Oleh: edratna | Desember 5, 2008

Lima belas bulan kemudian

Lima belas bulan yang lalu saya menjejakkan kaki di Jayapura, dan tinggal disana selama 10 hari. Namun jangka waktu tinggal yang lama tak terasa karena disibukkan oleh kegiatan sehari-hari, dan saat istirahat hari Sabtu-Minggu, dapat berjalan-jalan ke bukit Makatur dan melihat perbatasan dengan Papua New Guinea.

Kembali ke Jayapura, kembali terpesona melihat keindahan alamnya.

Sinar matahari memantul di laut yang tenang

Sinar matahari memantul di laut yang tenang

Jayapura sendiri merupakan kota pantai, yang terletak di teluk Jayapura, dan terdapat pulau yang menaungi teluk tersebut.

Kapal Sinabung sedang merapat di pelabuhan Jayapura

Kapal Sinabung sedang merapat di pelabuhan Jayapura

Kota Jayapura, merupakan dataran rendah yang diapit oleh bukit, melatar belakangi kotanya.

Kota Jayapura dilihat dari atas bukit

Kota Jayapura dilihat dari atas bukit

Daerah tempat tinggal kaum mapan terletak di bagian bukit yang dikenal dengan nama “Angkasa”, dengan pemandangan alam langsung ke laut. Sedang perkampungan di pantai, yang berbatasan dengan laut disebut dengan Dok (ada Dok I s/d Dok IX)…dan diujung pantai yang menjorok ini terletak Swis Belhotel.

Frida n Enny dengan latar belakang pelabuhan Jayapura

Frida n Enny dengan latar belakang pelabuhan Jayapura

Di Jayapura telah ada Gramedia yang cukup lengkap, walau harganya relatif lebih mahal dibanding harga di Jakarta (terutama untuk barang-barang seperti flash dish dsb nya).

Gramedia di Jayapura

Gramedia di Jayapura

Pasar swalayan Gelael masih eksis di Jayapura, yang di kota besar lain telah kalah dengan swalayan yang lain.

Lalu lintas didepan Gelael, Jayapura

Lalu lintas didepan Gelael, Jayapura

Selain “Gelael”, Jayapura juga memiliki toko swalayan lain yang lebih kecil. Di depan Gelael, kalau malam hari menjadi pasar kaget, para penjual nya terdiri dari kaum pendatang maupun penduduk asli. Penduduk asli banyak yang berjualan buah pinang.

Buah pinang

Buah pinang

Masakan ikan di Jayapura sangat terkenal, karena perairannya yang masih bersih. Kita bisa makan di beberapa rumah makan, atau rumah makan “Bagus Pandang” yang terletak di atas bukit, dengan pemandangan teluk Jayapura, dan kalau malam hari lampu-lampunya sangat mempesona. Di Jayapura sekarang ada “Excelso” yang ada wifinya sehingga pengunjung dapat minum kopi sambil bermain internet. Pantai yang terkenal adalah pantai Hamadi dan Base’G, yang merupakan tempat pendaratan tentara Sekutu saat perang Dunia kedua. Di daerah Hamadi banyak dijual souvenir khas Papua, seperti patung, koteka dan lain-lain. Pantai Base’G sangat bersih, namun disayangkan jika kita ingin duduk-duduk di situ sering didatangi orang untuk meminta uang, sehingga tak terlalu banyak orang yang datang kesana, apalagi sepanjang kota Jayapura, nyaris dikelilingi garis pantai yang memberikan keindahan alami, dengan latar belakang perbukitan.

Pertumbuhan kota terlihat ke arah Abepura yang merupakan daerah sekolah, disini tempatnya lebih landai, dan terletak Universitas Cenderawasih yang merupakan kebanggaan masyarakat Jayapura. Jika toko buku Gramedia berada di kota Jayapura, di Abepura saat ini telah ada Dunkin Donut, Regina Mal (yang ada toko buku Karisma). Menurut informasi di daerah Waena (antara Jayapura-Abepura), akan dibangun hotel sekelas Swis Belhotel.

Swis Belhotel ditepi teluk Jayapura

Swis Belhotel ditepi teluk Jayapura

Dari Abepura ke arah Sentani, melewati terminal bis di daerah Entrop, terdapat Papua Trade Center (PTC), yang dikenal banyak menjual tangkur buaya, buah merah dan lain-lain. Di Entrop ini pula terdapat peternakan buaya yang cukup besar.

Perjalanan dari Jayapura ke arah Abepura dan Sentani melalui jalan yang meliuk-liuk dengan pemandangan bukit dan laut dikiri kanannya, yang kemudian berlanjut dengan mengelilingi danau Sentani. Di pinggir danau Sentani ini ada restoran “Yougwa” yang menu utamanya ikan. Di Papua kita sering disuguhi oseng-oseng dari bunga pepaya, kalau di daerah lain yang dimanfaatkan adalah daun pepayanya. Pada saat ini telah ada “Sentani Square” di kota Sentani, walaupun Mal ini belum terisi penuh. Di Sentani Square antara lain terdapat Optik Melawai, Papa Rons (yang banyak didatangi kaum expatriat), Texas Chicken dan Bakso Lapangan Tembak.

Papa Rons di Sentani Square

Papa Rons di Sentani Square

Saya sempat mencoba Bakso Lapangan Tembak disini, yang rasanya beda dengan yang asli, mungkin ada bagian bumbu disesuaikan dengan lidah orang Papua.

Bakso Lapangan Tembak di Sentani Square

Bakso Lapangan Tembak di Sentani Square

Saya melihat banyak kemajuan di bidang ekonomi di Jayapura dan sekitarnya, walaupun jika kita datang ke Mal, yang berkunjung sebagian besar adalah kaum pendatang. Ini merupakan PR bagi Pemda, bagaimana memajukan penduduk asli, agar bisa berperan serta dalam pembangunan ekonomi untuk memajukan Papua.

Tulisan terkait dapat dilihat disini:

1. https://edratna.wordpress.com/2007/08/13/

melintas-perbatasan-dari-papua-ke-papua-new-guinea

2. https://edratna.wordpress.com/2007/08/14/

napak-tilas-jejak-jend-mac-arthur-di-ifar-gunung-sentani/

3. https://edratna.wordpress.com/2007/08/13/

daerah-wisata-di-jayapura/

Iklan

Responses

  1. Jayapura indah ya Bu…
    harga buku di gramedia sama atau malah lebih mahal bu?

    Itikkecil
    ,
    Harga buku relatif sama….saya beli Edensor di sana lima belas bulan lalu, karena saat di Jakarta kehabisan, dan hanya ada Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi.
    Tapi kalau barang elektronik, makanan jauh lebih mahal, masuk akal karena perjalanan melalui darat atau laut yang membutuhkan biaya tinggi.

  2. Wah, Indahnya Jayapura dengan bukit-bukitnya, ditambah lagi dengan pantainya. Saya selalu kagum dengan keindahan kota yang berbukit2, karena pemandangannya menjadi berlapis-lapis dan indah luar biasa. seperti kota saya tinggal sekarang Bandung, atau Bukit Tinggi yang juga berbukit-bukit. wah… jadi tambah pengen ke Jayapura… hehehe… makasih oleh-olehnya bu. salam -japs-

    Japspress,
    Kok sama sih…
    Pas ada tugas pembinaan ke Padang, kebetulan suami diundang ceramah ke Padangpanjang, jadilah kami berdua mengelilingi Sumbar walau hanya sehari. Setelah itu, saat saya kesana lagi, suami menyarankan mengajak anak dan calon menantu (saat itu si sulung belum menikah) …memang alam Sumbar indah sekali. Cuma sayangnya hanya sehari…karena libur Jumat, si bungsu baru datang dari Bandung Kamis malam, Jumat siang ke Padang, Sabtu seharian keliling Solok-Pagaruyung-Batusangkar-Bukittinggi, dan menginap di hotel Danau Maninjau. Minggu pagi2 sekali anak2 balik Jakarta, dan saya Seninnya kerja.

    Kalau ke Jayapura selain ongkosnya mahal (naik Garuda pp lebih dari Rp.6 juta untuk kelas ekonomi), juga mesti perlu waktu cukup karena perjalanan makan waktu seharian….dan anak-anak punya kesibukan sendiri. Tapi ga nyesel kok ke Jayapura…..alamnya indah, makanan laut nya segaaar…

  3. Terima kasih atas wisata virtualnya Bu. Saya yang belum pernah ke Papua jadi bisa membayangkan suasana di sana. Moga2 penduduk Papua bisa lebih maju di masa mendatang tentunya. Salam
    Toni

    Mas Toni,
    Perkembangan ekonomi di Jayapura menurut saya lumayan pesat, namun mesti diimbangi dengan peningkatan peranan penduduk asli, karena saya lihat penduduk asli hanya berdagang di pasar tradisional dan barang dagangannya bukan barang kebutuhan primer atau yang diminati masyarakat.

    Alamnya sangat indah, paduan antara laut dan bukit hijau (semoga tetap terpelihara), makanan lautnya sungguh segaar

  4. waH walaupun banyak teman ngak mau ditempat di sana kalo dah kerja…
    kalo saya mah, mau2 aja, asal sering pindah2 kerja… biar ngak bosen… hehehe

    Arul,
    Memang…karena jarak yang jauh, banyak yang tak betah di jayapura, sama juga dengan tak betah ditempatkan di Aceh.
    Tapi kalau dalam waktu tertentu, atau punya kesibukan….saya kira tinggal di Jayapura sangat menyenangkan.
    Baru-baru ini Bank Papua merekrut staf khusus IT, yang diterima berasal dari Jakarta semua…..

  5. Perjalanan yang menarik dan pasti menyenangkan. Terima kasih atas artikelnya Bu. πŸ™‚

    Foto yang pertama foto favorit saya, indah Bu.

    Yoga,
    Saya juga suka foto yang pertama…..dan selalu terbayang keindahan saat disana….
    Sayang kemarin mendung, jadi tak bisa ketemu sunset….

  6. Walaupun cuma menikmati hasil laporan pandangan mata dan pandangan kamera bu Enny, terasa menyenangkan. Kota yang berbukit-bukit, saya suka. Btw, bisa dijelaskan kenapa pinang jadi begitu berharga di masyarakat Papua?

    Alris,
    Seperti masyarakat Jawa tempo dulu (angkatan nenek saya), mereka suka mengunyah pinang bersama daun sirih…ini memang bagus untuk menguatkan gigi.

  7. Indahnya. Ada daerah wisata ga bu daerah sana?

    Zulfikar,
    Bisa dibaca pada catatan di bawah postingan ini, ada 3 tulisan terkait, yang saya tulis sepulang dari Jayapura setahun lalu. Disitu ada beberapa daerah wisata yang sempat saya kunjungi.
    Perjalanan kemarin, karena hanya sehari dan tugas mengajarnya seharian, hanya sempat jalan-jalan sebentar di hari pertama saat baru datang dari Jakarta…

  8. seru nih waktu jalan-jalannya ? πŸ™‚

    Tony,
    Hmm memang asyiiik....:P

  9. aku di tawarin kerja di timika untuk isue HIV bukkk ambil gak yaaa

    Imoe,
    Kenapa tidak?
    Timika kota modern di pedalaman Jayapura….daerah perumahan yang namanya Kuala Kencana konon seperti di luar negeri.
    Saya sendiri belum pernah ke Timika, hanya transit saja….(pengin juga kesana)

  10. foto-fotonya keren, bu enny.
    ceritanya juga memikat.
    saya ketinggalan beberapa tulisan nih kayaknya.
    bersyukur bahwa papua sebaik yang ibu gambarkan, walaupun masih jelas sekali kesenjangan antara kaum pendatang dengan penduduk asli.

    Marsmallow,
    Pemda berjuang untuk memajukan daerahnya…perkembangannya terlihat secara nyata dibanding setahun lalu.
    Memang masih ada kesenjangan, perlu kerja keras, karena merubah budaya kerja masyarakat tidak mudah, perlu kesabaran, kerja keras, dan pemimpin yang bisa menjadi panutan.

  11. Semoga penduduk asli tidak merasa terasing di daerahnya sendiri.

    Dony Alfan,
    Saya juga berharap demikian….

  12. asyiik jalan-jalan..

    minggu lalu saya abis dari Manado juga lho bu..

    Trian,
    Saya udah kunjungi blogmu (setelah lama ga diupdate ya…sibuk cari rumah?). Kapan nih ngundang saya ke rumah barumu?

    Nahh gitu dong diposting…pas ke Manado, saya cuma bisa curi waktu diantara acara Forum Komunikasi ….dengan menyeberang ke Bunaken (bayangkan menyeberang jam 5.30 wit atau jam 3.30 wib)…dan balik lagi 2 jam kemudian terus ikutan acara…hhhh…capek tapi senang.

  13. ternyata indah bgt ya bu..di jayapura ada gramedia juga toh

    cutemom cantik,
    Jayapura ibukota propinsi Papua Timur….dan sangat luas…
    Bahkan sekarang ada cafe yang bisa berinternet ria….

  14. ternyata jayapura indah juga tempatnya..cuma jauhnya itu

    thevemoβ„’,
    Memang perjalanannya melelahkan, terutama bagi saya yang sulit tidur di perjalanan…tapi worthed dengan keindahan alamnya.
    Dan penerbangan dari dan ke Jayapura selalu penuh…..

  15. dulu saya pernah mendengar kalo di Irian itu biaya hidupnya mahal..bener gak sih bu

    Boyin,
    Jelas lebih mahal…dan ini wajar, karena sebagian barang diperoleh dari antar pulau.
    Bahkan di tiap kantor yang mempunyai kantor cabang di papua, para karyawannya mendapat tunjangan kemahalan.

  16. welehweleh… ternyata tanah papua tak kalah eloknya dengan daerah lain. tapi mengapa, sekarang pun saya masih merasa “ngeri” untuk pergi ke sana. hwehe.

    v(^_^)

    Farijs van Java,
    Ngeri? Ngeri apanya?
    Lha penduduknya ramah tamah kok…dan suasanyanya menyenangkan…apalagi makanan laut dan wisata alamnya……
    Saya malah pernah termenung melihat laut berjam-jam…bahkan teman saya pun ikutan…

  17. wuihh photo yg paling atas keren banget
    indonesia memang indah

    ini kunjungan pertama di blog ibuk, salam kenal yah.
    kalau lagi jalan-jalan jangan lupa mampir ke gubuk saya πŸ™‚

    Septarius,
    Foto pertama memang indah sekali…apalagi aslinya.

  18. kpn yah bs main kesana…..
    bnr2 indah papua ya bu,….
    lam knl bu….
    kpn2 ajak ky dunk bu dlm prjlnannya….:)
    dtunggu crt2na ttg papua lg….

    Ricnes
    ,
    Moga suatu ketika bisa sampai disana….

  19. Mal dan supermarketnya mirip Batam. Di Batam juga Gelael masih ada dan Bakso Lapangan Tembaknya juga beda rasa dengan yang di Jakarta πŸ™‚

    Edel,
    Mungkin karena rasanya disesuaikan dengan selera masyarakat disekitarnya (yang cenderung suka rasa pala).
    Seperti makanan Padang, yang udah disesuaikan dengan selera Jakarta….

  20. wa…jayapura sudah berkembang ya…jadi pengen kesana…

    Gajah pesing,
    Kalau ada kesempatan ambil saja….tak akan menyesal deh…

  21. Salam …

    waeulah meni endah seakali
    orang yang awam masih banyak yang bilang bahwasannya di jayapura itu adalah kawasan yang kurang maju dan belum begitu indah seperti yang tertera di dalam ling Ibu …

    semoga Ibu tetap berbagi selalu …saya selalu menyempatkan diri untuk mampir ..

    Doelsoehono,
    Semoga tulisan dan gambar di atas mewakili keindahan Jayapura. Ada lagi link terkait (ada 3 tulisan yang saya buat setahun sebelumnya…saat itu saya punya cukup waktu untuk keliling ke daerah wisata nya).

  22. Wah melihat foto buah pinang jadi inget noda-noda merah disepanjang jalan di jayapura, sampe-sampe saya pikir itu darah :D, di gedung-gedung biasanya ada tanda “dilarang pinang” ya bu…:D

    Ayahberuang
    ,
    hehehe…budaya kebersihan memang harus digalakkan agar tak meludah dimana-mana.

  23. kapan ya saya ke jayapura? lebih jauh ke jayapura sepertinya daripada singapura :mrgreen:

    Catra,
    Lha ke Medan aja lebih jauh dibanding ke Singapura. Ke Jayapura itu perjalanannya hampir sama dengan saat saya mengunjungi anak saya sekaligus ada seminar di Brisbane…….7 jam perjalanan, plus 2 jam perbedaan waktu.
    Berangkat jam 21.10 WIB dan sampai Jayapura jam 7 waktu Indonesia timur…..hitung sendiri.

  24. sebenarnya Indonesia memiliki panaroma yang tidak kalah dengan negara luar…semua pada kenegara lain melihat panaroma,padahal negara kita jauh lebih indah.saya juga baru tahu kalau Jayapura memiliki keindahan yang begitu menabjukkan…

    Bagus Bunda,promosikan terus Indonesia,supaya orang kenal negara kita tercinta,berkunjung kesana sehingga menambah visa negara,mudah-mudahan penduduk setempat juga bisa terbantu.

    Kweklina,
    Alam Indonesia sungguh indah, hanya tinggal pengelolaannya, serta menanamkan budaya merawat dan hidup bersih bagi para penduduknya.

  25. Saya ngasih les privat ke anak2 yang berasal dari Jayapura, konon kata mereka, harga kebutuhn sehari-hari di sana tiga kali di Jawa…

    Benarkah?

    Ardianto,
    Harga kebutuhan sehai-hari memang lebih mahal, begitu juga barang lainnya…kecuali hasil lautnya yang asli sana. Maklum barang tsb dikapalkan dari pulau Jawa, Sulawesi dll.
    Soal tiga kali lipatnya saya nggak memperhatikan…kemarin saya mencoba makan sop buntut (harganya Rp.60.000,-) dan hot lemon tea Rp.17.000,-…..saya lupa berapa harga di Jakarta. Jangan bandingkan harga di Bandung, yang lebih murah dibanding harga Jakarta.

  26. saya kalo melihat tanah Papua jadi pingin jalan2 ke pedalaman suku wamena bu, menikmati kebudayaan2 yg ada, juga ke puncak Jayawijaya yg bersalju itu. selama ini saya hanya bisa melihatnya di acara petualangan di tivi..

    si Dion,
    Wamena memang tujuan wisata…saya pernah kesana tahun 1995, sebagian besar penduduk asli masih pake koteka. Konon sekarang sudah pake baju semua, koteka hanya dipake untuk acara adat. Sebetulnya dari Jayapura ke Wamena hanya 45 menit terbang dengan Merpati….cuma cuaca harus bagus.

  27. ada juga ya bu danau di jayapura?

    Alisyah,
    Jelas ada…baca artikel terkait yang saya tulis setahun lalu.
    Bahkan kalau mau mendarat ke bandara Sentani (Sentani nama danau yang sangat besar…besar mana ya dengan danau Toba???)…maka akan melalui hutan dan kemudian danau.

  28. Bersyukur ya bu bisa perjalanan dinas ke tempat2 yang bagus dan ‘aneh’… karena kalo bayar sendiri, engga akan nyampe disana, karena enggak populer dan biaya travellingnya lebih mahal dengan luar negeri seperti Singapore, Hong Kong dll.

    Kalau biaya pesawat ke domestik lebih mahal daripada ke Luar Negeri, rasanya turisme kita sulit berkembang. gimana ya?

    Andi Sugiarto,
    Hmm…andai pakai uang sendiri mungkin saya tak pernah sampai ke Jayapura…karena biayanya mahal (lebih dari Rp.6 juta pulang pergi, kelas ekonomi).
    Biaya pesawat kan bukan tergantung ke luar negeri atau dalam negeri…tapi mestinya dihitung dari jarak dan kebutuhan bahan bakar. Apalagi Jakarta -Jayapura kan hampir sama seperti Jakarta-Sidney jarak tempuhnya.

  29. Lebih cantik Sorong, Bu….. he..he..he…

    Saya sendiri belum pernah ke Jayapura, masih baru ke Manokwari, Biak, dan Fak-fak saja (selain Sorong). Tetapi memang tanah Papua itu luar biasa indahnya. Bahkan Wisata bahari (dalam laut) di daerah Kabupaten Raja Ampat (pecahan dari Sorong) itu sudah terkenal sampai ke penjuru dunia. Saya sendiri belum pernah kesana.

    goldfriend,
    Hohoho…bung Fertob…sulit memilih mana yang paling cantik…katanya pantai Manokwari paling cantik (kata teman yang merupakan wakil pemimpin wilayah, yang membawahi Jayapura).
    Sorong juga indah sekali…..bingung ya…rasanya pengin menjelajah semua kota di jayapura…dan menuliskannya, apalagi kalau bisa membuat foto yang bagus…..PR buat mas Iman Brotoseno nih…

    Fertob…mana dong foto indahnya Sorong, biar bisa dinikmati teman-teman blogger…..sesekali menulis wisata di Sorong…saya punya batik khas Sorong lho….dan ada restoran masakan laut yang enak sekali, saat saya ke Sorong 13 tahun lalu.

  30. saya penasaran,dgn rasa pinangnya itu,mbak. hehehe…

    Langitjiwa,
    Hahaha…coba aja…memang kalau di Jawa kayaknya buahnya udah dikupas…konon katanya berasa sepet gitu…

  31. ternyata jayapura indah juga ya bu

    Zoel,
    Memang indah sekali…perpaduan antara gunung, bukit, danau dan laut. Sepanjang perjalanan dari bandara Sentani ke Jayapura selama 45 menit, jalannya melingkar, berkelok kelok (tapi tak seperti kelokan 44 di Danau Maninjau)..mirip antara Padang ke Padangpanjang melewati lembah Anai….tapi bedanya pinggirnya gunung dan sisi lainnya kalau nggak danau…disambung ke laut…

  32. Saya hanya bisa mengharapkan mudah2an pembangunan dapat merata, bukan hanya nanti Jayapura skyline yang bisa seindah Sudirman skyline di Jakarta, tetapi juga orang2 di Papua sana dapat berkembang kualitas SDM-nya, karena saya yakin kualitas SDM yang merata (merata tingginya bukan merata rendahnya tentu saja) adalah syarat yang tidak bisa diabaikan agar sebuah negara/bangsa bertransformasi menjadi sebuah negara maju……

    Ayo… kita majukan Papua, agar lebih makmur dari tetangganya Papua New Guinea, jangan justru sebaliknya! Bisa “berbahaya”!

    Kang Yari NK,
    Saya juga berharap demikian….saya beberapa kali ke sana dan ada perkembangan yang berarti. Pemda serius melakukan pembenahan, dan Bank Papua juga melakukan pendidikan, perbaikan dalam SOP serta hal-hal lain agar dapat membantu sektor riil.

    Sebetulnya kalau kita melihat perbatasan Papua dan Papua New Guinea (saya kesana 15 bulan lalu), dari transaksinya terlihat bahwa banyak warga PNG yang membeli barang dagangan dari Indonesia. Dan pasar perbatasan di Indonesia sangat rame (bisa dilihat dalam postingan terkait)

  33. Terimakasih liputannya, Mbak Enny. Saya jadi tahu keindahan alam Papua yang mempesona. Ternyata di kota-kotanya sudah banyak juga fasilitas ‘dunia modern’ ya. Dalam bayangan saya selama ini, Papua tuh masih terbelakang dan rawan. Soalnya berita-berita di teve kan sering menampilkan kerusuhan, perang antar suku, dan sebagainya.

    Btw, posting Mbak Enny kali ini semakin menarik karena banyak foto yang bagus-bagus. Kameranya baru ya …. πŸ˜€

    Tutinonka,
    Hehehe…hasil PB08….
    Dan kalau ada fotonya, ceritanya tak perlu banyak ya….
    Masalahnya kadang lupa ga bawa kamera, atau ga sempat karena tugasnya dari pagi sampai malam…seperti ke Surabaya kemarin, berangkat pesawat paling pagi dan pulang pesawat terakhir… keluar dari gedungnya aja ga sempat…dan langsung ke Bandara.

    Gara2 ga dapat tiket pagi, malah jadi ada waktu untuk mendapatkan foto…kalau pesawat pagi kan sampai Jayapura udah sore, besoknya mengajar seharian…dan besok pagi2 udah balik lagi….

  34. wah bu, jadi ingat dosen UI yang belum lama ini ke papua juga
    jangan2 beliau temen ibu,,, πŸ˜†

    Wennyaulia
    ,
    Wahh nggak tahu…mungkin aja ketemu di pesawat…dan mungkin tujuannya disana berbeda.

  35. Wow… ternyata Jayapura Indah sekali Bunda. Terimakasih sudah diajak berjalan-jalan melihat Jayapura dan sekitarnya. Dan semoga pemerataan di Papua Barat juga segera terlaksana. Thanks

    Yuli
    ,
    Kalau dulu istilahnya Irian Barat…sekarang Papua dibagi dua: Papua Timur dan Papua Barat.

  36. Ibu, saya dulu 7thn d sentani, 2thn di wamena, 6thn di waena tp sekolahnya di abepura. I love papua so much. Tp untk saat ini blm pengen tinggal lg disana.
    Dulu d jap yg terkenal hotel Matoa. Toko bukunya cm ada Labor yg gede. Internet pun langka. Cuma ada di kantor pos itu pun siang hr dan harganya 10rb/jam.

  37. Ada suka dan ada dukanya bu tinggal di papua. Sukanya krn kt multikultur jd biasa adaptasi dgn segala jenis org. Tp gak enaknya sering ada kerusuhan, demo2. Org lokal sering sekali demo. Mgkn krn kesenjangan sosial itu. Sy sepakat dgn tlsn seorang wartawan kompas yg mengatakan bahwa ada kesenjangan peradaban antara masy papua dgn masy ind yg lain. Pd masy misal Jawa ada tahapan peradaban yg cukup runtut misal dr jalan kaki, naik kuda, naik andong, sepeda, kereta api, mobil, dst. Sedangkan org papua dari brjalan kaki lgs kenal dgn pesawat (spt wamena) krn medan yg tdk mgkn ditempuh dgn jalur darat maupun air.

