Uang, karir dan keluarga

Menulis di blog, membuat saya berkenalan dengan teman-teman di dunia maya, juga teman di dunia nyata yang sudah lama tak ketemu, ketemu lagi saat membaca blog ini tanpa sengaja. Pertemanan tadi, selain saling membalas komentar di blog masing-masing, juga dilanjutkan diskusi melalui email. Kadang diskusinya sangat hangat, membahas berbagai persoalan. Salah satu diskusi yang pernah dibahas, adalah tentang bagaimana seseorang yang telah mapan di luar negeri, ingin suatu ketika kembali ke Indonesia. Kapan dan persiapan apa yang perlu dipertimbangkan?

Karir seperti jalan di tempat

Seorang teman yang bekerja di luar negeri mengatakan, bahwa sebenarnya dia dan keluarganya telah mapan di negeri orang. Salah satunya bekerja sebagai Customer Technical Support di suatu perusahaan telekomunikasi. Gajinya besar, mempunyai isteri dan putra putri tercinta, dan dari gajinya tadi bisa mengirimkan uang ke Indonesia untuk membantu keluarga (ayah, ibu dan adik-adiknya). Bekerja di luar negeri, dengan tim kecil, membuat bidang pekerjaan harus dipahami secara detail, tak hanya sekedar concept atau operation maintenance. Juga harus selalu belajar, mencari tahu dengan berbagai cara, membaca technical reference atau kontak langsung dengan higher technical support di negara lain, jika ada hal-hal yang membutuhkan diskusi.

Customer dinegeri maju juga manja, menuntut untuk dilayani dengan memuaskan, sehingga sering ada panggilan tugas mendadak, bahkan di tengah malam, saat sedang berlibur bersama keluarga dsb nya. Di satu sisi, walau gaji besar, carrier path teman tadi di perusahaan tidak jelas. Perbedaannya hanya pada produk yang ditangani, yang tergantung proyek, tetapi masih tetap di bidang telecom equipments.

Perusahaan di negara maju, kemungkinan adanya PHK juga sangat tinggi, karena perusahaan akan terus melakukan efisiensi, dengan melakukan merger, akuisisi dan sebagainya. Sampai saat ini, teman tadi masih aman, karena ditempatnya, engineer is untouchable. Namun teman tadi juga kawatir, suatu ketika akan terkena PHK, padahal semakin lama umur juga bertambah, dan mendapatkan pekerjaan baru tidak mudah.

Teman yang lain, bekerja di bidang finance. Bidang ini akan lebih berkembang di negara maju, di banding dengan di Indonesia, tapi risikonya juga tinggi. Setelah pengalaman beberapa tahun di luar negeri, teman ini ingin suatu ketika kembali ke Indonesia, dan mengembangkan usaha di Indonesia, bekerja sama dengan teman, yang kebetulan juga punya pengalaman bekerja di luar negeri. “Apa yang harus saya persiapkan?“, katanya. Saat saya tanya, “Kenapa ingin kembali ke Indonesia, bukankah di luar negeri lebih nyaman, dan gaji besar? Bukankah berkarya bisa dimana saja, apalagi jika uang tabungan sebagian dikirim ke Indonesia, berarti memberi tambahan devisa?” Jawabnya adalah, di luar negeri memang nyaman, semua tertata, tetapi tetap ada kerinduan suatu ketika ingin kembali di Indonesia, yang terasa lebih kekeluargaan. “Di luar negeri peraturan ketat sekali, di bidang apapun, sehingga terkadang semua telah disiapkan di depan mata, dan menjadi kurang kreativitas,” katanya menambahkan. Saya hanya mendengarkan, karena saya tak punya pengalaman bekerja di luar negeri.

Bagaimana peluang bekerja di Indonesia?

Bekerja nyaman di luar negeri, dengan gaji besar, dapat menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi, tak membuat hati merasa tenang. Ada kerinduan untuk merasakan hangatnya rasa kekeluargaan di Indonesia. Namun, tentu ini berbeda bagi setiap orang, teman saya, yang pernah ditempatkan di New York, kemudian di Singapura, dan anak-anaknya sekolah sampai perguruan tinggi di Amerika, malah setelah pensiun dari Bank BUMN di Indonesia, menikmati masa pensiunnya di Amerika. Jadi, setiap orang mempunyai selera masing-masing, dan memang ini yang membuat manusia itu unik.

Bagaimana dengan teman yang ingin pindah ke Indonesia tadi? Saya ditanya, apa saranku, maka saya menyarankan sebaiknya dia tidak langsung pulang, namun mencoba dulu melamar pada beberapa perusahaan di Indonesia. Dan kebetulan dia mendapatkan persetujuan dari salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia, tentu saja dengan gaji hanya sekitar separuhnya. Namun buat ukuran kita, gaji yang ditawarkan ini sangat mentakjubkan…..Ternyata tak mudah juga bagi teman tadi untuk kembali ke Indonesia, karena mesti memikirkan bagaimana kelangsungan hidup keluarganya, isteri dan anaknya, yang saat ini masih membutuhkan biaya untuk meneruskan sekolahnya.

Keluarga besar terlanjur mengharapkan uluran tangan

Adalah hal biasa di Indonesia, bahwa hidup saling tolong menolong. Teman tadi, karena dianggap sebagai orang sukses di keluarganya, setiap bulan mengirimkan uang cukup besar untuk keluarganya. Uang tadi, selain untuk menolong dan membantu ayah ibu, juga untuk membiayai sekolah adik-adiknya sampai lulus perguruan tinggi, kemudian menikah dengan isteri dan suami masing-masing yang juga sarjana. Dan karena menganggap sang kakak sangat berhasil di luar negeri, setiap kali adik-adik ini masih minta bantuan.

Mendengar curahan perasaan ini, membuat saya introspeksi pada diri sendiri, jangan sampai menjadi orangtua yang merepotkan anak-anaknya. Sepantasnya kita membekali anak-anak, dan mempunyai anak adalah merupakan tanggung jawab orangtua, karena anak tak ingin dilahirkan, tapi orangtua lah yang ingin mempunyai keturunan. Sudah menjadi kewajiban kita, orangtua, untuk menyiapkan anak-anak, membesarkan mereka sampai menjadi anak yang mandiri. Dan kalaupun dari anak-anak kita, setelah menikah, perekonomiannya berbeda, tak selayaknya orangtua menuntut agar yang berlebihan memberikan bantuan pada saudara kandung yang kurang mampu. Karena, betapapun, setiap orang harus bekerja keras untuk menghasilkan sesuatu.

Apa yang harus dipertimbangkan untuk pindah pekerjaan?

Hal yang sangat menentukan adalah perubahan pola hidup dalam keluarga tersebut, apalagi jika pindah dari negara maju ke negara Indonesia. Andaikata di Indonesia tetap bisa memperoleh pekerjaan yang layak, tetap akan ada perubahan budaya, yang kalau tidak disikapi secara hati-hati dapat mengakibatkan stres, terutama bagi anak-anak yang dilahirkan di negara lain, dan saat pindah telah cukup besar. Selain itu perlu ada tabungan yang cukup, apalagi jika kemudian ingin berusaha mandiri, yang belum tentu langsung berhasil. Juga, kalaupun ada pekerjaan, memerlukan penyesuaian, membutuhkan uang yang cukup untuk kontrak/membeli rumah dan mengisinya. Namun, hal yang paling utama adalah menyiapkan mental keluarga inti, yaitu isteri dan anak-anak, karena ini yang akan terkena dampaknya. Dan jika sebelumnya masih membiayai keluarga besar, perlu ada pembicaraan dengan keluarga besar, seberapa banyak masih bisa mengirimkan uang, karena situasi sudah berbeda.

Iklan

42 pemikiran pada “Uang, karir dan keluarga

  1. Saya juga punya beberapa teman yg sudah terlanjur kelamaan di LN gamang mau pulang ke tanah air. Mungkin keder juga lihat gaji PNS berapa … hehehe

    Oemar Bakrie
    ,
    Itulah pak, gaji PNS sangat rendah, tapi anehnya kita bisa hidup dan berbahagia.

  2. Suami saya juga selalu berfikir untuk tinggal di Indonesia setelah pensiun Bunda. Tetapi saya kadang yang mereasa takut karena terbiasa/terbuai dengan segala kemudahan yang ada dan semua yang serba teratur disini. Oleh karena itu nanti bulan Desember saya mau mengajak dia keliling liling beberapa tempat di Indo, jika ada yang dia sukai bisa kita mulai merencanakannya. Setidaknya masih 15 tahun lagi suami saya pensiun. Terimakasih

    Yulism,
    Memang diperlukan persiapan yang matang. Dengan perencanaan matang, alih pekerjaan bukan hal yang berat…..semoga berhasil

  3. Tak sedikit kawan yang bekerja di sana-sini. Tapi pada akhirnya ingin kembali berada di tanah air. Namun mau tidak mau mesti melihat kenyataan yang ada kalau mesti bekerja di Indonesia.

    Akhirnya solusi yang paling sederhana bagi kawan-kawan, pindah kerjanya tak jauh-jauh dari Indonesia: Malaysia atau Singapura. Agar kalau sesekali pulang, tak repot. Ada-ada saja…

    Daniel Mahendra,
    Bekerja di negara Asia Tenggara, budayanya hampir sama, jadi tak merasa bekerja di luar negeri. Apalagi naik pesawat cuma 1 jam (ke Singapura), sekitar 2 jam (ke KL).

  4. Ibu, satu lagi artikel yang bermanfaat. Beberapa teman saya banyak yang memutuskan untuk menjadi permanent residence di negara-negara yang memberi kenyamanan lebih dan enggan kembali ke Indonesia, tapi ada juga yang cepat-cepat kembali begitu telah merasa cukup dan berniat beradaptasi dengan sikon tanah air apa pun yang terjadi. Memang pada awalnya sulit karena banyak yang harus disesuaikan, tapi pada akhirnya saya lihat mereka biasa-biasa saja.

    Yoga,
    Akhirnya memang kembali pada individu masing-masing…..kalau bagi negara, semestinya tak ada masalah, jika bekerja di luar negeri, bukankah hasilnya (devisa) juga kembali ke Indonesia? Contohnya seperti negara India….banyak sekali yang bekerja di Amerika, kemudian membangun semacam Silikon Valley di India.

  5. Saya sangat menghargai dan menyimpan artikel ini dalam Bookmark saya.
    Ibu, terimakasih, yang ini sangat bermanfaat untuk bekal saya pindah Oktober nanti 🙂

    Donny Verdian,
    Sama-sama Donny. Bagi saya, tak masalah anak-anak saya nantinya bekerja dimanapun, toh uangnya sebagian akan dikirim ke Indonesia. Dengan pengalaman, setelah cukup mengumpulkan modal, baru kembali ke Indonesia. Jika krasan? Ya, enggak apa-apa, orangtuanya saja kalau kangen gantian menengok kesana.

  6. itu namanya senses of home.
    kerinduan untuk selalu kembali ke kapung halaman. ya keculai kalo lahirnya di luarnegri. rasa senses of homenya mungkin gak ada.

    pekerjaan dan gaji memang membuat beberapa orang meniti karir di negri orang.

    Satya sembiring,
    Sebetulnya kembali pada individu masing-masing…..dan tak masalah.

  7. Betul terasa oleh saya. Lebih enak di Indonesia. Kalau mau cari uang, memang di luar negeri bisa dapat lebih banyak. Tapi yang namanya keluarga, jauh lebih tinggi nilainya dibanding dengan uang.

    Iwan Awaludin,
    Betul pak, pilihan tergantung pada individu masing-masing. Saya juga termasuk kangen pulang….pernah seminar di London, begitu lewat satu minggu, udah kangen pada anak-anak (padahal anaknya tenang2 aja).

  8. Kalau dari saya pribadi, kalau untuk berkarir memang luar negeri lebih baik dari segi package salary, tunjangan dll. Untuk bisnis Indonesia masih jauh lebih mudah, selain karena tentunya kita lebih mengenal marketnya sendiri.

    Untuk kenyamanan, ya kita harus mengakui Indonesia masih jauh sekali dari hal itu, masalah kemacetan, keamanan, ketertiban, kebersihan, dsb masih menjadi PR yang seolah tidak akan bisa terselesaikan, sebenarnya bisa, dimulai dari atas, dipaksa, selama yang diatas itu “baik” & “benar”.

    Mau pilih yang mana nyaman dengan karir enak? atau tidak nyaman dengan bisnis enak? masalah materi sama saja mungkin ya, tinggal non materinya lebih berat yang mana, jika di Indonesia tidak banyak sanak saudara mungkin akan menetap diluar.

    Andy,
    Analisamu betul, banyak pertimbangan kenapa kita memilih bekerja di negara sendiri atau di negara lain. Dan semua ada alasannya masing-masing…

  9. Menarik sekali mengetahui apa yg ada di pikiran tmn2 yg karirnya telah sukses di luar negeri, tnyt ga semuanya semulus yg kubayangkan.

    Pimbem,
    Betul, dengan mendengarkan cerita mereka, kita tak hanya membayangkan enaknya saja, tapi juga kesulitannya. Dan segala sesuatu harus direncanakan jauh hari, tak bisa mendadak seperti di sini.

  10. sjafri mangkuprawira

    mbak edratna…..fenomena dalam artikel ini juga terjadi pada anak saya yang kedua,laki-laki….doktor finansial dengan bidang konsentrasi risk management…..lulusan Strachlide University,Glasglow……sudah bermukim di sana 9 tahun….dia bekerja di Royal Bank,sedang isterinya juga bekerja di perusahaan swasta sebagai manajer…..dengan anak tiga orang…….gaji keduanya aduhai untuk ukuran indo……tapi kerinduan untuk pulang begitu kentalnya dan mau bekerja di indo….namun mereka berdua ragu apa sebanding dengan yang diperolehnya di inggris……..saya mah inginnya semua anak (tiga orang plus 6 cucu) dekat dengan saya….namun justru isteri saya jauh lebih tough….dia bilang biar aja di luar negeri…toh era sekarang dunia sudah menjadi kampung global……betul mbak kalau nanti anak saya akan ke kerja di indo memang harus benar-benar siap….karena bisa jadi akan berhadapan dengan kekagetan finansial dan kekagetan pengeluaran…….serta kekagetan pendidikan buat anak-anaknya….ya saya ikhlaskan saja dia merantau di negeri orang,asalkan hubungan bathin diantara kami tetap erat…..

    Sjafri mangkuprawira
    ,
    Betul pak, banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan jika hendak kembali ke Indonesia, terutama bagi anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan di sana.
    Saya sendiri tak tahu, apakah anakku nantinya juga ada yang seperti putra bapak, karena si sulung sekarang juga sedang di Miami, dan awal Oktober mulai kuliah S2 di Iowa. Isterinya telah mendapat pekerjaan di Miami.

  11. SELAMAT IDUL FITRI YA…
    MAAFKAN LAHIR & BATIN..

    BUAT PARA BLOGGERS FELLOW YANG MO MUDIK,
    HATI-HATI DIJALAN…!!!
    SEMOGA MUDIKNYA LANCAR SAMPAI TUJUAN
    DAN BISA LEBARAN BERSAMA KELUARGA TERCINTA AMINN….

    JENK DHETEA & KELUARGA.

    Perempuan,
    Kami juga mohon maaf lahir dan batin….

  12. Bunda, kalau saya lulus S2 nanti, saya ingin jadi Ibu bukan jadi wanita karier … saya ingin cerdas untuk suami dan anak2 saya, sambil sesekali menjadi penulis buku.

    Boleh kan Bunda?

    Rindu,
    Tentu boleh saja, itu pilihan kita masing-masing..
    Tapi tetap saya sarankan untuk memiliki kesibukan, atau “room” agar tetap punya net working jika ada keadaan darurat.
    Dan karena saya sendiri bekerja di luar rumah, saya dan teman-teman tetap berusaha memperhatikan anak, dan postingan tentang ini telah saya tulis di

    https://edratna.wordpress.com/2007/02/25/
    bagaimana-membagi-waktu-sebagai-ibu-dan-isteri-agar-karir-dan-
    rumah-tangga-bisa-berjalan-bersama/
    https://edratna.wordpress.com/2008/04/21/kartini-masa-kini-
    bagaimana-kaum-perempuan-menyikapinya/

  13. pekerjaan katanya urusan rejekinya masing-masing…..hmmmm nggak tau deh…sampai saat ini masih aja jadi buruh pabrik, InsyaAllah masih bisa bersyukur…..

  14. mohon maaf lahir & bathin Bunda…..
    mudik dulu ah….., Bunda mudik ke mana ?

    Yoyo,
    Saya tidak mudik….jadi ya antara Jakarta-Bandung saja….apalagi suami lagi banyak kerjaan.
    Saya juga mohon maaf lahir dan batin.

  15. Ibu Enny, bagi saya sih di mana suami saya berada, seharusnya saya ada terus di samping dia. Dia sendiri ingin sekali tinggal di Indonesia, tapi saya yang melarang, karena saya tahu untuk dia tidak ada pekerjaan yang cocok. Dan di Indonesia juga lama kelamaan tidaklah ramah terhadap orang asing yang miskin hehehe. Saya lebih fleksible dibanding dia. Bahkan kalau dia mau bekerja di luar Jepang, saya sih OK OK saja.
    Home is where your heart is….

    Bu sekalian saya mengucapkan Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
    Imelda

    Ikkyu_san,
    Betul…saya sepakat…sebetulnya dimanapun, asal hati kita nyman ya krasan. Banyak orang tak menikmati tinggal di jakarta, tapi saya tetap nyaman saja.
    Imelda, saya juga mohon maaf lahr dan batin…..

  16. saya agak kepikiran sama pendapat ibu ttg orangtua yg tdk blh memberatkan anaknya. betul jg, anak kan tidak minta dilahirkan. tp orangtua yg ingin punya anak. yah, semoga nt saya bs menjadi orangtua yg tdk merepotkan.

    (^_^)v

    kalau saya pengennya pas hari ‘agak’ tua tinggal di luar negeri. sebagai dubes. hwehe. tinggal di luar negeri tp orang2 dan suasana kerjanya dari dalam negeri. enak tuh keknya, bu.

    Farijs van Java,
    Mudah2an cita-citamu terkabul……
    Sebetulnya mau kerja di luar negeri atau di dalam negeri, sangat tergantung pada individu masing-masing. Bahkan banyak orang yang pengin kerja di pulau Jawa, tak mau dipindah-pindah, walau pangkatnya tetap.
    Nahh kalau sebagai orangtua, saya mendorong anak-anak untuk bekerja dimanapun, sepanjang mereka merasa bahagia….. orangtua tidak membebani dari sisi finansial.

  17. jadi inget ungkapan: lebih baik hujan batu di negeri sendiri ketimbang hujan emas di negeri orang, bu enny, hehehe … tapi akan lebih bagus jika dibalik menjadi: lebih baik hujan emas di negeri sendiri daripada hujan batu di negeri orang. memang uang dan karier bisa menjadi salah satu faktor penentu sukses atau tidaknya membangun sebuah keluarga. tapi agaknya juga ada faktor lain seperti yang disampaikan bu enny itu. komitmen dan tanggung jawab orang tua utk membuat anak2nya jadi orang tetap yang paling utama, sehingga kelak orang tua tidak jadi beban. btw, selamat menyambut hari kemenangan di hari yang fitri, bu. mohon maaf lahir dan batin. salam hormat dan sungkem buat keluarga. semoga Allah berkenan mengembalikan kita semua kepada fitrah-Nya, amiin.

    Sawali Tuhusetya
    ,
    Saya dan suami mendukung dimanapun anak-anak kami bekerja, asalkan mereka berbahagia. Dan sejak awal menikah, kami berusaha komitmen, di masa tua tak membebani anak-anak, agar mereka bisa memikirkan keluarga intinya, dan mencapai tujuan hidup berkeluarga yang lebih baik.

  18. wah, saya merasa mirip dgn rekan di cerita ibu itu. bedanya, saya juga tinggal di Indonesia. bantuan memang idealnya seperti tongkat, membantu berjalan. kalo kebablasan kita bisa berubah seperti bank berjalan.

    sitijenang,
    Sepakat….kalau terus menerus dibantu, tak akan pernah dewasa….
    Dan ini sebetulnya yang membuat kualitas kehidupan berkeluarga menjadi kurang, karena selain penghasilan terbatas, masih dibebani untuk menolong keponakan yang tak berkesudahan, bahkan kadang sampai mereka yang ditolong sudah menikah masih tetap membutuhkan bantuan. Akibatnya perhatian untuk anak sendiri menjadi terbatas, jika ini terus menerus terjadi, akhirnya akan memberatkan.

  19. Saya belum pernah bekerja di luar negri, dan nggak kepengin kerja di luar juga. Bahkan, saya belum pernah tinggal di luar Yogya (hehe … kalau ini keterlaluan ya … ). Tapi alhamdulillah saya sudah pergi ke banyak tempat di dalam dan di luar negri, dan kayaknya teteeep aja lebih seneng di Yogya. Nggak usah kaya-kaya amat, asal penghasilan cukup untuk hidup, tinggal di Yogya paling nyaman. Nggak ada macet, jarak berbagai tempat tidak jauh, fasilitas yang saya butuhkan semua ada, apa lagi yang dicari?

    Tutinonka,
    Kayaknya saya bisa dimana saja mbak Tuti, cuma nasib yang membuat tetap bekerja di Jakarta. Dulu saya pernah setahun ditempatkan di Yogya, memang kota yang unik, yang membuat kita ingin tetap tinggal di situ.

  20. wah sy pengen banget segera meniti karir tapi yah masih segini blum punya modal cukup… hehehe… 😀
    wah

    Arul,
    Tidak apa-apa, nanti juga sampai waktunya
    Fokuskan dulu pada pendidikan, baru nanti memikirkan pekerjaan apa yang sesuai.

  21. wah ..di saat saya sedang mencari celah untuk bisa menetap dan bekerja di sana..membaca postingan ini membuat saya berpikir duakali.karena saya tidak pernah bisa jauh dari orang tua dan sanak saudara..terutama adek saya yang jelek, tinggi besar,,dan jerawatan itu..yang kebetulan juga hari ini berulang tahun.

    ini kunjungan pertama saya bunda 🙂 (boleh kan saya panggil bunda :))

    wajahmu sangat tenar di blog blog teman teman 🙂

    Yessymuchtar,
    Terimakasih telah berkunjung. Tentu saja boleh memanggil bunda, karena usia Yessy hanya terpaut 2 tahun di atas anak sulungku. Lagipula saya termasuk produk yang menikah terlambat, berkarir dulu, melebarkan sayap, kalau belum mikirin umur, mungkin juga masih tenang-tenang aja…walau kenyataannya menikah itu menyenangkan asal ketemu pasangan yang sesuai.

  22. Bagi orang2 tertentu, seperti para pemenang medali emas olimpiade Fisika internasional, bekerja di luar negeri bukan hanya sekedar uang, tetapi juga berdasarkan kepuasan bekerja, karena tenaga mereka tidak banyak terpakai di negeri ini, karena atmosfir untuk menjadi ilmuwan di negeri ini masih sangat kurang.

    Tapi memang semua kembali pada individu masing2, toh memang pepatah “hujan batu di negeri sendiri lebih nikmat daripada hujang uang di negeri orang lain” terbukti hanyalah sekedar kata2 mutiara saja yang belum tentu dapat diyakini oleh semua orang. Yang penting pula jikalau kita bekerja di luar negeri juga tentu harus profesional juga dan jangan hanya karena uang saja. Karena saya juga banyak melihat mereka-mereka yang (pernah) bekerja di luar negeri belum tentu lebih bermutu dibandingkan dengan mereka yang bekerja di dalam negeri (kecuali mungkin penguasaan bahasa asingnya saja…) 🙂

    Yari NK,
    Saya berharap, orang-orang Indonesia yang bekerja di luar negeri, adalah juga orang yang berkualitas, sehingga mengharumkan nama bangsa. Tapi mungkin ada yang berbeda pahamnya, kalau mereka berkualitas, kenapa tak bekerja di Indonesia, untuk membangun negara ini?

    Saya termasuk tak menghakimi, dan tetap mendorong anak-anak, bahwa berkarya bisa dimana saja. Bekerja di luar negeri bisa mengumpulkan modal, siapa tahu nanti bisa membuat usaha di Indonesia, yang menyerap tenaga kerja…daripada hanya menjadi pengangguran di sini. Tapi intinya, bekerja dimanapun, ada suka dukanya, yang perlu disikapi secara hati-hati sebelum menentukan langkah.

  23. wah, Bu.. kuliah di luar negeri (apalagi beasiswa dari kantor) itu impian terbesar saya. mohon doanya, Bu

    btw sore ini saya berangkat mudik jadi sekalian pamit.
    Selamat Hari Raya Idul Fitri… mohon maaf kalau-kalau ada kata yang tak berkenan.

    Utaminingtyazzzz,
    Terus berusaha ke arah sana ya…semoga berhasil.
    Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.
    Hati-hati dijalan.

  24. artikelnya menarik sekali bu…
    belum pernah punya pengalaman ke luar negeri siy, tapi my home sweet home, jadi saya ingin tetap di sini ajah… 🙂

    Septy,
    Bekerja di luar negeri juga menarik lho…..ya tinggal bagaimana kita menyikapinya..

  25. Kalau saya memahami, kenapa orang rindu untuk kembali bekerja di negeri sendiri meski i sana bergaji besar, tiak jauh dari masalah asal=usul kita.

    Tradisi ini kentara sekali saat lebaran. Mereka pulang kampung sebenarnya ada sesuatu entah di alam bawah sadar atau di sampingnya, 😀 yaitu ingin dekat dengan sosok Ibu. Ada istilah dalam agama juga kembali ke asal.

    Santribuntet,
    Tapi apakah hal seperti itu hanya terjadi di Indonesia? Atau pada keluarga Asia?
    Bagaimanapun, memang sosok ibu membuat kita setiap kali ingin kembali.

  26. JIKA PULANG AKHIRNYA KEMBALI MENJADI KARYAWAN..TENTU AKAN SANGAT GAMANG..SELAIN GAJI KARYAWAN DI INDONESIA JAUH DI BAWAH GAJI STANDAR NEGARA MAJU…JUGA KARENA MENJADI KARYWN BUKAN PILIHAN TEPAT UNTUK MASA DEPAN…

    JIKA MEMANG INGIN PULANG…SEBAIKNYA BERPIKIR UNTUK MEMBUKA PELUANG USAHA..
    MESKI AKAN SULIT MULAI DARI AWAL…TP BERWIRASWASTA JAUH LEBIH AMAN…KETIMBANG KEMBALI KE AWAL…DI GAJI ORANG LAIN …

    Donapiscesika,
    Sebetulnya tergantung pada masing-masing orang, dan tak semua berbakat ber wirausaha…..

  27. Jika keluarga saya tidak di Indonesia waktu itu, pasti saya sudah bekerja di luar negeri. Sebagai lulusan IT, banyak teman orang Amerika setiap hari nanya berapa lamaran yang sudah kamu kirimkan, kamu mau bekerja di Amerika nggak ? Setiap dijelaskan, di Jakarta saya sudah punya pekerjaan, mereka tetap tidak mengerti (bahwa bekerja di Jakarta lebih menarik daripada bekerja di Amerika)..

    Sebenarnya bekerja di Indonesia atau di luar negeri sih sama saja. Ada plus dan minusnya. Dari segi gaji, dan dari segi kepuasan batin dalam bekerja, ada plus dan minusnya..

    Bagi yang punya keluarga besar, itu juga harus dipikirkan. Kalau kita bisa membantu keluarga, mengapa tidak ? Sebaliknya, kalau keluarga semuanya bisa membantu dirinya sendiri, mengapa pula perlu kita bantu ?

    Dan normal pula, yang bekerja di luar negeri pengin pulang ke Indonesia. Sebaliknya, teman2 saya dulu yang dapat Ph.D dari Amerika tidak tahan berlama-lama bekerja di Indonesia sebagai PNS (BPPT, PU, dsb) dan sekarang dari mereka kebanyakan bekerja sebagai dosen di Malaysia…

    Moral of the story is, “seeking a greener pasture”. Alias, “rumput tetangga itu kelihatan lebih hijau”..

    Ya toh ?

    Tridjoko,
    Betul…rumput tetangga terlihat hijau…..
    Kita selalu melihat ke arah lain…

  28. Aduh ada yang mngomongin masalah hidupku. Tapi ibu memang benar juga.

    Dulu waktu pertama hidup di LN, aku merasa tidak nyaman. Apalagi semuanya harus dikerjakan sendiri. Lalu akupun pulang ke Indonesia, ternyata di Indonesia aku nilai bahwa orang Indonesia hidupnya berantakan. Contohnya: banyak orang yang mengejar karir sampai ngos-ngosan, pagi kerja lalu malam hari sekolah. Padahal mereka itu punya istri/suami & anak. Pertanyaan yang ada di kepalaku waktu itu: apa mereka tidak kangen sama keluarga? Apa keluarga mereka tidak butuh bertemu dgn bapak/ibunya? Apa perusahaan indonesia itu tidak memberi ijin continued formation for adults. Seperti di Perancis program Formation utk orang dewasa (bisa kursus/kuliah) masuk dalam jam kerja. Minim 2 th sekali kita berhak mendapatkan formation itu. Jika kita mau kuliah lagi, kita ada fasilitas cuti(dibayar): bisa 1 bulan kerja lalu 1 bulan kuliah/kursus atau ambil cuti panjang 1 atau 2 tahun.
    Seperti sekarang ini aku ambil cuti 3 th utk mengasuh anak sampai dia berulang tahun ke-3.

    Selanjutnya utk masalah kesehatan, juga sama. Jika keluarga kita bukan orang yg punya, maka jika kita kena penyakit berat (kanker/tumor/…) hanya pasrah (itu yg sering diucapkan orang indonesia) kepada Yg di atas.

    Sistem hukum pun juga sama, tidak ada keadilan yg jelas. Mereka suka menindas bisa diibaratkan orang Indonesia itu bagaikan kopra yg harus digiling habis hingga minyak keluar semua. Sedang masyarakatnya sendiri melakukan hukum rimba. Maling aki mobil berakhir di kuburan karena dihajar masyarakat.

    Ketika aku kembali ke Perancis lagi, aku baru memahami semuanya itu. Sekarang prinsipku sederhana: anakku bersamaku maka aku tak perlu resah jika aku tidak bisa pulang ke indonesia, aku bukan orang yg kaya raya (aku sdh tdk punya properti lagi) tapi hidupku cukup dan tenang. Jika anakku besar nanti dan aku tak punya uang, pastilah anakku akan tetap sekolah. Aku bisa tidur tenang dan bisa sering bertemu dengan anak-anakku.

    Semoga sistem di Indonesia semakin membaik di kemudian hari.

    juliach,
    Sebetulnya ngomongi kehidupan kita semua…kalau kita bertanya, sebetulnya dimanakah bekerja yang nyaman? Pasti jawabannya bermacam-macam, sangat tergantung pada persepsi masing-masing.

  29. Barang kali ini yang dinamakan hujan emas di negeri orang, tetapi masih enak hujan beneran di negeri sendiri..
    Problema klasik orang indonesia adalah homesicknya yang luar biasa.

    Iman brotoseno,
    Betul sekali…lha saya yang baru seminar seminggu terus nambah cuti 3 hari agar bisa mampir Paris…ehh baru seminggu udah kangen sama anak-anak, sama ramah tamahnya orang Indonesia (walau kadang terasa menganggu juga sok ingin tahunya)….

  30. Saya malah tertarik dengan paragraf ini Bu: “jangan sampai menjadi orangtua yang merepotkan anak-anaknya”
    Sungguh Ibu Enny orang tua yang baik hati dan tanpa pamrih. Jadi ingat Ibu saya, yang pernah mengatakan hal yang sama. Semoga saya pun demikian. Dan memang idealnya semua orangtua harus begitu.
    Salam hangat, Bu 🙂

    Ratna
    ,
    Justru itulah tujuan kita, menjadi orangtua yang menyenangkan anak dan menantu, sehingga kedatangan kita diharapkan. Agar diharapkan, tentu karena kedatangan kita tak membebani, kalau bisa malah membantu kesulitan mereka.

  31. Elys Welt

    kalau sudah dibantu kuliahnya sampai lulus terus masih minta bantuan, ini namanya keterlaluan ya bu, jadi ndak mandiri, nggantung terus sama kakaknya

    Elys Welt,
    Mendidik keluarga, kalau kita telah dewasa dan menikah, haruslah juga ditujukan untuk mendidik secara mandiri. Dalam arti sesuai kebutuhan dan tidak terus menerus. Kadang ini menjadi sulit, karena rasa sayang yang berlebihan terhadap keluarga.

  32. Ping-balik: Meker

  33. Ping-balik: Meker « Arif Kurniawan as Bangaiptop

  34. Mungkin ini bukan hanya problem klasik para expat Indonesia saja, melainkan Asia dan Afrika – juga mengalami dan merasakan hal serupa. Semua bergantung dari seberapa besar pengaruh kampung halaman pada pribadi si empunya.

    Sebelum menjadi expat di negeri si bau kelek ini, pun.. sempat meluangkan 5 tahun tinggal, bekerja dan hidup di New York.. bercita-cita sejak SMA untuk mencoba menetap di Kanada, maka hinggaplah saya di NYC.. namun, panggilan tugas mendaratkan saya ke Baghdad, Iraq selama 6 bulan.. pecah perang, mengungsi ke Larnaka – Cyprus.. lalu kembali ke NYC lagi.. belum sempat setahun sudah bertugas lagi ke Monrovia, Liberia..

    Dari beberapa lompatan itu, suka-dukanya sudah pasti banyak, namun saya tidak boleh takut akan perubahan – “Change is good” especially we are currently living in a constantly changing world.

    Adaptasi dan ekspektansi (pengharapan) harus disesuaikan.. kadangyang membuat diri kita khawatir untuk kembali pulang ke tanah air adalah: Diri kita belum siap untuk berdamai dengan ego.

    Perihal ‘typical mindset’ sanak-famili dikampung halaman dalam melihat danmenilai kita yang bekerja di LN – mencari nafkah seperti semudahnya ‘mungutin duit di jalan’ adalah biasa.. mereka yang dari negara dunia ketiga di afrika pun memandang sanak famili-nya yang menjadi expat di negeri orangpun begitu.

    Membantu sekemampuan adalah baik, namun terus menerus malah membuat mereka menjadi melempem dan tidak kompeten.. dan ini bukanlah bentuk perwujudan dari istilah “bagi-bagi rejeki”. 🙂

    OOT: Seneng udh bisa masuk kesini dan share komentarnya – kemaren2 masih kena web filter server disini, jadi sering “access denied” untuk blogwalking 😀 – Salam hangat dari afrika barat!

    Luigi Pralangga,
    Rumput tetangga memang lebih hijau, orang hanya memandang tanpa memahami mengapa rumput tadi lebih hijau dan lebih segar. Karena ada tangan yang merawatnya dengan kasih sayang.

    Bekerja, dimanapun ada suka dukanya, yang terlihat punya penghasilan lebih, juga melalui kerja keras, yang tak kenal lelah, dan di saat sukses, belum tentu dia bisa menikmati kebahagiaannya karena waktunya tersita oleh pekerjaan, dan harus belajar terus menerus, berkinerja sangat memuaskan agar tak tergeser oleh yang lebih muda dan lebih pandai. Biasanya orang hanya melihat enaknya dari luar saja.

    Postingan ini sebetulnya sudah ditulis setahun yang lalu, tapi masih saya endapkan, karena anak dan menantuku di luar negeri (anak saya menyusul sebulan lalu), saya merasa perlu mempublikasikan tulisan tsb, juga agar teman-teman yang lain memahami bahwa yang terlihat nyaman belum tentu seindah itu dalam dunia nyata…dibalik itu ada kerja keras, kesepian (karena di pucuk pimpinan tak ada teman…”The king has no friends“), persaingan ketat untuk mempertahankan kedudukan dsb nya.

    Thanks komentarnya yang bisa menambah sharing pengalaman buat pembaca.

  35. di mana mau bekerja, di negara manapun, saya pikir yg penting adl bahwa itu sesuai dg panggilan hati. Dan mestinya setiap orang pada akhirnya, terutama ketika sudah masuk pada tingkat kemapanan dan senioritas, akan punya hasrat yg besar untuk membuat legacy atau peninggalan berarti. Arahannya biasanya ke anak cucu atau bahkan bangsa (sendiri). Ini saya pikir issue yg penting utk jadi pertimbangan. Bukannya sok nasionalis, tapi jika pada akhirnya kita memang ingin berbuat sesuatu untuk bangsa alih2 sekedar berhasrat utk bekerja berkarir utk kepentingan diri (dan keluarga), maka cepat atau lambat mestinya ada dorongan kuat untuk kembali ke Indonesia.

    Akhmad Guntar,
    Sebetulnya belajar dan bekerja di luar negeri tak masalah, toh keluarga besar pada umumnya masih di Indonesia, dan uangpun mengalir kembali ke Indonesia. Dan kenyataannya, lapangan kerja di Indonesia juga terbatas, jadi sebetulnya apapun pilihannya harus disadari ada keuntungan dan kerugiannya, bahkan jika bekerja di dalam negeri saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s