Andaikata orangtuaku ngeblog

Entah kenapa beberapa hari ini terbayang wajah ayah dan ibu. Mungkin karena saya membayangkan seperti apa perasaan beliau saat pertama kali saya meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan kuliah di kota yang terkenal curah hujannya tinggi. Kondisi fisik saya yang mempunyai kelemahan di perut membuat beliau kawatir, akankah saya kuat menahan serangan hawa dingin? Bagaimana jika sakit, siapa yang akan merawat? Seorang ibu adalah tetap seorang ibu, yang tidak pernah menganggap anaknya besar. Jika lama tidak mendengar berita anaknya, maka akan terjadi kekawatiran. Pada saat ini, dimana komunikasi relatif lebih mudah, adalah hal biasa, jika pada jam-jam tertentu, ada telepon dari anak, dan jika di kantor banyak staf perempuan, harus memaklumi hal ini. Pernahkah anda memperhatikan, bagaimana seorang pimpinan rapat, yang kebetulan seorang ibu, dengan tegas dan lugas menguraikan argumentasinya atas suatu masalah pada rapat….tiba-tiba handphone nya berdering….saat menerima telepon, nada suaranya langsung berubah, menjadi lebih ringan, dan lebih lembut. Dari perubahan wajah dan nada suaranya, anda dapat memperkirakan bahwa telepon tadi dari anaknya.

Lanjutkan membaca “Andaikata orangtuaku ngeblog”