  38. Ada ketidaksiapan mental pd masy untk berhadapan dgn peradaban modern yg ‘buas’. Mereka tdk trbiasa menabung krn apa yg dimakan sehari2 ada di alam dan tak habis2 buat mereka. Jadi ketika org2 datang brbondong2 mengambil hasil hutan mereka, tembaga mereka. Sedikit saja tersisa buat mereka. Imbasnya muncul kecemburuan sosial thd pendatang. Pdhl tdk semua pendatang jahat spt Freeport. Ada bnyk yg juga krja keras jd supir, kenek yg tiap lewat lingkaran abepura dipalaki pemabuk.

    Nika,
    Kelemahannya, penduduk asli masih suka minum, jadi banyak yang mabuk. Mungkin ini bisa diperbaiki dengan pendidikan, dan perbaikan SDM nya. Karena pada dasarnya, mereka yang sudah mengenyam pendidikan tinggi banyak yang pintar….

  39. Saya ndak nyangka di sana ada Papa Rons πŸ™‚
    Salah satu impian saya adalah datang ke tanah Papua, Bu.

    Beruntung betul ibu bisa mengenal Papua setidaknya lebih dari sekali.

    Donny Verdian,
    Bagi orang bule, Papua sangat menarik… mereka umumnya pergi ke Wamena atau daerah suku Azmat. Wamena dapat ditempuh melalui penerbangan sekitar 45 menit dari Jayapura.

    Sedang bagi yang suka olah raga Diving….Raja Empat benar-benar tempat yang ingin didatangi mereka (sayangnya saya belum sampai kesini). Jika DV dan nyonya pengin jalan-jalan ke Jayapura…banyak kok tempat wisatanya, hotelnya juga lumayan, dari bintang 3 (udah lumayan bersih…kira2 tarifnya sekitar Rp.400.000,- s/d Rp.500.000,- per malam)…sampai Swis bwlhotel yang persis pemandangan teluk Jayapura (saya kira Donny perlu nyoba tidur disini).

  40. Ibu ini sudah pensiun pengalamannya malah bertambah banyak. Terus dituliskan lagi. Makin bertambah banyak orang yang berkaca dari pengalaman Ibu. Oalah…

    DM,
    Doain aja saya masih laku….hehehe…biar nanti banyak postingan yang sekaligus menceritakan perjalanan dan wisata. Setahun kemarin, saya lebih banyak mengajar di Jakarta, dari sisi pemasukan sama, dan tidak lelah….tapi kalau ke luar pulau, bisa asyik berfoto ria. Ga enaknya perginya sendirian…dan untungnya makin cuek jika dilihatin orang…ini wanita berumur kok nenteng2 tustel…apain sih…
    Kemarin pas lagi difoto sama petugas bandara, tahu2 ada bapak2 yang nyesel ikutan foto, padahal saya ga kenal…dan tak tahu fotonya mau dikirim kemana….untung masih ada foto yang sendirian narsis.

  41. bagus yah bu……… pengen ke sana juga tapi tiket pswtnya muuaaahaaallll……..

    Ika,
    Memang tiketnya mahal…..itu yang jadi ganjalan…tapi worthed karena pemandangannya bagus.

  42. gambaran saya tetg jayapura ternyata sungguh berbeda, bu enny, hehehe … semula saya mengira jayapura masih tertinggal jauh dngan kota2 yang lain, ternyata sekarang sudah tampil beda. selain pemandangan alamnya yang indah, jayapura agakya juga pelan2 mulai merangkak menjadi sebuah kota yang diminati banyak orang. matur nuwun info dan sharingnya, bu.

    Sawali Tuhusetya,
    Sebetulnya sejak tahun 95 an, saat saya kesana, ada hotel di Wamena yang udah penuh di pesan turis untuk 2 tahun kedepan. Kebanyakan turis dari Jepang dan Eropa, yang memang menyukai wisata alam dan budaya.
    Kemarin, saya lihat juga banyak turis yang turun di Sentani dan meneruskan perjalanan ke Wamena.

  43. 6 juta pp bu? wah mahal ya…
    setengahnya Tokyo-Jakarta dengan kurs rate sekarang?
    hmmm kalau tidak dibayari kantor pasti mikir-mikir dulu untuk ke sana.

    eh tapi di sini juga wisata domestik juga mahal. Shinkasennya sih cuman Rp 3 juta, tapi ongkos stay nya mahal…. Kalau di sana untuk staynya ada hotel-hotel bisnis yang murah tidak bu?

    EM

    Ikkyu san,
    Sebetulnya tak terlalu mahal kalau dilihat perjalanannya, yang lamanya sama seperti saat saya pergi ke Sidney. Hotel bisnis banyak Imel dan lumayan kok kebersihannya, hotel bintang tiga ratenya Rp.400.000,- sampai Rp.500.000,- per kamar. Memang makanan relatif mahal, masuk akal karena asalnya dari luar pulau, terutama dari pulau Jawa. Tapi makanan lautnya enak dan segaaar….pasti penyuka ikan akan senang di Jayapura.

  44. cerita wisata yang menarik bu.
    benar-benar menambah wawasan khazanah kota-kota di indonesia.

    Mascayo,
    Memang menarik sekali mas…

  45. Banyak mendengar cerita serupa bahwa alam Irian Jaya adalah indah dan makmur.. moga2 pemerintahnya bisa adil dan bijak dalam mengaturnya.. jadi rindu sekali akan kampung halaman dan bercita-cita bisa berkunjung kesana dalam waktu dekat.

    Luigi Pralangga,
    Karena sekarang gubernur telah dipilih sendiri oleh rakyatnya dan warga asli, dan Bank Papua semakin berperan di wilayahnya, saya berharap peningkatan kualitas SDM semakin nyata. Karena hanya peningkatan kualitas SDM ini yang dapat memperbaiki kesenjangan sosial, serta kesempatan mendapatkan pekerjaan.

  46. Bu, buah pinangnya digunakan untuk apa? Apa memang benar masyarakat Irian suka “nginang”?

    Darnia,
    Penduduk asli masih suka “nginang”…sama seperti orangtua di Jawa zaman dulu. Dan bukankah menginang memperkuat gigi? Asal ludahnya tak disemprotkan kemana-mana dan tetap menjaga kebersihan

  47. Wah asyik ya bu. Pasti menyenangkan ya bu πŸ™‚ Ada sahabat saya yang tinggal di Jayapura juga tapi kalo denger ceritanya koq ga seperti hasil jepretan ibu ya πŸ™‚

    Retie,
    Banyak cara pandang manusia…saya tak tahu cerita temanmu seperti apa. Saya sendiri lima belas bulan lalu mengajar fresh graduate Bank Papua, mereka banyak yang asli Papua, dilahirkan dan dibesarkan di sana…mereka semangat sekali untuk belajar. Dan kemarin, dikelas, saya ketemu ada 10 orang diantaranya yang dulu sempat ketemu……dan mereka senang mempraktekkan apa yang pernah diajarkan Bahkan saat istirahat, waktu tersita untuk diskusi dengan mereka tentang bagaimana praktek mereka dilapangan.

  48. woww..foto matahari dan lautnya bagus sekali πŸ™‚
    lam kenal ya bu πŸ™‚

    Nie,
    Salam kenal juga…makasih telah berkunjung

  49. Mudah-mudahan orang papua juga bisa menikmati fasilitas yang dibangun disana……..

    Esha di Birulangit,
    Saya juga berharap demikian…

  50. Teman baikku ada yang di Merauke, Bu.
    Dia selalu cerita tentang keindahan pantainya.
    Dan KFC nggak ada tuh di Merauke.. sampai nitip segala kalau kebetulan ada saudara dari Jawa yang pulkam ke sana.. hehehe…

    Sekarang dia ada di Surabaya lagi, Bu.
    Refreshing, katanya… Dia puas-puasin aja kongkow2 di tempat-tempat gaulnya Surabaya sebelum harus balik ke Papua lagi.. πŸ™‚

    Dan ya.
    Tiket pesawatnya.. muahal!!!

    Lala,
    Papua memang indah sekali La…..tak bosan mata memandang…tiketnya memang mahal, demikian juga harga barang lainnya, maklum barang2 tsb dikapalkan dari pulau Jawa dan pulau lainnya.

  51. Beberapa teman bercerita tentang Jayapura dan Wamena, saya pernah pula beberapa kali melihat gambarnya, posting ibu ikut melengkapi imajinasi saya, mudah-mudahan saya punya kesempatan kesana suatu hari nanti, siapa tahu ya Bu?

    Tentang adanya kesenjangan sosial di Papua yang sering saya dengar, saya setuju salah satu hal utamanya adalah dengan konsentrasi pada membangun pendidikan. Ini penting untuk membuka wawasan warga asli Papua sehingga ada komitmen dan motivasi dan bekal yang cukup kuat untuk maju dan berkembang.

    Tanti
    ,
    Betul…..perlu pembangunan ekonomi dan pendidikan SDM yang komprehensif, terutama agar mereka tidak suka atau mengurangi minum alkohol, karena disinilah letak masalahnya.

  52. saya punya temen buat usaha cargo barang disana…katanyalaku ya bu??? mmm pengen juga deh kalo dikasih kesempatan kerja di project papua, kalau skr dikelilingi sama hutan sawit dan pipa minyak, mungkin kalau disana bakalan di kelilingi laut dan tambang emas ya? πŸ™‚

    ohya ngomong2 tentang pinang muda, penduduk disana pinang mudanya di buat masakan ya bu? kalau di daerah duri (riau pada umumnya) pinang muda itu untuk jus (ini jus katanya khusus untuk para lelaki) heheheh…

    Ria,
    Pinang kayaknya baru sebatas untuk dimakan bersama sirih (untuk menginang), tapi entah kalau ada dibuat makanan yang lain. Makanan yang khas disana ya Papeda, yang dimakan bersama kuah ikan.

  53. Wah…kok “laporan pandangan mata tentang Papua” sekarang ini positif sekali. Ingat waktu mau berangkat ke Papua yang pertama dulu, “Wah…saya agak takut dan khawatir”. Saya bilang, “Buat apa khawatir, di Indonesia ini ada rule…semakin ke timur keadaan alamnya semakin indah”….mirip dengan “Going to Africa”…

    Keindahan alamnya memang “beyond compared” alias “superb” sampai bule-bule Amrik yang tajir dulu suka ke sana macam John (?) Rockefeller III yang sampai pesawatnya hilang dan beberapa tahun kemudian baru ketemu jejaknya…

    SDM Papua terutama di ilmu-ilmu murni seperti Matematika dan Fisika tidak ketinggalan alias banyak yang pintar. Ada Doktor Fisika/Astronomi ITB asal Papua yang terkenal sampai mendunia, sayang beliau sekarang sudah wafat (saya baca di Kompas beberapa saat yang lalu). Waktu lihat Wisuda ITB anak saya bulan kemarin, ada beberapa anak muda Papua yang menempuh pendidikan di Matematika ITB…

    Dua puluh dua tahun yang lalu saya ketemu seorang mahasiswi Papua yang cukup manis ngambil Computer Science di Univ. Kansas – Lawrence karena dikirim sekolah ke LN oleh Habibie…anaknya pinter dan lulus pada waktunya…sayang ia menikah dengan orang bukan WNI dan sekarang tinggal di LN….

    Satu komentar di atas seringnya warga Papua demo karena “ketularan” dengan virus yang disebar dari Jakarta…yang menebar ke seluruh pelosok Indonesia sehingga dikit-dikit mahasiswa, buruh, petani..demo..

    Saya juga pernah mendarat di Biak yang konon kabarnya punya museum hidup tentang PD II (masih banyak sisa tank, pesawat, kapal, artileri pertahanan udara)..alamnya juga indah…diimbangi dengan budaya asli yang aduhai…

    Tridjoko,
    Saat saya pertama kali ke sana tahun 1995, Papua sudah nyaman dan tak segarang yang dibayangkan. Di Jayapura ada museum Rockefeller untuk mengenang Rockefeller yang pesawatnya jatuh di daerah dekat Azmat.

    Saat tahun 1995, salah satu hotel di Wamena, untuk 2 tahun kedepan sudah full book, untuk turis Eropa dan Jepang. Demo? Pas saya kemarin, bertepatan dengan hari “Papua Merdeka”. Di koran ceritanya seru, padahal saya yang datang jam 7 pagi WIT dan melewati makam Theys, hanya melihat beberapa orang disitu, dan tak ada apa-apa. Sorenya saya juga jalan-jalan lagi ke daerah Sentani, yang ditempuh 45 menit dari Jayapura, dan aman-aman saja…jadi kadang pemberitaan memang lebih heboh..atau karena di ulang2 ya?

  54. Wah??? Saya ini kelahiran Jayapura dan besar disana lho! Tp saya terakhir ke Jayapura th 96..hampir 12 thn saya nggak nengok “kampung halaman kedua saya” . Bisa mengobati kangen bu…Masih ada adik saya, sahabat2 saya, yang setelah lulus kuliah memilih kembali “mengabdi” disana. Trims liputannya. Sungguh mengobati rasa…

    Uly,
    Sama-sama….

  55. […] Itulah beberapa sudut Kota Sorong. Tulisan ini sekaligus meredakan sedikit ketegangan akibat tulisan-tulisan sebelumnya. Juga pembayar hutang karena sudah ditagih Bu Eny. […]

  56. ibu,salam kenal…
    ibu tulisannya berkelas semua…hebat…
    saya suka.

    wah..ternyata jayapura ga hanya sebatas alam yang keras, orang-orang tradisional yang pakai bulu-bulu dikepalanya, panah-panah buat bentrok antar suku, dan alat2 modern yg cuman milik perusahaan asing bermodal gede…
    tapi seindah itu ya…
    jadi pingin kesana,,,tapi apa daya, keluar jawa aja belum,bu..hehe
    maklum,
    masih mentah pengalaman..

    Karin,
    Mudah2an suatu ketika Karin bisa sampai di sana.

  57. ibu tertarik ya?deng keindahan alam di jayapura begitu indah?bukan disitu saja tetapi di kota2 di papua indah loo.maukah aku bagiin foto2 buat teman di luar papua?

  58. saya pernah tinggal di jayapura (Base G lebih tepatnya) selama 6 tahun (1996-2002). sangat menyenangkan membaca tulisan anda. banyak yang telah berubah disana, dulu tidak ada gramedia, gelael, dan pasti masih banyak lagi. saya tau pantai dok II, letaknya tepat di pinggir jalan bukan? SD saya dulu di SD Hikmah I Yapis, mungkin anda lewat saat jalan2 disana.
    selalu menyenangkan berbicara dengan orang yang pernah ke jayapura,, beruntung sekali saya menemukan blog anda..
    salam kenal…

  59. Pernah tinggal di sana dari tahun 1998-1999.. tiba2 ingin mencari berita tentang kota yang aku sayangi itu ^^ Ternyata tidak jauh berbeda.. padahal waktu itu saya masih umur 5 tahun.. tapi ingatan saya tentang betapa indahnya jayapura tidak pernah terhapus ^^ terima kasih buu sudah sharing.. jadi tahu bagaimana jayapura sekarang..

  60. Tulisannya menarik sekali; sayang saya bacanya agak terlambat beberapa tahun. Jadi penasaran: Apa arti ‘Dok’ semacam ‘Blok’? Apa pembagian wilayah Dok hanya terdapat diwilayah pantai, dan bukan untuk seluruh wilayah Papua?
    Terima kasih


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: