Oleh: edratna | Agustus 21, 2008

Menyiapkan kepemimpinan generasi penerus

Apa yang anda lakukan saat mendapat penunjukan untuk menjadi Pimpinan di suatu Unit Kerja? Selain anda harus bisa mencapai target yang dibebankan pada unit kerja tersebut, anda juga berperan sebagai seorang manager SDM untuk unit kerja tersebut. Tugas anda lah untuk meningkatkan kompetensi anak buah, mendorong masing-masing orang dapat bekerja sama, dan menilai siapa di antara anak buah anda yang nantinya mampu menggantikan posisi kepemimpinan setingkat jabatan yang anda pegang saat ini.

Untuk mencapai target unit kerja, anda harus mem break down pekerjaan pada masing-masing staf anda. Bagi staf yang belum cukup mampu, ditangan anda lah kewajiban untuk memotivasi dan mendorong, serta melatih staf dimaksud, agar bisa bekerja sesuai dengan tingkat kompetensi yang dibutuhkan. Anda dapat mendidiknya langsung melalui pemberian tugas-tugas yang menantang, dan mengirimkannya ke lembaga pelatihan, sesuai dengan hasil penilaian kemampuan yang bersangkutan selama ini, dan pengetahuan atau ketrampilan apa lagi yang perlu ditambahkan atau ditingkatkan. Anda juga dapat memberikan tugas melalui kerja kelompok, yang melibatkan karyawan senior dan yunior, sehingga para karyawan yunior dapat berlajar dari seniornya. Di salah satu perusahaan, ada kebijakan, bahwa para yunior langsung mendapat tugas dibawah bimbingan senior. Tugas tersebut diawali dari sederhana, dan meningkat bertahap, sampai dengan tugas yang cukup berat, menantang, yang akan menunjukkan sampai dimana staf yunior tadi dapat bekerja di bawah tekanan. Di sini atasan dapat melihat kemampuan para yunior tadi sampai titik yang paling bawah, dan bagaimana kemampuan mereka masing-masing dalam mengelola stres saat menghadapi pekerjaan yang menumpuk dan dead line yang ketat.

Selain memberikan tugas secara individual, atasan dapat memberi tugas kelompok. Kerja kelompok dapat pula melibatkan unit kerja lain, dan ini sangat penting artinya, agar para staf memahami pekerjaan teman-teman dari unit kerja lain, dari bidang keahlian yang berbeda-beda. Disini akhirnya para staf bisa berkumpul, bergabung, serta memahami bagaimana para staf bidang lain, seperti: bidang IT, Hukum, dan marketing jika bekerja. Hal ini sangat penting, karena saat ini ada pekerjaan yang tak hanya dapat dilakukan oleh orang yang mempunyai spesialisasi tertentu, namun juga memerlukan orang dari berbagai disiplin ilmu dan keahlian. Sebagai contoh: jika anda bekerja di perbankan, paling tidak selain memahami ilmu ekonomi, minimal harus memahami ilmu hukum, karena setiap langkah dapat berakibat hukum. Selain itu anda juga perlu memahami psikologi manusia, karena tugas anda banyak berhubungan dengan nasabah, baik nasabah penyimpan dana, maupun nasabah peminjam. Untuk mendukung keefektifan tugas anda, maka diperlukan dukungan dari IT, sehingga anda dapat membuat data base, serta bersama staf dari IT anda dapat menyiapkan berbagai produk baru maupun kebijakan, yang dapat diaplikasikan dilapangan, serta mudah pemantauannya.

Bagi anak buah yang kemampuannya sangat menonjol dibanding yang lain, anda dapat memberikan tugas tambahan, yang akan mendorong yang bersangkutan untuk semakin meningkatkan kompetensinya. Pada waktunya nanti, anda dapat mempromosikan atau memindahkan yang bersangkutan ke unit kerja lain, agar mendapat tambahan pengalaman sebelum mendapat promosi ke tingkat lebih tinggi. Selain itu, sebagai manager SDM, anda harus menilai kemampuan masing-masing staf maupun pegawai, dan membuat rencana training untuk masing-masing karyawan di bawah binaan anda. Bagi staf yang mendapatkan kesempatan training di lembaga pelatihan, untuk meningkatkan pengetahuan staf lain, sepulangnya dari pelatihan, yang bersangkutan diwajibkan melakukan presentasi di depan atasan dan teman-temannya. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh akan sangat bermanfaat, karena pada saat presentasi tersebut, sekaligus dilakukan diskusi apakah mungkin hasil pelatihan dapat diterapkan pada unit kerja untuk perbaikan sistem yang telah ada.

Disini anda melihat, betapa peran anda sebagai seorang manager sangat penting, selain anda berperan meningkatkan kinerja perusahaan, anda juga berperan untuk mendidik generasi penerus, yang nantinya akan meneruskan kepemimpinan anda. Pendidikan berhasil, apabila anda dapat mencetak generasi penerus yang lebih baik, dan lebih handal dibanding pendahulunya, sehingga pada saatnya, anda dapat meninggalkan perusahaan yang telah membesarkan anda serta memberikan banyak manfaat dan mendukung kelangsungan hidup anda sekeluarga dengan nyaman.

Catatan:

Mohon maaf hurufnya berbeda dari biasanya, karena pada awalnya ditulis di suatu kantor (sambil menunggu selesainya pekerjaan lain), menggunakan window 2007, yang kemudian di convert ke 2003……entah kenapa kok setelah ditayangkan hasilnya berbeda dengan tulisan sebelumnya, padahal masih menggunakan times roman 12.


Responses

  1. sifat kepemimpinan inilah yang kian langka di republik ini…..
    pemimpin memang banyak, tapi yang memiliki jiwa kepemimpinan?

    Ndoro Seten,
    Sebetulnya yang diperlukan adalah orang yang mau memberi pada orang lain, memberikan pengalamannya, memotivasi orang lain…..dari pengamatan saya, banyak kok orang yang seperti ini, tapi mereka bekerja diam-diam sehingga tak populer.

  2. Lebih banyak pemimpin yang maunya dilayani ketimbang memberi contoh. Memang, tak sedikit pula yang patut diteladani, tapi kalau dilihat perbandingannya, lebih sedikit ketimbang yang doyan bersikap bossy.

    Yang jadi soal: kalau seperti itu terus, akan tercipta frame yang lantah bahwa menjadi pimpinan itu ternyata memang seperti itu: bisa segalanya. Salah kaprah.

    Daniel Mahendra,
    Kadang saya suka sedih kalau membaca di beberapa blog, kayaknya banyak yang tidak puas. Mungkin saya termasuk orang yang beruntung, karena sebagian besar yang pernah jadi atasan saya adalah orang yang seperti saya ceritakan di atas, sehingga bisa membuat saya dari tidak ada apa-apanya, paling tidak bisa menjadi lebih berani mengemukakan pendapat, berani mendapatkan tantangan untuk menjadi pemimpin walau diawali dari unit kecil. Mudah2an, siapapun bisa memberi contoh, bahwa sebetulnya asal ada niat, kita bisa menjadi seorang pemimpin yang baik dan bijak.

    Dari blogmu, saya mendapat feeling, bahwa Daniel termasuk yang bisa melihat sesuatu dari sisi positif.

  3. Untuk menjadi Pemimpin baiknya harus ngerti pekerjaan yang paling ringan. Agar pada saat mencontohkan ke rekan kerja (kasarnya bawahan) tidak menanggung malu.

    Idealnya semua pemimpin ngerti pekerjaan bawahannya.

    Ada satu pengalaman yang membuat saya harus molor memperioritaskan target. Pasalnya SDM yang di rekrut tak sesuai dengan harapan. Waktu itu ketika time planning kerja di batasi deadline harus selesai bulan ini, ternyata tidak bisa selesai karena harus meng-handel kerjaan HRD yang belum ada, Harus menjadi Trainer pula karena sulit mendatangkan trainer dari Jawa…ini yang saya Alami. Intinya siapapun dari anda pindah kerja dengan Jabatan dan bidang yang di geluti sama dan menuntut keahlian khusus. Perhatikan betul2 bagaimana SDM yang ada di daerah yang akan anda tempati ini….Karena tak semua tempat memiliki SDM dan talent yang Bagus.

    Pakde
    ,
    Saya memahami kondisi yang diceritakan tersebut, karena saya pernah dua kali ke Jambi, dan mendengar cerita suka duka beberapa teman yang bekerja di sana. Kadang budaya daerah tertentu, juga memaksa kita menyiasati pekerjaan, agar semua berjalan dan dapat sesuai target. Memang yang paling enak adalah jika kita bisa memilih anak buah, namun kenyataannya tak bisa seperti itu. Saat awal rekruitmen yang baik pun, dalam perjalanannya orang yang baik tadi bisa menjadi rata-rata, bahkan tergoda melakukan sesuatu yang membahayakan. Tapi justru disinilah letak seninya menjadi pemimpin, kalau semua anak buah baik, ceritanya kurang seru dong.

    Pemimpin memang menjadi guru, menjadi instruktur, dapat membetulkan kesalahan….dan bersikap bijak jika terjadi situasi sulit.

  4. Memang kalau menjadi pemimpin dalam suatu unit (unit apapun itu) yang mungkin paling dibutuhkan adalah kreativitas, maksudnya di sini adalah kreativitas dalam arti seluas-luasnya. Kreatif dalam menyusun rencana kerja yang dinamis, kreatif dalam mengadaptasi ilmu yang didapat dari luar agar sesuai dengan kebutuhan unit/organisasi, kreatif dalam memacu produktivitas bawahan, dan lain sebagainya.

    Selain itu pengambilan keputusan yang cepat dan tepat dalam menghadapi situasi yang menjepit, obyektivitas terhadap penilaian prestasi individual, dan seabreg-abreg hal2 lainnya memang menunjukkan bahwa kita juga melaksanakan fungsi2 manajer SDM dalam skala mini. Pendek kata:, kreativitas, fungsi SDM, dan fungsi operasional unit harus dapat “dilebur” dan diproses dengan baik oleh pimpinan unit. Kadang2 memang pusyiiiiiiing 1001 keliling….. huehehe…..

    Yari NK,
    Bukankah memimpin itu suatu “seni”? Dan gaya kepemimpinan bermacam-macam, yang tak bisa diterapkan pada setiap bawahan. Untuk bawahan yang sudah memahami dan kompeten, boleh digunakan gaya partisipatif, misalnya. Namun untuk pemimpin unit operasional yang risikonya tinggi, gaya kepemimpinannya nya juga akan lain…dan pemimpin harus selalu check dan re check. Pimpinan juga harus punya visi ke depan…bahkan juga siap menghadapi hal-hal konyol, seperti: anak buah beradu mulut, selingkuh dsb nya…..hahaha…memang seru kok. Lha saya pernah ditilpon isterinya karyawan yang suaminya selingkuh……wahh ikut pusing.

  5. Sifat kepemimpinan harus dibentuk, dan diberi kepercayaan

    Hedi,
    Memang bisa dilatih, tapi nanti tetap mempunyai gaya kepemimpinan sesuai karakter masing-masing.

  6. sifat kepemimpinan harus senantiasa dibina & dilatih

    Afwan auliyar,
    Betul dan tetap dipantau. Bisa juga dilakukan cara penilaian secara kuestionair oleh anak buah, oleh peers maupun oleh atasan, sehingga ybs bisa memperbaiki gaya kepemimpinannya.

  7. awalnya dikasih jabatan baru memang terasa kuatir.. takut2 ga mampu mengemban tugas, ditambah lagi rasa cemas seandainya gak mencapai target.

    tapi pelan2 dan terus belajar, insyaAllah bisa juga menjalani tugas baru.

    dan artikel diatas salah satu pembelajaran yang bagus untuk saya 🙂

    Easy,
    Yang penting mau belajar, terutama belajar mendengarkan, juga meng update ilmu agar tak ketinggalan.

  8. Zamannya udah beda ya, Bu. Kalo dulu, orang takut banget posisi kepemimpinannya tergeser. (Ini juga saya tahunya dari baca buku-buku Pram pas masa feodalisme gitu)

    Tapi sekarang, masih dikader untuk jadi pemimpin saja sudah diingatkan bahwa tugas pemimpin adalah mencetak pemimpin-pemimpin masa depan.

    Sanggita,
    Awal saya masuk bekerja, orang-orang mau masuk ke ruang Kepala Cabang takut banget. Setelah saya jadi manager (setingkat Kepala Cabang), anak buah bebas keluar masuk, begitu pula saat jadi Kepala Divisi (setingkat GM). Teman yang lainpun bersikap sama, bahkan Direksi pun membuka pintunya lebar-lebar dan selalu siap menerima laporan anak buah. Apalagi kalau ada apa-apa bisa langsung sms atau email, bahkan untuk ke Direksi. Situasinya memang berubah, pintu tak pernah tertutup, saya banyak belajar dari para staf yang menurut saya jauh lebih pinter dibanding saat saya seumur mereka.

  9. nice…
    andaikan semua pemimpin seperti itu… *ngayal*

    Septy,
    Memang perlu dibuat sistem, sehingga atasan yang aneh, akan malu sendiri…..

  10. menurutku, asal ada kemauan pasti ada jalan. walaupun kadang gagal, itu wajar krn manusia tempat salah dan lupa, yg penting tdk menghentikan kita dr terus belajar dan berusaha….

    duh, kok jd sok wise gini yah

    p.herry setyono
    ,
    Betul, dan berusaha menghargai kemauan orang lain untuk belajar dan maju….

  11. Seorang pemimpin biasanya hanya fokus pada bagaimana cakap sebagai manager, padahal juga harus berperan sebagai pendidik untuk meneruskan kepemimpinan! Yang terakhir ini sering terlupakan bahkan mungkin tidak diperhatikan. Sesuatu yang berkaitan dengan didik-mendidik dan berbagi pengetahuan bukankah itu hal yang mulia? Seorang pemimpin punya kesempatan untuk itu, sayang sekali kalau tidak melakukannya.

    Tanti,
    Hal tsb bisa didorong oleh suatu sistem dalam perusahaan. Penilaian seorang pimpinan bukan hanya pada pencapaian target, tapi juga ada kewajiban mendidik anak buah. Di kantor saya (sebelum saya pensiun), setiap manager harus membuat rencana untuk setahun ke depan, termasuk rencana mengusulkan pelatihan pada anak buahnya, dan ini termasuk yang dinilai dan di audit….masing-masing unit kerja akan mendapatkan audit minimal setahun sekali. Juga ada namanya forum komunikasi, sebelumnya diedarkan kuestioner untuk menilai pimpinan unit masing-masing…dan ada acara heart to heart….disini banyak pimpinan yang merah mukanya, ada yang menangis karena anak buah bebas mengkritik, dan moderatornya gabungan tim dari berbagai unit kerja.

  12. Di situlah pentingnya sebuah leadership. Selain sebagai pengambil keputusan, juga sebagai penentu kebijakan yang tak hanya bagi dirinya semata, namun juga bagi bawahan dan lembaga atau sektor yang dipimpinnya sehingga mampu memberikan kontribusi yang bisa dirasakan bersama-sama.

    Mufti AM,
    Betul…..bukankah jika kita bisa menyiapkan tongkat kepemimpinan, berarti juga beribadah…..dan nantinya akan mendapatkan pemimpin yang baik, sehingga suatu ketika akan diperoleh SDM yang makin baik.

  13. Berharap semua pemimpin membaca blog ini deh. Pernah ada pengalaman ada perusahaan yang hanya mengirim karyawan yang itu itu aja untuk mengikuti training dll yang ada kaitannya dengn peningkatan keahlian, sedangkan yang lain yang kemampuannya kurang malah ngak dapat kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya, padahal sudah dihired semestinya seperti tulisan mbak Enny dong ” Bagi staf yang belum cukup mampu, ditangan anda lah kewajiban untuk memotivasi dan mendorong, serta melatih staf dimaksud, agar bisa bekerja sesuai dengan tingkat kompetensi yang dibutuhkan.” terimakasih

    Yulism,
    Perusahaan tadi mungkin belum membuat sistem pemantauan…..jika sudah akan terlihat dari data base, siapa saja anak buah yang belum pernah dikirim ke pelatihan, dan ini termasuk point yang dinilai dalam kinerjanya, jadi tak hanya dari sisi pencapaian target saja.

  14. Kepemimpinan itu sepertinya memang tidak ada ilmunya, tapi sudah terpatri dalam setiap orang, tinggal kesempatan dan kemauan untuk menggunakan dan mengasahnya, atau tidak sama sekali.

    Delapan tahun saya jadi manager dan ketika saya harus resign dan sebelumnya dalam 2 bulan ini harus men-training mantan anak buah saya menjadi pengganti saya, disitu baru bisa saya lihat bahwa pada dasarnya tinggal masalah mau mengasah atau tidak.

    Masalah gaya kepemimpinan, sama atau tidaknya dengan yang disuksesi, ah… mana ada orang yang sama di dunia ini.

    Suara kentut nya pun *maaf* juga udah beda kok.

    Tulisan yang inspiratif, Bu!

    Donny Verdian,
    Memang diperlukan kemauan dari pemimpin tadi…dan dalam perusahaan dapat dibuat sistem, agar mau tak mau seorang pemimpin dipaksa untuk menjadi seorang pimpinan yang efektif. Penilaian kinerja juga terdiri dari hard kompetensi dan soft kompetensi. Dan memang gaya kepemimpinan masing-masing orang berbeda…sayapun juga mengalami perubahan, karena pernah dikritik juga oleh seorang psikolog, karena saya cenderung berorientasi pada hasil, padahal saya juga harus lebih memperhatikan proses, bagaimana “gesture” atau perubahan perilaku anak buah. Pelatihan, pemantauan seperti inilah yang membuat saya dipaksa belajar mengenal kelemahan diri sendiri…juga kritikan langsung dari anak buah yang disampaikan melalui kuestioner sangat membantu untuk memperbaiki kemampuan kita sebagai pemimpin….memang sakit, tapi akhirnya menjadi terlatih menerima kritik, betapapun kerasnya, karena berarti anak buah sayang sama kita.

  15. iyah bu mencari kader buat penerus penting banget… 🙂
    ah sy masih muda koq dah mikir itu 😀 hehee

    Arul
    ,
    Saat mahasiswa (saya sistem lama), ada juga pelatihan kepemimpinan……jadi nggak apa-apa Arul belajar, awalnya dari membaca….nanti tinggal mempraktekkan dilapangan jika tiba masanya.

  16. Kalau suatu hari saya jadi pemimpin … saya akan berikan yang terbaik dari yang saya miliki, seperti Ayah saya dan anak buahnya 🙂

    *mimpi mode ON*

    Rindu,
    Saya doakan suatu ketika Rindu akan menjadi seorang pemimpin yang baik, minimal bisa memimpin dan mengarahkan putra putrinya nanti.

  17. tulisan yang sangat bermanfaat, Bu. sosok pemimpin ideal seperti itu bukannya tidak ada. btw postingan Ibu sepertinya berjodoh dengan postingan saya, hehehehe

    http://tempatsharingku.blogspot.com/2008/08/he-trusts-me.html

    Utaminingtyazzzz,
    Saya menjadi seperti sekarang juga atas jasa para atasan saya, yang memberi kepercayaan, dan mendorongku jika saya ragu-ragu, memarahiku jika saya salah. Jadi, kalau dimarahi atasan jangan sakit hati, karena disitulah pembelajarannya, yang mengingatkan kita agar jangan sampai melakukan kesalahan yang serupa lagi.

  18. manusia itu pada dasarnya menjadi pemimpin…karena memang kodratnya menjadi kalifah..
    nah masalahnya saat pemimpin ketemu pemimpin..maka tidak terbiasa dipimpin…

    maka sebetulnya yang diperlukan adalah sekolah kerakyatan, sekolah keanakbuahan..
    kalau sekolah kepemimpinan ndak perlu..
    😉

    <Mas kopdang,
    Saya tak perlu memberi komentar banyak ya…saya sepakat dengan komentar Sanggita di bawah ini.
    Pernah membaca buku leader and follower?
    Pada dasarnya kita adalah leader, namun juga menjadi follower…dan belajar menjadi seorang pemimpin yang baik menurut saya tetap perlu, karena saya merasakan keuntungannya belajar leadership tersebut…

  19. tulisan yang sangat bermanfaat, Bu. sosok pemimpin ideal seperti itu bukannya tidak ada. btw postingan Ibu sepertinya berjodoh dengan postingan saya, hehehehe

    Utaminingtyazzzz
    ,
    Berarti kita sehati ya???? …:P

  20. keberhasilan sebuah kepemimpinan terkadang bisa diukur dari berapa ia melahirkan pemimpin2 baru yang secara kualitas akan lebih baik

    Achmad Sholeh,
    Saya sendiri belum tahu cara mengukurnya, seperti bagaimana mengukur hasil suatu training, walau secara teori ada, menggunakan ROTI (Return on Training Investment)…..prakteknya yang sulit. Paling masih berupa kualitatif….kalau anak buah si A, kok semua hebat ya? Pertanyaannya, anak buah yang memang cepat tanggap, atau bosnya yang hebat?

  21. Banyak standarisasi mengenai kepemimpinan dan sistem regenerasinya..
    Tapi saya lebih banyak belajar mengenai kepemimpinan melalui street smart leadership dalam kehidupan sehari-hari..

    Guruh,
    Belajar memang bisa dari mana saja….

  22. saya pernah di posisi menjadi pemimpin baru
    saya pernah di posisi menjadi staf baru
    tapi keduanya di perusahaan yang berbeda
    yang belum pernah adalah menjadi pemimpin baru dan staf baru di perusahaan yang sama
    yang lebih berat adalah menjadi pemimpin yang baru
    karena harus bisa melihat karakter dan kemampuan staf di lingkungan yang baru-

    Sigit,
    Paling tidak kalau menjadi Pimpinan di unit kerja baru, mulesnya sebulan. Nanti kalau udah mulai kenal anak buah, udah cocok dengan lingkungannya…ehh dipindah lagi. Lha memang tugas kita mendidik kok……dan kita sendiripun harus tetap belajar terus….

  23. wah, tulisan yang menyentuh banget, bu enny, menurut pendapat saya, inilah problem terbesar bangsa kita. sulitnya melakukan regenerasi. mungkin ada juga sebagian pemimpin yang ndak mau menularkan ilmunya, atau bisa jadi generasi penerus yang segan utnuk belajar. mudah2an saja, ndak sampai setragis itu, bu, agar proses pemberdayaan SDM di negeri ini bisa terus berjalan dg baik.

    Sawali Tuhusetya,
    Saya hanya sharing pak, pengalaman saat menjadi anak buah dan pimpinan, karena kebetulan saya beruntung mempunyai atasan yang baik. Juga perusahaan tempat saya bekerja dulu, trainingnya berjalan efektif (karena mempunyai satu Pusat Pendidikan dan pelatihan, dan ada unit Sentra Pendidikan yang tersebar di 6 propinsi), minimal setiap karyawan setahun sekali harus ikut pendidikan…bahkan sampai ke para satpam. Jika pelatihan yang sesuai dirasa kurang mencukupi karena kapasitas terbatas, dapat dikirimkan ke lembaga pelatihan lain (public training). Atasan yang tidak memperhatikan akan terkena teguran langsung, karena minimal setahun sekali diperiksa oleh auditor.

  24. Dari komentar di blog ini saja mayoritas sudah menyadari bagaimana pemimpin itu seharusnya. Sebelum berbicara konteks negara, yang bisa kita lakukan ya menjadi pemimpin bagi diri sendiri (ini yang susyah bener) dan mampu menjadi teladan bagi sekitar kita. Tanpa perlu melihat usia lho. Dan perlu juga kaderisasi – ke anak misalkan.

  25. Menanggapi mas Kopdang, saya pikir sekolah/training kepemimpinan itu perlu.

    Namun, sekolah, training, dsb, bukanlah sebuah metode untuk mendapatkan pengetahuan baru tentang kepemimpinan. Kalau itu tujuannya, jelas tidak akan efektif. Ia akan efektif, kalau kita posisikan sebagai metode untuk restrukturisasi pengetahuan.

    Mengapa?

    Karena apa yang kita pelajari di sekolah/training, sebenarnya kan bukan merupakan sesuatu yang baru ada di dunia ini. Ia adalah hasil dari studi sistematis terhadap fenomena yang sudah lebih dulu terjadi.

    Maka dari itu, fungsi utamanya bukan untuk memberikan sesuatu yang baru pula pada para pelajarnya, melainkan lebih kepada menjadikan pengetahuan yang sudah dimiliki menjadi terstruktur, tertata rapi, sistematis.

  26. Oya, nambah lagi menanggapi mas Kopdang : Waktu menjadi tim trainer outbound untuk management trainee tempat saya bekerja, salah satu kolega saya mengingatkan para peserta bahwa Good Leader is a Good Follower too.

    Jadi untuk yang satu ini, saya sepakat dengan mas.

    Sanggita
    ,
    Wahh makasih tambahan sharingnya…..saya tak perlu menambah lagi ya….

  27. hmmm
    kadang manajer sendiri mempersulit anak buah untuk meningkatkan kompetensinya dengan alasan klasik: SI ANAK BUAH MASIH DIPERLUKAN DI UNIT KERJANYA UNTUK MELAKUKAN JOB DESC YANG TELAH DITENTUKAN…
    lha..kalau yang begitu gimana mbak?

  28. ternyata jadi pemimpin itu emang butuh kerja keras ya, Bu. musti memang betul2 berani. tapi apakah semua orang punya jiwa kepemimpinan, Bu?

    (^_^)v

    jadi bawahan enak sih, kalau pimpinannya bisa membimbing dan mengarahkan.

  29. Cung nanya. Apa bener kalo di Indonesia budaya menghargai prestasi bawahan itu kurang Bu? Katanya sih karena pemimpin takut tersalip oleh bawahannya.

    Iwan Awaludin
    Kebetulan saya sendiri beruntung mempunyai atasan yang mau mendidik, melatih dan memberi kesempatan. Bahkan beliau mengetahui kompetensi saya, dan berani mengambil risiko untuk memberikan tugas dan jabatan yang saya sendiri tak berani membayangkan.

    Di pihak lain, saya juga masih melihat ada atasan yang enggan berbagi, namun saat ini atasan seperti ini sudah sangat jauh berkurang.

  30. kalau yang diuraikan mbak seperti dalam artikel itu maka manajer organisasi itu sudah menerapkan salah satu sisi pembelajaran…….yakni memberikan kepercayaan pada subordinasi untuk melakukan tugas-tugasnya dengan baik….sekaligus pula selalu mendorong subordinasi meningkatkan mutunya dalam wujud…kreatifitas,inisiatif,dan bahkan inovatif……itulah arti dan makna kaderisasi yang sebenarnya…..termasuk tidak harus takut kehilangan wibawa seandainya subordinasi ada yang semakin smart…bahkan sang manjer patut gembira…..itulah keteladanan yang harus ditunjukkan oleh manajer sebagai seorang pimpinan dan pemimpin……

    Sjafri mangkuprawira
    ,
    Betul pak Syafri….yang penting harus memberi contoh dengan tindakan nyata…..dan sebetulnya Pimpinan yang baik akan senang jika anak buahnya berhasil…..

  31. kepemimpinan adalah suatu sikap & tindakan bukan sekedar posisi. Bu saya posting tentang kepemimpinan Nusantara dalam Hasta Brata :mrgreen:

    Tomy,
    Saya jadi ingat mantan CEO saya…beliau suka sekali mengkaitkan cerita kepemimpinan dari falsafah Hasta Brata….juga suami saya, yang memang pencinta wayang, dan saat masih muda suka mendalang.

  32. wah…saya juga berminat dg kepemimpinan nih^^

    hmm…baca komen2 di atas, jd seberapa besar peran follower terhadap leader ??
    bagaimana followership yang baik itu ???

    soale rada ganjel dg yg ini :
    […kalau semua anak buah baik, ceritanya kurang seru dong.]

    IMO, mengukur efektivitas training, bisa pake skala kok bu, heheheeh *kebetulan tesis sya dan temen2 kebanyakan pake metode training, dan utk mengukur seberapa efektif, kita pake skala aja. misal ttg team buliding, ya kasih aja skala tema building lalu di pre-pot test gt…* :mrgreen:

    Restlessangel
    ,
    Kenyataan dilapangan, setiap anak buah mempunyai karakter masing-masing, dan pada umumnya setiap unit kerja ada aja anak buah yang di luar “biasa”. Ini menjadi tantangan seorang Pimpinan, bagaimana bisa membuat anak buah yang sulit tadi menjadi mau bekerjasama.

    Skala untuk mengevaluasi hasil training memang umum digunakan, dan prakteknya mereka lebih suka memilih ditengah….padahal kalau ditanya sendiri-sendiri, baru mau cerita kekurangan instruktur masing-masing, itupun off the record…. Metode training juga harus disesuaikan dengan materi yang akan diajarkan, siapa peserta trainingnya, dan apa tujuannya (untuk menambah skill atau knowledge, atau keduanya)… Karena training yang bertujuan mendorong orang berpikir konseptual, pada akhir training peserta dapat diminta membuat makalah dan dipresentasikan. Namun pada dasarnya, dari hasil diskusi dengan para trainer, belum ada pengukuran yang betul-betul bisa menggambarkan efektifitas training….kecuali training untuk skill tertentu, yang kemudian dapat dinilai langsung dari hasil kinerjanya, target meningkat, kesalahan berkurang dsb nya. Training yang bersifat konseptual, perlu waktu untuk membuktikan efektivitasnya. Dan tentu saja, para atasan harus ikur berperan, agar hasil pelatihan di kelas dapat dipraktekkan dilapangan.

  33. […] Mengembangkan Orang Lain Melanjutkan pembahasan pada tulisan sebelumnya, tentang bagaimana peran seorang Pimpinan dalam menciptakan generasi penerus, maka pada […]

  34. wah nanti kalo ada acara buat biar bisa handal leadership bu enny, saya ikut dong…. jadi nggak akan belajar soal keuangan ama manajemen doang ama ibu

    Arie,
    Boleh…boleh…kapan??? Arie sendiri sibuk banget begitu…
    Dilapangan, walau kita belajar dari mengamati, namun memahami ilmu leadership yang kemudian diterapkan dilapangan, hasilnya akan semakin baik


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: