Oleh: edratna | September 15, 2008

Perlu membuat jadual cuti asisten, agar bisa menikmati “Lebaran”

Dua minggu lagi adalah hari raya bagi kaum muslim. Pada saat ini sebagian besar berbondong bondong mudik, kecuali bagi orang-orang yang tidak mempunyai orangtua lagi seperti kami. Namun semua anggota keluarga yang tinggal bersama kami, di luar keluarga inti, tetap menginginkan mudik. Bagaimana agar semua bisa menikmati Lebaran, namun kondisi rumah tangga tidak kacau? Maklum saya anak sulung, demikian juga suami mempunyai banyak adik, sehingga saat Lebaran, rumah kami banyak dikunjungi saudara, dan juga kami harus berkunjung kepada orang yang lebih tua. Dengan demikian, jika masih ada si mbak yang bersedia bergantian menunggu rumah, maka kami bisa tenang bersilaturahim ke beberapa sanak keluarga lain di seputar Jakarta dan Bandung.

Saat mau berangkat ke Surabaya tanggal 30 Agustus 2008, saya mengingatkan salah satu si mbak, agar dia membuat jadual cuti Lebaran dan diusahakan ada satu orang yang tetap tinggal di rumah, terserah bagaimana mengaturnya. Jadi pulang dari Surabaya, setelah menyelesaikan urusan di Jakarta, saya pergi ke Bandung, untuk menegosiasikan masalah cuti lebaran bagi mbak yang menjadi asisten di rumah kami di Bandung, sekaligus menyiapkan uang THR yang terdiri dari: gaji satu bulan, uang transport pulang pergi dari Jakarta/Bandung ke kampung masing-masing, dan uang untuk membeli baju (oleh-oleh). Bagi yang bersedia tetap tinggal di Jakarta tepat saat Lebaran, bonusnya dua kali gaji, demikian juga jika mereka datang kembali ke Jakarta/Bandung, tepat waktu sesuai kesepakatan, mendapat tambahan bonus lagi, walau tak sebesar gaji. Kali ini giliran Ti yang tidak pulang kampung tepat saat Lebaran, dan orangtuanya tak keberatan, karena Ti mempunyai saudara yang saat ini kena giliran pulang kampung. Lebaran tahun kemarin Ti juga senang tetap tinggal di Jakarta, selain dapat bonus lebih banyak, saat pulang kampung setelah Lebaran (namun masih bulan Syawal), transportasi lebih lancar.

Jadual kepulangan pertama kali adalah tanggal 20 September 2008, kemudian tanggal 27 September 2008, dan mereka rata-rata seminggu sampai sepuluh hari di kampung. Biarlah mereka menikmati bertemu keluarga di kampung, karena selama setahun mereka bekerja keras mencari uang untuk keluarga. Kalau semua mbak pulang kampung, kamipun tak keberatan, apalagi anak-anak sudah besar, sehingga tak repot. Apalagi sekarang banyak supermarket, yang tetap buka di saat libur Lebaran. Namun kami bersyukur masih ada si mbak yang mau tinggal di rumah kami saat Lebaran, itupun nanti kami memberi kesempatan si mbak untuk keluar rumah dan jalan-jalan bersama temannya, dan kami bergantian menunggu rumah, sehingga semua sama-sama senang. Mereka semua adalah para asisten di rumah kami, dengan waktu kerja antara 2 tahun sampai di atas 10 tahun. Dari tidak bisa apa-apa, sekarang yang dua orang bisa menulis menggunakan komputer, bisa nyetir mobil, dan membantu suami mengetik naskah seminar, laporan penelitian, dll. Juga menjadi mbaknya si bungsu, yang menemani kemana-mana, baik kalau si bungsu harus mengerjakan tugas di lab sampai jam 1 malam, atau menemani si sulung belanja persiapan ke luar negeri kemarin. Mereka sudah seperti anggota keluarga bagi kami, bahkan saat si sulung menikah, mereka mendapat juga baju seragam yang sama, sebagaimana dipergunakan oleh anggota keluarga yang lain.

Sementara, base camp kegiatan saya pindah ke Bandung, menemani suami dan si bungsu, agar puasa kali ini bisa lebih banyak waktu bersama keluarga. Kalau sebelumnya pikiran saya masih terpecah, karena si sulung kuliah di Jakarta, dan kemudian bekerja di Jakarta, dan si bungsu kuliah di Bandung…. setelah si sulung berkumpul dengan isterinya di Miami, waktu kami sekeluarga sekarang lebih memungkinkan dihabiskan di Bandung. Jadual sudah selesai di buat, THR untuk mereka sudah siap dibagikan, demikian juga zakat……

Semoga Lebaran kali ini bisa dirayakan bersama keluarga tercinta……demikian juga dengan anda semua.


Responses

  1. wah jadi ingat di kantor
    kami juga membuat jadwal standby on site dan standby on call
    hihihi, jadwal cuti memang harus dibuat ya, Bu

    utaminingtyazzzz,
    Dulu saat belum ada libur bersama, dan tetap harus ada yang jaga kantor (libur hanya 2 hari pas tanggal merah), antrean cuti sampai pake di lotere….adanya libur bersama, membuat semua senang.

  2. Ibu, menurut saya ini terkait erat dengan tradisi.
    Saya pernah dengar bahkan negara-negara di timur tengah yang notabene Islam pun tidak selalu mengartikan Lebaran dengan mudik ya…

    Jadi, kalau punya asisten rumah tangga maupun pekerja lainnya, memang akan selalu serba repot setiap lebaran tiba, entah sampai kapan … 🙂

    Donny Verdian
    ,
    Mudik Lebaran memang terkait budaya Indonesia, karena negara Islam lain, yang rame adalah saat Idul Adha (Hari Raya Qurban). Dan di Indonesia, Lebaran bukan saja hari raya umat Islam, namun juga seluruh bangsa…..di kampung saya dulu, kami menyatu walau berbeda agama. Maklum keluarga kami campuran, bahkan yang jadi pendeta Budha pun ada.

  3. Beberapa hari menjelang lebaran biasanya rumah saya jadi agak kacau-balau ditinggal asisten rumah-tangga. Tapi yah … nggak apa2 setahun sekali. Kesempatan ini kami gunakan untuk mengajak anak2 belajar membereskan rumah bersama.

    Oemar Bakrie,
    Saat anak-anak masih kecil, saya menyiapkan makanan yang mudah, dan anak-anak dilarang menggunakan piring dan gelas bermacam-macam agar mencucinya tak capek. Satu hal yang bagus, mendidik anak-anak mandiri, maklum jika ada si mbak, mereka kurang mandiri….dan saat lebaran, nyonya rumah menjadi berkuasa si dapur…hahaha… kalau ada si mbak saya lebih banyak mengalah. Habis kalau masuk dapur mau bantu-bantu, ditegur si mbak…”Ibu niku bade nopo to, mriki kulo mawon ingkang nandangi…”

    Bentuk ketupatpun bermacam-macam, karena banyak tangan kecil yang membantu…tapi seneng kok…..

  4. Sudah 4 tahun tidak mudik lebaran, kangen sebenarnya. Jika masih ada orang tua memang Lebaran paling afdol jika mengunjungi mereka yang sehari hari tinggal jauh dari kita. Benar juga sih pendaptnya Ti, untuk pulang setelah lebaran karena angkutan lebaran juga jadi mahal minta ampun dan kadang antrian yang sangat panjang di Pantura yang bikin capek dijalan. terimakasih

    Yulism,
    Kalau pembantu senior, mereka sudah memahami kesulitan transportasi, dan lebih memilih pulang setelah lebaran…selain transportasi mudah, bonuspun dobel. Dan uang ke ortu tinggal dikirim lewat Bank, sehingga aman sampai ke tangan orangtua, sekalipun anak nya datang belakangan.

  5. hmmm, alangkah senangnya para asisten keluarga kalau bisa mengikuti jejak seperti keluarga bu enny, selalu memberikan bonus buat mereka pada saat lebaran. semoga lebaran tahun ini memberikan banyak hikmah dan berkah buat ibu sekeluarga, amiiin.

    sawali tuhusetya,
    Lebaran memang waktunya berbagi kebahagiaan, apalagi mereka telah banyak berjasa bagi keluarga kami. Dan uang tsb juga akan dibagikan lagi pada sanak keluarganya…dan doa merekapun baik, agar bapak ibu yang diikuti selalu diberikan rejeki yang cukup, agar bisa tetap membiayai mereka.

  6. Iya Bu, tiap tahun saat Ramadhan, bahkan jauh-jauh hari/bulan sebelum Ramadhan selalu perlu persiapan-persiapan seperti yang Ibu ceritakan. Jauh-jauh bulan supaya bisa mendapatkan seat dan biaya transportasi yang lebih ekonomis, supaya bisa ibadah di Ramadhan dengan khusyu, serta supaya bisa menabung untuk keperluan-keperluan hari raya yang lain.

    Hanya satu yang belum pernah berubah yaitu ketersediaan moda dan sarana transportasi yang baik untuk mengantisipasi gelombang pemudik tiap lebaran.

    Tiap tahun saya selalu optimis akan ada perubahan di negeri kita. Tapi… janji tinggal janji “bulan madu” hanya mimpi.
    :mrgreen: :))

    Semoga lebaran tahun ini Ibu dan keluarga dapat berkumpul bersama dan mendapatkan hidayahNya.

    Yoga,
    Makasih doanya….lha saya masih kuliah di tahun 70 an saja transportasi untuk pulang mudik sudah penuh, apalagi sekarang, kan orangnya juga makin banyak. Dulu, saya suka sholat Ied dulu di halaman ITB, tidur di rumah om adik bungsunya ibu, dan baru pulang ke Jatim setelah Lebaran.

  7. Salam kenal dan selamat menjalan ibadah puasa

    Khudori,
    Salam kenal juga, semoga puasa kita diterima oleh Allah swt. Amien.

  8. hohoow…
    pengaturan yang bijak. Hehehe.. Pembantu2 di rumah Mbak kerjanya udah lama ya, berarti Mbak udah jadi employer yang hebat nih.

    Nonadita,
    Betul, mereka sudah seperti keluarga. Awal menikah juga mengalami kesulitan, namun lama-lama saya bisa memahami bagaimana agar hubungan timbal balik dapat berjalan lancar.

  9. si mbak2 pasti kerasan ya tinggal di tempat ibu sekeluarga, bnr2 memperlakukan mereka seperti keluarga sendiri. sampe saat ini kami sekeluarga blm pnh memiliki asisten rt krn ibu saya bisa menghandle semuanya. tp membaca tulisan2 ibu saya berharap nanti jika saya mempunyai asisten rt saya bisa berlaku bijak seperti ibu. thanks bu buat pencerahannya 🙂

    Pimbem
    ,
    Mungkin karena ibunya Pimbem tinggal di rumah, sehingga bisa mengatur semuanya. Alm ibu saya juga bekerja di luar rumah, jadi saya menjadi terbiasa dengan simbok, bahkan hubungan adik bungsu saya sama simbok sangat dekat. Kalau simbok pulang kampung (beberapa km dari rumah saya), adik bungsu saya dimasukkan tenggok dan digendong pulang ke kampungnya….hehehe

  10. Bu,
    manajemen urusan itu tidak mudah,..tetapi ada sisi baiknya betapa keluarga jadi kompak dan turun tangan ngurusi urusan rumah semua..sekaligus kumpul pul kumpul..
    nonadita,
    kualat kamu manggil mbak mbak ke ibu endratna,..zam ini bojomu lucu tenan he he

    Iman Brotoseno
    ,
    Betul mas Iman, saya juga mengalami pergantian asisten yang berkali-kali, sampai menemukan si mbak ini, yang merupakan tetangga kampung suami di Kediri. Sejak itu situasi terkendali, kalaupun kami mudik, juga mampir ke orangtuanya, sehingga orangtuanya si mbak juga tenang, karena tahu siapa majikannya.

    Gpp kok, kan saya memang kakak jauhhh nonadita (satu alumni di Bogor).

  11. wah, enaknya kalau segalanya sudah terencana dan tersusun rapi…

    (^_^)v

    mudik kali ini berangkat menggunakan kereta api. semoga lancar. semoga selamat sampai tujuan. tanggal 26 insyâallâh berangkat. balik lagi ke jakarta rencananya tanggal 8.

    (^_^)v

    Farijs van Java,
    Hehehe…kadang meleset juga…jadi mesti punya plan A…plan B…dan plan C.

  12. benar-benar “well-planned” ya Bu. merancang ide liburan lebaran yang bisa dinikmati oleh semua orang (termasuk asisten).

    ide bonusnya benar-benar baik saya pikir. tentu para asisten akan senang. bisa masukan buat saya nanti kalau sudah “mudik” kembali ke indo. thanks!

    Saut,
    Pemilihan asisten juga menentukan, karena ada juga asisten yang tidak atau kurang baik. Jadi, kunci awalnya adalah mereka jujur dan mau dididik….rata2 mereka di rumah juga dikursuskan, ada yang kursus menjahit, sampai ada yang bisa nyopir dan mengetik di komputer (perempuan).
    Bonus juga mesti disesuaikan, karena kalau cuma naik gaji, belum tentu merangsang perbaikan kinerja. Kalau anak saya lulus dan IP nya di atas 3, mereka dapat bonus juga….dulu saat balita, bonusnya berdasar naiknya berat badan (kenaikan tiap ons berat badan dapat bonus), juga jika dia bisa menjaga agar anak sehat dan tidak ke dokter karena sakit dalam bulan ybs (kecuali vaksinasi). Menantuku (saat itu masih calon), saat pulang dari Amerika, memberikan oleh-oleh untuk para asisten ini…ada yang dapat tas, parfum, baju dsb nya.

  13. Kalau saya malah terbalik, jikalau lebaran base-camp saya malah ada di Jakarta. Habis kumpul-kumpulnya juga di Jakarta. Tentang jadwal mudik, biasanya saya tidak terlalu merisaukan. Memang sih jikalau kedua domestique saya pulang kampung, saya sekeluarga memang agak repot terutama di minggu terakhir bulan puasa di mana biasanya para domestique mulai pulang kampung. Tapi, kita sekeluarga sudah biasa repot kok. Malah saya nggak canggung untuk mengepel rumah sendiri dan mencuci piring di dapur (kalau perlu ya masak sendiri tapi biasanya istri saya yang ‘ngalah’ dan yang memasak). Mencuci piring di dapur buat kebanyakan bapak2 di Indonesia masih merupakan pemandangan yang aneh, tapi buat saya nggak apa2. cuek aja. Huehehe…. 😀

    Yari NK,
    Kalau tamu hanya saudara sebetulnya tak terlalu repot…yang repot kalau anak-anak masih balita. Di rumah, sudah biasa anak laki2 dan ayah nya mencuci piring sendiri, walaupun ada si mbak. Sebetulnya saat ini fungsi si mbak benar-benar sebagai asisten, menunggu rumah kalau kita semua pergi (maklum di Jakarta rumah kosong sangat rawan). Dia boleh pergi, kalau kebetulan saya memang tak ada rencana keluar rumah…jadi gantian.

  14. wah articlenya seru, diskusinya juga. i like it.

    rizkysupriadi
    ,
    Thanks kunjungannya

  15. mmh, masukan yg bagus buat ntar klo udah tua & berumahtangga…

    btw, THR bukannya dua kali gaji yah, wah mbak-nya hrs diberi tahu nih, hehe…

    p.herry setyono,
    Kan saya bukan perusahaan…..dan gaji mereka bertingkat, tergantung lama masa kerja. Di kantor pun, THR hanya sebulan gaji…pernah sih dapat dua kali gaji, saat perusahaan mendapat laba melebihi target.

    Si mbak tanpa diberi tahu, sudah banyak punya pembanding……teman-temannya kan juga saling memberi info, dan teman-temannya ini bekerja di orang-orang lingkungan rumah dinas saya yang lama. Dan bagi mereka, bukan sekedar uang yang dicari, tapi lebih penting adalah penghargaan, saudaraku maupun keponakanku ke mereka juga baik-baik, dan menganggap setara. Anak-anak juga menyayangi mereka…ini yang penting. Mereka juga punya kamar tidur terpisah, kamar mandi sendiri dan TV dikamarnya.

  16. kemaren si bibi rumah nikah… anakku kafka terpaksa cuma sama mbahnya!!!

    qizinklaziva,
    Yang sulit mencari penggantinya….yang menyayangi anak-anak.

  17. Wah, dapat inspirasi lagi nih tentang pengelolaan asisten rumah tangga. Makasih ya, bu Enny.

    Cuti bersama ini menguntungkan sekali ya. Pas banget. Mulai 26Sept, insyaalah saya sekalian cuti melahirkan sampai Jan tahun depan. Lumayan, 3 bulan + 1 minggu. Jadi bisa lebih lama bersama anak dan suami.

    Allah tu tidak pernah kehabisan skenario ya? Padahal sempat khawatir lho karena kehamilan yang kedua ini tidak ada di rencana 2008.

    Sanggita,
    Percayalah, dengan dukungan keluarga, mengelola si mbak sebagai garis belakang yang kuat, maka semua akan berjalan lancar. Anak-anakpun tak kurang mendapat kasih sayang.

  18. semoga liburannya nanti menyenangkan Mbak,

    maaf, aku mau nitip link artikel :

    http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/09/16/foto-foto-tragedi-zakat-di-pasuruan/

    Robert Manurung,
    Terimakasih….

  19. weleh .. sip banget pengaturannya .. 🙂

    Abu Fathimah,
    Agar semuanya happy…makasih kunjungannya

  20. […] Lebaran banyak yang mudik, termasuk PRT. Bu Gito, biro penyalur PRT di Jakarta, milik seorang pria bernama Pak Gito, hari-hari ini sudah menyebar kertas promo. Apakah Anda sudah menyiapkan semuanya agar urusan domestik lancar jaya, aman terkendali?  Mintalah advis kepada Bu Edratna. […]

  21. Mudah2an saya bisa mudik lebaran ini. Doanya Bu. 😦

    Amienhers,
    Semoga lancar pak….yang jelas harus sabar menghadapi kemacetan yang makin parah….

  22. ah sy ndak pulang.. siap2 lebaran di kost 😀
    semoga mendapat banyak teman ditemani berlebaran 😀

    Arul,
    Dulu saya pernah nggak pulang saat Lebaran, nggak masalah karena saat itu mengejar thesis agar segera selesai….

  23. saya menyiapkan apa yah untuk lebaran … oh ke makam Ibu 🙂

    Rindu,
    Jangan lupa mendoakan ibunda….

  24. kok 20 dan 27 Agustus 2008? Tidak salah tuh? Bukannya harusnya 20 dan 27 September 2008? Aku sampai di Amerika kan tanggal 27 Agustus 2008.

    Kunderemp,
    Thanks…udah dibetulkan….

  25. Kalau gitu enakan jadi guru dong, Mbak! bayangkan kami menikmati libur 1 bulan penuh plus 5 hari lebaran. Jadi nggak perlu pusing bikin jadwal cuti.

    Syamsuddin Ideris,
    Saat masih kecil, karena ayah ibu guru, liburannya 40 hari……sampai saat masuk kembali kesekolah, sudah nyaris lupa saking asyiknya libur.
    Suami saya juga dosen, tapi tetap saja liburannya tak panjang seperti dulu.

  26. wah..mudik dan thr ya bu..kalau fi sekarang udah ga mudik2an lagi bu, beberapa tahun lalu sempat merasakan mudik waktu kuliah, melelahkan, namun da sensasi yang berbeda. sekarang jadi pengen ngerasain lagi, hehe..

    Pipiew,
    Saya udah lama ga mudik, karena memang sudah tidak ada lagi yang didatangi. Sebetulnya mudik bisa dilakukan dengan gembira, jika kita bisa santai…dan kata teman saya, bawa tikar (untuk istirahat di tengah sawah, tiduran jika jalan macet). Bawa kompor kecil untuk masak mie rebus…dan aqua yang banyak. Jadi benar2 dianggap menikmati piknik di alam terbuka bersama keluarga. Jika macet, matikan mesin, semua keluar dari mobil dan bercakap dengan gembira…malah jadi saling kenal, sesama orang yang mudik, yang mobilnya berdekatan.

    Bagaimana yang naik kendaraan umum…siapkan fisik dan mental…ada lho yang kecantol, dan berjodoh….

  27. jd inget sodara yg punya pembokat, pas lebaran suka pada ngineP di hotel sampe pembantu balik..

    [nah bigimana kalo buat yg minim uang..?? ga mampu bayar hotel..]

    Omith,
    Sebetulnya kalau sama-sama libur bersama seperti sekarang, tak ada masalah, karena inilah kesempatan mendidik anak-anak mandiri. Kepusingan saya dulu, karena si mbak belum pulang, sudah harus masuk kantor (karena jatah libur Lebaran sebelum hari Raya)……dan tak mungkin meninggalkan anak sendirian di rumah…jalan satu2nya ya diboyong ke kantor.

    Saya pada dasarnya menikmati tinggal di rumah bersama anak-anak…karena berdekatan dengan mereka, banyak sekali hal yang bisa dilakukan bersama.

  28. Betapa Ibu menghargainya sebagai manusia. Manusia yang juga mempunyai hak itu merasakan banyak hal yang sama. Terharu, Ibu.

    Daniel Mahendra,
    Karena merekalah sebetulnya yang menjadi keluarga terdekat…karena saya dari keluarga kecil, dan semuanya sibuk. Kalau sakit atau apa, si mbak inilah yang langsung mengantar ke dokter, ngeroki jika masuk angin dsb nya.

  29. Wah saya juga kayaknya tuh bu.. capek dengan rutinitas kantor

    Gelandangan,
    Walau bisa melakukan aktivitas rumah tangga, namun jika ada si mbak sangat membantu, karena bisa ada temannya, dan salimng membantu. Kita sekeluarga juga lebih santai…dan bisa bersosialisasi….

  30. mbak edratna…..ketika mereka (Asisten Rumah Tangga) cuti, secara pribadi kita pasti akan merasa ”kehilangan”……. semakin lama tidak jumpa semakin terasa penting kehadirannya…… ART sudah sebagai salah satu kebutuhan dasar…… tetapi biarlah, toh cuma tujuh sampai sepuluh hari dalam setahun…….bertemu untuk silaturahim dengan keluarga adalah kebutuhan manusiawi-nurani mereka…….saya percaya kita sewajarnya ikhlas mereka pulang mudik…….itu adalah wujud empati, simpati dan penghargaan kita atas hak asasi dan pengabdian mereka…..selama sebelum lebaran……

    Sjafri mangkuprawira,
    Betul pak, terutama anak-anak saat masih kecil, merasa kehilangan…..dan ternyata mereka juga tak tahan lama-lama di kampung.
    Kebetulan, kami semua sudah menganggap mereka seperti keluarga, jadi kalau mereka balik lagi ke Jakarta/Bandung, bawa oleh-oleh jadah buatan sendiri, ayam ingkung (istilah ayam bakar di Jawa), jenang dll. Juga mereka membawa berita, karena pasti mampir ke rumah adik suami, yang masih tinggal di kampung.

  31. Kalau saya dulu bu… waktu saya masih kecil (5 SD) setiap lebaran sudah ada pembagian tugasnya. Saya sbg yang tertua masak, adik-adik (kami berempat) yang lain cuci dan ngebon. Lalu kita sama-sama beresin rumah yang besaaaaar banget. Berkat kebiasaan itu, saya tidak takut untuk hidup sendirian di negara asing hehehe. Yang hebat sebelum kami bisa bantu-bantu, ibu saya sendirian mengerjakan semuanya. Saya salut banget pada ibu saya.

    Ikkyu_san,
    Saya sendiri sebetulnya hobi mengurus rumah tangga, kalau si mbak pulang kesempatan saya untuk terjun ke dapur. Tapi anak-anak malah komentar, “Wahh bu, kalau begini caranya saya makin gendut.”
    Kenapa le?” tanya saya bingung. “Habis masakan ibu lebih enak, “jawab si sulung. “Tentu saja, karena ibu pake bumbu yang tak dimiliki mbak, yaitu bumbu kasih sayang ibu pada anaknya,“jawab saya.

    Si sulung tersenyum…dan meneruskan membantu beres2 rumah. Anak-anak ternyata menjadi lebih rajin, kalau ada si mbak mereka manja, padahal kalau tak ada, rumah tetap bersih, karena mereka mau membantu beres2.

    Saya tetap senang ada si mbak, anak-anak lebih fokus untuk kuliah, meningkatkan kompetensi, dan disatu sisi kami bisa membantu perekonomian mbak di kampung. Si mbak udah punya beberapa sapi si kampung, punya deposito, punya tabungan……malah kalau kehabisan uang dan belum sempat ke bank, bisa pinjam uang si mbak dulu…hehehe

  32. lo justru “asisten” macam kami ini bisa jadi “bos” ya di kampung.. makanya, tradisi “mudik” itu penting buat asisten macam kami..

    emangnya mudik itu juga ndak repot? sama repotnya, mbak.. eh bu.. 😀

    mas iman, memang nonadita ini lucu.. kalo gak lucu ya gak saya pacarin.. hihihih…

    Zam,
    Wahh kalau mudik, saya udah ngebayangi repotnya, makanya begitu para pinisepuh udah tiada ya mendingan di Jakarta-Bandung saja…lha ngapain jauh-auh, berdesakan, macet di jalan, cuma ke makam. Kalau ibu masih ada, ya memang diusahakan pulang, tapi juga tak selalu pas lebaran, tapi bisa sesudahnya. Dan mudik bawa anak kecil? Sangat…repot.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: