Oleh: edratna | Oktober 13, 2008

Pak tua

Account Officer (AO) Senior yang berada di Kantor Cabang tempat Rita job training ada enam orang, dan semuanya laki-laki…ada yang masih muda, ada yang sudah setengah umur….dan gosipnya berbini dua. Betapapun, Rita harus dekat dengan para AO ini, agar dia bisa memahami pelaksanaan operasional perkreditan dilapangan, bagaimana para AO memasarkan pinjaman, atau bagaimana cara penyelamatannya jika pinjaman menjadi bermasalah. Agar para isteri AO tidak cemburu, saat arisan yang juga dihadiri isteri Pimpinan Cabang, maka Rita minta ijin untuk menjelaskan tugasnya, dan mohon bantuan agar para isteri tak keberatan jika Rita berboncengan dengan suaminya. Boncengan sepeda motor? Tentu saja, lha untuk memahami perkreditan maka Rita harus belajar dari kredit yang paling kecil, dan tentu saja untuk kredit kecil seperti ini, AO dibekali sepeda motor dinas. Lha kalau pakai mobil, nasabah yang usahanya masih kecil itu akan ketakutan duluan.

Begitulah, Rita mulai gantian mengikuti AO meninjau nasabahnya. Sepulang melihat lokasi usaha, kadang Rita diajak mampir di warung pinggir jalan. Apaboleh buat, walau agak takut, tapi Rita percaya mereka tak ada maksud jahat. Sampai suatu ketika, semua AO untuk pinjaman ritel sudah pernah diboncengi Rita, kali ini tinggal pak tua. Rita sudah naik di boncengan, dan sepeda motor mulai keluar halaman Kantor Cabang, saat pak tua bilang. “Mbak, mampir ke rumah dulu ya, form nya ketinggalan,” kata AO yang sudah setengah sepuh itu. Rita hanya berpikir, di rumah juga akan ketemu isteri pak tua tadi. Betapa kagetnya Rita setelah tahu, bahwa isteri pak tua sedang menengok mertuanya, dan di rumah hanya pak tua saja. Akhirnya Rita, yang sudah menahan ketakutan, berkata…”Udah pak, masuk aja, saya tunggu di luar, di bawah pohon kan enak, ada anginnya.”

Akhirnya Rita berboncengan dengan pak Tua ke daerah dekat Krian, dan jalan antara Sidorjo-Krian yang merupakan jalan alternatif, sangat sepi. Pulang dari kunjungan ke lokasi nasabah, di tengah jalan, pak tua menghentikan sepeda motornya, dan menyandarkan di bawah pohon. “Ada apa pak, rusak?” tanya Rita. “Ngadem dulu mbak, mesakne wong ayu-ayu kok kepanasan,” kata pak tua tadi. Rita kaget, mukanya langsung merah, dan langsung bilang “Pak, pergi sendiri ke sana, saya mau nunggu colt aja,” kata Rita menahan marah, walau sebenarnya ketakutan. Jalanan begitu sepi, dan Rita mulai memperkirakan apakah kalau dia lari, pak tua masih bisa mengejarnya. Syukurlah tak lama ada colt lewat, Rita melambaikan tangannya, dan Colt berhenti. Rita langsung meloncat ke kendaraan, tak peduli colt tadi menuju Sidoarjo atau Krian, karena kalaupun ke Krian, nanti akan ada bis yang ke arah Wonokromo, dan bisa dilanjutkan dengan naik colt ke Sidoarjo. Pak tua kaget, dan mengejar colt tadi, tapi terus dihentikan melihat muka Rita yang merah padam, mungkin pak Tua takut kalau Rita berteriak minta tolong.

Sampai Kantor Cabang, Rita yang sudah sangat menahan marah langsung masuk ruangan Pimpinan Cabang. “Ada apa?” kata bos.

Pak, saya ngga mau lagi dibonceng pak tua, dia benar-benar buaya darat,” kata Rita sambil terengah-engah.

Pimpinan Cabang bingung, namun kemudian tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Rita, yang sambil muka merah padam menceritakan kejadian dengan pak tua. “Makanya, lain kali perginya sama saya aja, kan ada sopir. Dan kalau kamu kawatir, kan tinggal teriak kencang, dan saya tak mungkin segila itu Rita, “kata Pimpinan Cabang sambil tersenyum geli. Rita malu sekali, mungkin Pimpinan cabang tahu kalau Rita sempat meragukan dirinya, karena gosip yang tersebar di Kantor Cabang bahwa Pimpinan Cabang tersebut play boy.

Kita punya nasabah yang bergerak di industri tekstil, di jalan raya Kasri, Pandaan. Mau ikut menengok kesana?” tanya Pimpinan Cabang.

Dua hari kemudian Rita menengok pabrik tekstil di daerah Pandaan. Karena memahami perasaan Rita, maka Pimpinan Cabang juga mengajak salah seorang karyawan lain. Perusahaan mengimpor bahan baku berupa kapas dari luar negeri, yang kemudian dipintal menjadi benang. Selesai dipintal, kemudian di tenun menjadi bahan kain, yang bisa dipergunakan bermacam-macam jenis kain sesuai keinginan klien. Produksi sebagian besar diekspor, dan hanya sedikit yang dijual di pasar dalam negeri.

Rita yang penasaran bertanya, kenapa kapasnya mesti import dari luar negeri. “Ya, mbak, kalau kita mengandalkan kapas dalam negeri, bahan baku tak mencukupi dan kemudian kualitas kapasnya berbeda-beda, itu akan berisiko hasil ekspornya tak sesuai dengan L/C. Jadi kami tetap menggunakan bahan baku dalam negeri, tapi untuk menjaga kualitas maka produk yang diekspor bahan bakunya juga diimpor dari luar negeri,” kata manager produksi pabrik tersebut menjelaskan. “Karena bahan baku diimport, namun produk sebagian besar di eksport, maka sebetulnya risiko rendah, karena bisa hedging secara natural,” kata Manager Produksi menambahkan.

Sejak itu, Rita banyak diajak meninjau berbagai jenis usaha nasabah oleh Pimpinan Cabang. Rita juga makin akrab dengan isteri Kepala Cabang, yang merasa punya teman diskusi, karena isteri Kepala Cabang yang sebetulnya lulusan S1 UGM terpaksa tidak bekerja karena mendampingi suami yang setiap 2 atau 3 tahun sekali dipindah tugaskan ke berbagai kota di seluruh wilayah Indonesia. Rita juga sempat diajak berlibur bersama keluarga Pimpinan Cabang dan putra putrinya, betapa menyenangkannya, padahal dulu Rita begitu takut, hanya karena gosip yang tidak jelas.

Catatan: (terjemahan bebas)

Hedging = lindung nilai, berguna untuk melindungi risiko kenaikan atau penurunan kurs bagi perusahaan yang bergerak dibidang usaha yang ada unsur valas atau ekspor import nya.

L/C= Leter of Credit, merupakan fasilitas perbankan yang digunakan oleh nasabah jika akan mengimport bahan baku. Nasabah dapat membuka L/C pada Kantor Cabang Bank Devisa terdekat, dengan membayar marge storting, dan sisanya akan dilunasi saat barang atau dokumen tiba. Dalam hal ini Bank hanya berhubungan dengan dokumen.

Ngadem dulu mbak, mesakne wong ayu-ayu kok kepanasan = Berhenti agar merasakan dingin, kasihan cantik-cantik kok kepanasan

Iklan

Responses

  1. ini pak tuanya yang bener2 mbajing atau rita yang parno-an ya?

    Edel,
    Entahlah…tapi harap maklum, Rita gadis daerah yang lugu, lurus, jadi maklum takut sama laki-laki…..hehehe
    Fiksi lho Cyntia, biar seru aja….

  2. cuma fiksi ya bu,, tapi asyik baca nya

    zoel chaniago,
    Memang hanya fiksi….

  3. Sejak dulu saya senang nonton film seri tv dengan latar-belakang profesi dan kebetulan yg banyak adalah kedokteran (seperti Dr. Kildare jaman masih tvri, lalu belakangan ER, Grey’s Anatomy dll.), juga hukum/polisi (LA Law, Boston Legal, CSI, Bones dll.)

    Sayangnya yg berlatar-belakang sains/teknik nggak ada ya? mungkn kurang menarik.

    Siapa tahu cerita Ibu ini bisa mempelopori serial tv yg berlatar belakang finance ya.

    Oemar Bakrie,
    Dulu di Kompas pernah ada cerita bersambung yang menggambarkan intrik di dunia pialang saham…saya lupa judulnya, udah lama sekali, dan saya masih awal bekerja di lembaga Keuangan. Dan saat itu Lembaga Keuangan di Indonesia masih sangat sederhana. kalau tak salah malah sebelum dilakukan deregulasi, dan Bank BUMN dibagi berdasarkan sektor usaha tertentu yang boleh dilayani. Jadi, saat itu saya terpesona membacanya…dan senangnya happy ending…sayang saya tak pernah ketemu bukunya.

    Sebetulnya kondisi pasar Modal dan Finance di Indonesia saat ini bisa dibuat cerita menarik…tapi entah kenapa, kayaknya kaum dokter malah lebih pandai menulis ….

  4. Saya datang, saya baca, saya komentar hehehehe.. Lha Pak Tua ini kok senangnya mampir-mampir, pantas mbak Rita makin takut.

    Salut Ibu produktif menulis, sejak kita ketemu di Citos sampai hari ini sudah ada beberapa tulisan Ibu, sementara saya masih menunggu waktu yang pas buat menulis.

    Wah Ibu juga hafal beberapa fakta semisal di Jalan Raya Kasri ada pabrik Textil, kalau nggak salah namanya juga Kasri ya Bu?

    Yoga,
    Di jalan Raya Pandaan, yang berlanjut ke jalan Raya Kasri memang ada pabrik tekstil di kanan jalan, dari arah Surabaya. Tapi bukan pabrik ini lho….lha cuma fiksi, tapi saya memang sering keluyuran ke daerah sana. Dulu saat masih SMP, saya pernah menari dengan rombongan di Chandra Wilwatikta, Pandaan…mandi di sungai yang masih bening berbatu-batu besar.
    Sekarang di depan Chandra Wilwatikta ada restoran yang enak…terutama ayam gorengnya….lha kok menanggapinya malah melantur.

    Sering menulis? hehehe….kalau susah tidur terus bikin outline.….cuma masih berupa potongan-potongan….

  5. sangkain beneran bu …

    Hedy,
    Hehehe…sekedar imaginasi….kalau ada ya pak tua udah dimusuhi sama orang

  6. bukan pengalaman pribadi kan bu? 🙂

    meski fiksi tp paling ga saya bs membayangkan perjuangan tmn2 AO di kantor cabang, salut buat mereka…

    Pimbem,
    Hmm….. ceritanya sudah di rekayasa, bukan beneran.
    Tapi job training kan udah mengalami, dan dulu saya dua tahun, lamaa banget sampai bosan.

  7. padahal buaya itu termasuk binatang yang setia 🙂

    Berjaga2 lebih baik khan bu, kalau saya ada di posisi mbak Rita mungkin juga akan melakukan hal yang sama

    Elys Welt,
    Wahh saya tetap takut dekat buaya….kalau dia membuka mulut lebar-lebar, kan seluruh badan kita bisa masuk kedalamnya.
    Ceritanya memang pak tua “agak nyebelin” dan jalanan sepi, di tengah sawah…jadi ya kawatir juga, karena jauh dari mana-mana.

  8. Wew, ternyata Bu Edratna ini juga sangat mahir dalam membawakan cerita fiksi, bagus banget. Dari gaya penulisan maupun pesan yang ingin disampaikan sangat mengena…. 🙂

    Sapimoto,
    Hehehe…ini hasil obrolan dengan Yoga, jadi berani memulai…makasih ya Yoga….

  9. Awalnya saya sangka ini cerita beneran hasil curhatan seseorang pd ibu. Ternyata fiksi. Bagus bu, saya senang membacanya

    Indra KH,
    Sesekali cerita yang ada nyenggol perbankan ya….walau senggolannya dikiiiit….

  10. fiksi yang menarikkkk

    qizinklaziva,
    Mudah2an pembacanya tak bosan…

  11. “Pak, pergi sendiri ke sana, saya mau nunggu colt aja.”

    Waduh-waduh… sadis banget si Rita bu. Coba dia cari alasan atau bahasa yang lebih halus. Pasti Pak Tua akan salut dan jadi menghormati Rita.

    Nurrosyidah,
    Ceritanya Rita gadis lugu, dan semengit, dia sebel banget lihat pak tua yang punya bini dua. Sebetulnya Rita tak ingin ikut pak tua, tapi kewajiban membuatnya harus juga melihat lokasi usaha yang merupakan account pak tua.

    Dan jalan antara Krian-Sidoarjo sangat sepi, di kiri kanan hanya sawah dan ladang membentang, jadi membuat Rita begitu ketakutan…

  12. curiga tidak boleh tetapi harus tetap waspada, benar atau tidak ya bu??

    Hanggadamai,
    Betul…..tetap harus waspada….

  13. U nya aja yg ngak tahu…
    Kali aja pak tua tuh menjalankan pesan Emak untuk menjaga kamu…

    Jgn curiga dulu…

    Jay,
    Begitu ya…..?

  14. semua selalu membawa hikmah

    ILYAS ASIA
    ,
    Hmm..mungkin….

  15. nice story,,, blognya juga bagus, saya baru prtma ke blo ini.. 🙂 Slam knal, sukses selalu

    Ardy Pratama,
    Salam kenal juga, makasih telah berkunjung…..

  16. He… he… saya justru terkesan dengan pak tua yang godain Rita. Ternyata tua-tua kelapa, makin tua santannya makin kenthel…

    Mufti AM,
    Hehehe…di dunia nyata kenyataannya memang masih ada kan?

  17. Sepertinya ini bukan fiksi deh Ibu…

    Dony Verdian,
    Fiksi? Non Fiksi?
    Waduhh…mesti tanya Daniel nih, beda fiksi dan non fiksi….pengertianku fiksi kalau ceritanya bukan kejadian sebenarnya….tapi kotanya atau daerahnya boleh dipakai sebagai setting cerita.

  18. Bunda saya bisa membayangkan semua daerah yang ada dicerita itu. Krian, Sidoarjo dan juga pabrik pemintalan di daerah industri Pandaan. Jadi bisa bayangin ceritanya. thanks

    Yulism,
    Settingnya benar, tapi ceritanya khayal lho….

  19. Sebelum mengomentari “Pak Tua”, tengah malam ini aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun pada Bu Enny (14 Oktober).

    Di usia ini Ibu malah berhasil menulis fiksi. Kado yang indah untuk Ibu sendiri. Great!

    Sehat, lancar, serta bahagia selalu, Bu Enny… 🙂

    Amin.

    (makan-makan… Hihihi!)

    Daniel Mahendra
    ,
    Makasih, betul-betul kejutan yang menyenangkan….makasih doanya. Amien.
    Mudah2an tulisan kategori fiksinya nanti semakin bagus, ini lagi latihan dan masih bingung….tapi kan harus maju terus….
    Makan-makannya ntar kalau Daniel ke Jakarta, dan waktunya match…

  20. satu hal yg perlu digarisbawahi adalah kerja diperbankan harus mau belajar terus menerus.

    o ya bu. dilanjut aja fiksinya. intrik dan sejenis-nya perlu diolah lagi biar lebih tajam

    Zulmasri,
    Saya coba untuk meneruskan, mudah2an mood nya terjaga….
    Thanks dukungannya….

  21. Sensitif mendengar kalimat makan-makan hehehe…
    Ibu sehat selalu ya Bu 🙂

    Yoga,
    Makasih doanya….kan masih ada tahap kedua…??
    Semoga bisa ketemu lagi…

  22. lagi2 sy larut membaca tulisan ibu, sungguh luar biasa, bisa mengalahkan andrea hirata atau Habiburrahman 🙂

    tapi sy koq jadi berfikir dan mencoba menyimpulkan, sebegitunya yah pekerjaan di bank, banyak hal2 yg menakutkan misalnya terjadi hal yg tidak2 seperti bapak tua terhadap rita, atau gosip tentang pimpinan cabang. separanoid itukah?
    hmm.. 😀

    Arul,
    Waduhh jangan dibandingkan…lha wong baru latihan.
    Bekerja di bank memang harus hati-hati, karena bila tergelincir,berisiko hukum, bisa perdata dan bisa pidana.
    Kalau soal manusia, rasanya kisah seperti pak tua di dunia nyata masih banyak terjadi…..Gosip kan memang selalu ada, dan pimpinan kan memang selalu digosipin oleh anak buahnya.

  23. pak tua sudah lah

    Ronggo Tunjung Anggoro,
    Sifat pak tua itu manusiawi….

  24. Selamat Ulang Tahun, Bu!

    Kunderemp,
    Makasih nak, ibu senang dan terharu mendapat teleponmu. Hati-hati disana ya…..

  25. Ah, Ibu ulang tahun ya hari ini?
    Selamat ulang tahun, Ibu…
    Lala doakan yang baik-baik buat Ibu…

    Mengkomentari Pak Tua,
    saya pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Rita.

    Itu kalau fiksi.
    Kalau non fiksinya?

    Siapa yang berani gangguin saya yang sangar kayak preman ini? Haha…

    Jeunglala
    ,
    Untung Rita bukan Lala….mungkin pak tua langsung keder…..hehehe

  26. Ngadem dulu mbak, mesakne wong ayu-ayu kok kepanasan

    … hhmm …
    gara-gara kata-kata itu Rita ketakutan ???
    harus dilihat dulu “binar” mata pak Tua …
    ada yang aneh atau tidak …

    ini fiksi ekonomi yang menarik ibu …
    (bisa jadi “genre” tulisan baru nih )

    NH18,
    Makasih dukungannya…mudah2an bisa menjaga mood untuk terus melanjutkan kisah Rita, dalam penggalan cerita pendek…namanya juga baru latihan….

  27. Perpaduan pengalaman dan imajinasi, sangat menarik untuk dicermati dan dipelajari,.. 🙂

    Avartara,
    Risk management juga bisa dibuat kisah menarik lho…kasus Nick Leeson, kasus Lehman Brothers….dan banyak sekali case yang bisa jadi isnpirasi. Avartara mau mencoba?

  28. gak dikisahkan pak tua diapain di kantor 😀

    Dobelden,
    Kan dibuat open ending…..mulai penasaran?

  29. ih bu… ini bacanya sampe lupa kalo cerpen… brasa lagi diajarin sesuatu yang baru yang ga pernah denger atau merhatiin sebelumnya heheheu

    tapi apa diambil dari kisah nyata seseorang bu? 😉

    Natazya
    ,
    Kisah nyata? Ada beberapa penggalan, tapi hanya settingnya….ceritanya sih khayalan….

  30. Numpang ngadem disini bun ya…siapa tahu ada yang mau di boncengin hi hi hi….

    Inilah kadang2 orang menebak yang nggak-nggak. Bahkan sampai menduga-duga. Padahal kalau kenyataannya pak tua mau ngadem dan kasian sama rita gimana tuh bun? mudah2an rita nggak ke ge-eran deh…salam buat rita. Siapa tahu bisa saya bonceng ha ha ha (*canda*)

    Pakde,
    Kayaknya kalau Pakde yang boncengi Rita, dia nggak bakalan takut deh, walau diajak ngadem, karena memang lagi kepanasan dan mau ambil nafas sebentar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: