Kapankah saatnya kita berhenti?

Pertanyaan tadi saya peroleh saat mengajar pada suatu kelas untuk para Pemimpin Cabang. Kapankah pinjaman pada seorang nasabah dianggap sudah “mentok?” Kapankah kita berhenti mengejar karir, dan melakukan hal lain yang lebih menyenangkan? Kapan kita berhenti mendorong anak untuk belajar? Pertanyaan tadi mau tak mau harus kita renungkan, sebetulnya kapankah batas itu tercapai? Ada orang yang sepanjang hidupnya belajar, belajar dan belajar terus menerus……dan ada orang yang terlihat begitu menikmati hidup dan puas dengan kesederhanaannya, tanpa perlu jungkir balik memikirkan apakah karirnya akan melesat, dan apakah usahanya akan sukses.

Manusia adalah pembelajar, baik dalam arti kata belajar secara sistim (kuliah, menambah gelar, menambah ketrampilan/sertifikasi), atau belajar dari lingkungan. Ada yang mengatakan bahwa belajar tak harus diperoleh dari kelas, namun bisa dari kehidupan sehari-hari, dari lingkungan dimana kita berinteraksi sehari-hari. Namun, kadang kita sendiri tak tahu, kapan sebaiknya kita mulai mengurangi kecepatan langkah, mulai berhenti sejenak, atau mulai berjalan pelan-pelan sambil menikmati kehidupan. Dari obrolan dengan para peserta pelatihan di kelas, akhirnya kita kembali pada sikap, minat dan kompetensi masing-masing orang. Setiap orang telah dilahirkan membawa minat dan bakatnya, namun kadang minat ini dipengaruhi pula oleh lingkungan kehidupannya. Meski demikian, ada bahan dasar yang tak bisa dilupakan, bahwa kompetensi orang berbeda, bahkan untuk anak-anak yang dilahirkan dari ayah dan ibu kandung yang sama. Paling sulit adalah memahami diri sendiri, apakah sebenarnya kompetensi kita? Seperti pertanyaan salah seorang Pemimpin Cabang tadi, dia melihat bahwa nasabah yang dibiayai sebetulnya sudah “mentok”, artinya kemampuan mengelola perusahaan tak dapat ditingkatkan lagi, namun nasabah begitu yakin bahwa masih bisa meningkatkan usahanya, dan membutuhkan tambahan dana dengan jalan menambah pinjamannya. Bagaimana cara menjelaskan yang baik agar nasabah tadi bisa menerima tanpa tersinggung, dan bagaimana cara meyakinkah pada orang yang bersangkutan?

Dalam pelatihan mengenal kompetensi orang lain, maka ada yang disebut dengan kemampuan mempengaruhi orang lain (developing others). Kompetensi mempengaruhi orang lain adalah usaha membujuk, meyakinkan dan mempengaruhi atau menarik perhatian orang lain, dengan tujuan agar orang tersebut mendukung keinginannya. Kompetensi ini menekankan pada keinginan untuk mempengaruhi atau menimbulkan dampak pada orang lain. Dalam tingkatan yang awal, disini adalah berusaha mengambil tindakan mempengaruhi minat orang lain tanpa berusaha menyesuaikan dengan tingkatan atau minat mereka. Dalam percakapan, bisa menggunakan argumentasi, untuk meyakinkan apakah ide yang berbeda dari orang yang berbicara dengan kita, dapat dipengaruhi. Memang ini bukan hal yang mudah, terutama bila orang yang diajak bicara bukan orang yang terbuka dan mau mendengar pendapat orang lain.

Dalam diskusi, disarankan agar bagaimanapun seorang Pemimpin harus bisa meyakinkan apakah ide yang dilontarkan orang lain benar atau salah. Dan bagaimana jika orang tersebut tetap ngotot dan tak mau mendengarkan pendapat kita? Sebagai orang yang melayani dan memberikan jasa, kewajiban kita untuk menjelaskan pada orang tersebut, namun jika tak sesuai bisa dilakukan dengan cara lain, bagaimana jika orang tersebut tidak mengandalkan tambahan dana dari satu pihak saja, namun bisa juga dari pihak lain. Pada situasi persaingan yang ketat, ada kemungkinan ada pihak lain yang mau menambah dana bagi nasabah tersebut. Siapakah yang benar dalam hal ini? Tentu saja tak ada yang bisa dikatakan benar atau salah, karena keputusan yang dilakukan saat ini, dalam perjalanannya bisa benar atau salah. Yang penting disini, adalah bagaimana kemampuan kita menganalisa, memperkirakan, yang tentu saja setiap orang akan berbeda dalam sudut pandang menilai dan mengukur sesuatu. Karena dalam kehidupan tidak ada yang pasti, bahkan perjalanan suatu usaha sangat dipengaruhi berbagai faktor, yang tidak hanya faktor kepemimpinan pemilik usaha, namun juga faktor-faktor lain. Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai kita menyesal, melakukan keputusan hanya karena merasa tidak nyaman, namun melakukan keputusan setelah dilakukan analisa dari berbagai kemungkinan, persoalan apakah keputusan itu benar atau salah, waktu yang akan membuktikan.

36 pemikiran pada “Kapankah saatnya kita berhenti?

  1. sjafri mangkuprawira

    tulisan yang sangat menarik mbak edratna……pada konteks filosofi kehidupan bahkan agama pun tak pernah kita mengenal kata henti untuk belajar……kapan dan dimana pun….paling sedikit kita belajar untuk mengenal siapa diri kita sendiri……misalnya tentang obrolan pemimpin cabang dan nasabah yang diungkapkan mbak……itu sebenarnya berangkat dari konsep pentingnya suatu perubahan mendasar pada diri masing-masing lewat pembelajaran……namun sering lupa untuk menjawab atas pertanyaan-pertanyaan pokok tentang perubahan seperti; apa yang diketahui tentang perubahan itu sendiri;apa konsep perubahan itu;saya ini sekarang seperti apa; apakah ada pengaruh masa lalu tentang hidup saya sekarang dan akan datang; kalau mau hidup beda bagaimana caranya; seberapa besar komitmen saya untuk mengubah hidup saya;faktor-faktor pendukung dan penghambat apa saja sehingga upaya saya tercapai;dan apakah saya termasuk perfeksionis sehingga kurang realistik;dst?….sekali keputusan diambil oleh pemimpin cabang dan nasabah maka itu adalah suatu pilihan….karena pilihan sudah diambil maka jelas tidak lepas dari segala konsekuensinya……disinilah tiap keputusan membutuhkan syarat kehati-hatian dan kecermatan serta kelayakan……salam

    Sjafri Mangkuprawira,
    Betul pak, kita sendiri setiap kali harus mencoba bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah kita lakukan, sampai ke arah mana mimpi-mimpi kita terwujud, apa yang hendak dilakukan selanjutnya. Pertanyaan Pemimpin Cabang tadi, sebetulnya pernah juga sebagai bahan diskusi saya dengan atasan, saat saya masih seumur dan pada tingkat kepemimpinan seperti mereka. Namun manusia memang harus memilih, dan pilihan inilah yang akan menentukan langkah selanjutnya. Sebetulnya di dalam dunia bisnis, selalu ada hitungan, ada mitigasi risiko, sehingga sebenarnya tak perlu kawatir, karena sejak sebelum mengambil keputusan telah dihitung resikonya sampai seberapa risiko yang bisa dicover.

  2. Kapan kita berhenti?

    Rumit, sebenarnya kapan kita memulai?

    Jika kita tak tahu kapan dan apa yang akan kita mulai, apakah kita tahu kapan kita harus berhenti…?

    Kita tak pernah memulai mungkin, karena itu kita tak pernah berhenti…

    NdaruAlqaz,
    Pertanyaan sederhana, namun akan mempunyai akibat yang kompleks dari hasil keputusan yang kita lakukan. Berhenti di sini bukan berarti berhenti sama sekali, namun mungkin prioritasnya bisa berubah, didasarkan atas batas kemampuan kompetensinya.

  3. Salam Ibu…
    Kapankah saatnya kita berhenti ?. pertanyaan sederhana tapi mendalam, tujuan manusia adalah mengejar kebahagiaan namun konteks kebahagiaan tersebut berbeda-beda untuk masing2 orang, seperti belajar terus menerus, mengejar karir. mencari nafkah dan masi banyak lagi namun itu yang menghentikan adalah waktu… waktu yang menjawab, tergantung orang memaknai waktu yang seperti apa…

    Weber,
    Betul…sangat tergantung pada masing-masing individu…karena setiap orang mempunyai mimpi yang berbeda.

  4. Penyesalan dalam mengambil keputusan karena faktor ketidaknyamanan menurut saya juga merupakan sebuah proses pembelajaran. Karena memang bagaimanapun juga “experience is the best punisher teacher”.

    Lewat hal2 semacam inilah, yang terkadang juga banyak terjadi di kehidupan kita sehari2 mendukung fakta bahwa kita sebenarnya tidak pernah berhenti belajar. Jabatan, pekerjaan dan lain sebagainya boleh jadi berhenti, namun proses belajar nampaknya tidak pernah berhenti. Walaupun kita sengaja berhenti untuk belajar sesuatu ada saatnya pengalaman akan mendekati kita untuk mengajarkan kita sesuatu……..

    Kang Yari NK
    ,
    Betul kang Yari…proses belajar akan terjadi terus menerus, mungkin sampai akhir hayat, hanya prioritasnya yang menjadi berbeda.
    Kadang kita ingin berhenti, tapi ada saja hal yang membuat kita mau tak mau ada kesibukan baru, pengalaman baru, yang ternyata menyenangkan jika ditekuni….yahh hidup adalah untuk terus belajar, belajar memahami orang lain, belajar dari lingkungan…

  5. hmmm
    judul yang eyecatching..
    pertanyaan sederhana….kapan kita harus berhenti..

    kalo menurut hemat saya…
    kita berhenti jika a. sudah selesai, atau b. tidak ada kemajuan lagi
    😉

    Wahyu Reza Prahara
    ,
    Dalam matematik, seperti itu…kenyataannya kadang kita dipaksa untuk terus, kalaupun berhenti bukan berhenti total, tapi ada hal lain yang lebih menarik minat. Yang sulit adalah pada saat kapasitas kita, menilai kemampuan orang lain, dan kita tidak yakin bahwa yang bersangkutan dapat ditingkatkan lagi, ibarat air gelasnya telah penuh dan kalau diisi terus akan tumpah….

  6. yah,,,,,,,kalau sudah saatnya berhenti donk.hehe…

    Alabahy,
    Justru yang seringkali terjadi, adalah orang yang bersangkutan tak menyadari bahwa sudah waktunya berhenti, atau waktunya berganti haluan….
    Bukankah kita sendiri kadang tak yakin apa yang akan kita lakukan, apa yang kita inginkan…mungkin karena begitu banyaknya keinginan, dan tak bisa mengukur kompetensi kita sendiri…

  7. tulisan yang menarik, Bu. membuat saya juga jadi berpikir.

    Utaminingtyazzzz,
    Iya….karena pasti suatu ketika akan dipaksa untuk berpikir apakah terus, berhenti atau bisa jalan keduanya….dan pasti ada trade off nya.

  8. asyafe

    Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai kita menyesal, melakukan keputusan hanya karena merasa tidak nyaman, namun melakukan keputusan setelah dilakukan analisa dari berbagai kemungkinan, persoalan apakah keputusan itu benar atau salah, waktu yang akan membuktikan

    Kalimat barusan itu lho bu..so impressing sekali buat sy!

    Asyafe,
    Betul….itu yang harus dipastikan, karena dalam hidup tak ada yang hitam putih…..semua pasti ada risikonya.

  9. apa sebenarnya kompetensi saya? wah, sampai sekarang masih mencari jawaban juga tuh, Bu.

    (^_^)v

    sependapat dgn bung ndarul, mengetahui kapan kita harus memulai juga tampaknya susah, Bu. hoho.

    tapi Bu, susah juga tuh menyuruh berhenti orang yang sangat antusias maju.

    susah semua mulu perasaan. hwehe…

    Farijs van Java,
    Memang perlu waktu untuk mengenal kompetensi diri sendiri….saya justru lebih percaya diri setelah melalui beberapa kali test, peningkatan karir saya atas dorongan atasan, yang mengenal kompetensi anak buahnya masing-masing.
    Untuk orang yang antusias maju, dan kita tahu bahwa dia banyak kekurangan, mungkin kita bisa menyarankan secara halus agar dia mulai menambah kompetensinya…..agar dia mampu bersaing dan berkinerja baik untuk tujuan tersebut. Namun kadang ada juga orang yang sangat pede, padahal kemampuan jauh dibawah…ini memang sulit….

  10. Melihat judul di atas saya teringat aturan yang sering dipakai para pemain judi di kasino. Para pemenang biasanya adalah orang yang tahu kapan harus berhenti bermain. 🙂

    Rafki RS
    ,
    Betul pak…kita harus tahu kapan waktunya berhenti.
    Saya pernah juga membahas bahwa kita selalu harus memperhatikan “Escape clause”…terutama untuk bidang pekerjaan yang berkaitan dengan uang.

  11. Ada ungkapan dari filsuf terkenal, Rene Descartes, yang mengatakan, “saya berpikir, maka saya ada”. artinya eksistensi manusia itu ada karena dia berpikir. Jadi, jangan pernah berhenti berpikir Bu … berhenti yang lain2 boleh aja, tapi jangan yg satu ini … jadi tetap menulis blog ya Bu … he he .. salam.

    Riri Satria,
    Mudah2an saya bisa terus menulis pak…kalau tentang berpikir sih memang harus terus berpikir agar tidak pikun, apalagi karena masih aktif mengajar, tetap harus membuka bahan yang bisa menambah materi yang bisa diajarkan…agar muridnya tak bosan.

  12. walau ide itu memang bener, tapi meyakinkan ide yg dilontarkan itu gak gampang ya om.. perlu kesabaran yang tinggi.. siip om..

    Masenchipz
    ,
    Saya seorang ibu….
    Untuk bisa menjual ide, memang harus bisa meyakinkan orang lain, bahwa ide kita layak didengar, dan ditindak lanjuti. Diperlukan kemampuan komunikasi yang baik, dan harus didasarkan atas dukungan bahan-bahan yang diperlukan dalam menyampaikan ide tadi.

  13. wah benar2 berpengalaman sekali kayaknya neh neng …!??!
    menyesal bukanlah kalimat yg cocok bagi seseorang yang telah berusaha, krn setiap orang memiliki sifat pembelajar, maka belajarlah dr pengalaman 😀

    Afwan auliyar,
    Saya seorang ibu dari dua anak yang sudah dewasa…
    Jika memperhatikan lagi tulisan di atas, justru pertimbangan, dan analisa dari berbagai kemungkinan diperlukan, sebelum keputusan dibuat agar tidak menyesal…..

    Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai kita menyesal, melakukan keputusan hanya karena merasa tidak nyaman, namun melakukan keputusan setelah dilakukan analisa dari berbagai kemungkinan, persoalan apakah keputusan itu benar atau salah, waktu yang akan membuktikan.

  14. Sir Arthur Moerz

    kalau sudah sampai pada kesepakatan…

    Sir Arthur Moerz,
    Maaf, saya tak memahami maksud kalimat ini…..kesepakatan untuk berhenti?

  15. sealu saja ada yang dicari & diburu…
    sedang diri sendiri sering ditinggalkan…

    hidup manusia memang sebuah perjalanan 😀 & waktu bukan sekedar uang namun adalah ilmu

    Tomyarjunanto,
    Atau hidup ini ibaratnya buku yang terbuka? Selalu ada halaman baru, yang kemungkinan lebih menarik…jadi jangan cepat-cepat ditutup bukunya.

  16. Malah sekarang saya ingin terus bergerak, gak ingin berhenti, boleh2 aja berhenti tapi sejenak saja, soalnya kalo saya udah berhenti sejenak biasanya males untuk memulai lagi, begitu tante.

    Resi Bismo,
    Pendapatmu benar… kalau udah berhenti, nanti malas lagi. Oleh karena itu, saya berusaha tetap aktif setelah pensiun, agar masih bisa memberikan sumbangan pemikiran pada orang lain, walaupun relatif kecil. Inipun sesuai yang disarankan oleh psycholog, psikiater saat ada pelatihan sebelum purnakarya… bukankah seorang Profesor masih bisa bekerja sampai usia 70 tahun…dan suami saya, yang menjadi dosen, dan berusia setahun lebih tua dibanding saya, masih aktif mengajar ….

  17. hmmm…saya jadi teringat seseorang yang ingin terus belajar, belajar di sini berarti secara akademis
    saat ini dia sedang S2 dan ada keinginan untuk melanjutkan untuk S3 bahkan katanya ingin sampai Profesor. Tapi saat itu saya bingung bagaimana menjelaskan kepada dia bahwa manusia ada batasnya. Dan akhirnya dia tersinggung.
    Memang sulit ya bu, menjelaskan kepada seseorang mengenai hal tersebut. Ada saran bu? 🙂

    Sigit,
    Memberi saran bagi teman tidak mudah, apalagi jika dia cerita tentang mimpi-mimpinya. Dengarkan saja, bukankah dia sendiri yang akan mengambil keputusan?

  18. klo saya sih bunda enggak muluk2 Pejaran yang paling dekat dengan manusia sendiri adalah Pengalaman Bunda 😀

    Sukses buat bunda deh

    Gelandangan,
    Pengalaman saya masih sangat terbatas dibanding yang lain.
    Maksih doanya.

  19. Kapan harus berhenti, saat ini saya juga tidak tahu, karena prioritas pada saat tertentu dulu saya menganggap sudah saatnya untuk berhenti. Tetapi ketika prioritas, kondisi dan situasi tertentu tsb berubah saat ini. Saya memutuskan untuk kembali ke bangku sekolah insyaAllah. Jadi menurut saya berhenti belajar mungkin nanti kalau otak sudah tidak bisa berfikir lagi mungkin. Terima kasih

    Yulism
    ,
    Syukurlah, berarti Yuli memang memahami benar apa keinginan dan tujuan hidupnya. Karena banyak orang yang tidak tahu, apa yang sebetulnya dia inginkan.

  20. Kalo aku sih sudah 3 tahun sudah berhenti bayar utang/kredit, sudah 3 tahun berhenti berkarir tetapi pekerjaan-pekerjaan tidak pernah ada yang berhenti. Selalu ada aja yang dikerjakan dan baru dapat beristirahat/tidur jam 12 malam.

    Selain itu sudah 3 tahun, aku tidak menyuruh-nyuruh anak untuk belajar. Karena di sekolah anakku, buku tidak pernah dibawa pulang dan tidak pernah ada PR. Semua masalah sekolah, aku serahkan saja sama sekolah dan psy. sekolah.

    Hanya saja aku tidak henti-hentinya mengajarkan ke anak-anakku cara bersurvival. Caranya dengan kreativitas: memasak, kerajinan tangan, berkemah, berwisata, photography, bahasa asing, bertukang, dll. Karena kami hidup di negara demokrasi yg sangat mengargai semua orang walaupun yg tidak berdiplome sama sekali.

    Juliach,
    Mengajarkan kemandirian dan menghargai sesama buat anak, sangat baik. Karena ini akan menolong dia nantinya, dan memudahkan bergaul serta berkomunikasi.

  21. Tulisan yang menarik mbak. Seorang pemimpin harus mempunyai segala-galanya, harus bisa mempengaruhi orang lain, mampu meyakinkan orang lain, dll.

    Edi Psw,
    Betul pak Edi……pemimpin harus bisa melayani….

  22. Kata guru mengaji saya setiap kita adalah pemimpin dalam hidup ini … jadi harus pandai menganalisa setiap kejadian karena inti hidup adalah pindah dari satu masalah ke masalah yang lain dan baru akan terhenti jika jasad telah terlipat tanah …

    Rindu
    ,
    Betul sekali….

  23. Ketika seseorang memutuskan untuk melangkah ke fase yg lebih tinggi maka akan ada yg dikorbankan, salah satunya memutuskan untuk berhenti dr kegiatan yg telah dilakukannya. Barusan salah seorang tmn seangkatan memutuskan untuk berhenti karena menikah dgn tmn satu angkatan kami jg. Peraturan yg membuatnya seperti itu. Well, pilihan yg berat tp bukankah hidup mesti berjalan?

    Pimbem,
    Berhenti di Fase yang satu, tidak berarti berhenti semuanya,…mungkin malah baru memulai di fase berikutnya, seperti temanmu itu.

  24. kapan kita berhenti?, mungkin klo udah mati
    (bisa mati scr fisik, mati akal, mati kutu ato mati krn keadaan–mati amargo kahanan)

    Herry Setyono,
    Selama kita masih hidup, selalu ada yang masih bisa kita kerjakan dan dapat bermanfaat bagi orang lain.

  25. Saya sangat tertarik dengan tulisan mengurangi kecepatan, berhenti sejenak, berjalan pelan sambil menikmati hidup…
    Karena biasanya seseorang jika sudah mencapai sebuah time frame keberhasilan, akan terus mencari keberhasilan dibidang lain, atau menambah keberhasilan di bidang yang sama, lupa bahwa perlu juga untuk istirahat dan menikmati apa yang telah didapatkan….

    <em>Sapimoto,
    Kadang perjalanan kita tak harus lurus, kadang berbelok, menyamping…namun selalu ada hal yang menarik.

  26. kapan kita berhenti?

    Semua yang terjadi dan yang kita alami akan selalu membuat kita untuk tidak berhenti. Berhenti untuk apapun. Intinya kita tidak akan berhenti selama kita masih bisa maju, melangkah, berbuat dan berpikir. Selama kita masih bisa melakukan semua kita tidak akan pernah berhenti.

    Cahaya,
    Berhenti bisa diartikan mengurangi kecepatan, berpikir kembali, apakah melangkah terus kedepan…atau bahkan kesamping…..

  27. sebenarnya sekarang sedang dilanda kebingungan yang teramat sangat, Bu. bingung mau melanjutkan kuliah S1 di mana. dan jurusan apa. komputerkah? ekonomikah? buhuhu… tak tahu aku harus bagaimana. tak tahu aku berminat di bidang apa. tak tahu aku berbakat di bidang apa. buhuhu…

    (^_^)v

    Farijs van Java,
    Kadang memang perlu bantuan dari ahlinya, kalau kita sendiri bingung, karena terlalu banyak yang diinginkan…..sekarang kan banyak psikolog, yang bisa membantu kita untuk menilai apa kemampuan, dan kompetensi kita….dan kemana arah karir kita yang paling baik.

  28. yah sebenarnya saya tidak ingin hidup ini berhenti namun tidak ada yang kekal di dunia ini….

    Dhany,
    Kita bisa berbuat banyak untuk kebaikan selagi masih ada kesempatan….

  29. adipati kademangan

    Dari tulisan ibu diatas saya kok masih mengalami kerancuan pertanyaan ya bu. Sebenarnya pertanyaan diatas ada dua kasus.
    1. Kapankah saatnya kita berhenti (memberikan pinjaman kepada nasabah) ?
    2. Kapankah saatnya kita berhenti (dari belajar, berkompetensi) ?
    Untuk pertanyaan pertama, pasti sudah ada pertimbangan – pertimbangan yang diambil sebagai penentu keputusan. Apakah itu pertumbuhan usaha, cashflow, tingkat penjualan, atau pertimbangan lain. Atau bahkan berdasarkan pengalaman sang direksi sendiri dalam membina nasabah. Yang pasti pengambilan keputusan -untuk memberhentikan pinjaman- tidak secara ngawur, ada data obyektif yang bisa dipertanggungjawabkan dan itu bisa dijelaskan secara mudah kepada nasabah.
    Untuk pertanyaan kedua, menurut saya : berhenti belajar kalo sudah hilang bodohnya, sudah pintar, berilmu (bukan merasa pintar lhoh). Menurut saya juga bahwa orang yang belajar itu akan semakin mengetahui bahwa dirinya itu adalah bodoh, semakin banyak ilmu yang dia ketahui maka akan semakin tahu dirinya adalah bodoh sehingga akan terus dan terus belajar untuk peningkatan kualitas dirinya.

    Adipati Kademangan,
    Betul…pertanyaan pertama, walaupun sudah ada analisa yang benar, tapi untuk menyampaikan pada seseorang memerlukan kesabaran dan kemampuan komunikasi. Terutama jika nasabah yang bersangkutan merasa mampu (walaupun orang lain menilai tidak mampu lagi untuk ditingkatkan). Jalan keluarnya, adalah Pemimpin Cabang harus mengikuti prosedur yang digariskan, dan berikan alasan yang kuat, serta dikomunikasikan dengan baik. Jika nasabah mengancam ke luar dan pindah Bank, tak perlu disesali.

    Kedua…memang lebih sulit, karena diterapkan pada kondisi kita masing-masing. Ada orang yang penuh semangat, ingin maju terus, tanpa menyadari bahwa sebetulnya dia sudah harus mengurangi kecepatan. Belajar sendiri, tak harus melulu belajar dalam arti akademis, namun bisa juga belajar dari kehidupan, dan lingkungan sekitarnya. Untuk yang ini, saya kira tak perlu berhenti belajar….namun kecepatan yang harus disesuaikan, agar seimbang dengan kemampuan penyerapan dan kemampuan fisiknya.

  30. tini

    kapan kita berhenti? wah bu, luas sekali maknanya.

    kalau berhenti bekerja,……. mau apa atau apa yang akan dikerjakan selanjutnya?

    kalau berhenti belajar …….. kenapa? toh masih banyak cara untuk belajar.

    nah karena dunia tidak kekal “kutipan” dari mas Dhani, sudah berapa banyak bekal yang disiapkan?

    Tini,
    Ternyata tak mudah ya menjawab pertanyaan kita sendiri? Sebetulnya kita mau melangkah kemana? Apa bekal yang kita siapkan, apakah kita mampu untuk meneruskan langkah tersebut, atau sebaiknya kita menurunkan kecepatan untuk menilai kembali, kemudian baru meningkatakan kecepatan? Tentu sebetulnya kita sendiri yang paling tahu, apa yang paling tepat dengan keinginan kita.

  31. Hidup ini adalah 3P: Pilihan – Perjuangan – Pertanggungjawaban

    Adakah saat di mana kita perlu berhenti? Iya, ada. Yakni di saat kita harus mempertimbangkan apakah pilihan2 yg kita ambil sudah benar. Pun terkadang saat kita memperjuangkan, kita perlu berhenti sejenak untuk mengumpulkan energi, meminta bala bantuan, menggali dalam2 segenap potensi dan kekuatan kita. Namun ketika sudah masuk ke pertanggungjawaban, sepertinya tidak ada deh kata berhenti.

    Akhmad Guntar,
    Betul sekali…kayaknya memang tak pernah berhenti, yang ada hanyalah menurunkan kecepatan…mencoba fase berikutnya…atau malah memulai hal baru yang lebih menarik.

  32. nah karena kadang cuma waktu yang akan membuktikan, seringkali seseorang benar-benar lupa kapan waktunya buat berhenti ini, terutama kalau sedang mengusahakan dan mengejar sesuatu yang memang sudah ditargetkannya… sekalipun kadang memang ada saja momennya dimana berhenti akan jauh lebih baik daripada mengejar yang tidak pasti

    sebetulnya kalau buat saya sendiri masalah kapan berhenti tiap orang bebas menentukan kapannya sendiri, selama dirinya siap dengan apa yang akan datang setelah berhenti, ataupun yang akan datang bila menolak buat berhenti 😉

    Natazya,
    Sebetulnya hanya kita sendiri yang tahu keinginan kita…..kapan waktunya berhenti sejenak, mencharge baterei agar lebih punya semangat. Berhenti kan tidak harus berhenti dalam arti sesungguhnya, tapi mungkin malah baru mulai untuk fase lainnya.

  33. pertanyaan-pertanyaan seperti ini bu yang seringkali tidak bisa saya jawab… sampai saat inipun saya masih belum tahu mau kemana dan apa yang saya inginkan… masih mudah terombang-ambing oleh lingkungan… jadinya sering tidak fokus dan putus di tengah jalan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s