Oleh: edratna | Juli 16, 2008

Perlunya pembenahan dokumentasi dan administrasi keuangan keluarga (sebuah catatan untuk kedua anakku)

Hidup di zaman sekarang, sangat berbeda dengan zaman dimana saya masih kecil sampai remaja. Zaman dulu belum ada yang namanya NPWP, Pajak Bumi Bangunan masih bernama Ipeda, surat tanah banyak yang belum ber sertifikat dan belum ada yang namanya Kartu Kredit, Kartu Debet maupun Kartu Diskon. Namun kemudahan hidup di saat sekarang juga memerlukan pengelolaan keuangan secara benar, agar tak terjerumus pada hutang piutang yang akan mengacaukan kehidupan.

1. Sertifikat tanah

Pada saat ayah tiada, saya dan adik-adik baru menyadari kalau tanah keluarga belum bersertifikat. Karena bekerja di Lembaga Keuangan, saya menyadari betapa pentingnya tanah yang telah bersertifikat karena akan memiliki hak preference. Akhirnya adik bungsu yang saat itu masih bujangan, yang mendapat tugas mengurus pensertifikatan atas tanah.

Pengalaman ini membuat saya dan suami, langsung mengurus sertifikat pada saat membeli tanah, yang saat itu melalui KPR/BTN. Pada saat akte jual beli di depan notaris, yang dihadiri pejabat Bank BTN dan perusahaan pengembang, saya langsung menanyakan berapa lama saya bisa tahu bahwa tanah SHGB atas nama perusahaan pengembang telah berpindah menjadi atas nama saya, walaupun masih tetap dijaminkan di BTN sampai KPR lunas. Syukurlah, tiga bulan sejak akte jual beli ditanda tangani, saya telah menerima copy SHGB atas nama saya, yang saya terima dari perusahaan pengembang. Selanjutnya saya segera meningkatkan menjadi serifikat Hak Milik, setelah pinjaman di BTN lunas.

Peningkatan status tanah menjadi Hak Milik akan memudahkan, karena setiap tahun kewajiban kita hanya membayar PBB atas tanah/bangunan tersebut, sedangkan tanah dengan status Hak Guna Bangunan harus diperpanjang pada saat Hak Guna Bangunan jatuh tempo. Bila saat jatuh tempo Hak Guna Bangunan, Kepala Keluarga yang memahami masalah tersebut telah tiada, ahli warisnya tak ada yang menyadari, maka bila tanah/bangunan haknya tak diperpanjang, secara hukum sebetulnya tanah tersebut telah kembali kepada pemerintah, dan untuk memperpanjang perlu prosedur yang cukup lama serta biaya yang cukup besar. Bila memungkinkan, mengapa kita tak sekaligus mengurus menjadi hak milik, sehingga biaya yang besar cukup dikeluarkan satu kali saat proses peningkatan status tanah/bangunan tersebut.

2. Pembayaran pajak

Ada beberapa jenis pajak yang harus dibayar ataupun dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan untuk suatu tahun pajak, antara lain Pajak Bumi Bangunan (PBB) dan SPT untuk pajak penghasilan. Sedangkan pajak yang lain, seperti PPN sudah diperhitungkan pada saat kita membeli barang/jasa, atau pembayaran fiskal jika akan bepergian ke luar negeri.

Pajak Bumi Bangunan : Pada umumnya pada bulan Februari, petugas dari Kelurahan telah membagikan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) kepada masing-masing pemilik tanah /bangunan di wilayahnya. PBB ini harus dilunasi paling lambat akhir bulan Agustus. Besarnya nilai pajak tanah/bangunan sudah ditentukan berdasarkan NJOP (Nilai Jual Obyek Pajak) tanah/bangunan di wilayah tersebut. Berdasarkan SPPT ini, kita akan membayar sejumlah uang yang telah ditetapkan dalam SPPT tersebut, dan mendapatkan bukti berupa Surat Tanda Terima Setoran (STTS). Apabila orangtua meninggal, maka warisan akan jatuh pada anak-anaknya, dengan demikian PBB ini akan terus melekat pada kepemilikan tanah/bangunan yang dimiliki.

Pajak Penghasilan; sesuai undang-undang no. 28 tahun 2007 tentang perubahan ketiga atas undang-undang nomor 6 tahun 1983, tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, telah diatur bagaimana para wajib pajak harus melaporkan Surat Pemberitahuan Pajak Tahunan (SPT), paling lambat pada akhir bulan Maret tahun berikutnya. Untuk dapat melaporkan SPT nya, maka masing-masing Wajib Pajak (WP) harus mempunyai NPWP. Nomor Pokok Wajib Pajak atau NPWP, adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya.

Bagaimana jika orangtua meninggal? Jika orangtua meninggal, maka ahli waris harus mengajukan penghapusan NPWP atas nama orangtua, kepada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di lokasi tempat pelaporan SPT, dilampiri surat kematian.

3. Kartu Kredit

Pada saat ini, hampir semua orang mempunyai Kartu Kredit, bahkan ada yang mempunyai banyak Kartu Kredit. Tagihan kartu Kredit apabila tak dikelola secara baik, akan menimbulkan bumerang. Bagaimana jika pemegang Kartu Kredit ini mendadak meninggal? Apabila kita menyadari, bahwa setiap kali bisa terjadi risiko yang tak terduga, pemegang Kartu Kredit akan membeli crediet shield premium charge, yang pembayarannya langsung dibebankan sebesar 4 persen, dan critical illness sebesar 3,5 persen dari total tagihan bulan yang bersangkutan. Dengan membayar sebesar prosentase tertentu yang sekaligus dibebankan pada tagihan Kartu Kredit, maka pada saat pemegang Kartu Kredit meninggal, ahli waris dapat memberitahukan dan melakukan klaim kepada Bank penerbit Kartu Kredit, sehingga tagihan terakhir dapat dihapuskan.

Bagi saya memiliki Kartu Kredit hanyalah sebagai pengganti uang tunai, dan hanya digunakan sesuai kebutuhan yang memang telah dianggarkan. Tagihan Kartu Kredit ni, sejak saya mempunyai kartu kredit di tahun 90 an, selalu dibayar lunas sebelum jatuh tempo, karena jangan sampai mempunyai pinjaman melalui kartu kredit karena bunganya sangat tinggi.

4. Tagihan lainnya

Tagihan lainnya sangat tergantung pada kondisi masing-masing orang, namun umumnya adalah: tagihan telepon, listrik, air, jaringan internet dan lain-lain. Untuk mempermudah, saya menggabungkan tagihan internet, handphone menjadi one bill dengan tagihan Kartu Kredit. Namun pembayaran telepon rumah, listrik dan air masih dibayar sendiri, karena bukti pembayaran telepon, dan listrik masih diperlukan jika kita ingin mengajukan sesuatu. Apalagi saat ini pembayaran listrik dan telepon dapat dilakukan secara on line, sehingga kita bisa melakukan pembayaran melalui ATM atau melalui salah satu bank yang terdekat dengan rumah tempat tinggal kita.

5. Hutang piutang lainnya

Disadari, untuk memiliki suatu barang investasi yang harganya mahal (rumah, mobil dll), pada umumnya dengan menggunakan hutang pada Bank atau pihak ketiga lainnya. Saya membeli rumah menggunakan KPR BTN, dan kemudian saat merenovasi/membangun rumah yang kami tempati saat ini, melalui pembiayaan pada Bank Syariah. Untuk memudahkan, agar bila terjadi risiko tak terduga, dan tak membebani anak-anakku, maka sekaligus saya mengambil asuransi jiwa, yang menjamin pembiayaan yang saya ambil. Dengan membeli asuransi jiwa, bilamana terjadi sesuatu pada orang yang mengajukan pembiayaan (kredit), maka pinjaman dianggap lunas, dengan demikian tidak membebani ahli waris. Pinjaman ini angsurannya dilakukan secara langsung melalui pemotongan uang gaji bulanan, dan lunas tepat sebelum saya melaksanakan Masa Persiapan Pensiun (setahun sebelum masa pensiun di mulai).

Mengapa saya menulis seperti ini? Karena pada umumnya orangtua lupa, apa saja kewajibannya, yang nantinya dapat memberi beban pada anak-anaknya. Sebaiknya orangtua telah memberitahu kepada anak-anaknya apa saja kewajiban orangtua selama ini, dan apa nantinya yang harus diteruskan oleh anak-anaknya.

Saya teringat kepada temanku yang mendadak meninggal karena sakit jantung, dan sebagai kepala keluarga selama ini semua hal diurus oleh kepala keluarga. Isteri dan anak-anak yang ditinggalkan sama sekali tidak tahu harta yang dimiliki, karena selama ini diurus oleh suami. Bahkan sang isteri hanya diberikan uang untuk belanja rumah tangga bulanan, dan tak dibebani apa-apa. Pada saat isteri menerima tunjangan alm suaminya, bonus dari kantor, yang belum sempat diambil suami, isteri tadi terkaget-kaget karena selama ini tak pernah memegang uang banyak, bahkan tak mempunyai rekening di Bank, padahal posisi suaminya sebelum meninggal adalah Deputy General Manager. Akhirnya ditemani oleh seorang staf, isteri temanku diantar untuk membuka rekening di Bank. Saya trenyuh sekali mengingat hal ini, mungkin maksud temanku baik, agar isterinya tak terlalu memikirkan hal yang dianggap berat, dan hanya cocok dipikirkan oleh kepala keluarga, namun kita tidak tahu apa yang terjadi didepan.

Sambil menulis ini, sekaligus saya merapihkan catatan dan administrasi….dan ternyata banyak hal yang belum pada tempatnya. Administrasi yang rapih apabila kita bisa mencari dokumen atau barang yang diperlukan dalam waktu cepat. Bagaimana dengan anda, apakah dokumentasi dan catatan keuangan anda telah rapih?

Iklan

Responses

  1. Terima kasih untuk informasi ini Bu. Kalau ditanya apakah dokumentasi dan catatan keuangan saya telah rapi? Jawabannya, saya mendokumentasikannya, tapi belum disiplin meng-update catatannya, jelas dengan sadar saya menyiapkan perangkap kesibukan buat diri sendiri. 😦

    Yoga,
    Memang harus dirapihkan sejak awal (penginnya), karena akan mempermudah. Saat pengurusan pensiun, teman-teman saya banyak yang kelabakan, karena surat pengangkatan pegawai sementaranya hilang…untungnya dikantor, selain SK perorangan, ada yang SK per angkatan. Dan kebetulan dokumen saya rapih, akhirnya banyak dipinjam dan difotokopi. Jadi saat mau pensiun, saya menyiapkan empat bundel dokumen: untuk keperluan jamsostek, untuk keperluan asuransi, untuk keperluan pengambilan uang tabungan (setiap karyawan dipotong gajinya, yang boleh diambil saat udah bekerja 10 tahun, 25 tahun dan saat pensiun), serta untuk mendapatkan uang pensiun. Syukurlah, karena rapih, uang pensiun sudah langsung diterima pada akhir bulan tersebut. Saya pengalaman saat ibu alm pensiun, berbulan-bulan tak terima uang, dan tak berani cerita ke anak-anaknya, karena kasihan pada anaknya….hal yang saya sesali sampai sekarang, karena saya tahunya terlambat.

  2. wah, itulah repotnya kalau harus berurusan dengan masalah administrasi. saya mungkin termasuk orang yang suka ceroboh dalam hal pendokumentasian, bu enny, hehehe πŸ˜€ pernah suatu ketika surat2 penting dalam satu map penuh tertinggal di kantor dinas p dan k. repotnya lagi, temen yang menemukannya malah membiarkan saya kelabakan. untung masih bisa diurus, hiks, padahal lusanya sangat saya butuhkan untuk sebuah keperluan. belum lagi urusan rumah, mulai dari sertifikat, bpkb, dll. karena saya suka ceroboh, saya minta tolong untuk mengarsip dan mendokumentasikan surat2 apa pun, karena istri saya sangat cermat dan teliti. terima kasih postingannya ini, bu, mengingatkan saya utk berhati2 dan cermat dalam hal mendokumentasikan surat2 penting.

    Pak Sawali,
    Nggak apa-apa, diserahkan pada ibu saja…yang penting semua tertata, agar mudah dicari jika diperlukan sewaktu-waktu.

  3. harus mulai merapikan dokumen2 seperti ini Bu. setidaknya mulai lulus kuliah, dokumen kelulusan sekolah dari SD. lalu masalah keuangan, termasuk juga kondisi keuangan (kas+utang) dan perencanaan keuangan ke depan.

    *masih mencari rumah πŸ˜€

    Trian,
    Betul…….harus dirapihkan sejak wal.
    Tentang rumah, udah tanya Sigit (el 02), kalau tak salah rumahnya didaerah Pondok Gede.

  4. wah, administrasi memang membutuhkan ketelatenan yang luar biasa.

    Koko,
    Sebetulnya sederhana, jika kita selalu menyimpan pada tempatnya, diurutkan sesuai abjad, dikelompokkan…yang penting agar bagaimana mudah mencarinya.

  5. Farijs van Java berkata,

    hoho. bagus banget infonya. wah, musti siap2 dari sekarang nih. mumpung masih bujang, lom punya apa2. hwehehe…

    (^_^)v

    setahu saya SPT itu Surat PemberiTahuan. jadi kalo tahunan jadi SPT Tahunan. gitu kalo ga salah.

    (^_^)v

    kalo untuk kartu kredit, sekarang dah ada kartu debit yang kemudahannya sepertinya sudah hampir sama dengan kartu kredit. jadi daripada “ngutang” mending langsung aja debit dari rekening. lebih berasa seperti “uang tunai”nya daripada kartu kredit.

    yah, paling tidak untuk menghindari membayar bunga saja.

    (^_^)v

    administrasi akan efisien kalo dokumentasi dan pengarsipannya rapi.

    wah, musti banyak belajar, nih…

    Farijs van Java,
    Belum terlambat kok, kalau mau dirapihkan dari sekarang….

  6. bapak saya dari awal sudah mendidik untuk mendokumentasikan catatan-catatan administratif, agar tak kesulitan ketika saatnya dibutuhkan. hanya saja kadang masih bingung, apakah sebaiknya menyimpan dalam satu tempat, atau di beberapa tempat untuk antisipasi kemungkinan terburuk (agar tidak hilang sekaligus semua dokumen penting itu). Ada saran tentang penyimpanan dokumen yang aman bu??

    Emyou,
    Dokumen penting saat bujangan kan cuma ijazah, saya simpan dirumah orangtua yang jelas ga pindah-pindah. Setelah menikah dan dokumen makin banyak, saya punya Safe Deposit Box di Bank, yang langganan bayarnya per tahun, untuk menyimpan sertifikat dll, tapi dokumen yang sering digunakan di rumah.

  7. Wah, perlu waktu yang lama untuk merapikan dokumen-dokumen seperti itu. Apalagi kalau prosesnya bertele-tele.

    Saya mengurus NPWP aja seminggu belum jadi.
    Hehehe…

    Edi Psw,
    Jika sejak awal dibenahi, nggak repot kok pak.

  8. hmm, mulai dipikirkan nie.gmn strategi menghadapi biro dan krasi…

    Iis Sugianti,
    Strateginya sederhana, pelajaran dulu aturannya, kemudian temui pimpinannya dan tanya siapa yang akan bertanggung jawab di bidang yang ingin kita ketahui.
    Saya selalu mengurus semua sendiri, tapi sebelumnya dipelajari dulu persyaratannya, agar saat ketemu bisa diskusi dan tak terjadi hal-hal yang tak kita inginkan. Bahkan untuk membangun rumahpun, suami dan saya mengurus sejak ijin ke tetangga, sampai kelurahan, kecamatan, pemda DKI, BPN…..pokoknya kemana-mana tapi puas, karena tahu alurnya.

  9. Sekarang memang harus “terbuka” antara suami dan isteri dan juga kepada anak-anak jikalau mereka sudah besar. Ini semua perlu agar seluruh keluarga mengetahui apa2 yang harus dilakukan terutama tentang administrasi2 agar tidak kikuk…. Selain itu kalau suami-isteri atau anggota keluarga lainnya kompak, rasa2nya beban masalah menjadi terasa semakin ringan…

    Kang Yari NK
    ,
    Benar, karena kita tak tahu apa yang ada di depan. Awalnya saya cuma ngasih tahu anak-anak (suami udah tahu sejak awal), terus saya pikir mungkin bagus juga ditulis, untuk sharing pengalaman.

  10. ga nahan bolak-balik ngurus ini dan itu…
    kenapa ya birokrasi negri ini berbelit-belit.

    musti buat brankas pribadi buat masukin dokumen ke tempat yang aman.

    Tukangobatbersahaja
    ,
    Rasanya kok saya nggak sulit ya, dan sederhana saja?
    Saya brankasnya pinjam di Bank aja (pakai SDB), biar aman jika rumah mau ditinggal..

  11. Salam
    Menarik sekali, urusan dokumentasi sering sekali dilupakan pdhl klo hubungannya ma surat2 penting, hrs teliti, saya biasanya punya file dokumen baik tersimpan fisik dalam bentuk surat2 maupun saya simpan catatannya di PC, yang dikelompokkan bbrp kategori, mis berkas insurance, tagihan, utang piutang bahkan biaya pengobatan..jd klo perlu gampang carinya πŸ™‚

    Nenyok,
    Berarti Nenyok dokumentasinya udah rapi, tinggal diteruskan aja…

  12. Bunda, saya numpang pengumuman πŸ™‚

    Download ebook pemikiran Islam, pemikiran umum, biogafi tokoh, Fiqih, Al Quran, Hadist, Novel, Bahasa Arab, Pernikahan dan keluarga Islami di

    http://arifrahmanlubis.wordpress.com/38/

    Hatur nuhun.

  13. iya bu kayaknya mesti ada mata kuliah manajemen keluarga ya.

    Ubadbmarko,
    Sebetulnya tak perlu, karena pada dasarnya kita semua makhluk pembelajar….tulisan ini hanya mengingatkan agar tak kejadian seperti temanku…

  14. saya ikut terenyuh saat membaca paragraf terakhir
    berarti istri harus mengetahui segala hal mengenai urusan-urusan di atas ya bu

    Sigit,
    Semua tergantung kesepakatan keluarga, namun jika suami menganggap isteri tak perlu diberi tahu (ada pembagian kerja), sebaiknya tetap punya catatan, agar sewaktu-waktu terjadi hal yang tak diduga yang ditinggalkan tidak bingung.
    Saya sejak awal ada kesepakatan dengan suami, ada privacy masing-masing, namun ada yang harus diketahui kedua belah pihak.

  15. Berdasarkan penelitian, salah satu kelemahan orang kita adalah dalam hal dokumentasi catatan administrasi. Mungkin hal ini juga menjadi salah satu penyebab kita sulit maju barangkali ya Bu Edratna. Terima kasih atas postingannya.

    Rafki RS,
    Administrasi sering disepelekan, padahal sangat penting, baru bingung setelah ada kejadian.
    Mungkin karena saya bekerja di lembaga yang administrasinya harus rapih, tertulis, terkodifikasi, selalu ada check dan re check, maka sejak awal jadi terbiasa.

  16. yahh dokumentasi dikantor tertata rapi tapi dokumentasi pribadi yang berharga porak-poranda enggak tau kemana semua πŸ˜€

    Gelandangan
    ,
    Mungkin karena dikantor ada yang mengurusi dan ada bagian pemeriksa, mau tak mau harus rapih…

  17. dokumentasi betul2 bermanfaat kelak πŸ˜‰
    wah ibu betul2 memperhatikan anak2nya πŸ™‚
    tapi masalahnya itu saya kurang rapi hehehe πŸ˜€
    harus ada istri nih, hehehe lagi πŸ˜€

    Arul
    ,
    Sekarang dokumennya masih sedikit kan….mungkin bisa diawali merapihkan. Jika udah menikah, bisa dibantu isteri…

  18. Administrasi dan dokumentasi itu memang sangat diperlukan bu, kebetulan untuk urusan yang satu ini saya sudah biasa melakukannya. Hidup jadi lebih tertata dan banyak kemudahan di dalamnya.

    Inos,
    Betul, dokumentasi yang rapih memudahkan semuanya…

  19. bu tentang pajak ya, ini saya curhat sekalian mewakili temen2 yg biasa ke luar indonesia, mis. kalo dapat kerjaan di Kuala Lumpur gitu ya misalkan aja 2 ato 3 tahun, pasti tiap bulan gaji dipotong buat pajak kerajaan malaysia trus makan ya gitu kalo kwitansinya ada tulisannya tax sekian apa-apa ya gitu jadi sebetulnya kan sudah bayar pajak, nah trus kalo misalkan ada NPWP gitu jadi bayar dobel dobel dong??? itu baru satu negara, coba hitung lagi kalo dapet kerjaan juga mis bolak balik dari Kuala Lumpur ke Sydney, nah di Australia dipotong pajak lagi buat Australia, jadi triple triple, dan seterusnya lingkaran itu kalau di Amerika dipotong lagi.. potong lagi.. apakah bahasa yang dipakai oleh temen2 yang biasa melanglangbuana ke manca negara di indonesia main sistim palak itu salah? terima kasih sebelumnya untuk pencerahannya

    Arie Kusumaatmaja,
    NPWP adalah suatu nomor bahwa kita mempunyai penghasilan di atas penghasilan tidak kena pajak. Pelaporan pajak penghasilan dilaporkan setahun sekali, pada bulan Maret tahun berikutnya, Jika telah dipotong oleh kantor, pada form SPT tinggal ditulis hitungannya, dan dikatakan telah dibayar…fotokopi dokumen bukti pemotongan oleh pemberi kerja dilampirkan.

    Karena selama ini penghasilan yang saya terima telah dipotong pajak, maka pada SPT ditulis telah dipotong oleh pemberi kerja…jadi hasilnya memang nihil. Kenapa tetap harus melaporkan? Karena ada juga yang mempunyai banyak penghasilan lain (ada yang sudah net, ada yang belum)…..jadi tidak dobel.

    Saya tak begitu paham jika kerja diluar negeri…..mesti baca lagi undang undangnya.

  20. Wah, postingan ini relevan sekali dengan keluarga muda saat ini, Bu. Bagi orang yang tidak bergerak di bidang keuangan, seringkali mereka kurang aware dengan masalah seperti ini. Apalagi masalah perpajakan…Terima kasih sudah diingatkan…Ternyata menjadi masyarakat modern itu rumit juga ya? Semuanya harus dilengkapi administrasi.
    Orang yang lalai mengelola administrasi pasti akan rugi sendiri….

    Salam saya, Bu

    Heryazwan,
    Memang harus dipelajari, karena sanksinya berat jika melanggar masalah perpajakan, dan saat ini ada program sunset policy, yang melaporkan pajak tahun sebelumnya tak didenda jika melaporkan paling lambat akhir tahun 2008.
    Teman si bungsu, yang rata-rata baru lulus, saat bulan Maret 2008 juga heboh bertanya bagaimana cara pelaporan SPT ini…..NPWP ini juga berguna jika nanti mau buka usaha sendiri.

  21. Banyak terimakasih bu Edratna, sulit sekali saya menghindar untuk tidak ngutang pake kartu kredit, kepepet…meski tahu bunganya sangat tinggi, belum tahu alternatip lain…

    Simbah,
    Memang jangan sekali-kali pinjam pake Kartu Kredit, bunganya sangat tinggi…

  22. ah… saya baru sadar bu saya sama sekali ga perhatian sama hal hal begini karena masih mengandalkan orang lain…

    *pinch myself

    makasih diingatkan buuuu πŸ˜‰

    Natazya,
    Memang harus membenahi dokumen sejak awal biar ga menumpuk….

  23. infonya berguna, tidak hanya buat anak ibu…tetapi buat kita yang masih “muda-muda” ini πŸ˜‰

    Saut,
    Memang maksudnya buat yang muda-muda, yang sering ga terlalu memikirkan hal ini, karena menganggap jalan yang dilalui masih panjang.

  24. penting banget nich apa lagi saya dan calon istri yang baru saja melangsungkan pernikahan, tentunya hal2 tersebut harus segera di perhatikan, akrena mau tidak mau kami segera harus mandiri, tidak selamanya akan tinggal di mertua/orang tua.

    Resi Bimo,
    Betul, merapihkan dokumentasi sejak awal akan meringankan karena tak menumpuk.

  25. Salam Kenal Mbak Endarta,

    Dari tulisan mbak yang terakhir tentang temen mbak yang meninggal mendadak jadi mengingatkan kondisis saya, saya tidak tau ini sama apa ngak ya dengan kondisi saya? Suami saya tidak melibatkan saya pada semua masalah keuangan, saya hanya mempunya joint account (checking, saving dan kredit card) dimana suami saya selalu deposit uang dalam jumlah tertentu setiap bulan untuk keperluan grocery dan keperluan saya pribadi. Dia mempunya personal account tersendiri dan business account yang saya tidak tau sama sekali. Semua bill dia yang handle, tetapi dia memberi tahu saya tentand life insurance atas nama saya sebagai beneficiary dan aset yang dia punya atas nama dia sendiri baik itu rumah yang dikontrakkan ato banguanan kantor yang dia punyai. alasan dia sama seperti teman mbak, dia tidak mau saya pusing memikirkan semuanya. Menurut mbak Endarta, apa yang harus saya lakukan ya, jadi takut juga nich?

    Terimakasih yang sebesar besarnya sebelumnya dan maaf jadinya konsultasi nich.

    Yulis,
    Memang setiap pasangan suami isteri punya kesepakatan masing-masing, sehingga tak bisa disamakan. Karena sebelum pensiun saya bekerja di lembaga keuangan, akhirnya menjadi terbiasa. Dan saya memang terbuka dengan suami, demikian juga suami terhadap saya. Walau begitu, suami tetap punya account sendiri, begitu pula saya, yang bebas menggunakannya tanpa campur tangan pihak lain. Namun hal-hal yang prinsipiil harus didiskusikan bersama. Karena anak-anak saya sudah dewasa, yang sulung sudah menikah, maka saya perlu menjelaskan apa saja yang perlu diketahui, yang sebetulnya telah didiskusikan. Namun saya pikir ada baiknya saya tulis, siapa tahu berguna buat teman lain.

    Saran saya, diskusikan dengan suami, namun harus pelan-pelan dan hati-hati, karena mungkin maksud suami baik.

  26. Maaf mbak saya menulis namanya salah melulu semoga tidak membuat mbak Edratna tidak berkenan dengan saya ya. Terimakasih

    Yulis,
    Tidak masalah, jangan kawatir…senang menerima pertanyaanmu, semoga dapat membantu

  27. terima kasih tips-nya Bu
    memang tertib administrasi sangat diperlukan dimulai dari keluarga, supaya tetap terbawa ke tempat kerja

    Tomy
    ,
    Betul…ditulis disini agar saya sendiri tak lupa, demikian juga anak-anakku jika terjadi keadaan tak terduga…

  28. kalau di kesehatan ada pelajaran AKM..administrasi kesehatan masyarakat…………….memang perlu semua lini ada semacam tsb…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: