Betulkah suatu pertemanan memerlukan “unsur chemistry?”

Pernahkah mengamati kenapa ya kok si A cenderung lebih merasa dekat dengan si B, dibanding dengan C? Mengapa seseorang yang baru ketemu merasa akrab, dan cocok? Entah pertemuan tersebut di perjalanan, di kereta api, mengobrol sepanjang perjalanan, merasa cocok, dan akhirnya berjodoh. Ada yang ketemu hanya sepintas, pada acara pertemuan mahasiswa antar dua universitas, dan setelah lama tak ketemu, kemudian bertemu lagi di suatu kesempatan tak di sengaja dan akhirnya berjodoh. Kenapa kita merasa nyaman mengobrol apa saja dengan seorang sahabat dan bukan yang lain?

Lanjutkan membaca “Betulkah suatu pertemanan memerlukan “unsur chemistry?””

Iklan