Masyarakat kecil kita bersifat lentur?

Minggu pagi saya nggak ke luar rumah karena harus menyelesaikan tugas, yang akan digunakan untuk hari Selasa. Kebetulan si sulung juga mesti menyelesaikan 3 (tiga) proyek, jadi di rumah masing-masing mempunyai kesibukan sendiri. Agar tak jenuh, dan bisa berkonsentrasi, saya menyetel radio, yang kebetulan ada wawancara dengan seorang psikolog. Wawancara ini menarik minat saya, dan menghentikan pekerjaan sementara untuk mendengarkan dialog tersebut. Menurut psikolog tadi, masyarakat Indonesia sebenarnya bersifat lentur.

Kenapa kok di sebut lentur?

Psikolog tadi menjelaskan, masyarakat kecil, sejak diumumkan kenaikan BBM, tanpa disuruh mulai membayar lebih kepada sopir angkot, agar sopir angkot masih bisa membawa uang kerumahnya. Hari Senin, saya membuktikan ucapan psikolog tadi. Selesai memfotokopi laporan yang akan dikirim, saya mampir ke pasar tradisional, melihat interaksi antara penjual dan pembeli. Saya ingin tahu bagaimana kondisi masyarakat setelah kenaikan BBM, walaupun mungkin saya hanya melihat dan mencerna dari area yang terdekat dari rumahku. Pulangnya saya naik bajaj, saat itu sopir Bajaj saya tanya, berapa bayarnya kalau kerumahku…”Sepuluh ribu, bu,”jawab sopir bajaj. Saya langsung naik tanpa menawar karena memang harganya segitu, dalam hati berpikir, kok nggak naik ya. Di jalan terjadi percakapan, setoran sopir bajaj kepada pemilik sehari Rp.34.000,- namun bensin, oli campur merupakan tanggungan sopir, sehingga untuk mengcover keperluan tersebut, setiap hari sopir bajaj harus bisa mendapatkan uang Rp.74.000,- . Rata-rata setiap hari sopir bajaj dapat membawa pulang Rp.20.000,- untuk keluarganya. Dia juga cerita, bahwa hari ini baru mendapat Rp.20.000,- (saat itu sudah jam 12 siang), namun dia juga tak ingin menaikkan harga, karena kasihan ibu-ibu penumpang kan juga kesulitan mengatur uangnya. Dalam hati saya terharu, sopir bajaj ini malah memikirkan orang lain, padahal dia tak tahu seperti apa kehidupan penumpangnya, namun niat baiknya patut dihargai.

Hari ini, saya makin lega, karena Kompas tanggal 28 Mei 2008 halaman 1 menulis artikel dengan judul ”Solidaritas sosial: Mereka lebih miskin daripada saya…”.Pada artikel Kompas ini, diceritakan bagaimana warga RT 04/RW 08 Kelurahan Mlati Baru, Kecamatan Semarang, yang mendapat BLT dengan suka rela memotong uang BLT nya sebesar Rp.25.000,- dan dikumpulkan untuk disumbangkan kepada janda miskin tetangganya yang tidak menerima BLT. Ketua RT 04 mengaku telah mengajukan nama semua KK yang berhak menerima sebanyak 32 KK, namun hanya 12 KK yang mendapat kartu BLT. Membaca ini saya menjadi tersentuh, betapa masyarakat kecil yang kita anggap miskin, bahkan masih punya nurani untuk membantu sesamanya. Apakah kita masih akan hanya bisa teriak, protes, tanpa melakukan sesuatu? Mulailah memberikan bantuan, betapapun kecilnya, itu akan membantu sesama.

Apa sebaiknya yang dapat kita lakukan?

Psikolog tadi dalam wawacara juga mengatakan, banyak orang bahkan pemimpin masyarakat (hari ini dimuat juga di Kompas) mengatakan bahwa BLT tidak perlu,karena bisa membuat masyarakat semakin miskin, namun yang komentar ini adalah bukan rakyat yang merasakan kemiskinan itu sendiri, karena kenyataannya masih banyak masyarakat miskin yang membutuhkan bantuan. Jadi, semestinya tugas media, juga tugas kita, para blogger, pemimpin masyarakat, mencoba membuat situasi yang lebih nyaman, dan agar jangan membuat pikiran masyarakat saling dibenturkan. Juga jangan sampai menyelesaikan persoalan dengan marah, karena kemarahan akan membuat energi negatif, yang membuat kita tak bisa mencari alternatif lain yang lebih baik. Kita baru mulai bertindak, jika segala sesuatu telah dipikirkan masak-masak tujuannya, dan mulai berpikir mencari alternatif untuk mendapatkan solusi penyelesaiannya.

27 pemikiran pada “Masyarakat kecil kita bersifat lentur?

  1. adipati kademangan

    32 KK yang diajukan hanya 12 KK yang lolos ?
    kriteria seperti apa yang dipakai dalam penilaiannya ? bukannya pak RT/ pak RW lebih tahu kondisi masyarakatnya daripada tim penilai …

    Adipati Kademangan,
    Entahlah, tapi lihatlah intinya…rakyat kecil tak ribut apalagi protes yang aneh-aneh, mereka berbuat nyata, dengan menyisihkan sebagian yang diperoleh untuk membantu tetangganya yang kurang mampu dan tak kebagian.

  2. Siiip lah. Artinya mereka ngga demo, tapi langsung bekerja memberi solusi.
    Mudah-mudahan, yang seperti itu akan membangun karakter bangsa Indonesia yang terbaik sehingga menjadi bangsa unggul di masa depan.

    Iwan Awaludin,
    Ternyata yang namanya rakyat kecil, tanpa banyak omong langsung melakukan perbuatan mulia. Apakah kaum terpelajar, pemimpin masyarakat tak merasa tersentuh…kalau semua bahu membahu, semoga situasi dapat dikendalikan.

  3. Wah, setuju Bu. Kita-kita jangan sampai memperkeruh suasana. Saling bantu, lah.

    (^_^)v

    Yah, ada yang bisa dibanggakan juga dari masyarakat kita.

    Farijs van Java
    ,
    Saya hanya mencoba membuat tulisan yang lebih “adem”…sedih rasanya, kalau berbenturan terus, kan malah rugi semuanya…dan yang kena akibat langsung juga rakyat kecil lagi. Karena berapa sih sebetulnya yang kaya, yang perlu didorong adalah transparansi aturan, penegakan hukum, sehingga memberikan peluang investasi.

  4. aminhers

    Apa kabar, Bu?; mudah2an sehat walafiat.

    Betul, Bu. yang merasakan kemiskinan itu adalah rakyat yang tak beruntung di negeri ini. Kita masih bisa makan 2 atau 3 kali sehari, mungkin mereka di sana makan 2 atau 3 kali dalam 3 hari. Mari kita tengok tetangga dekat kita , apa mereka sudah makan? apa tetangga kita lagi sekarat karena sakit ?

    ” mari kita ajarkan niali2 kepedulian sosial di lingkungan keluarga dan anak cucu kita”
    salam
    aminhers

    Aminhers,
    Kita memang harus mulai mengajarkan bersikap riil dilapangan, memberikan bukti nyata walaupun cuma sedikit dan terlihat tak berarti. Tapi justru yang sedikit itu jika dilakukan dengan tulus, dan kena sasaran akan sangat membantu.

  5. Saya juga memilih untuk “nyadar diri” membayar lebih, meskipun inginnya tidak :)) kalau tidak seperti itu, nanti sopirnya malah nggak ridho nerima duitnya, kasihan juga kan?

    Donny Reza
    ,
    Paling tidak kita berusaha saling berbagi….

  6. subsidi untuk masyarakat miskin agaknya masih diperlukan, bu. tapi, menurut hemat saya, kok akan lebih mendidik apabila bukan sumbangan langsung tunai, tapi berupa hibah usaha melalui bimbingan kewirausahaan secara kontinyu. hal ini juga akan mendorong masyarakat miskin utk kreatif menciptakan lapangan kerja, tidak hanya selalu bergantung kepada pemerintah.

    Pak Sawali,
    Kemarin pagi saya menunjukkan Kompas ke anak saya, hasil RUPS suatu perusahaan terbuka. Disitu dijelaskan bahwa sebesar 4 persen dari laba adalah untuk Dana PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan). Dana ini digunakan untuk masyarakat miskin, untuk usaha, dibina oleh para wirausaha, bank dengan bunga rendah, dan subyek pemeriksaan oleh auditor. Sebetulnya setiap perusahaan jika melakukan hal seperti itu, maka akan banyak masyarakat miskin yang tertolong, masalahnya belum semua perusahaan bisa dan mau melakukannya.

  7. pertama : udah lama saya ga mampir ke blog ibu 😀 Pa kabar bu? 😀

    Kedua : Sebenernya sih, kenaikan BBM ga terlalu bermasalah. tho, nantinya semua juga menyesuaikan, dari segi gaji, ongkos, dan kebutuhan sehari-hari, sekarang tinggal gimana kitanya aja, mampu ga kita menyesuaikan dengan itu tadi. kalo dari segi pemerintah, mustinya lebih melek terhadap orang-orang yang dikategorikan miskin. jadi, nda cuma liat ke satu sisi aja.
    Alhamdulillah sekarang saya kerja di lembaga pemerintah, dan belom lama, dikantor saya ada semacam seminar membahas tentang penduduk indonesia yang penghasilannya kurang dari US$ 20 dan itu jumlahnya ga sedikit, ada sekitar berapa ratus juta (maap saya lupa).
    alangkah baiknya, pemerintah juga menekankan ke perusahaan-perusahaan untuk menyesuaikan salary pegawainya terhadap kenaikan tadi dan kebutuhan si pegawai.
    oiya.. kemaren juga saya sempet ngobrol sama boss saya, boss saya bilang “Ga menutup kemungkinan nantinya harga bensin di Indonesia setara dengan harga bensin Internasional sekitar US$ 9 /liter”.

    jadi intinya, harga BBM nda masalah asalkan dari pihak pemerintah dan perusahaan juga menyesuaikan. 😀

    **maap bu, kalo ada salah-salah kata**

    Waterbomm,
    Baru minggu kemarin saya menghadiri rapat suatu perusahaan, membantu mengatasi permasalahan yang dihadapi, karena harga yang membubung tinggi membuat perusahaan mengalami penurunan. Saat ini yang penting bukan minta naik gaji, bahkan untuk bisa bertahan saja, bagi perusahaan masih bagus. Jadi istilah naik gaji, adalah kalau perusahaan menguntungkan, karena setiap kenaikan gaji berakibat pada kenaikan biaya tetap, yang saat perusahaan stagnan atau menurun, para karyawan tidak mau mengerti. Dari rapat kemarin, saya bisa melihat wajah-wajah supervisor ke atas yang kurang memahami, tak tahu apa yang harus dilakukan, sampai akhirnya kita mengatakan, bahwa perusahaan ini sudah berada antara hidup dan mati…tanpa bantuan kerja keras semua pihak (manajemen, pemilik, karyawan), maka matinya tinggal menunggu waktu. Saya yakin banyak perusahaan yang mengalami hal sama dengan perusahaan yang dipimpin temanku tadi, sehingga saran untuk naik gaji harus hati-hati…bahkan untuk bertahan adalah pemotongan gaji, atau PHK sebagian karyawan.

  8. Ya kita harus selalu ngalah ama pemerintah,….walau mereka-mereka itu kita yang menggajinya,….memang kita harus saling berbagi,…ga usah harapkan pemerintah,..mereka terlalu sibuk mengurus diri sendiri,… (marahhhhh,….

    Avartara,
    Saya tak mau mendiskreditkan siapapun, karena saya juga memahami kesulitan pemerintah…baca blognya mas Nofei Iman, di http://nofieiman.com/2008/05/mengapa-bbm-harus-naik/
    Bagi saya, apa yang dapat saya lakukan sebagai warganegara baik, untuk membantu mengatasi kesulitan walau hanya dalam porsi kecil. Hal ini lebih berarti.

  9. kelenturan dan tepa selera ini yang bisa jadi dianggap taken for granted..ahh..mereka orang miskin bisa survive, ah mereka pasti bisa hidup..ah mereka pasti diam saja kalau harga naik..ahhhh

    Mas Iman Brotoseno,
    Mungkin ada yang berpendapat seperti itu, tapi dari wawancara kemarin, psikolog kondang tsb, yang sudah sepuh dan saya yakin kebersihan hatinya, adalah mengajak membantu langsung dengan membuat langkah nyata walaupun kecil-kecil kepada masyarakai kecil.
    Saya hanya melihat intinya disini, karena kalau cerita yang lain sudah banyak yang mengulas…

  10. Kalau saya melihat kelenturan masyarakat Indonesia dari sisi yang lain, bahwa tidak selayaknya mereka selalu dipandang memerlukan “bantuan”. Justeru karena “kelenturannya”, mereka bisa menyesuaikan dengan keadaan, Tanpa Bantuan. Anggarannya bisa disalurkan dalam bentuk lain, Kuliah Gratis misalnya?

    Isnuansa,
    Memang sulit juga kalau kita mendengarkan berbagai pendapat yang saling bertentangan, di Kompas hari ini (tg 29 Mei 2008) hal 6, dengan judul “Suap untuk mahasiswa” karangan M. Faddjroel Rachman, Ketua Lembaga Pengkajian demokrasi dan negara Kesejahteraan (Pedoman Indonesia), antara lain mengatakan BKM (Bantuan Khusus Mahasiswa) harus ditolak, karena merupakan uang suap untuk meredam gerakan mahasiswa tahun 2008. Saya tak memihak siapapun, namun setuju dengan pendapat pak SM, psikolog UI, agar masyarakat kecil jangan dibenturkan oleh polemik kaum cerdik pandai. Inti tulisan saya adalah mengajak, secara tak langsung, walau kecil-kecil kita berbagi dengan mereka, membeli barang dagangan mereka yang masih cukup untuk keuangan kita, walau mungkin terlalu remeh temeh, namun berarti bagi mereka.

  11. Kayanya harus disikapi dengan bijak. Kebijakan yang tidak populer diambil pemerintah tentu dengan pertimbangan kedepan yang lebih menguntungkan masy secara lebih luas.
    Tapi saya tidak setuju dengan BLT, kenyataan dilapangan (Pengalaman PTT) banyak sebenarnya yang lebih berhak malah tidak kebagian

    Ady,
    Masalah dilapangan memang masih banyak kendalanya, sebagaimana di muat di Kompas tadi, namun masalah harga BBM naik, kalau kita membaca media Kompas, demonstrasi juga dilakukan di London, Paris, Pakistan dsb nya.Dan kayaknya harga naik akan terjadi terus menerus, jadi mau tak mau kita harus siap.

  12. Dua tahun lalu, saya sempat membaca sebuah kisah tentang seorang janda perempuan (eh, janda emang perempuan ya?), yang menolak menerima BLT, karena merasa masih mampu untuk menghidupi dirinya sendiri, meskipun hanya dengan jalan menjadi seorang pemecah batu kali. Dia bilang, tak ada uang yang dia terima tanpa mengeluarkan keringat, dan tak mau hanya menjalankan “kridha lumahing asta”. Ada cerita lain, seorang janda juga, terpaksa menerima BLT, padahal sebenarnya ingin menolak, tetapi karena kalau menolak, kemudian dikembalikan ke aparat lagi justru rawan diselewengkan, maka diterimalah BLT itu. Ternyata, dia tidak menggunakan sepeserpun, dan pada waktu Idul Adha, dia mendatangi panitia kurban menyerahkan seluruh dana yang dia peroleh untuk berkurban.

    Nayantaka,
    Jika semua orang Indonesia yang mampu bisa bersikap seperti itu, tak korupsi, takut atas pengadilan setelah meninggal, mungkin Indonesia akan segera bangkit kembali. Hidup ini memang harus bekerja keras, dan jangan mau terima uang tanpa keringat….itu sebetulnya pelajaran moral sejak dulu kala.

  13. Mungkin yang dimaksud dengan “lentur” diatas itu adalah kemampuan untuk beradaptasi dan coping masalah yang baik. Sebenarnya itu dimiliki oleh semua orang, tetapi caranya dan kemampuannya yang berbeda-beda.

    Kalau soal BLT, sebenarnya saya sependapat dengan Pak Sawali. Sebaiknya jangan berbentuk uang tunai. Apalah arti Rp 100 ribu sebulan tetapi ketika sakit mereka tidak mendapat keringanan pembayaran di rumah sakit. Apalah artinya juga kalau sekolah harus membayar sekian rupiah. Inti dari subsidi BBM yang dialihkan itu adalah keringanan dalam hal layanan publik, dan bukan sekedar pembagian uang gratisan.

    Goldfriend,
    Sama jawaban dengan jawaban pak Sawali. Inti cerita saya bukan pada BLT (maaf kalau persepsinya kok jadi BLT ya), tapi kelenturan masyarakat ini yang harus diberdayakan, sehingga bagaimana caranya mereka tak jadi korban perdebatan kaum cerdik pandai, para politikus. Karena sekarang yang dibutuhkan adalah langkah nyata, untuk bisa membantu langsung mereka, yang saya tahu setiap BUMN labanya sekitar 4-5 % untuk PKBL. Entah bagaimana dengan swasta, dan pelaksanaannya adalah subyek audit. Dan ini bukan bantuan uang untuk konsumtif, namun bantuan modal kerja, sekaligus mengajarkan para masyarakat kecil untuk melakukan wirausaha. Dan sulitnya belum dapat memenuhi semuanya, karena untuk membantu mereka tak sekedar uangnya, namun dibimbing langsung dilapangan.

  14. Mengharukan Bu, justru mereka lebih “elastis” dibanding yang biasa hidup enak. Nggak enak membayangkan mereka harus menarik ikat pinggangnya lebih kencang lagi 😦

    Yoga,
    Iya, inti tulisan saya memang bagaimana mereka yang masyarakat kecil, tanpa mengeluh langsung berbuat nyata, membantu tetangga. Tidak gontok-gontokan, berdebat BLT perlu apa tidak, BKM perlu apa tidak.
    Sebetulnya itulah inti tulisan saya…makasih Yoga.

  15. Kalau menurut saya bu, berfikir positif dan bertindak positif dengan spontan seperti yang ibu ceritakan tentang fenomena di tengah masyarakat kecil yang terjadi di atas memang pantas dijadikan teladan.

    Namun tentu kritik terhadap pemerintah (dan sebaliknya juga kritik untuk diri kita sendiri ) tetap merupakan hal yang penting, jangan terlalu nerimo terhadap apa yang digariskan pemerintah, tapi tentu kritik tidak diidentifikasikan dengan anarkisme tentu saja.

    Saya kemarin begitu miris melihat acara di Metro TV tentang petani2 buah jarak di NTB yang sudah capek2 menanam buah jarak karena dihimbau pemerintah untuk menanam buah jarak untuk diambil minyaknya sebagai bahan bakar alternatif, eh… ternyata janji2 pemerintah untuk membeli buah jarak para petani dengan harga yang pantas ternyata hanya janji2 kosong belaka….. Jadi bagaimana nasib petani jarak itu?? Dan bagaimana juga proyek pemerintah tentang alternatif bahan bakar yang akan meringankan beban rakyat ?? Semuanya terbengkalai…. tidak ada yang becus !

    Belum lagi masalah kebocoran2 (baca: korupsi) di perusahaan2 minyak dan pendistribusiannya, belum lagi masalah kebocoran2 di tempat lain, penghematan2 energi yang signifikan di kantor pemerintah….. semuanya tidak dilakukan dengan benar…. coba kalau kebocoran2 dan penghematan2 itu dilakukan dengan benar dan serius pasti jauh lebih dari sekedar lumayan untuk menutup subsidi BBM…….

    Lha ini…. cari solusi yang paling mudah… menaikkan harga BBM…. yang tentu yang paling banyak berkorban adalah rakyat kecil yang merasakannya….. sedangkan penanganan kebocoran dan penghematan, pemerintah tidak mampu menanganinya dengan optimal. Padahal jikalau kebocoran dan penghematan ini dilakukan yang berkorban adalah orang2 gedean…….. Yah begitulah…..

    Jadi intinya buat saya adalah…. memang benar kita harus berbuat nyata dan selalu berfikiran positif tapi kita tetap harus kritis tanpa harus menjadi anarkis……….

    Kang Yari NK,
    Saya memang tak merambah masalah BLT dan lainnya, namun intinya pada kepedulian manusia, dan masyarakat kecil justru langsung melakukannya tanpa berdebat panjang lebar. Sebetulnya kalau kenapa BBM harus naik, saya suka tulisannya Nofei Iman di http://nofieiman.com/2008/05/mengapa-bbm-harus-naik/…tulisannya sangat mengena.

  16. Sudah sepatutnya rakyat mendapat bantuan pemerintah, karena itu adalah tugas dan fungsi pemerintah, namun ketika pemerintah alpa dalam proses menyejahterkan rakyatnya maka sudah kewajiban kita sebagai orang yang memiliki kelebihan rejeki untuk membantu orang2 mustad’afin tersebut (orang miskin dan orang yg tertindas)

    Resi Bismo,
    Betul…saya lebih suka berbuat riil dilapangan walaupun cuma kecil artinya.

  17. malu yah bu sama orang susah yang masih bisa punya kepekaan pada saudara… ah… saya juga jarang punya kepedulian yang sedemikian kalau saya sedang merasa diri sendiri cukup susah… ah… musti banyak banyak introspeksi

    iya! put ur self in other shoes baru bisa bilang perlu ga perlu atau bilang mustinya begini atau begitu!

    Natazya,
    Iya, lebih baik berpikir yang riil, supaya nggak pusing…masing-masing orang sesuai posisi dan jabatannya mempunyai kewajiban.

  18. salam
    nah justru kelenturan ini yang sering membuat penguasa negeri tega 😀
    saya setuju Bu, yang penting kita peka terhadap sekitar, kenyataanya mengandalkan BLT-nya pemerintah tak memberikan solusi yang menyeluruh. *sok tahu*

    Nenyok,
    Kalau kita cuma ngomongin pemerintah dll, lha bantuan kita sebagai warga negara apa? Dan apakah kalau kita dipilih menjadi seorang eksekutif di pemerintahan atau legislatif dan judikatif, betulkah kita mampu? Benarkan ini kesalahan mereka, tak adakah faktor makro? Kalau kita baca secara komprehensip memang tak mudah…dan yang menyalahkan, kan dulunya juga orang-orang yang berperanan juga? Kecuali mahasiswa tentunya….tapi kan mahasiswa angkatan 66 juga banyak yang jadi pejabat?
    Daripada pusing, marilah kita berbuat kebaikan…apa yang kita bisa lakukan, walau terlihat tak ada artinya.

  19. Tukang Ketik

    “Pulangnya saya naik bajay”

    >> maaf bu, salah ngetik tuh… harusnya bajaj 😀

    lagi, “namun bensin, olie campur merupakan tanggungan sopir, ”

    >> harusnya oli

    Terakhir, “Jadi, semestinya tugas media, juga tugas kita, para blogger, mencoba membuat situasi yang lebih nyaman, dan agar jangan membuat pikiran masyarakat saling dibenturkan.”

    Adi,
    Thanks koreksinya…dari KBBI; bajaj= kendaraan umum bermotor, beroda tiga (untuk dua atau tiga penumpang, pengemudinya duduk di depan)
    Juga oli…bukan olie

    >> Terima kasih untuk renungan yang baik dipagi ini…

  20. To : Tukang Ketik

    Lagi belajar nulis sesuai EYD supaya bisa menang contest bloger tuh bu 😀

    TO: Bu Enny,
    Saya sangat setuju dengan lenturnya masyarakat kita untuk dapat menyesuaikan diri dengan kondisi sulit. Daripada mikirin perang iklan dan kata-kata para “ELIT” mending kita mulai dari diri sendiri untuk dapat berempati dengan lingkungan sekitar yagn sulit dan melakukan “seusatu” walaupun kecil.

    Mas Goen,
    Kalau protes kan udah ada pemerintah, juga udah diwakili politisi lainnya, lha saya hanya mendorong bagaimana agar kita membantu secara riil walaupun kelihatannya cuma remeh temeh, tapi ternyata bermanfaat sekali. Dan malahan masyarakat kecil tanpa disuruh menunjukkan sikap gotong royongnya….lha kita-kita ini kan bisa membantu dengan membeli dagangannya, produknya dsb nya.

    Tukang ketik memang hebat, dan setelah saya cek di KBBI memang betul…..jadi udah saya koreksi sesuai saran tukang ketik.

  21. dengerin radio, trus tugasnya gimana? :mrgreen:

    btw, baca postingan ini jadi merinding, bu. lentur dan nrimo, itu masyarakat kecil kita. sayangnya, sifat seperti ini sering membuat mereka semakin dikuyo-kuyo 😦

    Wennyaulia,
    Mereka harus bersifat seperti itu, agar bisa bertahan hidup. Bukankah kita sendiri juga begitu? Saya dulu puasa Senin Kamis, agar bisa menyelesaikan S1 dan bekerja, serta berkarir…agar saya tak merasakan kesulitan….tujuannya sebenarnya cuma satu, agar tak perlu berhutang hanya untuk beli makanan. Anak-anak saya kalau diceritakan pasti tak percaya, begitulah juga teman-temanku, siapa yang bertahan, kehidupannya akan membaik.

  22. Masyarakat kalangan bawah (kaum miskin, petani, atau pedagang kaki lima) memiliki kemampuan survive yang tinggi. Kita tentu mendengar istilah petani Indonesia disebut sebagai “Petani survivel” karena mereka melihat kondisi riil tidak mengkin profesi tersebut dikategorikan sebagai bidang profesi, usaha, bisnis, atau lapangan kerja. Tetapi mereka lakukan cukup untuk hidup (meskipun dicukup-cukupkan). Pedagang kaki lima, di sini diusir buka di sana, di sana diusir, buka di tempat lain lagi. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang survive, hal tersebut tejadi karena suprastruktur dan infrastuktur yang sangat minim sehingga mereka menjadi terbiasa untuk menyesuaikan diri pada setiap kondisi sulit yang dihadapi.

    Aryo Bandoro,
    Kita harus bersyukur memiliki masyarakat seperti ini….bayangkan jika semuanya cuma bisa protes, apakah persoalan selesai? Tentu akan lebih kacau balau. Justru kita yang masih bisa menikmati internet, masih bisa makan tiga kali sehari, mulai membantu secara riil agar mereka yang berjualan dan bekerja bisa bertahan hidup. Bantuan tersebut terlihat tak berarti, tapi sangat berguna bagi mereka yang memerlukan.

  23. Di sini harga BBM semakin hari semakin naik terus. Hingga hari ini harga bensin mencapai 1€49/ltr. Yang mengenaskan harga solar naik terus menyamai harga bensin. Nelayan sudah mogok kerja, disusul oleh petani. Parah lagi kalo transporter (truk, bus, kereta, pesawat terbang) juga ikut mogok kerja. Mereka menuntut pemerintah menurunkan harga BBM.

    Di sini kami berhak menuntut pemerintah. Aksi mogok bersama itu cukup ampuh untuk mengoyangkan keputusan pemerintah.

    Juliach,
    Sebenarnya hampir di seluruh negara dilanda protes dan demonstrasi….dan kesulitan bahan bakar ini nyaris melanda seluruh dunia, kecuali negara pengekspor minyak.

  24. masseko

    Kalangan bawah paham, bahwa kemiskinan memang untuk di carikan solusi praktis, BUKAN SEKEDAR DIWACANAKAN.
    Utk beberapa komentator tulisan ini, jgn menganggap kecil BLT yg “cuma” Rp 100.000/bln dong. Bagi mereka yg berpenghasilan Rp 300.000/bln, uang seratus ribu itu cukup banyak dan sangat berarti. Bisa antara hidup dan mati!

    Masseko,
    Kita mestinya malu dengan masyarakat kecil, yang tanpa disuruh langsung bertindak nyata dan saling menolong. Jika kita semua menolong dengan berbuat hal kecil, namun penting bagi mereka, itu sudah sangat menolong, …biarlah semua ada tugasnya masing-masing, saya hanya mengajak agar kita meluangkan waktu untuk bertindak nyata.

  25. Nrimo Ing Pandum adalah doktrin yang terus diinternalisasi dalam hidup masyarakat kita Bu, terlebih rakyat kecil
    Tugas kita para blogger *halah* memberikan penyadaran bahwa meski takdir tak bisa dicederai namun nasib selalu terbuka bagi kita untuk berjuang mengubahnya

    Tomy,
    Tugas kita adalah sebagai katup yang membantu melakukan hal kecil namun riil. Dan menulis hal-hal yang bisa memberikan solusi. Namun juga tetap kritis, namun sikap kritis ini juga harus kritis yang bertanggung jawab.

  26. Saya mencoba kembali ke point Bu Enny, bahwa rakyat kecil memiliki kelenturan yang sangat tinggi (seperti kata psikolog di radio). Memang betul. Apakah ini karena ‘pengalaman’ dijajah sekian lama oleh bangsa-bangsa lain? Pada waktu dijajah, hidup rakyat sangat susah. Di zaman Jepang (konon katanya, wong saya ya belum lahir), rakyat biasa pakai baju dari karung goni yang banyak kutunya, makan debog (batang pisang) karena tidak ada bahan lain yang bisa dimakan. Sekarang sebagian orang miskin memang tidak makan debog, tapi nasi aking.

    Tahun 65-an kita antri untuk segala macam (minyak, beras, dst). Tahun 2008 kondisi kita sama, antri untuk segala macam kebutuhan pokok. Bedanya, tahun 65-an tidak banyak orang Indonesia yang kayaraya, sekarang banyak yang uangnya sampai milyaran, bahkan trilyunan. Artinya, ada kesenjangan sosial yang sangat lebar.

    Yang ironis, sekarang beberapa tokoh politik gencar mengiklankan dirinya di mass media, bahkan pasang balihoo guedee di jalan-jalan, yang biayanya pasti ratusan milyar. Semua untuk meraih jabatan di pilpres 2008. Kok tega-teganya, padahal rakyat banyak yang kesulitan hidup.

    Orang miskin memang memiliki kelenturan yang sangat tinggi. Tapi seperti karet, kalau terus ditarik, akan sampai juga pada batas kelenturannya, dan karet akan putus. Kalau manusia? Putusnya seperti apa? Kita bisa menjawab sendiri ….

    Mbak Tuti,
    Betul…kelenturan seperti karet, kalau ditarik terus maka akan putus.
    Justru itu saya mengajak berbuat hal-hal kecil, tapi nyata dan tak memberatkan cash flow keluarga kita.

    Saya tak mau berpolemik untuk harga naik dsb nya, karena sebagai orang pensiunan, kondisi tsb sudah memukul telak keuangan saya, tapi saya cuma ingin berbagi….karena saya ingin orang membaca blog ini menjadi lebih adem….siapa tahu setelah adem, tenang, bisa memikirkan tindakan yang positif….karena saya sendiri harus akrobat untuk mempertahankan agar keluarga tetap bisa makan makanan bergizi walau sederhana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s