Oleh: edratna | Desember 10, 2008

Turne pertama kali dengan bos

Tak terasa Anna telah 4 (empat) tahun bergabung di perusahaan tersebut, telah menikah dan mendapat seorang anak berusia 2 (dua) tahun. Tugas utama Anna sebagai Analis memungkinkan Anna bepergian mengunjungi berbagai jenis usaha, namun selama ini kebetulan bos langsung Anna selalu menanyakan terlebih dahulu, apakah Anna sudah bisa bepergian keluar kota, karena tahu bahwa anaknya Anna masih kecil. Anna sadar, suatu ketika dia harus meninggalkan si kecil untuk sementara, demi tugas yang harus dijalankan. Anna telah beberapa kali diskusi dengan suami, apa yang harus dilakukan, jika sewaktu-waktu harus melaksanakan perjalanan dinas ke luar kota.

Kenapa bingung, kan masih ada aku,“ kata suami Anna.
Anna bersyukur mendapatkan pasangan yang memahami dirinya, dan bersedia menemani si kecil, jika Anna terpaksa harus kerja lembur. Suatu pagi, sekretaris memberi tahu Anna, bahwa minggu depan bapak (maksudnya bos) ingin mengajak Anna mengunjungi klien di Kalimantan.
Minggu depan?” tanya Anna tak percaya.
Kenapa mbak?” tanya sekretaris.
Oh, nggak apa-apa” jawab Anna, sambil memikirkan siapa yang akan menemani si kecil, walaupun sudah ada yang momong.

Sore itu bos memanggil Anna.
Duduklah,” kata bos. “Minggu depan kita akan melihat perusahaan konstruksi di Kalimantan, siapkan data-data yang diperlukan.”
Iya pak, apa yang harus saya persiapkan?” tanya Anna
Apa saja, hal-hal yang berhubungan dengan klien kita di Kalimantan,” kata bos

Malam itu Anna tak dapat tidur nyenyak, dikopornya telah ditaruh baju anaknya yang belum dicuci agar anak tidak rewel. Pagi sekali Anna berangkat ke airport diantar suami. Hari itu, dari bandara di Kalimantan, langsung ke lokasi usaha, ditemani Pimpinan Cabang setempat. Rupanya yang ditinjau adalah proyek konstruksi yang tendernya telah dimenangkan klien.

Malam itu, bos menanyakan apakah Anna sudah pernah ke Kalimantan.
Belum pak,” jawab Anna. “Kalau begitu, saya akan minta Wakil Pimpinan Cabang dan isterinya menemani Anna jalan-jalan,” kata bos. Malam itu Anna diajak makan di restoran di pinggir sungai, kemudian jalan-jalan sepanjang pertokoan di kota tersebut. Tak terasa semakin malam, tapi Anna sebetulnya kawatir tidur sendiri.

Kenapa mbak Anna nggak tidur di rumah kami saja, besok diantar ke bandara langsung?” kata isteri Wakil Pimpinan Cabang. Anna sebetulnya ingin, tapi dia tak dapat mengecewakan bosnya, apalagi ini pengalaman turne nya yang pertama kali. Akhirnya suami isteri Wakil Pimpinan Cabang menemani Anna di kamar hotel, dan baru pamitan setelah Anna sudah merasa mengantuk.

Anna sulit sekali tidur, terbayang si kecil di rumah, tapi gembira besok sudah pulang. Rasanya lama sekali meninggalkan rumah padahal hanya semalam. Pagi-pagi sekali Anna bangun dan mandi, mengharapkan bos menelepon mengajak makan pagi. Anna tak berani melakukan apa-apa hanya menunggu bos menilpon, tak lama kemudian pintu diketuk, dan didepan pintu tersenyum Pimpinan Cabang Kalimantan.
Sudah siap mbak?” tanyanya
Sudah siap pak,” jawab Anna.
Ternyata Anna langsung diajak ke lobi dan naik kendaraan ke bandara. Anna yang terbiasa sarapan pagi, merasa badan mulai tak enak, tapi apa boleh buat dia harus bertahan, toh penerbangan hanya dua jam. Ternyata memang lagi sial, penerbangan ditunda dua jam, bos juga mulai mengomel.
Kok kayak naik oplet aja, nunggu penumpang penuh,” kata beliau.
Syukurlah akhirnya pesawat mengudara, bos yang duduk di samping Anna langsung tidur nyenyak, bahkan saat ada penyajian makanan tetap tak bergerak. Dan itu merupakan kesempatan bagi Anna, untuk pesan kopi susu, dan menghabiskan makanan yang diberikan dalam dos. Tak lama kemudian pesawat terasa menurun, dan bandara Sukarno Hatta mulai terlihat. Bos bergerak-gerak, kemudian katanya…”Lho, wahh udah mau turun ya, makanan (box) ini untuk Anna saja,” kata beliau sambil tersenyum. Entah kenapa, senyuman bos terlihat seperti mentertawakan Anna, mungkin beliau tahu kalau Anna kelaparan.

Keluar dari bandara, beliau bingung melihat kartu bagasi yang banyak, yang diberikan oleh Pimpinan Cabang. “Anna, kamu tinggal di kompleks kan, dan tetanggamu banyak?” tanya beliau. Anna hanya mengangguk, agak kurang paham.
Ya, udah, ini bagikan ke tetanggamu, dan Anna tak perlu ke kantor, besok saja kita ketemu,” kata beliau.

Anna sangat berterima kasih pada bos, karena saat itu masih jam 11 siang, betapa rindunya Anna untuk segera ketemu dan memeluk si kecil. Hanya satu malam tak memeluk si kecil, rasanya kangen sekali.

Iklan

Responses

  1. bunda ini ringan apa fiksi!?!?!?

    Yessymuchtar,
    Ahh entahlah …suka-suka aja Yess…..hehehe

  2. wah ceritanya ngalir bu…
    btw Anna selalu mendapat kesempatan yakz, walau diliputi kekhawatiran tapi ndak pernah mengalami masalah yang berat. atau ada apa di episode selanjutnya?
    jadi penasaran 😀

    Arul,
    Banyak masalah sebetulnya yang dihadapi kaum perempuan pekerja, cuma kok sulit ya menuliskannya, karena saya selalu berpikir efeknya….ntar pelan2 sambil mengumpulkan remah2 kenangan atas pengamatanku selama ini.

  3. Berpisah dengan anak-anak, walau hanya sebentar, sangat sulit bagi saya. Kadang kalau sedang menyetir dengan istri dan kebetulan anak-anak sedang bermain di rumah temannya, mata saya selalu melirik di kaca spion melihat dua kursi kosong di bagian tengah mobil. Rasanya ada sesuatu yang hilang… mata tidak henti-hentinya dan secara otomatis melihat bagian yang kosong itu.

    Saat bertemu mereka kembali rasanya senang bukan main.

    Barry,
    Betul…dan kenapa sih sarannya selalu bawa baju anak yang udah dipake tapi belum di cuci…..? Katanya agar kita tak teringat atau terkenang terus, serta anak tak rewel saat ditinggalkan.

  4. Ini seperti bukan fiksi, atau kenyataan ringan yang pernah terjadi sehingga difiksikan saja, Ibu?

    Hehehehee!

    Donny Verdian,
    Lha temenmu itu katanya mau ngajarin nulis…gara-gara ngaret sampai 5 jam, dan ternyata setelah ketemu cuma hahahihi….jadi lupa deh.

    Entahlah….sebaiknya apa kategorinya, bukan kejadian yang kualami, tapi ada beberapa kejadian yang menurutku layak untuk di share di sini, karena dari pengalaman kerja lebih dari dua puluh tahun, di suatu lembaga yang high risk n high regulated, banyak kejadian atau hasil pengamatan yang patut diceritakan, setelah diedit tentunya…

  5. hoho. dan cerita pun berlanjut…

    v(^_^)

    keknya mending dikasih tau kota mana yg dikunjungi anna, bu. biar lebih bisa ngebayangin.

    Farijs van Java
    ,
    Bagaimana jika nama kotanya Antah berantah?….hehehe…..
    Jadi ingat kalau mulai mendongeng….”Pada suatu hari, di dusun (namanya ngarang)…..dst..”

  6. Saya paham perasaan Anna…spechless…

    *yang jatah cutinya “tinggal” 3 minggu lagi

    Sanggita,
    Kebayang deh….pasti sedih…apalagi jika air susu mengalir deras…..
    Hmm tapi sekarang anak buahku lebih mudah, karena di kantor kami iuran beli kulkas…jadi tinggal simpan air susunya di kulkas, jam-jam tertentu si mbak ambil di kantor, tinggal dihangatkan. Beres deh….

  7. Edit : speechless. E-nya kurang satu.

    Hehe, kalo masalah ejaan memang sensitif sekali. Ajaran bu dosen sampai-sampai tidak ada kesalahan satu huruf pun waktu skripsi *halah*

    Sanggita,
    Nggak apa-ada…alasan paling sederhana…salah ketik…

  8. Pergi ke luar kota meninggalkan balita ….. fiuh.
    Harus ‘kuat’ lahir bathin.
    Beruntung Anna memiliki suami dan bos yang sedemikian besar perhatiannya. 🙂

    ……..dikopornya telah ditaruh baju anaknya yang belum dicuci agar anak tidak rewel”.

    Kalo yang ini ‘Jawa’ banget bu.

    Irna,
    Hehehe….entah kenapa ajaran itu manjur lho, juga bagi temen2ku…atau sugesti ya?
    Keluar kota? Ahh itu masih sederhana. Ada isteri teman suami malah membawa anaknya yang belum setahun dan perawatnya ke luar negeri, karena beliau ditugaskan untuk riset di negeri Perancis selama 6 bulan…dan suami tinggal di Indonesia bersama si sulung yang saat itu masih usia SD kelas II (kedua suami isteri ini akhirnya mencapai Prof Dr).

    Jadi….pelajarannya, jika mau berkarir dan berumah tangga yang seimbang, pilihlah suami yang bisa mendukung, dan nggak selalu minta dilayani. Dalam kehidupan nyata, banyak pekerja perempuan masuk ke perusahaan, dalam perjalanannya yang sampai tingkat atas hanya sedikit…karena terlalu dibebani urusan rumah tangga, atau tak boleh turne oleh suami….atau harus pulang tepat waktu…dan aturan lain yang membebani. Padahal semakin tinggi kedudukannya, maka tanggung jawab makin berat….kata suamiku….”kalau jadi atasan, ya datang paling pagi dan pulang paling akhir”…dengan contoh ini, maka anak buah akan bekerja baik tanpa setiap kali harus diawasi. Bagi perempuan, juga harus menghargai kepercayaan ini, sehingga waktu luang yang ada benar-benar digunakan untuk kepentingan keluarga.

  9. hal ini udah biasa dalam kehidupan rumah tangga saya..malah seminggu istri sampe sales call. ala bisa karna biasa.

  10. Kalau menulis fiksi, akan lebih mudah seandainya diilhami dari pengalaman pribadi ya, Bu Enny…
    Lepas dari apakah tokoh Anna itu adalah Enny (hehe), yang penting, buat saya pribadi, tulisan ini sangat ringan dan mengalir…

    Ayo, Bu.
    Monggo dilanjut.. 🙂

    Lala,
    Daripada pusing mikir kategorinya, lha mending nulis aja….ntar siapa tahu ada yang mau membantu memilah-milah…bingung soalnya…..
    Lha menulis blog, yang ternyata masih bisa bertahan sampai sekarang aja, banyak yang heran (termasuk diriku sendiri), karena saya sebelumnya tak terbiasa menulis……kalau menulis paling berupa laporan, bahan presentasi, bahan seminar…hehehe…yang serius-serius itu…

  11. Hmmm… mungkin nanti kalau saya punya tanggung jawab seperti Anna, mungkin perasaan saya sama. Saat ini karena lajang, saya tak punya pikiran seperti itu, hmmm.. sebaiknya masa seperti ini saya nikmati saja, nanti kalau sudah tak sebebas merpati (halah), paling nggak saya kan sudah pernah merasakan nikmatnya travelling tanpa kepikiran seperti Anna. 😀

    Yoga,
    Betul…nikmati aja…tapi kalau dapat suami yang mendukung, kegiatan tersebut dapat terus berlanjut, walau tetap tak sebebas dulu lagi. Saya juga mengalami stag lama di karir, tapi karena memang saya ingin lebih dekat pada anak-anak….tapi begitu anak-anak udah bisa ditinggal ya berjalan normal.
    Dan…ternyata anak-anak bangga lho kalau ibunya kerja, pulangnya mesti mendongeng….apalagi setelah menulis di blog, pengunjunganya adalah teman anak-anak, baik si sulung maupun si bungsu. Kalaupun nggak meninggalkan komentar, dia suka ngomong sama si bungsu..”Pen, nyokap loe postingannya baru lho!”…hehehe

  12. anak 2 tahun ya bu… ditinggal nginep. Nnati mau nyoba ah sama Kai, kalo ke Jakarta.

    Dulu pernah mau nyoba di jakarta. Riku umur 1,5 tahun, trus saya mau nginap semalam di Bandung bersama teman Jepang. Riku rencananya saya tinggal (dengan kesediaan ibu saya nungguin) Pagi-pagi mau berangkat ke stasiun, kok dilalah dia ikut bangun jam 5 pagi, dan merasa bahwa ibunya akan ninggalin dia. Nangis terus. Terpaksa deh cepet-cepet saya masukkin baju dan perlengkapan di ke dalam tas, dan cabut ke Gambir. Ngga jadi deh ninggalin dia hehhehe.

    Asyik ibu udah lanjutin lagi nulis fiksinya.
    EM

    Ikkyu san,
    Hmm sebetulnya memang diperlukan latihan…dan bagi anak menunggu sehari itu terasa lama sekali. Kebetulan, saya tinggal di kompleks rumah dinas, yang rata2 anaknya seumur, sehingga mereka punya teman main (ini yang membuatku tinggal di rumah dinas terus dan baru pindah ke rumah sendiri setelah pensiun).

    Kalau libur anak-anak saya setor ke Bandung dan ibu balik ke Jakarta…nanti si mbak yang ngajak jalan-jalan ke taman lalu lintas, ke kebon binatang dll….ayahnya sih tenang aja, tetap bekerja. Setelah kupikir, kehidupan rumah tanggaku, serta keberhasilan anak-anakku, ternyata banyak dipengaruhi adanya si mbak ini. Bahkan setelah si bungsu remaja, si mbak ini yang menemani dia nonton film, kalau ibu sibuk tak bisa ninggali pekerjaan kantor….dan sekarang, si mbak ini pula yang suka jemput si bungsu jam 1 malam di labdas ITB.

  13. Apalagi mereka yang punya anak masih kecil kemudian pergi menunaikan ibadah haji tentu lebih berat lagi. Kalau ikutan yang ONH Plus lumayan sih, gak terlalu lama.

    Mufti AM,
    Situasinya beda mas…kalau ibadah haji, karena sudah diniatkan, maka telah dipersiapkan sebelumnya. Anak-anak ditunggu oleh neneknya atau saudara yang lain.

    Judul di atas adalah untuk turne dalam rangka perjalanan dinas, yang kadang perintahnya mendadak, namun sebagai karyawan tentunya harus patuh pada aturan perusahaan.

  14. Pada situasi itu, peran penting suami diharapkan. Jika dia adalah sosok yang pengertian, tidak egois, dan siap untuk si kecil, pasti mengurangi perasaan gundah si Anna.

    Hidup memang pilihan ya Bu, dan itu resiko wanita bekerja….

    Prameswari
    ,
    Betul…dalam kehidupan sehari-hari saya bersyukur mendapat suami yang memahami karakterku, juga bidang pekerjaanku, yang kadang sering memberi tugas dadakan. Dan suami siap mengantar si kecil ke dokter kalau waktunya vaksinasi, jika ibunya sedang tugas ke luar kota.

    Jadi…pilih suami yang mendukung Noengki, yang mau berdiri sejajar, saling bantu membantu, rasanya nyaman punya sahabat seumur hidup…

  15. jd inti ceritanya adalah Anna itu kelaparan pengen ngabisin box makanan punya bossnya he he

    kalo Turne itu artinya apa yah bu ?, kata serapan bhs inggris atau bhs indo ? (doh, gak gaul)

    sy salut 2 jempol dgn sang Suami, kalo sy jd dia … mungkin sy ndak punya kemampuan 2 sekaligus seperti itu, ditinggalkan istri sekaligus mengurus anak, apalagi kalo masih bayi

    jd kepikiran, ada nggak sih perusahaan yg boleh menyertakan keluarganya dalam perjalanan dinas spt itu ? *salut kalo ada, karena bisa2 perusahaan bangkrut membiayai uang perjalanan yg membengkak*

    Aditya,
    Menurut KBBI, turne adalah bepergian dalam rangka tugas (dinas), ke suatu daerah.

    Sekarang banyak suami yang seperti suaminya Anna, termasuk teman-teman suami saya, makanya suami juga memberikan dukungan bagi saya untuk ber karir.

    Dinas membiayai? Ya, jelas nggak ada, bagi laki-laki atau perempuan, sepanjang jabatan sama, maka tugas dan tanggung jawabnya sama, kecuali kalau cuti hamil, dan cuti lain yang diperbolehkan sesuai aturan uu ketenagakerjaan. Apalagi tak ada perbedaan atas haknya, seperti jika sakit, maka isteri boleh memilih akan dibiayai oleh perusahaan suami atau isteri…dengan demikian bagi karyawati tak boleh meminta hak preferensi mengatasnamakan perempuan. Jadi, bagi perempuan yang ingin karir dan rumah tangganya bisa berjalan lancar, ya harus memilih suami yang memahami dan pengertian…dan sekarang suami seperti ini sangat banyak, antara lain, suami teman-temanku.

  16. turne or turni itu…ada singkatannya or gimana bu?

    Wakidi,
    Turne, menurut KBBI adalah bepergian untuk melakukan suatu tugas (meninjau suatu daerah dsb nya); bepergian ke daerah lain dalam rangka tugas (dinas).

  17. Bu, aku masih utang menuliskan artikel tentang fiksi, non-fiksi, dan faksi.

    Sudah mulai kususun kok. Di kepala tapi. Hehe. Tinggal menggelontorkan saja dalam bentuk tulisan.

    Oh, Anna…

    Daniel Mahendra,
    Hahaha…masih ingat ya…
    Saya akhirnya nggak mikir, ini tag nya apa, yang penting menulis terus…banyak sekali hal yang bisa ditulis (maklum saya pendengar curhat an teman atau anak buah yang baik lho).

    Mengamati kejadian di sekeliling kita, dan menuliskannya…rasanya senang sekali, duluuuu….tak berani, karena tak pede. Sekarang, biarpun dengan gaya bahasa seadanya, saya tak bisa mengikuti gaya bahasa “Andrea Hirata” yang indah itu…atau gaya bahasamu (maklum biasa to the point), tapi mudah2an ada perkembangan yang makin membaik.

    Kata adkku, tulislah apa yang ingin kau tulis, nanti kan bisa dianggap sebagai “serpihan kenangan yang terserak”…hahaha…lha iya, kenangan selama kerja, bergaul dengan orang dsb nya.

  18. Ternyata fiksi ya,Bu. Kirain cerita siapa,hehe. Tp mmg bnyk “Anna” di kehidupan nyata saat ini. Dan moga bnyk juga pimpinan yg pengertian spt si “Bos”

    Dilla,
    Ya, memang banyak Anna di sekitar kita.
    Ehh isi URL nya dong, saya mau nengok jadi lupa lagi….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: