Suka duka ditinggal asisten saat anak masih kecil

Asisten rumah tangga, pada saat libur Lebaran benar-benar terasa diperlukan agar roda kelancaran rumah tangga berjalan baik. Tak dipungkiri, masalah ini yang memusingkan para ibu, terutama yang masih punya anak kecil. Bagaimana caranya agar kalaupun para si mbak ini pulang, nantinya mereka mau kembali lagi ke rumah kita tepat waktu? Atau bahkan mau pulang bergantian, jika kita mempunyai asisten lebih dari satu?

Sebagai orang tua, yang keduanya bekerja di luar rumah, kebutuhan asisten ini sangat mutlak diperlukan. Namun kenyataannya, mendapatkan orang yang cocok tidak mudah. Kadang kita sudah sama-sama cocok, mereka menikah ataupun orang tuanya lebih memerlukan di kampung, atau mereka ingin pergi ke luar negeri menjadi TKI karena mendapatkan penghasilan yang berlipat ganda.

Saat itu sekitar tahun 1988, umur si bungsu menjelang 3 tahun. Pada waktu itu belum ada istilah cuti dan libur bersama, jadi jadual cuti Lebaran adalah sebelum atau sesudah Lebaran, yang semuanya sama-sama nggak enak. Pada umumnya orang memilih mendapat cuti setelah Lebaran, dengan harapan waktu nggak ada asisten namun tetap harus bekerja, hanya sebentar karena terus ada libur Lebaran, saat sudah masuk bekerja asisten sudah pulang dari mudik. Kali ini giliran saya mendapat cuti sebelum Lebaran, jadi begitu tanggalan biru, saya harus masuk bekerja. Dan karena saya nggak tega meninggalkan anak di rumah hanya berdua dengan ayahnya, yang bisa dipastikan akan pusing sekali momong dua anak kecil seharian, si bungsu saya ajak ke kantor. Di kantor sudah banyak anak kecil, rata-rata anaknya pegawai yang ditinggal mudik para asistennya.

Begitulah saya memulai hari kerjaku, anakku main bersama anaknya pegawai yang lain, mereka berlarian sepanjang lantai, menyanyi….wahh pokoknya heboh deh…dan sebetulnya nggak praktis juga, karena perhatian pegawai terpecah. Tak lama kemudian terdengar suara menangis….satu bisa ditenangkan, yang lain mulai menangis pula….dan akhirnya anak-anak balita tadi menangis rame2…hahaha…seperti mendengar paduan suara. Sedang rame tangisan anak kecil, telepon dimejaku berbunyi, ternyata dari Direktur….yang tak lama setelah memberikan instruksi, suaranya terdengar bingung.. “He, suara apa itu, kok saya mendengar suara menangis?” tanya beliau. “Ooh itu suara anak saya pak,” jawab saya. Agak lama tak terdengar suara beliau, akhirnya…”Pembantumu pulang kampung ya?”. Setelah saya memberikan jawaban, beliau mengatakan…”Ya, udah, kamu perhatikan dulu anakmu, kerjanya santai dulu”. Bos saya ini sungguh baik sekali, demikian pula isterinya. Saat ada acara silaturahim Lebaran, saya sempat mengobrol dengan isteri Direktur, saat itu putra putri beliau sudah mahasiswa di UI dan IPB. Saya mengatakan, “Bu, enak ya, anak-anak sudah besar.” Jawaban beliau, “Jeng, ternyata anak-anak besar malah lebih menyita perhatian. Kalau anak kecil, kan masih mau digendong, diajak ke dokter, dibujuk. Kalau sudah besar, kita deg2an terus, apalagi kalau malam belum pulang juga,” kata beliau, yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang terus dikupingku.

Saya termasuk orang yang tak bisa melihat rumah berantakan, jadi saat asisten pulang kampung, sehabis sahur saya membereskan rumah, mencuci, mengepel dsb nya. Saat anak-anak dan suami bangun, semua sudah siap di meja makan. Ternyata kekuatan saya cuma 3 (tiga) hari, setelah itu demam tinggi, akhirnya suami bilang..”Sudah, mulai besok masak nasi saja, yang lainnya beli.” Kebetulan saat itu di dekat rumah dinas, jarak 1 km ada Golden Truly. Suatu siang kami membawa anak-anak makan di Food Court…apa yang terjadi? Di sana ketemu hampir semua tetangga di kompleks yang tidak mudik, dan ditinggal para asistennya….dan kita makan sambil ngerumpi.

Anak-anak semakin besar, pengaturan menjadi lebih mudah, karena mereka bisa dilatih membantu pekerjaan rumah. Dan disinilah kesempatan ibu mengajarkan menyapu, mengepel, memasak. Maklum, jika ada si mbak, mereka manja dan si mbak juga memanjakan, malahan si sulung baru lepas gendongan setelah kakinya sudah sampai di tanah saat di gendong (waktu itu kelas 6 SD)…maklum si mbak ini benar-benar menyayangi si sulung seperti anaknya sendiri. Saat menjelang Lebaran, masakan yang disajikan antara lain ketupat dan lauk pauknya. Kedua anak saya senang membantu membuat ketupat, jadi kalau makan ketupat, ada yang terlalu keras (kebanyakan isi), terlalu lembek (kurang isi) dan lain-lain. Paling senang jika adik-adikku beserta keluarganya bisa cuti dan libur Lebaran di rumah kami di Jakarta. Adik kandungku yang nomor dua suka memasak, saya tinggal menyerahkan uang belanja, dan dengan tenang pergi ke kantor. Rumah dijamin tenang, anak-anak kenyang, serta gembira karena bermain dengan sepupunya. Untuk mempermudah, beberapa hari sebelum Lebaran, saya sudah pesan berbagai macam bakso di pasar Benhill….jadi nanti tinggal memasak bakso dengan kuah daging, ditambah sayurannya. Anak-anak juga senang makan pisang goreng, dan pisang ini, begitu selesai digoreng, ya selesailah sudah, karena tangan-tangan kecil antri menunggu mendapat giliran dapat pisang goreng.

Sekarang anak adikku yang sudah menikah dua orang, yang paling kecil baru diterima di salah satu bank asing, dan saat ini job training dan tinggal di rumahku di Bandung. Anak adik bungsuku, keduanya sudah lulus S1, yang sulung awal Nopember ini menikah. Dan bungsunya, baru lulus dari ITB, menunggu wisuda bulan Oktober nanti. Sedang saya sendiri, si sulung sudah menikah, dan telah tinggal sementara waktu di Miami menyusul isterinya, dan kalau tak ada halangan awal Oktober akan ke Iowa. Si bungsu mulai sibuk menulis thesis untuk S2 nya di kampung gajah. Yahh, kami memang sudah mulai tua, anak-anak tumbuh dan berkembang.

Entah kenapa, kalau dulu si mbak selalu ingin pulang kampung saat Lebaran, sejak 10 tahun terakhir ini mereka bisa di gilir atas kemauan sendiri…katanya.” Kasihan ibu, sudah ngunduri sepuh, tamunya banyak”. Saya terharu mendengarnya, mereka justru yang memikirkan majikannya, takut kalau ditinggal ada apa-apa. Yahh, hubungan kami dengan para asisten memang dekat, mereka bisa dipercaya tunggu rumah, saat saya turne sampai dua minggu, membayar telepon, dan lain-lainnya, Saya juga memberi uang belanja mingguan, dan merekalah yang mengatur menunya. Mereka pula yang mengurus perpanjangan STNK, menemani anak-anak belajar jika ibu terpaksa bekeja lembur…ahh saya tak tahu bagaimana kehidupanku tanpa mereka. Dan mereka tak minta imbalan apa-apa, hanya minta diperlakukan baik. Saya ingat pesan almarhum ibu…”Nduk, kamu harus bisa ngemong pembantu, karena kalau kamu bisa berbuat begitu, mereka juga akan memberi imbalan sepantasnya.”

Iklan

29 pemikiran pada “Suka duka ditinggal asisten saat anak masih kecil

  1. Saya sangat terkesan pada hubungan baik Mbak Enny dengan para asisten. Memang benar, sebagai wanita yang bekerja, asisten rumah tangga memegang peran yang suangaaat penting. Saya juga selalu memperlakukan para asisten saya dengan baik, karena saya sadar, tanpa mereka saya bakal kalang kabut.

    Sekarang ini asisten saya ada dua, yang satu untuk cuci dan setrika, yang satu masak dan bersih-bersih rumah. Dua-duanya tidak tidur di rumah. Si Mbak yang masak datang pagi, siang pulang, dan sore datang lagi untuk menyiapkan makan malam. Mungkin karena jam kerjanya yang longgar, dimana dia masih memiliki kehidupan rumahtangga dan sosial sendiri, si Mbak ini kerasan bekerja pada saya.

    Pada saat lebaran, dia sudah masak berbagai macam lauk. Lauk matang ini disimpan dalam kantung plastik, diberi tulisan, dan dimasukkan ke dalam freezer. Setiap akan makan, saya tinggal memilih lauk yang saya inginkan, memanaskannya, dan makanan hangat pun siap di meja. Kakak-kakak saya sampai heran, musim lebaran, nggak ada asisten kok bisa punya lauk macam-macam. Itulah rahasianya. Lauk dalam freezer ini bisa tahan lama juga kok, asal dimasak dengan baik. Simpan dalam porsi kecil yang bisa habis dalam sekali atau dua kali makan.

    Tutinonka,
    Betul, biasanya si mbak telah menyiapkan berbagai makanan. Cuma kalau anak-anak masih kecil, makanan biasanya berupa sup (yang harus segar), soto dan sayuran segar lainnya. Tapi karena anak saya suka bakso…saya beli bakso banyak, juga daging, nanti tinggal membuat mie bakso kuah, ataupun sayuran lainnya. Jadi selalu makanan segar, tapi membuatnya tak repot.

    Kalau makanan khas saat Lebaran di Jakarta, ya ketupat tadi. Ini beda dengan dikampungku, yang saat Lebaran adalah nasi uduk…sedang ketupat saat bada kecil (maksudnya seminggu setelah Lebaran, dan selesainya puasa Syawal)

  2. Yang susah kalo si kecil sudah lengket sama asisten..ini nih ibarat kata si asisten sudah jadi seperti ibunya sendiri. Otomatis nggak bisa di tinggal kemanapun. Inget si asisten, dia nangis, pengen tidur masih juga nanyain asistennya. dan itu yang dialami kakak saya di Jakarta bun. Sampai akhirnya ponakan saya nangis setiap hari selama seminggu.

    Giliran si asisten kembali ke rumah, si kecil malah jadi nggak kenal lagi…dan perlu adaptasi lagi dengan si asisten….

    Pakde,
    Punya anak kecil memang seperti itu, saya juga mengalaminya. Jadi, saat anak-anak masih kecil, kalau pas akhir Minggu saya nggak bekerja, maka semua kegiatan anak dilakukan bersama ibu, dari mulai makan, memandikan dsb nya. Kalau jalan-jalanpun, si mbak tak diajak, ini untuk ber jaga-jaga jika mendadak si mbak harus pulang kampung. Setelah anak memahami, usia SD, baru saya agak melepaskan anak-anak bersama si mbak…walau mereka dekat, tapi ibu tetap penting, karena ibu suka mendongeng, dan permainannya pun berbeda. Jadi ibu harus memberikan persepsi pada anak, bahwa ibu punya kelebihan di mata anak…memang susah-susah gampang.

  3. Sebentar lagi pada ditinggal asisten mudik. Di rumah saya ada dua. Yang satu pulang, yang satu laki-laki nggak pulang. Soalnya dia nggak tau mau pulang ke mana, orang sudah yatim piatu. Jadi lumayan tidak terlalu repot sekali.

    Roes Haryanto,
    Yang repot adalah membersihkan rumah, apalagi jika rumahnya besar. Kalau hanya memasak, atau mencuci piring, cangkir tak terlalu repot. Mencuci masih ada mesin cuci….
    Bapak beruntung, masih ada yang tinggal untuk membantu beres-beres rumah….

  4. Papah Doni

    Bu Eny mau tanya kalau saya kirim komentar kok foto saya nggak muncul ya? Tapi kalau saya kirim ke blospot muncul

    Papah Doni,
    Wahh sbetulnya saya juga kurang paham masalah IT pak…yang membuatkan tampilan blog, anak saya yang sedang ambil S2 di Bandung.
    Jadi, kemampuan saya, baru sekedar menulis….

  5. Saya setuju dengan ibunya bu Enny. Memang kita harus menghargai mereka. Sungguh sulit jika tidak ada mereka. Ini saya rasakan sendiri. Sudah tiga bulan saya tidak punya asisten. Ia pulang kampung karena harus menikah. Beruntung, saat ini masih ada ibu yang bisa mengurus anak-anak jika saya dan suami bekerja.

    Irna
    ,
    Dulu, jika ada salah seorang tetangga di kompleks cari asisten, maka asisten di kompleks udah menggosip…bahwa ibu si A begini, si B begini dst nya. Jadi, merekapun punya penilaian terhadap majikan…saya geli juga mendengarkan penilaiannya.

    Memang betul, kita harus berempati pada mereka, dan memahami juga jika mereka lelah, dan tak memaksakan bekerja terus menerus. Merekapun berhak libur dan menikmati kehidupan, jalan-jalan ke Ancol dsb nya…asal waktunya disepakati agar rumah tidak kosong.

  6. Ibu, saya ingat betul dulu orang tua saya selalu deg-degan setiap Lebaran tiba.
    Kenapa? Karena biasanya ketika mereka diijinkan mudik, setelah itu tak kembali lagi dengan berbagai macam alasan mulai dari disuruh kawin, ada kerjaan menanam padi di rumah atau diangkut ke Jakarta jadi buruh pabrik.

    Dan karena saya menganut faham, There’s nothing new under the same sun, maka hal seperti itu terjadi juga pada keluarga om-tante dan kawan-kawan saya yang memiliki asisten di rumahnya.

    Saat-saat Lebaran adalah saat yang paling membuat mereka deg-degan karena jangan-jangan pada saat Syawal mereka harus sibuk mencari asisten baru …

    Donny Verdian,
    Memang susah-susah gampang kok…..dan perlu punya back up, terutama jika bekerja di luar rumah seperti saya. Sekarangpun, setelah pensiun, saya masih ada pekerjaan di luar rumah…bahkan kadang-kadang sangat sibuk.

    Kalau saya keluar kota, atau ke luar negeri, mereka pun mendapat oleh-oleh, jika saya ada kesempatan berbelanja…yahh akhirnya hanya sekedar break even point (maksudnya uang saku sekedar habis untuk oleh-oleh dan biaya perjalanan)…tapi senang melihat mereka gembira menerima oleh-oleh….

  7. Saya tersenyum membaca ..”paduan suara” tangis anak-anak … ah ibu ada-ada saja …
    dan ini memang benar sekali … (hehehe)

    Yang terjadi adalah para sekretaris berebut menjadi pengasuh mereka … dengan alasan … biar bisa santai ndak kerja … mending main dengan anak-anak …

    hehehe …

    Tapi Ibu betul sekali … “Asisten Rumah Tangga itu harus di “mong” …, part of our family … our stakeholder …
    memang susah-susah gampang ibu urusan seperti ini …

    Nh18,
    Main sama anak-anak repot lho kalau seharian…kalau sebentar sih memang menyenangkan….makanya gaji baby sitter mahal.
    Dan mereka memang menjadi keluarga, penampilan mereka juga harus oke, segar dan wangi, agar anak-anak betah diajak main dengan mereka.

  8. saya juga sering membawa keponakan saya ke kantor kalau tidak ada yang bisa mengasuhnya. untungnya suasana di kantor saya lebih santai jadi bisa bekerja sambil bermain dengan keponakan saya.

    Itik kecil,
    Memang atasan sebaiknya memahami, kadang ada keadaan darurat seperti ini. Saat menjadi atasan, anak buah saya jika pengasuh anaknya blong, boleh membawa anaknya ke kantor…baik itu untuk para bapak maupun ibu.

    Kami setiap bulan iuran dan setahun sekali liburan bersama keluarga dalam satu unit kerja, dipilih ke gunung atau pantai…ini membuat antar karyawan dan keluarganya akrab.

  9. Alhamdulillah kt berada di lingkungan kerja yg suasana kekeluargaannya msh lengkap ya Bu. Saya senyum2 sendiri mbayangin yg ibu ceritain whuehehe

    Pimbem
    ,
    Mungkin sekarang agak jarang dilihat situasi seperti ini, karena ada libur bersama….
    Tapi kadang, nggak libur lebaran pun, si mbak bisa pulang mendadak…jadi hal biasa jika dalam kondisi darurat seperti ini anak ikut ngantor, karena kadang papa mamanya ada meeting yang tak bisa ditinggal. Dan lagipula, dulu saya satu unit kerja angat akrab, baik para karyawan maupun keluarganya.

  10. perlakuan yang simpatik dan “nguwongke” mungkin itu yang menyebabkan asisten RT di keluarga BU Enny demikian perhatian pada keluarga ibu. sungguh belum banyak keluarga di negeri ini yang memperlakukan PRT sbg asisten yang memiliki martabat. mereka malah menganggap PRT sbg “budak” yang diperlakukan seenaknya. kini, putra-putri bu enny sudah besar. tentu saja beban pekerjaan RT mulai berkurang.

    Sawali Tuhusetya
    ,
    Keluarga yang sang ibu bekerja di luar rumah, mau tak mau dipaksa untuk bisa bekerja sama dengan asisten sebaik mungkin, dan harus bisa mengelola kelancaran rumah tangga, sebagaimana mengelola unit kerjanya. Teman-teman saya rata2 punya asisten yang awet, bahkan ada yang sampai menikahkan anaknya. Bu de suami, memberikan uang pensiun, karena si mbok sudah tak kuat bekerja. Ada asisten yang disekolahkan oleh bude suami, dan akhirnya bekerja di Bank Indonesia, putra2 bude kalau ke Jakarta gantian menginap di rumah mantan asisten yang telah berhasil ini.

  11. Wah salut dengan Ibu yang asisten-asistennya sangat loyal dan setia. Nanti-nanti saya ingin belajar lebih banyak lagi dari Ibu.

    🙂

    Yoga,
    Mereka akan memberikan balasan setimpal, jika kita memperlakukannya dengan baik. Tapi memang tergantung sikap dan perilaku asistennya sendiri, saya kalau mencari asisten, yang penting jujur dan mau belajar. Kalau ketahuan mencuri, ya langsung dikeluarkan.

  12. terbayang repotnya.
    keluarga saya jarang pakai asisten, soalnya mama khan di rumah. selain itu juga semua kerjaan sudah diserahterimakan ke anak-anak.

    eh, belum dink… saya ga bisa masak, hehehehe

    Utaminingtyazzzz,
    Kalau nanti berniat tetap bekerja setelah menikah, perlu bantuan asisten, agar kelancaran rumah tangga terjamin, dan anak-anak sehat.

  13. wew memang repot ya ……

    wah…. saya blom berkeluarga…. jd mama yg repot dirumah neh pastinya 😀

    afwan auliyar,
    Biasanya yang repot adalah para ibu…namun bapak juga terkena akibatnya…..

  14. Sejak kami pindah ke Medan tahun 1994, saya mendapatkan pembantu yang usianya sudah lima puluh tahun. Mereka tinggal didekat rumah kami, dengan jarak lebih kurang tiga ratus meter.Suaminya berjualan bubur kacang hijau, pakai gerobak keliling kampung, dia punya anak satu bersekolah di SMEA pada waktu itu. Tugasnya di rumah kami, masak dan mencuci, terutama pakaian bayi karena kami punya anak bayi pada waktu itu. Dia datang kerumah pagi-pagi, dan sorenya kembali ke rumahnya. Sekali waktu, ketika saya mau berangkat kerja, saya melihat gerobak bubur suaminya nongkrong dihalaman rumahnya. Aku singgah kerumahnya, kulihat kakek (begitu anakku memanggilnya) duduk saja dirumah. Maka kutanyakan, kenapa nggak jualan, katanya dandang buburnya digondol pemulung, waktu dikeringkan diatas gerobak. Akhirnya kami berangkat ke tempat penjualan dandang, terpaksa kubelikan supaya kakek bisa berjualan lagi.
    Tahun 2003 kakek pun dipanggil Tuhan, dan sejak itu nenek tinggal di rumah kami. Begitulah waktu berjalan terus, sekarang anak tunggalnya itu sudah menikah dan sudah memiliki anak. Akhir-akhir ini dia mulai bimbang, karena anaknya sudah beberapa kali bermohon agar ibunya tinggal bersama dia (mereka sudah punya rumah sendiri). Tapi nenek masih ragu karena katanya tidak tega meninggalkan ibu (istri saya), apalagi dua anak perempuan saya memang dari bayi dia yang mengurus. Mungkin dalam beberapa hari ini dia akan kuantar kerumah anaknya. Dan kepada anak anakku pun sudah kukatakan bahwa nenek akan tinggal menetap dirumah anaknya untuk mengurus cucunya, jadi habis lebaran dia tidak kembali lagi.
    Berat berpisah dengannya, walaupun hubungan kami semula hanya hubungan kerja, tapi bagi anak-anak sudah seperti neneknya sendiri.

    sonyssk
    ,
    Bagi anak-anak, asisten sudah seperti keluarga sendiri. Anak-anak malah lebih duluan curhat ke asisten, baru kepada ibu belakangan…ini kalau hubungan asisten dan anak telah menjadi sangat dekat.

  15. Pasti ayik juga tuh buat putra putrinya Bunda, bisa main di Kantor mamanya. Saya ingat ketika pulang dari dokter gigi Bapak saya selalu membawa mampir ke sekolah dimana bapak mengajar dan hal tersebut menjadi kenangan yang tak terlupakan. Bahkan Om Om teman Bapak menjadi seperti Om sendiri. thanks

    Yulism,
    Sampai besarpun, anakku suka main ke kantor, terutama si bungsu….apalagi saat itu internet di kantor cepat sekali dibanding di rumah, dan dia telah mengenal para staf di lingkunganku, karena setahun sekali ada acara piknik bersama keluarga dilingkungan unit kerja kami, untuk mengakrabkan hubungan antara para staf/karyawan dan keluarganya. Bukankah kita bekerja keras juga demi keluarga tercinta?

  16. subhanallah bu, salut sama ibu, bisa mengatur semuanya dengan baik.

    Arul,
    Latihannya juga tak sekejap, bertahun-tahun baru bisa menerapkan prosedur yang pas, agar semua bisa berjalan lancar.

  17. Mereka begitu pasti karena bagaimana perlakuan Ibu (dan keluarga) juga. Orang merasa dihargai. Dimanusiakan. Timbal baliknya tentu bukan soal uang lagi bagi mereka. Lebih dari sekadar pengabdian, tapi ikatan emosi yang cukup apik. Ibu hebat!

    Daniel Mahendra,
    Saya kira semua orang bisa melakukan itu, asal ada niat, dan ada timbal balik kedua belah pihak. Sifat dan perilaku asisten juga menentukan, tapi sepanjang jujur, masih bisa dilatih, agar kemampuan mereka meningkat.

    Aturan main di rumah juga harus transparan, mana yang boleh dan mana yang tidak, setiap anggota keluarga memahami dan tahu tugasnya masing-masing….demikian juga jika ada saudara, keponakan, atau tamu lain yang menginap, diberi tata cara aturan rumah, dan tak boleh menyuruh asisten setelah lewat jam 10 malam, kecuali darurat, agar mereka bisa istirahat dan melayani kita dengan baik. Hak mereka juga harus diperhatikan, tak hanya yang materiil, namun juga yang non materiil.

  18. Saya juga sering bawa anak ke kantor Bu, kalau kebetulan tidak ada yg nunggu di rumah. Untungnya ITB nggak se-ketat dan se-angker kantor lain atau perusahaan swasta. Anak2 jadi familiar dengan lingkungan kantor dan lumayan akrab dengan teman2 di TU sehingga bisa saya tinggal untuk ngajar atau rapat …

    Oemar Bakrie,
    Lingkungan pendidikan memang lebih ramah pak, anak-anak juga dulu sering diajak ayahnya ke Dikti, dan kemudian ke tempat sang ayah mengajar. Saat saya masih kecil, sering dibonceng ayah, diajak ke tempat beliau mengajar, demikian juga saya sering main ke sekolah tempat ibu mengajar, yang kebetulan persisi di belakang SMA I, kali ini ibu mesti memberi uang untuk jajan….biasanya kesana kalau habis olah raga.

  19. wah, kalau saya asisten saya pulangkan karena sudah mulai membahayakan. Akhirnya hidup tanpa asisten, apalagi sekarang di luar negeri. Ngga ada orang yang bisa diminta bantuan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dengan bayaran terjangkau seperti di Indonesia. Jangankan membantu pekerjaan rumah, cuma meriksa genteng bocor aja sudah minta bayaran 500 ribu. Mending mengerjakan sendiri semuanya, dan memang tambah cape apalagi ada satu tambahan bayi.

    Iwan Awaludin,
    Hidup di luar negeri memang risiko nya semua dilakukan sendiri, karena biaya tenaga kerja mahal….tapi di satu sisi melatih anak-anak lebih mandiri.

  20. mamavino

    pagi ini sy sungguh shock, krn asisten sy ternyata malah direcall keluarganya, dan mendadak sekali, pdhl kmr pulang tujuannya cm mengantar kk nya pulang. tp pagi td kembali hanya utk mengemas barang2nya dan pamitan krn sdh tdk boleh bekerja lg oleh orantuanya..
    alhamdulillah.. mertua dr Solo segera mengirimkan balabantuan asistennya untk ‘dipinjam’ sementara mengasuh anak sy..
    sedikit legaa… :((

    Mamavino,
    Masih beruntung, ada bala bantuan datang.
    Dulu, saat tinggal di kompleks, karena anak-anak sudah besar, rumahku sering jadi penitipan anaknya tetangga yang masih kecil, jika asistennya belum datang sedang mamanya harus sudah ngantor. Maklum, asisten saya pulangnya gantian, jadi ada satu yang tinggal di rumah. Dan si asisten juga senang dititipi anak, karena mendapat imbalan yang memuaskan dari ibu yang menitip tadi.

  21. david faisal

    gak pernah ngalami susahnya ditinggal asisten karena tinggal di pelosok desa di Blitar Jawa Timur

    dan yang lebih seru saat lebaran rumah malah dijadikan jujugan mudin keluarga dari jakarta jadi pasti rame

    David Faisal,
    Jika masih dilingkungan kampung, umumnya hubungan antar tetangga dekat….jadi bisa saling menitip anak jika ada keperluan sewaktu-waktu.

  22. perlakukan manusia sebagai manusia, perlakukan seperti kita diperlakukan oleh orang lain. Mungkin ini Kunci dari Ibu sehingga banyak asistennya senang dan betah

    Konsultasi kesehatan
    ,
    Yup…setuju…itulah kuncinya…

  23. Di setiap etape kehidupan memang ada masalahnya, kiranya bagaimana kita menyikapi saja. Aku suka Bu Ratna dapat bos yang begitu paham.

    Ersis Warmansyah Abbas,
    Betul pak, jika anak sudah besar yang menjadi pikiran adalah jika belum kembali pulang, walau sudah malam. Sebetulnya sih hanya kawatir ada apa-apa di jalan. Ya, inilah perbedaannya, orangtua kawatir, tapi anak-anak menganggap mereka sudah besar, tak perlu memberitahu orangtua kalau terlambat pulang.

  24. Mau dong bu asistennya dikirim satu ajaaaa ke Tokyo hehehe. Kalau saya sih memang tidak ada masalah dengan asisten karena tidak ada. Yang pernah bermasalah adalah ketika saya harus mengajar malam, padahal bapaknya tidak bisa jemput ke penitipan krn dia juga ada rapat. Terpaksa saya jemput dan dengan bermobil 2 jam bawa anak saya. Untung di lingkungan sekolah Indoensia, jadi ada orang Indonesia yang bisa saya minta tolong (tentu saja saya bayar) selama mengajar 2 jam. Sayang sekali orang Jepang sama sekali tidak toleransi dengan kehadiran anak-anak. Even in the train…. sakit hati deh bu tinggal di Tokyo. Makanya Jepang punya masalah besar dengan generasi penerusnya (demografi terbalik). Tinggal tunggu saja SD ditutup.

    Ikkyu_san
    ,
    Disitulah suka dukanya, karena Jepang negara maju, mereka sangat dikejar waktu. Akibatnya menunda pernikahan, atau menunda atau bahkan tak ingin punya anak, agar karirnya tak terganggu. Semua ada pro’s dan con’s nya. Di satu sisi, mereka lebih mandiri, tak tergantung pada orang lain.

  25. wahyu

    terharu dengar hubungan baik ibu dengan assistancenya…saya lagi cari assistance, mudah2an bisa dapat sebaik yang ibu dapat…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s