Sebuah cincin kawin

Suatu ketika, di ruang kelas Ilmu Tanah, Guru Besar Ilmu Tanah sedang memberikan kuliah. Sahabatku, berkali-kali mencolek tanganku, namun tak saya perhatikan karena saya sibuk mencatat. Tak lama kemudian terdengar bisikan temanku tadi, “En, perhatiin deh. Gue seneng deh sama bapak ini, lihat tangannya, pakai cincin kawin.” Saya tetap tak menggubris, agak sebal juga atas gangguannya, yang membuyarkan konsentrasiku untuk mencatat materi perkuliahan. Selesai kuliah saya tanya, ” Apaan sih, orang sibuk mendengarkan kuliah, kamu malah meributkan soal cincin kawin.”

Lanjutkan membaca “Sebuah cincin kawin”

Iklan

Uh…uh …tenyata harus belajar ilmu Hukum juga

Saat ini putaran job training Rita sampai pada bagian administrasi perkreditan. Untuk lebih memahami, Rita juga berkunjung ke notaris rekanan Kantor Cabang tersebut. Pada umumnya untuk kredit yang masih kecil, bentuk perikatannya masih sederhana, dan hal ini berbeda jika kredit telah besar, dan usaha juga makin kompleks. Bila usaha makin kompleks, maka perjanjian kredit dipersyaratkan untuk dibuat secara akte notariil.

Lanjutkan membaca “Uh…uh …tenyata harus belajar ilmu Hukum juga”

Harapan yang tak pernah padam

Mbak Sri hanyalah seorang pegawai rendahan. Pekerjaannya adalah bagian penataan arsip, sehingga setiap kali Rita akan berhubungan dengan mbak Sri, jika ingin meminjam manual perkreditan, serta peraturan lainnya. Sebagai seorang trainee, maka Rita harus mempelajari seluruh operasional Kantor Cabang, termasuk membantu mengelem amplop. Entah kenapa, saat itu amplop surat dibuat sendiri, dan hanya berupa lembaran yang sudah tercetak logo dan alamat Kantor, selanjutnya harus di lem di kiri kanannya. Selain itu, mbak Sri harus mengarsip bukti transaksi yang ribuan jumlahnya setiap hari, mengelemnya harus hati-hati, karena ini nantinya bisa dijadikan alat bukti jika ada perkara di pengadilan…jadi yang di lem hanya ujungnya saja…dan ditempel dalam suatu buku besar.

Lanjutkan membaca “Harapan yang tak pernah padam”

Cewek panggilan?

Jangan berpikir negatif dulu. Ini istilah saya dengan seorang teman, gara-gara teman saya tak bisa lepas dari hape nya. “Kenapa sih loe kok lengket banget sama itu hape?” tanya saya. “Ya begini nih kalau lagi jadi cewek panggilan,” jawabnya sambil tersenyum-senyum. “Hssh…jangan kenceng-kenceng, ntar orang nyangka beneran,” kata saya. “Ya, enggaklah, wong udah tuwek gini, “jawab temanku lagi.

Lanjutkan membaca “Cewek panggilan?”

Kejutan di tengah malam

Sebetulnya kemarin berniat tidur sore, karena besok ada janji dengan teman. Entahlah, ternyata kata-kata yang diucapkan seorang dokter saat pelatihan kewirausahaan terngiang kembali. Bahwa makin tua, maka kita akan sering sulit tidur…dan benar saja, mata sulit dipejamkan. Akhirnya membuka buku, dan mencoba merangkai kata-kata untuk membuat dongeng baru. Malam makin larut, sayup-sayup penyiar di sebuah radio mengucapkan salam perpisahan, untuk ketemu di udara besok pagi jam 5. Wahh udah jam 12 malam, mau tak mau harus dipaksa tidur, badan yang sudah tua ini memang harus lebih di sayang, di urus dengan benar, agar tak menyulitkan diri sendiri dan keluarga.

Lanjutkan membaca “Kejutan di tengah malam”

Pak tua

Account Officer (AO) Senior yang berada di Kantor Cabang tempat Rita job training ada enam orang, dan semuanya laki-laki…ada yang masih muda, ada yang sudah setengah umur….dan gosipnya berbini dua. Betapapun, Rita harus dekat dengan para AO ini, agar dia bisa memahami pelaksanaan operasional perkreditan dilapangan, bagaimana para AO memasarkan pinjaman, atau bagaimana cara penyelamatannya jika pinjaman menjadi bermasalah. Agar para isteri AO tidak cemburu, saat arisan yang juga dihadiri isteri Pimpinan Cabang, maka Rita minta ijin untuk menjelaskan tugasnya, dan mohon bantuan agar para isteri tak keberatan jika Rita berboncengan dengan suaminya. Boncengan sepeda motor? Tentu saja, lha untuk memahami perkreditan maka Rita harus belajar dari kredit yang paling kecil, dan tentu saja untuk kredit kecil seperti ini, AO dibekali sepeda motor dinas. Lha kalau pakai mobil, nasabah yang usahanya masih kecil itu akan ketakutan duluan.

Lanjutkan membaca “Pak tua”

Bos besar

Rita mengawali hari dengan bahagia, betapa tidak, akhirnya dia mendapat panggilan untuk diterima bekerja di sebuah Bank. Hatinya berbunga-bunga, dan hati berdebar, apakah saya bisa mengikuti pelajaran? Maklum, pendidikan Rita bukan berlatar belakang ekonomi, ilmu yang memang dianggap sesuai untuk bekerja di Bank. Rita sibuk menghitung dengan jarinya, berapa orang ya yang bukan berasal dari ekonomi?

Lanjutkan membaca “Bos besar”