Oleh: edratna | November 12, 2008

Pemetaan portofolio, bermanfaat untuk mengetahui posisi masing-masing unit bisnis dalam perusahaan

Perhatian !

Tulisan ini sangat panjang, semoga bermanfaat bagi yang ingin melakukan penilaian SBU (dikutip dari buku pak Bramantyo)

I. Pendahuluan

Suatu perusahaan, biasanya terdiri dari berbagai unit bisnis, yang masing-masing merupakan profit center dan merupakan penyumbang pendapatan bagi perusahaan tersebut. Untuk mengetahui apakah unit bisnis tersebut menguntungkan atau membebani perusahaan, sebagai langkah awal dapat dilakukan dengan melakukan pemetaan portofolio. Pemetaan portofolio ini penting sebelum melakukan restrukturisasi portofolio perusahaan, karena dengan memetakan portofolio yang ada di perusahaan tersebut, akan diketahui posisi masing-masing unit kerja, apakah masih dapat berkembang, atau sudah mengalami penurunan.

Restrukturisasi portofolio adalah kegiatan atau upaya berkaitan dengan penyusunan ulang aset perusahaan supaya kinerja tersebut menjadi lebih baik di masa depan.

Pengertian aset mencakup:

  1. Aset individu seperti gedung, tanah, mesin, hak paten, goodwill, dan sebagainya yang tercantum dalam sisi “harta” pada neraca korporasi
  2. Lini bisnis, yaitu suatu kumpulan aset (misalnya mesin, gedung, peralatan, system, sampai tenaga kerja) yang digunakan untuk memproduksi suatu produk tertentu.
  3. Divisi atau Strategic Business Unit (SBU) dalam korporasi, yang merupakan satu kesatuan usaha dan manajemen divisi atau SBU tersebut memiliki wewenang untuk mengambil keputusan dalam menjalankan divisi atau SBU tersebut. Atau dalam kata lain, sebuah SBU merupakan investment center.
  4. Anak perusahaan, di mana induk perusahaan terkadang hanya bersifat mendukung (supporting) terhadap kegiatan anak perusahaan tersebut.

Bentuk penyusunan ulang, bisa menjual aset, lini bisnis, divisi, SBU atau anak perusahaan sehingga kepemilikan menjadi menurun. Sebaliknya, restrukturisasi portfolio juga bisa diterapkan dalam bentuk pembelian suatu aset, lini bisnis, divisi, SBU atau anak perusahaan sehingga kekayaan korporasi meningkat.

Langkah awal dalam melakukan restrukturisai portofolio adalah sebagai berikut:

  1. Evaluasi aset-aset perusahaan berdasarkan kemampuan masing-masing memberikan nilai tambah pada perusahaan.
  2. Evaluasi kemungkinan pengembangan penggunaan aset yang saat yang saat ini dimiliki, sejalan dengan strategi ke depan. Aset yang saat ini kurang produktif atau bahkan menganggur bisa jadi akan dimanfaatkan di masa depan. Dengan demikian, manajemen perlu merawat aset-aset tersebut. Evaluasi ini menghasilkan daftar aset yang perlu dipertahankan dan daftar aset yang tidak perlu dipertahankan.
  3. Hitung nilai aset yang tidak perlu dipertahankan untuk dijual.
  4. Evaluasi portofolio usaha korporasi. Sebuah korporasi dengan sejumlah unit usaha (lini bisnis, divisi, SBU atau anak perusahaan) perlu membuat peta portofolio untuk mengetahui bagaimana kinerja masing-masing unit usaha tersebut.

II. Evaluasi portofolio

Evaluasi portofolio dilakukan untuk sebuah korporasi yang memiliki sejumlah SBU. Masing-masing SBU memiliki karakteristik yang berbeda berdasarkan berbagai faktor, misalnya: usia SBU menurut daur hidupnya, tingkat risiko, kemampuan menghasilkan cash flow, gaya manajemen, dan tingkat produktivitas aset dalam SBU yang bersangkutan. Salah satu cara analisis portofolio adalah menggunakan model matriks BCG (Boston Consulting Group), sebuah matriks yang sangat terkenal di dunia manajemen. Menurut matriks BCG, SBU dapat dipetakan ke dalam empat kuadran : a) Tanda tanya, b) Bintang, c) Sapi Perah, dan d) Anjing. Pembuatan kuadran tersebut menggunakan dua variabel, bagian pasar yang relatif (relative market share) dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya dan tingkat pertumbuhan pasar (market growth rate).

Ciri-ciri Kuadran

Untuk membantu identifikasi SBU ke dalam kuadran-kuadran di atas, disajikan beberapa ciri atau indikator suatu kuadran sebagai berikut.

Kuadran Tanda Tanya:

  • Berisi SBU yang masih muda. Karena baru dikembangkan oleh perusahaan, SBU tersebut memiliki harapan untuk berkembang. Biasanya, unit pengembangan bisnis (Business Development Unit) perusahaan sudah membaca pertumbuhan pasar yang tinggi sementara pasokan produk oleh produsen yang ada belum mencukupi.
  • Pemilihan jenis usaha yang tepat untuk dikembangkan sangat menentukan peluang perkembangan SBU yang baru tersebut. Semakin rendah persaingan dan semakin kuat keunggulan bersaing untuk usaha tersebut, semakin cepat SBU berkembang.
  • Tingkat kompetisi yang rendah tersebut bisa diukur dengan terkonsentrasinya pasar, pada produsen yang sedikit.

Kuadran Bintang:

  • Berisi SBU yang berhasil dikembangkan dengan baik, dan telah melewati fase pengenalan dari kuadran “Tanda Tanya”. Dalam kuadran “Bintang”, SBU berhasil mencapai bagian pasar yang relatif besar. Sementara itu, pertumbuhan perusahaan tetap tinggi.
  • SBU yang berada di kuadran ini merupakan harapan perusahaan untuk menjadi champion masa depan bagi perusahaan. Bila SBU yang telah menua dan tidak dapat berkompetisi lagi harus ditutup, SBU dari kuadran “Bintang” diharapkan dapat menggantikan posisi SBU tua yang ditutup tersebut.

Kuadran Sapi Perah:

  • SBU yang masuk dalam kuadran ini adalah yang telah memiliki bagian pasar besar, tetapi sudah tidak dapt bertumbuh lagi. Kalaupun bertumbuh, tingkat pertumbuhannya rendah. SBU ini menjadi sumber penghidupan bagi perusahaan.
  • Ciri utama SBU dalam kuadran “Sapi Perah” adalah kemampuannya menghasilkan uang yang banyak. Kemampuan ini bisa terjadi karena SBU ini tidak memerlukan investasi yang besar. Kalaupun perlu, paling untuk mempertahankan kapasitas dan fasilitas yag ada supaya tetap produktif, atau investasi untuk penelitian dan pengembangan dalam rangka mengikuti selera pasar. Uang yang berlebih ini dimanfaatkan untuk membantu pengembangan SBU yang berada di kuadran “Tanda Tanya” dan “Bintang”.

Kuadran Anjing:

  • SBU yang masuk kuadran ini, merupakan SBU dengan bagian pasar yang kecil dan sekaligus pertumbuhannya sangat kecil, bahkan sering negative. SBU pada kuadran ini sudah tidak memilki masa depan sehingga tidak menarik lagi. Dengan modifikasi tertentu, misalnya modifikasi produk, kemungkinan SBU jenis ini bisa membaik lagi. Tapi ada kemungkinan biaya lebih mahal dibanding hasilnya.
  • SBU yang berada di kuadran ini bisa berasal dari SBU yang tadinya di kuadran “Tanda Tanya” yang kemudian gagal berkembang. Baru dirintis langsung gagal. Atau berasal dari kuadran “Sapi Perah” yang karena manajemen tidak melakukan inovasi produk pada SBU ini, lama kelamaan tergelincir karena tidak mampu bersaing dengan produk pesaing. Kalaupun melakukan inovasi, hasilnya tidak sebaik produk pesaing dalam memenuhi tuntutan konsumen, atau karena industri tersebut memang sudah mati. Misalnya perusahaan yang bergerak dibidang pembuatan mesin ketik, karena konsumen beralih ke komputer, pertumbuhan pasar mesin ketik menjadi negatif. Atau perusahaan di bidang pager, yang kemudian kalah bersaing dengan handphone, yang dapat menulis sms tanpa perantaraan pihak lain. Dahulu kala, pager ini sangat berguna untuk menghubungi dokter dalam keadaan darurat.
  • Ada kemungkinan SBU yang berada di kuadran “Bintang” terperosok masuk ke dalam kuadran “Anjing”, sekalipun kemungkinannya kecil. Ada dua penyebab keterperosokan tersebut bisa terjadi. Pertama, kalau terjadi kesalahan manajemen (mismanagement). SBU yang baik bisa tiba-tiba kehilangan keunggulan bersaing, bila manajemen tidak memberi perhatian yang cukup, bahkan mengalihkan kompetensi dan keunggulannya ke SBU lain yang lebih disukainya. Kedua, kalau terjadi perubahan peta persaingan bisa disebabkan oleh munculnya pesaing baru yang sangat kuat. Peta persaingan bisa bergeser bila terjadi perubahaan politik dan perundangan. Perusahaan yang dulunya monopoli menjadi harus bersaing dengan perusahaan lain karena ada kebijakan tentang pemerintah.

Tahap dalam siklus hidup

Kuadran “Tanda Tanya” berisi SBU yang berada pada tahap pengenalan. Oleh karena itu, SBU-SBU ini berusia relatif muda. Pengertian muda cukup relatif. Pada industri tertentu, terutama industri yang memproduksi non durable goods, usia muda berkisar antara satu sampai lima tahun. Bagi SBU yang memproduksi capital goods, seperti mesin, kategori usia muda bisa mencapai sepuluh tahun. Kuadran “Bintang” berisi SBU yang berada pada tahap pertumbuhan. Proses pertumbuhan dapat dilihat dari peningkatan penjualan. Kuadran “Sapi perah” berisi SBU yang telah mencapai tahap dewasa. Artinya, pertumbuhan penjualan rendah, dan cenderung jenuh. Kuadran “Anjing” berisi SBU yang telah melewati masa jenuh. Bila tidak ada perbaikan yang berarti, penjualan akan terus menurun dan lama-lama SBU tersebut akan mati dengan sendirinya.

Bagian Pasar

SBU dalam kuadran “Tanda tanya” memiliki bagian pasar yang kecil. Wajar saja karena baru dalam taraf perkenalan ke pasar. Semakin lama bagian pasar akan semakin besar. Bagian pasar terbesar pada saat SBU mencapai kuadran “Sapi perah”. Pada saat melewati kuadran ini, dan terjerumus ke dalam kuadran “Anjing” bagian pasar menurun. Penurunan ini terjadi karena sebagian besar pasar diambil pesaing, atau karena industri dimana SBU berada sudah mulai menurun, seperti industri mesin ketik.

Pertumbuhan

SBU yang berada di kuadran “Tanda tanya” memiliki pertumbuhan penjualan yang sangat tinggi. Apabila pertumbuhan sangat rendah, atau bahkan negatif, berarti SBU tersebut sedang tergelincir ke kuadran “Anjing” dan akan tutup usia. Tapi bila pertumbuhannya sangat tinggi, SBU tersebut siap melompat ke kuadran “Bintang”. SBU pada kuadran ini masih menunjukkan pertumbuhan penjualan dan bagian pasar yang tinggi. Pada saat mencapai kuadran “Sapi perah”, pertumbuhan biasa-biasa saja. Sampai pada suatu saat, pertumbuhan penjualan sangat rendah dan pertumbuhan bagian pasar negatif, maka SBU tersebut telah memasuki kuadran “Anjing”.

Arus Kas

Arus kas dalam kuadran “Tanda tanya” umumnya negatif. Hal ini karena uang yang dihasilkan di reinvestasikan untuk keperluan pemasaran, termasuk promosi, tambahan fasilitas produksi, pengembangan SDM dan sebagainya. Arus kas SBU dalam kuadran ini bisa positif dalam keadaan khusus, yaitu perusahaan telah berhasil melakukan kontrak penjualan di muka sebelum proses produksi dilakukan. SBU jenis ini hanya mungkin kalau pembelinya adalah perusahaan, bukan konsumen individual.

Arus kas pada kuadran “Bintang” cenderung berimbang. Perusahaan dapat mengharapkan surplus tetapi jumlahnya tidak besar. Seandainya surplus tersebut dibagi dalam bentuk dividen, besarnya tidak melebihi bunga Bank.

SBU pada kuadran “Sapi perah” merupakan penghasil uang yang baik. Surplus yang besar ini dapat digunakan untuk perbaikan fasilitas supaya produktivitas bertahan, membayar dividen dalam jumlah tinggi, mengembalikan pinjaman, dan mendanai SBU lain yang berada di kuadran “Tanda tanya” dan “Bintang”.

SBU pada kuadran “Anjing” juga merupakan penghasil kas. Surplus ini tidak digunakan untuk reinvestasi, tetapi benar-benar di panen oleh pemilik.

Sumber dividen

Seperti diuraikan sebelumnya sumber dividen utama adalah SBU dalam kuadran “Sapi perah” dan “Anjing”. SBU pada kuadran “Bintang” dapat menghasilkan pendapatan untuk dibagi dalam bentuk dividen tetapi dalam jumlah kecil. Sedangkan SBU pada kuadran “Tanda tanya” tidak dapat diharapkan untuk memberikan dividen.

Kepemimpinan

SBU pada kuadran “Tanda tanya” memerlukan pimpinan yang mampu menjadi pendorong usaha. Setiap usaha baru membutuhkan motor penggerak yang inovatif, dinamis, dan tidak pernah kehabisan energi. Seorang berjiwa wirausaha atau entrepreneur sangat cocok untuk menjadi pimpinan SBU ini.

SBU pada kuadran “Bintang” lebih cocok dipimpin oleh bos yang bergaya pemasaran. Hal ini karena sistem dan mekanisme kerja sudah mulai terbentuk dan mapan saat SBU berada pada kuadran “Tanda tanya”. Yang penting, pemasaran didorong dengan baik, maka SBU “Bntang” akan berhasil dengan baik.

SBU “Sapi perah” merupakan penghasil surplus yang baik. Karena SBU ini tidak perlu investasi tambahan, peningkatan surplus bisa dilakukan dengan peningkatan efisiensi. Oleh karena itu, pimpinan yang cocok adalah yang berorientasi pada pengendalian.

Sedangkan SBU “Anjing” perlu diatur dengan orientasi penghematan. Pengeluaran yang tidak berkontribusi langsung pada penjualan dipotong.

Risiko usaha

Oleh karena baru mulai, SBU “Tanda tanya” memiliki risiko usaha yang sangat tinggi. Penjualan dan kontinuitas bisnis masih penuh dengan ketidak pastian. Risiko usaha menurun ke kategori tinggi bila SBU berhasil melewati kuadran “Tanda tanya” dan beralih ke kuadran “Bintang”. Turunnya risiko usaha karena paling tidak perusahaan sudah mengenal keinginan pasar, sehingga kepastian penjualan semakin baik. Risiko usaha semakin turun mencapai kategori menengah bila SBU mencapai kuadran “Sapi perah” dan lebih rendah lagi jika SBU berada pada kuadran “Anjing”.

Risiko keuangan

Profil risiko keuangan justru sebaliknya. Yang dimaksudkan dengan risiko keuangan adalah fluktuasi tingkat laba bersih sebagai akibat adanya pinjaman untuk SBU yang bersangkutan. SBU “Tanda tanya” tidak didanai oleh pinjaman, oleh karena itu risiko keuangan sangat rendah. Pada saat SBU mencapai kuadran “Bintang”, manajemen mulai berani pinjam dan kreditur juga bersedia memberi pinjaman, sekalipun jumlahnya kecil. Oleh karena itu, SBU yang bersangkutan mulai menanggung risiko keuangan. Risiko keuangan meningkat lagi pada saat SBU mencapai tingkat “Sapi perah”. Kreditur semakin berani memberikan pinjaman. Rasio pinjaman terhadap total aset bisa mencapai 50%. Lebih parah lagi, SBU “Anjing” biasanya memilki risiko keuangan paling tinggi. Pemilik berusaha meminimalisasi ekuitas sehingga sebagian besar modal terdiri dari pinjaman. Risiko yang sangat tinggi ini menuntut kreditur untuk waspada.

III. Pemetaan SBU

Setelah melakukan penilaian dengan menggunakan indikator-indikator di atas, kita mendapat gambaran profil setiap SBU pada sebuah korporasi. Hasil penilaian tersebut mungkin tak diduga. Misalkan, ada SBU yang berdasarkan indikator umur masuk ke dalam kuadran “tanda tanya”, namun berdasar indikator arus kas, SBU yang bersangkutan sudah masuk kuadran “Bintang”. Atau, SBU yang menurut kategori umur masuk ke dalam kuadran “Bintang” tetapi menurut kemampuan menghasilkan kas, tergolong SBU “Anjing”.

Untuk membantu mengetahui dan mencatat pemetaan setiap SBU berdasar indikator, dapat dilihat pada “Pertanyaan Evaluasi” sebagai berikut: 1) Bagaimana kesesuaian kuadran untuk tiap indikator SBU pada setiap tahapan, bagian pasar, pertumbuhan, arus kas, sumber dividen, kepemimpinan, risiko usaha dan risiko keuangan. 2) Susun dalam bentuk matriks, kemudian bandingkan posisi kuadran aktual dengan posisi kuadran seharusnya.

Berdasarkan evaluasi terhadap setiap indikator di atas, dapat ditarik kesimpulan mengenai posisi SBU yang bersangkutan. Kesimpulan tersebut mengindikasikan kecenderungan SBU yang bersangkutan. Ukuran kecenderungan menunjukkan kuadran mana untuk SBU bersangkutan berdasarkan indikator-indikator yang dominan.

Setelah mengetahui posisi actual setiap SBU, kemudian menetapkan di kuadran mana seharusnya SBU tersebut berada. Untuk menetapkan posisi SBU yang seharusnya, ada beberapa cara yang dapat digunakan:

  1. Berdasarkan umur. Setiap SBU memiliki umur tertentu untuk berada di setiap kuadran, terutama kuadran “Tanda tanya” dan “Bintang”. Umur tersebut merupakan usia yang wajar. Bila terlalu lama, kemungkinan SBU tersebut tidak memiliki keunggulan bersaing sehingga selalu kalah dengan pesaing.
  2. Berdasarkan pola arus kas. Pola arus kas menunjukkan kapan suatu SBU menyerap dana, kapan tidak menyerap dana, dan kapan menghasilkan dana dan dapat digunakan untuk keperluan di luar SBU yang bersangkutan. Pola tersebut sejalan dengan posisi SBU dalam kuadran.
  3. Berdasarkan penjualan. Pola penjualan dapat digunakan sebagai alternatif penetapan posisi SBU selain menggunakan arus kas. Ada saat penjualan masih rendah, ada saat pertumbuhan penjualan sangat tinggi, ada saat pertumbuhan penjualan pada tingkat normal, dan ada saatnya pertumbuhan penjualan negatif. Perilaku tersebut menunjukkan posisi SBU dalam kuadran. Langkah 1 dan 2 memberikan gambaran mengenai posisi perusahaan dan kesenjangan (gap) antara posisi actual dan posisi seharusnya.

Berdasar uraian di atas perusahaan dapat melakukan pemetaan portofolio, dan menilai portofolio mana saja yang dapat dipertahankan, mana yang masih dapat diharapkan berkembang pesat, dan apakah ada portofolio yang sebaiknya dilepas atau dijual. Portofolio yang dijual ada kemungkinan karena kurang prospektif, atau memerlukan tenaga ahli dan lain-lain.

Bahan Bacaan:

Bramantyo Djohanputro, MBA, PhD. Restrukturisai Perusahaan berbasis nilai. Strategi menuju keunggulan bersaing. Jakarta: Penerbit PPM, 2004 hal 48-59

Iklan

Responses

  1. Siap menyimak, bu ! Serius Mode [ON]

    Handaru,
    Silahkan….

  2. Ibu artikel ini sangat-sangat berguna untuk saya. Terima kasih Bu.

    Sebuah SBU yang berpotensi sebagai profit center bisa saja di masa yang akan datang akhirnya melepaskan diri dari perusahaan induk dan berubah status menjadi anak perusahaan. Hal ini kerap terjadi di grup perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Kepentingan yang lain, selain digunakan untuk meraup keuntungan dari eksternal SBU yang telah berubah menjadi subsidiary ini dimanfaatkan agar “uang” grup tak kemana-mana. Ibaratnya seperti keluar kantong kanan masuk ke kantong kiri.

    Dengan melihat pembagian SBU seperti yang Ibu jelaskan diatas, saya juga melihat ada kalanya SBU yang telah mencapai kategori “Sapi Perah” bisa kembali dalam kategori yang lebih rendah, “Tanda Tanya” atau pun “Bintang”, hal ini bisa terjadi jika SBU tersebut melakukan ekspansi, meluncurkan produk baru dengan market baru yang situasinya belum terbukti, atau karena terkena dampak resesi atau perekonomian global, kehilangan aset, perubahan jenis usaha dll. Mohon koreksinya bila salah.

    Ah, jadi muncul semangat diskusi saya!

    Yoga,
    Dan ini bisa dipraktekkan betul dilapangan…karena saya dulu ikut dalam tim…
    Dan begitu baca bukunya pak Bram, jadi ingat masa-masa itu….
    Nanti ada terusannya, bagaimana cara menilai….sebetulnya sudah pernah ditulis…tapi saya akan mencoba agar bisa lebih mudah dipahami…..dan saat inilah waktu untuk menilai SBU masing-masing…
    Semoga saya punya waktu untuk menuliskannya…

  3. Bu, kalo karyawan itu diharapkan menghasilkan pendapatan berapa kali gajinya ya ke perusahaan? Apa satu karyawan dua kali gaji sehingga yang satu kali gaji ke karyawan dan satu kali gaji ke perusahaan, supaya perusahaan bisa terus bertahan. Atau ada hitungan lain? Thx

    Iwan Awaludin,
    Kinerja sebuah perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangannya, yaitu laporan neraca dan laporan laba ruginya.
    Dari sisi pendapatan, setelah dikurangi harga pokok dihasilkan laba kotor…ini masih dikurangi biaya pemasaran, biaya umum dan adm (komponen gaji termasuk disini)…baru diperoleh laba operasional. Jadi kalau bapak membaca laporan laba rugi, bapak bisa menilai…berapa gaji yang pantas bagi karyawan…dan gaji karyawan ini fixed…sedangkan pendapatan variavel…jadi jika hanya meningkatkan gaji, padahal nanti target tak tercapai, atau terjadi kenaikan biaya (seperti kemarin inflasi tinggi, kenaikan BBM dll)…maka gaji yang fixed ini tak mungkin turun.

    Krisis finansial di AS , sekarang sudah berakibat beberapa perusahaan mulai mengurangi pegawainya, terutama yang produknya di ekspor ke LN, karena daya beli negara importir menurun.

  4. sistem menggaji kary yg freelance gimana bu?misal programer di software development,dengan kondisi usaha sedang merintis,atau datangnya proyek belum pasti tiap bulan,menghitung keuntungan dan penggajian karya bagaimana baiknya?proyek pengerjaan antara 1bln-3bln, mana lebih baik bu,persentase per proyek atau gaji tetap dan presentasi perproyek(yg pastinya kecil/lebih besar dng tanpa gaji pokok).Tx

    Yanwar,
    Coba dibaca lagi pelan-pelan, judulnya adalah pemetaan portofolio, untuk mengetahui posisi masing-masing portofolio dalam perusahaan.
    Jadi, mohon maaf, saya tak dapat menjawab pertanyaanmu, mungkin jika suatu ketika saya sempat membahas masalah gaji, remunerasi dsb nya…baru pertanyaanmu dapat dijawab.

    Karena saya menjawab pertanyaan pak Iwan, yang sebetulnya tak ada kaitan dengan judul tulisan, jadi muncul pertanyaanmu. Mohon maaf, saya mencoba untuk fokus menjawab pertanyaan yang sesuai dengan judul tulisan…karena untuk menjawab pertanyaan di luar itu memerlukan pembahasan lain lagi, dan harus postingan tersendiri.

  5. postingan yang bagus….beberapa saya kutip untuk tugas kuliah saya. ditunggu lagi tulisan berikutnya.

    terimakasih

  6. Selamat sore Ibu,
    Wah..saya senang sekali membaca tulisan Ibu, dan setelah membaca response dari Ibu Yoga, muncul beberapa pertanyaan pada diri saya yang sangat ingin saya ketahui, seperti:
    Bagaimana karakteristik perusahaan induk dan perusahaan anak sehingga terjadi sinergi yang salaing menguntungan, dimana pola pembentukan anak perusahaan dan holding tentunya menjadi hal penting sehingga pengembangan usaha baru, pengendalian, alokasi sumber daya
    anak perusahaan dapat terlaksana dengan baik. Dengan harapan sebuah SBU yang berpotensi sebagai profit center di masa yang akan datang tidak melepaskan diri dari perusahaan induk.

  7. Ibu, bisa tidak dijelaskan secara detail langkah-langkah penyusunan matriks BCG dalam penentuan posisi SBU. Terima kasih

  8. lumayan, bwt tambh2 wawasan saya.. Thank u..

  9. Tulisan yang menarik, kalau boleh berpendapat, menurut saya dalam menentukan portofolio suatu perusahaan dan pementaannya, kita tidak bisa hanya bergantung pada BCG, sebab disamping BCG yang sangat terkenal itu ada sebenarnya 2 pendekatan lain yang menjelaskan kekeliruhan pengukuran yang dikemukakan BCG tersebut.
    Mungkin perlu diperbandingkan antara BCG dan 2 pendekatan lainnya, . Pendekatan yang dikembangkan Ciba-Geigy, dan pendekatan McKinsey untuk menyempurnakan kelemahan pada matriks BCG.
    Kelemahan utama pada BCG adalah memperlakukan SBU sebagai unit bisnis yang berdiri sendiri. dan kelemahan ini terlihat jelas saat kita mengunakan pendekatan Ciba-Geigy dan juga McKinsey.

    demikian dari saya, hanya sekedar ikut sumbang saran aja.

    Regards


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: