Pelajaran dari Nick Leeson

Anda ingat Nick Leeson? Akibat besarnya kekuasaan ditangan Nick Leson, Barings Bank yang telah berusia ratusan tahun (didirikan sejak tahun 1762 oleh Sir Francis Baring dan menjadi Bank Dagang yang paling tua di Inggris), bangkrut dan dijual ke Bank ING (Belanda) seharga GBP 1. Banyak hal yang dapat kita petik sebagai pelajaran disini, bahwa merusak lebih mudah daripada membangun.

Pada saat kasus ini terjadi, saya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana cerita yang sebenarnya. Dan saat beberapa minggu yang lalu, mendapatkan rangkain cerita yang ditulis oleh Bapak Jaka Eko Cahyono pada majalah Stabilitas, yang merupakan majalah Manajemen Risiko, yang diterbitkan oleh Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI), saya mencoba meringkas tulisannya disini, semoga berguna bagi rekan-rekan sekalian.

Barings Bank kolaps pada tahun 1995 akibat menanggung kerugian, yang sangat jauh di atas modalnya. Hal tersebut disebabkan karena tidak mampu memenuhi kewajiban trading, yang dibuka Leeson atas nama Bank tersebut. Nicholas William Leeson, yang popular disebut Nick Leeson melakukan transaksi gelap, yang sebetulnya di luar kewenangannya pada tahun 1992, segera setelah dia diperkenankan melakukan trading derivative di Barings Futures Singapore (BFS), unit bisnis Baring Bank yang menjalankan aktivitas Bank tersebut di Simex (Singapore International Monetary Exchange).

Sebagai trader, Leeson bertugas mengambil posisi proprietary (transaksi untuk akun sendiri) baik di kontrak opsi maupun kontrak berjangka di SIMEX. Leeson melakukan transaksi di luar wewenangnya. Namun dia dipandang sebagai anak ajaib (wonder boy) di London, turbo-arbitrageur yang single-handedly pada tahun 1993 menyumbang setengah laba BFS, dan setengah laba Barings pada tahun 1994, karena dia memanipulasi laporan. Padahal pada akhirnya bukti menunjukkan bahwa pada tahun 1994, Leeson menyebabkan Barings rugi USD 296 juta (tapi dia melaporkan untung USD 46 juta), sehingga Leeson diusulkan mendapat bonus sebesar USD 720.000

Ulah Leeson mulai terkuak pada tanggal 23 Februari 1995 ketika ia pergi ke Kuala Lumpur. Pada hari itu, auditor Barings Bank akhirnya menemukan penipuan yang dilakukan Leeson. Hari itu juga Chairman Barings, Peter Barings, menerima catatan pengakuan Leeson. Nasi sudah menjadi bubur. The Bank of England pada akhir pekan itu mencoba mem bailout, tetapi tak berhasil, dan Barings dinyatakan insolvent pada hari Minggu, tanggal 26 Februari 1995. Administrator yang ditunjuk mulai mengambil alih kendali Barings Group dan anak perusahaannya. Setelah dikalkulasi, aktifitas Leeson mengakibatkan kerugian sebesar USD 1,4 miliar, dua kali lipat dari modal dagang Bank tersebut. Akhirnya, ING Banks (Belanda) membeli Barings Bank pada tahun 1995 dengan nilai transaksi tunai GBP 1 tetapi ING memikul semua kewajiban Barings dan terbentuklah ING Barings sebagai anak perusahaan ING.

Kondisi Barings yang memungkinkan terjadinya penggelapan oleh Leeson

Kondisi yang mendukung atau memungkinkan terjadinya penggelapan oleh Leeson, sesuai hasil kesimpulan Badan yang dibentuk oleh Bank Sentral UK, untuk menyelidiki skandal Barings, antara lain:

1. Manajemen puncak Barings kurang paham soal bisnis proprietary (transaksi untuk kepentingan sendiri). Jika auditor dan manajemen puncak Barings memahami bisnis trading, mereka pasti tahu bahwa mustahil bagi Leeson memperoleh laba sebesar yang dia laporkan, jika tak mengambil risiko yang lebih besar pula. Dan semestinya manajemen puncak dan auditor mempertanyakan darimana asal laba tersebut. Kurangnya pengetahuan Barings tentang bisnis trading memang beralasan mengingat kebanyakan manajer senior Barings memiliki latar belakang merchant banking. Para anggota Assets and Liability Committee (ALCO), yang memantau risiko pasar, menyatakan kepeduliannya soal besaran posisi yang diambil Leeson, tapi kemudian merasa nyaman dengan pikiran bahwa eksposure Barings atas risiko pasar relatif kecil karena Leeson melakukan hedging atas posisi tersebut.

2. Tidak ada mekanisme Checks and Balance internal. Manajemen Barings melanggar aturan penting dalam bisnis trading, yaitu membiarkan Leeson melakukan settlement atas transaksi yang dilakukannya sendiri. Hal ini terjadi karena Leeson memegang wewenang di dealing desk dan back office. Secara singkat seharusnya back office melakukan pemeriksaan yang diperlukan untuk mencegah transaksi tidak sah dan meminimalisasi potensi penipuan dan penggelapan. Karena Leeson mengontrol back office dan karena Barings tidak memiliki unit independent untuk mengecek keakuratan laporan Leesons, maka laporan tentang risiko pasar yang dihasilkan oleh unit manajemen risiko Barings menjadi tidak akurat.

3. Pengawasan karyawan yang lemah. Leeson belum pernah memiliki lisensi untuk melakukan transaksi sebelum penugasannya ke Singapura, namun aktifitasnya hanya mendapat sedikit pengawasan dan tidak ada individu khusus yang secara langsung bertanggung jawab memantau strategi transaksi Leeson. Selain itu, Leeson banyak melakukan transaksi yang sebetulnya di luar wewenangnya, seperti pembelian dan penjualan opsi.

4. Kurangnya jalur pelaporan yang tegas. Transaksi illegal Leeson mungkin terfasilitasi oleh kekisruhan yang disebabkan adanya dua garis pelaporan: satu ke London untuk transaksi proprietary, dan ke Tokyo untuk transaksi yang dilakukan atas nama nasabah.

5. Prosedur kontrol Barings sangat jelek. Ini terlihat ketika menutup kerugian dari posisi yang dibuat secara illegal oleh Leeson. Kantor Pusat tidak mewajibkan Leeson membedakan antara variasi margin yang diperlukan untuk menutup posisi sendiri dan transaksi atas nama nasabah. Barings juga tidak memiliki sistem untuk mengkonsolidasikan dana yang diminta Leeson dengan posisi yang dia laporkan. Apabila Kantor Pusat di London telah menggunakan program penetapan margin yang disebut Analisis Risiko Portfolio Standard (Standard Portfolio Analysis of Risk) untuk menghitung margin, Kantor Pusat akan menyadari bahwa jumlah uang yang Leeson minta jauh lebih besar daripada aturan margin yang ada di SIMEX.

6. Tidak ada batasan transaksi. Barings tidak menetapkan batasan untuk posisi transaksi proprietary Leeson karena merasa tidak menanggung risiko pasar untuk transaksi arbitrase. Memang transaksi arbitrase hanya terpapari risiko pasar yang sangat kecil, tetapi transaksi tersebut mengandung risiko dasar dan risiko settlement. Risiko dasar terjadi jika harga di dua pasar tidak selalu bergerak bersamaan atau dengan laju yang sama, sedangkan risiko settlement terjadi karena pasar yang berbeda memiliki sistem settlement yang berbeda, sehingga hal ini bisa menciptakan risiko liquidity dan pendanaan.

Risiko funding terjadi, berasal dari penemuan, bahwa banyak posisi dibiarkan tidak dihedging. Risiko funding ini juga yang menenggelamkan Metallgesellschaft, sebuah perusahaan manufacturing Jerman pada tahun 1993. Kisah mengenai Barings dan Metallgesellschaft menunjukkan perlunya sebuah institusi memberi perhatian lebih besar pada kebutuhan pendanaan sementara untuk posisi yang sudah di hedged, maupun yang hanya setengahnya di hedged.

Manajer senior Barings terus mendanai aktivitas Leeson karena mereka mengira bahwa mereka membayar margin untuk posisi yang sudah di hedged, padahal mereka mereka sebenarnya merugi pada transaksi langsung. Metallgesllschaft di sisi lain, menolak memberikan pembiayaan sementara karena mereka mengira menderita rugi di kontrak yang sebenarnya di hedged. Kedua insiden ini menggambarkan perlunya manager senior lebih paham tentang posisi hedging.

7. Terpapari risiko kredit. Implikasi risiko kredit ditunjukkan dari pencairan dana tambahan ke nasabah, yang digunakan untuk memenuhi margin call. Namun departemen kredit tidak mempertanyakan mengapa Barings meminjamkan lebih dari USD 500 juta ke nasabahnya untuk bertransaksi di SIMEX, dan hanya menghasilkan return 10 persen. Juga tak jelas yang dimaksudkan Leeson untuk dibiayai, namun kerugian Barings akan sangat signifikan jika nasabah ini mengalami wanprestasi.

Komite Kredit di bawah pimpinan George Maclean bersikeras bahwa menjadi kebijakan Barings untuk membiayai transaksi margin oleh nasabah sampai bisa ditagih. Tapi tak ada batasan jumlah dana tambahan per nasabah. Nasabah yang meminjam dana dengan cara ini jelas tidak menjalani proses persetujuan kredit.

Bangkrutnya Bank tertua UK adalah contoh dari risiko operasi, yaitu risiko kelemahan dalam sistem informasi atau kontrol internal. Tulisan ini, saya ambil dari tulisan di majalah Stabilitas, sebagai pembelajaran bagi kita, betapa pentingnya sebuah sistem yang dapat mengontrol operasional suatu Bank, ataupun sebuah perusahaan. Built in control diperlukan, agar selalu terjadi check and balance secara internal, yang memungkinkan setiap kali terjadi kesalahan dapat segera di deteksi.

Sumber Bacaan:

Jaka Eka Cahyono. “Learning Leeson’s Lesson. Majalah Manajemen Risiko; Satbilitas. Edisi no.29 tanggal 15 April-15 Mei 2008 hal.30-32 dan edisi no.30 Mei-Juni 2008 hal.42-45


Iklan

8 pemikiran pada “Pelajaran dari Nick Leeson

  1. Jadi ingat kata-kata dalam komik Watchmen (filmnya akan muncul tahun depan).

    Who watch the watchment“.

    Alias, siapa yang mengawasi para bos-bos kita.

    Kunderemp,
    Saya mencoba menulis beberapa seri manajemen risiko, dari kasus yang ada…untuk pembelajaran. Bahwa untuk membangun sistem, diperlukan fungsi built in control.…..adanya perbedaan antara maker, checker dan signer. Semakin kompleks perusahaan, terutama untuk Bank yang risikonya sangat tinggi, maka ada tahapan-tahapan kewenangan (kewenangan di buat berjenjang). Peran IT sangat besar, agar orang tak bisa menyalahgunakan wewenangnya, dengan cara sistemnya di lock pada batas wewenangnya, diberi pasword.
    Pasword tak boleh dipinjamkan, dengan alasan GM tak ada di kantor. Jadi sebaiknya tetap di delegasikan pada bawahan besaran wewenang tertentu, dan penggantian pasword dilakukan dalam setiap periode tertentu.

  2. betul bu. manajemen resiko dari berbagai level memang perlu dibuat sistemnya dengan baik.

    Dari segi resiko finansial: setiap posisi yang diambil seorang manajer harus dibatasi besarnya. Demikian juga total posisi yang diambil seorang manager. Total posisi semua manajer pun mesti dibatasi.

    Di samping itu, sistem manajemen operasional juga mesti berjalan dengan baik.

    Selain Barings, baru-baru ini ada kasus Societe-Generale di Prancis. Posisi yang diambil trader terlalu besar.

    Jika suatu institusi mengambil posisi yang terlalu besar tanpa disokong modal yang kuat dan hal ini diketahui oleh pihak lain, maka institusi tersebut dalam bahaya. Ia masuk dalam resiko untuk mendapati “predatory trading” di mana pihak-pihak yang lain akan mendorong harga berlawanan dengan posisi institusi tersebut sampai berdarah-darah. Sampai suatu titik di mana institusi tersebut terpaksa menjual posisi mereka dengan harga yang sangat buruk sampai rugi besar. Baru setelah institusi itu menjual habis posisinya, harga kembali berbalik arah.

    Hal ini disinyalir terjadi pada kasus Societe Generale, Long Term Capital Management, dan berbagai kasus lainnya.

    Ihedge,
    Thanks sharingnya…..
    Bank-bank dinegara Eropa, masing-masing memberikan contoh kasus yang terjadi di Banknya masing-masing, dan dipelajari jika ada pertemuan antara para bankir di Eropa. Kasus ini dipelajari modus operandi nya sebagai bagian untuk perbaikan sistem, juga kebijakan….makanya kemudian keluar Basel I, II (yang akan belaku pada tahun 2010) dst nya.

    Dari berbagai risiko, menurut saya risiko operasional ini yang paling berat, karena kalau ada apa-apa tak ada back up nya (risiko kredit masih ada collateral, walau ada risiko tak meng cover)…dan langsung memakan modal Bank.

  3. welehweleh™… jadi keinget ama Betty Lafea. hwehe…

    (^_^)v

    satu lagi pelajaran ekonomi buatku. makasih, bu. (meski sebagian besar masih belum paham betul. hoho.)

    Farijs van Java,
    Lho…kok jadi Betty La Fea?
    Prinsipnya adalah perlunya garis batas wewenang, juga ada garis antara yang membuat policy, yang mengeksekusi, serta yang mencatat settlement nya. Hal ini agar tak ada penggunaan yang menyalahi wewenang…..

  4. Who’s controling who… Saya dulu pernah baca tentang ini sekilas, sekarang jadi paham kejadiannya.

    Memang benar controling adalah hal yang penting Bu, sistem dapat di set untuk mengontrol level of authority. Jaman sekarang hal ini bisa dilakukan dengan IT. Terima kasih ilmunya.

    Yoga,
    Benar….untuk kewenangan yang berkaitan dengan mengeluarkan uang bisa dikontrol melalui IT, di lock pada batas kewenangannya, dan pasword setiap sebulan sekali harus diubah, ini untuk menjaga agar tak bocor.
    Memang menjadi tak fleksibel, tapi inilah bagian dari kontrol risikonya.
    Manajemen risiko mencakup empat tahapan: melakukan identifikasi risiko, melakukan pengukuran risiko,melakukan pemantauan dan mengendalikan.

  5. Nick Leeson? Nama yang tidak terlalu akrab di telinga saya, bu Enny, hehehehe 😆 maklum bukan orang bank, hiks. Namun, menyimak postingan ibu, saya dapat informasi menarik bahwa bank tertua di UK ternyata juga bisa terbobol akibat banyak faktor yang melingkupinya. Nick Leeson begitu mudah memanfaatkan duit bank tanpa ada yang mengontrol dan mengawasi. saya jadi ikut berpikir nih, bu, bank yang sudah teruji pun ternyata masih ada celah pihak2 tertentu utk kepentingan diri sendiri. lalu, bagaimana dg bank di negeri kita ya bu. jangan2 pembobolan itu sudah sering terjadi, hanya tdk tercium oleh media sehingga rakyat jadi tdk tahu. apa mungkin begitu, ya, Bu?

    Pak Sawali,
    Bank memang merupakan lembaga yang risikonya sangat tinggi, oleh karena itu juga termasuk yang “high regulated“. Bank sentral harus setiap kali menyempurnakan aturan-aturannya, namun faktor utama adalah faktor manusia. Nick Leeson sebelumnya dipandang anak ajaib, sangat pintar, sayangnya kepintarannya tadi dilakukan untuk hal yang kurang baik….di satu sisi, dari hasil pemeriksaan Badan yang dibentuk oleh Bank Sentral UK, terlihat sebetulnya Barings Bank tak menguasai bidang trading(istilah diperbankan, bukan trading dalam arti umum yaitu perdagangan), sehingga banyak aturannya yang mudah dibobol oleh Nick Leeson.

    Bank juga mempunyai segmen tertentu pak, jadi intinya jangan bermain di area yang kompetensi SDM Bank tadi tidak sesuai. Di Indonesia dapat dipakai sebagai contoh, kan banyak Akademi Keungan dan Bank…namun setelah masuk Bank, tetap harus belajar, dan kemudian dilakukan perbaikan yang terus menerus. Perubahan dunia bisnis juga harus disikapi oleh bank, agar tak kehilangan pasar, namun juga tak mengurangi “prinsip kehati-hatian (Prudential Banking)”. Seperti Bank yang segmen nya Corporate, mau menambah unit bidang retail dan mikro, harus menyiapkan anak buahnya, karena unit mikro dan retail pendekatannya berbeda dengan segmen korporasi. Ini hanya sekedar contoh.

  6. Saya masih ingat Nick Leeson ini secara garis besarnya. Dia memang memilih investasi yang beresiko tinggi yang hampir mirip seperti judi. Mula2nya memang dia memberi keuntungan bagi employer-nya yang menggiurkan, untuk itu dia mulai ketagihan. Namun sejak itu kesialan selalu menimpa dirinya, bahkan bencana alam gempa bumi di Kobe, Jepang yang ikut mengguncang bursa di Tokyo ikut2an memusuhi dia dan membuat ia terus merugi…..

    Rupanya begitulah cara “judi” (spekulasi yang hampir tanpa analisa rasional) memikat para “korbannya” diiming2i dulu “kemenangan” yang memikat sebelum terjebak dengan “kekalahan” yang akan menyengsarakannya. Dan akhirnya memang Nick Leeson hanya bisa membuat perusahaannya terlibat dalam kerugian yang mendalam…..

    Omong2 si Nick Leeson ini kehidupan pribadinya juga berwarna-warni loh bu. Sewarna-warni perjuangannya menghalau kesialannya dalam berspekulasinya sendiri……

    Kang Yari NK,
    Dulu masalah Nick Leeson ini rame dibicarakan, tapi tak menyentuh bagaimana sebenarnya hal itu dapat terjadi. Melihat cerita di atas, Barings Bank sebetulnya memang tak menguasai bidang trading…dan ini yang dimanfaatkan oleh Nick Leeson. Namun kasus seperti ini akhirnya juga membuat Bank harus menyempurnakan aturannya, serta faktor utama adalah manusia. Jadi selain bagaimna Sistem dan Operasional Prosedur (SOP) harus mencerminkan manajemen risiko telah dikelola dengan baik, juga perlu adanya sistem yang di lock (dengan IT hal ini bisa dilakukan), juga built in control harus diciptakan dalam setiap pelaksanaan unit bisnis.

    Btw saya malah belum tahu cerita tentang pribadi Nick Leeson sendiri…kang Yari mau mempostingnya? Tentu akan sangat menarik….

  7. Saya tidak ingat Nick Leeson. Tapi ingat kalau dulu memang pernah lihat kasusnya di TV. Tapi, meskipun merugikan orang lain, dianya tetep kaya raya yah.

    Iwan Awaludin,
    Saya tak mengikuti prosesnya sampai Pengadilan dan seperti apa putusannya. Tapi dengan uang yang diperolehnya, pasti dia kaya raya, kecuali kalau dia dihukum seumur hidup, baru deh nggak bisa menikmati kekayaannya. Namun dengan uangnya, maka dia bisa membayar pengacara yang handal.

  8. Sebenarnya saya baru belajar mengenai manajerial dan perbankan, jadi saya juga masih bingung mengenai istilah-istilahnya, maklum belajar nya otodidak..hehehe.. mohon pencerahannya dari para master2 yang saya hormati..hehehe.
    Kalau menurut dari buku ‘Crisis Management’ Richard Lueke yg saya baca, segala krisis bisa terjadi berdasarkan ‘events of nature’, ‘health and the environment’, ‘technology’, ‘market force’ dan ‘rogue employees’.
    Melihat dari kasus Barings Bank ini dimana ‘rogue employees’ adalah si Nick Leeson yang dimana juga mendapatkan krisis dari ‘event of nature’ yaitu gempa bumi di Tokyo, Kobe yang menyebabkan harga sahamnya menurun, sehingga diaharus berusaha mengembalikan semuanya dengan cara apapun. Sebenarnya untuk Bank setua Barings Bank sangat sayang sekali jika tidak memiliki sistem penanggulangan krisis manajemen yang baik.
    Hal ini bisa menjadi pelajaran yang baik bagi para pelaku bisnis dan lainnya.
    Maaf kalau ada salah kata atau persepsi..terima kasih..
    Thanks to Leeson’s lessons.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s