Oleh: edratna | Oktober 10, 2008

Bagi orang yang berbakat bisnis, apa saja bisa dibisniskan

Akhir-akhir ini kita banyak membaca kasus subprime mortgage yang menghebohkan itu, dan saya sejak awal menduga masih banyak hal yang belum terungkap. Dari berita Kompas hari ini, tanggal 10 Oktober 2008, di hal 1 dan 15, akhirnya terungkap bahwa penyebab makin carut marutnya situasi adalah adanya CDS (Credit Default Swaps). Saya tak akan membahas hal ini, karena anda bisa membaca secara lengkap di harian Kompas, tapi dalam dunia bisnis yang sederhanapun, bahkan bagi para karyawan tingkat bawahpun, memahami bahwa ada kebutuhan likuiditas dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pengelolaan account yang dapat membantu kesulitan likuiditas tersebut merupakan bisnis yang menguntungkan.

Apa sih sebetulnya likuiditas itu?

Di dalam dunia usaha kita mengenal beberapa rasio keuangan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Salah satu rasio tadi adalah rasio likuiditas, yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Perusahaan dikatakan likuid, jika current ratio ( Aktiva lancar dibanding hutang lancar) melebihi satu.

Terus bagaimana kita mengukur kemampuan likuiditas rumah tangga kita? Saya umumnya (ini pendapat pribadi lho!) mengukur bahwa keuangan saya (bisa berupa tabungan, deposito jangka 1 bulan, dan lain-lain) dapat memenuhi kebutuhan hutang jangka pendek, jika sewaktu-waktu diperlukan. Berbeda dengan perusahaan, yang menghitung kewajiban jangka pendek adalah kewajiban dalam waktu satu tahun, agar lebih tenang, saya menghitung kewajiban jangka pendek dalam bulanan, bukankah gaji yang diterima bulanan? Apakah gaji saya plus tabungan dapat membayar hutang jangka pendek saya? Hutang jangka pendek dalam satu bulan, antara lain adalah pembayaran kartu kredit, pembayaran angsuran rumah dan mobil (kalau ada), dan sebagainya. Bagaimana jika ada suatu kebutuhan mendesak dan mengacaukan likuiditas kita secara bulanan ini? Misalnya mendadak ada keluarga yang sakit atau mengalami musibah?

Ternyata uang cuti pun bisa digunakan seperti surat berharga

Awalnya saya bingung, kok ada orang tertentu yang setiap kali datang ke lantai dimana saya bekerja. Dan nanti orang tersebut mengobrol dengan beberapa karyawan, yang itu-itu juga. Karena penasaran, saya mencoba mencari informasi, ternyata orang tersebut adalah penyandang dana bagi orang yang kesulitan likuiditas. Di perusahaan tempat saya bekerja dulu, setiap karyawan setelah diangkat menjadi pegawai sementara berhak cuti 12 hari kerja dalam satu tahun, dan mendapat uang cuti satu kali take home pay (gaji ditambah tunjangan lain-lain). Setelah bekerja 6 (enam) tahun, berhak mendapat cuti besar 3 (tiga) bulan dan mendapatkan uang cuti besar sebesar dua kali take home pay.

Bagi karyawan yang likuiditasnya ketat, maka dia menggadaikan hak cutinya pada penyandang dana tadi, tentu saja dengan discount. Misalnya, jika uang cuti karyawan tersebut adalah Rp. 3 juta, maka dia cukup mendapat uang Rp.2.750 ribu. Kemudian karyawan tadi mengajukan uang cuti (ini ada aturannya, sesuai jadual yang sudah diajukan dari unit kerja ke Divisi HRD), dan saat hak cuti nya tiba, maka uang cuti tadi menjadi hak nya penyandang dana. Saya tak tahu pasti, hal ini mirip rentenir ya, cuma agak berbeda, kalau rentenir membungakan uang, tapi disini penyandang dana meminjamkan uang lebih dulu dengan mendapatkan hak dari uang cuti yang telah di discount sebesar keuntungan penyandang dana.

Karyawan pada umumnya adalah juga anggota koperasi, dan berhak mendapatkan pinjaman dari koperasi. Tapi bagi karyawan yang tidak bisa mengontrol keuangannya, maka biasanya pinjaman koperasi belum lunas, dia sudah membutuhkan pinjaman lagi. Betulkah karena gaji mereka kurang? Kalau dari pengamatan saya selama ini, sebetulnya gaji cukup, tapi mereka sering belanja di luar kemampuan. Begitu banyaknya tawaran kredit barang, yang selalu datang dan kadang juga karena tak ingin kalah dengan tetangga, membuat mereka terjerat hutang. Anehnya, hal ini terjadi pada karyawan tingkat bawah, karena karyawan tingkat menengah ke atas biasanya sudah lebih rasional. Bahkan kadang alat-alat rumah tangga karyawan tingkat menengah, lebih sederhana dari karyawan dibawahnya.

Apakah perusahaan tak dapat bertindak? Kenyataannya susah, mereka ada karena dibutuhkan, dan karena perusahaan semakin ketat, mereka juga bertemu secara diam-diam dan sulit dibuktikan keberadaannya. Mungkin di tempat kerja anda juga ada hal-hal seperti ini, walau tidak secara terang-terangan.

Iklan

Responses

  1. “Ternyata uang cuti pun bisa digunakan seperti surat berharga”

    iya nih…, saya juga bingung..
    ada loh orang-orang macam ini…,

    Kalo prinsip saya sendiri, (teorinya :mrgreen: ) lebih baik perketat likuiditas dengan prioritas kebutuhan aja. Jika pendapatan telah fix, maka pengaturan lebih ditujukan pada aspek pengeluaran. Ini membutuhkan disiplin (keinginan) yang sangat ketat. πŸ™‚

    Jika telah mampu melakukan penambahan pendapatan, barulah pengaturan pengeluaran diperlonggar..

    Meminjam baru dilakukan setelah dana pencadangan untuk keadaan darurat telah terkuras..

    gbaiquni,
    Dari sisi ekonomi, keinginan itu tak terbatas, tapi sumber daya dan sumber dana terbatas. Jadi, memang kita harus pandai menghitung kemampuan, dan berbelanja sesuai kebutuhan, bukan karena keinginan.
    Malah dulu, kalau ada tambahan pendapatan, diusahakan pengeluaran tetap, sehingga ada sisa untuk ditabung, yang nantinya untuk investasi…..tapi bagi yang tak memahami, berapapun besarnya pendapatan, dihabiskan semuanya.

  2. Uang Cuti … ?
    Di gadaikan …?
    HHmmm … ?

    Ya … bussiness sense tidak kenal tingkatan ya bu

    Nh18,
    Justru ini kreativitas ditingkat bawah, jadi hebat ya, karena dia melihat ada peluang pasar.

  3. Disini saya blm pnh liat ada org seperti yg ibu ceritain, mungkin jaman krn skrg org2 udah terbiasa dgn kartu kredit, ga punya uang tinggal gesek πŸ˜•

    Pimbem,
    Itu cerita tahun 90 an…setelah ditertibkan, maka tak terang-terang an. Lagipula kartu kredit kan tidak mengatasi juga, karena ada limitnya.
    Sebelum MPP, saya sempat diskusi dengan staf bagian kartu kredit, mereka memonitor cara belanja pemegang kartu kredit…lha yang limit rendah, begitu dapat kartu kredit langsung belanja kredit barang-barang konsumtif, seperti TV, kulkas dsb nya…dan langsung limit tak tersisa. Dari sisi pendapatan, ini menyenangkan kalau memang bisa bayar minimal, namun kedepan kan risiko juga makin besar.
    Saya pernah dikomentari GM nya, lha karena setiap kali tagihan langsung dibayar lunas, dan belinya nggak aneh-aneh, paling belanja bulanan, ke toko buku dsb nya….Soalnya kalau beli elektronik atau komputer pake kartu kredit kan di charge..lha mendingan bawa uang tunai.

  4. Itu yang namanya kreatif ya Bu… πŸ™‚

    Yoga,
    Betul, mereka melihat ada peluang pasar yang bisa digarap….

  5. Waduh, banyak istilah-istilah yang saya nggak ngerti. Meski udah dijelasin di atas…

    jika current ratio ( Aktiva lancar dibanding hutang lancar) melebihi satu.

    Waduh, aktiva lancar itu apa? hutang lancar apalagi… πŸ˜•
    *Ndak mudheng ekonomi*

    Ardianto
    ,
    Ilmu ekonomi tetap harus dimengerti, karena nantinya kan tetap harus bisa memikirkan bagaimana cara berinvestasi yang aman. Ntar kapan-kapan, minta jadual Narpen, kita bisa mengobrol…boleh deh coaching singkat.

  6. Ternyata ada juga yang dinamakan uang cuti, terima kasih atas ilmunya bu. Di pabrik brem saya, yang katanya nomer 1 sedunia tidak pernah sedikitpun menyinggung masalah itu. Apa memang sengaja disembunyikan yaaa…

    Adipati Kademangan
    ,
    Sebaiknya memang harus ada…dan cuti itu termasuk wajib diambil dalam kurun waktu tertentu. Banyak kejadian pelanggaran diketemukan saat yang bersangkutan sedang cuti. Saya pernah membahasnya di https://edratna.wordpress.com/2007/07/13/cuti-wajib. Jadi cuti juga merupakan sarana pengawasan, di satu sisi karyawan bisa menikmati cuti bersama keluarga, sehingga pulang cuti sudah fresh dan bisa bekerja dengan lebih baik.

  7. thanks ya atas infonya…

    Bisnis,
    Sama-sama, makasih telah berkunjung

  8. Orang semakin berkutat untuk unggul-unggulan memperebutkan kertas yang dinamakan uang.

    Donny Verdian,
    Betul, dan sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Padahal seharusnya kita belajar mengelola keuangan, dan hanya belanja sesuai kebutuhan, inipun masih disesuaikan dengan besarnya pendapatan, yang harus dikelola agar tetap ada bagian untuk pendidikan anak, dan yang lain-lain.

  9. semakin banyak uang, semakin banyak pengeluaran ya bu. kalau pinjam untuk usaha, masih bisa dipahami. yg repot kalau pinjam untuk belanja. uang habis eh utang malah numpuk..

    Mpokb,
    Inilah sedihnya…dan rata-rata yang seperti ini dari kelas bawah, yang menurut saya banyak hal yang tak harus dibeli. Kadang saya heran, peralatan rumah tangganya lebih canggih dari saya, yang atasan beberapa tingkat di atasnya. Masalahnya saya tak mungkin beli aneh-aneh, daripada si mbak malah tak bisa memakainya, dan kalau rusak malah membikin kecewa. Jadi, alat masakku masih sederhana sekali. Demikian juga piring cangkir, agar kalau pecah tak harus meminta mereka menggantinya..hehehe….

  10. a nice blog n good luck for you

    Bisnis dari rumah
    ,
    Thanks telah mampir….

  11. Hai Ibu

    Di kantor saya, cuti nggak bisa diuangkan. Kalau bisa diuangkan, pasti seneng banget tuh beberapa temen saya yang nggak pernah ambil cuti sama sekali (saking cintanya sama perusahaan kali yaa… ahh.. bertepuk sebelah tangan deh! hihihi..)

    Soal kartu kredit…
    Hmmm…

    Jaman sekarang memang semakin mudah saja berhutang. Malah, kalau kita aktif berhutang, kabarnya, jumlah limitnya bisa dinaikkan! Haduh.. makin numpuk aja hutangnya.. 😦

    Soal semua bisa jadi bisnis…
    Ibu, semakin kepepet, biasanya orang malah jadi kreatif! hihihi

    Jeunglala,
    Maksudnya cuti tetap diperoleh dan mendapat uang cuti…kalau tak melaksanakan cuti karena pekeraan (harus ada izin atasan), maksimal boleh dilaksanakan sampai akhir semester satu tahun depan, kalau melewati hak cuti dan uang cutinya hangus.
    Bagi para perempuan pekerja, hak cuti sangat penting…apalagi uangnya…..

    Limit kartu kredit tergantung dari pendapatan, jadi kalau banyak berhutang terus limitnya dinaikkan tak mungkin, karena akan meningkatkan risiko default (gagal bayar) oleh nasabah ybs, dan berakibat risiko pada bagi Bank ybs, kecuali pendapatannya naik. Saya berkali-kali ditawari limit naik malah menolak, lha pake kartu kredit cuma sebagai ganti uang tunai, dan langsung dibayar lunas saat jatuh tempo.

  12. Hebat…. memberikan kredit dengan jaminan uang cuti.. wakakakakak!

    Kunderemp,
    Jadi, jangan dianggap para karyawan tingkat bawah tak bisa berbisnis, dan risikonya rendah….

  13. Saya pernah coba apply kartu kredit tambahan tapi dari bank lain, sekedar untuk menambah limit kredit yg sudah ada. Tapi ditolak, mungkin slip gaji PNS saya sebagai Oemar Bakrie kurang meyakinkan sebagai jaminan … hehehe.

    Belakangan saya sering ditawari di mall-mall kartu kredit yg sama, katanya tidak perlu jaminan, gratis iuran tahun pertama dsb. Saya cuma mesem-mesem saja sambil bilang “kapok dulu pernah ditolak mentah-mentah” …

    Oemar Bakrie
    ,
    Kayaknya penawaran kartu kredit yang di Mal, tak ada jaminan bahwa aplikasinya disetujui oleh Bank penerbit kartu kredit, karena akan dinilai kembali tingkat kelayakannya. Tapi menurut saya pemasarannya ngawur, lha si mbak atau sembarang orang lewat ditawari kartu kredit.

  14. Wedew… belum pernah saya menjumpai hal seperti itu…

    Andy MSE,
    Hmm…itu memang kreatifnya para penyandang dana …..

  15. Soal likuiditas dan semacamnya itu saya gak paham. Tapi kalau bagi orang yang berbakat bisnis, apa saja bisa dibisniskan itu saya percaya. Bahkan informasi lowongan kerja pun bisa jadi uang. Beberapa waktu lalu di lingkungan kantor pemerintah sering saya lihat ada yang menjual selebaran yang berisi info lowongan CPNS dari berbagai instansi. Tentunya harganya jauh lebih tinggi daripada memfotokopi sendiri. Ada juga yang model dagang omongan sementara dia tak memiliki barangnya dan hanya mengandalkan komisi dari pemilik yang menjual barangnya. Makelar atau calo begitulah…

    Mufti AM,
    Memang orang semakin kreatif, jadi kita sendiri yang harus memitigasi risiko, apakah yang ditawarkan memang layak.

  16. Jadi besok saya kecipratan uang cuti nih bun? waduuuuuh makasih bun. Tak beliin domain ah…he he he

    Thanks untuk tulisan kali ini bun. banyak ilmu yang bisa saya dapet.
    Salam

    Pakde,
    Karena udah pensiun, saya tak berhak lagi uang cuti pakde.
    Sebetulnya asyik juga, karena kenyataannya uang cuti tadi tak habis untuk cuti, malah untuk investasi, kecuali kalau mau cuti ke luar negeri.

  17. Berarti bagi yang berbakat menulis apa saja bisa jadi tulisan ya Bunda?

    *kira kira begitu*

    Rindu,
    Betul Rindu…maka menulislah terus….

  18. Itu naluri bisnisnya ketajaman…
    Atau memanfaatkan kesempatan disaat org membutuhkan…

    Hmmmm saya belum nemuin org seperti yg ibu ceritain…

    Jay,
    Sekarang sudah banyak berkurang, karena jumlah pegawai didasarkan manning analisis, dan gaji ditentukan atas kinerja…akibatnya pekerjaan yang dulu dilakukan 2-3 orang, sekarang cukup oleh satu orang. Di satu sisi tingkat gaji juga lebih tinggi, dan benar juga ada pilihan lain, yaitu melalui kartu kredit.

  19. Kita sebenarnya sudah kena sekali akibat dari pola konsumsi yang menganut paham ‘lebih besar pasak daripada tiang ini’. Yaitu krisis ekonomi tahun 1997.

    Entah darimana datangnya kebiasaan kebanyakkan orang kita yang lebih mendahulukan dan mementingkan konsumsi dibanding produksi. Apakah ini juga warisan dari budaya yang ditanamkan para penjajah dulu? Saya juga tak tahu.

    Rafki RS,
    Kayaknya sebagian besar masyarakat kita memang konsumtif…terlihat dari peningkatan besanya kredit konsumtif, sampai BI perlu mengingatkan agar Bank tak terlalu ekspansif dalam penyaluran kredit konsumtif. Masalahnya penyaluran kredit konsumtif tak hanya dilakukan oleh bank, tapi bisa dari distributor, bahkan dengan uang Rp.500.000,- udah bisa membawa pulang sepeda motor.

  20. Di tempat kerja saya ketika di SBY, karena pemiliknya adalah pendiri KOSGORO jadi beliau benar benar membangun sebuah koperasi karyawan yang amat sangat kokoh. Omset Koperasi tsb sudah ratusan juta. Koperasi tsb membantu karyawan membayar uang muka perumahan dan dana pendidikan buat anak karyawan. Walapun simpan pinjam merupakan penghasil terbesar SHU di koperasi tersebut juga menyediakan bahan makanan pokok sampai peralatan RT yang bisa dibayar cicilan. Terakhir saya masih bekerja disana, Koperasi tersebut mempekerjakan 3 orang sebagai petugas toko. Dan semakin besar karyawan berbelanja atau berhutang, ketika pembagian SHU bisa ratusan ribu juga. Jadi koperasi karyawan tersebut sudah memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap perusahaan. Sehingga Management sangat mendukung karena dengan adanya koperasi tsb kesejahteraan karyawan lebih terjamin dan Turn Over karyawan menjadi sangat kecil. terimakasih

    Yulism,
    Bagi orang yang konsumtif, pinjaman di Koperasi masih belum cukup, dia mngkredit pula barang, bisa melalui kartu kredit atau orang-orang yang saya ceritakan tsb. Agak sulit memang, karena ada demand, maka ada penawaran.

  21. wah terus terang baru denger..apa bisa ya>>?
    Mungkin selalu kerja di perusahaan kecil sehingga tidak pernah mendengar hal hal seperti ini.
    Tapi emang kreatif sih

    Mas Iman,
    Bisa banget mas, malah penyandang dana tadi risiko nya rendah, karena cash flow untuk membayar sudah pasti.

  22. Mirisnya, yang belanjanya disertai semangat berbagai keinginan itu kebanyakan dari kalangan yang pendapatannya nyaris tak begitu berlebihan. Hal ini menjadi ironis dan timpang.

    Banyak memang pancingan serta godaan yang membuat keinginan untuk hidup lezat itu menjadi menggebu-gebu. Larinya apalagi kalau bukan serba cicilan. Yang terjadi: hidup berkubang pada hutang demi hutang. Tidak sedikit yang hutangnya tak berkesudahan. Karena godaan hidup tak pernah surut.

    Barangkali jalan bijak adalah jalan tengah. Jalan di mana orang memahami betul akan kondisinya.

    Kondisi semacam itu tak pelak menjadikan sebagian orang berpikir dan memutar otak: bahwa kondisi semacam itu pun bisa jadi ceruk bisnis yang menarik.

    Sekarang apa sih yang tidak bisa dikredit? Hampir semua bisa diusahakan.

    Daniel Mahendra,
    Itulah Daniel, apa saja bisa dikreditkan, dan godaan untuk dianggap sebagai orang sukses oleh keluarga maupun tetangga begitu besar. Bagi kelas menengah, mereka sudah tak memikirkan omongan tetangga, lha sama tetangga sekedar bertegur sapa kalau ketemu “gabrus” dijalan….

  23. tapi blog ini tidak dibisniskan ya bu?

    Treen,
    Kebetulan blog ini juga hanya sarana berbagi, dan belum ada niat untuk cari uang….entah nanti….

  24. begitu juga dengan orang bermental judi, apa-apa bisa dijadikan sarana judi.

    Ubadbmarko,
    Betul…bahkan nomor mobil lewatpun bisa ya….

  25. orang yang menyediakan jasa seperti itu disebut berbakat bisnis, baik hati, atau oportunis, bu?
    tapi memang bagi orang yang jeli, semua kondisi bisa jadi peluang untuk mencari keuntungan, asal jangan jadi manusia kriteria ketiga saja ya, bu?

    (btw, uang cuti itu berlaku untuk perusahaan jenis apa saja tanpa kecuali, bu? atau hanya perusahaan tertentu? terimakasih telah memuat artikel ini, bu enny)

    Marshmallow,
    Bagi perusahaan yang cukup besar mewajibkan para karyawan mengambil cuti secara bergiliran, selain agar para karyawan kembali fresh, juga ada unsur pengawasannya. Saya pernah menulis di https://edratna.wordpress.com/2007/07/13/cuti-wajib/…bahwa cuti juga merupakan unsur pengawasan. Untuk mendorong karyawan mau melakukan cuti, perusahaan memberikan uang cuti, yang hanya bisa diambil jika karyawan akan melaksanakan cuti, telah ada ijin dari atasan…dan benar-benar dilaksanakan.
    Menurut saya hal ini penting, besanya uang cuti tergantung dari kemampuan keuangan perusahaan…. mungkin sama seperti saya memberi cuti bagi para si mbak, kapan dia mendapat ganti transport, kapan tidak…

  26. Bagi orang yang orientasinya bisnis,
    apa aja bisa dibisniskan

    Bisa juga gitu kan bu πŸ™‚

    Petak,
    Betul…..dia tahu benar peluang yang ada…

  27. berbisbis itu kadang merupakan sebuah bakat, jadi orang berbisnis tu karena bakat…..bisa juga karena terpaksa harus cari tambahan uang…

    Ikankoi,
    Memang bisa dipelajari, tapi hasilnya tetap berbeda jika ybs punya bakat….

  28. Bisnis bisa subur karena adanya pasar (baca: kesempatan dalam kesempitan). Nah, para ‘rentenir’ ini memanfaatkan kesempatan dari kesempitan yang dialami pekerja di kantor ibu (dan juga mungkin di kantor2 lainnya) karena kebutuhan kas yang mendadak….

    Tetapi mungkin juga kalau bisnis ini subur dan terdapat pesaing2 sehingga terjadi persaingan bebas **halaah** mungkin malah makin ‘menguntungkan’ konsumen, sehingga bunga ‘rentenir’nya semakin rendah….. mungkin nggak tuh ya?? Huehehehe…….

    Yari NK,
    Secara umum, semakin banyak persaingan, akan menyenangkan konsumen…karena harga akan turun dan kualitas pelayanan meningkat.

  29. menurut saya, bisa berbisnis bukan karena bakat, tapi karena faktor latihan dan kemauan. dalam artian, semakin banyak dia berlatih, semakin tahu dimana peluang-peluang yang ditemukan.

    tentu saja hal ini tidak berlaku pada semua bidang. hanya pada bidang yang disukainyalah, bisnis tsb bisa berkembang.

    sebagaimana seorang anak, yang sedari kecil sudah diajari/dilatih untuk berbisnis oleh orang tuanya, maupun oleh lingkungannya… tentu saja dimasa besarnya dia, dia sudah banyak pengalaman dalam hal berbisnis πŸ™‚

    menjadi sukses itu bukan karena orang tersebut berbakat menjadi orang sukses / terlahir menjadi orang sukses, tapi karena usaha dan kerja keras πŸ™‚

    mengenai kasus uang cuti yang dibisniskan tadi, dari perusahaan sepertinya susah untuk melakukan interfensi ya bu, karena dah masuk wilayah pribadi karyawan itu sendiri, terkait mau dikemanakan uang cutinya tsb πŸ™‚

    semoga saja kita semua membelanjakan dana kita sesuai dengan kebutuhan kita, secukupnya, dan sesuai dengan pendapatan kita.

    jangan sampai kita memaksakan diri untuk membeli sesuatu yang terlalu tinggi untuk kita beli, hanya karena mau gaya-gayaan. karena yang akan menikmati ‘pemandangan indah’ itu semua adalah orang lain.

    salam hangat, dan salam kenal ya bu πŸ™‚

    Wishbeukhti,
    Salam kenal juga, makasih telah berkunjung.
    Benar, untuk bisa berbisnis bisa dilatih, di kampus sekarang juga digalakkan pelatihan kewirausahaan. Namun kita juga harus memahami, bahwa kompetensi masing-masing orang berbeda, dan hasilnya akan bagus jika kita bekerja atau berusaha sesuai kompetensi kita. Seorang yang kompetensinya mengajar, akan menjadi seorang dosen atau guru yang hebat dibanding kalau dia mengambil risiko berbisnis.

  30. Utangku 0, karena aku tidak pernah dipercaya oleh bank untuk ambil kredit. Jadi semuanya harus bayar cash.

    Mau beli mobil? tak perlu, udah dapet lungsuran.

    Mau beli rumah? tak perlu, karena apartemen (sosial) pas di tengah kota, depan TK, SD, SMA dan universitas. Sedang SMP hanya 10 menit jalan kaki.

    Aku selalu menerapkan hidup sehemat mungkin.

    Kata mami aku tidak kredibel, tapi tak apa. Sudah 4 tahun aku hidup tenang, adem ayem loh jinawi malah tambah lemu ginak-ginuk.

    Juliach,
    Wahh kalau nggak punya hutang, itu berarti solvable…..
    Justru bagus dong, daripada kebanyakan hutang, yang bikin pusing….
    Dalam kondisi gonjang ganjing seperti sekarang ini, malah lebih bagus jika cash and carry

  31. kira2 aku bakat bisnisnya apa ya bun ???

    Realylife,
    Bagaimana jika pertanyaan dibalik…apakah kita harus punya bakat bisnis? Karena sebetulnya masing-masing individu telah mempunyai kompetensi masing-masing

  32. Kami di sini tidak ada uang cuti, tapi menerima bonus 2-3 kali setahun. Biasanya bulan desember, februari dan juli (summer). Ibaratnya yang juli itu untuk cuti dan paling besar. Tapi pasar di sini memang memanfaatkan waktu-waktu pemberian bonus dengan “membeli sekarang, bayar waktu bonus”. Cukup banyak yang tertarik dengan iklan begini.
    Kalau saya sih alokasi bonus sudah pasti…untuk beli tiket mudik, yang semakin lama semakin mahal dengan tambahan biaya avtur hiks.
    EM

    Ikkyu_san
    ,
    Kalau bonus kan tak bisa diperkirakan sebelumnya…ehh tapi saya pernah mendapat pertanyaan teman, dia mau dipinjami uang, bayarnya dari bonusnya nanti. Lha saya jawabnya gampang, bonus kan masih nanti dan belum ada kepastian.
    Beda dengan cuti, karena sudah pasti dan ada jadualnya. Saat meminjam uang, jaminan berupa pengajuan cuti yang telah ditandatangani atasan, telah dikirim ke HRD…..dan pada saat jangka waktunya, uang pasti keluar sesuai keputusan….

    Seorang pebisnis memang pandai cari peluang…..

  33. waduuuuh…baru tahu saya bu…kok kreatif sekali ya.
    saya tertarik baca,,karena sejatinya saya Tukang jualan ,sudah hampir 25 tahun..kok baru ngerti hal ini. ide kreatif itu kalo untuk ide usaha .bagus kali ya.Tapi memang..mengelola likuiditas sehat itu sangat perlu..saya tipe konvensional dalam hal ini, pokoke ..ukurannya …tentrem,bisa tidur..jadi kalau mau nambah hutang,pikir pikir dulu

    Dyah Suminar,
    Iya…memang pintar sekali….seperti orang beli obligasi dengan discount…..
    Tapi nggak semua berbakat bisnis bu, walau saya dulu kerja di lembaga keuangan, juga sangat takut berhutang…kita tak pernah tahu apa yang terjadi esok hari.
    Berhutang hanya untuk investasi, beli rumah, itupun beli asuransi, sehingga kalau terjadi apa-apa, langsung lunas karena di cover asuransi, sehingga tak meninggalkan beban pada ahli waris.

  34. Wah… ngeri yah, kondisi finansial pribadi masih carut marut, malah konsumtif… soalnya mereka ngeliat ke “atas” dan merasa bahwa orang kaya = hidup mewah… padahal kan nggak… seandainya mereka tahu bagaimana orang kaya bisa kaya… πŸ™‚


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: