Oleh: edratna | Oktober 21, 2008

Jika isteri-isteri beranjangsana

Kali ini isteri pak Bambang agak stres dan uring-uringan. Rasanya sebal sekali, dia barusan membuka lemari baju, betapa menyedihkannya. Dia mencoba menelusuri baju-baju yang tertata rapi di almari, siapapun akan mengatakan bahwa bu Bambang patut berbangga, mempunyai koleksi baju yang bagus. Memang bu Bambang tak bisa dibandingkan dengan ibu lain, yang koleksi bajunya lebih luar biasa, tapi selera bu Bambang terkenal anggun, bahkan baju yang biasa-biasa saja terkenal manis dan serasi jika dipakainya.

Undangan untuk ikut menemani ibu bos beranjangsana membuat ibu Bambang senewen. Yahh, katanya ibu bos dari Kantor Pusat ini terkenal sulit, dan juga suka mengkritik penampilan ibu-ibu yang berada di bawah posisi suaminya. Entah sejak kapan, seolah-olah kalau sudah menjadi isteri bos, semacam mendapat pengakuan bahwa dia juga menjadi bos dari isteri para karyawannya. Padahal banyak dari isteri karyawan yang berkarir dan berpendidikan lebih tinggi di bidangnya masing-masing. Apa boleh buat, budaya kita memang masih seperti itu, dan para isteri harus menyesuaikan, apalagi konon katanya karir suami akan terpengaruh jika tidak bisa ber baik-baik dengan isteri bos.

Pa, malu kan, mosok baju mama ini melulu. Kan yang merah itu udah dipakai arisan bulan lalu,” bu Bambang mencoba merengek.

Lho kan masih ada baju lainnya,” kata pak Bambang.

Papa mau, orang ngomongi mama, bajunya itu-itu aja, nanti kan nama papa juga yang kena,” rengek sang isteri.

Ahh, siapa bilang, karirku di kantor tak ada hubungannya dengan jumlah bajumu,” kata papa sambil keluar ruangan.

Bu Bambang, yang awalnya hanya sekedar merayu suami, untuk mau menambah uangnya, akhirnya menangis beneran. Betapa senangnya bu Samsu, yang setiap kali minta tambahan uang, suami langsung memberi tanpa bertanya macam-macam. Dilingkungan ibu-ibu, bu Samsu memang yang paling modis, bajunya mengikuti mode, dasar orangnya cantik, dan suaranya enak. Konon katanya mantan penyiar radio yang cukup terkenal di kota ini.

Apa boleh buat, kali ini bu Bambang mencoba memakai gaun yang netral, cukup menarik, tapi tak menyaingi isteri bos. Maklum jangan sampai penampilan isteri bawahan melebihi penampilan isteri bosnya. Bu Bambang akhirnya bergabung dengan ibu-ibu lain, yang menyambut kedatangan ibu bos di bandara. Di Executive lounge bandara telah disediakan bermacam-macam makanan dan minuman kecil untuk menyambut kedatangan isteri bos. Tak lama kemudian pesawat yang membawa isteri bos turun. Setelah makan makanan kecil dan minum, maka rombongan mulai berjalan ke arah kendaraan yang akan membawa ke lokasi yang akan dilihat. Ibu bos ditemani salah seorang ibu naik sedan, dan dibelakangnya mini bis yang dinaiki para ibu lainnya.

Rombongan akan melihat daerah kerajinan rakyat, ibu bos asyik berbincang dengan beberapa pemilik usaha kerajinan tersebut, dan terlihat sangat menikmati. Setelah itu rombongan melihat industri bordir, yang dikelola sebuah koperasi. Usaha ini awalnya hanya usaha rumahan, dimulai di sebuah garasi rumah, yang kemudian berkembang menjadi besar, bahkan sudah banyak pesanan dari negara jiran dan Timur Tengah untuk membeli produksi kain bordir ini. Warna-warna yang meriah, sulaman yang indah, di buat untuk baju, sarung, juga untuk alat rumah tangga, seperti taplak, tatakan, alas meja dan sebagainya. Dari sini rombongan meneruskan ke usaha tanaman anggrek, yang juga diawali dari sebuah hobi. Pemiliknya, yang sebelumnya manager sebuah pabrik rokok, di waktu senggang mencoba merawat tanaman anggrek, dan ternyata hasilnya bagus. Bahkan akhirnya pemilik ini berhenti dari pekerjaannya, khusus bertanam anggrek dan telah menghasilkan beberapa persilangan tanaman anggrek baru.

Ibu bos terlihat puas, dan rombongan melanjutkan makan siang di suatu restoran yang cukup terkenal. Ibu bos melambaikan tangan pada bu Bambang, dan dengan berdebar ibu Bambang mendekat. “Waduhh, ada apa ini?” pikir bu Bambang, yang sejak awal menjemput di bandara memang tak banyak bercakap-cakap seperti ibu lainnya. Ternyata ibu bos mengajak bu Bambang duduk semeja dengannya. Sambil makan ibu bos menanyakan kepada ibu-ibu lain, kegiatan apa yang selama ini dilakukan untuk menghabiskan waktunya. Ibu bos juga cerita tentang keluarganya dan putra putrinya. Ibu bos juga menanyakan pada bu Bambang, berapa putranya, dan sudah sekolah di kelas berapa. Pelan-pelan para ibu merasa nyaman, ternyata ibu bos baik sekali dan ramah. Dan beliau juga sangat sederhana, beliau mengatakan bahwa sebetulnya memang ingin menengok kegiatan ibu-ibu di daerah sejak lama tapi belum punya waktu. Kebetulan kali ini putra putrinya telah selesai ujian, sehingga beliau bisa menengok wilayah ini, sekaligus nanti sore akan pulang kampung menengok ibunya yang sudah tua. Dari percakapan tadi, ibu bos juga berpesan, bahwa zaman sudah berubah, para ibu harus mendukung para suami untuk bekerja baik, dan harus bisa menata keuangan keluarga, tanpa merengek pada suami untuk meminta melebihi kapasitas gaji suami. Ibu Bambang mendengarkan, sambil di dalam hati malu sekali, betapa dia sudah sangat kawatir, bahwa ibu bos akan bisa mempengaruhi karir suaminya.

Ibu bos juga mengatakan, sudah kewajiban seorang isteri untuk mendukung suami untuk bekerja sebaik mungkin, dan tidak membebani hal-hal yang bisa membuat suami korupsi. Juga ibu bos menekankan, bahwa beliau tidak mencampuri urusan kantor, karena itu adalah tugas suaminya yang bekerja di kantor.

Sore itu, saat suami pulang, bu Bambang sudah siap menunggu, dan menemani suami duduk-duduk minum teh. “Bagaimana ma, pertemuannya dengan ibu bos tadi, beliau baik nggak?” tanya suaminya sambil tersenyum. Ibu Bambang bercerita, dan pak Bambang mendengarkan dengan mengangguk-angguk …… andaikata semua isteri bos seperti ibu bos yang diceritakan isterinya tadi, maka para suami akan tenang bekerja di kantor.

Iklan

Responses

  1. Kayaknya cerita ini dikhususkan kepada para istri ya bun?? Btw anjangsana artinya apaan bun, samakah dengan arisan??

    Pencari kebenaran
    ,
    Anjangsana itu mirip dengan turne atau turun ke bawah….biasanya digunakan untuk istilah atasan yang mau lihat ke lapangan dan pekerjaan bawahannya, yang berada di kota lain.
    Cerita ini juga untuk bapak, bukankah para suami juga kadang membuat para isteri bersaing…karena suami bangga jika isteri tampil wahh….baju ganti-ganti…banyak lho yang seperti ini.

  2. kalau ibu bosnya begitu baik, apa karena suaminya sebagai bos juga baik bu ? 🙂

    Elys Welt,
    Selama ini yang saya lihat begitu, jika suami bisa mendidik dan mengajak isteri hidup sederhana, biarpun jadi isteri bos, ibunya tetap seorang sederhana. Tapi ada juga isteri bos yang lebih dari bosnya (suka ngatur, galak dsb nya).

  3. wah, ini pelajaran buat para suami muda dalam mempersiapkan sang istri biar tampil modis ya bu. tapi terkadang bila istri terlalu cerewet soal penampilan, itu juga bahaya.

    bagi saya, hidup sederhana, penampilan tetap menjadikan diri tidak menderita. yg terpenting kemampuan yg ada di kepala dalam berkomunikasi.

    Zulmasri,
    Memang yang penting adalah suami, karena dialah imam dalam keluarga…jika berhasil mendidik anak isteri, maka akan membuat nyaman lingkungan juga

  4. Istri-istrinya diplomat katanya ada aturan mengenai penampilannya gitu ya… Katanya, penampilan istri bawahan tak boleh lebih bagus dari istri atasannya. Bagus juga sih aturannya… Apalagi kalau istri atasannya sederhana…

    Mang Kumlod
    ,
    Ada beberapa perusahaan yang membuat pelatihan kepribadian, penampilan bagi para isteri, karyawan dan karyawati nya. Tapi, yang lebih utama adalah penerapannya dilapangan.

  5. “Ibu bos juga mengatakan, sudah kewajiban seorang isteri untuk mendukung suami untuk bekerja sebaik mungkin, dan tidak membebani hal-hal yang bisa membuat suami korupsi. Juga ibu bos menekankan, bahwa beliau tidak mencampuri urusan kantor, karena itu adalah tugas suaminya yang bekerja di kantor.”

    >>> nasihat yang luar biasa…, terutama masalah membebani suami…

    gbaiquni,
    hal tsb juga atas dukungan suami.
    Jika bos suatu perusahaan, dalam suatu pertemuan mengatakan, bahwa isteri dilarang ikut campur urusan kantor, maka hal tsb akan membuat para isteri segan…jadi harus dimulai dari Pimpinan itu sendiri.

  6. terima kasih bu. jadi nasihat bagi kita semua. kalau suami bos apa juga harus seperti itu bu?

    Cepaxu,
    Suami bos ya jelas punya kesibukan sendiri, nggak ngurusi kantor isteri. Yang umum adalah kebalikannya, isteri yang suka “sok tahu” urusan kantor suami.
    Saya belum pernah menemukan, suami yang ikut campur urusan isteri di kantor….

  7. Saya yakin demikian, karena secara tidak langsung seorang istri yang terlalu banyak menuntut juga bisa mendorong suami untuk bekerja keras dari segi positive dan berkorupsi jika sampai keterlaluan dan berdampak negative. thansk

    Yulism,
    Saya jadi ingat pesan bude, jika nanti sudah menikah, jangan pernah minta tambahan uang dari suami, Berapapun yang diberikan harus dicukupkan untuk keperluan satu bulan….
    Jika isteri merengek terus, suami yang tak kuat, akan didorong melakukan sesuatu yang melanggar, demi cintanya pada keluarga.

  8. hoo.. ternyata salah satu poin yang membuat seseorang korupsi adalah hal-hal sepele seperti ini yak??? (O.o)

    Darnia,
    Antara lain…ya….

  9. Kadang kita sudah ketakutan duluan sebelum menghadapi kenyataan, yang bisa jadi malah tidak seperti yang terbayangkan sebelumnya.

    Istri Bos di kantor saya juga begitu, Bu Enny.
    Sangat sederhana, tidak memakai perhiasan berlebihan, dan perhatian sekali dengan kami-kami semua. Justru beliau yang down to earth itulah yang membuat kami sangat menghargai suaminya juga ketika di kantor.

    Namanya juga sudah berteman, kan, Bu?
    Masa kita jahatin teman sendiri? 🙂

    Lala,
    Isteri bos yang baik, yang percaya pada suaminya, akan mendapat respek dari anak buah suami.
    Saya bersahabat dengan beberapa isteri mantan bos…dan seneng kalau ketemu, bisa mengobrol asyik. Sedang isteri yang merasa dirinya lebih tinggi, ya dicuekin aja….

  10. Satu lagi pencerahan dari ibu. Terima kasih ya Bu.
    Jadi tambah sayang sama Bu Enny

    Irna,
    Yang sering jadi masalah kan kadang kita udah nggak pede, kawatir orang punya barang-barang yang lebih bagus….padahal kan tidak ada yang menilai seperti itu (atau ada ya???..)

  11. repot juga ya. kalo jumlah baju istri ada hubungannya dengan jabatan. tapi biasanya ibu ibu emang begitu. bukan karena takut keritik orang lain. tapi takut tidak mendapat pujian orang lain.

    Satya Sembiring,
    hehehe….tergantung pada orangnya masing-masing….tapi perempuan memang suka kawatir dikomentari penampilannya…sedang yang cuek ya kayak saya….hahaha

  12. hemmm..
    ibu bambang itu mewakili banyakk sekali ibu ibu di luar sana..
    semoga ibu istri boss itu beneran ada dalam dunia nyata ya bu
    karena kalo ibu boss saya…emmmm

    NO COMEMNT..huahuahua

    yessymuchtar,
    Isteri bos seperti cerita di atas saat ini semakin banyak….dulu memang seperti yang dikawatirkan bu Bambang……

  13. kemarin saya menonton film di HBO, seorang suami korupsi karena istri nya …

    jadi ingat ustad saya “De, jadilah istri yang ikhlas dalam segala hal, termasuk rejeki yang diberikan ALLAH melalui suami nanti”

    🙂

    Rindu,
    Pernah dengar, bahwa kebahagiaan sebuah rumah tangga sangat ditentukan oleh seorang perempuan, dalam hal ini isteri? Bukan ditentukan oleh keberhasilan atau kekayaannya, tapi kedamaian dan ketenteramannya. Seorang isteri yang tidak penuntut, yang mendidik anaknya dengan baik, banyak bertawakal dan mendoakan putra putrinya, akan membuat rumah tangga tenteram.

  14. Pelajaran bagus buat saya, buat para istri dan para calon istri. Terima kasih bu

    Adipati Kademangan,
    Makasih jika bermanfaat….

  15. Kecantikan tidak selama nya dipandang dari seutas kain yang membalutnya, baju apapun kalo hatinya cantik…tetep aja indah dilihat dan cantik di pandang. Itu kalo versi saya loh….

    Ada beberapa profesi yang memang menuntut harus punya baju banyak…tapi apa nggak boros?
    kalo penghasilannya besar sih…sah-sah aja koq beli baju sebanyak mungkin…tapi inget…sodar-sodara kita yang membutuhkan masih banyak loooooh.

    Pakde,
    Masih banyak perempuan yang kawatir terhadap penampilannya. Bahkan untuk pergi ke arisan saja berdandan bak mau pergi ke pesta. Jalan satu-satunya, ya bos di perusahaan yang harus bisa menjelaskan bahwa urusan kantor adalah terpisah dengan urusan lainnya….dan tak ada pengaruh hubungan baik secara informal dengan peningkatan karir.

  16. kalo masih kurang sreg dengan koleksi baju selemari, mungkin ibu bambang mesti belajar mix n match ya bu.. 😀

    Mpokb,
    Mungkin memang bu Bambang perlu kursus kepribadian di John Robert Power atau Duta Bangsa…..

  17. Ibu saya dulu juga harus begitu di Dharma Wanita…untung ibu saya orangnya cuek heheh dan saya juga tertular ibu saya cuek beibeh…. Yang penting kan rapih dan cocok dengan acaranya.

    Dan lucunya cerita seperti ini terjadi di Indonesia saja. Di Jepang istri-istri tidak ikut campur kegiatan suami. Tapi lain halnya dengan kedutaan besar/kemenlu nya…itu mirip dengan Indonesia katanya…

    EM

    Ikkyu_san,
    Untungnya suami saya PNS, jadi ya kalau ada pertemuan ibu-ibu, semua sederhana saja. Dan jika ada pertemuan formal, pesta di kantor, bisa terlihat bahwa penampilan karyawati (walau jabatan tinggi), kalah sama penampilan ibu-ibu yang lebih terawat dan cantik-cantik….(ntar kapan-kapan buat posting baru ya)

  18. Akhirnya….
    Fiksi yang benar-benar fiksi dan bisa dinikmati… hehehehe

    Kenapa aku jadi ingat karakter Bu As yang dulu ada di majalah Nova yah?

    Kunderemp,
    Betapa senangnya….da..da …da….
    Lebih senang dibanding dapat undian Rp.100 juta…..
    Atau sebaiknya gaya tulisan seperti ini ya….???

  19. Ah, ya, benar. Istri yang banyak menggembok mulutnya lebih banyak disenangi oleh suami… 😀

    Mihael “D.B.” Ellinsworth,
    Ahh yang benar?
    Rasanya enggak deh…suami akan senang jika isterinya tampil luwes, tidak memalukan jika diajak bicara, dibanding isteri cantik tapi diam dipojokan….
    Tapi memang tergantung karakter suaminya juga sih….

  20. kalau istri caleg bagaimana bu?
    atau calon istri calon legislatif?
    hehe…status yang anehh…

    Caleg Indonesia,
    Wahh saya nggak familier dengan caleg…penginpun tidak…

  21. enaknya punya istri sebaik ibu bos… hwehe.

    (^_^)v

    memang, bu. dunia sudah berubah…

    Farijs van Java,
    Carilah isteri yang baik budi, itu akan membawamu dalam kedamaian…dan engkau bisa berkarir dengan tenang….

  22. Hatur nuhun Bu, saya kasihin ke istri nih cerita, buat tambahan referensi…… 🙂

    Yoyo,
    Referensi?…semoga bermanfaat….

  23. Mungkin ada baeknya, kalau KPK mengadakan kegiatan rutin pengajian buat fara istri fejabat… Bener kata ibu Bos, salahsatu penyebab langsung maupun tidak langsung suami melakukan pebuatan korupsi adalah karena istri. 😥

    Caberawit
    ,
    Kasihan dong kalau semua dibebankan pada KPK….

  24. aih Ibu….
    saya ini Bu Bambang lho (suami saya namanya Bambang….beneran ini…hihihi…)
    Tapi suer… saya dan kisah kehidupan saya sama sekali nggak ada mirip-miripnya sama tokoh Bu Bambang itu…hihihi….

    Tanti,
    Aduhh…maaf..bukan saya berniat macam-macam lho…ini kan cuma fiksi (walau tag fiski ini juga masih bingung, dan DM masih janji untuk nulis di blog tentang apa sebetulnya fiksi dan non fiksi)
    Tapi peraya deh kalau Tanti Kris ini bukan termasuk dalam kategori bu Bambang dalam cerita di atas.

  25. HI…hi…hi…lucu ya bu…saya berada dilingkungan seperti itu,setelah suami saya dipercaya menjadi pelayan masyarakat kota.
    Kadang saya merasa aneh…karena kami basic nya dari pengusaha,kami akan melakukan sesuatu ketika memang BUTUH, bukan INGIN…
    O..alaaah…Ibu…ibu….hari gini kok masih urusan baju…kapan ngurus masayarakat miskinnya bu ?/kapan berbaginya bu ??..jangan lagi deh…ada bu Bambang ibu Bambang lain..yang cuma meributkan hal nggak penting…ributnya sama suami lagiii…Malu ah..

    Dyahsuminar
    ,
    Saya juga berada dilingkungan seperti itu, tapi dalam hal ini posisi saya…bukan ibu-ibu nya…hehehe.
    Kadang geli sendiri….atau mungkin terlalu cuek ya….Btw, kalau dinikmati aja, menjadi menambah pengalaman kok….

  26. kayaknya bukan fiksi deh… 🙂

    kalo soal baju, lah yang liat kan gonta-ganti. punya banyak tapi yak ingat waktu ke lima acara terakhir pakai apa, lalu kepotret, kan ya tetap dikira cuma punya satu busana andalan ya bu… 😀

    Paman Tyo,
    Fiksi? Non Fiksi? Terus terang bingung paman…..yang penting nulis dulu….
    Betul, tapi saya pernah punya teman, yang selalu ingat baju temannya. Dia pernah bilang begini..”Ehh loe suka banget ya pake baju itu, kok dipakai terus (maksudnya nggak ganti-ganti)”. Jawab saya dengan tenangnya…”Memang, yang penting bersih kan, dan saya merasa cantik pake ini“…..ehh dia melengos, saya malah ketawa geli.

  27. Muatannya sungguh bijak, mengajak para istri melakukan tindakan preventif terhadap aksi korupsi. Hmmm memang kunci keberhasilan sebuah keluarga besar andilnya dari peranan seorang Ibu. Penting kiranya pendidikan & pemahaman hal ini ditanamkan dari awal, mulai dari kaum perempuan. Terus menulis ya Bu!

    Yoga,
    Entah kenapa…..hari ini senang banget (tahu kan alasannya)….
    Peran ibu penting, agar tak menghamburkan uang ta perlu…..
    Saya suka warna merah, banyak bajuku warna merah, sampai dikatakan…”Merah lagi..merah lagi…..” …hahaha…padahal berganti-ganti lho, tapi kan sama warnanya.

  28. sudah istri bos, sederhana dan bisa dicontoh wah….mak nyus.

    Ekomagelang,
    sekarang banyak kok isteri bos yang seperti itu….

  29. HHmmm …
    Iya ya bu …
    keknya yang heboh itu justru istri bawahan …
    harus ini … harus itu … dst

    Istri bos malah santai-santai saja …

    Ini cerita yang bagus bu …

    NH18,
    Betul…dan suka menambahkan rumor yang kadang ga betul…..

  30. waaah Ibu Enny suka merah???
    sama dong…janjian pake merah yuuk
    hahahaha

    eh tapi tapi …hampir semua merahnya saya baju untuk musim dingin sih bu….hihihi

    Ikkyu_san
    ,
    Baju pesta saya banyak yang warna merah (soalnya suami tak suka warna hitam)…padahal kalau pesta langsung dari dari kantor, saya tinggal menambahkan selendang batik dan asesoris lain….udah siap ke pesta.

    Tapi kalau baju kantor warna-warna netral, soalnya ga enak juga kalau mendadak diundang rapat di instansi lain…begitu kita pake warna merah (padahal merah tua0, langsung deh…..semua menatap ke kita.

  31. bukan si ibu bos yang hebat, tapi penulisnya.

    cerita ini punya tiga mata pedang (nah, gimana tuh, bu?):
    satu menghunus para istri atasan agar bijaksana dan bisa menjadi panutan;
    satunya lagi menghunus para istri agar bisa merem keinginan berlebihan yang bisa mendorong para suami berlaku curang;
    dan terakhir untuk para suami agar bisa membimbing istri dengan baik.

    cerita yang hebat, bu enny!

    Marshmallow,
    hehehe……”You get the point“…..
    Maksudnya memang seperti itu….semua berperan penting….

  32. Ibu …,
    minta ijin untuk copy-paste tanggapan ibu terhadap komentar mba rindu …

    gbaiquni,
    Silahkan….

  33. lha, terus gimana nyarinya, bu?? TT

    (^_^)v

    Farijs van Java,
    Maksudnya nyari apa? saya agak nggak “ngeh”….

  34. bu bambag pengen keliatan anggun. kemudian memaksa pake gaun. ternyata bu bos begitu santun. mengajak berbicara dengan sederhana begitu menyejukkan sesejuk embun. malu sendiri karena sebelumnya sudah pulah pilih baju pengen yang hebat tidak sekedar katun. padahal bu bos sekali lagi sederhana sekali dan tak terbayangkan sedikitpun.
    kalau begitu coba dinilai blog saya yang baru tiga bulan mengalun. apakah sudah baik sebagai sebuah akun?

    http://trendibandung.wordpress.com/2008/10/23/amerika-krisis-indonesia-bangun/

  35. Kl saya seneng krn sekarang trendnya batik..jadi pakai batik buatan asli dalam negeri..simple n nyaman. Jadi karena senang, yaa bisa dipake bolak balik..asyik saja tuh..yg penting bersih n rapi, ga bau.
    Tetapi kalau pas ke Ibukota..walah penampilannya ga nguatin..kantong..sambil mikir ‘piro yoo gaji-ne para suami mereka’ kok penampilannya bisa wah2 gitu…ih medeni

    Wilis,
    Sebetulnya mereka tinggal mempadu padan…banyak kok baju murah dan modelnya bagus, asal tahu tempat nyarinya.
    Dan perhiasan tak harus emas kan? Yang etnik dan harga terjangkau banyak….

  36. Nice story…

    kami membagi penghasilan menjadi tiga bagian,satu bagian untuk keperluan suami dengan tetek begeknya, satu bagian kebutuhan saya dan anak-anak dan yang ketiga untuk ditabung….takut sewaktu-watu butuh,ataupun anggaran jalan-jalan.Saya kira no problem, dan ada tanggung jawab masing-masing.dan saya lebih suka mencatat semua keperluan, biar tahu uang itu sebenarnya kemana..untuk apa…

    kadang jadi istri mesti bijak dan jangan banyak bicara…karena sesungguhnya apa yang kita minta, suami berharap mampu untuk memenuhinya…jadi pikiran buat dia.

    Tapi cerita diatas menarik sekali,buat renungan,apalagi ibu muda seperti saya!

    Thanks ya, Bunda! 😀


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: