Byarpet: Waktunya untuk menyesuaikan diri

Akhir-akhir ini rasanya segala permasalahan menumpuk menjadi satu. Jalanan rusak, macet, kalau hujan banjir dan sekarang ditambah dengan pemadaman listrik secara bergilir. Bagaimana kita menyikapinya, atau hanya mengeluh? Sudah waktunya kita berhenti mengeluh, dan menyesuaikan diri dengan situasi yang ada.

Pemadaman listrik secara bergilir sebenarnya telah ada sejak lama

Sampai dengan tahun 70 an, terutama pada musim kemarau, biasanya mulai dilakukan pemadaman aliran listrik secara bergilir. Bahkan saat saya masih kecil, pemadaman ini bisa berlangsung 3 hari giliran padam dan hanya sehari menyala, kemudian giliran padam lagi. Alasannya, antara lain karena air waduk menyusut. Pada saat itu, karena giliran telah diberitahukan sebelumnya, masyarakat menyikapinya biasa saja, maklum kemungkinan kehidupan saat itu juga belum banyak tergantung pada alat elektronik, dan kalau belanja ke pertokoan di kota kecil saya, telah biasa melihat toko-toko lampu penerangannya dari lampu teplok (lampu yang bahan bakarnya minyak tanah, menggunakan semprong).

Pada saat saya mahasiswa, sekitar tahun 1972, saat itu musim kemarau panjang, banyak sumur yang airnya kering. Pemadaman listrik di kota Bogor bahkan dilakukan sampai bulanan, dan karena tempat kost saya persis di samping IPB Baranangsiang, maka giliran pemadaman listrik mengikuti IPB. Atas permintaan IPB, karena laboratorium sangat dibutuhkan untuk praktikum, maka giliran pemadaman pada malam hari. Bayangkan selama sebulan lebih, saya harus belajar menggunakan lampu teplok dan saat itu musim ujian. Namun menurut pak Andi Hakim Nasution alm saat itu, kita tak boleh mengeluh, karena banyak di desa terpencil penerangan masih menggunakan lampu “ublik”, dengan bahan bakar minyak jarak (hal ini saya alami saat praktek ilmu sosiologi pedesaan dan harus menginap di kampung terpencil, hanya 6 km dari kawah gunung Galunggung).

Saat sudah menikah, di awal tahun 80 an, saya mengontrak rumah di daerah Rawamangun, dan pada saat inipun pemadaman listrik selalu terjadi, terutama karena musim kemarau. Dan alasannya karena air waduk yang digunakan sebagai pembangkit listrik dalam kondisi menyusut. Pemadaman jarang terjadi setelah akhir tahun 1983, saat saya sudah pindah ke daerah Cipete, dan menempati rumah dinas. Listrik padam biasanya karena perbaikan dan pemeliharaan secara rutin, dan segera menyala kembali jika perbaikan telah selesai dilakukan.

Yang menjadi prioritas adalah penyediaan air bersih

Saat masih tinggal di kampung halaman, air yang digunakan berasal dari air tanah, yang diambil dari sumur dengan menggunakan timba. Saat musim kemarau, air menyusut namun lebih jernih. Menimba air setiap pagi dan sore, mengisi bak kamar mandi dan penampungan air di dapur, menyiram tanaman menggunakan gembor (sejenis ember yang mempunyai corong dengan lubang-lubang kecil, tempat air memancar sehingga airnya menyebar dan tanaman tidak rusak), merupakan kegiatan rutin saya dan adik-adik sekaligus sarana melatih kekuatan fisik. Saat saya sudah lulus S1 dan mulai bekerja, ayah dan ibu yang mulai ditinggal anak-anaknya untuk sekolah di luar kota, mengganti sumur tadi dengan pompa listrik, sehingga memudahkan untuk menyiram tanaman dan tak perlu repot mengisi bak kamar mandi.

Pada waktu kontrak di Rawamangun, saat musim kemarau dan mulai pemadaman listrik secara bergilir, pompa air listrik juga tak dapat digunakan karena air tanahnya kering. Kami terpaksa menggali sumur di depan rumah dan memasang pompa air tangan. Airnya mengalir deras, bahkan para tetangga yang sumur nya kekeringan, ikut mengambil air melalui pompa air dari rumah kontrakan kami. Saat pindah ke rumah dinas, selain disediakan pompa air listrik, kantor juga memberi fasilitas langganan air melalui PDAM, sayangnya air PDAM ini berbau kaporit sehingga hanya digunakan saat listrik mati.

Di rumah saya sekarang, tak dilalui pipa PDAM, sehingga sangat tergantung pada pompa air listrik. Saya mulai berpikir juga apakah perlu membuat sumur yang menggunakan pompa air tangan, agar jika listrik mati tak kesulitan. Namun rasanya belum perlu benar, karena giliran listrik hanya 8 (delapan) jam sehingga masih ada kesempatan untuk menampung air, apalagi untuk air minum menggunakan aqua.

Kita terlanjur tergantung pada penggunaan alat elektronik.

Kehidupan rumah tangga sekarang dipermudah dengan adanya alat elektronik, seperti: lemari es, dispenser, rice cooker dan sebagainya. Belum peralatan lain seperti televisi, radio, LCD, komputer, internet yang semuanya tergantung pada listrik, karena kalau menggunakan baterei juga terbatas jangka waktu pemakaiannya. Saya ingat bapak JS, teman suami yang sering menulis di Kompas, beliau sampai saat ini masih setia menggunakan mesin ketik tuanya untuk menulis naskah, walaupun beliau mempunyai komputer siap pakai. Mesin ketik tua saya sudah lama sekali tak dipakai, dan terasa lebih berat, kalau dibandingkan dengan mengetik menggunakan komputer.

Karena listrik sering padam, saya pesan pada si mbak, tak perlu menyediakan makanan yang tergantung pada penyimpanan di lemari es dalam jumlah banyak. Kebetulan masakan di rumah lebih banyak masakan tradisional, sehingga cara masaknya juga tak tergantung pada barang elektronik.

Sebaiknya mulai dipikirkan menanam lahan kosong dengan tanaman bahan pangan

Saya ingat zaman tahun 60 an, saat itu presiden pertama kita menganjurkan menanam tanaman jagung di rumah, agar Indonesia bisa berdikari. Setiap hari murid-murid (saat itu saya masih SMP) harus melaporkan berapa jumlah tanaman jagung atau tanaman pangan lain yang ditanam, berapa tinggi batangnya dan jumlah daunnya. Karena lahan untuk membangun rumah di kota kecil saat itu relatif luas, sekitar 500 m2, maka halaman masih bisa ditanami berbagai tanaman yang mendukung kebutuhan masak sehari-hari. Selain punya binatang piaraan ayam dan kelinci, di halaman ditanami: bayam, kacang panjang, kangkung, waluh, kenikir,kelapa, jeruk nipis, pisang, belimbing dan lain-lain. Kami tinggal membeli beras, gula dan minyak, karena lainnya terpenuhi dari kebun kecil kami.

Kedaan ini tak mungkin dilakukan di rumah sekarang karena lahan terbatas, halaman yang bisa ditanami hanya berukuran 1 x 3 meter, itupun merupakan daerah resapan air tanah, termasuk tempat pompa air diletakkan. Hamparan lain, diberi paving block, yang disela-selanya ditanami rumput, agar selain bisa untuk resapan air, dapat digunakan untuk tempat parkir. Untuk penghijauan, saya menanam tanaman dalam pot-pot besar yang diletakkan persis di depan pagar, untuk mengurangi debu dan agar terasa segar bila angin bertiup.

Kita dipaksa untuk menyesuaikan diri agar bisa bertahan

Kondisi saat ini memerlukan penyesuaian dari seluruh anggota keluarga. Kalau dulu, saya masih bermalas-malasan jika tak ada tugas mengajar, mandinya nanti-nanti, sekarang begitu bangun pagi dan selesai sholat, maka segera membersihkan rumah, menyiram tanaman, dan segera mandi agar sewaktu-waktu listrik padam tak menjadi masalah. Kegiatan menguras kamar mandi, mencuci baju juga harus disesuaikan, pada jam-jam setelah kita yakin tak ada pemadaman listrik. Tugas untuk membuat bahan mengajar dan pekerjaan lain harus diselesaikan jauh sebelum waktunya, dan tidak menunggu mendekati dead line, karena listrik sewaktu-waktu dapat padam.

PLN sebenarnya telah memberikan informasi pemadaman listrik yang terdiri dua shift, yaitu; (1) jam 8.00 s/d 15.00 wib dan (2) jam 15.00 s/d 22 wib, yang dapat dilihat melalui http://www.plnjaya.co.id atau dapat melalui nomor telepon 123. Kenyataannya menghubungi nomor telepon 123 sangat sulit, karena banyaknya telepon yang masuk.

Teman-teman ada yang mulai membeli genset, karena beban pekerjaan yang banyak dan anaknya sudah sangat tergantung pada internet, namun saya bilang sama anak-anak bahwa kita harus bisa hidup dan bertahan dalam segala situasi. Saya jadi ingat saat krisis tahun 1997, saat itu anak-anakku masih sekolah di SMP dan SMA, saya memberitahunya bahwa jika kondisi makin sulit, maka ada kemungkinan ibu hanya bisa membeli beras kualitas rendah, malah mungkin dicampur dengan jagung, ketela dan sebagainya. Saat inipun, mereka sepakat kita bisa hidup dengan kondisi yang ada. Jika pasokan gas sulit, bisa membeli anglo dan mulai memasak pakai arang, menyetrika bajupun bisa menggunakan setrika arang. Yang sulit adalah menanam tanaman pangan di halaman, karena saya menaruh pot di depan pagar karena terbatasnya lahan. Tapi hal itu juga bukannya tidak mungkin. Kalau perlu tanaman Miana (sejenis tanaman perdu yang daunnya berwarna-warni), bisa diganti dengan tanaman bayam hijau dan merah. Selain bisa untuk hiasan, dan penghijauan, daun dan batangnya bisa dibuat sayur. Yang sudah ada adalah tanaman pace, yang buah dan daunnya konon dapat menurunkan kadar kolesterol dan tekanan darah tinggi.

30 pemikiran pada “Byarpet: Waktunya untuk menyesuaikan diri

  1. kalau mati lampu, biasanya saya langsung pergi ke mall bu… nyari hotspot dan colokan gratisan….

    Itikkecil,
    Lha kalau matinya malam, dan mendadak? Ini yang paling sulit.
    Kayaknya ide itikkecil bagus juga, bisa ke Chitos yang cuma jalan kaki 10 menit, mengobrol dengan si sulung….malah banyak yang bisa diperoleh.

  2. Setuju Bu, kita memang harus menyesuaikan diri, dan selalu mengucap syukur dalam segala hal …

    Harjo,
    Betul…hanya keikhlasan dan rasa bersyukur yang bisa menolong kita untuk tidak stres….

  3. Betul Bu, jaman dulu kita memang sudah kenal dengan giliran pemadaman listrik. Tapi kalau sekarang begitu lagi mungkin memang salah urus negeri kita yg seharusnya kaya sumber daya alam ini.

    Di sisi lain, waktu hari jum’at di ITB listrik mati banyak dari kami ke mesjid jadi bisa lebih awal. Kalau di rumah kena pemadaman listrik saya manfaatkan untuk lebih banyak beristirahat saja.

    Jadi dari dua sisi tsb. kita memang harus bisa mengambil hikmah-nya.

    Oemar Bakrie,
    Sebetulnya kadang kita justru lupa waktu karena kemudahan dan keinginan tahu yang terus menerus. Justru sekarang kita harus kembali menyeimbangan kehidupan, agar kita bisa bahagia, ….justru listrik mati anak sulung pulang cepat…bisa mengobrol dengan keluarga…

  4. Krisis harusnya membuat kita kembali mawas diri untuk bisa berhemat. Sayangnya kebanyakkan dari kita lebih suka mencari kambing hitam dibanding mengendalikan diri sendiri.

    Rafki RS,
    Ya…marilah kita berhemat….hemat waktu, hemat uang, juga hemat energi….bayarpun jadi lebih murah.

  5. Kalu saya mulai terbiasa, di Kalimantan kalau soal beginian lebih dulu he he … apaboleh buat, menguji kesabaran, dan berpikir lebih cerdas untuk mensiastinya.

    Ersis Warmansyah Abbas,
    Betul pak…sepakat. Saat pernah mengajar di Jayapura, listrik suka byarpet….ditengah mengajar listrik mati, infocus tak menyala. Tapi pelajaran tak dapat dihentikan karena dibatasi oleh target waktu dan materi yang harus diselesaikan.

    Saya minta muridnya membuka jendela lebar-lebar, menempelkan kertas pada dinding dan mulailah saya mengajar dengan kondisi yang remang-remang. Syukurlah muridnya semangat, bahkan saat itu pelajaran yang harusnya selesai jam 4 sore, mundur sampai hari benar-benar gelap.

  6. *menghela nafas panjang2*
    biar bagaimanapun, hemat perlu tapi pemerintah juga harus segera mengantisipasi hal ini, jangan selalu konsumen yang dikorbankan πŸ˜€

    Arul,
    Memang pemerintah harus segera mengatasinya. Baca Kompas hari Minggu tanggal 13 Juli 2008? Kalau tak segera diatasi juga akan menimbulkan bumerang…

  7. Listrik sudah menjadi kebutuhan pokok kali yah? Sepertinya akan terjadi huru-hara kalau listrik menghilang….

    Nanti blogging bisa-bisa kembali ke jaman majalah dinding lagi…

    Koko,
    Listrik mati…waktunya blogger istirahat, siapa tahu dalam gelap muncul ide tulisan….

  8. mudah2an kantor cempluk di mega kuningan dapat giliran pemadaman, biar pegawai nya bisa pulang cepat..hahaha πŸ˜€

    *ngacir takut ketahuan bos*

    Cempluk,
    Siapa tahu doanya kesampaian….dan bisa dipakai jalan-jalan menyusuri Jakarta.

  9. Sebentar lagi puasa Ramadhan, mungkin kita bisa sekalian puasa segala sesuatu yang berhubungan dengan informasi. Matiin tv, tape, gak baca koran, gak pakai komputer/internet… berarti gak ngeblog 😦
    Wah…. sulit kayaknya….

    Pencapaian kemajuan teknologi manusia telah menempatkan manusia pada tingkat ketergantungan yg tinggi terhadap energi, sedemikian rupa sehingga tidak “sempurna” kemanusiaannya tanpa semua dukungan sumber energi tersebut.

    Coretan pinggir
    ,
    Ketergantungan kita memang sudah sangat tinggi…..
    Listrik mati, bisa menggambar di kertas dengan lampu lilin, kalau listrik menyala tinggal dipindahkan ke kompi….

  10. jadi ingat dulu pas masih di pekalongan. masih sering kena pemadaman listrik. yah, gara2 banyak kerusakan jaringan listriknya. yah, kondisi perlistrikan negara kita memang masih menyedihkan, bu. jadi teringat juga sama buku laporan dari world bank soal perlistrikan negeri kita yang ga tau disimpan di mana.

    (^_^)v

    <em>Farijs van Java,
    Mungkin memang benar, perlu dilakukan audit energi, agar diketahui benar permasalahannya, sehingga dapat diatasi.

  11. siyalnya kemaren pas mudik sekitar akhir Juni 2008, selama seminggu di rumah(Jatim), listrik padam selama 3 hari, tapi berselang seling, hari ini mati, besok enggak begitu seterusnya, bener2 gak enakkkk buangettt…. . padahal meski di desa skrg sudah banyak peralatan rumah tangga yang pakai listrik, bahkan sumur pun sudah jarang, digantikan dengan pompa air listrik. bisa dibayangkan kl seharian mati listrik dan kita lagi gak punya persediaan air.

    Pinkina,
    Kayaknya kita harus mulai memikirkan menggali sumur pompa tangan…

  12. memang kadang2 gelisah juga kalau sudah biasa memanfaatkan listrik sbg sumber daya tiba2 terjadi pemadaman. namun, memang kita perlu mencari cara dan menyesuaikan diri seperti yang ibu enny sampaikan. mengeluh pun tak akan ada gunanya, malah akan membebani diri. maaf, numpang OOT, bu, makasih banget bu enny infonya ttg bse itu. alamat rumah sudah kuemailkan. matur nuwun sanget, bu.

    Pak Sawali,
    Iya pak, bagi rakyat seperti kita, tak bisa hanya mengeluh yang membuat tambah stres, tapi harus menyesuaikan agar pendidikan dan keperluan keluarga tak terabaikan gara-gara lampu padam.
    Btw, tapi sabar ya, kata anakku (sekarang masih baksos di Bandung) masih harus diubah ke VCD.

  13. Byarpet emang bikin semuanya jadi mampet ya Bu ?

    sekarang di bogor juga mulai sering dilakukan pemadaman.

    tapi alhamdulillah, daerah saya kok jarang kena πŸ™‚

    tapi suami di kalimantan sana, sering mengeluh masalah byarpet ini 😦

    komunikasi kita via internet jadi suka terganggu 😦

    Menik,
    Kayaknya di luar Jawa memang lebih sering padam, dibanding pulau Jawa

  14. Sampai sekarang aku selalu menyiram tanaman menggunakan air limbah.

    Juliach,
    Jadi ingat ibu alm, air bekas cucian beras digunakan untuk menyiram tanaman anggur, biar sering berbuah….

  15. Yang paling “aneh” adalah, seperti yang kemarin saya lihat di Metro TV (lupa lagi acaranya apa), dikatakan bahwa “PLN tidak bisa memenuhi permintaan pemakaian tenaga listrik terutama dari industri yang terus berkembang”.

    Saya jadi bengong, lho itu kan sama saja berarti: Indonesia belum siap menerima investor2 baru yang berguna untuk perkembangan industri dan perekonomiannya. Aneh, wong kita sangat mengharapkan pemodal2 asing datang ke negeri ini tapi ternyata kita “tidak siap”. Benar-benar negeri yang kacau balau aneh…….

    Kang Yari,
    Sebetulnya memang aneh, kita menggalakkan agar investor mau menanamkan modalnya di Indonesia, menggalakkan Visit Indonesia Year 2008….ehh listrik giliran padam….betul kata Kompas, “Selamat datang di Republik Gulita”….

  16. Lebih aneh lagi di Kalimantan, tempatnya batu bara tapi listrik sulit setengah mati. Inikah yang namanya salah kaprah?

    Yoga,
    Kayaknya kita banyak yang pintar, tapi kayaknya kurang apa ya….
    Apalagi akan mulai kampanye, dan partainya banyak banget….
    Siapa ya yang akan janji tak membuat listrik giliran?

  17. Sebenarnya ini bukti betapa semrawutnya kebijakan listrik nasional..sudah sejak lama kita terpaku dengan BBM Minyak, padahal dengan melimpahnya panas bumi,angin, ombak sebagai enetrgi alternatif nggak pernah benar benar di manfaatkan.

    Mas Iman,
    Memang betul….jadi bagi orang awam kayak saya cuma bingung, memikirkan semua ini.

  18. Dilla RumahKami

    Berdamai dgn keterbatasan ya, Bu?

    Daerah rumah orangtua saya di Palembang dulu pernah mati lampu setiap malam selama bbrp bulan. Waktu itu menjelang ebtanas. Kesalnya..

    Kapan ya, perusahaan negara memberikan kenyamanan pada rakyat? 😦 masak rakyat hrs bersabar terus?

    Dilla,
    Sebenarnya tidak sabar Dilla, tapi mau apa lagi?
    Mengeluhpun tak bisa, kita udah pusing memutar uang agar cukup untuk sebulan, ditambah urusan listrik….mau tak mau ya harus menyiasati agar tak makin stres.

  19. Kalo saya menyikapinya dengan melihat jadwal pemadaman terus nyiapin lilin yang banyak deh…

    Rindu,
    Setelah lilin menyala, siapkan kertas, untuk mulai membuat puisi….
    Blogger jangan-jangan nanti makin terasah kemampuan bikin puisinya…

  20. waaa…
    agak susah bu jaman sekarang untuk gak tergantung dengan listrik
    nge-blog ajah pake listrik kan πŸ˜€

    tapi bagaimanapun keadaan ini harus kita lalui bersama

    ayo, bisa….

    Sigit,
    Memang pusing kok, tapi terus apa….?

  21. hmm.. byarpet..

    mbak ratna membawa saya kembali pada masa kecil, dimana listrik merupakan hal yang wah (sy tinggal 14km dari kawah Galunggung dulu).

    saya sepakat, kalo kita bisa mengurangi ketergantungan kita pada alat-alat elektronik. maka secara tidak langsung kita membantu pemerintah dalam pemenuhan energi listrik, sekaligus membudayakan hidup lebih bijak.

    salamhangat.
    berbagi cerita..

    Bangzenk,
    Desanya kalau nggak salah bernama Sukaratu….entah setelah gunung Galunggung meletus tahun 1982, apakah desa tsb masih ada. Jalannya dari Wanaraja, naik ke atas…..airnya menampung dari air hujan, untuk keperluan setahun……kalau nggak begitu ya mandi disawah…

  22. Paling tidak hari ini kita dilatih kembali untuk belajar SABAR, karena kalau membalikan lagi kenyamanan ke jaman dulu, waktu gak bisa di balikan lagi. Masa lalu biarlah jadi kenangan …sekarang kita tinggal nentuin masa depan mau di bikin kayak apa. Kondisi endonesa yang seperti sekarang, bukankah ini peluang agar kita bisa berfikir ekstra, mengantisifasi semua kelangkaan yang sudah terjadi saat ini. Siapa tahu ada undang2 perlindungan untuk kelangkaan BBM dan Listrik. Binatang aja kalau langka di lindungi koq.

    Pakde,
    Betul….dalam kegelapan, akan ada kedamaian (lha nggak ada suara televisi, radio dll)…dan bisa berpikir…

  23. benar! masalahnya sekarang kita memang sudah tergantung sekali sama alat elektronik…

    ingat satu malam pas mati lampu dan batre hp blum di cas, telpon rumah juga yang menggunakan listrik, sepi ga ada bunyi2an karna batre laprop juga mati… arrrhhhh i hate silence!!!

    dan kemarin di kantor yang memang tidak menggunakan fasilitas dengan pertimbangan cost yang terlalu besar, musti terpaksa mati gaya dari jam 7-3 sore lebih sedikit…

    Natazya,
    Bahkan karena ketergantungan teknologi ini, banyak juga rumah tangga yang sudah dilengkapi oleh genset. Semoga saya tak perlu tergantung seperti ini….

  24. wah ibu menceritakan masalah sekaligus menawarkan bagaimana sikap yang perlu diambil. daya adaptasinya tinggi πŸ˜€

    Saut,
    Mungkin karena kehidupanku saat dikota kecil dulu begitu sulit, kadang ada uang tapi barang tak ada. Keadaan ini yang membuat saya mendidik anak-anak untuk bisa menyesuaikan diri dalam keadaan apapun. Di saat tetangga menggunakan AC di setiap kamar, saya bertahan hanya ruang keluarga, ruang belajar dan kamar ayah ibu (nggak pake juga aneh, karena AC dari kantor…maklum dulu di rumah dinas). Mengapa? Saya kawatir jika diajak pulang kampung, anak saya bisa culture shock, karena di rumah kampung tanpa AC, mandi di sumur dsb nya.

  25. Betul sekali, Bu. Kita sudah sangat tergantung dengan alat-alat elektronik.

    Saya yang bekerja di bidang publishing, sangat-sangat tergantung dengan semua benda itu. Dalam beberapa minggu ini hal tersebut sungguh sangat mengganggu, karena listrik biasanya mati seharian penuh dari pagi hingga sore. Padahal deadline tidak pernah punya tolerir akan hal itu. Yang terjadi adalah kontra produktif.

    Komputer, printer, scaner, server internet. Sungguh dilema.

    Daniel Mahendra,
    Dan kenyataanya kalau menggunakan genset, biaya operasionalnya lebih tinggi dibanding listrik dari PLN. Maklum hampir semua rumah sekarang ini pake AC, juga perkantoran…padahal dulu kantor jendelanya besar-besar, tanpa AC tapi halaman luas. Sekarang, kantor tanpa AC di Jakarta sudah kecil kemungkinannya, karena polusi tinggi, dan cuaca panas menyengat.

  26. πŸ˜€ partai apapun yang janjiin listrik membaik saya pasti pilih yang golput.

    Begini Bu, teman saya yang di PLN bilang PLN sudah tidak butuh request abonemen baru. Dilihat-lihat kehidupan pejabat-pejabatnya juga sudah makmur dan jauh di atas rata-rata masyarakat Indonesia umumnya. Jadi wajr kalau PLN “kurang usaha”, sudah saatnya diswastanisasi paling tidak dengan menggunakan alternatif yang murah dan ramah lingkungan seperti tenaga angin dan matahari.

    Yoga,
    Memang aneh ya, perusahaan kok menutup pembeli baru. Jadi ingat telepon kabel tahun 80 an, betapa inginnya saya paang telepon di kompleks rumah dinas (karena hanya satu untuk seluruh kompleks dan di rumah pak RT), namun saat itu PT Telkom lagi jaya-jayanya dan monopoli. Baru tahun 90 an di pasang di seluruh rumah dinas…saat itu saya sampai udah beli “Bagphone” yang harganya Rp.7 juta (saat itu harga Hp Rp.17 juta). Bayangkan, sekarang di rumah ada telepon kabel, namun jarang digunakan, dan enaknya tak banyak berdering, karena si mbak juga menggunakan Hp yang semakin murah karena banyak pesaingnya. Btw, sayapun sekarang lebih banyak menggunakan IM3, daripada Telkomsel yang sering dapat sms aneh…mungkin karena paska bayar dianggap kaya dan dikirimi sms aneh-aneh.

    Mungkin kalau PLN tak monopoli, bisa lebih efisien ya….

  27. heryazwan

    Memang susah kalau harus lepas dari listrik. Kita sudah sangat tergantung….
    Kayaknya setiap rumah tangga dan kantor harus lebih efisien. Bila perlu, tidak boleh lembur dan hari kerja dikurangi…Setiap karyawan wajib bekerja secara efisien…
    (Ah, nanti nggak sempat ngeblog lagi, dong).
    Hi hi….
    Memang repot ya masyarakat modern ini…

    Heryazwan,
    Pada saat teman-teman mendesain rumahnya “full AC“, suami mendesain rumah yang ramah lingkungan. Banyak angin-angin seperti rumah di kampung, udara dan matahari bebas memasuki rumah, sehingga tak perlu lampu pada siang hari. Agar hawa rumah tak panas, dipergunakan glass wool di genteng, sehingga penyerapan sinar matahri bisa dikembalikan lagi, dan di dalam rumah terasa sejuk. Risikonya debu sangat banyak, jadi harus rajin memberisihkan, mau ditanami tanaman yang besar-besar untuk menyerap debu, halaman terbatas.

    Mungkin diperlukan kedisiplinan bagi masing-masing penghuni rumah dan perkantoran, kalaupun pake Ac disetelnya jangan sampai di bawah 24 derajat celcius.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s