Bos besar

Rita mengawali hari dengan bahagia, betapa tidak, akhirnya dia mendapat panggilan untuk diterima bekerja di sebuah Bank. Hatinya berbunga-bunga, dan hati berdebar, apakah saya bisa mengikuti pelajaran? Maklum, pendidikan Rita bukan berlatar belakang ekonomi, ilmu yang memang dianggap sesuai untuk bekerja di Bank. Rita sibuk menghitung dengan jarinya, berapa orang ya yang bukan berasal dari ekonomi?

Tak terasa sudah seminggu klasikal dimulai, dan setiap kali Rita pusing dengan gaya Ardi, yang selalu menanyakan sesuatu dengan pertanyaan yang tak dipahaminya.
“Pak, jika melihat laporan keuangan yang ditampilkan di papan tulis, berarti PT XYZ likuid dan solvable?’
Rita mencolek Ina, teman sebangkunya, yang juga bukan dari ekonomi. Syukurlah dosen yang mengajar menjawab dengan ramah, dan menjelaskan sejak awal, sehingga akhirnya semua memahami.

Dua hari sebelum penutupan klasikal, Manager Program memasuki kelas, dan mengumumkan penempatan peserta, lokasi job training, serta mengingatkan harus tiba di Kantor Cabang 3 (tiga) hari kemudian. Seluruh kelas langsung heboh, dan setiap orang sibuk membicarakan penempatannya. Kebetulan Rita ditempatkan di Jawa Timur beserta Tina. Untuk wilayah Jawa Timur ada enam orang, dua diantaranya adalah Rita dan Ina. Setelah mendapatkan SPJ (surat Perintah Jalan), Rita bersama kawan-kawan naik kereta api jurusan Surabaya dan turun di stasiun Pasar Turi. Sepupu Rita terlihat menjemput di antara kerumunan orang di stasiun. Untuk mempermudah, rombongan langsung kerumah sepupu Rita, meninggalkan tas dan koper, dan mereka berpencar pulang ke rumah saudara dulu, serta berjanji hari Senin pagi akan bersama-sama lapor ke Kantor Wilayah.

Rita, kira-kira akan ditempatkan dimana?” tanya sepupunya.
Nggak tahu nih mas, kan laporanya baru hari Senin,” jawab Rita.
Enakan di Sidoarjo tante, cuma sebentar dari Surabaya….atau bisa juga di Gresik, tapi Gresik lebih panas,” saran keponakannya

Hari Senin, Rita dkk melapor. Setelah ditanya berbagai hal, tak diduga Kepala Kantor Wilayah, menanyakan langsung pada Rita dan Tina, kota mana yang diinginkan jadi tempat job training. Setelah semua mendapat tempat, Ardi yang kebetulan membawa kendaraan langsung mengantar teman perempuan ke tempat job training masing-masing.

Rabu pagi, Rita sudah bersiap untuk membawa surat dari Pemimpin Wilayah ke Kantor Cabang yang menjelaskan bahwa selama 6 (enam) bulan, Rita akan ditempatkan di Sidoarjo. Agak lama Rita menunggu di depan sekretaris, dan melihat tamu berlalu lalang masuk ke ruangan Pimpinan Cabang, tapi Rita masih didiamkan. Rita masih sabar menunggu, namun karena sebentar lagi sudah mendekati jam makan siang, akhirnya Rita mengatakan pada sekretaris, ”Mbak, tolong dong, saya harus lapor pada Pimpinan Cabang,” kata Rita. Sekretaris terlihat agak kurang enak, dan melihat Rita dengan pandangan aneh, tapi tanpa banyak bicara, sekretaris masuk ke ruangan pimpinan. Tak lama Rita dipanggil masuk, dan kemudian Rita memperkenalkan diri.

Saudara dulu lulusan mana?” tanya Pimpinan Cabang yang badannya tinggi besar. Setelah berbasa basi sejenak, Pimpinan Cabang memanggil sekretaris agar membawa Rita untuk diperkenalkan pada seluruh karyawan Kantor Cabang. Para karyawan antusias sekali, yang baru belakangan diketahui oleh Rita, itu adalah pertama kalinya Kantor Cabang menerima job training bagi Calon Staf, dan perempuan. Para karyawati langsung mengajak ikut arisan, karyawan mengundang untuk ikut latihan voli, karena Sidoarjo memang terkenal gudang pemain voli nasional. Rita cuma senyum-senyum saja dan lega atas penerimaan teman-teman barunya di kantor cabang.

Begitulah setiap harinya, Rita rajin melakukan tugas job training, berdiskusi dengan para karyawan/karyawati yang bertanggung jawab atas bidangnya masing-masing. Dua bulan telah berlalu, anehnya Rita tak pernah mendapat panggilan dari Pimpinan Cabang. Dan semakin heran, melihat para karyawan sepertinya menganggap Pimpinan Cabang sebagai bos besar yang angker dan ditakuti. Bahkan Credit Officer (CO) berpesan pada Rita, agar berhati-hati pada Pimpinan Cabang, karena bos besar terkenal play boy. Waduhh, keluh Rita dalam hati. Tapi aku tetap harus berhubungan dengan Pimpinan Cabang, karena laporanku nanti harus disetujui oleh Pimpinan Cabang, dan beliaulah yang akan merekomendasi, Rita sebaiknya ditempatkan sebagai apa, dan suara Pimpinan Cabang akan di dengar di Kantor Pusat.

Setelah nyaris sulit tidur berminggu-minggu, Rita akhirnya memutuskan untuk berani menghadapi keadaan, lebih baik sekarang dihadapi daripada nanti terlanjur waktunya sudah hampir selesai.
CO mengernyitkan dahi mendengar Rita mau menghadap, begitu pula sekretaris. Pada sore hari itu, sekitar jam 3 sore, saat para klien sudah berkurang, Rita mulai mengetuk pintu ke ruang Pimpinan Cabang.
Masuk,” terdengar suara berat dari dalam. Rita melangkahkan kakinya ke dalam, dan menutup pintu pelan-pelan. Pimpinan Cabang memberi tanda agar Rita duduk, kemudian menunggu Rita mengungkapkan maksudnya.

Mohon maaf, pak, saya terpaksa menghadap bapak,” kata Rita
O, iya, ada perlu apa?” kata Pimpinan Cabang. Rita agak bingung untuk melanjutkan, namun kemudian dipaksakannya untuk mengemukakan apa yang ada dihatinya.
Saya kok nggak pernah dipanggil untuk diajak diskusi pak,” kata Rita
Lho, kenapa?” tanya Pimpinan Cabang dengan agak bingung. Dan karena kelihatannya Pimpinan Cabang mood nya lagi baik, Rita kemudian mengatakan, bahwa dia ingin diskusi dengan Pimpinan Cabang, apa yang sudah dipelajari di Cabang tersebut, dan mohon pengarahannya. Tak disangka ternyata Pimpinan Cabang sangat senang, dan mereka berbincang-bincang dengan akrab. Akhirnya Pimpinan Cabang bertanya,”Rita, sudah pernah melihat Tretes?” Rita langsung kaget dan pasang kuda-kuda, teringat pesan CO.
Belum pak,” jawab Rita
Kapan-kapan kita kesana ya,” kata Pimpinan Cabang
Boleh pak, tapi siapa saja yang akan diajak bapak?” tanya Rita.
Pimpinan Cabang terlihat kaget dan bertanya, kenapa Rita mesti menanyakan siapa saja yang diajak. Rita menjawab,”Iya pak, saya tak berani pergi sendirian dengan bapak, selain untuk menjaga nama bapak, saya juga harus menjaga nama sendiri,” jawab Rita sambil deg2an kawatir bos besar marah.

Tak disangka, bos besar tertawa terbahak-bahak……”Hahaha, kamu ternyata banyak mendengar gossip ya,” kata bos besar. Akhirnya bos besar bercerita, sebagai Pimpinan Cabang, beliau tak mungkin menggunakan gaya kepemimpinan yang sama sebagaimana jika beliau bekerja di Kantor Pusat, karena kemampuan karyawan di Kantor Cabang sangat heterogen. Jadilah sore itu, hari yang menyenangkan bagi Rita, ternyata bos besar tak segalak yang dibayangkan orang.
Besok sore kerumah ya, biar saya kenalkan dengan isteriku, dia pasti senang punya teman,” kata bos besar.
Baik, pak,” jawab Rita

Rita membuka pintu keluar, dan jam sudah menunjukkan jam 17.30 wib. Betapa kagetnya Rita, begitu pintu terbuka, sebagian besar karyawan masih belum pulang, dan langsung melihatnya dengan pandangan bertanya-tanya. Credit Officer melambaikan tangan, dan Rita langsung menghampirinya.
Bagaimana, nggak ada apa-apa di dalam?” tanyanya
Nggak apa-apa kok, beliau baik sekali,” jawab Rita
Tentu saja dia baik sama Rita, kan kamu orang Kantor Pusat,” kata Credit Officer.
Rita tertegun, tapi tak berani memberi komentar, dan mulai bertanya-tanya sebetulnya ada apa.

Iklan

28 pemikiran pada “Bos besar

  1. wahh….bu…
    saya serius bacanya…
    sampai pada akhirnya ada tulisan…

    “Ditulis dalam Fiksi”

    glek…
    hehehehheheh

    Bu…buat novel aj gih…
    saya pembaca pertamanya 🙂

    Wahyu Reza Prahara,
    Lha ini emak-emak, kok lagi males ngapa-ngapain, mau nulis serius pakai mikir…jadi ya nulis yang ringan-ringan….lagipula kan ada blogger yang juga seorang editor, biar nanti lama-lama saya terasah untuk menulis cerita….paling tidak ganti mendongeng pada anak-anak para blogger yang rata-rata seumur anakku…hehehe

  2. Ah saya pikir ini bukan fiksi, ternyata oh ternyata…

    Donny Verdian,
    Daripada bingung nggak tahu apa yang mesti ditulis…lumayan juga kan?
    Saya udah punya tag Fiksi lho…berarti ada sambungannya…..tunggu ya

  3. Ahahaiiiiii………….
    Fiksi?! Yuhuuuu…..
    Nah-nah-nah. Tak sabar membaca.
    Great, Mam!!
    Biar kubaca dulu 😉

    Daniel Mahendra,
    Tenang…tokoh Rita dan pengalaman serunya akan bersambung terus….tunggu aja….

  4. Akhirnya jadi juga menulis fiksi, one little step for giant goals! Hayo Bu, mumpung Daniel sering mampir kemari. Hehehe…

    *ditunggu lanjutannya*

    Yoga,
    Ini baru latihan….masih terasa aneh…..

  5. asyiiiik ibu………
    saya mau mendengar ibu mendongeng…
    udah deg-degan nih
    EM

    Ikkyu_san
    ,
    Waduhh…jangan memuji dulu…ini cerita dengan gaya mendongeng…idenya ya serpihan pengalaman, mendengar cerita teman dsb nya…..

  6. Ardianto

    Wah,
    tumben menulis fiksi (atau saya yang nggak ngikutin blog ibu ya?)…
    Pakai nama Ardi pula
    Bercanda ding :mrgreen:

    Ardi
    ,
    Kalau menulis fiksi risiko kemungkinan ada yang tersingggung rendah….hehehe
    Tapi Ardi ini anak baik lho, dan tidak sama dengan Ardianto, karena Ardi ceritanya alumni salah satu Universitas Negeri di jawa Timur. Dan Ardi ini nantinya menjadi teman baik Rita, walau mereka berbeda sifat, dan Rita sangat sebal dengan kekonyolan Ardi…tapi mereka tetap dekat….

    (Lho! kok udah dibocorkan…kan masih di otak? Belum ditulis maksudnya…hehehe)

  7. Ternyata Bunda juga bisa menulis cerita fiksi. Menarik sekali seperti cerita dalam kehidupan nyata. thanks

    Yulism,
    Lagi cari bentuk postingan yang lain….sambil berimaginasi

  8. ditunggu serial Rita-nya bu 🙂 hehehe

    Ren-ren,
    Sudah ada untuk lanjutannya, tapi masih diendapkan dulu, kan tape kalau disimpan semakin manis….

  9. Bentar lagi jadi novel. Hebat!!! Bener-bener hebat!!!

    Juliach,
    Amiiiin……belum tahu sih, tapi yang jelas ingin menulis hal lain, serpihan kenangan yang terserak….

  10. wowo bu pinter banget mengolah kata2, jangan2 ibu seorang novelis juga?
    saya membacanya sampai detil, tidak mau kurang satu katapun untuk saya baca.
    menarik banget, sungguh sangat menarik ceritanya.

    btw saya jadi ingat tretes, pernah sy jalan2 ke tempat “gituan” bu, yah dalam rangka survey2 pelatihan mahasiswa 😀 hehehe

    Arul,
    Banyak kenangan manis dan lucu di Tretes…..
    Ntar diteruskan…..

  11. Ibu….dibukukan saja tulisan tulisan Ibu…hebat sekali. Saya bacanya sampai deg degan….membayangkan…sudah sampai se Parah itukah..teman teman kita…? Moga moga hanya cerita ya bu.

    Dyah Suminar,
    Waduhh bu, ini baru mulai…uji nyali, apa saya bisa menulis terus secara konsisten….mudah2an bisa ya bu….kenangan, curhat teman, plus imaginasi…
    Doakan ya….

  12. Kategori baru nih ye… Fiksi… hihihihi

    Kunderemp,
    Ingat cita-cita ibu dulu? Setelah pensiun, punya rumah di pegunungan, bercat putih berlantai dua, halaman ditanami bunga, dibelakang kebun sayur…dan cape mengurus tanaman,
    duduk manis di depan komputer sambil menulis dan melihat pemandangan di kejauhan…

    Cita-cita punya rumah dipegunungan mungkin tak sampai, tapi ayah sudah membangun rumah di Bandung…dan mengatakan pada ibu…ini ruangan kalau mau menulis ….yang sekarang dilantai tiga, dan dindingnya penuh buku, cuma juga jadi ruang penuh meja, ada papan tulis…sekarang jadi ruang diskusi…

  13. pikiran pertama bisa menyesatkan,
    omongan orang juga,
    huhuh keren !

    Warmorning,
    hehehe…saya dulu takut sama orang berbadan besar, berkulit gelap saat masih kecil s/d remaja….kayaknya serem gitu…

  14. Mas Kopdang

    tretes..tes..tes..
    terlalu banyak yang menetes di tretes..
    terutama air hujan.
    😛

    Mas Kopdang,
    Tretes memang membuat orang berimaginasi….

  15. Bu pengalaman pribadi ya?… hehe…

    Nice story…

    Andy,
    Kalau soal job training di kantor Cabang iya (kan memang harus melewati job training)….tapi cerita lainnya sih di otak atik, biar lucu dan seru….hehehe..

  16. Tukang Ketik

    Fiksi Ekonomi?
    Wah… genre baru yang jarang ada di sastra indonesia nih…
    perlu digalakan bu.

    Kalau bisa, diperbayak nulis begini bu, trus masukin ke gramedia. pasti laku deh bukunya…
    huehuehue

    Tukang ketik,
    Huahuahua….namanya juga latihan Di, karena lagi bingung idenya mampet, tapi mau bikin apa-apa kok males (biasa molor dan menunda-nunda)….jadilah mencoba bikin fiksi….

  17. saya juga jadi ikut bertanya2, ada apa gerangan bu? sepertinya intrik2an nih.. 😉
    btw, waktu saya belum lahir, ibu saya juga pernah tinggal di kontrakan taman malabar, bu 😀

    Mpokb,
    Saya dulu tinggal di rumah om Hidir, jalan Rumah Sakit II no.1…
    Wahh om Hidir ikut senewen punya anak kost bandel seperti saya, pernah dimarahi alm pak Andi Hakim Nasution, gara-gara saya dan teman-teman gitaran di bok (tempat duduk di pagar masuk) sampai tengah malam padahal besok nya bukan hari libur. Pak Andi memang benar-benar memperhatkan mahasiswanya….

    Dulu di pojok jalan Rumah Sakit I/1 dan jl. Malabar ada penjual lotek yang eunaak sekali

    Cerita di atas fiksi lho, bukan beneran…tapi di buat setting nya di Kantor Cabang sebuah bank….

  18. Hehehehe … Orang kantor pusat … !!!

    Maap Bu … ini fiksi apa kejadian sebenarnya ya …

    Jadi penasaran …

    Nh18,
    Ya jelas fiksi…..hahaha…..
    Kalau nggak saya bisa dikemplang orang….biar seru gitu lho….

  19. Setelah membaca komen …
    Wah ternyata beneran toh ini … hhhmm …

    BTW …
    Hehehe ada cerita nostalgia kos-kosan nih …
    Rumah sakit dua, Malabar, Taman Malabar, plus juga jaman saya … ada Malabar Sampah … yang sekarang sudah jadi Mall ituh …

    NH 18,
    Ntar deh, bikin fiksi dengan setting di Bogor…seru lho….karena dulu kan sering banget ada lomba membaca puisi, dsb nya. Bogor memang kota romantis (kalau sekarang kota angkot)…..makanya Asrul Sani, Taufik Ismail akhirnya pilih jadi seniman.

  20. wah..ibu mau bikin cerber ya? ditunggu lanjutannya ya ibu..
    mirip2 pengalaman saya nih. ada teman di kantor yg kelihatannya seram, tapi ternyata enak sekali diajak ngobrol dan tidak ‘seram’ seperti yg sering dibicarakan orang… hehehehe

    Winnie
    ,
    Entahlah, cuma lagi nggak punya ide, dan pengin menulis yang lain…..

  21. “Cita-cita punya rumah dipegunungan mungkin tak sampai, tapi ayah sudah membangun rumah di Bandung…dan mengatakan pada ibu…ini ruangan kalau mau menulis ….yang sekarang dilantai tiga, dan dindingnya penuh buku, cuma juga jadi ruang penuh meja, ada papan tulis…sekarang jadi ruang diskusi…”

    wah… sama cita2nya sama saya bu. punya rumah di pengunungan, dan ada satu ruangan yang isinya hanya buku saja heheheh..
    btw, boleh tuh bu kapan2 diajak ke rumah bandung :p
    siapa tau saya boleh “bertapa” disana, diantara buku2 hehehe…

    * ps : no hurt feeling ya bu. tapi terus terang physically ibu mengingatkan saya kepada ibu saya : kecil tapi full energy, kayak energizer hihihi…
    maaf lo bu kl saya lancang

    Edo
    ,
    Hehehe….atau orang yang kecil kelebihan energi ya….

  22. whoala saya bacanya kebalik toh hehehe…

    mantep nih bu ceritanya, jarang loh yg berlatar AO ginian… btw rita-nya juga pinter ya, staf umum yg kritis 😉

    Pimbem,
    Terbalik?
    Cuma ingin menulis serpihan kenangan, curhat teman, pengamatan…dan juga imaginasi.

  23. Fiksi?
    Fiksi?
    Ibu menulis Fiksi?
    Asyik…
    Lala tunggu lanjutannya ya Bu… 😀

    Jeunglala,
    Ssst….jangan rame-rame dulu, ini baru latihan, mudah2an mood nya terjaga terus…..

  24. Wah ceritanya bagus bunda Ratna, jadi terhanyut nich 🙂 Lanjuti lagi bunda 🙂

    Best regard,
    Bintang

    Elindasari,
    Kata para pengkritik, saya malah tak bakat bikin cerita fiksi…hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s