Oleh: edratna | Agustus 23, 2008

Andaikata orangtuaku ngeblog

Entah kenapa beberapa hari ini terbayang wajah ayah dan ibu. Mungkin karena saya membayangkan seperti apa perasaan beliau saat pertama kali saya meninggalkan kampung halaman untuk melanjutkan kuliah di kota yang terkenal curah hujannya tinggi. Kondisi fisik saya yang mempunyai kelemahan di perut membuat beliau kawatir, akankah saya kuat menahan serangan hawa dingin? Bagaimana jika sakit, siapa yang akan merawat? Seorang ibu adalah tetap seorang ibu, yang tidak pernah menganggap anaknya besar. Jika lama tidak mendengar berita anaknya, maka akan terjadi kekawatiran. Pada saat ini, dimana komunikasi relatif lebih mudah, adalah hal biasa, jika pada jam-jam tertentu, ada telepon dari anak, dan jika di kantor banyak staf perempuan, harus memaklumi hal ini. Pernahkah anda memperhatikan, bagaimana seorang pimpinan rapat, yang kebetulan seorang ibu, dengan tegas dan lugas menguraikan argumentasinya atas suatu masalah pada rapat….tiba-tiba handphone nya berdering….saat menerima telepon, nada suaranya langsung berubah, menjadi lebih ringan, dan lebih lembut. Dari perubahan wajah dan nada suaranya, anda dapat memperkirakan bahwa telepon tadi dari anaknya.

Dahulu, jika anak jauh dari orangtua, hanya suratlah yang membawa kabar dari dan ke kampung halaman. Betapa senangnya orangtua menerima surat dari pak pos, bahkan pak pos ikut merasakan kesenangan orang yang menerima berita dari surat yang dibawanya. Kalau suatu ketika pak pos ketemu ayah saya di jalan, selalu menyapa dengan pertanyaan….”Bagaimana pak, kabar mbak A, atau mas B? Kok sudah lama saya tak membawa suratnya?” Saya masih ingat, saat saya sudah lulus kuliah dan sedang menunggu panggilan, saat itu adik-adik saya masih kuliah di luar kota. Setiap hari, pulang dari mengajar, ayah selalu menunggu pak pos lewat, padahal baru saja kemarin menerima surat dari adik bungsuku. Saya terharu melihatnya, karena dulu saya tak pernah memikirkan hal seperti itu, dan karena kepadatan kuliah saya hanya menulis surat secara rutin minimal sebulan sekali setelah menerima kiriman uang melalui wesel dari ayah, yang di ambil di kantor pos. Ya, saat itu mengirim uang melalui wesel, dan agar mudah untuk mengambilnya di kantor pos, tanpa harus meminta tanda tangan dari administrasi kampus, maka saya mengurus C7 (saya lupa singkatan dan artinya). Dengan membawa wesel, dilengkapi C7 dan kartu mahasiswa, maka saya bisa mencairkan uang di kantor pos. Dan ayah selalu menulis kabar keluarga di kampung pada kolom yang tersedia di wesel tersebut, dan isi tulisannya selalu sama….”Keluarga sehat-sehat semua, semoga kuliahmu lancar, jangan lupa selalu berdoa pada Tuhan…”

Ayah selalu tersenyum, dan kadang terbahak-bahak membaca surat dari adik bungsuku. Adik bungsuku pandai bercerita, dan lucu, membaca blognya, saya bisa tersenyum-senyum sendiri, apalagi jika dia menceritakan kekonyolan yang dilakukannya saat masih muda di kampung halaman. Pada akhirnya saya mengetahui dari cerita adik bungsuku, bahwa dia berjanji pada diri sendiri minimal setiap minggu mengirim surat pada bapak ibu, karena tidak tega melihat ayah setiap hari duduk mencangkung di teras menunggu surat dari anaknya yang tak datang juga. Sayang saya tahu cerita ini belakangan, dan saya juga akhirnya memaklumi jika kadang anak saya lupa menelepon karena sibuk di kegiatan perkuliahan dan kegiatan lain. Sekarang saya yang sering menelepon, sekedar menanyakan kabar atau mengirim sms jika si bungsu telah dua hari tak ada kabar……padahal si bungsu tinggal di rumah sendiri bersama ayahnya di Bandung.

Saya pernah mendapat komentar dari salah satu blogger yang juga teman anak saya, dia mengatakan…”Betapa senangnya andaikata ibu saya alm ngeblog, sehingga saya mengetahui apa pandangan ibu, dan pemikiran-pemikirannya, serta apakah ibu bangga akan pencapaian saya, atau ibu kecewa. Betapa senangnya anak ibu, bisa membaca pemikiran ibu, dan pandangan ibu dalam berbagai hal.” Saya katakan bahwa seorang ibu akan selalu memahami anak-anaknya, bahkan untuk anak yang biasa-biasa saja, ibu akan tetap menyayanginya. Saya juga terpikir, “..ahh ….andaikata ayah ibuku ngeblog, betapa senangnya…” Saya tahu, bapak ibu sangat bangga pada kami, ketiga anaknya, dan ini sering secara tersirat diungkapkan pada teman-temannya. Tapi saya suka sedih kalau mengingat beliau berdua tak berumur panjang, tapi setelah dipikirkan, mungkin semua ini takdir. Dan untuk ukuran orangtua saya, yang hidup di kota kecil, dengan lingkungan sederhana, mempunyai putra putri semuanya menjadi Sarjana, dan sempat mengetahui adik bungsuku dapat melanjutkan kuliah di Amerika, adalah merupakan karunia yang tidak terkira. Mungkin seperti saya sekarang, betapa perjuangan saya berdua dengan suami, dengan suka duka dapat membesarkan kedua anak kami dan semuanya telah selesai S1…..dari segi pembiayaan mungkin tak terlalu berat, tapi kondisi saat ini, dengan banyaknya kasus narkoba dan semuanya, membuat saya merasa beruntung serta bersyukur, betapa Allah swt menyayangi keluarga kami.

Ahh……andaikata orangtuaku ngeblog……mungkin ini yang membuat saya tetap menulis, karena saya tahu anak-anakku akan membaca tulisan ibunya…..walau mungkin tak memberikan komentar.


Responses

  1. Kecanggihan internet telah memperkecil jarak dan waktu. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya ya.

    Kekurangannya, saya lebih bebas menulis/bercerita di blog tentang segala sesuatu dibandingkan jika berhadapan langsung. Padahal generasi mereka jarang mau membaca/ atau membuka internet meskipun fasilitas itu ada.

    Salam kenal bu
    EM

    Ikkyu_san,
    Wahh….makasih kunjungannya
    Kalau tahu ceritanya, saya paling nggak bisa menulis, tapi lebih suka cerita atau mengajar. Menulis di blog awalnya atas saran anak-anakku, karena setelah pensiun, anak-anak kawatir ibu bingung ga ada kerjaan….hehehe…ternyata keterusan, bahkan ternyata setelah pensiun ya nggak ngganggur amat, ada aja yang dikerjakan. Dan ternyata, menulis di blog bisa untuk menurunkan tingkat stres, sama seperti kalau lagi merawat tanaman, atau menjahit…..

  2. Waktu jadi mahasiswa di Bandung saya amat jarang menulis surat untuk orang tua saya, biasa sok sibuk, tapi mungkin karena laki2 ya Bu? nggak kepikiran untuk menulis hal2 kecil / detail se-hari2, yg penting semua sehat dan kuliah lancar.

    Baru waktu di LN sendirian (istri belum nyusul) saya jadi agak rutin nulis surat buat keluarga di tanah-air. Mungkin sebagai pelepas stress ya … Padahal surat baru seminggu nyampe, nunggu balesan seminggu lagi. Telpon juga seminggu sekali 3-5 menit habis 1 kartu 100 Franc karena harus ngirit … hehehe

    Tapi intinya komunikasi memang penting untuk dijaga terus walau saran serba sulit. Apalagi sekarang sudah banyak kemudahan, tentu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, bukan begitu ?

    Oemar Bakrie,
    Adik bungsu saya paling rajin menulis surat, karena melihat ayah ibu sangat menunggu-nunggu surat dari anaknya….karena dia yang terakhir meninggalkan rumah. Dan dulu telepon susah, rumah saya nggak ada teleponnya. Sekarang saya merasakan apa yang dulu mungkin dirasakan oleh ayah ibu, selalu menunggu kabar anak-anak, walau cuma sekedar sms, yang berarti semuanya Oke.

  3. wah, andai saja semua keluarga di negeri ini seperti keluarga bu enny, berpendidikan dan selalu akrab dg media dunia maya, mungkin tak akan ada hambatan dalam berkomunikasi, bahkan bisa curhat lewat blog. itu sudah lebih dari cukup utk bisa terus berkomunikasi meski harus dibatasi oleh jarak. saya juga sudah mulai memperkenalkan anak-anak saya pada dunia blog, bu. bahkan, sudah saya buatkan. maklum, anak2 saya belum sepenuhnya paham ttg dunia internet shg saya belum percaya diri kepada mereka utk membuat blog sendiri. selamat bu enny, semoga ibu dan keluarga senantiasa dalam keadaan sehat dan sejahtera. amiin.

    Sawali Tuhusetya,
    Saya juga nggak terlalu paham teknologi pak, makanya tampilan blog tetap sama aja….dan yang diusahakan adalah bisa rutin mengisi/menambah tulisan di blog. Dan isinya juga nggak berat-berat amat, malah seperti cerita dongeng saja….kalau yang berat udah urusan kantor, jadi kalau urusan ngeblog penginnya yang ringan aja.

    Iya, dengan ngeblog memang lebih mendekatkan anak-anak saya, menantu saya, juga adik dan keponakan, walau mereka juga nggak terlalu aktif, karena kesibukannya.

  4. internet aja baru masuk desa…..ada juga yang belom ada di desa desa, gimana mau maju>……?

    Melih,
    Minimal kita mesti bersyukur bahwa internet semakin dikenal. Dan sebetulnya komunikasi tak dibatasi hanya melalui internet, bisa melalui sarana apa saja. Terus terang, saat masih aktif bekerja (kalau sekarang saya tak tiap hari ngantor), praktis internet rata-rata hanya untuk email…dan isinya adalah surat menyurat terkait dengan tugas, draft meeting dengan klien dsb nya…..

  5. Mungkin saya generasi yang lebih muda dibanding Bunda (maaf selama ini panggil mbak abis kemarin waktu liat fotonya kayaknya mbak panggilan yang tepat) tetapi karena orang tua saya tinggal dikampung ngak ada tiang listriknya jadi ndak punya telephone waktu saya kuliah di th 1993. Saya juga begitu jarang menulis surat, karena tenggelam dengan kegiatan di campus dan camping sama teman teman. Menulis surat kalau akan ada ujian dan mohon didoakan oleh Ibu dan Bapak saja. Tetapi Alhamdullilah sekarang sudah ada telephone di desa jadi bisa ngobrol sama Ibu seminggu sekali walaupun jauh jaraknya. terimakasih

    Yulism,
    Iya, mungkin saya seumur ibundamu….dipanggil mbak juga nggak apa-apa kok, malah menjadi lebih muda…hehehe
    Anak2 biasanya memang sibuk, kedua anak sayapun demikian, mereka lupa kalau mereka pulang telat ortu kawatir…bukan nggak percaya, takut ada apa-apa di jalan. Sebetulnya mendapatkan surat memang menyenangkan, nulisnya itu lho yang males……

  6. Iya, saya juga kepengen tahu curhatan orang tua saya kalo ngeblog 😀 sayangnya mereka tidak melek teknologi dan belum menjadikan tulisan sebagai sebuah budaya 🙂

    Donny Reza
    ,
    Ayah jarang menulis, tapi kalau saya pulang bisa diskusi apa aja. Ibu suka mendongeng, cerita, juga menulis surat. Mungkin saya menurun dari ibu, menulisnya gaya cerita, maklum memang ga ada bakat menulis, tapi memaksa diri untuk terus menulis.

  7. Jadi membayangkan blog saya ini, saya baca untuk 10-20 tahun lagi..
    pasti ada suka dan duka ketika membacanya.
    apalagi kalo dibaca oleh anak2 saya nantinya…
    sungguh nostalgia yang tercatat indah 🙂

    Arul,
    Wahh iya ya…..seperti membaca surat bung Karno…..
    Dan dianggap ceritanya udah jadul…hehehe

  8. Senang juga ya bu kalau orang tua kita bisa nge-blog. Kebetulan bapak saya yang usianya hampir kepala 7 juga suka nge-blog, apalagi yang diposting hal-hal yang lucu. Jadi walaupun tinggal di kota lain, tapi rasanya jadi dekat setelah berkunjung ke blog beliau 😀

    Inos,
    Betulkah? wahh senang sekali…apa alamat blognya, saya juga pengin berkunjung….Inos sangat beruntung…

  9. benar sekali, Bu, para ibu akn sllu menganggap anakny blm besar. yah, itu kadang bs merepotkan…

    benar juga, ya. andaikn kedua ortuku ngeblog…
    jd tersindir, nih. zaman sdh canggih gini, jarang bgt telpn ke rmh. lbh bykn ibu yg nelpon. yah, ank kek apa aku ini…

    (^_^)v

    Farijs van Java,
    Berarti ada gunanya kan saya menulis postingan ini…mengingatkan orang untuk menilpon ortu?

  10. Yang jelas memang ngeblog lebih banyak positifnya daripada negatifnya, tentu kalau itu dilakukan dengan waktu yang proporsional dan juga isi2 blognya yang positif. Pendek kata ngeblog bagi saya bukan hanya sekedar “sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui” tetapi bahkan bisa “sepuluh pulau terlampaui”.
    Ya… selain blog sebagai penghubung dengan orang2 yang kita cintai dan kita kenal, dan juga bertukar ilmu tentu saja, blog juga ikut membantu mengembangkan kreativitas kita. Saya dulu merasa bahwa mungkin saya akan cepat kehabisan bahan/ide (apalagi saya sudah bertekad untuk meminimalisasi ekspos kehidupan pribadi dan keluarga saya di blog ini, jadinya pilihan bahan menjadi lebih sedikit) dan tidak akan “bertahan lama” ngeblog. Ternyata alhamdulillah hingga kini ide/kreativitas dalam menulis ternyata mengalir terus…. Mungkin karena sudah mulai terbiasa berfikir tentang bahan apa yang akan ditampilkan di tulisan mendatang, jadinya sepertinya ide mengalir terus…. huehehehe…….

    Yari NK,
    Betul…sayangnya blog saya masih gado-gado…..yang penting berusaha menulis, walau mungkin sangat remeh, tapi diantara remeh temeh tadi saya selipkan pesan tersirat, yang mudah2an sampai untuk orang yang membutuhkan.

  11. Selama ini aq merasa kl ibuku ga akan pnh mengkhawatirkanku krn beliau tahu kl aq ga bakalan macem2, tnyt oh tnyt…. saking khawatirnya, begitu mendengar kabar tertangkapnya seorang artis muda krn terjerat narkoba, ibuku lgs menelpon, beliau khawatir sekali dan mengungkapkan betapa was2nya hati beliau krn telah melepasku pergi merantau ke ibukota. Ah ibu, betapa aq sangat menyayangimu.

    Pimbem,
    Ortu akan selalu memikirkan anak-anaknya, cuma nggak ingin menganggu atau memecah konsentrasi anak. Pada peristiwa tertentu, ortu kawatir juga…karena Jakarta kan terkenal sebagai ibu kota yang lebih kejam dibanding ibu tiri.

  12. untung waktu saya kuliah sudah ada teknologi HP jadi seringkali ortu sms sekedar tanya,

    “sudah makan? makan pakai apa?”

    pertanyaan sederhana tapi mengena.

    baca ttg wesel saya jadi ingat, papa npernah cerita kalo jaman dulu ga ada rahasia-rahasiaan mengenai kirirman bulanan antar teman kos. jadi ketahuan siapa yang paling ga punya dan siapa yang paling makmur, hehehe..

    waktu itu papa termasuk yang prihatin jadi harus punya trik trik khusus. salah satunya, membuat catatan paling lengkap dan rapih. trus kalo ada yang mau pinjam harus ambil di kost-kost-annya supaya bisa ditebengin ke kampus :p

    utaminingtyazzzz,
    Iya betul….wesel kan terbuka, berapa jumlah yang dikirim dan isi pesannya……

  13. Seandainya Ibu masih ada … mungkin sekarang sedang membaca tulisan di blog saya ya Bunda. ah ada yang hilang memang …

    Tapi harus kuat kan Bunda?

    Rindu,
    Aduhh maaf…..jadi mengingatkan akan ibunda.
    Saya baru selesai membaca “Family tree” karangan Barbara Delinsky…disitu ada pesan neneknya, bahwa tokoh utamanya justru menjadi kuat dan mandiri karena ditinggal ibundanya sejak masih kecil.

  14. eh,, tapi waktu aku masih kerja part time di toko buku itu,, ada ibu2 yang nyari buku tentang Blogging lho..!! dia milih2 antara Blogger ma WordPress.. akhirnya tak suggest pake wordpress.. hoho.. gak tau deh alamat tu ibu apa….

    Anginbiru,
    Wahh jangan-jangan ibu tadi udah jadi blogger terkenal….

  15. Ibu …
    Kalimat terakhir itu touchy sekali …
    Dan aku yakin anak-anak ibu pasti menjadi pembaca setia blog ibundanya …

    aku yakin itu
    Soalnya ibu banyak bercerita mengenai mereka bukan …
    apa lagi mereka ada yang berada jauh dari ibundanya …

    NH18,
    Iya, akhirnya nanti kembali pokok jika anak-anak udah besar, mereka punya kesibukan masing-masing apalagi jika sudah menikah.

  16. saya juga masih berandai jika ortu saya nge-blog
    meskipun saya dan orangtua tinggal tidak berjauhan 🙂

    Sigit,
    Sampai hari ini saya masih serumah dengan si sulung…kenyataannya saya masih suka terkaget-kaget membaca blognya…..apalagi jika dia lagi sedih…..
    Kalau si bungsu sekarang jarang update blognya, karena sibuk banget….

  17. Bun belum baca aja..ide saya langsung keluar semua.
    Ayahanda bikin Blog tentang perkebunban
    Ibunda bikin blog tentang kerajinan tangan
    Eyang saya…bikin Blog batik…

    Dipikir2 Bunda memiliki khayalan tinggi juga Bun!!!
    Seru Bun…Karena Bundaku juga bikin BLOG.

    Pakde,
    Hahaha…pasti seru ya…..lha kalau lihat blogku aja, pakde bisa membedakan sifatku, adik bungsuku dan kedua anakku (sayang si bungsu lagi sibuk banget jadi jarang diupdate). Walau ceritanya general, tapi tetap aja gaya bahasa sangat berbeda….

  18. Kalau semua leluhur kita dulu nge blog, isi museum hanya akan berupa harddisk2 berisi tulisan blog mereka..

    Eh atau nanti jangan2 tiga ratus tahun dari sekarang, blog-blog kita mengisi harddisk2 yang tersimpan di museum itu kelak ya ?

    Donny Verdian,
    Sekarangpun sudah mulai kan? Saat saya memimpin Pusdiklat, beli alat yang bisa untuk scan dan langsung bisa jadi soft copy (nama altnya lupa, lumayan mahal), jadi banyak dokumen yang ditransfer dalam bentuk hard disc….300 tahun lagi pasti ada penyimpanan yang lebih canggih dan gaya bahasa sekarang kelihatan jadul. Anak saya terkekeh-kekeh kalau baca sastra lama…lha satu halaman kok hanya untuk menjelaskan kecantikan seorang wanita…hahaha

  19. Selalu menemukan tulisan yang menyejukkan di sini 🙂 Jika orangtua saya menulis blog? Saya tidak bisa membayangkannya mungkin karena komunikasi yang telah kami jalani selama ini rasanya buat saya sudah cukup memadai, dan membuat kami (anak-anaknya) paham dengan pandangan-pandangan dan pemikiran beliau berdua. Saya justru membayangkan (inshaAllah) anak-anak saya kelak menemukan dan membaca tulisan di Blog Ibunya dan mungkin bapaknya seorang blogger pula, mulai dari tulisan yang paling amburadul sampai yang paling menyentuh. Hmm… apa ya kira-kira yang dipikirkan mereka kelak? Apakah mereka lantas malu (karena isi tulisan yang jadi jadul di masa mereka), atau cuma ngakak wallahulam….
    😀

    Yoga,
    Yang jelas mereka akan tersenyum geli…..mama dulu seperti ini ya.
    Sama jika sekarang saya membaca surat-surat alm ibu yang dikirim saat saya masih mahasiswa, dengan tulisan beliau yang miring ke kanan, dan rapih….tulisan anak sekarang kan tegak.

  20. Mama saya sangat gaptek, Bu… Tetapi beliau masih suka membaca tulisan saya yang di komputer rumah

    Iko,
    Tapi beliau masih mau baca tulisan Iko di komputer kan? Nanti siapa tahu tertarik…masalahnya memang untuk memulai sulit…saya dulu juga ragu-ragu apakah saya bisa menulis terus menerus secara rutin?

  21. Iya juga ya. Makasih bu enny atas idenya.

    Ayah saya adalah budayawan. Sekarang beliau sedang menyelesaikan studi S3nya. Buku bacaannya ribuan. Tulisan-tulisannya juga tersebar di media massa. Meskipun sudah berkepala 6, beliau tetap aktif menjadi pembicara di seminar-seminar hingga harus keluar kota, selain juga tetap mengajar di ISI.

    Kenapa tidak dikumpulkan di blog aja ya. Supaya ilmunya bermanfaat bagi lebih banyak orang dan tidak terkesan eksklusif?

    Serius, selama ini saya tidak kepikiran sama sekali lho, bu.

    Sanggita,
    Ayahnya mengajar di ISI Yogya? Jangan-jangan suami saya kenal baik….nahh kalau iya, dunia ini benar-benar sempit.
    Saya pernah diajak suami mampir ke ISI Yogya, sekali saat Rektor nya alm pak But Mochtar…dan terakhir tahun 2006.

  22. intinya kan komunikasi ya Bu?
    alhamdulillah lewat SMS masih terus jalan …

    Aldi,
    Intnya memang komunikasi, bisa melalui sms atau telepon. Tapi ngeblog atau menulis surat membuat nuansa berbeda…dulu sekali…kalau terima surat dari alm ibu, saya bisa membaca ber ulang-ulang. Ibu suratnya sampai berlembar-lembar.

  23. itulah salah satu manfaatnya ngeblog.. 🙂

    Hanggadamai,
    Yup….betul…..

  24. hmmm, gitu ya. pantes ibu saya kalo seminggu saja gak ada kabar dari saya langsung telpon atau sms. menanyakan kabar, kondisi kesehatan gimana, makan harus dijaga dsb yang kadang2 malah saya anggap ‘kurang penting’. mungkin karena belum jadi orang tua saya belum bisa memahami pemikiran seorang ibu ya???

    Reksa,
    Pada dasarnya seorang anak sibuk dengan teman-temannya….saya saat masih kuliah juga seperti itu….tapi ibu akan selalu kawatir. Sebetulnya ayah juga, cuma seorang ayah lebih bisa menahan perasaan, sehingga tak terlalu kentara…

  25. mbak..
    saya terharu bacanya
    😉

    Wahyu Reza Prahara,
    Jadi ingat ortu ya?

  26. Andai ada jalur komunikasi yang menghubungkan dunia kita dengan dunianya orang yang sudah meninggal (blog misalnya) pasti akan lebih seru deh dengar pengalaman mereka yang di sana.

    Mufti AM,
    Apa malah nggak serem 😛

  27. Ah, kalau sekarang sih mudah…
    Surat sudah jarang/nggak pernah saya pakai. SMS, E-mail, Instant Messaging, dan Blog membuat komunikasi sangat mudah…
    Yah, untungnya orang tua saya nggak gaptek 🙂

    Ardianto,
    Bersyukurlah punya ortu yang melek teknologi. Jadi ingat mamanya teman anakku…putra bungsunya (laki-laki) mau meneruskan kuliah di Iowa. Sedang putri sulungnya sudah bekerja di Surabaya. Putranya anak baik, jadi dia mengajari mamanya cara mengirim email, dan yang dipakai latihan adalah saya, agar sang mama tak kesepian dan bisa menulis email pada putranya yang jauh. Anak yang berbakti….

  28. wah.. masukan yang bagus banget bu. saya jadi terinspirasi untuk mengajari Bapak menjadi seorang Blogger 🙂
    semoga nanti lebaran saya masih diijinkan pulang berkumpul dengan keluarga.. ga sabar rasanya mengajak Bapak untuk blogwalking, mencari tulisan-tulisan yang Beliau suka. dengan begitu, semoga Bapak tertarik menjadi blogger 🙂

    Easy,
    Saya doakan ayahmu bersedia belajar ngeblog, pasti sangat menyenangkan….

  29. wah orang tua ngeblog yah, ya ada enaknya juga sih kalo jadi satu frekuensi, jadi mereka tidak perlu khawatir saya lagi, mana jarang telpon-telpon apa sms, kan mahal, menghemat dana buat telpon lah, ya memang itu enaknya kalau orang tua bisa ikutan ngeblog.

    nggak enaknya, ya, saya jadi ketahuan deh kalo ngapa-ngapain trus nggak bisa sebebas-bebasnya lagi kalo posting di internet 🙂

    Ariekeren,
    Kok kayak anak bungsuku, saat awal-awal tahu ibunya punya fs…dia jadi sungkan, tapi lama-lama malah bangga apalagi saat temannya menjadi ingin kenal, jadilah teman anakku, seniornya di kampus menjadi temanku juga di Fs. Kalau saya kebetulan ke Bandung, atau ada tugas ke Bandung dan tidur di hotel, saya mengundang mereka dan kita rame-rame ngobrol sampai malam…..

  30. Wah,, hampir menangis saya membaca postingan ibu satu ini,,
    Saya juga tiap hari ditelepon orangtua tiap malam, tapi saya sendiri jarang menelepon orangtua jika tidak ditelepon duluan..
    Benar juga, seandainya orangtua saya pun ikut nge-blog,, saya ingin tahu lebih banyak tentang pemikiran-pemikiran beliau..

    Dipta,
    Melihat latar belakang orangtuanya Dipta, pasti beliau mau diajak ngeblog…coba aja, siapa tahu sekeluarga jadi blogger semua, apalagi beliau jauh lebih muda dibanding saya….pasti seru ya….

  31. Rasanya kok ndakmungkin orang tua sy ngeblog ya bu habis tinggalnya di kampung yang jauh dari hiruk-pikuk teknologi, beruntunglah anak-anak ibu salam

    Achmad Sholeh,
    Mungkin tidak harus ngeblog, bisa menggunakan sarana komunikasi lain. Dulu, rumahku dipinggir kota kecil, bahkan surat menyurat belum melewati pak pos, malah yang mengantar pak Bayan (jabatan Kebayan)…..mengantarnya suka-suka, saat pak Bayan mau pergi dan melewati rumah saya.

  32. aahh…. blog… iya… andai orangtua kita ngeblog kayak kita… untuk tahu apa yang beliau pikirkan tentang kita dst…

    aku beruntung meski tidak ngeblog, aku cukup bisa ‘membaca’ apa yang ada ditataran pemikiran dan rasa bapak dan ibuku.

    yang susah justru ke anak-anak nih… itu kenapa aku ngajari mereka ngeblog juga… biar aku bisa ‘mengintip’ apa yang mereka rasakan dan pikirkan.

    Mlanding,
    Konon katanya, untuk memahami dunia anak, dan apa yang dipikirkannya melalui menggambar. Anakku keduanya suka menggambar (walau nggak pernah kursus)…jadi kalau bepergian saya menyediakan kertas dan bolpoint…nanti setelah selesai menggambar, saya tanya itu gambar apa? Dari percakapan ini, akan terlihat sebetulnya saat itu perasaan anak seperti apa.

    Pernah si sulung menggambar sorang perempuan berdiri di depan rumah…saya pikir yang digambar ibu, ternyata adik perempuannya. Dari obrolan terungkap, dia mulai kesepian, karena adik sudah punya teman main sendiri dan tak lagi membuntuti kakaknya.

  33. Ayah saya dosen di ISI Solo, bu. Dulu STSI. Kalo budayawan sih puterannya ya orang-orang itu kok.

    Lho, apa hubungan suami ibu dan ISI Jogja? Mungkin beliau berdua saling kenal ya.

    Sanggita,
    Suami saya lulusan Mesin ITB, S2 dari Teknik Industri ITB, tapi karena hobi seni, akhirnya terdampar menjadi dosen di STSI Bandung. Suami kenal baik dengan Prof DR Sri Hastanto (mantan Dirjen Kebudayaan, dan rektor STSI Solo)….malah sudah seperti saudara, saat anak saya menikah beliau hadir di Jakarta, demikian juga kami ke Solo saat beliau diangkat menjadi Profesor. Suami juga kenal pak Rahayu Supanggah (lain2nya saya lupa). Saat masih mahasiswa ITB, suami pernah nyantrik di STSI Solo, belajar pedalangan…..

  34. Setiap generasi kan ada masanya, Ibu. Sebagai perandaian, memang menarik. Namun paling tidak kita bisa berbuat hal tersebut untuk generasi setelah kita… Bukankah begitu?

    Daniel Mahendra,
    Betul…kita mesti melangkah ke depan…kenangan lama merupakan kenangan yang indah tapi kita tak bisa menengok terus kebelakang…..dan kita juga harus menerima tantangan untuk hal-hal baru, mau membuka wawasan dan pengetahuan, terutama untuk hal yang membuat menjadi lebih baik.

  35. Wah, kalo pernah nyantrik di pedalangan pasti kenal Pak Bambang Murtiyoso donk, Bu. Ayah saya dosen pedalangan, tapi bukan dalang lho.

    Kalo Pak Hastanto dan Pak Panggah, setiap seniman pasti kenal ya, Bu.

    Benar kata Bu Enny, dunia benar-benar sempit. Sungkem kagem Bapak nggih.

    Sanggita,
    Salamnya sudah saya sampaikan. Ternyata suami saya (Priadi Dwi Hardjito) memang kenal baik dengan pak Bambang Murtiyoso…saat perkenalan awalnya, pak Bambang masih aktif di Dewan Mahasiswa.

  36. Tante Ratna, sudah lama nich nggak singgah…

    Hehehe tulisan tante kali ini unik juga ceritanya. Saya juga ngebayangi kalau pada zaman dulu ibu saya juga sudah bisa ngeblog, pasti heboh deh…

    Lah gimana nggak heboh &rame, lho wong nggak ada blog saja cerita2 ibu saya tentang apa saja banyak sekali, hehehe…

    Best Regard,
    Bintang
    http://elindasari.wordpress.com

    Elindasari,
    Ibu saya senang mendongeng. Sampai saya SMA (kedua adikku masih SD)…kalau ibu mulai mendongeng, saya loncat ke tempat tidur, berhenti belajar dan ikut mendengarkan. Jadi kalau ibu ngeblog, pasti saya akan suka sekali, sebagaimana halnya saya tak bosan mendengar dongeng ibu setiap hari.

    Ibu juga suka menulis surat, surat2 beliau inilah yang mendorong semangatku saat kuliah jauh dari orangtua.

  37. ibu saya nge-blog… tapi saya benar tidak suka pada tulisannya yang agak aneh buat saya dan tentang orang yang bahkan ibu saya pun tidak kenal tapi jatuh cinta kepadanya… ah… aneh

    saya tidak senang ibu saya ngeblog… saya juga tidak begitu mau ibu saya membaca blog saya… entah knapa rasanya bukan itu cara komunikasi yang tepat antara kami…

    tapi yang tepat apa, itu yang masih jadi pertanyaannya…


    Natazya
    ,
    Ibu Natazya ngeblog? Apa nama blognya…..saya ingin mengunjunginya. Kadang ibu dan anak bisa berbeda selera, tapi hendaknya jangan sampai menjauhkan hubungan, betapapun hubungan yang dekat sangat menyenangkan.

  38. Bu, saya juga punya pemikiran yang sama … tapi sudahlah, itu masa lalu … sekarang saya yang ngeblog, mudah2an anak2 saya jadi tahu mengenai isi hati saya kepada mereka nanti, seperti halnya Narpati dan saudara2nya tahu isi hati Bu Enny melalui blog ini …. salam Bu …

    Riri Satria,
    Betul pak Riri…..bahkan jika saya ingin menyampaikan sesuatu, saya kemas dalam tulisan di blog, yang saya yakin kedua anakku akan membacanya. Mereka menanggapinya melalui sms……

  39. Mampirnya kadang2 sih Bu, klo lagi sempet, jadi mgkn banyak ketinggalan tulisan2 ibu. Hehehe.. Sok santai, pdhl tadi gmana gtu baca tulisan ibu..

    Untung tadi pagi (sebelum baca ini lho!) udah nelpon Ibu, jadi ga ngerasa tralu bersalah..
    Ah, bener juga ya.. Maaf ya Bu klo selama ini sering lupa mengabari..

    Narpen,
    Kangmasmu yang paling rajin menyambangi blog ibu dan adiknya…bahkan saat Ani ada postingan baru, langsung sms ibu…..supaya baca….hehehe

  40. Buuu,,, saya hampir nangis bacanya… kalo ngga di warnet…
    untung saya kuliah ngga jauh dari rumah. dulu sempat ngekos 2 tahun, tapi ibu saya secara ngga langsung nyuruh pulang terus. bapak juga sering nawarin bantuan. sampai saya merasa risih. mungkin mereka bangga sama anaknya, yang pasti cinta. uuh,, sekarang saya kangen orang tua saya terus. maaf ya jadi curhat…
    hmm,, kadang saya sebagai anak mencari kasih sayang dan perhatian ke orang lain, padahal di rumah ada yang mau memberi lebih dari siapapun.
    maksih ya bu ratna, menyentuh =)

    Ilam,
    Aduhh…maaf, kalau tulisan saya membuat menangis…tapi kadang memang ada perbedaan persepsi antara anak dan orangtua. Orangtua yang terlalu memperhatikan, sering disangka terlalu otoriter dan anak ingin lari….mudah2an setelah membaca ini, Ilam paling tidak bisa memahami, dan bisa menerima kelemahan orangtua.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: