Bagaimana peluang usaha jasa penerbangan dalam menghadapi krisis?

Dalam perjalanan menuju Surabaya, saya membuka koran, semua berita nyaris membahas masalah krisis finansial yang mulai menyentuh sektor riil di Indonesia. Sepulang dari perjalanan dan kembali ke Jakarta, bahasannya masih tetap sama. Saya akan mencoba menuangkan dalam tulisan, beberapa hal yang saya amati dalam perjalanan.

Krisis kali ini hampir menyentuh semua jenis usaha tanpa kecuali, dan kemungkinan yang masih dapat bertahan karena akan terus dibutuhkan adalah usaha makanan dan jamu, termasuk rokok. Makanan karena semua orang masih butuh makan. Jamu, karena usaha obat-obat an juga mulai dihantam krisis, harga obat mahal, kemungkinan sebagian mulai beralih ke arah jamu. Sedang rokok, bagi kaum perokok, walau telah diinformasikan bahwa merokok berpengaruh pada kesehatan, semakin stres, mereka akan makin banyak merokok (ini berkaca pada pengalaman saat terjadi krisis moneter di Indonesia tahun 98 an).

Dari perjalanan Jakarta ke Surabaya, pesawat Garuda penuh sesak, bahkan penumpang kelas executive pun lumayan banyak. Saat kembali menggunakan penerbangan terakhir dari Surabaya, penumpang kelas bisnis kembali penuh, demikian juga saat pergi ke Jayapura. Dari wajah dan gaya penumpang yang naik Garuda, kemungkinan besar para eksekutif menengah di perusahaan, para anggota dewan, para pimpinan daerah, para konsultan, serta kaum pebisnis. Karena sebentar lagi Indonesia akan menghadapi pesta demokrasi, yang menyebabkan banyak orang berlalu lalang dalam rangka kampanye, maka usaha jasa penerbangan paling tidak masih dapat terselamatkan sampai saat pemilu. Kemudian selanjutnya bagaimana? Pada saat krisis, seperti halnya pada krisis yang terjadi sepuluh tahun lalu, pada saat itu banyak perusahaan melakukan konsolidasi, melakukan beberapa reorganisasi agar lebih efisien, dan untuk ini diperlukan jasa dari konsultan. Karena tanpa pihak ketiga, maka perusahaan sulit berpikir jernih, apalagi setiap perubahan akan menyebabkan adanya konflik kepentingan, yang alih-alih bertujuan baik, terkadang adalah bagaimana masing-masing pimpinan unit kerja berusaha menyelamatkan posisi masing-masing.

Sesuai penjelasan Aprilian Hermawan, dalam Bisnis Indonesia tanggal 28 Nopember 2008 hal T7, Singapore Airlines (SA) yang menempati posisi lima besar dunia pada tahun 2008 setelah Air France, KLM, British Airways dan Lufthansa, dalam laporan 3 bulanan yang berakhir 30 September 2008, pendapatan bersih perusahaan turun menjadi S$323,8 juta (US$ 219 juta), atau setara 27,1 persen saham. Kondisi ini juga dialami seluruh maskapai penerbangan lain. Vice president Public Affairs Singapore Airlines, Stephen Forshaw, meyakini bahwa dampak krisis finansial dunia tidak semuram yang dibayangkan. Strategi perusahaan untuk mengatasi penurunan jumlah penumpang, antara lain adalah:

a. Melalui pengurangan hingga penghentian rute yang terimbas krisis.

b. SA menjalin kerjasama dengan negara tetangga yang memiliki potensi pariwisata kuat, seperti Indonesia. Perusahaan menggandeng Garuda Indonesia serta Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dalam pengembangan pariwisata bilateral.

c. Fokus pada bisnis inti, untuk mempertahankan pelanggan. Cara ini diyakini dapat meningkatkan daya saing dalam industri penerbangan. Forshaw memberi contoh, bahwa perusahaan tidak ingin mengembangkan penerbangan tarif murah hanya gara-gara penurunan permintaan yang bersifat temporer.

Satu hal yang dapat dicontoh dari SA, kendati SA diniliki oleh Temasek, pengelolaan perusahaan tidak dapat diintervensi oleh pemilik. Begitu pula sebaliknya, perusahaan tidak pernah meminta subsidi demi menunjang kelangsungan usaha dan operasional perusahaan.

Bagaimana dengan Garuda dan Merpati, bisakah seperti ini? Kalau saat ini banyak sekali permintaan Kepala Daerah agar Merpati memberi rute diwilayahnya yang belum dapat dipenuhi Merpati, karena keterbatasan armada, sebetulnya usaha penerbangan di Indonesia masih cukup menjanjikan asal dikelola dengan baik. Pada saat penerbangan kemarin, Garuda memberikan kuestioner yang diisi penumpang, yang diharapkan dapat memberikan masukan kepada manajemen untuk perbaikan pelayanan. Banyaknya penumpang, sebagaimana yang saya lihat, menunjukkan bahwa krisis belum banyak mempengaruhi usaha penerbangan, khususnya untuk Garuda. Di samping itu, penjelasan Forshaw, bahwa potensi pariwisata di Indonesia termasuk kuat, semoga memberikan pemahaman pada Departemen terkait, agar secara komprehensip memperbaiki kualitas pelayanan, kemudahan informasi, sehingga potensi pariwisata tadi dapat dimanfaatkan secara optimal. Semoga penilaian saya benar, namun Garuda tetap perlu mereview lagi strateginya dalam menghadapi krisis finansial yang pada akhirnya juga menyentuh sektor riil ini.

Iklan

22 pemikiran pada “Bagaimana peluang usaha jasa penerbangan dalam menghadapi krisis?

  1. Selain itu SQ dinobatkan sebagai penerbangan dengan kualitas layanan prima, catering yang selalu menjadi patokan penerbangan lain, ketepatan waktu, in-fligh entertainment yang sangat lengkap, dan masih banyak lagi kelebihan mereka. Selain itu Changi selalu menjadi tiga besar airport terbaik di dunia terintegrasi dengan layanan mereka.
    Salam P:)

    Ton6312,
    SQ memang terkenal mas Toni. Sebetulnya pada tahun 2001, Garuda termasuk yang mendapat nilai sebagai penerbangan tepat waktu untuk rute Eropa…kebetulan saat itu saya sedang pendidikan dan ada studi banding ke beberapa perbankan di dua negara, di benua Eropa. Pada saat tahun 2005, Garuda ada kerja sama dengan MAS (penerbangan Malaysia), saya menikmati nya saat ada tugas seminar Syariah Banking ke London. Cuma problemnya kalau ke luar negeri menggunakan Garuda atau MAS, harus confirm lagi saat begitu di sana untuk penerbangan pulangnya. Ini sangat merepotkan, apalagi kita kan tak kenal negara orang, saat itu saya bersyukur dapat dibantu oleh penyelenggara pelatihan, tapi tetap repot.

    Diakui, airport Changi memang menarik, kita tak akan bosan walau transit lama sekalipun.

  2. Singapore airlines? Garuda? KLM? Baru kepingin bu. Sekarang ini masih naik Air Asia yang terjangkau. Padahal kalo mau naik KLM cuma 1,5 juta pp Jakarta KL. Itu pun kalo harus sekeluarga masih jauh dari kantong. Air Asia, kadang bisa 1 juta untuk berlima, pulang pergi. Huhuy.
    Pintarnya, Air Asia bisa dapetin uang pelanggan berbulan-bulan sebelum penerbangannya dilakukan. Uangnya diparkirkan saja sudah menghasilkan keuntungan yah.

    Iwan Awaludin,
    Memang itu penerbangan yang bagus pak, termasuk ada fasilitas makannya. Dan saya selama ini menggunakannya karena untuk standar perusahaan adalah naik Garuda, dan sesekali kalau kebetulan anak-anak berlibur (seperti ke Padang dan Bali). Air Asia sebetulnya memang bagus, tapi harus membawa bekal makanan atau beli di bandara.

    Betul pak, dengan pesan sebelumnya, Air Asia lebih yakin, dan sebetulnya penumpangnya juga kan? Saya sendiri kalau tugas ke luar negeri, ataupun ke luar kota, pesannya juga sudah tikep pp. Penerbangan murah memang harus memikirkan sampai detail, jangan sampai ada tiket tak terjual, karena mereka menghitung break even point setiap penerbangan. Jadi dihitung juga waktu sejak memasukkan bagasi, sampai pesawat tinggal landas.

  3. kalo dari sisi konsumen seperti saya, peningkatan kualitas pelayanan menjadi yang utama, kadang harga menjadi nomor dua kalo pelayanan semakin baik 🙂

    Arul,
    Karena saya jarang terbang di luar urusan dinas, maka saya juga berpikir seperti Arul…..nomor satu adalah pelayanan.

  4. Kalau bicara soal industri peenerbangan, sebagai awam saya lumayan “bersyukur” dengan adanya “eliminasi” terkait krisis global ini.

    Setidaknya tidak ada lagi penerbangan murah akan semakin meratakan uang ke moda transportasi yang lain yang selama ini cukup terbengkalai karena ditinggalkan konsumen yang tergiur dengan tiket murah (dan nyawa murah pula?!?)

    Donny Verdian,
    Saya sempat mencoba menggunakan penerbangan murah, karena ingin mendampingi staf, yang kelebihan uang tiketnya sangat berarti. Tapi cukup sekali itu, apalagi jika dari dinas jatahnya adalah penerbangan tertentu, yang memang kualitasnya telah dinilai layak.

    Mengelola jasa usaha penerbangan memang beda dengan jasa transportasi lainnya, penerbangan murah seharusnya tidak berarti maintenance nya jelek…..Betapapun sebetulnya saya tak suka terbang, sebaik apapun pelayanannya, saya kurang menikmati (soalnya susah tidur, makanpun tak enak)…masalahnya kita harus tetap melalui jalur udara untuk mencapai tempat yang jauh, dan hanya dapat dicapai dengan menggunakan pesawat udara.

  5. merpati udah mulai berbenah kabarnya lho bu,lebih efisien hanya memang armadanya sedikit. buat yg kelas internasionalmudah2an lebih murah lagi biar tahun depan pulang bisa dapetmurah tiketnya. soalnya anak2 ama susternya gak di tanggung perusahaan..

  6. maksud bubun, makin banyak krisis dampaknya itu berpeluang meningkatkan produsen rokok jadi laku ya bun…
    lah kalo dalam kondisi susah begini, koq malah bakar duit ya…?!

    Bubun sudah dapet maintenance dari tiap maskapai ya bun? saya koq belum dapet2 ya….padahal memanjakan pengguna jasa penerbangan itu salah satunya ya…maintenance calon penumpang bun.

    Tarif makin melangit nampaknya perlu disikapi para pengelola jasa penerbangan nih. Service boleh jadi itu yang utama.

    thekry™
    Ya itulah pakde, orang kalau udah hobi sulit dilarang. Pada kenyataannya, perokok sulit untuk berkurang.
    Maintenance tiap maskapai? Apa maksudnya? Saya cuma sebagai pengamat kok pakde, karena beberapa kali bolak balik Surabaya-Jakarta, dan penumpang tetap penuh.

  7. mungkin karena mobilitas orang semakin tinggi, penerbangan menjadi transportasi pilihan tak peduli masa krisis.

    SQ memang wokeh banget, tapi toh tetap saja saya pernah trauma di atasnya. jadi tak peduli maskapai apa pun, yang penting bisa memberikan rasa nyaman dan aman bagi penumpang sepanjang perjalanan.

    induk semang saya yang punya bisnis travel saat ini sedang gundah karena banyaknya trip yang dibatalkan karena krisis. tapi bisnis penerbangan mungkin lebih terkait kepada plesiran, tidak dalam lawatan bisnis.

    satu hal yang bikin ill feel mengenai maskapai nasional kita adalah tidak bisa dikontak melalui telepon! entah saya saja yang ketiban begini, sebab berkali-kali setiap perlu tiket cepat, mereka selalu tidak diakses via telepon. pegawainya kurang ramah, beda banget kalau urusan tiket MAS misalnya. menurut saya pelayanan kantor di darat yang paling perlu dibenahi.

    Marsmallow,
    Entahlah, saya di Jakarta gampang kok nelepon Garuda. Saat pembantu saya ayahnya meninggal mendadak, dan karena dia udah ikut saya lebih dari 10 tahun, saya menelepon Garuda untuk pesan tiket pesawat paling pagi ke Surabaya…kemudian tinggal diambil di bandara.

    Bisnis travel terkait dengan pariwisata, dalam kondisi krisis seperti sekarang, orang akan mengutamakan kebutuhan pokok dulu, yaitu makanan, pendidikan dan kesehatan. Makanya yang terkena adalah bisnis tekstil dan garmen…jadi ingat masa kecil dulu, punya baju baru hanya saat Lebaran. Garuda karena segmennya jelas, yaitu kaum pebisnis (termasuk konsultan bisnis, lawyer dsb nya), para eksekutif perusahaan, walau terjadi penurunan penumpang, dampaknya tak terlalu berat dibanding maskapai lain, yang lebih banyak penumpang umum. Dan…sekarang ini penumpang kereta api naik secara signifikan, yang biasanya naik pesawat, kembali ke kereta api.

    Lha kalau saya, jika masih dijangkau dengan KA, akan pilih KA, karena rasanya lebih safe (saya sebenarnya ga suka terbang).

  8. Dunia penerbangan di US juga tidak kalah hebohnya. Beberapa maskapai penerbangan mulai memberlakukan biaya check in luggage. Dan hal ini membuat banyak penumpan membawa carry on banyak.

    SQ saya belum pernah mencoba karena harga tiketnya memang luar biasa. kemarin sempat googling di Internet dan harga yang ditawarkan mulai dari US $ 5000. Padalah maskapai lain seperti Cathay Pasific kami bisa mendapatkan tieket dengan harga US $ 1500.

    Sejak krisis bahan bakar dan sekarang krisis financial sepertinya menempatkan bisnis transportasi udara pada posisi yang sangat tidak menguntungkan. Thanks

    Yulism,
    Betul Yulism, banyak maskapai penerbangan yang melakukan lay off, mengurangi rute penerbangan (seperti SQ mengurangi rute ke Korea karena kurang menguntungkan, Kompas 28 Nop 08). Jadi memang harus membenahi, melakukan efisiensi, dan transparansi dalam pelayanan tiket dsb nya.

  9. Kemampuan bertahan sebuah perusahaan jasa, termasuk airlines memang tergantung dari banyak hal, terkadang banyak faktor yang tidak bisa dikendalikan terutama faktor2 eksternal atau makro seperti krisis finansial ini.

    Perampingan dan penghematan biaya operasional mungkin bukanlah sebuah opsi yang favourable, apalagi menyangkut keselamatan nyawa banyak orang. Satu2nya cara yang paling favourable adalah tentu dengan mempertahakan pelanggan2 setia dan merebut hati calon2 pelanggan lainnya dengan pelayanan yang baik, tepat dan aman. Namun saya yakin mereka yang dapat memberikan pelayanan paling prima tetap akan survive dalam krisis walaupun mungkin mereka akan sedikit mengalami downturn, karena bagaimanapun airlines tetap diperlukan dan juga dapat dikatakan sebagai roda penggerak perekonomian itu sendiri…..

    Yari NK,
    Betul…pelayanan merupakan hal yang paling utama, disamping safety.
    Saya pencinta Garuda, bukan karena standar di kantor memang Garuda, bahkan untuk penerbangan keperluan keluarga, saya tetap memilih Garuda. Saya pernah mencoba maskapai lain, check ini nya tak disiplin, penumpang membawa segala macam barang seperti di kereta api…dan karena AC nya kurang bagus, dalam kabin tercium bau yang aneka warna, membuat pusing….padahal biasanya saya ambil penerbangan paling pagi, dari bandara langsung ke lapangan, masuk hotel udah tinggal tidur saat malamnya. Akibatnya saya malah jadi ga sehat, dan keuntungannya tak seberapa. Tapi kadang anak buah suka, karena dapat margin yang lumayan…kalau seperti ini kami berpisah, mereka naik maskapai lain, saya tetap naik Garuda. Hmm…tapi tak semua jelek kok, saya pernah naik MA, dan puas, cuma rutenya tak sesering garuda.

  10. SQ keuntungan turun karena jumlah penumpang juga turun terkait krisis, dan sebagai perusahaan publik harga sahamnya ikut turun mengikuti kecenderungan harga saham dunia… Secara service SQ termasuk salah satu world-class airline dan menjadi standar yang lain, maka harganya juga muahaaaall (saya pernah naik SQ karena dibayarin pemerintah Singapore..hehehe..).. Terus image-nya yang baik termasuk senyuman “The Singapore Girl” selalu terngiang terus walau seragam batik karangan Pierre Balmain yang sudah 20 tahun dipakai tidak pernah diganti…
    Garuda sebagai BUMN diberi jatah jalur gemuk, termasuk angkutan 210.000 haji per tahun, jadi kalau masih merugi…tanya kenapa ? Sedang Merpati agak “MERana samPAi maTI” karena diberi tugas melayani jalur kurus yaitu Indonesia Timur yang penumpangnya kurang dan penerbangan perintis…(saya lihat di airport Juanda SBY, ada sekitar 10 Boeing 737 Merpati nganggur di apron tidak “narik”…wah berapa kerugian perusahaan kalau begitu ?)..tapi Merpati salah satu airline favorit saya karena masih memberikan box kue yang dirancang apik…lumayan untuk ganjal perut…
    Penerbangan murah lainnya, not so bad asal diiringi doa yang kuat…hahaha… mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa…habis anggaran proyek standar DIPA kalau buat naik Garuda mana kuat ?
    Ya..kayaknya saya akan nulis beda pelayanan stewardess di berbagai airline nih…tunggu tanggal mainnya….

    Tridjoko,
    Melihat situasi kemarin, seharusnya memang Garuda sudah tak boleh merugi….perlu perbaikan operasional, jangan kayak dulu, tiket sulit, ternyata di atas pesawat banyak kursi kosong. Sekarang check in juga tak perlu menunggu lama karena sudah on line (di Sukarno Hatta). Merpati memang “agak sulit” karena jalurnya kalah gemuk…namun Indonesia Timur, terutama Papua, yang harus bepergian lewat udara, membuat penerbangan Merpati masih ditunggu dibanding lainnya.

    Tiket Garuda memang mahal….dan saya pake Garuda kan dibayari dinas (lha kalau bisa naik KA ya pilih KA, yang jelas menapak di darat). SQ juga tak selalu bagus, saya pernah ke Singapore naik SQ, koperku dibobol maling, walau ga ada barang yang diambil, lha isinya kan cuma pakaian doang.

  11. Manajemen pelayanan mungkin nantinya akan sangat diperlukan untuk bersaing dengan perusahaan penerbangan yang lain. Bagi yang saat ini mampu memberikan harga murah, mungkin ketika terjadi krisis ekonomi justru akan menyamakan harga dengan yang saat ini mematok harga tinggi. Atau malah akan terjadi kesepakatan harga diantara masing-masing perusahaan sehingga akan mampu lebih bersaing, dan hanya akan mengandalkan managemen pelayanan serta rute dalam menggaet konsumen?
    Ah entahlah, krisis masih kayak gini aja, rokok udah kenceng banget. Mudah-mudahan krisis tidak akan lama, karena seperti kata pepatah badai pasti akan berlalu, hujan pasti akan berhenti, panas pun pasti akan terganti hujan.
    Hanya berharap, berusaha dan berdoa…

    Sapimoto,
    Perusahaan yang bertahan adalah perusahaan yang efisien, fokus pada segmen tertentu, meningkatkan kualitas pelayanan, sehingga pelanggan akan puas dan selalu datang kembali. Apalagi untuk perusahaan jasa, mau tak mau kuncinya adalah kenyamanan, keamanan dan pelayanan.

  12. Kita semua berharap krisis finansial segera berakhir dan Penerbangan dalam negeri segera berbenah untuk memperbaiki pelayanannya terhadap konsumen

    achmad sholeh,
    Saya juga berharap demikian, walau kenyataannya krisis finansial baru mulai menyentuh Indonesia, dan mulai berpengaruh pada sektor riil…yang diperkirakan perlu waktu 2 tahun agar semua kembali normal.
    Mudah2an kita semua bisa bertahan….

  13. pariwisata kita emang masih kuat bun
    saya juga melihat banyak potensi di sumatera utara
    doakan ya bun, saya lagi membangun ke arah sana

    reallylife,
    Pariwisata di Indonesia potensinya besar, tapi masih perlu pembenahan terutama infrastrukturnya. Karena pariwisata yang mudah apabila turis dapat menjangkau daerah tsb dengan berbagai alternatif alat transportasi.

  14. Ibu, maaf sedikit OOT. Justru di saat krisis ini, yang saya khawatirkan adalah nasib penerbangan perintis ke pedalaman Indonesia (remote area). Penerbangan dengan pesawat kecil ini dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan dasar masyarakat di daerah terpencil. Supply pangan dan obat-obatan (bahkan binatang ternak) mesti dilakukan dengan pesawat kecil. Saya berharap, di saat krisis jasa penerbangan perintis lebih diperhatikan dan didukung penuh oleh pemerintah, termasuk persoalan maintenance-nya.

    ##

    SQ dulunya malah memanfaatkan pariwisata Indonesia untuk mendongkrak bisnis mereka. SQ dulu diuntungkan dengan larangan terbang Garuda ke Eropa. Sehingga SQ sempat menggunakan jargon, SQ gateway to Indonesia.
    Saat ini, ketika Garuda sudah beroperasi ke Eropa (Belanda yang pertama, cmiiw), maka otomatis calon valuable cutomer memiliki alternatif. Yang ingin saya lihat, apakah dengan kondisi krisis global, yang dengan sendirinya akan mengurangi konsumsi manusia untuk kegiatan wisata, apakah Garuda bisa bertahan? Pertanyaan yang serupa dengan yang Ibu lontarkan.

    Sedangkan Merpati, kita semua tahu, beberapa bulan yang lalu Merpati gonjang ganjing, sehingga perlu melakukan restrukturisasi. Dampaknya, jumlah pilot, penerbangan, dan karyawan turun drastis, sejumlah kecil karaywan dipertahankan, mungkin hanya seratusan, dan kantor pusat Merpati dipindahkan dari Jakarta ke Makassar. Pemerintah memback-up kelangsungan hidup Merpati, karena dengan berkurangnya pelayanan Merpati, berdampak pada tersendatnya pelayanan penerbangan di beberapa kawasan di Indonesia timur. Perlu diingat, tak semua fasilitas bandara di Indonesia timur bisa didarati oleh pesawat yang tipenya besar seperti yang dioperasikan oleh Garuda. Selain Merpati pelayanan transportasi di bandara tipe itu juga dilakukan oleh Xpress Air. Hanya jika, Xpress air yang tetap hidup dan Merpati mati, maka akan terjadi monopoli yang tidak menguntungkan penumpang (sementara pesawat milik Xpress air pun tak kalah menyedihkan kondisinya).

    ##

    By the way, ini OOT Bu. Jika kerap bepergian disarankan mengurus frequent flyer, dengan keanggotan ini, Ibu bisa mendapatkan beberapa prioritas yang mungkin diperlukan disaat kondisi mendesak. Selain itu, benefit yang lain adalah sejumlah point reward bisa ditukarkan dengan tiket penerbangan gratis, lumayan sangat. 😀

    Yoga,
    Setelah ngobrol dengan Yoga, kayaknya saya perlu juga mengurus Frequent flyer...selama ini kalau ditawari ogah2an…karena masih merasakan bisa duduk di lounge pake Citibank dan KK yang lain…malahan kalau pake kartu kredit di luar Citibank, makanan yang disediakan di lounge lebih Indonesia..Disamping itu, selama ini saya tahunya beres, tiket pp udah diuruskan……kalau mau pulang maju atau mundur, cabang perusahaan yang dituju juga dengan mudah mengurusnya, seperti kemarin saat minta ganti rute lewat Timika (sebelumnya rute pulang lewat Biak).

    Merpati memang diperlukan, saya lupa baca kapan (yang jelas di Kompas, lha langganan koranku Kompas), Merpati kewalahan diminta para Pemda untuk memenuhi kerjasama penerbangan perintis. Penerbangan perintis ini risikonya memang besar, karena di Indonesia Timur bandaranya kecil, seperti di Wamena lokasinya di cekungan pegunungan, hanya dapat dilalui melalui dua celah koridor yang kalau tak biasa akan menabarak gunung. Dulu ada Garuda (Foker 28 kesana), tapi sekarang hanya Merpati, dan maskapai lain.

  15. Kalau untuk saya pilihan hanya ada JAL,Garuda dan SQ. Saya pikir Garuda tentu paling murah… ternyata tidak! Kadang SQ lebih murah dari Garuda dan JAL. Keuntungan naik JAL adalah direct flight, sehingga biarpun lebih mahal sedikit, untuk menghemat waktu dan capek, saya lebih pilih JAL.

    Kalau SQ dan GA, dua-duanya harus transit, yang satu di Singapore dan GA di Bali. Kalau suruh pilih tentu saja saya akan pilih SQ, wong Changi Airport canggih banget.

    Karena saya sudah punya Frequent Flyer untuk SQ dan JAL, sekarang tinggal lihat harga dan availabilitynya saja deh. GA? ngga dulu deh hehehehe.

    EM

    Ikkyu san,
    Kalau untuk Indonesia, standar dinas adalah Garuda…dikantor lama, tiket bisa beli sendiri, dampaknya banyak temanmenggunakan maskapai penerbangan lain (diluar Garuda) karena lebih murah. Sebagai instruktur, kalau tugas ke luar kota, tiket Garuda pp udah dibelikan oleh perusahaan yang menugaskan saya….jadi ya tinggal pake.

    Ke luar negeri? Tinggal jatahnya apa…saya kebetulan dapat jatah eksekutif (sebelum pensiun lho), dan maskapai penerbangannya boleh pilih sendiri. Dan karena milih sendiri, pernah mencoba macam-macam, seperti : KLM, SQ, Qantas, Cathay Pacifik, MAS dan Garuda. Apa bedanya? Entahlah, rasanya sama aja…cuma Garuda mesti pake confirm dulu, ini yang bikin pusing apalagi di luar negeri kan tak kenal medannya. Masih beruntung, saat itu penyelenggara seminar mau membantu. Setelah pensiun, tentu peluang ke luar negeri nyaris nol…tapi siapa tahu nantinya bisa menengok anak dan menantu….ngarep:P

  16. Peluang jasa penerbangan pada saat krisis, kaya’nya tetap baik² aja tuh bu .. buktinya, bandara masih tetap ramai. Kalo pun ada airlines yang bangkrut, saya pikir mungkin karena mismanajemen. Karena, selama dunia usaha masih berjalan dan penguasa negara masih wira-wiri .. yakinlah, penerbangan masih eksis.

    *sedang ngebayangin kalo ga ada pesawat*
    *apa kuat naik kapal ato bus antar pulau?*

    Erander,
    Saya juga berpikir begitu, apalagi Indonesia negara kepulauan, jarak jangkauannya banyak yang harus melalui udara atau laut…dari laut tak semuanya bisa dicapai, seperti daerah pedalaman di Papua, jalan satu2nya ya naik pesawat terbang.

  17. bisnis yg kolaps di indonesia karena krisis kebanyakan kan yg berorientasi ekspor ke Amrik, sedangkan bisnis yg beroperasi di indonesia dan yg mempunyai target pasar di negeri sendiri menurut sy tidak terlalu kena dampaknya

    bisnis2 yg beroperasi di dalam negeri ini, menurut saya calon penumpang yg potensial yg mesti dimanfaatkan secara maksimal oleh jasa penerbangan rute antar kota di indonesia, so dengan demikian maskapai penerbangan pun tidak terlalu kena dampak krisis finansial global ini

    Aditya,
    Jangan lupa, jika tak hati-hati, pengaruh krisis finansial ini akan terasa di Indonesia tahun 1999…sekarangpun sudah mulai menyentuh sektor riil. Dan kalau sudah ke sektor riil, maka penyelesaian minimal dua tahun. Walau punya pasar dalam negeri, kita harus menjaga agar pasar dalam negeri tak dimasuki barang selundupan, terutama dari China, yang banyak kehilangan pasar ekspornya, dan akan berusaha melakukan pemasaran ke negara tetangga dengan jalan apapun.

    Dunia penerbangan juga kena imbas krisis, banyak yang sudah collaps…khusus Garuda karena segmennya tertentu, saya kira masih bertahan walau akan terjadi penurunan keuntungan.

  18. Krisis global memang tak pandang bulu. Tapi kondisi politik suatu negara memang sangat mempengaruhi. Kalau politik luwes, peta sebuah negara pun tampak manis.

    Sampai saat ini harian Kompas masih juga menyodorkan pemerintah yang masih menjaga citra seolah negara ini tak terpengaruh krisis global. Padahal ini terkait pada banyak sektor. Parawisata salah satunya, di mana trasportasi masuk di dalamnya.

    Daniel Mahendra,
    Saya berharap, pemilu tahun depan aman-aman saja…agar jangan sampai krisis finansial yang mulai menyentuh sektor riil di Indonesia, berkembang ke krisis politik…kalau sampai terjadi biayanya akan mahal sekali. Kita harus banyak berdoa, semoga bangsa ini selamat dan bisa menghadapi krisis ini.

  19. Tri Setyo Wijanarko

    kalo menurut saya sih meskipun ada krisis global tapi hal itu nggak akan berpengaruh kepada maskapai penerbangan kita. karena sebagian besar rute maskapai penerbangan indonesia adalah penerbangan domestik yang tidak terpengaruh dengan krisis global dengan rute yang banyak banget, hanya sebagian kecil aja penerbangan internasionalnya.

    sedangkan SQ misalnya yang nggak punya rute domestik lebih terasa efek krisis globalnya. atau JAL yang sekarang sedang menghadapi masa2 yang sangat kritis, saat ini sedang mendekati American Airlines, Delta, ataupun Air France-KLM untuk berinvestasi.

    kita sepertinya harus bersyukur karena mempunyai negara yang sangat luas sehingga meskipun ada krisis global tapi nggak begitu pengaruh sama penerbangan di indonesia. kalo saya perhatikan malah tambah rame aja penumpang pesawat dari tahun ke tahun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s