Oleh: edratna | Juni 28, 2008

Risiko, mungkinkah ditiadakan?

Kita memahami, bahwa dalam setiap langkah mengandung suatu risiko, bahkan tak melakukan apapun ada risiko, yaitu risiko kehilangan kesempatan. Manajemen Risiko saat ini sudah melekat pada setiap aspek kehidupan, namun disadari pengelolaan risiko ini belum sepenuhnya disadari oleh semua pihak.

Justru karena adanya risiko ini, maka perusahaan asuransi diperlukan. Perusahaan asuransi berfungsi mengelola risiko pihak lain, dan untuk ini perusahaan asuransi sendiri perlu melakukan dan memahami fungsi risk transfer dan risk sharing. Kontrol risiko adalah menghindari, meminimalisir, menahan dan memindahkan.

Untuk itu, jika kita mempunyai suatu usaha, ada baiknya kita memahami titik-titik risiko yang akan terjadi pada perusahaan tadi. Untuk itu diperlukan menilai proses bisnis perusahaan tadi untuk mengetahui titik-titik dimana risiko ada kemungkinan akan terjadi. Di bawah ini saya mencoba untuk melihat risiko apa yang kemungkinan terjadi di perusahaan asuransi, sebelum kita menilai risiko personal, sehingga kita mampu memahami mengapa kadang perusahaan asuransi menetapkan premi tinggi untuk suatu jaminan tertentu.

a. Untuk perusahaan asuransi kerugian, yang jelas adalah risiko sebagai penanggung. Untuk ini perusahaan asuransi perlu melakukan penilaian terhadap orang/perusahaan yang akan ditanggung. Perlu dilakukan survei untuk menentukan kondisi pertanggungan asuransi apa yang paling tepat untuk calon yang akan dijamin asuransinya. Saya sendiri merasakan saat ingin memperpanjang asuransi mobil, pada saat ini perusahaan asuransi lebih ketat dan memerlukan waktu untuk melakukan survei, hal yang sekitar 10 tahun lalu sering tak dilakukan, apalagi jika yang diasuransi kendaraan, yang cukup dengan hanya membawa mobil yang akan diasuransikan ke perusahaan asuransi. Perusahaan asuransi tak perlu melakukan survei dimana lokasi rumah tinggal pemilik mobil, bahkan sampai perlu melihat letak rumah pemilik mobil. Namun banjir yang sering melanda Jakarta, membuat petugas asuransi juga menanyakan lokasi usaha, kebiasaan kita dan lokasi rumah, termasuk rawan banjir atau tidak. Setelah itu perusahaan asuransi juga perlu melakukan perhitungan, seberapa besar perusahaan mampu menahan risiko, karena jika dinilai risikonya terlalu tinggi, maka perusahaan asuransi akan menolak atau mengenakan premi yang lebih tinggi, serta mengasuransikan kembali kepada perusahaan reasuransi (reasuradur). Pemindahan sebagian risiko kepada perusahaan lain (reasuradur) merupakan bentuk kontrol risiko yang disebut spreading of risks. Risiko yang saat ini harus diperhitungkan adalah risiko katastropik. Bencana adalah jenis risiko katastropik, penyebabkan bisa faktor manusia atau bencana alam. Meskipun ada dukungan reasuransi, terkadang kerugian lebih besar dari dukungan perusahaan resuransi, sehingga perusahaan akan menanggung kelebihan kerugian yang tak didukung reasuransi. Bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, bisa menghancurkan perusahaan asuransi karena bisa menyerap modal karena premi yang diterima tak bisa menutup seluruh kerugian. Diperlukan prediksi tingkat kerugian, jika terlalu rendah kerugian akan lebih besar daripada yang diperkirakan. Namun jika memprediksikan risiko kerugian terlalu tinggi, yang berakibat pada besarnya premi, maka ada risiko konsumen tak mau mengasuransikan pada perusahaan asuransi tersebut. Oleh karena itu diperlukan analisis yang handal, yang dapat melihat peta kemampuan konsumen, namun juga kemungkinan risiko yang akan terjadi.

b. Sekarang kita melihat risiko dari personal. Rumah tangga dapat dianggap sebagai perusahaan, yang pengelolaan asuransinya memperhitungkan kemungkinan risiko yang akan terjadi pada anggota keluarga penghuni rumah tersebut. Pertama, adalah asuransi yang terkait dengan pengobatan. Jika anda bekerja pada perusahaan yang akan menanggung seluruh biaya pengobatan dari karyawan, anda berhak bersyukur, karena tak banyak perusahaan seperti ini. Kalaupun ada, ada bagian dari risk sharing yang harus ditanggung oleh karyawan, misalkan 10% dari total biaya. Itupun kadang tak semua biaya pengobatan dapat diganti, perusahaan akan memilih biaya pengobatan yang non rutin seperti perawatan di rumah sakit dsbnya, yang sebelumnya telah diteliti oleh dokter perusahaan bahwa memang layak diganti. Perusahaan akan memilih memberikan tunjangan pengobatan rutin yang dimasukkan dalam skala gaji karyawan. Bagaimana jika anda tak mendapatkan biaya pengobatan? Tentu saja anda harus memilih perusahaan asuransi, namun disini harus diingat, apa saja ketentuan dalam persyaratan asuransi tersebut, sehingga anda tak kecewa dikemudian hari. Atau anda cukup membuat cadangan yang disimpan dalam bentuk tabungan di Bank, yang hanya digunakan dalam kondisi mendesak. Kedua, adalah hal-hal yang dapat menimbulkan kerugian, terkait dengan harta benda anda dan keluarga. Sebagaimana telah disinggung pada butir a, dari sudut pandang konsumen, maka yang diperlukan adalah asuransi kendaraan dan asuransi rumah. Asuransi mobil telah umum dilakukan, namun umumnya perusahaan asuransi memberi batasan pada umur kendaraan. Untuk kendaraan roda dua, agak sulit mengasuransikannya, karena perusahaan asuransi menolak untuk menerima asuransi kendaran roda dua. Dulu saat anak saya baru dibelikan sepeda motor baru, masih ada perusahaan asuransi yang mau menerima asuransi untuk kendaraan sepeda motor walaupun hanya berupa total lost, namun itu hanya berlangsung 2 (dua) tahun dan setelah itu perusahaan asuransi tak mau menerima asuransi sepeda motor, mungkin karena risikonya terlalu tinggi. Sedangkan asuransi rumah, juga tergantung dari bentuk rumah serta harta benda yang berada dalam rumah tersebut. Jenis asuransinya juga bervariasi, apakah all risk atau total lost.

Yang penting, hidup ini berhubungan terus dengan risiko, sehingga perlu dilakukan pengelolaan risiko, yang tentunya disesuaikan dengan kondisi masing-masing, dan diprioritaskan unsur mana yang paling sering terkena risiko.


Responses

  1. Pembahasan tentang manajemen resiko yang mantap Bu. Kalau nggak salah, katanya setiap keputusan itu punya resiko. Tergantung kemahiran kita memanej agar minimal.

    Rafki RS,
    Betul….setiap langkah mengandung risko…bahkan tidak memutus apapun juga berisiko, paling tidak risiko opportunity cost

  2. bener sekali, bu, melakukan pekerjaan apa pun pasti ada risikonya, bahkan tak bekerja pun juga ada risikonya. dalam konteks ini, agaknya manajemen risiko bener2 dibutuhkan agar risiko2 yang kemungkinan terjadi bisa diantisipasi dan dikelola sehingga tak sampai menimbulkan akibat yang lebih fatal. risiko katastropik? kok jadi ingat istilah katastrofa, dalam teks sastra, hehehe 😆 kalau ndak salah, itu merupakan teknik yang digunakan oleh para pengarang dalam menyelesaikan masalah terhadap konflik yang dihadapi antartokoh.

    Pak Sawali,
    Wahh saya mendapat pengetahuan baru dan langsung buka kamus (KBBI).
    Katastrofe (sastra)…penyelesaian (akhir) suatu drama, terutama drama klasik yang bersifat tragedi.

    Sedang arti lain:
    (noun).. 1) malapetaka besar yang datang secara tiba-tiba. 2) perubahan cepat dan mendadak pada permukaan bumi; bencana alam

    Makasih pak….

  3. menantang resiko bikin hidup lebih hidup 😀

    Zoel chaniago,
    Betul….berarti orang tsb bersifat risk taker….bukankah pada setiap risiko ada peluangnya?

  4. kalau meniadakan sepertinya sulit, bu
    paling yang bisa dilakukan ya meminimalisir itu

    Wennyaulia
    Risiko memang tak mungkin ditiadakan…karena tak berbuat apapun tetap mengandung risiko.
    Yang benar adalah kita menghitung risiko yang mungkin terjadi, menyiapkan back up nya….dan meminimalisir risiko yang kemungkinan akan terjadi, seperti mengasuransikan.

  5. iy bu, memilih perusahaan asuransi juga penuh resiko
    orangtua saya belum lama ini menjadi korban perusahaan asuransi yang kolaps
    dan sampai sekarang belum jelas nasib perusahaan asuransi tersebut
    inisialnya AJ62

    Sigit,
    Betul…..justru karena itu saya tak terpengaruh tawaran berbagai pihak…saya tetap mengasuransikan harta bergerak pada asuransi yang telah saya kenal baik, dan selama ini tak sulit jika kita mengajukan klaim.
    Sama halnya dengan memilih Bank (jangan terpengaruh pada suku bunga tabungan yang tinggi, apalagi di atas suku bunga penjaminan, karena kalau ada apa-apa tak dijamin)….memilih perusahaan asuransipun juga mengandung risiko…jadi sebetulnya pilih perusahaan yang memasang laporan keuangan tribulanan pada media, sehingga kita tahu bagaimana kekutan perusahaan tsb. Saya lebih memilih investasi secara konvensional…yaitu dalam bentuk tabungan dan deposito, walau bunganya kecil, itupun pada Bank yang benar-benar saya tahu laporan keuangannya. Hanya sebagian kecil dalam bentuk saham.

  6. Mantap sekali, Ibu. Dengan memahami pengelolaan seperti ini, kita menjadi lebih mengenal serta menghargai hidup kita lebih dekat lagi.

    Daniel Mahendra,
    Kita memang harus memahami, mendalami, dalam pengelolaan keuangan agar kehidupan keluarga kita terjamin. Apalagi perubahan semakin cepat, jadi kita harus pandai mengantisipasinya.

  7. Menurut saya, resiko pasti ada. Dalam bisnis apapun selalu dipenuhi oleh resiko. Yang membuat repot resiko ini adalah (tentu saja) sifatnya yang erratic dan tidak bisa diprediksi. Masalah akan timbul dengan serius jika faktor resiko ini menjadi besar, dari sinilah mungkin lahirlah sebuah ‘seni’ penanganan resiko atau manajemen resiko.

    Di sini penanganan ini bukanlah untuk mengurangi resiko apalagi menghilangkan resiko, namun lebih banyak pada mengurangi impact yang diakibatkan kerugian akibat resiko yang bersifat erratic tersebut.

    Tapi walau bagaimanapun juga, benar kata setiap orang, resiko dalam setiap kegiatan dan pekerjaan selalu ada. Bahkan terkadang resiko ini menjadi faktor yang menarik bagi sebuah pekerjaan, kegiatan ataupun bisnis. Bahkan tak jarang manusia justru “memanipulasi” resiko ini menjadi sebuah bisnis yang besar……….

    Kang yari NK
    ,
    Adanya risiko memunculkan perusahaan asuransi.
    Banyak hal di dunia ini, adanya hambatan/kendala, memunculkan peluang di pihak lainnya. Yang penting kita harus pandai berhitung, seberapa besar kemungkinan terjadinya risiko, terutama untuk menyiapkan anak-anak sampai mereka bisa mandiri, agar tak terbengkalai pendidikannya.

  8. Bunda baca tulisan om Samuel di kompas deh hari ini … a risk taker untuk cinta 🙂 cinta juga berisiko ternyata.

    Rindu,
    Bercinta pun ada risikonya…bisa patah hati, dan kalau kebablasan akan merugikan, baik pada diri sendiri, keluarga dsb nya. Namun tanpa berani mengambil risiko, tak berani menerima atau memberi cinta, dunia akan terasa hambar.

    Yang penting adalah bagaimana berani menerima “cinta” secara sehat, tetap berpikir waras, dengan segala kemungkinan yang akan terjadi, sehingga kalau putus ga sampai berdarah-darah (Ngomongnya enak ya…padahal sakit karena cinta bukan main rasanya). Anakku dalam blognya memberikan tip tentang patah hati…baca di http://narpen.wordpress.com/2007/01/23/patah-hati/

  9. Meminimalkan resiko itu seperti apa ya? Karena kita punya banyak aktivitas maka rata-rata resiko setiap aktivitas itu diminimalkan, atau kita tetapkan resiko setiap aktivitas maksimum pada nilai tertentu?

    Iwan Awaludin,
    hehehe…mungkin agak ribet ya…pada dasarnya saya orang yang konservtif, sehingga kalau mau melakukan putusan besar (menerima cinta dari si Doi, mau diajak menikah, mau punya anak, milih berkarir dsb nya)…semua dianalisis pro’s dan con’s nya. Baru deh diputuskan dengan segala erhitungan risiko yang mungkin terjadi…..kok jadinya analitis banget ya.

    Sebetulnya nggak juga pak, kalau mau belanja ke mal, saya udah punya catatan mana yang mau dibeli, dan kalau mau gesek kartu, dikepala udah ada hitungan berapa plafond maksimal yang boleh saya belanjakan dsb nya. Tiap bulan saya sibuk membagi uang (yang makin sulit aja karena harga mahal), dan karena makin berat, ada beberapa hal yang dikurangi, agar selalu ada cadangan jika sewaktu-waktu anggota keluarga jatuh sakit.

  10. Bacaan berat *_* saya mampir saja..

    Ohya Bu, setelah saya cek ke Kamus Besar Bahasa Indonesia Online,
    http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

    Ternyata, kata baku untuk “risk” dalam bahasa Indonesia adalah “risiko”.

    ri·si·ko n akibat yg kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dr suatu perbuatan atau tindakan: apa pun — nya, saya akan menerimanya; dia berani menanggung — dr tindakannya itu

    Ade Bayu,
    Wahh thanks nih informasinya…tiap kali saya hanya baca dari KBBI….ada 2 edisi di rumah, dan ternyata tiap edisi berbeda….

  11. whoaaa.. aku baru tahu ada KBBI online

    Kunderemp,
    Yup…..lumayan bisa langsung buka, tak harus beli KBBI edisi terbaru.

  12. iya saya juga baru tau ada KBBI online

    Kris Tasrin,
    Saya juga baru tahu ada KBBI on line

  13. Sudah lama tidak mampir ke sini. Semoga semua baik-baik ya.

    Memang betul resiko itu ada dimana-mana. Tidak mungkin resiko itu ditiadakan 100 percent. Kemampuan melihat resiko lebih awal dan bersiap-siap melakukan plan B adalah keputusan yang patut diambil oleh semua kalangan baik yang masih muda maupun yang sudah mapan.

    Barry,
    Betul….saya juga lama tak berkunjung ketempatmu, selain sibuk, akhir-akhir ini agak kurang sehat, kalau kelamaan membaca tulisan pusing.

    Risiko ada dimana-mana…dalam perusahaan, setiap keputusan sudah dianalisis pro’s dan con’s nya, walau begitu dilapangan bisa terjadi tak sesuai planningnya. Oleh karena itu selalu ada second way out, bila first way out tak berjalan. Begitu pula dalam kehidupan sehari-hari, kita sendiri yang menilai seperti apakah tipe kita, agar keputusan dalam kehiduan kita sesuai dengan tipe risiko yang dapat kita tanggung.

  14. Benar Bu, di kantor kami dalam perencanaan proyek salah satu SOP-nya adalah memperhitungkan risk yang akan terjadi, tugas selanjutnya adalah mengatur (me-manaje) resiko, sehingga resiko menjadi lebih kecil, misalnya dengan membuat perencanaan yang baik, sisa resiko yang ada sebagian “disalurkan” pada pihak lain dalam hal ini pihak lain bukan hanya insurance company tapi dalam kasus yang kami hadapi juga memungkinkan peers yg lain menanggung resiko yang sama.

    Mengenai catastrophic insurance, kalau tidak salah Mexico dan Jepang adalah negara yang sdh mengasuransikan dirinya. Hal ini rasanya perlu dipikirkan oleh pemerintah kita mengingat sebagian besar wilayah tanah air berada di ring of fire, hanya saja biayanya juga tidak kecil.

    Yoga,
    Betul dan semakin tingginya inflasi, menyebabkan biaya juga membengkak….sayapun sekarang juga mesti berhitung asuransi apa yang sebaiknya saya gunakan, apakah semuanya perlu diasuransikan. Jepang memang perlu ditiru, negaranya sering terjadi bencana, tapi manajemen risiko untuk bencana hebat sekali….Indonesia pelu banyak belajar dari Jepang…

  15. di KBBI risiko disebutkan sebagai akibat.
    padahal dalam dunia internasional dan konteks perusahaan/personal, risiko adalah sebab-sebab yang dapat mengakibatkan keadaan yang tidak baik/tidak diharapakan.

    sepakat dengan bunda. resiko ndak mungkin dihilangkan. ianya harus dikelola.

    “hidup dalam bahaya” saran Iqbal (penyair besar Pakistan).

    Arifrahmanlubis,
    Risiko dalam konteks Manajemen Risiko perusahaan, merupakan suatu kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan (anticipated) maupun yang tidak dapat diperkirakan (unanticipated), yang berdampak negatif terhadap pendapatan dan permodalan perusahaan.

    Kalau kita anggap rumah tangga adalah suatu perusahaan, yang mempunyai strategi kedepan, tentu tujuan berumah tangga adalah pencapaian karir suami/isteri dan pendidikan anak-anak sampai mereka mandiri, maka kita harus bisa menghitung kemungkinan risiko yang terjadi dan mengamankannya, sehingga anak-anak tak dirugikan. Rasanya semakin lama hidup ini makin kompleks ya.

  16. bicara resiko dan asuransi , Karena ketidak telitian Nana mencari tahu produk yang ditawarkan oleh sebuah perusahaan asuransi dan pertimbangan yang kurang matang membuat Nana sangat berat menanggung premi asuransi tersebut. Sempat mo nyalahin sales asuransinya yang ga lengkap ngasih info… tp trnyata orgnya dah resign hahhaha.. apes. Dan akhirnya Nana putuskan untuk berhenti dan mengambil seluruh nilai investasi yang boleh diambil meski resikonya kehilangan sebagian dana yang tersimpan.

    dari situ Nana belajar bagaimana meminimalisir resiko dari setiap keputusan yang Nana ambil. itu sebabnya Nana berprinsip ‘selalu ada rencana b,c,d,e.. z untuk setiap rencana A’ hehehehe… Sekalian latihan ngiklasin resiko sekecil apapun tentunya hehehe.

    Biyung Nana,
    Kadang pembelajaran melalui hal yang menyakitkan, saya belajar banyak dari kesalahan yang dilakukan oleh ibu, terkait dengan masalah asuransi. Dan sebagai konsumen, kita tetap harus membaca semua hak dan kewajiban kita dengan teliti, serta jangan langsung setuju atau tanda tangan.

  17. Salam kenal Bu,
    Hidup memang sebuah pilihan..tergantung “kecerdasan” kita untuk melakukan pilihan-pilihan tsb. Dalam bidang safety risk manajemen, ada metode melakukan risk assessment, dengan meng-kuantifikasi resiko tsb. Dalam melakukan pilihan, yg penting Tidak ikut-ikutan memlilih ATAU Ikut-ikutan tidak memilih..he he he

    Aa Tisna,
    Salam kenal juga, thanks telah mampir.
    Prinsipnya, lakukan analisis dulu sebelum menentukan pilihan terutama pilihan yang menyangkut risiko tinggi.

  18. Mengelola resiko adalah tantangannya, bukan menghindari resiko, dimanapun itu konteksnya. Di rumahtangga, bisnis, maupun kerjaan. Resiko dalam keuangan keluarga adalah hal yang masih harus disosialisasikan lebih lanjut, karena masih banyak yang belum menyadari, yang udah mulai pun masih banyak yang sekedar ikut-ikutan ataupun merasa gak enak.

    Andrias ekoyuono,
    Betul….keuangan keluarga yang kurang tertata baik, akan mengakibatkan kita tak bisa menghadapi masa depan dengan tenang. Walaupun semakin banyak risiko dalam kehidupan sekarang ini, dengan mitigasi risiko, maka risiko dapat diantisipasi dan dapat diminimalisir.

  19. Saya kebetulan saat ini berada di unit Risiko yang me-sounding risiko yang mungkin timbul. Setelah prediksi kita akan risiko itu ada, selanjutnya adalah mitigasinya .. aksi² apa saja yang harus kita lakukan seandainya risko itu benar² terjadi.

    Hanya saja, acap kali orang hanya berhenti membicarakan risikonya saja. Kalo pun risiko itu diambil selalu diembel²i dengan kata : “Gimana nanti aja deh” hehehe .. sehingga, risiko malah menjadi sesuatu yang ditakuti.

    Erander,
    Sebetulnya risiko dapat dimitigasi, dan budaya sadar risiko harus digalakkan. Risiko tak perlu ditakuti, jika mitigasinya betul, justru akan semakin menantang apabila kita dapat mengantisipasi risiko…..menghitungnya, mengontrol dan memantaunya. Manajemen risiko sebaiknya dilakukan sejak awal dan merupakan bagian dari proses bisnis, dan melekat pada setiap tahapan proses.

  20. “Yang penting, hidup ini berhubungan terus dengan risiko, sehingga perlu dilakukan pengelolaan risiko, yang tentunya disesuaikan dengan kondisi masing-masing, dan diprioritaskan unsur mana yang paling sering terkena risiko.”

    Yup setuju bu, setuju banget…

    karena kita HIDUP di dunia…belum di SURGA…..

    Alex,
    Yup…sepakat…..

  21. kalau ndak ada resiko, hidup ndak bakalan jadi lebih hidup

    Ick,
    Betul….orang yang pandai mengkalkulasi risiko yang akan mendapatkan manfaat…

  22. Saya pernah buat jaga-jaga waktu berperjalanan jauh pas masa rawan banjir, tas saya berisi persediaan makanan dan minuman yang kira-kira cukup kalo saya terpaksa terdampar tiga hari.
    Itu masuk kategori antisipasi resiko ato paranoid ya bu?? 😀

    Emyou,
    Ga usah kawatir dibilang paranoid….tas saya isinya juga macam-macam…bahkan teman-teman tahu, kalau ada yang pusing, jatuh, luka, mesti minta obatnya dari saya…..karena saya selalu sedia obat pusing, Vicks dan tensoplast. Juga selalu sedia payung, maklum kebiasaan hidup di Bogor.

  23. wah, sepertinya sulit itu bu. hidup itu risiko. hoho.

    (^_^)v

    asuransi, masih berpikir tentang ikut asuransi jiwa. penting tidak, ya?

    Farijs van Java,
    Memang ada yang ditinggalkan? Bukannya masih bujangan?
    Saya cuma asuransi jiwa jika terkait dengan pinjaman, agar pinjaman dianggap lunas jika terjadi apa-apa. Lainnya saya hanya asuransi kerugian…asuransi kesehatanpun tidak, karena ditanggung kantor…dan suami ada ASKES…saya lebih suka menabung saja, lebih mudah mencairkannya.

  24. wah rasanya yang namanya hidup memang harus ada resiko, karna itulah hidup adalah sebuah pilihan… kalau ga ada resikonya rasanya orang ga akan berpikir lagi dalam melakukan sesuatu…

    Natazya,
    Betul…setuju…

  25. wah diriku pernah kuliah risk analysis
    semua tahapan memerlukan keputusan yang bijak sehingga resiko yang kemungkinan datang harus bisa ditanggulangi

    Hanggadamai,
    Analisis risiko memang digalakkan di segala bidang, agar kita semua sadar akan risiko, dan bisa berhitung langkah apa yang akan diambil

  26. wah Bu hampir perjalanan hidup saya penuh dengan resiko, resiko bagi saya adalah sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan petualangan berikutnya.

    Aminhers,
    Betul pak, tanpa berani menghadang risiko, berarti kita tidak berbuat apa2, yang bisa menyebabkan kehilangan kesempatan.

  27. Risiko, barangkali adalah suatu hal yang tidak disukai kebanyakan orang maupun instansi. Tetapi menurut saya justru karena ada risiko-lah seseorang/instansi mampu mengoptimalkan semua potensi yang ada. Bayangkan bila kita hidup tanpa menghadapi risiko. Barangkali hidup kita akan monoton dan tidak akan muncul inovasi-inovasi yang cerdas.
    Yang penting tentu saja bagaimana cara kita menghadapi & mengelola risiko tersebut. Bukan begitu Bunda?

    D_haris,
    Pengelola perusahaan sejak awal menyadari adanya risiko. Tanpa itu, perusahaannya tak mungkin berkembang. Tinggal bagaimana cara yang tepat untuk menilai, menghitung dan mengcover kemungkinan kerugian jika terjadi risiko. Jadi, intinya pada cara mengelola risiko…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: