Oleh: edratna | September 10, 2008

Lungsuran

Lungsuran adalah hal yang sangat biasa pada kehidupan saya di masa lalu, namun menjadi hal yang kurang menarik bagi anak sekarang. Dulu, dengan kondisi pas-pas an, mendapat lungsuran adalah seperti mendapat karunia. Bahkan jika yang memberikan lungsuran adalah orang yang di “tua” kan, atau orang yang disegani, kita berasa mendapatkan berkah…istilah bahasa Jawa nya, “ngalap berkah”. Walau keluarga saya bukan orang berada, namun karena ayah ibu seorang guru, untuk ukuran kampung saya, keluarga saya dianggap cukup terpandang, dengan rumah besar, ada pavilyun nya. Seingat saya, saat saya dan adik-adik masih kecil, banyak sekali saudara yang “ngenger” pada ayah ibu. Juga, jika ada saudara dari kampung yang berkunjung ke rumah, pada waktu mau pamit pulang, berkata…”Bapak ibu, menawi kepareng, nyuwun lungsuranipun”

Lungsuran, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti (pakaian dsb) yang telah terpakai; pakaian bekas (barang lama dsb nya). Saat suami tamat SMA II Surabaya, dan meneruskan kuliah di Teknik Mesin ITB, dia mendapat lungsuran meja yang sekaligus ada almarinya, dari sepupu nya yang telah lebih dulu lulus dari ITB. Dan meja tsb yang terbuat dari kayu jati, sampai saat ini masih ada, dan sering dipakai anak sulungku untuk belajar. Sang ayah berkata…”Le, ini meja lungsuran dari Om Up, saat beliau lulus insinyur (gelar sarjana teknik), dan beliau orang pintar, antara lain pernah menjadi Dirut pabrik Semen Gresik…” (Cuma sang ayah tak mengatakan, semoga engkau bisa meniru jejaknya le). Kata dalam kurung tsb tak diucapkan ayah, karena bagi anak sekarang mengharap berkah atau ketularan kesuksesan orang yang memberi lungsuran, adalah hal yang tak masuk akal. Anak sekarang cenderung melihat barang lungsuran tadi dari fungsinya, masih dapat dimanfaatkan apa tidak.

Jadi, saya kaget mendengar komentar si bungsu, saat saya mengatakan…”Nduk, bagaimana jika mobil Kijang di bawa ke Bandung saja, supaya kamu menjadi terbiasa menyopir?” Maklum selama ini si bungsu hampir tak pernah menyopir, walau punya SIM. Dulu, kakaknya juga paling malas menyopir, jadi kalau hari Sabtu-Minggu mengajak keluar ibu (dengan harapan beli buku dan makan dibayari), saya setuju, dengan catatan naik mobil dan dia yang nyopir……kalau tak begitu anak-anak saya lebih memilih naik bajay, taksi maupun angkot. Namun ketrampilan menyopir tetap diperlukan, karena ada beberapa tujuan yang sulit mencari kendaraan umum. Kijang tersebut sudah tua, dan masih model lama, namun suami tak ingin menjualnya karena banyak kenangan manis dengan mobil tersebut. Itulah mobil pertama yang dibeli langsung dari toko, walau secara kredit (sebelumnya mobil seken yang dibeli dari sepupu). Dengan mobil tersebut kami sering mengantar kedua anak kami, ikut konser piano….dan karena cukup panjang, setiap kali liburan di Bandung, piano dari Jakarta di bawa ke Bandung agar anak-anak tetap bisa latihan di Bandung selama liburan, sambil melakukan kegiatan lainnya.

Jawaban si bungsu…“Iya ya bu, anak bungsu selalu dapat lungsuran ya, kan mas yang suka pakai mobil itu sudah berangkat….” Waduhh, rasanya nggak enak juga, walau saya tahu si bungsu cuma bercanda. Maklum, walau saya mencoba untuk tidak membedakan perhatian terhadap kedua anakku, namun dalam prakteknya tetap saja berbeda, terutama untuk barang-barang mahal, maklum uang ibu dan ayahnya juga cuma pas-pas an. “Temenku malah lebih parah bu, karena dia anak bungsu dan kakaknya ada tiga, lungsurannya sejak dari kakak kedua, ketiga baru ke dia…” , kata si bungsu.

Saya jadi ingat, saat saya SMP dan SMA adalah biasa mencari lungsuran buku pelajaran dari kakak kelas atau sepupu yang lebih dulu tamat. Maklum saat itu, buku pelajaran selain mahal untuk kantong keluarga kami, juga nyaris tak berubah, yang membedakan hanya jurusan yang dipilihnya (Pasti, IPA, Sosial dan Budaya). Orang yang seumuran dengan saya, pasti masih ingat buku aljabar, karangannya CJ Adler. Begitu saya lulus SMA, yang menginginkan lungsuran buku2ku juga banyak, karena adik saya terpaut 4 (empat) tahun di bawah saya, jadi buku meluncur ke sepupu lebih dulu, dan saat tiba waktunya, baru ke adik saya, begitu pula seterusnya.

Saya punya HP N.73 yang sering bermasalah, kalau digunakan sms sering lambat dan malah “hang“. Mau di service tapi nanti semua data hilang. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk beli hp baru, walau fiturnya lebih sedikit, agar hp N.73 bisa diperbaiki di Graha Nokia. Kenyataannya saya menggunakan hape hanya untuk sms dan menelepon. Si bungsu setuju mendapat lungsuran hape N.73.

Awal bulan Agustus, saya mengikuti seminar “Jakarta Risk Management Convention” selama dua hari. Tiba-tiba hape saya bergetar, isinya sms dari si bungsu….”Makasih, aku br tahu hp ibu keren buanget fiturnya. Hi3. Seneng dh. Makasih y bu, met seminar πŸ™‚

Setelah dijawab, si bungsu kirim sms lagi ….Wah ini keren buanget bu. 3 g!! Klo bisa jadi modem kyny bs kpke bwt thesis. Makasih ibuuu…Hu3x jd ga enak umuur sgni masih nyusahi ibu.” Saya terharu sekali, membayangkan betapa gembiranya anakku, dan ada rasa menyesal kenapa tak dikasihkan sejak dulu, padahal saya hanya memakai untuk sms dan telepon.

Terus pas lagi ngantuk mendengarkan seminar setelah makan siang, hape bergetar lagi, setelah dilihat…“3g,3g,3g,, hahahaha..Euforia!! :P)”

Ya itulah si bungsu, luapan kegembiraannya terasa menyegarkan, dan membuat saya melek lagi. Baik si bungsu maupun kakaknya terbiasa hidup sederhana, selama ini hape yang dibelikan oleh orangtua hanya hape yang fiturnya sangat sederhana, sehingga dia begitu senang mendapat hape lungsuran, yang sebetulnya belum termasuk kelas mahal, namun fiturnya lumayan. Si bungsu sebetulnya cukup punya uang, karena selain mendapat beasiswa, juga mendapat tambahan penghasilan dengan menjadi koordinator asisten di kampusnya.

Catatan:

Ngenger= mengabdi= Ikut orang yang dituakan.
Ngalap berkah = mengharapkan berkah (mengharapkan dapat ketularan hidup sukses, sebagaimana orang yang memberikan barang tersebut
Bapak ibu, menawi kepareng, nyuwun lungsuranipun= Bapak ibu, jika diperkenankan mohon dapat diberikan barang bekas
Pamit = ijin
Le = panggilan sayang pada anak lelaki
Nduk = panggilan sayang pada anak perempuan

Iklan

Responses

  1. hwehe. lungsuran, ya? keknya g pernah tuh, dpt lungsuran yg dilungsurkan //barang bekas yg diwariskan//. maklum, anak sulung. hoho.

    tp kl 2 adik saya, bu, suka sekali dgn lungsuran saya. kami terpaut umur 5 dan 7 thn, tp badannya gedenya sama. jadi adik2 saya itu suka minta baju bekas saya. kl dikasih, seneng bgt mereka. sejak kcl jg bgtu. mereka suka bgt ‘terwarisi’ brg2 bekas saya. mulai baju, tas, meja belajar, dsb. tp kl buku pelajaran, zaman skrg sdh susah bu, unt dilungsurkan. lha wong tiap tahun berubah kurikulum, e.

    (^_^)v

    Farijs van Java,
    Sebagai anak sulung memang kemungkinan dapat lungsuran kecil, kecuali lungsuran dari orang lain. Iya, sekarang buku pelajaran tak bisa dilungsurkan, karena berubah terus…..kenapa nggak seperti buku mahasiswa ya…tetap ada yang baru, tapi buku lama tetap bermanfaat.

  2. Tapi enak lho bu dapat lungsuran. tidak perlu pilih-pilih atau pusing membeli ini itu. langsung dapat. kan semua itu ada kurang lebihnya juga.

    Treen
    ,
    Kalau kita mensyukuri apa yang kita peroleh akan senang saja. Saya punya anak buah, suami isteri sama-sama bungsu. Mereka seneng aja dapat lungsuran dari kakaknya, dari mulai kereta bayi, mobil, kulkas dsb nya.

  3. Oh..
    Itu maksudnya biar aku rajin belajar toh?
    Padahal selama ini cuma buat menggambar dan mewarnai.. hehehehe

    Kunderemp
    ,
    Minimal meja itu telah berguna untuk melakukan aktivitasmu, walau “hanya” menggambar. Siapa tahu kemampuan gambarmu berguna di masa depan.

  4. Hahaha … Lungsuran. Sekarang (menjelang pemilu) juga jamannya org “nglungsur”. Mungkin tanpa bermaksud ngalap berkah. Tp intinya sama. Lungsuran dipake (ditawarkan) lagi.

    – ”Bapak ibu, menawi kepareng, nyuwun lungsuranipun”.

    * “Piye to le/nduk, lha akeh sing anyar, kok nglungsur to?”.

    – “Nyuwun sewu. Pancen katah ingkang enggal2, ning namun artis, nem2an ingkang dereng sami keuji. Benten kalian bapak ibu”.

    * “Wah nek ngono sliramu iki ra ming nglungsur. Ketoke kok rodo nganggo nguris barang yo?”.

    – “Nyuwun sewu, inggih pramilo mekaten. Hidup bapak ibu!”.

    Bah Reggae,
    Huehuehue…saya geli setengah mati…

    “Bapak ibu, menawi tambah sepuh, malah langkung sae, kados klopo, santenipun tambah katah…”

  5. saya ga pernah kelungsuran, lha wong sulung, tapi juga ga mau melungsurkan ke sodara, suka ga enak kalo ada cacatnya πŸ˜€

    Iway,
    Walau sulung, saya dapat lungsuran dari yang lain. Dari atasan…saat pindah, saya boleh memilih lukisannya, bangku tempat injakan kaki…..terus dari anak buah yang dipromosikan ke tempat lain, saya mendapat alat pemijat listrik (karena dia tahu saya suka migren)…..hehehe

  6. Sampai sekarangpun saya masih suka nglungsur pakaian mertua saya yang rata-rata sudah mulai sesak akibat timbunan lemak di badan beliau yang makin banyak. Seneng aja, dan saya yakin, membawa berkah, setidaknya belanja bulanan berkurang untuk beli baju. Sebenarnya yang paling feasible untuk lungsur melungsur adalah pakaian dan keperluan bayi terutama untuk new born baby. Lha wong cuma dipakai maksimal 3 bulan je.

    Eh, di kampung saya ada juga istilah lungsuran, yang artinya permainan anak-anak, mencari batu yang disembunyikan dalam gundukan pasir.

    Kalau aku baca di bokong truk ada tulisan “kutunggu jandamu”, berarti sang sopir hobi juga sama lungsuran ya budhe?

    Nuwun sewu, lama nggak jalan-jalan keliling kampung blog nih

    Nayantaka,
    Kalau lungsuran suami…karena isterinya meninggal, terus adik isterinya kemudian dinikahi…ada istilahnya sendiri…..(wahh kok saya lupa istilahnya).

  7. saya pertama kali punya hape juga lungsuran dari bapak. waktu rusak, dilungsuri lagi, bapak beli yang baru. baru setelah bekerja, bisa beli hape baru sendiri hehehe…

    Emyou
    ,
    Betul…entah kenapa, walau bisa beli, tetap aja seneng dapat lungsuran. Saat anakku berangkat ke Amrik, kumpulan Donald Bebeknya dilungsurkan ke teman yang hobi baca, juga buku komik lainnya diberikan pada temannya yang punya bisnis warnet dan ada taman bacaannya…sehingga buku tadi bisa dimanfaatkan oleh orang banyak.

  8. lungsuran dari mama yang sangat saya syukuri: beberapa tas dan sepatu ber-merek yang ga sanggup saya beli sendiri, hehehehe… numpang gaya :p

    Utaminingtyaaaz,
    Si bungsu juga seneng sekali dapat lungsuran sepatu, karena rasanya lebih nyaman (apalagi kaki saya tak bisa lagi pake sembarang sepatu, biasanya beli yang merk Scholl….empuk di kaki). Selera dia terhadap baju juga sama, hanya sekarang dia makin kurus jadi bajuku kebesaran.

  9. ‘Lungsuran’ istilah yang baru kutahu.
    Kalau di daerahku Banjarmasin, lungsuran itu tempat bermain anak-anak (biasanya TK) yang berfungsi untuk meluncurkan tubuh.

    Soal lungsuran dalam tulisanmu, aku ga pernah merasakan. Maklum, aku anak tunggal.

    Tapi, katanya, pakaian dan segalanya yang pernah kupakai juga dilungsurkan ke adik sepupu.

    Tabik!

    zulfaisalputera,
    Iya, ternyata istilah ini ada di kamus KBBI…..saya pikir dulunya bahasa Jawa. Biasanya barang yang dilungsurkan juga masih bernilai ekonomi…..

  10. hehehehe si bungsunya *yang saya yakin lebih tua dari saya* lucu bener bu πŸ˜€

    saya juga punya budaya lulungsuran di rumah… tapi saya yang pertama dapet karena anak sulung… dan kalau sekarang semenjak seukuran sama mama kalo baju makenya barengan πŸ˜€

    Natazya,
    Si bungsu memang lucu…ekspresif sekali…..celetukannya bikin ngakak atau tersenyum….
    Tapi dia nggak mau dilungsuri sepeda motor, berat katanya….

  11. sekarang agak susah buat ngasih lungsuran buku pelajaran bu…

    Itikkecil,
    Iya, setiap tahun berubah sih isinya……padahal harga buku mahal.

  12. Bu, saya juga mau kok dapet lungsurannya ibu…huehehehehe…(palagi HP…)

    Ren,
    Hehehe……

  13. Ibu, salam kenal ya….saya termasuk penggemar ibu…tapi sayangnya belum punya blog nih…

    Ren,
    wahh saya merasa terhormat.
    kenapa nggak dicoba aja buat blog sendiri…cukup mudah kok, apalagi yang gratisan kayak saya ini.

  14. Ibu, saya percaya bahwa salah satu cara untuk terus melanjutkan tradisi Jawa adalah salah satunya dengan melanjutkan tradisi nglungsurke itu hehehe…

    Salut Bu untuk cara mendidik Ibu yang seperti itu πŸ™‚

    Donny Verdian,
    Entah kenapa, akhirnya banyak sekali cara-cara ayah ibu mendidik kami bertiga, banyak saya terapkan untuk mendidik anak. Menghargai proses (bukan hasil), melatih ber empati pada orang lain, hidup hemat (walau sebetulnya cukup uang) dll.

  15. Saya setuju sekali lungsuran bu. Baju dari Riku dan Kai sekrang saya kirim ke adik ipar untuk bayinya. Selain hemat juga menunjang recycle kan…demi lingkungan hidup.
    Tapi saya sendiri jarang dapat lungsuran karena anak pertama. Apalagi setelah menikah ukurannya jadi dobel-dobel ngga ada yang bisa ngelungsurin bajunya ke saya… ahhahaa

    Ikkyu_san,
    Apalagi baju bayi, popok, yang hanya cukup dipake 2-3 bulan….saya dulu juga dapat lungsuran dari kakak sepupu, terus saya ganti melungsurkan ke adik ipar. Box tempat tidur bayi juga dapat lungsuran….hehehe…hobinya dapat lungsuran ya….

  16. untung aldi anak sulung….
    barang2nya selalu up to date dan baru.. hehehehe

    yaa walo kadang2 jaketnya lungsuran ibunda seminar, alat tulisnya kenang2an ayah workshop .. πŸ˜€

    Aldi,
    Lungsuran tak harus baju…bisa juga barang berharga lainnya.
    Dulu, di asrama, orang yang lulus melungsurkan inventaris untuk yuniornya. Di milis teman-teman juga saya baca seperti itu, kalau tinggal di luar negeri harus pandai memanfaatkan barang bekas yang masih bagus, seperti sepeda, pemanas air, kulkas, mobil dsb nya.

  17. *tersentuh crita si bungsu yang kegirangan dapat lungsuran hp ibunya*

    Di keluarga suami juga termasuk awet kalo punya barang. Malah baju waktu kecil suami udah muter lagi ke anak saya – setelah dilungsurkan ke keempat sepupunya yang sekarang sudah remaja. Lucu ya.

    Kata suami, keluarganya biasa memilih baju yang agak mahal dikit dan berkualitas sehingga awet. Plus perawatan. Untuk baju-baju tertentu tetap dicuci dengan tangan, disetelika dengan panas yang sesuai bahan, dan disimpan dengan baik.

    Wah beda banget dengan keluarga saya yang baru itungan tahun malah udah mbladus, ga layak dilungsurkan deh. Hehehe…

    Sanggita,
    Yang dilungsurkan memang harus barang yang masih layak pakai dan masih bagus….nggak enak juga melungsurkan barang yang udah kurang baik.

  18. Enaknya jika jadi anak bungsu dari lima bersaudara, dimana kakak2nya semua cepat bosan πŸ˜€

    Coretanpinggir,
    Itu nasib temanku, yang anak bungsu dan juga suaminya. Dia hanya tinggal menyediakan rumah, barang-barang inventaris lungsuran dari kakak2nya.

  19. sebagai orang Batak yang pengen tahu tradisi seluruh etnis di persada nusantara ini
    saya merasa mendapat pengetahuan baru
    soal Lungsuran
    maturnuwun bunda

    Mikekono,
    Sama-sama…makasih kunjungannya

  20. mau dong dapat lungsuran…
    lungsuran baru dengar bu, mirip longsoran yakz πŸ˜€ hehehe

    wah bahagianya anak ibu dapat lungsuran, bisa merasakannya ni πŸ™‚

    Arul,
    Temanku dari Sunda juga cerita ada budaya ini, memang yang dilungsurkan harus barang yang masih bagus…..
    Wahh si bungsu lungsurannya banyak….jaket seminar, tas, ransel, sepatu…hehehe…dia beli baju sendiri setelah kuliah di Bandung dan punya sahabat cewek yang suka ngajak jalan-jalan untuk belanja baju. Tapi soal sepatu, dia masih pilih sepatu ibu, karena empuk dan nyaman (kakiku hanya bisa merk tertentu, karena pernah jatuh),,,,

  21. adikku yg paling kecil mau loh nerima lungsuran baju2 kuliahku, meski br kelas 2 smp, bahkan dia yg ngingetin aq untuk membungkus kemeja2ku di dlm plastik supaya warnanya ga berubah… hehe jd terharu sm si kecil πŸ™‚

    Pimbem.
    Si adik sering melihat bahwa barang yang dipake kakaknya bagus-bagus….jadi dia seneng kalau dikasih lungsurannya

  22. Saya anak bungsu, punya kakak perempuan empat orang, tapi dulu nggak pernah dapet lungsuran. Bukan apa-apa, tapi karena kakak-kakak saya juga cuma punya baju beberapa lembar, jadi nggak ada yang bisa dilungsurkan. Semua dipakai sendiri sampai rusak ….. 😦

    Sekarang saya sering dapat lungsuran dari suami : hp, laptop, mobil, lembaran Soekarno Hatta warna merah …. seneng-seneng aja tuh …. πŸ˜€

    Tutinonka
    ,
    Hehehe……tapi kan sekarang dapat lungsuran dari suami….

  23. Saya tidak mendapat lungsuran dari kakak karena postur tubuh saya lebih besar dibanding kakak saya jadi asyik selalu dapat yang baru pada saat lebaran….. πŸ™‚ Wah Sibungsu anaknya baik sekali ya Bunda, mengekspresikan rasa syukur dan gembiranya kepada sang Bunda yang membuat Bundanya bahagia. terimakasih

    Yulism,
    Iya, kalau badannya beda memang rada susah…..bajuku hanya bisa dilungsurkan pada keponakan, tapi tidak untuk adikku (karena dia lebih gemuk). Lungsurannya bisa barang yang lain….

  24. jadi inget, dulu jaman kecil, dapet kaos lungsuran. sampai di tangan saya, berarti pas udah empat kali berpindah…
    sesudah itupun masih saya teruskan ke ponakan saya dan terus nglungsur ke bawah lagi
    hehehe

    Wenny aulia,
    Hehehe….kebayang deh…riwayat si baju kalau bisa cerita….

  25. Jepang terkenal dg program “recycle”nya. Tidak cuma barang elektronik, mebel atau alat rumah tangga lainnya, toko recycle perlengkapan anak-anak juga banyak. Berhubung suami dulu seorang mahasiswa dengan beasiswa yang tidak begitu besar, ketika anak-anak lahir, kami adalah pelanggan tetap toko recycle itu. Dari mulai baju, mainan, sepeda, dll, banyak disediakan di situ. Lumayan, bisa agak ngirit, lha kebutuhan anak2 macam baju yang baru, harganya jauuh lebih mahal dibanding dg baju orang dewasa. Walaupun toko recycle (barang bekas), tapi barang2nya masih terawat bagus, harganya jauh lebih murah.

    Wulan,
    Kayaknya di luar negeri hal tsb telah biasa. Kalau di Indonesia, kita kayaknya masih ga enak…jadi lungsuranpun diberikan cuma-cuma pada kerabat atau teman yang telah kita kenal dekat. Malah anak buahku saat saya pindah, minta lungsuran……hehehe…hanya sekedar untuk kenangan aja….

  26. Saya menyimak suasana indah dalam keluarga sampeyan. Selamat.

    Ersis Warmansyah Abbas,
    Mudah2an langgeng pak…hanya itulah yang bisa membuat anak-anak betah di rumah dan bisa curhat sama orangtuanya.

  27. Hangat sekali hubungan Ibu dengan si bungsu. Iri sekali menyimaknya.

    Sekarang aku sudah tidak mungkin mendapatkan lungsuran dari siapa-siapa lagi… πŸ™‚

    Daniel Mahendra,
    Si bungsu memang manja dan ekspresif sekali. Si sulung biasanya tak banyak kata-kata…hanya langsung merebahkan badan disamping ibu atau ayahnya.

    Tak dapat lungsuran? Mungkin sungkan yang mau memberikannya….lha saya malah dapat lungsuran dari anak buah, dari teman….hehehe. Dari mulai alat pijat, lukisan, buku kuno…..dll.

  28. Selama fungsi dan kenuaannya masih oke sy pikir lungsuran tidak masalah kok bu

    Achmad Sholeh,
    Barang yang dilungsurkan memang masih bagus, dan disesuaikan dengan sifat orang yang akan diberikan (biasanya hanya diberikan antar kerabat, teman dekat, atasan-bawahan). Seperti, koleksi komik, koleksi buku….Baju biasanya hanya untuk orang tertentu, dan baru dipakai dua tiga kali, jadi ya masih bagus sekali.

  29. Ide lungsuran ini bagus ya Bu, pertama mengajarkan kita menjadi tidak pelit berbagi dengan yang lain, kedua memanfaatkan benda-benda hingga “tetes terakhir”, artinya benda-benda itu tidak mubazir (kita tidak jadi temannya setan πŸ™‚ ) dan terus memberikan manfaat/dimanfaatkan, ketiga prinsip re-cycle tercapai. Nah kalau yang ngalap berkah itu saya nggak tahu, mungkin lebih pas kalau saya artikan sebagai mewarisi semangat si empunya sebelumnya. Wallahualam. πŸ™‚

    Yoga,
    Kayaknya kalau ngalap berkah itu hanya terjadi di masa lalu. Kalau anak sekarang, ya sekedar berbagi, dan diberikan antar kerabat atau teman yang dekat sekali. Saya juga pernah dapat lungsuran dari atasan, berupa buku….

  30. budaya lungsuran di keluarga kami masih kental juga bunda, yang paling ‘mengharukan’ itu jika saya mendapat lungsuran laptop dari bapak saya yang suka gonta-ganti laptopnya πŸ™‚

    Inos
    ,
    Iya memang…hehehe…..
    dan berharap ayah beli lagi laptop terbaru, agar yang lama dilungsurkan.

  31. Saya bungsu dan sering dapat lungsuran dulu waktu sekolah. tapi belakangan saya malah yang melungsurkan komputer saya untuk dipakai kakak-kakak saya.

    Kishandono,
    Memang lungsuran tak harus dari atas ke bawah, bisa juga ke teman atau malah adik melungsurkan pada kakaknya, tergantung siapa yang memerlukan…

  32. keliling kota ke rumah keluarga
    sambil ngarepin angpao

    mirip gitu kah bu? πŸ™‚

    Petak,
    Yang dimaksud lungsuran disini, adalah barang bekas, tapi masih bagus…bisa berupa buku, handphone, laptop dsb nya. Biasanya antara si pemberi dan yang diberi telah ada ikatan batin yang kuat, bisa antar kerabat, teman dekat dsb nya.

  33. saya anak mbarep seh bu’. jadi gak pernah dapet lungsuran. yang ada juga nglungsungi eh nglungsuri πŸ˜€

    Mantan Kyai,
    Saya juga anak sulung…tapi lungsuran dapat dari mana aja…dari sepupu, dari teman sekamar yang lulus duluan….dan setelah kerja, dari atasan, dari teman kerja dll…..yang penting barang nya masih dapat dimanfaatkan…dan yang memberi lungsuran tahu kalau saya memang membutuhkan barang tsb..

  34. secara kami dari keluarga sederhana membeli barang yang bagus itu tentu tidak mampu di lakukan oleh orang tua kami dahulu. semenjak kakak sulungku udah bekerja dan mempunyai penghasilan yang agak lebih dan cukup membeli barang2 yg bagus (baju, jam tangan, celana dll) saya dan adikku selalu dapat lungsuran dari dia kalo dia beli yg baru ato ga muat lagi untuk dia pake.. begitu juga seterusnya setelah saya bekerja adiku selalu dapat lungsuran dari aku waktu dia masih kuliah.. sekarang setelah semuanya bekerja jadi bingung dech mau kasih lungsuran ke siapa lagi… tentu di kasih ke adik dia ga akan mau lagi secara dia juga sudah bekerja…

    yudhi_dharma
    ,
    Baca komentarku pada mantan kyai…lungsuran bisa diberikan pada keponakan, teman atau yang lain. Tentu barangnya harus masih bagus, dan yang diberikan memang memerlukan dan tak tersinggung…kalau hubungan udah dekat, justru mereka menginginkan lungsuran kita…hehehe

  35. he…anak pertama bu… πŸ˜€
    tapi pernah ding dapet lungsuran baju dari ibu..he..baju jadul gitu, tapi dgn alasan vintage bisa juga tuh keren πŸ˜€

    Septy,
    Dari ibu ke anak biasanya lungsuran bukan baju (karena kemungkinan out of date), tapi bisa tas ber merk (yang lebih konservatif), sepatu (bila ukuran kaki cocok). Atau hal-hal lain, pernak pernik yang lucu.

  36. dulu saat paling senang jika dapat lungsuran buku πŸ™‚

    sekarang sudah tidak bisa lagi. mungkin kalau saya sudah berkeluarga, ada yg mau melungsurkan rumah ke saya πŸ˜€

    Arifrahmanlubis
    ,
    Saya juga mau dapat lungsuran rumah……hehehe

  37. Kalau dulu, waktu masih kecil, saya paling sering menerima tas sebagai lungsuran, kalau sekarang jarang sih dapet lungsuran, terakhir sih dapet lungsuran ‘laptop’ dari boss. Sebenarnya sih bukan lungsuran tapinya si boss jual ke saya, kebetulan saya butuh notebook seken buat isteri saya. Lucunya, walaupun notebook itu dijual, dan saya nggak punya cash waktu itu, si boss bilang sama saya “ya udah kapan2 aja bayarnya”. Seminggu kemudian ketika saya ingin bayar, si boss balik ke Canada selama 2 bulan. Akhirnya transaksi tersebut selama 3 bulan sengaja dilupakan terlupakan, baru 2 bulan yang lalu saya baru pura-pura ingat kembali dan bilang sama si boss: Boss, gimana laptopnya mau saya bayar nggak?? Si Boss malah bilang: “Laptop yang mana ya?? Saya udah lupa tuh! Ambil aja kalau kamu suka!”

    Ya udah deh…. jadi serasa dapet lungsuran… huehehehe…….

    Yari NK
    ,
    Iya, saya juga suka dapat lungsuran dari bos, terutama jika beliau pindah tempat…dari hal-hal kecil, sampai barang cukup berharga yang bisa dibeli dengan murah sekali.
    Asyik tuh, dapat lungsuran laptop……

  38. Surabaya dingin?? Wah…. kalau benar2 terjadi sih betul2 mengherankan. Hehehe…. Eh nggak tahunya karena sering di tempat AC. Mungkin bagi mereka yang tidak suka dingin, penurunan sedikit temperatur dan juga keseringan di tempat AC, akan membuat kesan seolah2 tempat tersebut menjadi dingin. Tapi kalau kota Surabaya terpengaruh El NiΓ±o mungkin bisa jadi juga jadi hampir sedingin Bandung. Barangkali lho… huehehe……..

    Yari NK,
    Yang benar, Surabaya panas banget……saya kemarin jadi tak bisa menikmati Surabaya, dan kedinginan karena hanya dari kamar, kelas, ruang makan….tapi, ya itulah tugas…..

  39. Wah… salah masuk…. aturan komen yang terakhir itu untuk yang postingan “Surabaya ternyata dingin ya?” wakakakak…. wah jadi kacau nih…. πŸ˜€

    Yari NK,
    Nggak apa-apa, bukti kalau lagi puasa…hehehe

  40. Saya juga suka dengan lungsuran seperti itu… dulu waktu masih sekolah saya suka pake sisa-sisa dari kakak… soalnya saya juga termasuk orang yang sangat males belanja dan pake sesuatu yang masih baru… jandi mending pake yang lungsuran… baru tapi bekas… hahaha

    qizinklaziva
    ,
    Barang lungsuran tak selamanya jelek kan? Apalagi jika yang memberikan termasuk modis, dan merawat barangnya dengan baik….

  41. potret anak2 yang sholeh dan sholihah, bu enny. di zaman sekarang termasuk langka anak muda yang mau menerima lungsuran hp, hehehehe πŸ˜† saya jadi heran nih, bu, anak2 SMP sekarang sudah banyak yang bawa hp ke sekolah. kayaknya waktu istirahat mereka asyik sms-an kayaknya. hp-nya pun kayaknya bagus2.

    Sawali Tuhusetya,
    Komentar anak bungsuku…”Saya dulu kok nggak pernah punya keinginan yang aneh2 ya bu, padahal saya tahu ayah dan ibu pasti memberikan jika saya dan mas minta.” Mungkin karena sejak mereka kecil selalu dilatih menabung, kalau perlu apa-apa, diambil dari tabungan dulu, baru ditambah uang orang tua. Akibatnya anak-anak biasa saja, melihat teman lain, yang punya lebih segalanya…..karena kebanggaan tak harus dilihat dari harta benda. Tapi melatihnya memang susah pak, apalagi saya tinggal di kompleks, yang nyaris setiap anak diantar mobil oleh sopir setiap hari ke sekolah, sedang anakku naik bis/angkot……

  42. ingat dulu sering dapat lungsuran buku2 sekolah dari kakak , dan adik2 dari saya, hemat khan ?

    Elys Welt,
    Sayangnya sekarang susah untuk memberi lungsuran buku sekolah, karena seringnya ganti kurikulum….

  43. ita biasa dpt lungsuran dari ibu, karena anak ce satu2nya jadi dari ibu hanya ke ita. gak bisa kasi ke 2 adik cowok, huehehhe..

    eNPe,
    Wahh asyik dong…….:D

  44. Sebagai anak tertua, saya jarang dapat lungsuran bu,… tapi adik bungsu saya sering protes jika dapt lungsuran,… apalagi lungsuran baju,… tapi punya saya sering diambil juga seh,… πŸ™‚

    Avartara,
    Kalau zaman dulu, dimana segala sesuatu sulit, maka lungsuran adalah hal yang umum. Namun saat ini, lungsuran cenderung untuk benda2 yang lebih berharga, jarang yang melungsurkan baju. Namun, saya sama si bungsu, karena ukuran badan hampir sama, bisa saling melungsurkan….

  45. lungsuran itu semacam ‘hadiah bersyarat’ ndak Bu?? hihi

    asyafe,
    Jelas tanpa syarat apapun. Lungsuran biasanya diberikan kepada orang yang telah kita kenal secara dekat…..dan yang diberikan juga senang karena ada keterikatan batin yang kuat, antara yang memberikan dan yang memperoleh pemberian.

  46. kalo saya sebagai anak bungsu tetap senang dikasih lungsuran bu, hehehe….

    japspress,
    Sampai sekarangpun saya juga senang kok dapat lungsuran….lungsuran dari teman berarti mendapat kenang2an, terutama jika itu barang pribadi yang sangat disayanginya, seperti buku dsb nya.

  47. mmmm, jadi itu arti lungsuran.. klu di Aceh, lungsuran artinya tempat anak2 bermain plosotan

    mymoen,
    Di daerah lain, mungkin arti kata itu lain…tapi ternyata ada di kamus KBBI…..saya juga baru tahu

  48. selepas wisuda 7 tahun yang lalu, beberapa texbook milik saya, langsung saya lungsurkan ke *calon adik ipar yang batal*
    tapi eh ternyata meski hanya kulipabrik saya masih membutuhkannya. jadi yaa terpaksa saya cari lungsuran sendiri diloakan dekat UI … πŸ™‚
    salam kenal ya bu …

    mascayo,
    Benar, buku malah lebih dibutuhkan saat kita sudah bekerja…malah baru “ngeh”…ohh dulu tuh maksudnya begini to…..
    Tapi orang yang diberi lungsuran buku pasti seneng sekali….
    Salam kenal juga, makasih telah berkunjung

  49. Nglungsur kan bukan suatu hal yang jelek, kecuali nglungsur hal-hal yang negatif. Jangan sampailah itu terjadi. Biarpun lungsuran kalau itu masih bermanfaat dan berguna rasanya tak perlu deh dipermasalahkan. Presiden pun nglungsur istananya presiden yang dulu.

    Mufti AM
    ,
    hehehe..jadi ingat rumah dinas yang bisa naik atau turun pangkat. Naik pangkat kalau penghuni rumah dinas sebetulnya sudah layak menghuni rumah yang lebih besar, namun karena terlanjur senang, tetap ingin di rumah dinas lama. Jadi hanya barangnya saja yang bertambah, sesuai aturan fasilitas dari kantor.

  50. kulo anak bungsu saking 8 bersaudara… macem2 barang lungsuran saking kakak2 kulo “ngelumpuk byek” hehehe…
    luwih bangga ngangge barang lungsuran drpd barang baru loh bu.. terasa gimana gitu.. πŸ˜€

    Indraprasta,
    Itulah sukanya jadi anak bungsu……

  51. Lungsuran begitu berarti n mendatangkan berkah bagi seseorang yang selalu siap untuk “bersyukur” . Bagi si bungsu karena memang belum pernah memiliki yang bagus, maka saat menapatkan lungsuran bagus, tentu gembiranya bukan main. Namun ada sifat orang yang empatis, saat mendapat lungsuran meski pun sudah memilikinya, namaun akan sangat menghargai pemberian itu. Misalnya di kampung saya, para kyai kalau diberi sesuatu ari tamunya, terimakasihnya berkali=kali seolah2 beliau belum pernah ketemu pemberian itu. Padahal saya sebagai santrinya, pak kyai itu suah memiliki. πŸ˜€

    Santribuntet,
    Betul…kita harus menyenangkan hati yang memberi lungsuran pada kita, karena dilandasi itikad baik. Walau, sebetulnya kita sudah punya (tapi tak perlu dikatakan kan?)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: