Oleh: edratna | November 7, 2008

Andai ibu masih ada….

Tahun ini, andaikata ibuku masih ada, tentu merupakan tahun yang penuh kebahagiaan bagi beliau. Tahun ini kami, tiga bersaudara, menikahkan putra putrinya…juga semua anak-anak telah lulus S1. Dimulai saya mantu pada pertengahan Februari 08, dan adik nomor dua pada bulan Agustus 08, dan kemarin pada awal Nopember 08, ganti adik bungsu yang menikahkan putri sulungnya. Dan karena hanya adik bungsu yang menikahkan putrinya, maka saya jadi belajar bagaimana repotnya mengurus pernikahan, walau sudah menggunakan EO (Event Organizer).

Saya dan adik nomor dua mulai berpikir, bagaimana ya agar tak stres? Karena yang belum menikah tinggal anak perempuan, dan semuanya anak bungsu. Syukurlah masih agak lega karena kelihatannya para anak tersebut juga masih tenang-tenang semua, masih merintis karir dulu, dan mengejar mimpi masing-masing. Ternyata kehebohanku saat menikahkan anak sulung tak berarti apa-apa, karena saya di pihak anak laki-laki.

Saya jadi ingat percakapan dengan teman satu kompleks. Saat itu lagi membahas jika kita mulai tua, apa sebaiknya pindah ke tempat yang khusus untuk orangtua, agar punya teman gaul sesama orangtua, sehingga anak-anak yang sudah berkeluarga, dan masih mempunyai anak kecil tak direpotkan urusan memelihara orangtua. Terus orangtua sesekali dapat menengok cucunya, dengan membawa oleh-oleh, sehingga merupakan nenek atau kakek yang ditunggu kedatangannya oleh para cucu. Pembahasan juga berlanjut, bagaimana jika kita nanti menikahkan anak-anak kita? Dan saking semangatnya, malah berkhayal, bagaimana jika kami menjadi besan, jadi udah sama-sama tahu, dan enak pengaturannya. Dan sayangnya….diantara anak-anak kami ternyata tak ada yang saling nyantol, padahal anak-anak tersebut merupakan teman sepermainan, bahkan satu sekolah. Namanya juga jodoh, yang tak bisa dipaksakan.

Saat hal ini diceritakan sama si bungsu, dia cuma ketawa aja. “Ibu, ntar ga usah mikirin sampai pusing deh. Biarin aku sendiri yang mengurus dan sederhana saja. Saya tak ingin bapak sama ibu kecapekan.” Walaupun memang capek, membuat stres, tapi setelah acara akad nikah selesai, maka semua tersenyum lega, karena acara selanjutnya (resepsi dsb nya) hanyalah merupakan acara tambahan. Dan melihat betapa bahagianya keponakanku, yang selalu tersenyum terus, dan adikku suami isteri yang bisa tersenyum lepas….maka sebetulnya memang tak perlu kawatir berlebihan.

Dessa dan Nanu diapit orangtua

Dessa dan Nanu diapit orangtua

Dan sepupu pun ikutan berpose, apalagi sudah berdandan cantik, pake sanggul dan kebaya.

Narpendyah

Narpendyah

Dan ini para bude (saya dan adik nomer dua), mengapit pengantin perempuan menjelang akad nikah, didampingi oleh adik bungsunya.

Dessa diapit bude (Enny dan Endang) dan Ditta

Dessa diapit bude (Enny dan Endang) dan Ditta

Foto selengkapnya dapat dilihat disini dan disini.

Iklan

Responses

  1. wah baru menyelesaikan hajatan bu….
    iyah cita2 seperti itu juga kadang di citakan2 seorang anak… bagaimana keberhasilan itu ada ketika orang dicintai bisa melihat langsung keberhasilan itu…
    semoga keberkahan selalu bersama bu Enny 🙂

    Arul,
    Yang menikah keponakanku, putri sulungnya pak Tridjoko (blogger juga)

  2. Hmm.. belum ngerasain sih, tapi aku kebayang gimana susahnya..

    Selamat dech..

    Elwara,
    Memang bisa dibuat sederhana, tapi masalahnya ternyata tak sederhana, karena harus ada kesepakatan antara para pihak (orangtua, besan, anak dan calon menantu)…belum jika adatnya berbeda….akan menimbulkan kerumitan tersendiri.

  3. selamat…, selamat…, selamat…
    semoga selalu berada adalm limpahan rahmah dan perlindungan Allah ArRahmaan ArRahiim…
    [senyum] 🙂

    gbaiquni
    ,
    Makasih doanya…

  4. saya termasuk telat nikah (36 tahun lebih). prinsipnya, nikah saya tak mau ngerepotin ortu nan jauah di mato, di padang sana (hanya tinggal ibu, bapak sdh tiada). telat nikah karena ruwet mikirin ini itunya.

    ternyata stlh dijalani, semua jadi mudah dan alhamdulillah lancar. banyak bantuan tak terduga, dari tetangga, teman dan famili.

    andai saja mungkin, pengen ngulangi lagi tuh acaranya (sst bukan mau cari istri kedua lho…)

    selamat ya bu…

    Zulmasri,
    Pernikahan saya dulu sangat sederhana, karena ayah jatuh sakit, dan kemudian meninggal dunia.
    Sebetulnya yang penting adalah akad nikahnya sah, yang lain hanya kembangannya…bisa dipersempit (sederhana), bisa dibuat meriah, sesuai kesepakatan, dan dana yang tersedia tentunya.

  5. Orang tua saya sudah menikahkan ke 7 anak2-nya, tapi 6 diantaranya laki2 jadi seolah hanya ‘mantu’ sekali.

    Tapi yg namanya hajatan pernikahan ya heboh juga meski ‘sekedar mengantar’ pengantin laki2 (apalagi ada yg pakai acara ngunduh ‘mantu segala’).

    Variasinya juga macam2 ada yg dengan full rombongan, ada pula yg bener2 paket hemat, orangtua berdua + pengantennya saja karena jauh di Kalimantan dan nggak punya ongkos …hehehe.

    Selamat bersiap dari sekarang Bu Enny …

    Oemar Bakrie,
    Dulu pusing membayangkan kalau punya anak laki-laki harus sunat…jadi saat sunatan si sulung, saya dan suami tak ngomong-ngomong, dan dilaksanakan di Bandung…..wahh itu aja stres berat (atau saya yang selalu memandang segala sesuatu dengan serius ya).

    Anak sulung saya laki-laki, jadi ya lebih menyerahkan pada pihak pengantin perempuan, apalagi waktu hanya 2 minggu sejak melamar (4 Feb 08), sampai acara akad nikah dan resepsi (17 Feb 08)…maklum lima hari kemudian pengantin putrinya terbang ke Miami.

    Lha sekarang, yang belum menikah dari anak-anak kami (saya dan adik-adik) adalah anak bungsu dan perempuan….belum-belum udah mikir nih pak…apalagi kayaknya si bungsu akan dapat berbeda suku….hehehe…semoga ga terlalu ribet ya…ntar belajar dari bapak. Foto di atas itu ada mahasiswanya bapak lho, kemarin saat di wisuda sempat ketemu bapak walau sebentar, kata Tridjoko.

  6. hajatan emang repot bu. kalo saya malah bingung, siapa nanti yang akan mengantar saya ke altar ketika saya menikah krena bapak sudah tidak ada dan adik2 lelaki bapak berbeda agama dgn keluarga kami?

    Aprikot,
    Iya…saya juga udah membayangkan…..
    Dan kami keluarga kecil, yang semuanya pekerja sibuk. Walau pake EO tetap aja repot.

  7. Selamat buat sang Keponakan ya, Bu… Semoga kebahagiaan di hari pernikahan, terus terasa sampai selamanya… Amin.

    Waktu Mbak menikah, saya juga ikutan repot, Bu. Semuanya dikerjain sendiri tanpa wedding organizer. Biarpun capek, tapi senang sekali…

    Waktu Mas menikah, memang nggak terlalu capek. Tapi karena ngunduh mantu, jadi saya dua kali disanggul dan pake kebaya… Aduh, nggak tahan deh Bu.. sampai kesrimpet-srimpet… hehehe…

    Kalau saya menikah kelak, insyaAllah nggak usah pakai resepsi dan segala macemnya itu. Saya pengen akad nikah saja… Lalu syukuran makan-makan di rumah. Eman-eman duitnya.. hehehe…

    (tapi belum tentu juga, sih… tergantung nanti aja ah.. wong pasangannya aja belum ada kok udah mimpi yang macem-macem.. hihihi)

    Eniwei, Ibu sehat kan?
    Sepertinya saya bisa ketemu tanggal 13 nanti… Ajak Mbak Yoga juga ya, Bu… 🙂

    Jeunglala,
    Memang betul, jika sederhana, uangnya bisa untuk uang muka KPR, atau beli laptop minimal bisa dapat empat yang udah bagus. Tinggal nanting calon pengantinnya aja. Tapi kadang mereka pengin punya dokumentasi yang lengkap, seperti menantu saya…karena teman-teman di sana pengin lihat. Dan saat sebelum menantuku balik ke Amrik, melihat baju yang dipake pengantin via email dan MP, mereka pesan kebaya berenda…terpaksa deh ngubeg-ngubeg Pasar Tanah Abang dan Mangga Dua…tapi mereka seneng banget.

    Iya, kalau Jumat kan Yoga ngantor…nanti bisa sms an, bisa ketemu saat Yoga pulang kantor. Enaknya dimana ya, atau janjian dulu dimana, ntar ke rumah aja…tapi makanan pesan ya, seperti Piza atau apa, biar si mbak ga repot (mbaknya pulang kampung dan diganti sementara yang dari Bandung). Ehh bukumu udah dibawa si bungsu, dia tersenyum-senyum baca bukumu.

  8. Kalau saya belum pengalaman jadi “Event Organiser” perkawinan paling2 acara ulang tahun baik di rumah maupun di kantor, juga jikalau ada acara2 khusus di kantor. Juga pernah jadi EO acara 17 Agustusan tapi itu cuma sekali, tahun lalu setelah itu kapok. Sebenarnya acaranya sendiri nggak bisa dikatakan gagal tetapi jumlah pesertanya yang bisa dikatakan “gagal”. Mungkin sosialisasinya juga kurang, maklum acara 17an juga diikuti oleh warga sekitar juga. Tapi lumayan deh, dapet pengalaman yang iseng2 hehehe…….

    Yari NK,
    Aduhh kang, mosok EO kawinan dibandingkan dengan EO Agustusan….hehehe
    Tapi memang pening kok, dan pasti ada kejadian yang lucu-lucu…tapi yang penting semua berjalan lancar, kalau ada kekurangan, itu hal yang wajar.

  9. huahahahaha…itu foto narpendyah centil amat ya 😛
    Aku punya koleksi foto2 kecentilan pepen yg lain lho…mau?

    Poppy,
    Pepen memang centil…dan fotonya kan jarang yang serius…..
    Fotomu juga ada lho yang centil…mau dipajang disini? Udah lihat kan di Multiply? Itupun belum semuanya….

  10. wah…ibu memang benar, kalo ibu2 kita selalu menemani kita disemua acara / suasana pasti akan lebih terasa menyenangkan bu…

    tapi ayah saya tidak datang waktu saya menikah, pdhl saya anak bungsu dan ketiga saudara saya laki2 semua…wali saya abang saya yg nomor 1..

    sedih sekali pesta pnikahan saya dmedan bu….karena ayah sy tdk stju

    cutemom cantik,
    Hmm…ya pernikahan yang berbeda suku atau bangsa kadang menimbulkan ketidaksetujuan pada beberapa pihak. Namun, bagaimanapun semua terpulang kepada pasangan yang akan menikah. Jika saling mencintai, tak masalah kan? Banyak kok teman saya menikah sendiri, karena dapat orang Amerika, dan ongkosnya mahal jika orangtua datang ke sana, belum urusan visa dsb nya yang tak mudah.

  11. Aih Ibu manglingi… Cantik sekali! Saya juga pangling dengan Narpen… Nah Narpen nanti kalau sudah jadi wanita karir, kira-kira seperti itu mungkin penampilanmu ya, dewasa dan cantik.

    Hehehe… nggak rugi ya Bu, subuh-subuh ke salon. 🙂

    Yoga
    ,
    Cantik?? Hehehe…apa bukan malah kelihatan galak…..apalagi jika pake kacamata. Lha kalau ga pake, nggak bisa lihat apa-apa, ntar ada orang tersenyum saya diam aja, dikira sombong. Tapi kan yang penting aslinya tak seperti itu…..kalau ketemu orang yang cocok, karena saya bisa galak juga lho.
    Iya tuh, jam 4 pagi udah bangun terus ke salon….. dan pusing karena bau haispray. Udah lihat yang di Multiply?

    Narpen memang manglingi…lha kok malah kayak orang Jepang, sanggulnya model begitu, matanya tinggal satu strip, padahal aslinya “melok”, seperti mata ayahnya, nggak sipit kayak saya.

  12. kalo dulu keknya lbh gampang drpd sekarang, deh bu, meski upacaranya lbh ribet. dibantu tetangga2 ama handai taulan soalnya.

    yah, kl dipikiranku sih biasanya orangtua yg suka repot sendiri. kadang anak mlh pgn nikah yg sederhana, ga neko-neko. yg kulihat kebanyakan sprti itu.

    (^_^)v

    jd keinget ucapan nenek yg skrg udah sakit2an. beliau pgn ngeliat aku nikah, bu. makanya disuruh cepet2. waduhaduh…

    Farijs van Java,
    Lha ya udah…ikutan ke PB 08, siapa tahu kenal blogger muda yang cantik…kan bisa berlanjut. Ada lho gara-gara kopdar terus berlanjut….baca aja blog teman-teman….

  13. Cantiiiiiiiik!!! Itu bude2nya to lhoo…cuantik… ~^_^~

    -G-
    Makasih…semoga bener cantik sesuai umurnya……

  14. Pernikahan adalah gerbang menuju keluarga baru. Ada yang datang ada yang pergi. Di satu sisi, keluarga bertambah satu dengan adanya mantu sebagai pelengkap anggota keluarga. Di sisi lainnya orang tua harus rela melepas anak-anaknya untuk mengarungi kehidupan sesungguhnya membentuk satu keluarga. Namun demikian, salah satu kewajiban orang tua memang menikahkan anak-anaknya. Keluarga akan semakin bertambah dengan kehadiran cucu dan generasi selanjutnya.

    Mufti AM,
    Betul…..pernikahan adalah fase awal membentuk keluarga baru…

  15. Alhamdulillah…sampai hari ini aku masih hidup … 😉
    Sebelum menikahkan anak pertama yang perempuan, saya sebenarnya takut bila terlalu stress dan akhirnya meninggalkan dunia yang fana ini (ingat ayah dulu di tahun 1981).. Oleh karena itu, sejak awal saya tidak mau ikut-ikutan stress dan menganggap pernikahan anakku hanyalah “just another day”. Anggap aja peristiwa 17an yang biasa saya organisir sebagai Ketua RT..hehe..

    Terima kasih kepada Bu De-Bu De dan Pak De-Pak De-nya Dessa yang telah ikutan stress sejak awal. Sayang pas mau ngucapin terima kasih ke Cilandak ternyata semuanya sudah bubar jalan…haha..

    O ya, trims juga sudah menampung sementara +- 30 box besar buku saya. Kapan-kapan diambil bila “kereta Jepang” saya sudah diperbaiki..

    Foto-foto tambahan pernikahan Dessa juga sedang saya upload ke multiply saya di triwahjono.multiply.com

    Tridjoko,
    Justru itu yang saya kawatirkan….teman saya isterinya masuk rumah sakit, dioperasi, pada saat sama suami yang memimpin perusahaan harus menyiapkan anggaran perusahaan untuk tahun 2009…dan akhir bulan ini akan mantu putri sulungnya.
    Lha saya yang nggak ikutan mantu aja, ikut stres…masih mikir-mikir bagaimana ya enaknya biar ga mumet….ahh masih empat tahun lagi kan? Duhh mulai mules lagi deh…

  16. wahh..bunda kalo sanggulan dan dandan gituh cantiikk sangatt dehhh hihihi

    Yessymuchtar,
    Biar dibilang cantik, nggak mau tiap hari ahh…pusing…..bau hairspray dll.

  17. Selamat ya bu…
    Emang stres kalau bikin acara seperti itu..
    Lihat ibu saya bantu-bantu saudara hajatan aja repot banget…
    Nggak kebayang kalau punya hajat…

    *Ah, saya masih lama bikin hajatan gituan :mrgreen: *

    Ardianto,
    Lha nanti yang repot kan calonmu, ya Ardianto repot menabung untuk kontrak atau beli rumah?

  18. wahhh bunda ayu betl klau memakai kebaya 😀
    wahhh baru nyelesaikan hajatan yah bunda 😀

    Gelandangan,
    Hehehe…tapi tetap enakan sehari-hari biarpun tak terlihat cantik.

  19. waktu mantenan saya dulu, pengennya saya sih ijab kabul terus syukuran yg biasa dan sederhana gitu, wong saya itu paling alergi sama yg namanya rame2, bu Enny. tapinya….ibu mertua saya yg nggak terima, hehe….ya akhirnya demi kestabilan dan keamanan berbangsa dan bernegara….nurut juga saya akhirnya. haa…saya ingat, rambut saya yg gondrong waktu itu, malah nggak boleh dipangkas sama bude saya yg kebetulan pintar merias pengantin. malah dikuncir, soalnya saya pake basahan ala jogja. jadi ingat betapa lelahnya waktu itu, bu Enny….

    Goenoeng,
    Jadi ingat anakku sulung…yang nggak mau pakai kain basahan yang kelihatan dadanya, takut masuk angin…hahaha….
    Adat Jawa memang repot ya….ribet banget…

  20. memang bikin capek ya bu, capeknya lahir batin, hahaha…..
    apalagi kalo masih model di tempat saya, yaitu punya gawenya nggak di gedung tapi di rumah. wah…bisa loyo habis deh, setelah acara.
    salam kenal bu, saya warga baru di dunia maya 🙂

    Deenee,
    Sebetulnya enak yang praktis, karena pusing banget….masalahnya kan kesepakatan dua pihak, dan tentu ingin suatu kenangan….

  21. Menjadi orangtua? Entah apakah saya belum siap untuk “menjadi”, ataukah saya belum siap untuk “mencintai”. 😛

    Mihael “D.B.” Ellinsworth,
    Tenang aja, nanti ada waktunya kok…

  22. Seandainya ibu masih ada, ibu pasti bahagia ya?

    Edi Psw
    ,
    Iya…pasti. Bahkan ibupun tak sempat melihat anak bungsuku….

  23. postingan ibu menambah semangat saya untuk cepat cepat nikah niy hehehehehe

    Imoe,
    Sebetulnya tak ada yang perlu dikawatirkan, asal ketemu pasangan yang cocok, pernikahan sangat menyenangkan…apalagi jika telah ada anak-anak….

  24. wah, selamat, bu atas pernikahan putra-putri dan keponakannya. semoga menjadi keluarga yang sakinah mawahdah warrahmah. memang, ibunda bu enny akan merasa sangat bahagia menyaksikan cucu2nya sudah mendapatkan pasangan hidup dan berkeluarga. meski sudah tiada, beliau pasti tersenyum bahagia di alam keabadiannya.

    Sawali Tuhusetya,
    Saya berharap begitu pak…minimal saya dan adik-adik telah menyelesaikan kewajiban mengantarkan anak-anak lulus S1…dan semoga nanti juga dapat mengantar sampai mereka menikah…sekarang masing-masing tinggal punya si bungsu (mudah2an masih ada waktu…pening euy).

  25. Semoga keluarga Anda selalu bahagia. Kalau perjalanan saya masih panjang karena anak masih kecil

    love-ely,
    Makasih doanya…

  26. Halah.. Bapak masih doyan main gamelan sendirian.. ihik… ihik…

    Kunderemp
    ,
    Bapak udah dikejar-kejar untuk berangkat sama Agus jam 6 pagi, karena akan jadi saksi, wakil keluarga dan mewakili keluarga memberi sambutan (ada 3 peran).
    Sedang ibu, adikmu, te Popy, te Endang dll…udah ke salon sejak jam 4.30 pagi …ternyata akad nikahnya jam 9 pagi…untuk menunggu waktu ayahmu main gender…dan asyik sendiri.

  27. Ibu…cantik sekali….kebayang deh repotnya punya gawe mantu.
    Ketika anak saya yang nomor satu menikah…anak laki2 saya dan si bungsu perempuan mengatakan : Besok…kalau aku menikah…gak usah repot gitu ya mah…aku lihat nya pusing ..kok ribet amat.
    Tapi itulah orang tua, kadang kadang kita juga yang mikirnya njlimet,anak anak mungkin lebih santai…

    Dyahsuminar,
    Iya nih bu, jadi mikir kok repot banget ya, padahal udah pake EO…enaknya bagaimana ya…masih ada satu nihh….namun kayaknya masih tenang-tenang semua….

  28. Melihat foto-foto di multiply jadi ketawa-ketiwi sendiri. Lucu-lucu tur ayu-ayu…

    Sekitar 13 tahun lalu aku kerja jadi fotografer pernikahan. Buat tambah-tambah uang saku. Setiap minggu njepreti orang nikah. Setiap minggu! Dari mulai awal tamu belum datang, sampai gedung/rumah sepi nyenyet.

    Kronologis pernikahan dari mulai akad sampai bubaran hapal di luar kepala.

    Tapi dari dulu hanya bisa menyaksikan orang nikah doang. Hahaha!

    Daniel Mahendra,
    Lucu-lucu…..ha?
    Padahal udah dandan cantik-cantik, sejak Subuh…..
    Kalau tahu DM dulunya fotografer pernikahan…boleh juga tuh…kan rumahmu seperlemparan batu dari rumahku, jadi undangan sekaligus motret.
    Tapi ntar dulu ahh…..mikirnya aja udah bikin mules duluan…..mudah2an si bungsu nggak cepet2 dulu….biar bernafas panjang….

  29. Mungkin jarak rumahku hanya sepelemparan batu, Bu. Tapi jangan kira, siapa tahu Narpen pingin cepet-cepet. Jadi tidak sampai sepeminuman teh. Hihihi.

    Daniel Mahendra
    ,
    hehehe….Narpen masih asyik ngeloni dan ngudang “Jacky” kok….yang hidungnya lucu dan bulunya lembut….Aku juga belum puas untuk memeluk dan menciumnya…ntar kalau udah nikah kan jadi sulit di peluk-peluk gitu…..

  30. mempelai laki2 dr jawa juga ya Bu? prosesinya lengkap sekali..
    selamat berbahagia buat Dessa dan Nanu 🙂

    btw kapan Bu mantu lg 😉

    Pimbem,
    Orantuanya dari Klaten, tapi dia lahir dan dibesarkan di Jakarta, sama seperti keponakanku, mereka teman satu angkatan di UNDIP.

    Mantu? Ntar dulu deh…si bungsu masih muda sekali, sayang kalau cepat-cepat….

  31. yg narpen ga salah foto bu?hi3x,liat 3x masih ga yakin.. keluarga sy yg dah nikah 2 kakak laki2x smua,jd tinggal dateng aja ama beli seragam bwt keluarga.paling repot ntar mantu kakak perempuan sy,ada kenalan bu bwt calon?hehe.
    btw,ga ada foto penari ganteng yg katanya bayarannya beda itu bu :p

    Eric,
    Lihat di account multiply…atau klik langsung yang dibawah postingan…..disitu ada penari ganteng, pake beskap orange (yang jadi cucuk lampah…istilah di Jawa…yang mengawali rombongan penganten memasuki gedung sampai duduk di pelaminan)….kalau udah tua konon bayarnya lebih murah. Dan gara2 itu, tante nya Narpen ga mau masuk barisan karena pengin lihat si penari memperagakan tariannya……dan memang guanteng kan….

    Itu memang Narpen…manglingi ya…kayak orang Jepang…tapi dia ga tahan sama bulu mata palsunya…huahaha….bisa lihat foto lainnya di Multiply…bandingkan saat dia harus pakai konde Jawa, saat nikahnya Narpati & Lis…nahh cantik mana….periasnya beda

  32. hm… liat foto yang nikahan jadi mikir sendiri kalau saya ga kepengen ribet2 nanti pas menikah… Alhamdulilah orang tua udah ngasih ga pakai resepsi asal kumpul keluarga aja 😀
    selamat buat ponakannya bu!!!

    Natazya,
    Hmm sebetulnya yang penting akad nikahnya….yang lain kan hanya embel-embel.
    Memang ribet, tapi hasilnya worthed untuk kenangan…..seperti menantuku, orang bule seneng banget dan dia mesti cerita kenapa begini, kenapa begitu….padahal dia sendiri cewek Jawa yang lahir dan besar di Jakarta, ya nggak ngerti juga..

    Dan kalau sederhana…biayanya bisa buat beli laptop lebih dari empat lho….!

  33. ibu, salam kenal.
    bahagianya bisa mantu….
    jangan lupa bersyukur ya bu, bisa ‘menangi’ anak-anak untuk mentas.
    saya sendiri nggak tahu, besok menikah akan diapit siapa. abisnya ayah dan ibu saya sudah meninggal semua. 🙂

    Femi
    ,
    Sebetulnya nggak masalah kok….kalaupun tak ada saudara juga bisa teman.
    Yang penting ketemu tambatan hati, yang benar-benar cocok dengan kita
    Salam kenal juga, makasih telah berkunjung..

  34. Waduh Bunda photo resepsinya meriah dan indah sekali semua cantik-cantik dan adat jawanya kental.

    Stressnya worth kok Bunda melihat hasilnya yang semeriah itu. thanks

    Yulism,
    Iya…memang stres, tapi senang melihat semua berjalan lancar….
    Tapi biaya memang lumayan besar, jadi mesti menabung dulu…..

  35. Tidak terasa, tiba-tiba saya menyadari anak saya sudah SMP, jangan-jangan tidak terasa pula ketika kelak saya mantu seperti ibu Ratna!… heheh

    Andy MSE,
    Kalau SMP masih jauh pak, masih sekitar 10 tahun lagi….tapi kadang waktu berjalan cepat sekali…

  36. Oh, jadi besok akhirnya ngambil DM sebagai mantu, Bu?

    Jadi? Selamat kalau begitu karena ibu mendapat satu ikan bawal segar hahahaha!

    *Lari sebelum ditimpuk DM!*

    Donny Verdian
    ,
    Lha saya juga bisa ditimpuk cewek-cewek yang nilpon DM terus menerus…tanya EM, lha mosok dalam setengah jam kira-kira ada 10 cewek yang tilpon…mestinya tak catet ya, selama ketemuan berapa telepon yang masuk, makanya dia jadi bahan olok-olok…bener-bener “cowok panggilan”.

    Hmm….DM memang baik kok, menantu potensial, masalahnya apakah DM dan yang lainnya cocok?…Duhh ntar DM nggak mau deket2 lagi, takut kalau saya baiknya mau ambil menantu…hauhaha…

  37. Selamat, ya, Bu. Semoga jadi keluarga yang bahagia selama hayat dikandung badan.
    Kalo saya nikah dulu, karena beda suku, saya ikutin tatacara perkawinan pihak istri.

    Alris,
    Yang penting memang kesepakatan antar pasangan serta keluarganya…karena sebetulnya yang utama adalah sahnya pernikahan itu…..

  38. ibu, Narpen dan Dessa mirip sekali ya… seperti adik-kakak.

    Nah, saya dikasih tahu ya bu kalau tiba waktunya ibu mantu. Biar bantu dengan doa dan sms hehehe

    EM

    Ikkyu_san,
    Mirip ya…berarti garis darah dari saya lebih kental…
    Sebetulnya Narpen tak semuanya mirip saya, matanya seperti ayahnya (bulat dan besar, sedang saya sipit)….tapi gaya berjalan, perilaku mirip saya. Dessa lebih banyak mengikuti ayah (yang adik kandung saya) dibanding ibunya, jadi lebih dekat kemiripannya ke saya.

    Pasti deh….tapi targetnya masih lumayan lama kok…bisa nabung dulu….beuhh…biayanya cukup mahal, walau sesederhana mungkin….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: