Oleh: edratna | Juli 30, 2008

Rumah yang ber “hoki”

Saat kita ingin mempunyai rumah, tentu kita berharap punya rumah yang hoki nya besar. Artinya rumah yang memberi manfaat bagi para penghuninya. Ayah ibu saya sebagaimana layaknya orangtua zaman dulu, berasal dari keluarga besar, namun kemudian ayah ibu memutuskan mempunyai anak cukup “tiga” agar ketiga anaknya mendapat pendidikan yang cukup. Maklum dengan gaji ibu sebagai kepala SD dan ayah guru SMA, maka kehidupan kami sangat sederhana. Namun sesederhananya saat itu, ayah ibu bisa membeli tanah seluas 500 m2 dan membangun rumah yang cukup besar, dengan kamar yang lebar beserta ada pavilyun nya.

Rumah kami juga merupakah tempat “jujugan” atau tempat tujuan utama bagi para saudara dari luar kota yang ingin menyekolahkan anaknya dikota kecil kami. Walau cuma tiga bersaudara, rumah kami selalu ramai dengan tambahan sepupu, dan saudara lain yang ikut menumpang, dan biasanya mereka membantu sebisanya. Ada yang setiap bulan menyumbang beras dan hasil panennya dari kampung, ada yang membantu dengan bekerja meringankan pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, memasak, menimba air, mengisi bak mandi dsb nya. Semakin besar saya (anak sulung) dan adik-adik, maka semakin berkurang yang ikut bersama ayah ibu, karena mereka yang ikut juga melanjutkan kuliah di kota lain, sudah mendapat pekerjaan dan atau sudah menikah. Akhirnya hanya orangtua dan saya bertiga adik-adik.

Rumah kami dekat dengan SMA I, yang saat itu terkenal sebagai sekolah yang gurunya bagus untuk memberikan dasar pelajaran eksakta, karena dulunya berasal dari SMA bagian B. Ayah sendiri mengajar di SMA II, namun ayah menganjurkan anak-anaknya sekolah di SMA I. Karena dekat dengan sekolah, teman-teman saya maupun teman adik sering belajar bersama di rumah kami yang cukup luas, dengan pohon mangga, belimbing, serta pohon kelapa yang selalu berbuah. Ibu juga sudah menganggap mereka seperti anaknya sendiri, sehingga banyak dari teman-teman yang sering tidur di rumah kami. Akhirnya ada teman adik saya yang ikut kost di rumah kami, dan dianggap sebagai anak sendiri. Rumah kami sangat sederhana walaupun besar, tapi banyak yang merasa krasan tinggal di rumah kami. Dan jika sekarang saya mengobrol bersama adik, kami menghitung berapa orang yang pernah tinggal kost di rumah kami, dan sekarang telah berhasil. Paling tidak, rumah dikampung telah menghasilkan para alumninya yang pernah tinggal di rumahku, dua doktor dan beberapa insinyur (sebutan sarjana teknik sebelum tahun 80 an).

Saat membangun rumah di Bandung, saya juga menginginkan situasi seperti rumah kami dikampung. Saya mencoba membangun rumah yang kamarnya cukup banyak, dan terpaksa bertingkat karena terbatasnya lahan. Rumah saya di Bandung memang belum menghasilkan seorang doktor, namun paling tidak dari yang tinggal dirumah kami, telah berhasil lulus S1 dua orang (anak saya dan sepupunya), serta sekarang masih ada satu lagi yang sedang skripsi. Saat ini rumah kami di Bandung juga diramaikan oleh tambahan keponakan, yang diterima ODP dan sedang job training di suatu Bank di Bandung. Saya juga berharap, suatu ketika siapapun yang pernah tinggal dirumahku di Bandung, akan mendapatkan hoki baik dalam bidang ilmu pengetahuan atau di bidang pekerjaan yang lain.

(lagi capek banget….dan males nulis)

Iklan

Responses

  1. bikin rumah pake fengshui juga??
    🙂 🙂

    Arsyad Salam,
    Wahh enggak…..hanya mengusahakan situasi rumah membuat krasan penghuni yang tinggal…..sehingga bisa belajar dengan baik dan berprestasi.

  2. Satu dari banyak hal yang saya belajar dari istri adalah untuk selalu memastikan orang yang pergi dari rumah kami dalam keadaan kenyang. Dulu sewaktu masih lajang lemari es selalu ludes, karena makanan selalu “dirampok” oleh roommate, tapi sekarang berbeda, karena memiliki fungsi yang berbeda pula yakni sharing dengan teman-teman yang datang berkunjung.

    Barry,
    Betul…bahkan kalau saya ada tugas ke luar kota atau keluar negeri, jauh sebelumnya sudah membuat persiapan, dicatat apa yang harus dimasak oleh si mbak tiap hari. Juga hal-hal lain, dicatat dan ditempel di dinding….Dengan demikian yang ditinggal juga nyaman….

  3. :mrgreen: ah.. rumah yang membahagiakan dan penuh berkah.. :mrgreen: karena dihuni oleh orang orang yang ikhlas membantu saudara saudara dan dipenuhi semangat gotong royong saling membantu.

    persaudaraan dan kekerabatan yang indah :mrgreen:

    Sahatmrt,
    Sebetulnya kuncinya sederhana…kita juga santai, dan menganggap tamu seperti keluarga sendiri. Kadang malah cuek, apalagi saya sibuk…bila ponakan atau teman anak datang, saya sudah memberi tahu apa yang perlu dilakukan, dan silahkan menambah masakan sendiri kalau lapar (biasanya anak-anak suka bikin mie malam-malam).

  4. Ga heran ibu banyak “saudara”nya ya. Bahkan sampai tmn2 anak2 pun bs dekat dgn ibu. Ternyata ilmu warisan dari orangtua 🙂

    Moga kapan2 bisa mampir ke rumah ibu

    Dilla,
    Iya, kapan dong mampir Jakarta (atau Bandung?), jangan cuma Anjar dan Adi saja…
    Teman-teman si sulung juga sering rame-rame ke Bandung, malah yang cewek suka masak sendiri..sedang para cowoknya malah molor karena dingin.

  5. Jadi pengen pulang nih Bun,…. 😦 kangen sama yang di rumah) Dulu saat papih aktif dengan perkebunannya dengan luas yang hanya sejengkal. Rumah papih di jadikan ajang perkumpulan keluarga mamih dari jakarta. Belum lagi kalau ponakan si mamih bawa temen2nya, wah makin seru tuh.
    Sodara saya yang dari Jakarta ini malah memilih dan membangun rumah di kampung Bun. Dan rumah papih sekarang nggak lagi di jadikan ajang perkumpulan lagi. Rumahnya cukup sederhana tapi enjoying buat kumpul2, Nah dari situ tuh…karena banyak temen2 dari ponakan papih. sekarang jadi punya saudara makin banyak, hanya dengan menyambut mereka singgah kerumah.

    Sekarang posisi terbalik, saya malah yang tinggal di rumah orang. maklum di Jambi nggak ada tanah pribadi. Sawit sih banyak tapi punya orang hik hik.

    Pakde,
    Yang penting memang suasananya…bukan karena rumahnya bagus atau sederhana….
    Bukannya di Jambi enak…saya pernah tiga kali kesana, sebelum tahun 2000, kotanya bersih…

  6. Yang penting rumah bikin orang kerasan, tidak penting besar atau kecil. Faktor orang-orang/keluarga di dalam rumah kita justru faktor yang terpenting dibandingkan fisik rumah itu sendiri kalau kita ingin merasa kerasan di rumah kita tersebut………

    Yari NK,
    Yup setuju…saya ingat dulu suka banget tidur dan makan di rumah bude (kakaknya ibu alm), padahal rumahnya dari bambu, dan makannya sederhana…tapi suasananya hangat….

  7. wah rumahnya menjadi semacam halte perjalanan… hmmm 😎

    Sitijenang,
    Haltenya teman anak-anak…yang juga menjadi anakku juga….
    Bahkan pernah ada teman si bungsu, sampai tidurnya di kursi dan bertebaran di karpet karena kamarnya tak cukup…tapi mereka senang aja….

  8. rumah yang memiliki hoki, bu enny? hmmmm, ternyata memang ada, ya, bu. setidaknya rumah orang tua bu enny yang telah melahirkan anak-anak yang salih dan salihah. ingin sekali memiliki rumah yang memiliki hoki semacam itu.

    Pak Sawali,
    Saya juga yakin kalau rumah bapak punya hoki…karena melihat tulisan bapak aja rasanya adem….kapan ya saya bisa mampir di Kendal?

  9. ALhamdulillah .. rumahnya barokah .. Insya ALLAH .. 🙂

    wah bu .. deket Dago yah umahnya ../?? jalan apa ..??\

    kalo saya ke bandung bisa mampir dong .. 😀

    Tintin,
    Rumah saya di daerah selatan, di Buah Batu….jadi udah termasuk panas…..

  10. boleh numpang jg? siapa tau jd cepet lulus kuliah ^^

    Nana,
    Memang tinggalnya sekarang dimana?

  11. aku suka hoki
    tapi benarkah hoki ada? 🙂

    achoey sang khilaf,
    Entahlah, tapi saya merasa bahwa saya beruntung…jadi saya anggap punya hoki….

  12. hohoho. tetep semangat nulis, bu!

    (^_^)v

    wah, ngomong-ngomong soal rumah, jadi pengen pulang kampung….

    (^_^)v

    rumah saya cukup sederhana. tidak luas, tidak pula terlalu sempit. dan rumah saya tadinya cuma ada dua kamar, sekarang sudah “tumbuh” menjadi punya lima kamar. hoho. hebat, kan?

    (^_^)v

    Farijs van Java,
    Rumah yang menyenangkan kan bukan karena luas atau indahnya…tapi karena suasananya, terutama orang-orangnya….

  13. *berharap suatu saat bisa nginep di tempat ibu Eny*

    Itik kecil,
    Kapan ke Jakarta? Siapa tahu bisa ke rumah, asal mau bersempit-sempitan….

  14. kemanapun kita pergi ada satu tempat untuk kembali, sebuah tempat untuk saling berbagi

    Tomy,
    Yup betul…tempat dimana kita selalu ingin kembali…..

  15. rumah berhoki
    maksudnya dengan fengsui yg tepat gitu ya?
    atao hoki karena penghuninya memang saling menghargai dan perkerja keras

    Satya Sembiring,
    Rumah yang penghuninya lebih suka berkumpul di rumah daripada keluyuran di luar…bisa saling mengobrol dengan akrab. Juga rumah yang membuat penghuninya ingin berprestasi….

  16. rumah pasti ber’hoki’ jika di dalam nya ada cinta dan kasih sayank…
    [koment apa ya saya ini??]

    My,
    Komentarmu betul….rumah yang penghuninya saling menghormati, dan saling menyayangi….

  17. Rumah, dengan atau tanpa hoki adalah tempat yang paling hangat… I am home to the place I belong to…

    Ady,
    Setuju……rumah tempat kita melepaskan lelah setelah penat blajar atau bekerja seharian.

  18. 500m2=sederhana???? *pingsan ..

    =D

    soal rumah saya juga sdikit bingung sih Bu Enny, dengan gaji staff seperti saya yaa mau tak mau hanya ada 2 pilihan, beli rumah yg jauh (Depok/Bogor/dkk) atau apartemen bersubsidi ..

    mo beli rumah, jauh .. males pergi subuh pulang malem ..
    mo beli apartemen .. keluarga ga setuju karena kurang klop katanya sama lingkungan ..

    mesti gimana ya Bu?

    Aldi,
    Jangan lupa, saya tinggal di rumah dinas 23 tahun, sejak si sulung belum satu tahun…..
    tinggal di rumah dines dulu 😛 hihihihi *ngarep

  19. Amien amien amien…

    moga moga hoki slalu! 😀

    Natazya
    ,
    Makasih doanya….

  20. Rumah yang berkah itu Bu.. dan semua orang mengharap rumahnya barokah, walaupun tidak semua orang punya niat mulia seperti Ibu.

    😀

    Yoga,
    Sebenarnya banyak kok temanku yang seperti ini…jadi kalau anakku ke Yogya, dia juga tidur di rumah teman…begitu juga jika temannya ke Jakarta, tidur di rumahku. Tapi memang terbatas pada orang yang telah dikenal dengan baik, saudara, teman akrab atau sahabatnya anak-anak.

    Juga kami selalu punya anak asuh, yang nanti dilepas jika telah selesai sekolah dan mendapat pekerjaan di luar…

  21. anak ibu seumuran dengan diriku kah??

    Hanggadamai
    ,
    Anakku mungkin di atas umurmu…yang besar angkatan tahun 2000 dan si bungsu angkatan 2003.

  22. Rumah kakek saya di Aceh, adalah rumah mungil yang dikelilingi sawah dan bukit … hamparan kebun tomat, dan jalan setapak yang panjang.

    Disisi kanan ada surau kecil tempat saya mengaji waktu kecil …

    Mampir kesana yo Bunda .. mau?

    Rindu,
    Di kota Banda Acehkah? Saya baru sekali kesana, memang indah sekali suasananya…..

  23. Bu Enny, tampaknya Ibu dan sekeluarga sangat disukai oleh banyak orang. Kukira itu bukan soal bagaimana rumahnya, tapi lebih pada bagaimana pemiliknya (kalau boleh berpendapat).

    Saya yakin ada begitu banyak rumah yang lebih bagus dari rumah Ibu atau rumah orangtua Ibu. Begitu pun saya yakin ada begitu banyak rumah yang lebih sederhana ketimbang rumah Ibu atau rumah orangtua Ibu. Namun sepertinya keluarga Ibu termasuk keluarga yang disenangi banyak orang. Semoga aku tak keliru.

    Daniel Mahendra,
    Saya tak bisa komentar, mungkin Anjar Priandoyo, yang merupakan sahabat anakku, yang akan bisa memberi komentar. Rumahku sederhana kok mas Daniel, nggak ada barang mewah, adanya tumpukan buku-buku…..dan nggak teratur.

  24. Rumah itu ibarat jodoh juga. Dicari-cari ngga ketemu. Padahal sudah pilah pilih dengan berbagai macam kriteria. Akhirnya ya sudah, pasrahkan saja kepada yang Kuasa. Mudah-mudahan dapat rumah yang menjadi surga dunia dan membawa surga akhirat.
    Saya belum bisa membeli rumah sendiri, maklum single fighter sebagai pencari nafkah, PNS lagi. Mudah-mudahan kalau sudah selesai sekolah nanti bisa menabung untuk membeli rumah surga sendiri.

    IWan Awaludin
    ,
    Rumah ibarat jodoh, saya sepakat pak. Saya mencari rumah di Jakarta sejak tahun 1999, sampai patah semangat, malah uangnya akhirnya untuk beli mobil. Waktu itu mikirnya kalau pensiun, di Bandung saja….ternyata karunia dari Tuhan tak terduga. Ada teman yang mendorong terus, bahkan berani menambah uang jika kurang, ini yang menimbulkan semangat….malah tiap hari isterinya menjemput saya ke kantor dan survey rumah, mungkin ada lebih dari 50 an rumah….ternyata akhirnya ketemu rumah yang saya tempati sekarang, dan nyaris patah hati…
    Bersabar saja pak, yang penting sekolahnya dapat segera selesai, rejeki nantinya akan datang sendiri.

  25. Apa yang penting dari sebuah rumah memang bukan luas atau mewahnya, melainkan kebarokahannya. Bukan hanya diri sendiri, orang lain juga merasakan berkahnya.

    Akhmad Guntar,
    Saya sepakat, bahwa kenyamanan suatu rumah sangat ditentukan oleh orang yang tinggal di rumah tsb, bukan karena mewah atau sederhananya.

  26. rumah menjadi tujuan saya cepat pulang kerja bun
    karena rumah membawa ketenangan…
    klo soal hoki, gimana ya bun, saya ngerasa biasa saja…

    Sigit,
    Justru itulah, rumah yang berhoki, adalah rumah yang penghuninya nyaman tinggal di rumah tsb. Jika tak nyaman, maka penghuni akan sering keluyuran dan jarang di rumah. Kalau Sigit merasa nyaman, bisa beristirahat dengan tenang di rumah, setelah pulang kerja, artinya rumah tsb menyenangkan.

  27. 23 taun itu dari pertama masuk Bu?
    saya dengar2 klo sekarang minimal mesti G9 😦 ….

    klo bisa pengen bgt padahal …. 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: