Oleh: edratna | Oktober 16, 2008

Harapan yang tak pernah padam

Mbak Sri hanyalah seorang pegawai rendahan. Pekerjaannya adalah bagian penataan arsip, sehingga setiap kali Rita akan berhubungan dengan mbak Sri, jika ingin meminjam manual perkreditan, serta peraturan lainnya. Sebagai seorang trainee, maka Rita harus mempelajari seluruh operasional Kantor Cabang, termasuk membantu mengelem amplop. Entah kenapa, saat itu amplop surat dibuat sendiri, dan hanya berupa lembaran yang sudah tercetak logo dan alamat Kantor, selanjutnya harus di lem di kiri kanannya. Selain itu, mbak Sri harus mengarsip bukti transaksi yang ribuan jumlahnya setiap hari, mengelemnya harus hati-hati, karena ini nantinya bisa dijadikan alat bukti jika ada perkara di pengadilan…jadi yang di lem hanya ujungnya saja…dan ditempel dalam suatu buku besar.

Tempat duduk mbak Sri di pojok yang sempit, dekat lorong yang ke arah toilet. Jika tidak memperhatikan dengan saksama, sosok mbak Sri adalah tipe orang yang tak terlihat, tak menjadi perhatian, apalagi selalu bekerja di meja yang penuh tumpukan barang. Karena sering meminjam buku, lama-lama mbak Sri membiarkan Rita mengobrak abrik sendiri perpustakaan Kantor, dan akhirnya Rita menjadi akrab dengan sosok mbak Sri.

Rita juga mengamati, di Kantor Cabang itu ada kelompok pertemanan, ada kelompok yang setiap kali istirahat bergerombol makan, dan mengobrol dengan ceria, kadang mereka makan di luar. Rita pernah diajak makan keluar bersama kelompok ini, mereka adalah kelompok anak muda usia akhir 20 an dan awal 30 an, selalu gembira, menyukai musik, sport, dan terasa tak ada beban. Bersama kelompok ini hati terasa riang gembira, seolah tak ada hal yang menggayuti pikiran.

Kemudian ada kelompok orangtua, yang “agak terpinggirkan”, mereka sudah berusia diatas 40 tahun, dan pekerjaannya bukan di bidang yang berperan penting dalam Kantor Cabang tersebut. Kelompok ini antara lain adalah mbak Sri. Dapat dibayangkan, betapa senangnya mbak Sri, saat Rita mengajak mengobrol, menanyakan keluarganya dan sering duduk bersama-sama membantu mengelem amplop. Mbak Sri hanya hidup dengan putri tunggalnya yang masih berusia 7 (tujuh) tahun, yang dititipkan pada tetangganya, karena saat putrinya pulang sekolah, mbak Sri masih di kantor sampai jam 16.30 wib. Suatu ketika mbak Sri menawarkan pada Rita, jika ingin berkunjung ke rumahnya. Tentu saja Rita menyambutnya dengan hati gembira, dia ingin tahu seperti apa kondisi keluarga mbak Sri.

Suatu hari, pulang kantor Rita ke rumah mbak Sri, yang terletak di perkampungan padat penduduk. Sumur yang untuk mengambil airnya melalui timba, terletak di tengah lingkungan sekitar 4-5 rumah penduduk, yang rata-rata berdinding papan campur bambu (gedeg). Toilet pun digunakan bersama-sama. Tapi ada hal yang membuat perasaan Rita menjadi nyaman, mereka sangat ramah tamah dan menyambut Rita seolah-olah keluarganya sendiri. Sore itu Rita lama di rumah mbak Sri dan baru pulang menjelang Magrib, banyak sekali percakapan dengan mbak Sri yang membuat Rita termenung. Ternyata mbak Sri telah ditinggalkan suami yang jatuh cinta pada perempuan lain, saat anaknya masih belum genap berumur setahun. Untuk menambah keuangannya, mbak Sri sering diminta membantu isteri Pimpinan Cabang membersihkan rumahnya, dan memasakkan makanan. Rita berpikir, jika Pimpinan Cabang yang isterinya baik hati itu dipindah tugaskan ke kota lain, bagaimana nasib mbak Sri dan anaknya?

Dik, Gusti Allah Maha Adil, jangan ikutan sedih, nanti juga ada jalan keluarnya,” kata mbak Sri. Namun Rita tak bisa berhenti memikirkan mbak Sri. Esok paginya dalam suatu obrolan, Rita mengatakan, kenapa mbak Sri di waktu luangnya tak ingin mencoba menambah penghasilan, dengan membuat rempeyek, kripik dan sebagainya, yang nanti dititipkan di pasar? Mungkin kalau untuk uang sekolah putrinya, mbak Sri bisa membiayai sampai lulus SMP, tapi bagaimana selanjutnya?

Rita tak bisa mengikuti perkembangan usaha mbak Sri, karena harus berpindah-pindah mempelajari unit lain, termasuk harus belajar mikro kredit di suatu unit mikro yang agak ke luar kota. Namun suatu ketika, saat kembali ke Kantor Cabang tersebut, ada teman yang menawari makan rempeyek, dan saat Rita mengatakan rempeyeknya enak, teman tadi mengatakan bahwa itu rempeyek bikinan mbak Sri. Sejak itu mbak Sri di waktu luang menambah penghasilan dengan membuat rempeyek pesanan teman-teman, yang kemudian meluas pada saudara temannya…syukurlah kehidupan mbak Sri akhirnya semakin membaik.

Iklan

Responses

  1. Ini beneran fiksi?
    *curiga

    Kunderemp
    ,
    Hush….hush…sana jangan gangguin…..
    Cerita memang khayalan…tapi boleh juga kan karena mendapat inspirasi dari orang lain?
    Entahlah…saya juga masih bingung? Ehh nak, caranya memback up tulisan ini bagaimana? Bisa nggak, setiap kali engkau memback up tulisan ibu….harus pake pasword ya?

  2. waahh..saya salut sama cerita2 ibu, emang siy zodiak libra pintar bikin cerita2 fiksi/non fiksi, puisi, dll yaah

    Cutemom cantik,
    Doakan mood nya terjaga ya….

  3. ^
    ^
    ^
    iya nih bu…, jadi ikutan curiga…?

    soalnya ceritanya mengalir sekali,
    seolah-olah,
    ibu jadi salah satu aktor, eh salah, Aktris di dalam cerita itu …

    gbaiquni,
    Cerita pasti ada hubungan dengan pengalaman penulisnya, entah itu benar ada atau ditambah imaginasi penulis….hahaha…silahkan menebak sendiri….

  4. wah, jangan dipassword, bu!! Saya selalu kesulitan kalo buka postingan yang terproteksi 😮 bisa tersiksa saya nggak bisa membaca tulisan bu Enny yang banyak hikmahnya ini!! Tidaaaaakk… *dramatis mode : on* 😀

    Darnia,
    Maksudnya jika anakku membutuhkan bisa mengakses pembetulannya…untuk membuat back up, karena dia di benua lain. Biasalah emak-emak gaptek, kalau ada apa-apa yang ditanya anaknya…dan untuk itu dia perlu pasword blog ini.

    Kalau soal di pasword bagi pengunjung, ya enggaklah, ini memang biar mudah dikunjungi kok….kan niatnya sering pengalaman, dan saya sering dapat ide tulisan dari komentar para pengunjung blog ini.

  5. Ibu, saya akan kembali lagi nanti dengan komentar yang lebih serius. Saat ini saya sedang terburu-buru.

    Yoga,
    Tenang aja….tidak perlu buru-buru….

  6. Wah saya juga curiga nih. Sepertinya pengalaman pribadi. Hehe…
    Mbak Sri, wong cilik yang hebat. Begitu menerima ide baik, langsung dipraktekkan dan berhasil.
    Salam ya bu sama mbak Sri (ada kan orangnya) hehe…

    Irna,
    Hmm…hmmm…silahkan menafsirkan sendiri….
    Mbak Sri? Itu kan karangan…hahaha…yang ada si mbak di Bandung namanya mbak Sri….

  7. wah…mbak edratna emang seorang cerpenis (emang ada ta ??), postingannya selalu berisikan cerita2 indah 😉
    *jangan ngences gitu dong mbak karna gw puji 😉

    Okta Sihotang
    ,
    Cerpenis? Du…du..du…lha nulis aja baru mulai di blog ini…dulu hanya tulisan yang analisis dan penuh angka.

  8. Bu, saya sekarang pake Zoundry Raven untuk bikin tulisan blog. Soalnya bisa dimasukin ke flash disk, terus dibawa-bawa, dan punya back up tulisan kita. Dia otomatis mendownload semua tulisan yang sudah kita buat ke flash disk. Apalagi kalau punya beberapa blog, bisa dibikin arsip yang diakses dari satu jendela saja. Enak.

    Iwan Awaludin,
    Makasih sarannya tapi saya tetap bingung. Nanti saya diskusi sama anakku, maklum pak, soal IT saya bingung…..

  9. Terkadang dalam hidup ini kita cuma perlu sedikit saja dorongan dan penegasan dari orang lain.

    Rafki RS,
    Kita harus tetap mencoba melalui pintu-pintu lain, dan mendiversifikasi risiko….

  10. hoho. kerja tambahan. jadi pengen…

    (^_^)v

    kadang orang-orang itu hanya butuh dorongan dan dukungan untuk bisa mewujudkan mimpinya.

    Farijs van Java,
    Kita tak boleh cepat puas, tapi selalu mencoba hal-hal lain….

  11. fiksi yang mirip dengan nyata ..ya kan bunda heheheh

    Yessymochtar
    ,
    Hemm…hemmm…..karena bentuk ceritanya memang menggambarkan dunia sehari-hari….

  12. Ibu EDRatna …
    Cerita Rita Berlanjut …
    Dan ini menarik bu …

    Tidak sabar menunggu cerita Rita selanjutnya …

    (and BTW tugas saya sekarang antara lain adalah memonitor … Rita-Rita yang lain di perusahaan saya bu …). (So after inclass training … kemudian On The Job Training …)

    (ini juga sekaligus mungkin bisa membuka wawasan saya …)

    Nh18,
    Coba pak ditulis…pasti menyenangkan, dan bisa menjadi inspirasi bagi yang lain.
    Saya juga atas dorongan postingan DM nih….harus berani…tulis terus….embuh lah kategorinya apa yang penting nulis terus….

    Makasih Bu

  13. based on the true story? hehe.. salut deh bisa mengalirkan kisah dalam sebuah tulisan

    Kucing keren
    ,
    Dari serpihan kenangan, pengamatan, plus imaginasi….entahlah apa namanya itu….
    Memang penulisnya sendiri masih bingung…fiksi? Non Fiksi? terus bedanya apa….kita tunggu aja postingan dari ahlinya nanti, kalau beliau udah sempat….

  14. Kalau saya perhatikan, Ibu itu adalah seorang pendidik yang baik dan ingin selalu melihat orang lain berkembang atau lebih baik nasibnya.

    Dilihat dari cerita Rita, sampai2 si mbak Sri dapat menambah penghasilan dengan membuat rempeyek dan si mbak itu termotivasi oleh tindakan, perbuatan, saran dan support dari Rita

    Jadi pasti ………ini merupakan secuil pengalaman Ibu yah? he….he.. nebak2 boleh ya bu.

    Tini,
    Kadang kita harus punya teman yang mau mendengar, dan dengan cara sederhana sudah bisa menambah penghasilan….
    Dan hal ini umum terjadi, para karyawati menambah penghasilan, dengan memasak, dan masaknya hari libur…jadi yang pesan juga harus tahu. Ada juga yang berjualan, dari baju kantor, mukena dan lain-lain….

  15. Menemukan satu tokoh baru dalam serial Rita. Mbak Sri. (namanya sama dengan nama asisten Ibu yang pintar itu). Lakon hidup yang seperti ini banyak terjadi dalam hidup nyata. Saya bisa membayangkan keseluruhan cerita kehidupan Rita didunia perbankan akan sangat membumi dan mudah dipahami oleh awam. Ibu, apakah Ibu ingin menyampaikan ke kami bahwasanya tak selamanya kehidupan karyawan bank seperti yang nampak dari luar yaitu serba wah, rapi, wangi, dan banyak uang. Tetap saja ada karyawan yang tidak masuk dalam kategori demikian. Jadi penasaran, tokoh siapa lagi yang akan dikenalkan Ibu ke kami.

    Terus menulis ya Bu. Walau minggu-minggu mendatang Ibu sibuk, tapi draft tulisan di blog kan bisa diatur kapan akan diterbitkan. Jangan khawatir, kami akan sabar menunggu balasan komentar Ibu.

    Yoga,
    Ini masih nggak konsisten, karena kok ya sulit…tapi saya coba untuk maju terus…jangan mikirin tag, ntar malah bingung.

    Pada kenyataannya, karyawan yang harus rapih dan wangi adalah yang berhadapan langsung dengan nasabah, petugas teller (yang ada di counter), customer servise, juga seorang Account Officer. Dan untuk mendukung ini, para AO juga mendapat pendidikan kepribadian, etika makan, cara berpakaian dsb nya….walau kenyataannya memang tak mudah juga…namun tetap ada gunanya, secara bertahap akan terlihat….

    Betul, kalau karyawan yang berkutat dilapangan, tentu berbeda dengan yang berada di gedung AC terus…jadi jangan heran seorang AO harus bisa kayak bunglon, kadang berpakaian rapih dan konservatif (berblazer hitam) jika ada meeting dengan kreditur lain (untuk kredit sindikasi), kadang harus berjeans ria kalau lagi kelapangan…..seperti meninjau tambak, kebun sawit dsb nya.

  16. Ibu Enny…

    Saya juga senang sekali mengarang fiksi dan kebanyakan memang dari pengalaman pribadi yang saya buat se-hiperbolis mungkin supaya seru 🙂

    Memang,
    kalau terinspirasi dari kehidupan nyata, biasanya sih mengalir lebih lancar….

    Sambungannya ditunggu ya, Bu…

    Have a great day!

    Jeunglala,
    Waduhh …karanganmu bagus-bagus Lala….saya masih belajar kok, dan entah bisa terus apa tidak…hehehe….suka angot-angot an.

  17. waah..ntar sy baca lanjutan ceritanya lagi.. 😀
    to mbak Sri..Salut!

    Asyafe,
    Makasih….

  18. akhirnya saya membaca fiksi ibu enny.
    bagus, bu, diteruskan ya?
    saya menikmati ceritanya.
    apalagi banyak pesan moral yang bisa ditimba dari sumur mbak sri, eh, maksud saya ditimba dari cerita yang ibu tulis.
    salam prosa, bu!

    marshmallow
    ,
    Yang penting berani dulu ya…..dan juga berani menayangkan…lha banyak yang udah lama, ragu-ragu…hehehe…

  19. Kalo dikembangkan lagi,bisa diangkat jadi FTV lho. Pasti bakalan banyak penonton yg mendapatkan pencerahan.

    Dony Alfan,
    Kayaknya masih sangat jauh……tapi siapa tahu….
    Ada nggak ya kursus mengarang?

  20. wah ibu endratna suka bikin cerita fiksi rupanya. udah pernah coba bikin skenario bu :D. btw saya juga punya cerita tentang sri lho disini
    http://blog.ardyansah.com/?p=36

    Mantan Kyai,
    Ini pengin mencoba menulis pake gaya lain..
    O, iya saya sudah meluncur ke TKP….

  21. Ceritanya menarik Bunda, jika base on true story juga ga masalah. Malah lebih enak untuk dinikmati karena seperti kehidupan nyata. Tidak seperti sinetron Indo jaman saya masih disana. Kurang tahu sekarang ya? terimakasih

    Yulism,
    Saya juga jarang nonton sinetron…malas…hehehe

  22. hi bu, aku jadi terkesan nikh baca tulisan2 ibu, menarik sekali,.. boleh tahu gimana sikh membuat blogger baru bu? terima kasih ,… aku juga ada keinginan untuk share pengalaman hidupku sikh,… terima kasih ..

    Ahan,
    Saya dulu dibuatkan anakku.
    Tapi Ahan bisa baca blognya adik bungsuku di sini
    http://triwahjono.wordpress.com/2008/09/19/cara-termudah-bikin-blog/#comment-3686

  23. mba sri ini mungkin nyata dan sedikit dihiperbolis. tapi pelajaran yang diberikan begitu berarti untuk membangun rasa optimis. sebuah semangat untuk merubah bangsa yang skeptis. dengan langkah-langkah sederhana dan praktis. tidak perlu bermula dari yang segala gratis. tapi dari perjuangan yang menggunakan pikiran2 taktis dan strategis. sehingga secara bangsa dengan adanya tantangan zaman saat ini kita bisa nangkis. bukan cuma nangis. atau bahkan mengemis.
    momentum amerika yang krisis. ini bisa menjadi sarana kita untuk introspeksi dan meningkatkan daya analisis. akhirnya saya juga tergelitik bikin artikel yang pengennya populis. tapi apapun jadinya saya memang hanya berharap ibu berkenan berkunjung dan jangan lupa bu, kasih komen plis…
    http://trendibandung.wordpress.com/2008/10/16/this-is-the-american-crisis-untuk-indonesia-menangis/

    Tren di Bandung,
    Wahh sanjungan bagiku, kalau dibilang hiperbolis…katanya tulisanku terlalu to the point….dan sederhana, seperti obrolan seorang ibu dengan anaknya

  24. Seharusnya masih banyak mbak Sri lagi di kampung saya bu. Agar menjadi kampung yang lebih baik lagi.

    Cepaxu,
    Sebetulnya banyak kok yang bisa dilakukan, mereka hanya perlu dorongan.
    Saya melihat ada kompleks yang ibu-ibu nya setelah mengurus rumah menjahit, menyulam sesuai pesanan….jadi ada pemasukan.

  25. Ternyata Friksi tho…q pikir beneran….ckckckckckck.

    Hidayat,
    Memang fiksi, tapi saya yakin banyak mbak Sri lain di dunia nyata….

  26. Kadang sosok seperti mbak Sri ini memang hampir tak pernah dilirik. Meskipun pekerjaann ya terlihat sepele namun ia justru memberikan manfaat yang begitu besar bagi kepentingan perusahan. Yang kecil bukan berarti tak memberikan kontribusi yang kecil pula.

    Mufti AM,
    Bukankah kita hanya merupakan bagian dari sekrup…dan setelah dipasang dengan bautnya, dirapihkan, barulah bisa menjadi alat. Tapi memang ada bagian yang merupakan profit center, dan ada bagian garis belakang. Bagian profit center kelihatan menarik, keluar terus, banyak berhubungan dengan orang lain….yang tak pernah dilihat, risikonya juga sangat tinggi. Jadi semua adalah pilihan…atau takdir?

  27. Salut buat Rita yg ga sombong dan memperhatikan org kecil.. masukannya buat Mbak Sri yg mungkin hanya terlontar selintas lalu dr bibir Rita sungguh diresapi sekali oleh Mbak Sri, dan bahkan diwujudkan..

    oh iya bu, ngomong2 soal Mbak Sri kok saya jd inget sm salah satu asisten rumah tangga ibu yg sering ibu ceritain, bener kan saya?

    Pimbem,
    Rita memang harus bisa bergaul dengan siapa saja, agar mendapatkan informasi. Tanpa komunikasi baik, dia juga bisa tak lulus ujian, karena job training masih sistim gugur…

  28. Subhanallah buat bu Sri, wanita panutan hati, itulah saya mengatakan wanita itu adalah semangat dan kerja keras.

    *btw sy juga curiga jangan2 aktris utamanya ibu sendiri hehehe :mrgreen: *

    Arul,
    Artis utama? Terserah pendapat Arul aja deh….

  29. If there is a will, there is a way…. begitulah seringkali kata-kata klise ini bergema… walaupun klise tentu saja peribahasa klise Inggris tersebut selalu ada benarnya…..

    Yang selalu menjadi hambatan biasanya adalah momentum untuk memulai sebuah usaha. Biasanya berfikirnya macam2, akankah saya berhasil? Bagaimana memulainya? Ah… si X saja tidak terlalu berhasil kok…., cara menjualnya bagaimana, dsb….dsb…..

    Namun begitu momentum tersebut berhasil diraih maka sebenarnya jalan tersebut sudah terbuka, hanya tinggal bagaimana kita memilih dan memuluskan jalan tersebut (walaupun tetap saja tidak mudah, namun yang penting momentum sudah diraih…..)

    Yari NK,
    Betul…memang paling sulit adalah mengawali…sama seperti mengawali menulis blog ini….hehehe

  30. Eloook…rumitnya pekerjaan mbak Sri…Ini ada benerannya kali ya bu ratna ?
    Sekarang masih banyak mbak Sri mbak sri lain nggak ya ?// yang mau melakukan pekerjaan dengan cinta

    Dyah Suminar,
    Mbak Sri yang lain masih banyak bu…dan memang harus melakukan pekerjaan dengan cinta, kalau tidak malahan stres….dan bagi yang bekerja dengan hati, maka tidak ada keluhan dan tuntutan, karena ikhlas. Tugas pimpinan yang harus memperhatikan, mendidik, mengirim ke pelatihan, agar mereka juga meningkat kualitasnya.

  31. bu oh bu kau benar benar bisaan sekali ih bu membuat cerita yang sangat kehidupan…

    *irikarenacumaberhentidicintacintaan 😆

    Natazya
    ,
    Saya juga masih belajar…siapa bilang tulisan Natazya tak bagus…kan banyak yang berkunjung dan memberi komentar. Katanya yang penting berani menulis dulu, nanti akan terlatih…hehehe…saya sok tahu, padahal juga nggak tahu bagus apa tidaknya…

  32. Hmmmmmmmmmm syukurlah masih ada tipe2
    Rita di dunia ini. Sayang tipe ini termasuk jenis tipe langka yg harusnya di lestarikan spy tidak punah.

    Mutiara Dewi,
    Sebetulnya tipe Rita masih banyak kok……saya banyak menemukan dilingkungan kerjaku dan lingkungan pergaulan suamiku….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: