Oleh: edratna | Juli 23, 2008

Jika si “Mbak” pergi cuti

Apakah si mbak kerasan apa tidak dalam melayani pekerjaan rumah tangga sehari-hari, sebetulnya sangat ditentukan pada sikap kita sebagai nyonya rumah. Kenapa nyonya rumah? Karena sang nyonya inilah yang sehari-hari berhubungan dengan si mbak, dari pagi sampai malam. Bahkan kadang si mbak tak sempat istirahat, atau kata bosku, sakitpun tak terasakan karena terus bekerja sepanjang hari. Padahal di tangan si mbak inilah roda rumah tangga bisa berputar dengan baik, anak-anak makan teratur, majikan bisa istirahat dengan tenang setelah tiba dirumah sepulang bekerja.

Walau tak tertulis, saya dan suami selalu memberi kesempatan kepada si mbak untuk berlibur, biasanya diambil hari Sabtu Minggu, pada saat majikan sedang tidak ke kantor. Kenyataannya, sejak beberapa bulan ini si mbak tak sempat menggunakan waktu liburnya, karena justru di akhir pekan saya banyak undangan, dan nyaris semuanya berasal dari kerabat dekat, yang mau tak mau wajib dihadiri. Akhirnya setelah menunggu lama, hari Sabtu dan Minggu kemarin si Mbak pamit ke Serang, menengok kakaknya yang telah menikah dan bekerja di Serang. Agar bos tak keleleran, si mbak telah menyiapkan masakan rendang dan oseng-oseng agar saya bisa menghangatkannya jika ingin makan. Lemari es juga telah diisi dengan jus jambu bikinan si mbak, dan juga kue bolu yang baru keluar dari oven.

Hari Sabtu pagi saya lihat kok si mbak masih tenang-tenang saja, dan saya pikir nggak jadi pergi, setelah saya tanya, ternyata dia ingin menyelesaikan cucian dan setrikaan lebih dulu, agar rumah ditinggalkan dalam keadaan bersih. Ya, si mbak ini telah ikut lama di rumah saya, bahkan sering saya tinggal sendiri menjaga rumah, pada waktu saya harus tugas ke luar kota, bahkan ke luar negeri. Apalagi saat itu si sulung masih di Brisbane, dan si bungsu kuliah di Bandung, menemani ayahnya, jadi di rumah sering hanya berdua saja. Akhirnya si mbak berangkat ke Serang jam 11 siang, dan saya menikmati istirahat dengan nyaman. Niatnya sih mau membuat laporan, entah kenapa kok rasanya malas sekali. Sorenya si sulung pulang dan ingat si mbak nggak ada, dia terus ikut membantu ibu mencuci piring setelah makan, begitu juga paginya membantu membereskan rumah. Saya pikir sebetulnya anak-anak malah tidak manja kalau tidak ada si mbak, padahal biasanya si sulung manja banget dan suka minta dibikini macam-macam.

Kadang saya berpikir, begitu perhatiannya dia sama majikan, membuatkan masakan lebih dulu, agar majikan saat ditinggal tak kelimpungan. Apakah saya kalau meninggalkan rumah memikirkan hal seperti ini? Memang, kalau saya ada tugas keluar kota atau keluar negeri, dan sempat mencari oleh-oleh, saya tak pernah melupakan si mbak yang membantu di rumah kami, di Jakarta dan di Bandung, yang selama ini telah banyak membantu dan menemani anak-anakku sejak mereka masih kecil. Saat si sulung menikah, si mbak ini pula yang ikut jadi panitia inti, karena saya berasal dari keluarga kecil.

Pekerjaan rumah juga tak terlalu banyak, mungkin karena anak-anak sudah besar. Saya kadang berpikir, sebetulnya tak ada si mbak juga tak masalah, cuma saya berpikir, bahwa penghasilan dia juga bermanfaat untuk keluarganya, untuk orangtua dan adik-adiknya. Kadang teman saya komentar, saya masih terlalu mewah, di saat pensiun masih punya beberapa pembantu, namun saya juga tak tega karena mereka sudah seperti keluarga sendiri, dan rasanya selama saya masih bisa mendapatkan penghasilan untuk membayar gaji si mbak, saya akan bertahan, karena gaji mereka juga digunakan untuk membantu kehidupan keluarganya.

Iklan

Responses

  1. Tetapi, tidak jarang bahkan sering kita mendengar adanya khadimah yang disiksa, kan Bu?
    Beruntung sekali pembantu Ibu, seberuntung Ibu yang selalu diperhatikan, hehe
    Prinsip memberi dan menerima barangkali terjadi di sini…
    *ah, maaf sok tahu* πŸ˜€

    Goop,
    Rata-rata yang ikut di rumah saya krasan pak, maklum saya sibuk….dan saya mudah lelah, sehingga saya memahami kalau mereka tidur siang, jika pekerjaan sudah beres. Kedokterpun saya yang bayar, pernah juga ada yang dirawat di rumah sakit, ibunya dan adik-adiknya ikut menginap dirumah saya, lha saya kan ngantor….

  2. pengasuh anak adik saya gak pulang-pulang bu… karena adik saya sibuk. akhirnya dititip ke neneknya. ternyata tidak terlalu merepotkan juga… kadang-kadang malah saya yang mengasuh kalau lagi gak ada pekerjaan.

    Itikkecil,
    Sebetulnya bisa dikerjakan sendiri, tapi karena saya masih sering mengajar dan kadang-kadang keluar kota, tetap diperlukan adanya mbak yang membantu jalannya rumah tangga. Apalagi sebetulnya saya bisa membantu memberikan penghasilan pada orang lain, disamping itu saya selalu punya anak asuh, anak laki-laki yang disekolahkan, diajari nyopir dan bantu-bantu pekerjaan suami…nanti kalau udah dapat pekerjaan, dia keluar dari rumah.

  3. Kalo majikan kaya ibu, aku ngelamar ah, jadi tukang kebun barangkali ? he..

    Ubadbmarko,
    Sayangnya saya tak punya kebun, halaman rumahpun sempit….tanamannya banyak yang ditaruh dalam pot. Tapi banyak kok teman-temanku yang mempunyai asisten seperti saya, rata-rata sejak baru menikah sampai anaknya telah besar, bahkan menikah. Si mbak di rumah saya, tugasnya momong dari si sulung masih SD, sampai lulus S1 dan menikah.

  4. sayang, mereka selalu dianggap remeh. pelengkap apalagi mereka yang kaya baru 😦

    Kw,
    Memang ada yang seperti itu, tapi rata-rata temanku si mbaknya awet…dan antar si mbak ini saling berteman….akibatnya jika salah satu rumah “blong” karena si mbaknya pulang kampung, anak-anak yang masih kecil bisa dititipkan tetangganya. Rumahku termasuk yang dapat titipan ini….

  5. dirumah dulu pembantu gak ada yang betah, ada yang abru sehari sorenya udah cabut. maklum lah emak orangnya keras, pembantu gak siap dengan sikapnya. Aku sih malah kebeneran gak ada pembantu biar bisa mandiri, apa2 ngerjain sendiri.
    Akhirnya merasa gak keransan dirumah sekarang memutuskan untuk mandiri, tinggal di asrama. Apa lagi sekarang dah menikah, pengin segera mandiri secara’utuh’.

    Resi Bismo,
    Berarti mama termasuk rajin, biasanya si mbak nggak tahan jika majikan rajin, terutama jika rajin ke dapur. Agar mereka betah, saya juga mengurangi urusan dapur…karena jika saya sibuk di dapur, mbak akan bilang…”Udah bu, mengurusi kerjaan kantor aja, biar saya yang masak. Ibu pengin apa sih?”…hehehe
    Apalagi, saat masih aktif bekerja, pekerjaan saya menyita waktu, pergi pagi pulang malam, kadang malah tidur di kantor….juga tugas-tugas keluar kota. Yah risiko pekerjaan, dan tak ada alasan lagi, karena anak-anak saat itu sudah mahasiswa, si sulung di Aussie dan si bungsu di Bandung….dan suamipun kerja di Bandung.

  6. benar-benar berbakti..

    Sir Arthur Moerz,
    Saya bersyukur mendapatkan asisten rumah tangga yang bisa dipercaya

  7. Dibalik asisten rumah tangga yang pintar insyaAllah ada “manager” yang pintar dan sukses mendidik asistennya. πŸ˜€

    Yoga,
    Memang awalnya harus sabar mendidik…..setelah lama enak, dulu kalau anak-anak pengin nonton film, dan ibu sibuk, maka si mbak yang menemani nonton. Anak-anak juga sayang sama si mbak, kalau mereka ultah diberi hadiah.

  8. si mbak bersikap seperti itu saya yakin karena dia diperlakukan dengan baik selama ini oleh sang majikan, bu enny, hehehe πŸ˜† merasa diuwongke sehingga ndak mau pergi sebelum pekerjaan rumah beres. andai saja semua majikan bisa bersikapo seperti ibu, pasti ndak akan lagi cerita tragis ttg kisah PRT yang dianiaya atau kabur dari rumah sang majikan.

    Pak Sawali,
    Kami (saya, suami dan anak-anak) menganggap mereka seperti anggota keluarga. Saat anak saya menikah, mereka juga ikut diberi seragam, dan ikut berbaur sebagai saudara….apapun, kalau ada apa-apa mereka lah yang menolong pertama kalinya.

  9. Kalau sudah lama memang enak ya, sudah tahu ritme kerja di tempat kita. Kalau si mbaknya masih baru, terkadang masih banyak harus belajar soalnya kebiasaan di kerja di tempat lain masih suka terbawa2 padahal ‘ritme’ dan ‘kebiasaan’ yang ada di rumah kita berbeda dengan yang ada di tempat kerjanya yang dulu…. jadi ya terkadang harus sabar apalagi yang lambat untuk belajar, ya kita harus maklum aja deh….

    Yari NK,
    Kebiasaan masing-masing keluarga memang berbeda, jadi saat mereka baru datang, mesti dididik dulu secara pelan-pelan. Kita juga harus memanage mereka seperti layaknya memanage karyawan, karena sifat dan kemampuan masing-masing berbeda. Ada yang lebih suka dinas luar, ya diberi pekerjaan yang banyak berhubungan dengan orang, sering disuruh keluar (fotokopi, belanja dsb nya). Ada yang suka memasak kue, jadi saya langganan Nova, agar bisa praktek masak. Ada juga yang agak lamban…tapi syarat utamanya adalah harus jujur.

  10. aduh Bunda, mau dong dibagi gajinya? He..he..he..Saya dulu waktu Dimas masih kecil, juga butuh bantuan si Mba, namun karena Dimas dah besar, si Mba aku suruh berhenti. Kasian sebenarnya, namun lebih kasian kalo saya membiarkan dia ikut susah sama saya..(Lha kerja gak dibayar…he..he..he..). Memang kondisi “ekonomi” waktu itu jg lagi sedikit susah, yah, untung mBa ngerti..

    Iis Sugianti,
    Gajiku kecil kok, apalagi setelah pensiun, yang hanya tinggal seperempat pendapatan semula.
    Saya bersyukur suami masih aktif (dosen pensiun minimal 65 tahun)….dan dengan hidup sederhana, masih bisa mempertahnkan si Mbak

  11. Dulu waktu di Sby si mbok juga sangat baik, setiap pagi dah ada sarapan sebelum ke kantor, setiap pulang kerja rumah dah bersih walaupun waktu ditinggal kerja kaya kapal pecah. Trus waktu harus pindah ke Canada dia sedih, tapi apa boleh buat si mbok ndak mau ikut temen yang kebetulan butuh bantuan waktu itu. Dia pilih pulang kampung ke Blitar. Si mbok pilih-pilih orang kalo mo bantu (Semoga si mbok sehat selalu di Blitar).

    yulism,
    Memang tak sekedar gaji yang diperlukan, tapi adanya timbal balik hubungan yang baik antara majikan dan si mbok.

  12. cari ‘mbak’ yang cocok memang kayak cari jodoh, hehehehe

    utaminingtyazzzz,
    Mosok sih? Ya enggaklah, masih sulit cari jodoh…karena akan hidup bersama sampai akhir hayat.

  13. Perlakuan yang baik terhadap pembantu juga akan dibalas dengan kebaikan yang kadang melebihi yang telah kita berikan, karena naluri manusia memang seperti itu sukses selalu bu

    Achmad Sholeh,
    Betul…..bahkan kadang mereka lebih memanjakan anak-anak dibanding ibunya.

  14. eh, lebih susah cari mbak daripada cari jodoh.

    artja,
    Kok pendapatnya sama seperti Utaminingtyazzzz……
    Padahal semestinya lebih sulit mencari jodoh….

  15. yap. saatnya mengurusi rumah sendiri. si mbak telah banyak membantu, tapi kalau dia nggak ada juga ga perlu kalang kabut.

    monsterikan,
    Sebetulnya kalau anak-anak sudah besar, tanpa si mbak pun tak masalah. Cuma kadang kita juga harus menolong sesama, serta agar mempunyai kehidupan sosial….

  16. Jadi “hadiah” seperti apa yang sebaiknya diberikan pada dia ya, Bu?

    Daniel Mahendra,
    Mereka sudah seperti anggota keluarga…saat si sulung menikah, mereka juga mendapat pakaian sama, seperti saudara pengantin, dan ikut jadi panitia.
    Di rumah mereka punya kamar tidur sendiri, lengkap dengan kasur, lemari dan TV tersendiri. Mereka boleh ke luar rumah, asalkan janjian ada ibu, dan rumah ada yang menunggu …kalau lebaran mereka mendapat uang transport, THR, serta hadiah lebaran (untuk beli baju+ menjahitkannya). Kalau saya tugas keluar kota, dan anak-anak dapat souvenir, tak lupa si mbak juga dikasih…dan biasanya dia langsung jalan-jalan memamerkan kaos oleh-oleh yang menunjukkan asalnya dari mana ke teman-temannya…hehehe

  17. Sharing Ya….Kalau di Rumah; Kami memanggil dengan sebutan Budhe atau Kadangkala Mamak….karena udah puluhan Tahun ikut kami hehheeh; mulai dari kami masih sangat kecil hingga menikah dan punya anak…ada budhe yang tugasnya hanya memasak dan mencuci sedangkan budhe yang lainnya hanya menggosok dan merapikan Lemari Pakaian..urusan mengepel rumah; bersihin kamar bahkan merawat Tanaman ya Kami lakukan sendiri…..saking deketnya ,,adik saya kalau sakit yg dia panggil “mamak” nya dan bukan Ibu kami…ini bukan karena ibu kami tidak dirumah lho..hanya saja , niatnya membantu perekonomian keluarga mereka saja…jadi hingga saat ini pun “2 orang mamak” ini masih membantu di rumah walaupun sudah cukup tua, mereka sangat sehat dan kmi pun tidak membebankan pekerjaan yg banyak..semua dibantu…..pernah ada kurun waktu selama 4 tahun saat keluarga kami terpuruk secara ekonomi; saat itu saya masih kuliah…utang dimana mana…tapi mamak2 kami ini tidak juga mau meninggalkan kami meskipun kadangkala tidak bisa membayar; malah kebiasaan memasak masakan istimewa saat ada yg ulang tahun tetep ada..ya karena Mamak2 kami yang mengusahakan..ada yang memotong ayam kesayangan anaknya; ada yang kerja ditempat lain hanya untuk bisa buatin Kari Daging kesukaan papa saya….kalau anda pernah nonton film KETIKA garapan Dedi Mizwar ( walaupun kami tidak se kaya itu ) ya seperti LOyalitas Keluarga Dewi Yull itulah Mamak2 kami…(saat Nonoton film itu, satu keluarga pada Terharu..Great Movie)..kita mau menolak, mau memecat wong udah sering ga di gaji ( digaji juga sih…tapi seadanya ) jadi kami biarkan saja dan terus bersyukur pada Allah karena kekeluargaan yang kami miliki ( Bukan berarti keluarga ga membantu tapi karena mereka tidak sedarah..jadinya betul2 mengharukan )..yang saya bisa simpulkan..itu semua karena kesabaran Ibu saya menghadapi Mamak2 ini dan kepedulian Papa saya pada keluarga mereka…KEtulusan yang bisa membuat ikata ini jadi begitu kuat…sekarang saat saya sudah menikah; salah satu Mamak,,ingin ikut saya….saya sih sangat senang tapi saya selalu berfikir apa nanti saya bisa dapatin Mamak2 seperti ini lagi…..saat mereka sudah tua dan istirahat…apa nanti anak2 saya akan merasakan apa yg saya rasakan..Nikmatnya diurusi oleh banyak ibu …….dan bukannya Baby Sister atau Mbak yang tukang melotot dan tukang CUbit……

    Bunga,
    Bunga beruntung mempunyai banyak ibu, tapi kalau seperti saya, harus mandiri tanpa siapapun, dan bekerja di luar rumah, mau tak mau harus mengandalkan pada si mbak. Asal usul si Mbak, harus dikenal baik, dan mereka juga umumnya menyayangi anak saya….ada yang tinggal dirumah sejak anakku bayi sampai masuk ITB. Ada juga yang sampai menikah, punya anak, dan baru memisahkan diri setelah anaknya usia sekolah 5 tahun. Anak-anak saya sangat dekat sama mereka, setelah anak-anak cukup umur, mereka juga yang menemani menonton film di bioskop, karena ibu sedang sibuk…atau ikut menemani saat piknik sekolah.

    Budenya suami malah memberi pensiun sama simbok, dia diangkat jadi wakil majikan, mengkoordinasikan yang lain.

  18. Wah, ibu dan si mbak sama-sama beruntung. Ibu punya si mbak yang siap membantu pekerjaan rumah ibu, dan si mbak punya ibu yang selalu ‘mengayomi’ si mbak baik itu dari sisi financial, psikis dll. Kuncinya di sini adalah keikhlasan.

    Bagaimanapun juga, ibu tetap yang ‘berperan’ menjadikan si mbak seperti itu. Saya bangga dan salut bisa bertemu dengan ibu walaupun saat ini hanya melalui blog.

    Oot: Ibu dari Madiun ya bu? Kebetulan ortu saya tinggal di sana. Madiun kota yang tenang, setenang ibu Enny. Salam.

    Inos,
    Iya, saya dari Madiun, dan sejak meninggalkan kota Madiun 38 tahun yang lalu, jarang pulang, apalagi ayah ibu telah tiada.
    Si Mbak pada dasarnya baik, kalaupun dia mempunyai kekurangan, saya juga harus bisa menerima….
    kata suami,”kalau dia pandai, sudah jadi kepala bagian dikantormu”…..

  19. bu, dulu sewaktu anak2 msh kecil, apakah ibu mempunyai asisten lbh dr 1? mksdku utk mengasuh si kecil ada, utk mengurus rmh jg ada.

    Pimbem,
    Risiko orang yang bekerja diluar rumah adalah mempunyai garis belakang yang tangguh. Ada yang khusus momong anak, sedang pekerjaan lain, dilakukan oleh pembantu laki-laki yang juga disekolahkan. Jika sudah lulus, mereka diajari nyopir, dan silahkan keluar jika sudah mendapat pekerjaan.

    Karena saya bekerja, minimal harus ada 2 orang, karena jika yang satu pulang maka masih ada yang satunya…jadi kalau lebaran pun rumah saya masih ada si mbak, karena mereka dapat bonusnya dobel jika pulangnya tidak pas hari raya. Maklum kalau tak begitu, agak sulit juga, karena saya sering dinas luar (bahkan setelah pensiun pun sering mengajar ke luar kota)

  20. ah, saya jadi teringat dengan ‘si teteh’, khodimah di rumah. Nggak terasa dia udah 3 tahun menjadi bagian di keluarga saya… menemani si Kafka anakku, sejak masih umur dua bulan hingga udah bisa nendang bola…

    qizinklaziva,
    Dengan adanya “teteh”, nyonya punya waktu untuk merawat suami dan anak-anak, dan tak terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Di satu pihak bapak bisa menolong keluarga teteh di kampung….Teman saya pembantunya bisa menyekolahkan ketiga anaknya sampai menjadi sarjana, dan sekarang setelah anaknya bekerja, dia pensiun dari rumah temanku.

  21. Wirasaputra: situ last days dimana?
    seragam ama ade-nya
    dua2 last days

  22. ehm.. jadi inget cerita beberapa rekan yang “memilih” nasib jadi tkw di luar bu..

    Yainal,
    Jika mempunyai kompetensi dan beruntung, bekerja sebagai TKW di luar hasilnya lebih tinggi….

  23. hebat, manusiawi sekali.

    tapi kadang susah yah bersikap memandang pegawai itu sebagai manusia. Kasarnya dalam perusahaan, mereka itu bukannya aset melainkan alat produksi. Jadi saat ngak berguna, atau menggangu neraca keuangan maka paling pertama dikorbankan padahal mereka telah mengikatkan nasib mereka dengan nasib perusahaan.

    kadang miris melihat ada majikan yg menyiksa pembantunya atau bos bos yg memecat karyawannya. πŸ™‚ maaf kalau sekilas ngak nyambung!

    uwiuw,
    Kita harus melihatnya dari dua sisi….pembantu yang dipecat kemungkinan karena pekerjaannya teledor, sehingga membahayakan momongannya. Bos yang memecat karyawan, mungkin karena perusahaan harus merampingkan perusahaan agar bertahan hidup…atau karyawannya melanggar peraturan.

    Bukankah saat ini kalau bekerja tak hanya sekedar bekerja, tetapi punya nilai lebih? Sehingga kalau ada perampingan pegawai, maka bos akan memilih yang terbaik saja untuk yang tetap tinggal.

  24. Wah, iri deh liat urusan rumah tangga Ibu begitu lancar. Kalau rumah aku sih boro-boro bisa pakai pembantu, karena masih ada dua, bukan satu lho, ‘nenek sihir’ atau ‘nyonya besar’ yang sifatnya diktator dan kadang aku nilai terlalu meremehkan posisi pembantu… Jadi, gak pernah lagi aku nyari pembantu, kepala malah lebih pusing. Mending dikerjain sendiri, capek tapi tidak stress.

    hawe69,
    Ada beberapa orang yang memilih lebih baik capek dikerjakan sendiri, daripada stres karena mengomel. Pembantu yang krasan, biasanya karena adanya hubungan timbal balik yang enak, dan jelas pertanggung jawabannya pada siapa. Hal ini akan menjadi sulit, jika kita masih ikut mertua atau ibu, yang tentu cara pandangnya berbeda dengan yang muda.

    Saya ingat pesan ibu alm, kalau sebenarnya kitalah yang momong pembantu, agar dia krasan tinggal bersama kita, dan menyayangi anak-anak kita.

  25. memang asik bgt kalau hubungan yg dibantu n yg membantu bs harmonis spt itu. biasanya sih berlaku hukum pertanian: tanam jagung tumbuh jagung, tanam padi tumbuh padi, tanam kebaikan panen kebaikan….
    salam kenal ya…:)

    st_hart,
    Makasih telah mampir, salam kenal juga

  26. waduh mbak nya cuti ke mana bun?

    Realylife,
    Cuma cuti dua hari kok…menengok kakaknya di Serang…

  27. klo punya dana,
    menurut saya gak masalah sih bu
    y itu tadi, kita bisa membantu orang lain

    Sigit,
    Betul….apalagi saya juga masih punya pekerjaan……dan rumah rawan ditinggal kalau tak ada yang jaga…

  28. mbok dirumah, sudah ikut saya seumur jiwa saya bunda … tubuh gempalnya itu tempat saya menaruh kepala saya jika kangen Ibu. πŸ™‚ semoga ALLAH menyehatkan dan memuliakannya.

    Rindu,
    Betul…..dulu adik saya malah sering ikut si mbok kalau lagi nengok kampungnya, yang kebetulan cuma perjalanan setengah hari dari rumah alm ibu.
    Kalau saya pulang kampung, saya juga mampir ke orangtua si mbak, sehingga orangtua nya tak was-was, karena kenal sama majikan anaknya.

  29. wah….mudah mudahan banyak yang ngikutin

    syahrizalpulungan,
    Ya, mudah2an banyak yang menyadari keberadaan mereka sangat membantu jalannya rumahtangga..

  30. Kalo si mbak yg bantu2 istri dirumah sy……kerjanya agak nyantai…..dan memang kami tdk mau terlalu memberatkannya.

    Datang pagi pulang sore……siang dia bisa tidur……

    Alex,
    Banyak juga yang menggunakan sistim itu, masalahnya saya sering bertugas ke luar kota….

  31. Memang sih ada yang baik dan ada juga yang tidak baik. Sewaktu di Indonesia, aku sudah merasakan semuanya itu. Bahkan ada seorang pembantu (yg terakhir) yang membuatku jadi bener-bener miskin. Padahal aku sudah memberikan perhatian yg besar: 8 jam kerja (40 jam/minggu), gaji cukup besar dibandingkan dgn pembantu lain, rumah dinas, anaknya aku kasih les bahasa, cuti 4 minggu/tahun.

    Karena jatuh miskin karenanya, maka aku kembali kei Perancis. Aku tak punya pembantu lagi. Semuanya dikerjakan oleh seluruh anggota keluarga. Si kecilpun juga sudah aku libatkan bersih-bersih rumah dan membawa piring bekas makannya ke tempat cuci piring.

    juliach,
    Sebetulnya semua ada plus minusnya. Jika tak ada siapa-siapa, anak-anak menjadi mandiri.
    Kalau saya, karena sering tugas keluar kota, bisa lebih dari seminggu, sedang kesibukan anak-anak juga dari pagi sampai malam (sebelumnya kuliah sambil kerja)….jadi tetap perlu ada orang yang membantu di rumah.

  32. Kalo di lepas Rugi nih bun, sudah dididik dari kilometer 0. sudah bisa dipercaya. sudah bisa ngerjain apa2. di pertahankan aja bun, cari bibi baru. itukan butuh proses pelatihan lagi. nah trainer nya siapa. Nanti bubun bisa capek bun!

    Pakde,
    Biasanya yang dilepas karena sudah pintar, dan sudah bisa diterima di perusahaan, yang bisa memberi gaji lebih tinggi, kalau dipertahankan ikut kami kasihan, karena kami kan hanya rumahtangga biasa, bukan perusahaan yang bisa memberi gaji besar, dan karir meningkat.

    Justru mendidik inilah seninya, yang penting dia jujur dan mau belajar….tapi kan yang senior ada, sehingga yang senior bisa membantu melatih yang baru…

  33. Kalau menurut saya nggak apa-apa saat pensiun punya banyak pembantu. Yang penting bisa mbayari kan nggak masalah.

    Edi Psw,
    Sebetulnya berat juga….jadi saya tetap berusaha menambah pendapatan agar mereka tak perlu diberhentikan….

  34. Jadi inget si mbak yang biasa mbantu keluarga besar kami. Sudah seperti keluarga saja… πŸ™‚

    Ardianto,
    Kalau kita menganggap keluarga, merekapun juga akan bersikap baik…

  35. anak lanangku bisa kebingungan kalau si mbaknya pulang kampung..sementara dia tenang tenang aja kalau saya nggak pulang pulang.
    Oh maigot

    Iman Brotoseno,
    Anak saya pun begitu, terutama yang laki-laki…maklum mereka juga memanjakannya…

  36. Si Mbak bukan hanya rekan kerja, sudah menjadi sodara. mudah2an Ibu dan keluarga sehat slalu juga si Mba.

    Aminhers,
    Betul…kami sudah menganggapnya menjadi keluarga….
    Makasih doanya..

  37. saya dulu punya pekarya dirumah yang udah ikut bareng sampe 7 tahunan *lebih lama sedikit dari lahiran adik terakhir dulu* dan sekarang udah ga ada lagi dirumah soalnya menikah dan pulang kampung 😦 sedih ih!!! udah kaya sodara aja soalnya… dan emang sekarang mau cari yang baru susah… takut dan rada paranoid sih emang, tapi nyari yang bisa dipercaya lagi rada beresiko kayanya.. jadilah skarang dua anak perawan ini dikaryakan diruma hueheuheuhe

    Natazya,
    Pekerjaan rumah tak berat kok, apalagi jika tak ada anak kecil.
    Jika anak-anak besar, sebetulnya si mbak dipelukan untuk menunggu rumah, juga agar kita tak terlalu lelah…

  38. Kalau saya, selama 8 tahun menikah ini belum pernah merasakan punya pembantu tetap. Paling kalau saya keteteran menyetrika, saya panggil mbak-mbak. Itu juga sangat jarang. Karena saya seringkali tidak puas dengan hasil pekerjaannya.

    Saya juga malas ngasih training. Bagaimanapun PRT harus punya skill dasar. Kalau ngga bisa apa-apa, bukannya malah membantu tapi malah merepotkan. Kecuali kalau sayanya ikhlas ingin benar-benar menolongnya dari ‘kebutaan’.

    Cuma nenek saya dulu pernah baik hati sama ‘Mbak’. Bekerja sudah lama dan disayang. Sampai dikursuskan macam-macam. Tapi setelah ‘pintar’ malah keluar kerja. Gara-gara ada yang memberi gaji lebih besar. Padahal gaji dari nenek saya sudah diatas standar 😦

    Ratna,
    Memang susah gampang kok mencari orang yang cocok. Saya biasanya mencari orang yang memang dikenal, tetangga suami di kampung, dan juga kakak atau adiknya si mbak yang ikut temanku. Memang kita harus mau mendidik, walaupun sudah pengalaman ikut orang, setiap keluarga mempunyai adat kebiasaan yang berbeda.

  39. Si mbak di rumah sangat membantu sekali, bayangin aja bu ada 5 anak kecil-kecil;)
    Yang paling deket, anak paling terakhir, soalnya si mbak ikut momong dari sejak lahir.

    Wulan,
    Nasehat dari ibu almarhum, sebetulnya yang lebih memerlukan si mbak adalah kita….jadi kita jangan minta dilayani, malah harus momong dia agar kerasan di rumah, dan anak-anak kita terurus dengan baik.

  40. wah si Mbaknya bener2 perhatian ya sampe nyuci setrika sblm pergi.
    saya gatau deh kl si Mbaknya saya ampe cuti lama, soalnya anak masih kecil. mau beli susu aja ribetnya bukan main


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: