Oleh: edratna | Oktober 23, 2008

Jangan berjalan kayak “robot”, mbak

Siang itu, begitu kembali ke kantor selesai makan siang, Ayu melihat beberapa teman perempuannya bergerombol membaca sesuatu. “Apaan sih?” tanya Ayu. “Nihh, kita-kita mau dikursuskan kepribadian,” kata Anti, sahabat dekat Ayu. “Ahh, yang bener, asyik dong,” jawab Ayu. “Iya, katanya biar kita, kaum perempuan, bisa berpenampilan rapih, luwes, dan membawa image yang baik bagi perusahaan,” jawab Anti.

Sebetulnya Ayu agak bingung, kenapa kok Anti uring-uringan, bukankah malah lebih suka kalau para perempuan di kantor yang jabatannya asisten manager ke atas mendapat kursus. Ayu memang tipe yang suka belajar, disuruh kursus apapun oke aja, asal bukan kursus yang aneh-aneh. Kursus kepribadian? Seperti apakah? Baiklah, biar nanti aja kupikirkan, lebih baik aku memikirkan pekerjaan yang harus segera kutangani, pikir Ayu.

Kursus kepribadian ternyata wajib diikuti oleh para perempuan di kantor itu, yang telah menduduki jabatan setingkat asisten manager. Sayangnya, kursus tidak boleh mengganggu jam kerja, jadi dilakukan sepulang kantor, di lantai serba guna, yang juga berada pada kompleks perkantoran tersebut. Ayu memberitahu suaminya, kalau dalam seminggu dua kali, dia diwajibkan kursus kepribadian. “Nahh, gitu dong,” kata suami Ayu. Ayu sungguh beruntung, suaminya siap mem back up kalau dia harus ada tugas kantor, lembur sampai malam, dan seperti sekarang, harus ikut kursus kepribadian sampai malam.

Sore itu, sesudah selesai jam kantor, di aula telah banyak berkumpul para perempuan yang akan ikut kursus, dan dibagi dalam kelas-kelas. Pertama kali adalah diajarkan bagaimana cara berpakaian, memadukan padankan pakaian sehingga kalau tugas ke luar kota tidak harus membawa baju banyak sekali. Cara menggunakan make up, menyanggul rambut, dan potongan rambut yang sesuai wajah. Baju seperti apakah yang sesuai untuk dipergunakan di kantor, tergantung dari jenis pekerjaannya, apakah bidang jasa, instruktur atau apa. Pada akhir kursus akan diajarkan “table manner” yaitu etika makan jika ada acara formal.

Tak terasa kursus telah berjalan hampir 3 (tiga) minggu, dan sore ini yang akan diajarkan adalah cara berjalan. “Hh, cara berjalan?” pikir Ayu. Ternyata ada juga ya yang mengajarkan cara berjalan. Ayu teringat mantan bosnya, yang setiap kali menegur jika Ayu berjalan terlalu cepat, dan pernah hampir menubruk orang. Ya, saat itu Ayu sedang terburu-buru harus segera menyelesaikan laporan pekerjaan yang ditunggu oleh bosnya, tapi rupanya sang bos kurang berkenan. “Ayu, kamu itu kalau ke kantor pakai sepatu hak tinggi, paling tidak 3 cm, sehingga terlihat anggun,” kata bos suatu ketika. “Ahh, lha nanti saya nggak bisa berjalan cepat, pak,” jawab Ayu. “Memangnya kamu harus jalan cepat? Kan jika pakai sepatu hak tinggi, setidaknya jalanmu lebih tertata, nggak nubruk-nubruk seperti ini,” jawab bos. Ayu teringat percakapan dengan bosnya, dan mungkin kursus ini juga diusulkan oleh para bos yang sebagian besar bapak-bapak itu.

Disadari, di perusahaan tempat Ayu bekerja, sebagian besar karyawan adalah laki-laki, dan perempuan yang menduduki jabatan asisten manager ke atas masih sangat sedikit. Di satu sisi, memang mereka perempuan pekerja keras, dan lulus test masuk kerja didasarkan atas kepandaian dan kemampuannya, sehingga memang rata-rata tidak terlalu memperhatikan gaya berpakaian, yang penting rapih dan bersih. Padahal kantor Ayu adalah perusahaan jasa, yang setiap hari berhubungan dengan bermacam-macam klien. Ayu tergagap mendengar temannya memanggil, rupanya dia tadi melamun. “Apaan sih yang loe lamunkan, dari tadi kok pendiam sekali,” tanya Anti, yang rupanya telah kembali ceria, tidak manyun seperti saat baru mendapat berita para perempuan harus kursus kepribadian. Dan rupanya Anti akhirnya juga memahami, bahwa kursus kepribadian, bukan hal yang tabu, atau merasa dilecehkan, karena banyak sekali hal yang bisa dipelajari. Pengajarnya juga dari berbagai kalangan, dan salah satunya adalah isteri mantan Duta besar, yang juga terkenal sebagai pakar kepribadian.

Ayo, ibu-ibu, kita segera berkumpul,” kata instruktur. Sore ini akan belajar cara berjalan yang anggun, sopan, dan tetap menunjukkan kepribadian yang baik. Dagu diangkat, mata menatap kedepan, bahu tegak, dan berjalan dengan kaki yang lurus kedepan. Jika kaki telah berjalan sesuai arah dalam satu garis lurus, secara tak langsung tangan akan menyesuaikan. Dan instruktur yang cantik tadi mulai memperlihatkan bagaimana cara berjalan yang baik. “Ayo, kita mulai,” kata instruktur.

Satu demi satu, para peserta mulai berjalan, dan masing-masing mendapat komentar dan bagaimana cara memperbaiki cara jalannya. Ada juga yang sampai diulang berkali-kali. Akhirnya tiba giliran Ayu, dan dengan tenangnya Ayu mulai berjalan. Entah kenapa, awalnya Anti mulai mengikik, dan tiba-tiba seluruh peserta terbahak-bahak dan memegangi perutnya. Ayu yang bingung menghentikan langkahnya, dan memandang instruktur. Rupa-rupanya instruktur juga tak kuat menahan tawa, kemudian memberi tanda agar Ayu mulai mengulang langkahnya, dan instruktur memberitahu apa yang harus diperhatikan. Ayu mendengarkan dengan serius, dan mulai melangkahkan kakinya.

Stop…stop….aduh mbak nggak usah buru-buru. Jalannya santai saja, jangan tegang, kok malah jadi kayak robot,” seru instruktur. Dan pecahlah tawa seluruh ruangan itu, tak terkecuali instruktur. Ayu yang bingung memandang Anti, karena hanya dari Anti dia berharap mendengar penjelasan yang apa adanya, tanpa di tutup-tutupi. Anti, masih sambil memegangi perutnya, mengatakan…”Aduh Yu, jalan loe betul-betul lucu…..pantesan loe suka nabrak-nabrak kalau jalan, he….he…he…,” kata Anti sambil tak kuat menahan tawanya. Apa boleh buat, Ayu hanya tersenyum kecut, tapi instruktur kemudian mengatakan..”Ibu-ibu, jangan kawatir, ini bisa dilatih. Jadi tolong di rumah latihan ya, nanti lama-lama bisa kok,” kata Instruktur, yang kemudian menceritakan, dalam pengalamannya mengajar, banyak kejadian seperti ini, jadi sebetulnya adalah hal biasa.

Bertahun-tahun kemudian, Ayu masih tersenyum jika ingat kejadian itu. Namun kenyataannya, dari segala pelajaran yang diajarkan di kursus kepribadian tersebut, ternyata yang tidak berhasil, adalah bagaimana cara berjalan yang baik. Jika kita berkunjung ke perusahaan tempat Ayu bekerja, cara berjalan para karyawatinya tidak berubah, namun karena mereka mulai bisa memakai sepatu dengan hak sedang sampai tinggi, maka secara tak langsung juga membuat mereka terlihat tetap feminin, cekatan dan profesional. Yang bisa diterapkan dengan baik adalah etika makan, melakukan mix n match baju sehingga memudahkan untuk tugas keluar kota. Bagaimana dengan make up wajah dan rambut? Kalau yang ini, semua kembali seperti semula…….hanya mereka lebih tampil rapih……ternyata memang susah untuk merubah penampilan…

Iklan

Responses

  1. gaya jalan saya juga agak aneh bu… mungkin memang seharusnya saya ikut salah satu kursus kepribadian itu..

    Itikkecil,
    Saya udah 3 kali kursus yang sama (semua dibayari kantor, dan dalam paket pendidikan), rasanya memang sulit merubah gaya jalan…atau memang ga mau latihan?
    Tapi materi yang lainnya sangat menolong, terutama memadu padankan pakaian, memilih asesoris yang cocok, model rambut yang pas..juga tentang etika makan untuk acara formal….Dan yang penting lagi…tapi ini tak satu paket dalam kursus kepribadian, adalah cara presentasi, komunikasi yang baik dll…yang sangat berguna untuk sehari-hari.

  2. hahahaha,… seorang teman kantor saya sering sekali mengomentari jalan dan penampilan teman wanita lainnya,… dan klu diperhatikan memang banyak yang jalannya seperti itu bu,… 🙂 apa karena pakaiannya ya? atau sepatu yg digunakan ?

    Avartara
    ,
    Sepatu memang bisa menentukan cara berjalan, minimal lebih feminin jika sepatu hak tinggi….kan nggak bisa lari-lari….

  3. Kadang orang lain bagaikan cermin untuk diri sendiri. Mereka yang menilai kita ini sperti apa. Jika orang lain merasa gaya berjalan atau gaya berpakaian kita masih belum sesuai, alangkah baiknya jika diberitahukan ke yang bersangkutan dan diperbaiki lewat kursus-kursus seperti ini.

    Tapi… banyak juga yang membandel, merasa gak ada masalah dengan hal itu, meski sudah diberitahu berkali-kali 😀 Hehehehhe.. saya banget itu, Bu Enny 😦

    Darnia,
    Bila sudah bekerja, terutama untuk bidang yang harus mengutamakan pelayanan, memang penampilan karyawan (bukan hanya karyawati) harus dibenahi. Bagaimana cara menyepa, cara komunikasi, harus selalu tersenyum warna dan model pakaian seperti apa yang diperbolehkan, ini ada aturannya. Kalaupun tak bisa menyesuaikan semuanya, paling tidak sebagain besarnya sudah sesuai. Justru inilah, kenapa kita bisa membedakan, kenapa gaya orang dari perusahaan A hampir mirip, namun beda dengan perusahaan B…ini juga akibat pembentukan budaya kerja yang dilakukan terus menerus.

  4. waduhaduh™… repot juga ternyata jadi wanita. hwahaha… ada kagak bu kursus begituan buat laki2?

    (^_^)v

    Farijs van Java,
    Ini kebetulan ceritanya tentang wanita…sebetulnya untuk jabatan tertentu, baik laki-laki atau perempuan harus mendapat pendidikan yang sama…etika pergaulan, cara berbusana, bagaimana kaca mata sesuai wajah….hehehe…ternyata ada lho kacamata yang membuat kita terlihat berwibaa, atau santai, atau lebih keras….
    Namun biasanya antara laki-laki dan perempuan kelasnya dipisah…dan kalau didengarkan, ketawanya para bapak-bapak lebih membahana…sayangnya ga ada yang nulis di blog ya, dimana lucunya…

  5. di tempat saya kalau ada yg kelakuannya agak aneh (seolah tembak langsung dari belantara), termasuk jika belum menikah juga meski umur sudah agak lanjut (pria) dll. selalu disuruh sekolah kepribadian yg di jakarta yg inisialnya JRP … untungnya saya nggak perlu sampai harus sekolah ke sana ya, cukup belajar sendiri dan dari lingkungan …

    Oemar Bakrie,
    Sekolah kepribadian (tentu saja disesuaikan dengan budaya perusahaan), menurut saya perlu pak. Karena para fresh graduate yang diterima dari berbagai universitas, mempunyai budaya kerja dan kebiasaan yang berbeda…semakin meningkat karirnya dia juga harus dilatih menghadapi para eksekutif perusahaan, para klien yang lebih rewel, yang tentu saja akan senang jika dilayani oleh orang yang profesional dan menarik. Kursus ini tak hanya untuk para perempuan, tapi biasanya untuk perempuan dan laki-laki dipisah….dan cerita bapak-bapak lebih seru. Tapi saya juga melihat bedanya, bagaimana seorang staf yang dulunya penampilan lusuh, sekarang terlihat segar tanpa harus menambah beli baju baru.

  6. Hmmm… susah jadi perempuan…

    Mang Kumlod
    ,
    Ini contohnya dari sisi perempuan, tapi sebenarnya para karyawan laki-laki juga mengikuti kursus yang sama, tapi dipisahkan dalam pembelajarannya. Mereka juga dilatih berjalan…(ini yang paling gagal), biasanya selesai kursus, penampilan mereka dan cara komunikasi mereka lebih baik.

  7. Kenapa aku curiga cerita ini buat menyindirku dan adik yah? Hehehehe

    Kunderemp,
    Halah…ngapain menyindirmu….nanti kalau udah kerja di perusahaan tertentu, juga akan belajar sendiri..

  8. Bunda jangan tanya tinggi sepatuku ya..minimal 7cm hihihi

    dan iya benar.hak tinggi membuat kita melangkah lebih anggun.

    Tulisan ini ringan..tapi perempuan yang membacanya bisa mengambil hikmahnya hehehehe

    Yessymuchtar,
    hehehe….wahh saya sejak pernah kecekluk (ehh apa bahasa Indonesianya) saat outbound, jarang pake sepatu tinggi, kecuali menghadiri pesta itupun di mobil udah sedia sandal atau sepatu flat….

  9. kalo saya dulu waktu kuliah feminim bu, pake sendal hak tinggi…coba berjalan seanggun mungkin biar menarik temen2 kampus..hehehe tp sekarang saya ga bgtu, karena keseringan jalan dgn anak dan gendong anak, jadi saya lebih memilih sepatu ceper/sendal ceper biar ga cape kaki saya….selain itu suami sy ga suka sy pk hak tinggi coz..kalo sy pake hak tinggi, tinggi kami sejajar dong n dia malu ,,hihihi

    Cutemom,
    Saya saat kuliah sering harus pagi-pagi ke kebun…terus setelah itu kuliah…terus disambung praktikum….jadi ya pake sepatu hak rendah.
    Sekarang, kalau mengajar juga pakai sepatu tertutup hak rendah..kalau tidak, bisa gempr berdiri seharian.
    Kalau pesta baru pake sepatu hak tinggi, soalnya kalau pake rok panjang atau sarung kan kesrimpet dan jalannya nggak nyaman jika sandal atau sepatunya tak pakai hak. Memang lebih feminin dan nyaman melihat cewek pake sepatu hak, walau tak harus tinggi sekali.

    Ahh biasanya cowok ga urusan kalau ceweknya lebih tinggi….paling-paling kalau diledek temannya tinggal bilang, untuk perbaikan keturunan.

  10. Kebayang …
    Kebayang …

    Eh BTW ini juga tidak berarti harus berjalan lenggak – lenggok … lirik kanan – lirik kiri kan ya Bu ???

    hehehe

    NH18,
    Kebayang apa mas??
    Lebih suka cewek feminin, tapi cekatan kan?
    Nahh…kalau pake sepatu ber hak, pasti jalannya lebih feminin
    Lenggak lenggok? Itu kan peragawati…kalau karyawati kan suka menenteng file, map, laptop…nggak sempat melenggang.

  11. kalau saya…
    dulu robot
    sekarang …. mobil pake remote control hahahaha

    di jepang bu, kalo tidak bisa jalan cepat pasti ketinggalan kereta. hidup penuh perjuangan. Pakai hak tinggi tetap harus bisa lari hihihi. Gendong anak? tetap harus bisa jalan cepat …

    BUT saya sudah bisa bedakan kok, kalo pesta ya masak lari-lari..atau kalo pake kebaya. Satu aja sebetulnya remnya, rok yang panjang dan sempit… ya kayak kebaya gitu bu…pasti jalannya anggun deh. Coba aja kalo mau lari pake kebaya kan pasti kesrimpung hehehhe. Jadi baju nasional kita itu sebetulnya mengajarkan kita jadi cewe yang anggun loh. Kalo rok mini sih pasti tetap jadi robot. belum kalo masih pake acara tarik rok yang seupit itu ke atas hihihi. So…tidak ada rok mini dalam lemari saya.

    tabik
    EM

    Ikkyu_san,
    Memang kalau di Jepang, Hongkong…saya lihat orang berjalan cepat. Kalau terbiasa, pakai hak tinggi pun bisa lari kok.
    Tapi sekarang saya pake hak rendah, sejak kakiku terperosok saat outbound…kalau pake hak tinggi hanya sesekali saat ke pesta.
    Sebetulnya sih, kalau tak ada masalah kaki, pake sepatu hak tinggi tak masalah, bisa tetap lari mengejar bis, dan jalan juga lebih feminin….dan kalau mau dansa, enakan pake sepatu hak tinggi lho…muternya gampang…hehehe

  12. Waduh, tentang jalan ya, Bu. Hmm… saya kuliah suka pake sepatu kets, jalan agak lari karena sering telat. Hingga suatu hari jalan bareng teman2 cowok. eh, mereka bilang “Kok jalanmu lebih cantikan jalanku yah” :mrgreen:
    Tapi kalau saya pake sepatu hak tinggi dan pake rok yang feminim cara jalan juga menyesuaikan sendiri kok. Tapi agak ribet, ga bisa cepet.
    Btw, ini pertama kali saya ninggalin koment di tempat Ibu ya?, salam.

    Mezzalena
    ,
    Makasih kunjungannya…
    Memang sebagai makhluk sosial, kita harus bisa menempatkan diri…..kalau kuliah ya enak pake sepatu kets, kalau pesta pakai sepatu hak, atau paling sepatu yang sesuai (kalau pake celana panjang dan baju nya bukan kasual, pake kets nggak nyaman kan?).
    Para bapakpun saya kira sama, kalau olahraga, santai bisa pakai sepatu kets..kalau acara resmi tentu juga pake sepatu yang resmi.

  13. Cara melangkah yang paling enak ya ketika hati sedang riang gembira… hehehe

    Andy MSE,
    Betul…tapi sebagai pekerja tetap ada aturan tertentu yang harus ditaati. Seperti sepatu harus tertutup, baju warna polos, tak boleh warna mencolok, atau jika ada motif, tak boleh terlalu terang, dan tak boleh bunga-bunga…kecuali hari Jumat pake batik (ini untuk perusahaan jasa/lembaga keuangan)…kalau untuk usaha periklanan, cara berpakaian lebih santai, karena yang diperlukan adalah pekerja yang kreatif…

  14. walah, ternyata tak sedikit perusahaan yang menyediakan kursus kepribadian buat karyawatinya, ya, bu. kalau saya sih sebenarnya lebih melihat sosok perempuan dari inner beauty-nya *halah* dari situlah konon kepribadian yang sesungguhnya dari seorang perempuan muncul.

    Sawali Tuhusetya,
    betul pak….yang penting memang inner beauty nya….tapi untuk perusahaan tertentu memang perlu diberi pelatihan cara berpakaian, berjalan dsb nya karena akan mempengaruhi image perusahaan.
    Contoh: pakaian harus sopan dan rapih, warna netral (tak boleh mencolok), jika ada motif tak boleh terlalu terang (garis2 halus, tak boleh motif bunga)….(ini untuk contoh di perusahaan jasa/lembaga keuangan). Jika ada acara formal, warna rok atau celana panjang hitam/gelap, atasan warna muda, dan pake blazer atau jas. Perhiasanpun yang dipakai harus sederhana. Sepatu juga harus sepatu pantofel, tertutup di depannya, warna netral.

  15. Hehehehe… kok nyambung.. tadi pagi saya bertemu beberapa eksekutif yang gaya-nya seragam banget, malah terkesan kaku. Saya dan teman-teman sekantor langsung menebak.. hmmm pasti lulusan lembaga anu… malah kita jadi kepikiran mau bikin onar supaya suasana agak “hidup”. Iseng ya 😀

    Ibu sudah tahu penampilan saya seperti apa, tapi itu sekali-sekali lho Bu tampil yang seperti itu, khusus buat ketemu Ibu… 😀

    Yoga,
    Memang kita bisa melihat gaya atau penampilan dari perusahaan tertentu, akan berbeda dengan perusahaan lainnya, karena ada image yang dibawanya….
    Gaya orang di Kantor Pusat juga beda dengan yang dilapangan, karena memang harus menyesuaikan kondisi….Kalau didalami, banyak lagi perbedaannya, cara bicara dan lain-lain….

    Ohh…iya? Jadi pengin tahu bagaimana penampilan Yoga sehari-hari di kantor…bukannya kemarin langsung dari kantor. Sejak di kantor, setiap hari Jumat wajib pake batik, maka situasi seperti orang pesta…meriah sekali…dan juga membuat karyawan hgembira, menandakan besok akan libur.

  16. trus, berjalan kayak apa mbak? kayak orang? lah..robot dong kalo gitu… 🙂

    Ciwir,
    Hmm…jawab sendiri deh….

  17. Kalau gaya berjalan ibu yang digondeli 5 orang anak nya jadi kayak apa ya 😀

    Wulan,
    Ntar mesti bikin pelatihan…cara berjalan dengan menggandeng anak, dan tetap anggun…hehehe

  18. Saya pernah mengikuti kursus seperti itu Bunda, dan sangat berguna bagi saya. Yang kebetulan berasal dari daerah dan memasuki lingkungan pekerjaan.

    Masih ingat, karena susuah untuk tegak, dikepala saya ditaruh buku tebal dan harus berjalan dalam satu garis porselin di lantai. thanks

    Yulism,
    Apa yang paling menyulitkan bagi majikan atau bos? Jika anak buah kita sopan santunnya kurang, karena menegurnya juga jadi sulit. Makanya sekolah kepribadian sangat menolong…perusahaan tinggal mengirim anak buah ikut ke perlatihan, sesuai dengan job yang diemban anak buah tsb. Ada kelas khusus untuk sekretaris, untuk manager, untuk tenaga pemasar, untuk eksekutif…karena memang harus beda-beda, lha orang yang dihadapi setiap hari juga akan berbeda, sesuai job yang diembannya.

  19. ….
    mohon maaf lahir dan batin

    Adi Nugroho,
    Saya juga mohon maaf lahir batin….

  20. […] jeans, bersepatu kets, dan mungkin berjalan seperti robot, gradak-gruduk seperti tulisannya ibu Enny, rasanya cepat sekali aku sampai di stasiunnya Universitas Senshu. Rekor! jam 9:50 loh…. […]

  21. Wah…. susah membicarakan kepribadian…… karena sangat relatif dan terkadang subyektif. Yang jelas ada sebagian kepribadian orang lain yang sesuai dengan kita, ada yang tidak. Mana yang standard? Terkadang kita tuan rumah ingin menghargai tamu apalagi kalau itu klien yang akan kasih kita duit banyak tetapi banyak juga justru yang berpendapat tamulah yang harus menghormati tuan rumahnya….

    Ah nggak tahu deh…. lagi2 relatif…. ya yang paling baik sih meet them half way saja mungkin…..

    Yari NK,
    Kursus kepribadian perlu, tapi tetap disesuaikan dengan kebutuhannya, seperti kurus untuk sekretaris tentu berbeda dengan untuk para eksekutif…dan ini sangat menolong, karena ada juga yang belum memahami etika makan secara formal (perlu latihan table manner), juga cara berpakaian sesuai acara yang ada…seperti ada yang pake baju warna mencolok, rok mini dsb nya. Atau kalau bapak-bapak, kemejanya kotak-kotak…kalau untuk kantor yang bergerak dibidang pelayanan seperti lembaga keuangan dan perbankan, maka yang dibolehkan adalah pakaian yang netral, kemeja polos atau garis-garis halus.

  22. Apalagi mereka yang berprofesi sebagai penari Jawa. Mesti lemah gemulai dan halus gerakannya hampir di setiap anggota tubuh. Jadi segala sesuatu itu memang ada ilmunya ya Bu???

    Mufti AM,
    Betul mas, ada ilmunya…..
    Menari Jawa, sekarang menurut teman saya yang dosen IKJ jurusan tari, agak beda cara mengajarnya dengan dulu. Untuk anak-anak, langsung dibuat satu paket tarian…sehingga tak bosan. Zaman saya dulu, untuk latihan jalan dan mendak (jalan dengan kaki ditekuk, dagu tegak tapi pandangan mata kearah lantai 3 meter didepannya) aja 3 bulan….hehehe…anehnya kok ya tahan ya, mungkin karena latihan di rumah (ayah punya seperangkat gamelan).

  23. Bu Ratna…kami satu kelompok ibu Ibu pernah ikut kursus kepribadian,,John Robert Power…
    Tapi dasar ibu ibu..gak pada serius..akhirnya pada saat ujian…kita diminta berjalan,pakai hak tinggi..waah..macem macem..ada yang aneh..ada yang kesulitan karena gak biasa..(termasuk saya..)

    Dyahsuminar,
    Kayaknya yang paling sulit memang cara berjalan..kalau yang lain kan diserap, karena digunakan sehari-hari. Apalagi latihan makan…wuahh seneng banget, apalagi latihannya di hotel berbintang, kalau nggak lulus berharap diulang lagi (makan di hotel berbintang)….:P

  24. Bukannya jalan robot pelan dan patah2 bunda, sedangkan jalan yang cepat-cepat itu (menurut orang) orangnya pinter2 dan menghargai waktu…

    Pencari kebenaran,
    Mungkin bacanya terlewat….coba baca lagi….
    Saat dilatih jalan, karena bingung, jalannya malah jadi kayak robot..jadinya menggelikan….

  25. Asik ya prusahaannya sampai ngelesin kepribadian padahal biayanya kan mahal *mupeng*

    Edel,
    Sebetulnya sejak awal rekruitmen, begitu lulus, sudah ada pelatihannya…bertingkat sesuai dengan dimana mereka ditempatkan.
    Dan ini juga akan membawa image perusahaan, karena kan mereka itu setiap hari ketemu klien, instansi lain…dan sikap yang baik akan memudahkan pembicaraan….bukankah orang akan senang jika berbicara dengan orang yang luwes, ramah dan menghargai orang lain…ini semua dilatih.

  26. ehuhuehueh saya ga pernah tuh bu dikirim kursus apa apa sama perusahaan… heuheuheu secara cuma itungannya honorer doang kayanya ga bisa minta macem macem deh…

    ah… kalo kursus kepribadian ini mama saya yang ribut nyuruh nyuruh buat ikutan! heuhuehe tapi disuruh bayar sendiri… ah… nanti nanti saja deh… 😉

    Natazya
    ,
    Nanti kalau udah kerja…juga akan dilatih kok sama perusahaannya.
    Sebenarnya sih nggak apa-apa juga ikut kursus dengan biaya sendiri….tapi mahal ya…

  27. Mmm… ada baiknya siy ikut kelas kepribadian.. tp buat Nana segala yg diajarkan begitu mengekang… cm bagusnya bisa diterapkan kalo lagi ada kondangannya ‘orang gede’ jd tau bagaimana bersikap.. kalo diterapkan sehari hari… ga kebayang deh… hehehehehe… bisa stress Nana 😀

    Biyung Nana
    ,
    Pelatihan kan bermacam-macam…tak hanya cara jalan, tapi juga lainnya. Kenyataannya, saya juga mempraktekkan sebagian…sesuai dengan kebutuhannya.

  28. Dalam pepatah orang Jawa, jalan wanita yang bagus itu adalah seperti “macan luwe”. Halah … bisa mbayangin nggak, bagaimana kalau harimau lapar berjalan? (saya mah susah … hehe 😀 )

    Bagi wanita karier dan para profesional, kursus kepribadian memang perlu, karena para wanita ini harus menjaga penampilan. Bayangkan bagaimana kalau dalam sebuah acara resmi perusahaan, atau ketika melakukan pembicaraan bisnis dengan rekanan di hotel bintang 5, penampilan staf wanita kayak mbok-mbok.

    Tutinonka
    ,
    Setuju mbak….memang itu maksudnya…
    Kalau sekarang istilah jalan yang tepat apa ya…luwes, sigap, cekatan….ehh benar nggak ya..
    Dan penampilan…kalau isteri menarik, luwes, berpakaian sesuai kepribadian dan empan papan…betapa suami juga ikut senang dan ga malu mengajak isterinya kemana-mana. Jangan kaget lho, ada suami yang tak pernah ngajak isterinya ke acara kantor, hanya karena penampilan isterinya tetap kacau walau sudah dikursuskan..mungkin pendapatnya kan yang penting diriku sendiri. Masalahnya kita bergaul dengan orang lain, dan agar menghormati orang lain, ya dimulai dari diri sendiri….

  29. Saya kadang berpikir, mana yang lebih benar… cara jalan yang salah yang harus diperbaiki, atau memang kapitalis melihat ada peluang untuk menambah pundi uang dengan cara mengharuskan perbaikan cara jalan ?

    Bingung dah 🙂

  30. boleh donk kasih masukan tempat – tempat yang di rekomendasikan untuk melakukan kurus cara berjalan, make up dan berpakaian.

    Terima Kasih

    Anda bisa cari di google…alamat seperti John Robert Power dll


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: