Oleh: edratna | September 9, 2008

Surabaya ternyata dingin ya?

Saat pertama kali mendengar celetukan si bungsu dua tahun yang lalu, ketika pertama kalinya saya ajak pergi ke Surabaya, saya kaget juga. Baru setelah terakhir kali saya pergi ke Surabaya minggu lalu, saya baru bisa memahami pernyataan si bungsu tadi.

Saat itu saya mengajak si bungsu mengikuti program pelatihan kewirausahaan. Di perusahaan tempat saya bekerja, setiap para pejabat/staf/karyawan akan memasuki usia pensiun, maka ada program pelatihan, agar para calon pensiunan ini nantinya tak terkena “power syndrom” dan telah menentukan pilihan kegiatan apa yang akan dijalani nanti setelah pensiun. Pelatihan antara lain, diberikan melalui ceramah oleh para psikiater, psikolog, dokter kandungan, temu wicara dengan para wirausahawan (termasuk mengunjungi obyek usaha). Pada saat ceramah, dilakukan di dua tempat, yaitu di hotel Grand Hyatt Surabaya, dan di hotel “Club bunga”, Batu Malang. Para peserta didampingi oleh suami/isteri, atau boleh digantikan oleh anak, dan seluruh akomodasi ditanggung perusahaan. Dan karena si bungsu belum pernah ke Surabaya, saya sengaja mengajaknya berangkat naik pesawat paling pagi dari Jakarta, agar sesampainya di Surabaya masih sempat “City tour“. Jadilah, kami berdua, diantar sopir berkeliling Surabaya dengan dipandu pak sopir, mengunjungi stasiun Kereta api Gubeng, Pasar Turi, terminal bis Bungurasih, SMA 2 (ex sekolah ayahnya), Unair, ITS dan si bungsu sempat berpose di depan gedung Fakultas Elektro ITS yang selama ini hanya mendengar dari teman-teman sesama kerja praktek. Karena nyaris sepanjang hari di ruang AC, dan hanya sesekali turun dari kendaraan ber AC, wajar jika si bungsu menganggap bahwa kota Surabaya dingin, apalagi saat itu cuaca Surabaya memang tak terlalu panas.

Sedang kepergian saya ke Surabaya kali ini adalah dalam rangka mengajar, untuk para sarjana baru, yang baru bergabung pada suatu lembaga keuangan di wilayah Surabaya. Pelatihan diadakan di suatu kompleks perguruan tinggi swasta, yang juga mempunyai kompleks asrama, lengkap dengan kelas-kelas pelatihannya. Bangunan tempat pelatihan bersama asrama bertingkat 6 (enam), dengan ruangan dan kamar full AC. Dan karena pelatihan dilaksanakan dari pagi pukul 8.00 s/d 17.00 wib dan saat hari Jumat-Sabtu selesai pukul 17.30 wib, serta malamnya sibuk membuat studi kasus (disesuaikan dengan perkembangan peserta), maka praktis para instruktur tak sempat kemana-mana, apalagi bulan puasa. Jadilah saya merasakan dinginnya Surabaya…..padahal saat seusai mengajar dan terpaksa mencari tambahan perbekalan, yang hanya berjarak 100 meter dengan berjalan kaki, cuaca Surabaya terasa menyengat.

Sayang rencana mau ketemu blogger Surabaya (Arul cs) terpaksa tak dapat dilakukan karena terbatasnya waktu. Selesai pelatihan hari terakhir, kami berlima langsung kembali ke Jakarta naik pesawat Garuda penerbangan terakhir pukul 8 malam.

Iklan

Responses

  1. Hehe, kalau menurut saya, Surabaya kota terpanas yang pernah saya tahu. Malam harinya saja bisa membuat kita berkeringat sampai sebesar-besar jagung. Tentu saja bila tanpa AC.

    Irna,
    Hehehe…tulisan di atas memang hanya kiasan…siapa yang tak kenal Surabaya yang hawanya panas menyengat? Tapi karena dari pagi sampai malam, sampai pagi di ruang ber AC terus…rasanya dingin..malah kalau mau mandi kedinginan. Ini juga dirasakan indtruktur lainnya….

    Makassar lebih panas lho….

  2. Waduhh… saya belum bisa kasih komment surabaya panas atau nggak… soalnya belum pernah ke sana sih!!….
    Tapi kalo di tempta tinggal saya sekarang, cuaca makin nggak jelas… pagi panas… tengah hari ujan dengan tiba2.

    qizinklaziva,
    Kenyataannya, Surabaya puanas puol kok pak. Tulisan di atas hanya menyatakan, bahwa kalau kita di ruang tertutup terus, ber AC, maka pendapat kita tentang cuaca umum di wilayah tsb bisa keliru. Ini juga dulu yang membuatkuterheran-heran, kok si bungsu bisa mengatakan Surabaya dingin.

  3. Terima kasih telah mengunjungi blog saya (Perkawinan yg kekal). Saya masih belajar sebetulnya. blogn saya masih sederhana sekali. Senang bisa berkenalan dgn Anda , selamat menjalankan ibadah puasa semoga dirterima Allah Swt.

    Roes Haryanto,
    Di blog bapak, mungkin saya lupa menjelaskan, bahwa saya adalah salah satu mantan anak buah bapak. Kita sering berdiskusi pak, dan terimakasih atas kebaikan bapak selama ini dalam memberikan sharing ilmunya pada kami.

  4. yang jelas jogja lebih panas…hehehe… blum pnah ke sby sech πŸ˜›

    Rizoa,
    Yang jelas, kenyataan sebenarnya, Surabaya lebih panas, karena dekat pantai. Yang menyenangkan, penghijauan Surabaya sekarang makin bagus, di kiri kanan jalan dan di pembatasnya ditanami pohon2an….

  5. wah beruntungnya ibu bisa mendapatkan ruangan ber AC. Dulu saya sempat berada di surabaya, di malam hari tidak ada bedanya antara sebelum dan sesudah mandi, tetep aja lengket rasanya.

    Adipati Kademangan,
    Memang kenyataannya, Surabaya panas sekali. Tapi mungkin karena puasa, ditambah ruangan ber AC, saya malah kedinginan, dan berblazer terus…..hehehe
    Juga, karena tak sempat kemana-mana, pelatihan selesai menjelang Magrib, dan setelah berbuka puasa, menyiapkan materi untuk esoknya, tarawih dan saur…..

  6. Ibu, saya juga habis dari Surabaya bulan Juni lalu. Mungkin karena saya datang pas musim bedhidhing, udaranya cukup dingin, apalagi waktu itu sering turun hujan. Dan karena saya ke Surabaya setelah dari Yogya, saya merasa Surabaya lebih dingin dari Yogya. Tapi kalau dibandingkan Bandung, ya tetap lebih dingin Bandung lah… πŸ™‚

    Rita,
    Sebetulny Surabaya panas sekali…kalau musim bediding memang lebih dingin saat malam.
    Pernyataan saya di tulisan, menunjukkan pada saat ke Surabaya, saya nyaris tak keluar dari ruangan…mungkin seperti ini perasaan anakku saat di ajak ke Surabaya dulu.

  7. astaga bu.. dulu sempat ke elektro???
    itukan kampusku… hehehehe…
    btw kapan2 deh ketemu ibu…
    kalo di pandaan pelatihannya emang dingin bu.. πŸ˜€

    Arul,
    Pelatihannya di Menur Prumpungan (kampus Stesia)…tapi karena tak sempat kemana-mana, saking padatnya acara, di ruangan AC terus, asramanya pun menjadi satu dengan tempat pelatihan (hanya beda lantai) ditambah puasa, jadi saya bisa memahami saat dulu si bungsu komentar bahwa Surabaya dingin.

    Bayangkan, pelatihan di daerah Sukolilo, dan dari jendela kamarku terlihat gedung tinggi…mungkinkah Unair? Sudah sangat dekat dengan Unair dan ITS.
    O, iya, anak bungsuku di Elektro ITB, sekarang sedang meneruskan S2 setelah lulus….dulu sempat kerja praktek di Siemens selama 2 bulan, bergaul dengan para alumni ITS. makanya begitu ke Surabaya, dia ingin diajak keliling kampus, dari Unair, ITS…dan berpose di depan Fak Elektro (dapat dilihat di fs nya).

  8. surabaya? dingin? wah… saya sampai speechless, Bu. BELUM PERNAH saya merasakan surabaya dingin…

    Utaminingtyazzzz
    ,
    Itu artinya pas saya ke sana, hanya berkutat di ruangan ber AC, bahkan tak perlu keluar gedung karena asrama (tempat menginap) dan tempat pelatihan hanya beda lantai, dan ber AC yang di stel kencang……dingiiiin…apalagi saat mau mandi…brrr (mungkin karena badan saya “agak” kurang sehat juga)

  9. SBY pasti lebih panas saat kita sedang berpuasa. Bukan SBY pak presiden itu lho….

    Mufti AM,
    Atau bukannya terbalik…terasa lebih dingin karena perut kita kosong…ini karena di dalam gedung lho…Kalau di luar gedung, puanas banget (tapi saya nyaris di gedung terus)

  10. Dari logonya ikan sura dan boyo berasal dari air yang suhunya dingin… tapi saya pengen tahu komentator dari surabaya bagaimana ini… kalau kesan saya wuuuh panase por!

    Santribuntet,
    Kenyataannya memang puanass puol.
    Tulisan di atas menggambarkan, karena pelatihannya di gedung ber AC, asrama hanya beda lantai dan ber AC pula, makanpun di lantai 1 yang juga ber AC, maka Surabaya terasa dingin. Ungkapan dingin ini pernah dikatakan anak bungsu saya, yang membuat saya heran…..ternyata setelah situasi kemarin, saya baru paham kenapa si bungsu berujar seperti itu.

  11. Surabaya, waduh panas nya ngak ketulungan, Tapi kalau sudah terbiasa ngak masalah. Satu lagi bisa bikin kulit jadi putih bersih karena lebih memilih didalam ruangan daripada diluar. terimakasih

    Yulism,
    Sebenarnya memang panas sekali kok…terasa dingin, karena saya nyaris tak keluar sama sekali dari ruangan ber AC….hehehe

  12. Kalau sepanjang hari dari AC ke AC, yang memang dingin, Mam… Tapi kan lama-lama nggak sehat juga. Meski, yah… kebutuhan.

    Sampai dengan hari ini aku masih saja berpikir: kok ada ya orang yang tinggal bahkan hidup beranak pinak di kota sepanas itu. Hehehe.

    Daniel Mahendra,
    Badan kita menyesuaikan dengan lingkungan, dimana kita dibesarkan. Karena dibesarkan didaerah panas (Jawa Timur), saya lebih tahan hidup di Jakarta yang panas, dibanding tinggal di Bandung. Suami saya lebih suka di Bandung, mungkin sudah menyesuaikan sejak masuk ITB tahun 1970…demikian si bungsu yang udah 5 tahun tinggal di Bandung. Kata orang, Bandung sekarang lebih panas, tapi bagi saya tetap dingin banget…..

  13. ibu enak banget pekerjaannya…udah jalan jalan bisa kopdar lagi.hohohoohh…sementara sy berkutat sy di depan komputer..maaf bu kalau mengeluh πŸ˜€

    Uwiuw,
    Hahaha…rumput tetangga lebih hijau….
    Padahal tugas luar itu berat, karena yang jelas badan harus menyesuaikan dengan lingkungan (saya susah tidur dan makan di tempat baru)…dan biasanya begitu bisa tidur udah pulang….

    Saya lebih suka kerja di kantor aja, kalaupun keluar tak perlu jauh-jauh, dan tetap bisa pulang kerumah (ini saat masih ada anak-anak). Kemarin saat ke Surabaya, saya lebih relaks karena anak bungsu di Bandung, yang sulung sudah ke Miami menyusul isteri…bebannya tak ada lagi.

  14. Ibu, benar Surabaya itu “dingiiiin” hehehe… yang bikin heran, Surabaya dan Jakarta sama-sma di tepi pantai tapi hawanya beda sekali.

    Yoga,
    Kalau Yoga jalan-jalan di daerah pelabuhan (Tanjung Priok), mungkin panasnya hampir sama dengan Surabaya. Karena kantor saya dulu di Semanggi, terus pindah ke Ragunan, dan rumah di Jakarta Selatan, maka tak terasa panas. Tapi saya pernah tinggal di Rawamangun, panas sekali, walau masih banyak pohonnya.

  15. mang surabaya dingin? tapi klo liat di tipi kayanya panas tuh bu…wkwkwkwkkwwkwk,,saya belom penah kesurabaya..T_T

    cita2 saya sih mau ke surabaya sebagai Taruna Angkatan Laut Tapi tidak tercapai…T_T jadi curhat dah,

    Kusandriadi27
    ,
    Tulisan itu kiasan saja, yang mengartikan bahwa selama di Surabaya nggak kemana-mana dan diruangan ber AC terus.

  16. Hahaha… AC nya Surabaya memang dingin, Bu πŸ™‚
    Saya sendiri terkadang sampai heran, kok ya ada kota sepanas itu πŸ™‚

    Donny Verdian,
    Kita katanya menggalakkan hemat energi, namun kenyataan dilapangan berbeda. Minggu kemarin, setiap kali istirahat siang, dan masuk kamar, AC nya disetel 16…dingin banget, padahal orrangnya tak ada. Dan itu berulang terus…padahal setiap kali keluar kamar AC saya matikan, jendela di buka lebar-lebar…namun setelah saya di kelas, dan kamar dibersihkan, entah kenapa AC dinyalakan pada angka 16.

    Saya malah sering nggak pake AC kalau udah selesai mengajar dan menunggu bedug Magrib, jendela dibuka lebar-lebar. Kalau malam jendela terpaksa di tutup karena banyak nyamuk…dan AC dipasang pada angka 28, maklum saya tak kuat dingin.

  17. Yang saya paling heran ya Bu. Di Indonesia orang menyetel AC kok sampe 16 derajat, atau paling tinggi 22 derajat. Kan tidak baik untuk badan karena perbedaan suhu kamar dan suhu luar kamar amat besar. Kami di Jepang kalau summer settingnya harus 28 (kantor pemerintah) Kalau di perumahan biasanya 25. Demi hemat energy juga Bu.

    Ikkyu_san,
    Betul, saya juga pusing kalau diundang rapat di kantor yang AC nya dingin banget. Padahal Indonesia katanya menggalakkan hemat energi.

  18. wah setau saya surabaya bnr2 kota yg panas.. keluar rumah jam 10 rasanya kulit udah mo gosong..

    Pimbem,
    Cerita di atas menunjukkan kalau selama seminggu di Surabaya saya tak kemana-mana selain dari kamar, ke kelas, ke ruang makan (untuk buka dan saur).

  19. Saya jalan-jalan 3 hari ke Surabaya akhir Agustus lalu. Di udara bebas beneran Mbak, tapi kok ya nggak panas-panas banget tuh? Mungkin terbiasa di Yogya yang sekarang juga sudah semakin panas ya. Cuma, memang harus pakai kacamata hitam terus, soalnya silau banget (tapi nggak papa, jadi kayak artis kok, lihat aja foto-foto di blog saya ….. πŸ˜€ πŸ˜€ ).

    Wah, rugi banget Mbak Edratna nggak kemana-mana. Saya 3 hari jalan terus ke banyak tujuan wisata (Tugu Pahlawan & Museum 10 November, Masjid Ampel, Masjid Cheng Hoo, Monumen Kapal Selam, Masjid Raya Surabaya, ITS, Unair, House of Sampoerna, MUseum Mpu Tantular), sampai ke Trowulan, Mojokerto segala, lihat bekas kerajaan Majapahit. Wuihh … mengagumkan lho …
    Cuma nyesel karena belum sempat makan es krim Zangrandi yang katanya uenaak banget … Habis, informasinya baru saya terima sesudah nulis ‘laporan’ perjalanan di blog 😦

    Tutinonka,
    Itu memang risiko kalau bertugas ke luar kota. Saat di Papua saya sempat berjalan-jalan, karena ada hari Sabtu dan Minggu yang libur (saya di Papua 10 hari). Sedang selama seminggu di Surabaya, tugasnya seharian dan malam juga… Sabtu juga penuh seharian…makanya begitu selesai langsung kabur pulang ke Jakarta jam 8 malam (penerbangan terakhir pake Garuda).

  20. Wah sempat tertipu bu dengan judulnya πŸ˜€
    Mbatin aja, sejak kapan Surabaya menjadi dingin?
    Ternyata….. πŸ˜€

  21. hihih…judul yang menohok…kampung halamanku memang panas..tapi akhir-akhir ini banyak hawa sejuk yang semilir di tengah panasnya surabaya…dah banyak pusat perbelanjaan yang dingin di sana, Bu. cepat sekali pertumbuhannya akhir-akhir ini..

    Ladangkata,
    Tapi penghijauan Surabaya bagus, mudah2an berjalan terus (walau Dinas tatakota ganti pimpinan ya)……dengan penghijauan agak mengurangi panasnya Surabaya….paling tidak terasa semilir jika ada angin.

  22. surabaya kota kelahiran saya memang ‘dingin’ bunda πŸ˜€ sejak tinggal di malang setiap kali mudik ke surabaya saya selalu berusaha ‘menyesuaikan diri’ untuk berada di mobil ber-AC, rumah ber-AC dan mal-mal ber-AC, jadi buat saya surabaya tetap ‘dingin’ πŸ™‚

    Inos,
    Padahal saya suka Surabaya lho, dulu impianku bekerja di Surabaya, supaya setiap minggu bisa menengok ayah ibu di kampung. Namun takdir membawaku ke Jakarta sampai saat ini.

  23. wah, ternyata pelatihan di surabaya sudah selesai, ya, bu. selamat deh, bu. bu enny sudah banyak memberikan ilmu buat para sarjana baru. semoga ilmu dari bu enny bener2 aplikatif dan sangat bermanfaat utk mereka pada saat memasuki dunia kerja.

    Sawali Tuhusetya
    ,
    Mudah2an mereka tak mendapat kesulitan saat menerapkannya dilapangan. Saya masih membuka diri, jika mereka ada masalah dan bertanya lewat email.

  24. Kunjungan terakhir ke Surabaya Agustus kemarin bu,.. ada sosialisasi linkage program,… rasanya Surabaya itu panas seperti kota asal saya Padang,…. tapi lumayanlah masih sempat jl2 ke Porong-Sidoarjo πŸ™‚

    Avartara,
    Surabaya aslinya memang panas…kemarin itu terasa “dingin” karena hanya di ruang ber AC terus.

  25. buat saya yang berasal dari daerah dingin, semua kota sama aja panasnya. ya surabaya, ya semarang sama gerahnya…

    Reksa
    ,
    Blia berasal dari daerah dingin, memang kota lain di Indonesia terasa panas, kecuali kota-kota yang berada di dataran tinggi, seperti: Malang, Surabaya, Bukittinggi dsb nya. Namun kota-kota tsb sekarang juga mulai terasa panas karena padatnya kendaraan dan banyaknya pembangunan gedung bertingkat.

  26. surabaya …… wah menyengat tuh bu, kami yang dari kota Malang selalu kepanasan bila ke surabaya, lebih menyengat dari jakarta maupun semarang.

    kecuali di hotel dan ruang yang full AC kali yeee …..

    salam,

    Jakatan
    ,
    Yang benar…Surabaya memang panas…dingin tsb sindiran karena selama seminggu di Surabaya, saya nyaris tak keluar dari ruangan ber AC…benar-benar kurang sehat….

  27. untuk aku bu, surabaya is the hot city, meski panas tapi, semoga ibu masih juga merasakan keramahan orang surabaya yang kepanasan

    <em>Ekomagelang,
    Surabaya memang berhawa panas, tapi makanannya enak-enak. Dulu saya termasuk sering ke Surabaya

  28. Betul, Surabaya memang dingin. Tak heran bahwa saya merasa nyaman bekerja di kota ini sejak empat tahun lalu (setelah dimutasi dari Jakarta, sesudah enam tahun di Ibu Kota). Bagi saya Surabaya dingin, karena nyaris setiap hari, sepanjang waktu, saya berada dalam ruangan kantor yang ber-AC, hahahahaha. (Di luar kantor sih puanas!). Btw, salam kenal, ibu…..

    Jun,
    Ya, itulah nasibku selama seminggu di Surabaya kemarin, di ruang ber AC teruus.

  29. Walaupun Surabaya panas, tapi buat wisata kuliner tetep muaknyus… maklum kota kelahiran, dari umur 0-15 tahun tinggal di sana… walaupun udah 15 tahun gak tinggal disitu, tapi masih hapal jalanannya, dan yang paling penting, hapal tempat makan yang uenak (Es Krim Zangrandi, Lontong Balap Rajawali, Martabak Alimun Kampung Arab, Es Campur jalan Pacar)…walaupun kepanasan dan keringetan, semuanya terbayar kalau sudah makan makanan2 tadi πŸ™‚

    Affan,
    Padahal saya udah nyidam pengin makan lontong balap….cuma sayang, waktu tersita dari kelas ke kelas aja….
    Btw, thanks infonya.
    Kalau penghuni comlab, jangan-jangan kita pernah ketemu ya….kan dulu anakku senang nongkrong di Comlab ITB, sebelum lulus.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: