIBUTKANNYA!

    Masseko
    ,
    Walau berat, kita harus menerimanya…dan nanti pasti akan semakin membaik…

  31. saya setuju untuk belajar menjadi bijaksana menyikapi kenaikan BBM. Bijaksana untuk memilih kapan waktunya mengencangkan ikat pinggang dan kapan waktunya melonggarkan ikat pinggang. Mungkin inilah salah satu cara simple untuk bersedekah ya bu.

    Kris Tasrin,
    Betul, kita malah malu sama rakyat kecil, yang menrima tanpa protes….dan bersikap baik terhadap sesama…

  32. Buat saya ada dua pilihan, mengetatkan ikat pinggang atau mencari sumber pendapatan lain. Kayaknya lebih seru mencari sumber pendapatan lain ya.
    Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti dengan bahan bakarnya mimpi dan harapan.

    Iwan Awaludin,
    Yip…hidup adalah berjuang dan selalu berjuang tanpa henti, untuk mendapatkan kualitas hidup lebih baik.
    Saya juga harus memaksa otak berpikir untuk menambah penghasilan….karena kita semakin bisa berbuat sesuatu jika keuangan kita longgar.

  33. Kencangkan ikat pinggang tapi jangan kenceng2 kasian masyarakat kecil yang masih butuh kita sebagai konsumennya. Jadi suka serba salah πŸ™‚
    Kalo ada peluang menaikkan pendapatan mungkin lebih baik lagi karena ikat pinggang bisa di kendurkan :p

    Bagus,
    Yup setuju…..kalau kekencengan bisa tak bernafas….namun bagaimana agar bisa hidup efisien..

  34. sosro

    Perihal kenaikan harga BBM, klau pendapat saya ya biasa aja, realistis aja. Harga BBM (premium+solar)seharusnya segera mengikuti harga keekonomian dan pasar. Saya optimis Indonesia akan menjadi negara besar berkecukupan kedepannya. Karena alamnya sangat kaya, hanya belum mampu dan punya modal dan kemauan utk meng-explorenya. Subsidi harus tepat, dan subsidi sebaiknya kepada orang dan bukan kpd barang. Misl.subsidi kesehatan,pendidikan, dan warga kurang mampu dll. Kita ga perlu kencangkan ikat pinggang,ya biasa saja, karena untuk pertumbuhan dan keshatan diri kita. Sakit LHO klau perut diikat kencang banget. Optimis dan ber-SEMANGAT menyongsong hari depan dengan bertindak,berbuat & berdoa dan Allah swt akan selalu memberikan rezeki. Semangat dalam diri kita adalah cahaya menuju keberhasilan. Amin.

    Sosro,
    Betul…..optimis, itu kata kuncinya. dengan optimis, mudah2an kita dapat mencari alternatif lain untuk menambah penghasilan.

  35. lucunya orang-orang yang sering disebut orang kecil itu sering dijadikan tunggangan untuk mengejar ambisi pribadi. mengatasnamakan penderitaan untuk keuntungan sendiri.
    di postingan saya ada cara mengikat pinggang secara baik dan benar bu πŸ˜€

    Nindityo,
    Sifat manusia memang bermacam-macam, semoga kita menjadi manusia yang berakal dan berbudi, dan tak memanfaatkan kebaikan orang lain.

  36. dengan semangat Kebangkitan Nasional *halah* kita maknai saja bahwa betapa kita selama ini terlelap tak pernah berpikir untuk hidup mandiri, berani mengelola kekayaan negara untuk sebesar2 kemakmuran rakyat. kita yang tak mau pusing & malah menyerahkan kekayaan negara dikelola bangsa asing
    Mari Berjuang

    Tommy,
    Waktunya tak menyalahkan…tapi adalah bagaimana membantu secara riil, karena kalau kita diberi amanah untuk duduk di atas, kita juga belum tentu mampu membereskan yang udah kadung carut marut itu.
    Dengan kondisi kita, kemampuan kita, mulai membantu sekeliling, melakukan langkah nyata.

  37. Terkadang kita harus melawan. Melawan sebuah bentuk penindasan sistematis yang telah memiskinkan bangsa ini. Dengan mata kepala sendiri saya sering melihat korupsi dan beberapa kali bertengkar dengan petugas Samsat yang memeras ketika membayar pajak kendaraan bermotor.
    Saya juga pernah bertengkar dengan petugas Bea Cukai yang berusaha memeras kakak saya yang membeli komputer di Batam untuk dibawa ke Surabaya. Dia beralasan PP 63/2003 tentang PPN/PPnBM. Ternyata saya benar-benar memahami bahwa dengan PP 63/2003, apabila masyarakat membeli barang di pasaran Batam sudah terkena pajak. Artinya barang tersebut boleh dibawa keluar. Toh dia cuma membawa satu unit komputer.
    Tapi petugas itu meminta uang agar barangnya bisa lolos. Kakak saya menyerah dan memilih untuk bayar saja. Tapi saya menolak dan tidak mau membayar. Saya bahkan memotret orang itu untuk kujadikan bukti bila suatu waktu dia mencoba berkelit. Tapi kakak saya tak mau urusan jadi panjang dan terpaksa menyerahkan sejumlah uang kepada orang itu.
    Itu hanya dua contoh “kecil” yang ada di depan mata kita. Bila kita tidak melawan, sampai kapan kita diperas seperti itu? Itu juga berlaku di pelabuhan laut. Penggerebekan di BC Tanjung Priok Jakarta adalah buktinya lainnya.
    Atau pemerasan yang dilakukan oleh petugas ini dan itu yang sering dialami oleh perusahaan tempat istri saya bekerja. Semua itu membuat saya semakin muak dengan kelakuan para koruptor.
    Orangtua saya pun bahkan nyaris menjadi korban “penipuan: oleh oknum pemerintah yang hendak membeli tanah kami di kampung dengan harga murah hanya demi pembangunan. Beruntung ayah saya (juga seorang guru), menolak mentah-mentah karena mendapat dukungan dari seluruh keluarga besar. Akhirnya mereka tidak lagi berani mengangkangi kami yang dianggap orang kampung dan bodoh.
    Kelakuan2 seperti itulah yang memiskinkan bangsa ini. Menyebabkan ekonomi biaya tinggi yang pada akhirnya, semua beban itu dipikul oleh seluruh rakyat di negeri ini. Sehingga saya memutuskan untuk melawan dengan cara saya. Dan saya akan sangat gembira apabila ada satu orang koruptor dan pemeras tertangkap, entah oleh KPK atau oleh siapapun juga.
    Kalau soal tolong-menolong sesama manusia, saya merasa tidak perlu menceritakan apakah saya suka menolong sesama atau tidak. Bagi saya, menolong orang lain adalah tanggungjawab setiap orang terhadap sesamanya, dan akan lebih baik bila ketika kita memberikan pertolongan tidak ada orang lain yang tahu. Kalau perlu orang yang ditolong pun tidak perlu tahu. Karena kita tidak menolong untuk sebuah pujian, tetapi menolong karena tanggungjawab sosial kita masing-masing dan keluar dari hati. Menolong dengan ikhlas. itu saja, tanpa embel-embel.
    Dan soal Pertamina, soal harga BBM lantaran harga minyak dunia melambung tinggi, bagi saya itu persoalan lain. Saya rela membeli BBM mahal, asalkan benar-benar negara sudah tidak mampu lagi. Kenyataannya, lihat di sekeliling kita, apakah masing-masing kita mampu membawa semua orang miskin itu keluar dari kemiskinan hanya dengan tolong-menolong? Kalaupun itu bisa, di mana tanggung jawab negara? Untuk apa kita membayar pajak. Saya juga wajib pajak dan tak pernah menunggak. Maaf kalau saya tampaknya sedang marah-marah di sini. Tapi korupsi telah membuat saya kesal luar biasa. Mudah-mudah besok-besok saya tidak menjadi seorang koruptor supaya tidak kualat.
    Dalam konteks komentar saya, saya tidak menujuk hidung siapa pun. Saya hanya kesal pada sistem yang sudah sedemikian buruknya. Dan saya tidak mau putus asa. Kendati tak mampu berbuat apa-apa, tapi saya berusaha melakukan hal paling kecil sesuai peran saya untuk melawan mereka. Sekali lagi, mohon maaf kalau saya marah-marah di ruang ini….. πŸ˜€

    Eddymesakh
    ,
    Saya mengerti kemarahan anda, tapi mengapa anda curhatnya pada blog saya? Saking panjangnya komentar anda…akan lebih baik anda bikin posting sendiri, yang bebas mau menulis apa saja.

    Saya sebetulnya juga pusing mengatur uang, sebagai pensiunan maka saya hanya menerima 25 % dibanding pendapatan sebelum pensiun. Mau melakukan efisiensi dengan mengurangi pembantu, rasanya nggak tega, karena mereka juga merupakan tulang punggung keluarganya. Saya mencoba mengobrol dengan mereka, dan menceritakan kondisi yang ada, dan ternyata mereka bisa menerima, bahwa banyak hal yang harus dikurangi agar ibu masih bisa membayar mereka.

    Orang yang marah, teriak, sudah banyak sekali…dan saya tak perlu menambah kemarahan tsb…untuk apa? Buat saya, lebih baik saya melakukan hal nyata, tak ikut korupsi atau mendapatkan uang dari penderitaan orang lain…..berbagi kepada sesama lebih indah, dan membuat hati tentram walau saya bukan orang yang berkecukupan. Saya sudah lelah dalam sepanjang hidup saya yang telah melampaui setengah abad ini untuk berteriak…..lebih baik saya melakukan hal berguna.

  38. Hehehee…. maaf Bu Enny. Tampaknya ibu sesusia logayah dan ibu saya. Ayah saya juga sudah pensiun dan kini “berkarya” sebagai nelayan di kampung.
    Maaf kalau Ibu merasa kurang nyaman kalo saya “marah2” di blog Ibu. Mungkin karakter orang pantai yang tertulalu banyak makan garam (garam benaran lho), makanya mudah meledak….:)) Mudah2an Ibu sehat2 selalu dan diberkahi Yang Maha Kuasa.
    Saya memaklumi, sebagai orang tua, Ibu wajib bersikap bijak untuk (setidaknya) meredam emosi kami anak-anak muda yang mudah meledak….:D

    Eddymesakh
    ,
    Ya betul, saya mungkin seusia ayah ibumu, atau bahkan lebih tua lagi.
    Eddy, adalah tugas saya untuk mendorong anak-anak muda berpikir positif, lha kalau saya yang sudah tua ikutan marah, negara kita kan makin kacau balau. Saya sendiri mengalami situasi naik turun, yang kalau tak kuat bisa menjadi frustasi…tapi saya bisa bertahan, karena setiap kali saya mencoba berpikir positif, komprehensip, dan menjadikan hambatan sebagai tantangan…mendorong anak-anak dan temennya anak-anak untuk berbuat kebaikan bagi sesama.

    Blog ini memang tujuannya untuk membuat hati adem, memberikan pembelajaran sesuai ilmu dan pengalaman yang saya peroleh, dan mendudukkan pada posisi netral supaya kita bisa melihat sisi baik dan buruknya…dan kemudian untuk menatap ke depan. Sebetulnya ditanganmu lah, wahai kaum muda, untuk memperbaiki kondisi negara kita agar menjadi lebih baik…namun kalau marah, apakah itu menyelesaikan persolan? Saya yakin pembaca blog saya hampir semuanya terpelajar, minimal lulusan SMA…jadi bisa diajak berpikir positif untuk memperbaiki diri sendiri dulu, baru mendorong orang lain untuk berbuat sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s