Andai ibu masih ada….

Tahun ini, andaikata ibuku masih ada, tentu merupakan tahun yang penuh kebahagiaan bagi beliau. Tahun ini kami, tiga bersaudara, menikahkan putra putrinya…juga semua anak-anak telah lulus S1. Dimulai saya mantu pada pertengahan Februari 08, dan adik nomor dua pada bulan Agustus 08, dan kemarin pada awal Nopember 08, ganti adik bungsu yang menikahkan putri sulungnya. Dan karena hanya adik bungsu yang menikahkan putrinya, maka saya jadi belajar bagaimana repotnya mengurus pernikahan, walau sudah menggunakan EO (Event Organizer).

Saya dan adik nomor dua mulai berpikir, bagaimana ya agar tak stres? Karena yang belum menikah tinggal anak perempuan, dan semuanya anak bungsu. Syukurlah masih agak lega karena kelihatannya para anak tersebut juga masih tenang-tenang semua, masih merintis karir dulu, dan mengejar mimpi masing-masing. Ternyata kehebohanku saat menikahkan anak sulung tak berarti apa-apa, karena saya di pihak anak laki-laki.

Saya jadi ingat percakapan dengan teman satu kompleks. Saat itu lagi membahas jika kita mulai tua, apa sebaiknya pindah ke tempat yang khusus untuk orangtua, agar punya teman gaul sesama orangtua, sehingga anak-anak yang sudah berkeluarga, dan masih mempunyai anak kecil tak direpotkan urusan memelihara orangtua. Terus orangtua sesekali dapat menengok cucunya, dengan membawa oleh-oleh, sehingga merupakan nenek atau kakek yang ditunggu kedatangannya oleh para cucu. Pembahasan juga berlanjut, bagaimana jika kita nanti menikahkan anak-anak kita? Dan saking semangatnya, malah berkhayal, bagaimana jika kami menjadi besan, jadi udah sama-sama tahu, dan enak pengaturannya. Dan sayangnya….diantara anak-anak kami ternyata tak ada yang saling nyantol, padahal anak-anak tersebut merupakan teman sepermainan, bahkan satu sekolah. Namanya juga jodoh, yang tak bisa dipaksakan.

Saat hal ini diceritakan sama si bungsu, dia cuma ketawa aja. “Ibu, ntar ga usah mikirin sampai pusing deh. Biarin aku sendiri yang mengurus dan sederhana saja. Saya tak ingin bapak sama ibu kecapekan.” Walaupun memang capek, membuat stres, tapi setelah acara akad nikah selesai, maka semua tersenyum lega, karena acara selanjutnya (resepsi dsb nya) hanyalah merupakan acara tambahan. Dan melihat betapa bahagianya keponakanku, yang selalu tersenyum terus, dan adikku suami isteri yang bisa tersenyum lepas….maka sebetulnya memang tak perlu kawatir berlebihan.

Dessa dan Nanu diapit orangtua
Dessa dan Nanu diapit orangtua

Dan sepupu pun ikutan berpose, apalagi sudah berdandan cantik, pake sanggul dan kebaya.

Narpendyah
Narpendyah

Dan ini para bude (saya dan adik nomer dua), mengapit pengantin perempuan menjelang akad nikah, didampingi oleh adik bungsunya.

Dessa diapit bude (Enny dan Endang) dan Ditta
Dessa diapit bude (Enny dan Endang) dan Ditta

Foto selengkapnya dapat dilihat disini dan disini.

Iklan