Anakku merokok?

Hidup dan dibesarkan dalam keluarga yang tak mengenal rokok, membuat hidung saya sensitif jika terkena rokok. Namun sejalan dengan kehidupan, terutama setelah bekerja, mau tak mau saya harus berusaha menyesuaikan diri. Lha bagaimana, bekerja di kantor yang sebagian besar karyawan nya laki-laki dan merokok pula, maka saya sering terpaksa rapat dan bekerjasama dengan menutup hidung agar masih bisa bertahan. Dan yang membuat tersiksa jika sedang dalam keadaan hamil, yang membuat hidung makin sensitif. Syukurlah peraturan perusahaan beberapa tahun terakhir, melarang karyawan merokok di sembarang tempat, dan hanya boleh merokok pada tempat yang telah disediakan.

Bagaimana merokok di lingkungan keluarga saya? Ayah dan adik saya tidak merokok, tapi ayah suami perokok berat. Bagaimana dengan suami? Tentu saja dia tak merokok, karena itu termasuk persyaratan utama dalam pemilihan suami. Jika sang kakek mengunjungi cucunya, saya sudah deg-deg an, karena beliau kalau merokok seperti kereta api. Saya sampai punya asbak khusus untuk beliau kalau datang ke Jakarta, dan segera saya cuci dan disimpan saat beliau pulang ke kampungnya. Saya tak menyediakan asbak di rumah, dan jika ada tamu atau teman suami yang mau merokok dan menanyakan asbak, saya akan menjawab: “Maaf di keluarga ini dilarang merokok, agar anak-anak saya tak ada keinginan ikutan merokok.” Suami mendukungku, apalagi setelah mengetahui, ibu teman suami terkena kanker paru, karena menjadi perokok pasif. Beliau tidak merokok, namun suami dan putra lelakinya perokok berat.

Pada saat anak lelaki saya usia ABG sampai remaja, minimal setiap pagi saya selalu mencium pipi anak saya. Cium pipi ini bentuk kasih sayang seorang ayah dan ibu, walaupun sering dikatakan tak umum mencium anak lelaki. Anak saya sempat keberatan saat kelas IV SD, namun akhirnya dicapai kesepakatan, bahwa ibu boleh mencium pipinya kalau di kamar, agar tak diketahui temannya. Sebetulnya bagi seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan tetap membutuhkan belaian atau cara pengungkapan kasih sayang orangtua secara langsung. Hal ini pernah tercetus dari komentar si sulung saat masih SD, kok ibu lebih sayang sama adik, karena adik lebih sering di peluk dari saya. Sejak itu saya sadar, si sulungpun butuh pelukan dari ibu, tapi malu jika diketahui teman-teman nya.

Karena setiap pagi mencium pipi kedua anakku, saya menjadi terbiasa dengan perbedaan bau kedua anakku. Dan suatu ketika, kok bau si sulung berbeda ya? Saya mulai kawatir, jangan-jangan dia mulai merokok, tapi saya tak berani bertanya kawatir dia malah menghindar dan menjauh dari saya. Perasaan saya tak nyaman, tapi saya menahan diri sampai ada waktu yang tepat untuk mengobrol santai. Saat ada pertemuan dengan kepala sekolah, beliau berpesan pada orangtua murid, agar berhati-hati dalam memantau putra putrinya karena sasaran narkoba telah menjangkau anak sekolah, dan jika ketahuan positif narkoba akan langsung dikeluarkan tanpa ampun. Dan menurut beliau, pintu masuk narkoba yang paling mudah adalah melalui rokok (hasil pengamatan beliau). Saya tak tahu persis kenapa seperti ini, tapi setelah dewasa si sulung juga mengakui bahwa merokok merupakan salah satu pintu untuk memudahkan kita bergaul dengan narkoba. Entah kebenarannya.

Suatu ketika dalam situasi santai, setelah lelah berjalan-jalan dan makan, saya bertanya kepada anak laki-laki ku, yang saat itu masih duduk di SMP.

Mas, pernah mencoba merokok? Nggak apa-apa kok kalau pernah mencoba, ibu tak marah, tapi sebaiknya tak diteruskan.”

Bu, sebetulnya saya pernah mencoba merokok, beberapa merek rokok, namun semuanya membuatku batuk“.

Terus apa kesimpulanmu nak,” tanya saya, sambil deg-deg an menunggu jawabannya.

Saya putuskan tak merokok bu, karena ternyata saya tak berbakat merokok.”

Terus kalau temanmu bertanya, apa jawabanmu?” saya mencoba mengorek apakah keinginan itu murni dari hatinya dan penuh kesadaran.

Ah, biarin aja kalau ada yang bilang saya nggak jantan, kalau ada yang berani bilang begitu, saya berani berdebat dan berkelahi dengannya.”

Wahh jangan nak, kenapa mesti berkelahi, biar aja mereka mengejekmu, yang penting tunjukkan prestasimu.”

Saya bersyukur ternyata anak saya, dengan kesadaran sendiri telah memutuskan untuk tidak merokok. Dan sejak itu saya mencoba makin akrab dengan anak-anak, meluangkan waktu bersama di akhir pekan, agar mereka berani cerita sama ibu, dan tak cerita pada orang lain yang belum tentu memberikan jalan keluar yang baik.

Dan sulitnya, anak sekarang bacaannya dari mana-mana, sehingga terkadang saya kewalahan bahkan tak bisa menjawab pertanyaannya, dan kalau sudah begini akhirnya saya harus jujur mengatakan bahwa ibu tidak tahu jawaban yang sebenarnya. Semakin besar anak, sebetulnya semakin menyenangkan, namun kita juga harus mengikuti kemajuan pola pikirnya, agar anak mau berdiskusi dengan orangtua. Terus terang saya “keteteran” mengikuti perkembangan kemampuan anak, terutama untuk hal-hal yang berbau teknologi. Syukurlah semakin dewasa anak, mereka juga memahami orangtua secara keseluruhan, bahwa tak semua pertanyaannya, orangtua mampu menjawabnya. Dengan keterus terangan ini, ternyata anak-anak malah mengajarkan pada orangtua, hal-hal baru yang dirasa orangtua nya perlu juga memahami, termasuk mengajarkan agar ikutan ngeblog.

75 pemikiran pada “Anakku merokok?

  1. Sebelum membaca semuanya: Kok bisa sehati tema kita Bu? πŸ˜€

    Yoga,
    Begitu selesai posting, saya mulai BW…dan ke rumah Yoga…kaget dan shock. Kok bisa ya?
    Padahal ini draft lama yang terlupakan, karena lagi males cari ide, diperbarui dan baru di posting….

  2. baru bisa berkunjung lagi nih… bu…

    wah ternyata keluarga anti-rokok yah…
    sama bu…, dan musuh utama kami…, bapak saya sendiri…, πŸ˜‰

    pas sekolah dulu, saya ga pernah nyobain untuk mencoba merokok, karena telah mendapat contoh terbaik untuk perilaku buruk merokok, yaitu bapak saya sendiri…

    kalo udah batuk-batuk…, beliau baru mau berhenti…, tapi begitu batuknya sembuh…, eh… merokok lagi… πŸ˜›

    -gbaiq-
    [senyum] πŸ™‚
    === === ===

    gbaiquni,
    Padahal kalau pake logika, merokok itu tak ada manfaatnya sama sekali, menghabiskan uang, dan dapatnya penyakit….tapi perokok selalu punya alasan, yang meninggal karena kanker paru masih sedikit. Dia tak pernah memikirkan bahwa berapa orang yang terkena dampak menjadi perokok pasif…

    Keluara suami yang merokok juga cuma ayahnya, adik-adiknya tak ada yang merokok.

  3. sy sendiri sadar untk tdk merokok karna melihat ayah yg tersiksa asma akibat kecanduan nikotin.

    Mantan Kyai,
    Bersyukurlah, karena kalau udah kecanduan rokok, sulit untuk berhenti, perlu perjuangan mengalahkan diri sendiri.

  4. Jadi sesama sopir bis kota, tak perlu saling berkomentar, begitu ya Bu. πŸ˜‰

    Soal pelukan dan ciuman memang tak umum di sebagian besar masyarakat kita, tapi dibeberapa daerah tak demikian.

    Nampaknya dewasa ini peluk dan cium antara ibu dan anak, ayah dan anak, antar teman, meski beda jenis kelamin, apalagi sepasang kekasih sudah umum. Sekarang tinggal dituntut kedewasaan masing-masing dalam menerima atau menolak perkembangan budaya pergaulan ini. Tentu saja, hal ini belum umum di kota-kota kecil.

    Yoga
    ,
    Saya suka memeluk dan mencium pipi anak-anak (juga ngeloni kalau sama-sama ada waktu), karena melihat contoh di keluarga tante dan om tempat kost saya dulu. Betapa senangnya melihat putrinya memeluk dan mencium ayahnya, jadi saya berpikir, nanti kalau berkeluarga ingin seperti om itu.
    Terus apa kata tante kost? Ternyata dulunya om tak seperti itu, tapi isterinya yang mendorong dan mengajaknya, sehingga om bisa mengekspresikan kasih sayang ke isteri dan anak-anaknya.

    Cerita ini pernah saya dapat juga dari sahabat semasa mahasiswa, dia bilang dulu omnya kaku (maklum ABRI), tapi isterinya yang mengajak secara halus, dan jika mandi berdua (ohh romantisnya), sambil bernyanyi…akhirnya si om yang suaranya sember itu, kalau ada acara-acara bisa berduet dengan isteri tercinta. Setelah sempat ketemu, saya melihat mereka berdua mesra sekali (saat itu usinya sekitar 50+)….tak terbayang bagaimana perjuangan isteri membawa suami menjadi seperti itu.

    Ayoo Yoga…semangat….yang penting karakter dasarnya, lainnya bisa di make over (istilah nya Lis).

  5. daddy

    saya salah satu orang yang mendapatkan hasil dari merokok…,
    HASILNYA …!!!
    Saya mendapatkan tambahan 2 “stend”/ring di jantung saya. Sejak Januari 2006 berhenti merokok sampe sekarang dst. Sampe sekarang saya dikenal orang yg suka berpromosi “SIAPA YG PENGEN JANTUNGNYA DI OBOK-OBOK…., BANYAK-BANYAKLAH MEROKOK…!!!”
    (dilanjutkan promosi bonus ketidaknyaman yang akan diperoleh)

    salam,
    daddy

    Daddy,
    Terimakasih sharing pengalamannya….

  6. Alhamdulillah saya tidak merokok, meskipun ayah dan beberapa adik saya perokok berat. Saya dan istri sangat sensitif soal rokok ini.

    Pernah ada teman perokok yg berkunjung ke kantor cuma ngobrol (dia tidak merokok), tapi begitu di rumah istri saya marah-marah gara-gara saya (badan dan baju) bau rokok …

    Oemar Bakrie,
    Orang yang tak bergaul dengan perokok memang sensitif hidungnya terhadap bau rokok. Dulu suami suka komentar, kok rambut saya bau rokok….ini karena seharian rapat bersama para perokok (maklum saya sering jadi cewek sendirian, di ruangan yang penuh asap rokok). Sulitnya, mereka itu bilang, kalau idenya hilang jika tak merokok.

    Kalau sekarang, karena aturan kantor ketat, di tengah rapat, mereka ijin ke ruang merokok dulu, agar bisa merokok dan mengumpulkan ide…ntar balik lagi…hehehe. Pernah juga saya seminar ke Australia bersama teman yang merokok, dia pusing setiap kali harus cari ruang yang diperbolehkan merokok….

  7. Kalau saya dibilang bukan perokok, memang. Tapi saya termasuk sering merokok. Cuman saya berprinsip tidak pernah merokok di depan Ibu, kakak-kakak perempuan saya, anak-anak perempuan saya, dan juga isteri saya..(takut diledek atau digamparin)*

    Kalau lagi “hang out” dengan bapak2 RT ya saya ditawari merokok kadang mau (kalau jenisnya mild, bukan yang berat macam 234). Kalau mendampingi team badminton saya bertanding dengan RT lain, karena terlalu tegang sayapun menyulut rokok A-mild saya tiada henti (saya pikir, daripada kena serangan jantung mending merokok !)..

    Di kantor, saya merokok kalau ketemu teman yang tepat. Di kampus, saya tidak pernah merokok (takut ada mahasiswi yang ngajak diskusi…hihihi…ntar bau).

    Merokok di LN terutama Singapore, saya sama sekali nggak pernah, salah-salah merokok di tempat salah atau buang puntung rokok salah bisa-bisa kena denda Sin $ 300, kan mendingan buat beli kamera Olympus uang segitu sih…

    Merokok di asrama saya di Amrik-pun tidak mudah. Di musim dingin kalau kita merokok di dalam kamar maka bau asapnya nggak mau hilang, supaya bau asapnya hilang maka jendela harus kita buka. Nah, kalau jendela dibuka maka suhu udara luar yang -5 derajat C pasti masuk ke kamar kita dan pastinya duingiiiiin banget. Selain itu, cewek-cewek Amrik nggak pernah show respect terhadap cowok yang merokok (“What the smell is this ? Uh…that guy’s smoking ! No wonder I got to cough !” kata seorang cewek cakep yang lewat di depan saya ke temannya)…

    Merokok dan narkoba ? Menurut saya itu hanya dihubung-hubungkan. Saya merokok tapi tidak pernah kena drug. Drug is about with whom you befriended with, and about how strong you could control yourself. You fail, and you are the dead meat !!!

    *) Waktu kelas 5 SD saya pernah ketangkep Ibu mengisap sebatang rokok merk Kerbau di pinggir jalan di depan rumah. Rupanya Ibu dari tadi mengawasi saya. Ibupun langsung bergegas menuju saya, mencabut rokok dari mulut saya dan membuangnya ke tanah dan menginjak-nginjak rokok menyala tsb dengan sandal sambil berteriak “Nih..gara-gara kamu bergaul dengan cewek nggak bener itu !”. Soalnya beberapa hari sebelumnya there was a notoriuous girl passed our house and had a little talk with me..and by accident mom happened to watch it thru the glass window..

    Tridjoko,
    Anak sulungku pernah berkata, ibu kan nggak tahu kenakalan om Yong sebelum dia menulis di blog.
    Benar, karena adik bungsuku ini dikenal pendiam, dibanding kedua kakak perempuannya yang cerewet, bahkan saat masih remaja dulu, tetangga sering pesan pada almarhum ibu.”Bu, ati-ati mas Yon jangan bergaul dengan anak-anak itu, nanti ketularan,” kata ibu tetangga tadi. Artinya, di mata tetangga dan ibu sendiri, adik bungsuku ini anak baik.

    Tapi saya memahami, kemungkinan setiap anak lelaki akan pernah mencoba merokok, hanya bisa kecanduan (yang mengakibatkan merokok terus menerus), atau merokok di saat tertentu aja, atau bahkan tak merokok lagi. Anakku, setiap merokok menjadi batuk ( saya bersyukur, ya Allah)….dan tingkat kebatukan tertinggi saat mencoba Marlboro.

    Berani taruhan, tak pernah mencoba merokok di depan isteri dan anak-anakmu kan? Tapi kalau baca komentarmu ini, isteri dan anak-anakmu jadi tahu….rahasia kecil ayah dan suaminya.

  8. Whoa… ralat! ralat!

    Aku gak pernah bilang rokok membuatku batuk. Itu bukan alasanku tidak melanjutkan mencoba rokok.

    Alasannya cuma karena aku gak bisa merasakan nikmatnya. Menggigit ranting pohon jauh lebih nyaman daripada menghisap rokok.

    Kalau kata kawan-kawanku dahulu waktu aku mencoba rokok, aku menghisapnya terlalu cepat. Aku tak perduli. Aku suka makan dan cara makanku cepat dan aku tetap menikmati. Tetapi aku tidak bisa menemukan di mana nikmatnya rokok walau sudah berkali-kali mencoba ( sampai 16 batang dari berbagai macam merek dari filter sampai kretek dan ada pula yang lintingan sendiri ).

    Paman Tridjoko
    Kalau yang soal rokok dan narkotik,
    itu pengamatan. Kawan-kawan yang masih belia yang merokok, biasanya lebih gampang didekati untuk narkotik. Memang hanya sebagian sangat kecil dari perokok yang akhirnya jadi pecandu narkotik tetapi rokok itu jadi kayak pintu pertama.

    Saya sendiri mungkin termasuk toleran dengan perokok. Dahulu waktu SMP dan SMU, tiap hari di bis ketemu perokok. Hanya satu tempat yang aku tidak akan menolerir bila bertemu perokok, WC.

    Kunderemp,
    Waa…kamu suka lupa kalau komentar, padahal itu komentarmu pas masih di SMP, dari 6 merek rokok yang dicoba membuatmu batuk, dan tingkat kebatukan tertinggi pada Marlboro.
    Apapun, syukurlah, membuatmu tidak nyaman dengan rokok…sayang uang di buang-buang.

    Padahal kata perokok, paling nikmat itu merokok pas di WC dan setelah makan….huhh apa nikmatnya, asapnya bikin pusing.

  9. Oh yah.. yang Marlboro memang membuatku batuk, begitu juga yang lintingan sendiri. Tetapi tipe seperti Star Mild atau A Mild tidak membuat batuk.

    Tetap aja aku tidak bisa menikmati. Rasanya aneh. Kayak mengigit kertas. Pikiran juga tetap saja tidak bisa tenang dan nyaman (padahal katanya yang dicari para perokok adalah efek samping nikotin yang itu).

    Kunderemp,
    Apapun, ibu bersyukur kamu nggak menikmati rokok, kan lebih baik uangnya buat beli makanan biarpun kamu tambah ndut. Atau buat beli buku….

  10. rokok gak nyandu kok, asal tau caranya. saya sering seminggu gak ngrokok..tapi pas ke disko bisa setengah bungkus abis. Tapi biar udah tua gini saya masih takut ngrokok di depan bapak ama ibu…

    Boyin,
    Mungkin ada yang bisa mengelola, tapi buat saya, lebih baik menghindari…kalau memang bisa hidup tanpa rokok (yang jelas ga ada manfaatnya itu), kenapa mesti coba-coba?

  11. Almarhum ayah saya adalah perokok berat, sampai kemejanya pun ada lubang bekas jatuhan api dari rokok yang dihisapnya. Akibatnya waktu kecil saya sempat mengalami asma dan bisa sembuh karena saya dulu rajin berenang. Saya juga tidak suka asap rokok karena mudah terserang migraine.

    Elyani,
    Saya juga suka migren… kalau terkena asap rokok langsung pusing dan mata pedes.

  12. Bapak saya juga gak merokok bu… susahnya kedua adik laki-laki saya merokok tapi mereka tidak berani merokok di rumah karena gak enak atau malah takut dengan bapak πŸ˜€

    Itikkecil,
    Memang kita tak bisa memaksa agar setiap orang jangan merokok, minimalnya yang merokok menghormati orang yang tidak merokok, dan jangan merokok di depan orang yang sensitif terhadap rokok.

  13. Dulu di SMA pernah, sejak kuliah justru berhenti total. Seperti menabrak tembok, tidak ada keinginan untuk mau meneruskannya ke depan.

    Barry,
    Memang rata-rata saat remaja atau ABG suka coba-coba….
    Saya punya bos yang sulit sekali menghentikan merokok, dan baru berhenti saat di vonis sakit jantung yang harus menghentikan merokok…dan kenyataannya bisa.

  14. Rokok = Jantan ???
    Itu anggapan salah banget … !!!

    Nggak NgeRokok = Gak Gaul … !!!
    Itu juga salah besar … !!!

    Kita bisa jantan dan gaul kok walau tanpa rokok …
    Dan yang merokok itu … tidak semuanya bisa kelihatan Jantan dan tidak semuanya bisa Gaul …

    (… walaupun ada juga sih perokok yang Jantan dan Gaul …)

    NH18,
    Kalau lihat di film-film sih, memang kayaknya orang merokok tuh gaya dan gaul.
    Tapi kalau udah didepannya, dan tercium asapnya, bikin pusing, mual, dan mulai deh migrennya.

    Salam saya …

  15. wah saya juga merokok jaman ABG, bu. bukan perkara jantan sih, tapi emang bakat aja kali… 😦

    Sitijenang,
    Kalau dihitung, berapa biaya untuk beli rokok per bulannya?

  16. pernah bu distasiun tv ada acara ttg hari bebas rokok, ada pemulung yang hidup pas-pasan makan seadanya, sekolah buat anak juga semampunya, tetapi untuk rokok dia sebulan bisa 300 ribu n itu mengalahi uang susu anaknya yang masih bayi sekitar 150 ribu..iiih, saya sempet kesel liat tuh bapak2.

    Cutemom16,
    Itu termasuk udah kecanduan, mendingan nggak makan daripada nggak merokok….

  17. saya tahu ini posting tentang merokok.
    dan saya tidak akan comment karena saya merokok πŸ™‚
    tapi 1 hal : diposting ini saya melihat sebuah komunikasi antar 2 generasi, antara ibu dan anak.
    whadda nice family

    *ps : kenapa setiap saya baca posting ibu saya kangen ibu saya yah? hihihi

    Edo,
    hehehe….kau tahu aja…soalnya Edo merokoknya kayak kereta api…
    Komunikasi antara orangtua dan anak harus dibina.
    Liburan kemarin, karena si bungsu sakit, saya puas ngobrol segala macam, dan bisa ketawa cekikikan berdua. Si sulung kan udah jauh dari rumah, ngobrolnya via YM, sms atau blog seperti ini.

  18. Saya di rumah yang ngerokok cuma Papa. itupun kalo ngerokoknya sembarangan langsung dimarahin seisi rumah. Apalagi saya punya alergi sama asap dan debu. wweeww,, 5 meter aja kalo angin bertiup udah kecium….

    Zulfikar,
    Kebetulan saya juga alergi asap dan debu, jadi memang berat kalau dekat dengan orang yang merokok. Mereka idenya mengalir, lha saya idenya buntu, karena langsung pusing dan migrennya kumat jika udah lama membaui asap rokok.

  19. joicehelena

    hmm…… salut dech buat perhatian ibu sama anak2 iBu…. jadi makin kangen sama mamaQu yang selalu memberikan ciuman dan pelukan sayang buat anak-anaknya….

    dan mudah2an suami kelak bukan perokok….!!!!
    amin.

    πŸ™‚

    Joicehelena,
    Sekarang makin banyak kok cowok yang tak merokok. teman-teman si bungsu nyaris tak ada yang merokok (atau kalau merokok bukan jadi teman dekatnya?), demikian juga teman anakku yang sulung, saya perhatikan nyaris tak ada yang merokok…atau yang merokok tak berani main kerumahku ya?

  20. Ibu memang hebat dalam hal mendidik anak-anak. Salut banget. Membicarakan pada saat, dan cara yang santai dan tak menghakimi membuat si sulung langsung berani mengakui, bahkan bisa diajak berdiskusi secara dewasa tentang bahaya rokok.

    Suhadinet,
    Jika punya anak usia ABG dan Remaja memang harus hati-hati dalam bersikap, kita tak bisa langsung menyalahkan, tapi mencoba memahami. Semakin dewasa anak, orangtua hanya ngemong, untuk menasehati harus dicari waktu yang pas, dan dari pengalaman, ternyata lebih mudah kita berdialog dengan Allah set, sholat 2 rakaat , mohon petunjuk Nya…entah kenapa nantinya lebih mudah jika mengobrol dengan anak-anak.

    Yang penting, anak harus bisa merasakan bahwa ortu sayang sama dia, dan diskusi ini untuk mencari solusi, dia sendiri diminta pendapatnya, sehingga apapun keputusannya, si anak akan dengan rela mengikuti karena dia juga setuju melaksanakannya. Dan anak saya, kalau tak sesuai akan protes keras, disini ortu juga harus bisa adu argumen yang didukung oleh fakta-fakta, dan jika pendapat anak benar, ortu juga harus mau mengalah.

  21. Akh.. berarti aku dulunya buadel banget yaa Bunda… Eksperimen rokokku dimulai kelas 2 SD coba..!! Tapi untungnya aku berhasil berhenti, walaupun gak total, setidaknya aku gak menjadi perokok dependen. Bahkan teman2ku saat ini banyak yang gak tau sejarahku itu karena aku jarang sekali merokok karena pertemanan apalagi didepan anak2 (siapa aja).. Karena itu sama sekali bukan contoh yang baik.. πŸ™‚

    Nug,
    Anak-anak memang suka mencoba, dan anak laki-laki bandel itu biasa. Tapi yang penting adalah bukan bandel yang merusak, ini yang saya tekankan pada anak-anak.

    Masalahnya, dari pengamatan guru dan kepala sekolah, anak yang merokok lebih mudah kena pengaruh narkoba, awalnya dengan ditawari rokok yang didalamnya telah ada isinya. Jadi, dulu saya rajin mencium anak-anakku, selain untuk menunjukkan kasih sayang, juga untuk mengetahui jika ada yang tak beres.

  22. erikachumon

    haha, dulu saya dikasih uang jajan aja pas cuma buat beli makan siang gimana bisa nyoba rokok ya :p… tapi bingung juga pajak cukai dari rokok negara kita besar sekali ya.. coba dana yang dipakai rokok itu bisa dialihkan ke hal yang berguna, 1 batang rokok harganya hampir sama dengan 1 butir telur.. ada warga miskin yang anaknya kekurangan gizi tapi bapaknya merokok, agak aneh liatnya

    Eric,
    Kalau Eric sampai mengaku pernah mencoba merokok, malah saya yang heran. Kan Eric dikenal se elektro 02-03 anak yang lurus, baik hati dan penolong? …ini kata si bungsu dan juga temenmu yang lain lho (kalau lagi chat via YM)

  23. Bunda…

    Di keluargaku, alias Papi-Mami dan kakak2 semuanya nggak merokok… Kata Papi, dulu jaman kuliah pernah, tapi setelah itu sudah nggak merokok lagi…

    Kalau aku sih bandel, Bunda… Dulu pas lagi jaman kuliah, pernah coba-coba merokok… Buat gegayaan aja… paling satu batang bisa abis satu minggu.. hehehe… seminggu sekali maksudnya.. πŸ™‚

    Cuman ya itu, nggak ada rasanya apa-apa… Nggak dapet nikmatnya apa-apa… Makanya sampai sekarang jadi mikir: apa nikmatnya sih sampai banyak yang mencandu begitu? (kalo kopi sih emang enak kan, Bun.. hihihi.. membela diri….)

    Mudah-mudahan kelak suamiku bukan perokok, Bunda… Kalaupun dia perokok, ntar aku larang dia merokok di depanku sama anak-anak…

    *cuman ironisnya, nih, hampir semua mantan2ku itu perokok semua! hladalah…*

    Lala,
    Sebetulnya yang jadi masalah adalah nggak tahan asapnya…..mungkin kalau tak berakibat mata perih, pusing dan menimbulkan migren sih nggak apa-apa. Dan saya tak pembenci orang merokok, cuma memang saya menghindari dekat-dekat…karena alasan di atas.

    Saya pernah punya cowok perokok, dan selalu berantemnya masalah ini…dia nggak bisa nggak ngrokok, lha saya nggak tahan asap rokok. Lha mosok mau berantem terusan, ya akhirnya nggak berkelanjutan

  24. Sama tuh bu, saat SMP saya sudah mulai merokok. Sebenarnya ketahuan juga sih. Tapi tidak ditanyain.
    Tapi saya sejak ketahuan dan dulu tiap sore olahraga, tapi rokok juga, menurut saya ada yang kurang aja. Masa capek2 lari sampai 5 Km dan itu dilakukan tiap sore, eh masih merokok dan bakang duit.
    Dan sejak itu saya menghindari dan menjauhkan diri sebelum ketagihan untuk merokok lagi.

    Musa,
    Orangtua dalam menghadapi anak merokok memang harus berhati-hati….karena bisa-bisa malah jadi ribut dan anak memberontak, kalau dimarahi.
    Saya bersyukur karena anakku tak menikmati rokok, lha kalau ditegur terus dia jawab bagaimana, lha kakeknya aja merokok kayak sepur…
    Mungkin ortumu seperti saya, mendoakan anaknya dari belakang, agar anaknya baik-baik saja.

  25. si kakak dengan kesadaran sendiri tidak ingin merokok, katanya rokok membawa penyakit. Alhamdulillah. cium mencium, saya termasuk yang terbiasa mengekspresikan rasa sayang dengan mencium anak2 dan suami, begitu juga dengan suami. salam untuk keluarga ibu

    Ami
    ,
    Saya melihat teman-temanku yang kecanduan rokok, sulit sekali melepaskan diri lagi. Mereka bukan berandal, tapi juga anak pintar, dan tahu risikonya. Dan saya bersyukur anak sulungku tak menikmati rasa rokok, malah ter batuk-batuk……

    Betul Ami, ortu harus bisa mengekspresikan kasih sayangnya, agar anak-anak juga tahu bahwa ortu menyayangi mereka, namun juga tak boleh berlebihan.

  26. aryf

    iya, saya juga berusaha utk menguranginya kok.

    kalo ttg rokok, spt nya perempuan sedunia bakalan berpendapat sama kyk ibu dan istri saya. padahal anak saya juga pernah terkagum2 melihat bulatan2 asap rokok yg membumbung tinggi hi3..smoga si kecil tdk ikut2an ayahnya.

    Tapi benar juga bahwa tdk semua org tahan asap rokok. Begitu juga bhw tdk semua org tahan asap kendaraan. Kedua-duanya sama-sama polusi dan baunya sama-sama menyengat.

    Aryf,
    Ehh saya bukan membenci orang merokok lho, yang nggak tahan bau asapnya. Kalau melihat orang merokok dengan santun sih nyaman-nyaman aja, asal tak duduk di dekatku, apalagi asapnya kena ke muka.

    Bau knalpot? Wahh itu juga payah…kalau naik angkot atau bajaj mesti tutup hidung terus

  27. Wah saya kls 1 SMP dah coba2 merokok dan skarang jadi perokok berat. Karena kebiasaan, rokok akhirnya menjadi sarana utama merangsang pikiran saya. Permasalahannya kalau pas lagi metting atau di persidangan saya sering kewalahan karena ruang bebas rokok. Memang ada kekhawatiran dgn kebiasaan buruk saya merokok, tp saya slalu gagal utk berhenti sekalipun tlh saya coba berkali2.

    Jiwakelana,
    Di Indonesia orang merokok masih bebas, keluhan temen-temen perokok adalah kalau ditugaskan seminar ke luar negeri. Saya sempat barengan teman cowok untuk seminar ke luar negeri, dia perokok berat, dan seminarnya diadakan di ruangan. Dan tak ada “smoking area“. Terpaksa setiap kali break, dia lari ke luar gedung, dan merokok, itupun harus hati-hati agar puntungnya berceceran….saya kasihan melihatnya, karena dia benar2 tak bisa hidup tanpa rokok.

    Tapi dengan aturan pemerintah sekarang, maka seperti tempat persidangan dsb nya bebas rokok, jadi mesti menahan diri…dan kalau sidangnya lama, terbayang perokok pasti hilang minat atau mengantuk.

    Yang perlu dicoba adalah mengurangi secara bertahap, untuk menghindari agar tetap bisa konsentrasi jika diperlukan.

  28. sungguh mengharukan dialog bu enny dg putra ibu. ibu tak melarang dg cara yang keras, tapi dg pertanyaan pancingan malah bisa membuat sang putra sadar tanpa harus dipaksa-paksa. duh, jadi malu saya, bu, hiks. selama ini saya belum juga bisa berhenti merokok, jadi khawatir juga jangan2 2 anak lelaki saya kelak juga ikut2an merokok seperti bapaknya. duh! makasih pencerahannya, bu.

    Sawali Tuhusetya,
    Mungkin saya menurun ibu saya (alm), yang suka kawatir terhadap pergaulan putra putrinya, dan kekawatiran makin kuat terhadap anak laki-laki karena jangkauannya luas. Adik bungsu saya terlihat di depan ibu dan kakanya baik-baik saja…percaya nggak, setelah saya baca blognya, adik saya ini ternyata dulu diam-diam badung juga.

    Selain soal kanker dsb nya, bagi saya merokok adalah membuang uang…tapi sulitnya merokok ini seperti candu. Dan bagi saya sih, sepanjang tak menganggu nggak apa-apa, karena saya yang tak tahan adalah asap rokoknya, karena terus menyebabkan mata perih, ber kunang2, pusing…dan terus migren.

  29. Syukur dah putranya gak ngerokok..

    karena memang lebih baik gak ngerokok..
    saya sudah jadi perokok lumayan berat, 24 jam 16 batang..
    mau mencoba berhenti belum berhasil.. semakin mencoba semakin gila ngrokoknya… πŸ˜€

    beberapa bulan yang lalu malu sama sikecil (bocah yang ke2 ), dia berhasil berhenti ASI.. jadi Bapaknya kalah..

    ** pusing harus beli terus :mrgreen:

    Trijokobs,
    Saya menjaga anak saya juga karena yang dikawatirkan bikin kanker (kantong kering)…..syukurlah dia memang nggak cocok (batuk2 terus), dan akhirnya dengan kerelaan sendiri memutuskan tidak merokok.

  30. Bunda,

    saya mencoba merokok sejak smp. pas sma jadi mulai enak. apalagi pas mulai nyambi kerja. pergaulan sama bos yang rokoknya enak, jadi tambah bikin enak merokok.

    baru setelah menikah dan kenal sebuah komunitas tanpa rokok, saya berhenti merokok. total berhenti. sampai sekarang. padahal saya termasuk perokok yang sudah menikmati rokok lho bu.

    jadi buat yang masih sulit berhenti merokok karena nikmat. saya tahu betul nikmat merokok, tapi saya bisa berhenti.

    dan soal tempat kerja, sejak 2004 saya kerja di tempat yang sangat tidak ada rokok.

    soal komunikasi sama anak2, inspiring banget bunda ini. saya belajar banyak deh…

    Tren di Bandung,
    Wahh mesti bersyukur bisa berhenti dari rokok, karena banyak orang sulit menghentikan ini.
    Komunikasi dengan anak-anak, harus dimulai sejak kecil, agar nantinya tumbuh bersama…dan senang sekali setelah mereka besar. Si sulung justru menjadi penjaga ibunya, menggandeng tangan jika menyeberang jalan. Dengan si bungsu (cewek) bisa ngrumpi bareng, cekikikan, mengobrol apa aja, tapi tetap menghargai privacy masing-masing.

  31. Ada dialog balasan-balasan antara sulung dan ibunya. Lucu, geli, tapi juga mengasyikan. Baru kali ini aku melihat yang seperti ini.

    * * *

    Aku perokok, Bu. Ibu tau sendiri. Aku sangat perokok. Almarhum bapak malah anti terhadap rokok. Jangankan ada orang merokok, melihat asbak saja dia jijik. Tapi anaknya perokok aktif tiada tara.

    Tapi tidak sekalipun merokok di depan mamaku. Tapi beliau sangat-sangat tau kalau aku perokok. Tapi aku tak pernah merokok di depannya.

    Aku perokok, tapi amat-amat tak suka pada perokok jorok. Perokok yang tak sadar lingkungan. Perokok yang serampangan dan tak mengindahkan etika sekitar. Sangat benci. Perokok seperti itu adalah perokok egois. Bukan perokok sejati.

    Adakah keinginanku untuk berhenti merokok? Sangat ada. Ada sekali. Dan aku memang pasti berhenti merokok.

    Lho, lha kapan? Syaratnya belum terpenuhi.

    Waktu kita ketemu beberapa saat lalu, sebetulnya aku sangat-sangat bisa menahan untuk tidak merokok. Dan niatku memang tidak akan meroko. Hanya saja herannya Ibu malah menyuruhku merokok. Padahal aku sangat bisa merokok. Karena aku tak suka merokok di depan perempuan yang tak merokok, terlebih kalau ada anak kecil.

    Begitulah penuturan perokok sejati ini. He-he-he.

    Daniel Mahendra
    ,
    Diskusinya bukan hanya dengan si sulung, tapi juga dengan omnya (adik bungsuku, satu2nya lelaki di keluarga ayah ibuku). Si bungsu masih capek habis DjalanDjalanke Djawa kemarin, jadi belum ikut meramaikan diskusi, tapi syarat dia cari pacar juga “tidak merokok” lho.

    Saya bukan pembenci perokok, harap dicatat, tapi saya tak tahan asap rokok apalagi yang mengenai langsung ke wajah. Dan jika meeting seharian dengan para perokok (dulu, sebelum ada larangan), di ruang rapat ber AC, dan saya tak bisa apa2 karena satu2nya cewek dan mereka lebih senior, jalan satu2nya ya mendengarkan meeting sambil menutup hidung. Karena kalau tidak, saya tak tahan mengikuti meeting, karena sudah pusing duluan, mata pedas dan migrennya kumat. Untungnya mereka sangat tergantung pada saya, dalam hal membuat notulen, pencatatan proposal dll, jadi saya juga dijaga sama mereka, tapi tetap mereka tak bisa mengendalikan, dan terus berasap.

    Saya dulu punya klien pabrik rokok yang termasuk “The Big Five“…bisa terbayang kan jika harus melakukan on the spot. Asbak mereka dan simbol2 di kantor bunyinya “Thanks for smoking“…..hehehe. Kenyataannya saya bisa bertahan dengan jalan tutup hidung tadi, tentu saja sebelumnya saling meminta maaf…menggelikan memang.

    Saat kita rencana ketemu di PIM berempat, saya bingung mau pilih “reserved” bagian mana, karena Imel bawa putra kecilnya yang lucu, Yoga dan aku tak tahan rokok…tapi semua tahu kalau DM merokoknya kayak kereta api, dan jika dipaksakan nanti jadi bisu (nggak bisa omong karena mulut udah gatal pengin merokok). Jadi akhirnya ambil di “smoking area“…dan DM dipersilahkan merokok, tapi menjauh dulu.

    Saya menyadari hal ini kok Niel, di tengah rapat, anak buahku sering minta ijin “Bu, cari ide dulu“…dan mereka keluar pindah ke smoking area. Ntar balik lagi…dan kami-kami, yang tak merokok melanjutkan rapat…..lucu juga ya.

    Kapan DM nggak merokok? Tentu itu adalah hak DM sendiri untuk menentukan kapan waktunya yang tepat…jika cewek pilihanmu seperti yang saya perkirakan, kelihatannya kau mesti buat negosiasi demi kelancaran hubungan…hehehe…karena si Dia itu juga ga suka bau rokok lho…baca komennya (kalau nggak salah di postingan Yoga)

  32. kalau sudah nyinggung rokok agak susah komennya nih bu. tapi begini, berdasarkan subjektivitas pribadi, maka rokok itu jelas bisa sangat membuat ketagihan. Sekali mencoba dan merasakan enak, maka selanjutnya segala petuah hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Sebagian bisa berhenti atas kesadarannya sendiri, sebagian berhenti setelah terkena batunya, tapi saya belum bertemu yang bisa berhenti setelah di “caci maki”. Ibaratnya “semakin di caci semakin menjadi”. Bersukur putra ibu tidak sempat merasakan enaknya merokok. Saya sendiri berharap bisa segera berhenti atas kesadaran sendiri bukan menunggu kena batunya (sudah 3 kali mencoba masih gagal, doakan saja ya bu )

    Mascayo
    ,
    Justru dulu saya kawatirnya kalau kecanduan, karena kalau udah mencandu, sulit sekali untuk mengurangi, apalagi berhenti.

    Di satu sisi, saya pernah menganalisis suatu pabrik rokok dan meneliti perkembangannya, di negara lain (Amerika) produksi rokok menurun, makanya mereka mengalihkan industrinya ke Indonesia (dengan membeli pabrik rokok yang sudah ada, mis. PMI).

    Dan beberapa kejadian seminar ke luar negeri dengan teman yang perokok, saya nggak tega melihatnya, dia menjadi kurang menikmati, hanya menunggu break makan siang, segera lari ke luar gedung hanya untuk merokok….dan merokoknya di dekat tempat sampah agar puntungnya tak kececeran (takut di denda). Padahal dia sudah masuk jajaran GM, dan di kantor mendapat ruangan tersendiri….

  33. alhamdulillah, aku tdk merokok. dulu saat smp coba-coba merokok, tapi kok nggak enak. jadinya ya gak membiasakan diri.

    sekarang bila ada yg merokok di dekatku, aku mending kabuuur…

    Zulmasri,
    Bersyukur dong mas, nggak sampai kecanduan….
    Dan memang bagi orang nggak merokok, nggak suka bau asapnya.

  34. mendidik Anak dengan kasih sayang.. salut buat ibu..

    rokok adalah hal yg saya benci, merugikan diri sendiri dan orang lain.

    Ongki,
    Memang sebagai orangtua sebaiknya dekat dengan anak-anak, jika sibuk yang penting adalah kualitasnya. Anak-anak begitu menyenangkan, saat kecil mereka lucu, setelah besar mereka bisa menjadi sahabat, dan makin besar lagi ilmunya lebih banyak dibanding orangtua, sehingga ganti mengajari orangtua.

    Rokok memang nggak ada manfaatnya, tapi di Indonesia masih banyak orang yang kehidupannya tergantung dari usaha ini (petani tembakau, distributor, pegawai pabrik rokok, pemerintah dari segi penerimaan cukai tembakau).

  35. @Bu Edratna :
    Wah..kesan tetangga saya anak baik ya ? Begitu pula kesan teman2 saya yang cewek waktu SMA ketika saya dikeluarkan seorang guru karena main musik dengan memukul bangku, “Jangan pak. Jangan dia. Dia anak baik pak…anak baik pak..”, begitu temenku cewek sekelas pada menjerit-jerit. Komentar saya, “Serigala berbulu domba !”..hehehe…

    @Mas Kunderemp :
    Ingat saya nih S1-nya Statistik lho….;-) Hipotesis “Kalau anda ngerokok, then it’s likely that you do drug” itu menurut saya kalau ditest secara Statistik adalah Tolak Ho, artinya tidak terbukti..

    “Merokok adalah pintu pertama untuk drug” itu juga B.S. banget deh. Itu adalah jargon yang dipakai government official, law enforcement official, guru, dsb.

    Dari SD di Madiun dulu (1968-1969) sudah heboh banget ada penataran ini penataran itu bahwa “ganja sudah membahayakan”. Ibu sebagai guru ditatar puluhan kali tentang “bahayanya ganja”. En toh, di tahun itu (1968-1969) pemakai ganja di Madiun hanya segelintir saja, kebanyakan anak orang-orang kaya…(kita yang miskin boro-boro beli ganja, beli jajan aja susah…)…

    Pointnya adalah, keharmonisan rumah tangga adalah kuncinya. Begitu juga kegemaran membaca. Bila rumah tangga harmonis dan tingkat pendidikan baik (ortu nyupport anak untuk pergi ke sekolah) dan anak senang membaca, itu kunci supaya jauh dari narkoba..

    Kalau anak suka membaca sejak kecil, ia sudah punya logika mengapa hal ini harus dilakukan, hal itu bisa dilakukan, dan hal sana itu jangan dilakukan (saya sengaja tidak membahas pengaruh agama di sini, mengingat banyak anak Pak Ustadz juga kena)..

    Suka membaca juga membuat “kontrol” yang ada di “dashboard” setiap anak bilang “this is wrong”, “enough is enough” atau malahan “please stop it !”..

    Juga bisa terbukti, banyak bapak2 pembaca blog posting ini yang merokok tapi tidak terkena narkoba..

    Merokok di WC ? Kalau di kampus-kampus Singapore, WC adalah the only place dimana smoking dibolehkan. Kita mau kencing aja, banyak mahasiswa pada nongkrong di atas tempat peturasan (ya..nongkrong !) mana bisa kita kencing kalau gitu ? Di dalam WC juga banyak nongkrong anak boker sambil merokok…Jadi, untung Mas Kunderemp tidak ada di kampus Singapore..hehehe..

    (The biggest problem is, jika rokok dilarang di Indonesia mungkin akan ada 1-2 juta rumah tangga yang kehilangan mata pencaharian dan tidak bisa makan…)…

    Tridjoko,
    Saya paham mengapa di Indonesia masih banyak rokok, dan pabrik rokok di Indonesia jumlahnya ratusan, dari industri besar sampai industri rumahan. Ingat kan, penelitian ku tentang industri rokok dan salah satu klien ku juga pabrik rokok?

    Saya pernah mengupas masalah industri rokok di sini:
    https://edratna.wordpress.com/2007/06/21/
    buah-simalakama-keberadaan-industri-rokok/

    https://edratna.wordpress.com/2007/11/11/
    mengapa-kaum-remaja-menjadi-target-industri-rokok/

    Sulit memang, dan malah karena di Amerika pencinta rokok menurun, maka Philip Morris mengalihkan industrinya ke Indonesia, dengan jalan membeli saham salah satu pabrik rokok yang termasuk “The Big Five“. Dan awalnya PMI kerjasama dengan pabrik rokok (yang saya teliti), mengeluarkan merk Marlboro.

    Sebagai orang dengan latar belakang pertanian, saya senang mendapat kesempatan melihat pabrik rokok, diskusi dengan petani tembakau, bagaimana cara mengelola daun tembakau pasca panen agar tidak rusak, bagaimana cara membuat sausnya (yang bumbunya dirahasiakan)…sayang karena saya tak merokok, tak bisa mencoba berbagai saus tsb…temenku bibirnya sampai jontor mencoba berbagai rasa saus untuk berbagai merek rokok.

    Ada hubungan kah antara narkoba dan perokok? Bisa dikatakan, bagi perokok lebih mudah didekati, dengan pura2 mengobrol dan menawarkan rokok. Teman sebangku si sulung, yang putra tunggal dari ayah ibu dokter, terkena narkoba ini, padahal anaknya baik…..dan ada beberapa teman lain, dan mereka langsung dikeluarkan dari sekolah. Betapa sedih perasaan orangtuanya.

    Bisa dibayangkan, nyaris setiap bulan saya apel ke SMA, hanya ingin tahu perkembangan anak, juga diskusi dengan guru (mereka mau terbuka menjelaskan bagaimana gejala anak yang kena narkoba, apa yang harus diawasi dan diperhatikan…..karena memang narkoba ini lebih banyak yang terkena cowok). Juga diskusi dengan Dr. Al Bahri yang pernah sebagai Direktur RS Ketergantungan obat, hanya agar saya mengenali gejalanya, dan apa yang harus saya lakukan dalam mendampingi anak-anak, tanpa anak-anak merasa diawasi terus menerus.

    Sebetulnya tak selalu jika merokok mesti kena narkoba, tapi bagi seorang ibu, akan berusaha menjauhkan segala hal yang ada peluang setipis apapun untuk berdekatan dengan narkoba, termasuk suka mencium, mengendus-endus bau putra putrinya….berlebihan memang, tapi lebih baik dilakukan daripada kecolongan….dan ini pesan bapak ibu guru.

    Dan tentu saja, diimbangi doa, sholat malam, berserah diri dan mohon bantuan dari Allah swt agar anak-anak dilindungi dari pengaruh buruk.

  36. sy merokok tp tergantung mood bu. kadang2 kl dikantor nda merokok sama sekali, tp kl pas nongkrong itu semakin kuat hasrat merokoknya. entah kenapa. meski bisa dikontrol sy tetep berusaha untuk berhenti.meski sulit :mrgreen:

    Harri,
    Yang penting menjaga tidak mencandu, walaupun kalau tak bisa berhenti artinya mencandu kan?

  37. Wah senangnya..

    Kalo di keluarga saya itu yang merokok adalah Bapak saya, malah beliau ini adalah perokok berat..

    Di keluarga saya tidak pernah ada larangan untuk tidak merokok selama uang yang dipakai itu adalah hasil jerih payahnya sendiri, jadi pas dulu kami(saya dan kakak-kakak saya) masih sekolah tidak pernah merokok, namun setelah ada kakak saya yang sudah bisa kerja sambilan sendiri ya dia merokok dan keluarga tahu..

    Alhamdulillahnya sampai saya bisa bekerja sendiri dan mendapatkan gaji saya tidak pernah merasakan keinginan untuk merokok, lha wong megang ajah jijik..

    Jadi insyaallah keluarga saya nanti(setelah berumah tangga) saya usahakan anak-anak saya tidak ada yang merokok tentu dengan memberi pengertian sesuai dengan zamannya(saya bukan orang yang suka mengharuskan keinginan saya, namun harus dengan cara diplomasi yang cerdas dan bijak)..

    Semangatz..(^_^)

    Bocahbancar,
    Cara paling efektif adalah memberikan contoh, dan dengan anak komunikasi harus dua arah, sehingga anak merasa dihargai, apalagi jika usia anak sudah cukup mengerti.

  38. ah, rokok. racun yang digemari. heran saya!
    saking sebalnya sama rokok dan orang yang petantang-petenteng merokok di tempat umum yang padat, saya berani aja nyolot! yang paling sebel tuh kalau udah merokok (paling parah di kendaraan umum), dibilangin malah dia yang lebih nyolot lagi. “kalau mau enak ya naik taksi aja, mbak!” dan percaya atau nggak, bu, inilah yang memotivasi saya supaya bisa nyetir dulu, biar gak ada lagi ketakutan berkendaraan bersama perokok yang tak beretika ini.

    tapi memang membaca bagaimana orang bisa sadar sendiri untuk tidak merokok seperti si sulung rasanya menyenangkan banget.

    seorang kolega dokter senior yang saya kagumi pernah berkisah soal bagaimana dia lepas dari nikotin. sekonyong-konyong suatu hari dia bertekad untuk tidak merokok lagi, selamanya. dan voila! dia tidak merokok lagi selamanya! sesederhana itu, bu. saya pikir yang diperlukan bukan seabrek teori untuk mengurangi (saya lebih suka berhenti langsung, tidak mengurangi), melainkan komitmen yang kuat. kita bisa karena kita pikir kita bisa toh, bu?

    Marsmallow,
    Ada pengalaman saya yang menarik, saat si sulung mau melanjutkan ke SMA, dia ikut test di PL dan mendaftar di SMA Negeri di daerah Blok M. Saya agak kawatir, jadi sebelumnya saya menemui psikiater yang dulunya Direktur Rumah Sakit Ketergantungan obat, untuk belajar bagaimana caranya agar saya bisa mendampingi anak, tanpa anak merasa tertekan, dan anak tak terkena pengaruh jelek dari teman-teman. Dokter tadi meminta ketemu anakku, dan syukurlah anakku mau. Terus apa komentarnya? “Bu, taruhan potong leherku, anak ibu kemauannya kuat, jadi dia nggak akan kena narkoba. Tapi anaknya keras, risikonya kalau dia dipengaruhi akan melawan, lha ini yang berbahaya.”

    Saya mendengar itu bukannya lega, tambah jantungan, kuatir kalau anakku berantem, maklum anak SMA kan mudah panas. Apa boleh buat, sayapun nego ke bos, karena setiap kali saya harus memantau ke sekolah…dan ternyata bos ku sangat mendukung, karena mungkin beliau tahu, walau kadang saya ijin, tapi pekerjaan saya selesaikan tepat waktu, meskipun hampir tak tidur semalaman. Syukurlah melewati masa SMA dengan aman, walau sebetulnya masa-masa itu adalah masa yang berat buatku, antara harus menahan diri untuk sabar, mengajak mengobrol anak dengan hati riang (walau deg2an juga dengar ceritanya)….udah deh, segala macam cara pokoknya. Suatu ketika Marsmallow akan mengalami sendiri.

  39. saya menyesal bunda bisa kecanduan rokok,
    mau berhenti tapi sudah enggak bisa lagi 😦

    Gelandangan,
    Baca deh komentar teman-teman di atas, juga komentar Marsmallow, sebetulnya yang penting niatnya…jika belum bisa berhenti berarti niatnya belum kuat.

  40. mhmh.. pola asuh yang cerdas ya bu.

    ada 2 cara sepertinya dalam mengenalkans ebuah kejadian pada orang lain khususnya anak.
    1. mencoba sendiri kejadian itu sebagai pengalaman.
    2. belajar dari pengalaman orang lain dan memetik hikmahnya.

    2 2 nya memiliki masing2 alasan untukbsia dikatakans ebagai pola didik yg tepat. tergantung orang tuanya mau mencoba pola yg mana?

    untuk anak-anak saya mungkin saya akan gabungkan keduanya bu.
    untuk rokok. silahkan coba, namun badanmu tanggung jawabmu. kalau sakit ya sembuhin sendiri! hehe.. agak sadis ya

    makasih sharingnya bu.

    Masicang,
    Saya tak tahu pola asuh mana yang paling tepat, yang jelas saya banyak bertanya pada guru dan kepala sekolah, psikolog, juga psikiater, bagaimana cara yang paling tepat dalam mendampingi anak. Maklum kalau anak cowok memang berbeda, saya lebih mudah memahami anakku yang cewek, tentu saja karena saya sendiri cewek, pernah mengalami masa-masa muda walau situasi dan kondisi sudah sangat jauh berbeda.

    Dari diskusi tadi, guru banyak memberi tahu, apa sebaiknya yang dilakukan, tanda2nya seperti apa….jadi setiap hari saya benar-benar memperhatikan perilaku anak-anak (walau mereka nggak nyadar), apakah ada perbedaan, walau hanya sedikit saja. Dan kadang keterlaluan juga, saya pernah begitu ketakutan saat menemukan bubuk putih di dalam plastik yang ada di tas si sulung. Dia saya dekati, saya ajak ngobrol, ternyata bukan bubuk narkoba, tapi detergen, setelah diberi air keluar buihnya. Rupanya si suung di setrap, disuruh membersihkan dinding sekolah, karena kena kakinya, saat pura-pura jadi spiderman.

  41. ibu….mantapzzz…
    saya menikmatin banget posting ini, sampai ke comment dan tanggapan comment dari ibu..

    saya adalah perokok…
    but don’t worry hehehe proses mengurangi dan STOP merokok, karena salah satu “mas kawin” dari calon istri saya adalah STOP Merokok.
    doain ya

    salam

    Afdhal,
    Jika baca komentar mbak Marsmallow di atas, sebetulnya untuk berhenti merokok, yang penting niat dan komitmen kok…..

  42. saya masih berusaha untuk berhenti tapi agak sulit, masih berusaha mudah2an bisa

    Omiyan,
    Diperlukan komitment dan niat yang kuat dari diri sendiri….apalagi sudah ada anak kecil kan?

  43. Sekarang merokok bukan lagi masalah laki-laki ataupun perempuan, karena sekarang makin banyak saja perempuan yang merokok….

    Mungkin bagi orang yang sudah kecanduan merokok akan sulit berhenti mungkin sama dengan kita yang sudah kecanduan Internet untuk berhenti. Saya pernah membaca di majalah Times, bahwa keinginan untuk selalu online sebenarnya bagian daripada kecanduan juga, walaupun tentu kecanduan Internet lebih banyak positifnya (hmm…) dibandingkan merokok…..

    Ya udah deh…. persoalan merokok ini sangat kompleks. Masalah kesehatan, masalah “hak azazi manusia”, masalah sosial, masalah etika dan sebagainya tumplek di situ. Bagi yang merokok, sebaiknya ya harus menghargai kalau ada orang yang tidak suka merokok. Sebaliknya yang tidak merokok, ya sadar sendiri “resiko”nya kalau tidak suka dengan orang yang merokok ya silahkan menegur atau menghindar. Toh, asap rokok bukan satu2nya asap yang berbahaya, asap2 kendaraan yang mengeluarkan sulfur dioksida, misalnya, yang di udara diubah menjadi partikel sulfat dapat juga masuk ke paru2 dan menimbulkan problema kesehatan yang serius…. ya kalau difikir2 ya berbahaya juga…..

    Jadi ada harus ada kompromi memang antara yang merokok dan yang tidak, walaupun saya tetap setuju bahwa sebaiknya memang rokok ‘ditiadakan’……

    Yari NK,
    Kelihatannya tak mungkin rokok ditiadakan. Saat Indonesia krisis ekonomi tahun 98 an, produksi dan penjualan rokok meningkat, semakin stres maka semakin banyak orang mengisap rokok.
    Pemerintah pernah mengeluarkan PP 81 zaman p.Habibi, tapi tetap sulit dilaksanakan, karena banyak kepentingan, dan banyak orang yang hidupnya juga sangat tergantung pada industri rokok ini, dari petani tembakau, distributor, penjual eceran, dan juga para buruh sigaret kretek tangan (SKT) yang jumlahnya ribuan.

    Paling baik, adalah memberikan sosialisasi terus menerus, dan agar para perokok juga menyadari bahayanya, tidak merokok di sembarang tempat, didepan perempuan hamil dan anak kecil….jadi saling menghargai. Juga perlu tindakan tegas, karena betapa menyebalkannya jika angkot udah penuh sesak, masih ada yang merokok di dalam angkot. Dan tak semua orang mampu naik taksi atau menyetir mobil sendiri kan?

  44. Alhamdulillah, sekarang saya mulai sedikit mengurangi merokok…

    Saya salut dengan anda..

    Rizky,
    Semoga akhirnya berhasil mengatasi kecanduan merokok…

  45. wadoh bu, saya baca postingan sambil ngelempus ngerokok..

    Iman Brotoseno,
    Tapi asap rokoknya kan tak mengenai orang mas Iman, dan bukan di area yang “no smoking.” Pada dasarnya, yang penting adalah saling menghormati, antara perokok dan bukan perokok.

    Saya merasakan mual dan pusing, saat dipanggil bos, dan saat itu hamil muda. Keluar ruangan bos, langsung terbirit-bitir ke toilet dan menumpahkan isi perut.

  46. @Bu Edratna :
    Saya masih belum bisa menerima hipotesis “merokok adalah pintu pertama terkena narkoba” ataupun hipotesis “perokok lebih mudah didekati pengedar narkoba karena menawarkan rokok”..

    Kalau hipotesis ini dibalik kalimatnya “si penawar rokok itu pasti menawarkan narkoba” atau “si perokok itu adalah si pemakai narkoba”..

    Itu pasti absurd, naif, gebyah uyah, dan mengada-ada..

    Kalau hipotesis “perokok bisa jadi pengisap ganja” itu masih masuk akal, karena keduanya sama-sama diisap. Tapi jenis narkoba yang lain seperti ice (putaw) atau narc (heroin) itu pasti ceritanya lain..

    Ingat dulu Penatar P4 selalu bertanya, “Apa hubungannya Pancasila dengan Toleransi Beragama ?”. Bagi yang biasa mikir logis, hubungannya ya ada tapi kueciil sekali, dan tidak ada proof whatsoever bahwa kalau seseorang Pancasilais maka toleransi agamanya akan besar. Makanya, para “logists” seperti itu akan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban, “Hubungannya baik-baik saja pak !”… hehehe…kenaaa deh !

    Di Eropa Barat, Amerika dan Jepang (termasuk Singapore) mungkin merokok sudah menjadi larangan di tempat umum. Bahkan iklan rokokpun dilarang dipasang di mobil-mobil F1. Maka F1-pun akhirnya beralih ke Asia karena banyak negara Eropa nggak membolehkan iklan rokok nempel di mobil F1. Akhirnya, mungkin di dunia ini yang saya amati hanya orang Indonesia dan orang Korea yang masih gemar merokok…sedang di negara lainnya sudah hampir nihil…(rokok2 merk JPS, Dunhill, dsb yang dulu populer di Indonesia sekarang sudah gak ada lagi)..

    Apakah di Amerika, Eropa, Jepang yang merokok sudah dibatasi narkoba juga habis ?

    You bet !!!

    Artinya tetap saja ada, walau merokok sudah dibatasi..

    Point saya adalah, hai para orang tua awasi terus putra-putri anda baik-baik agar tidak kena narkoba. Awasi mereka baik-baik, merokok atau tidak merokok kalau mereka sudah menyendiri, sulit diajak omong, avoidance, mencoba menipu, mencuri uang…itulah tanda terkena narkoba..

    (Anti thesis, orang merokok malah ketawa-ketiwi, suka nongkrong di warung, tidak mencuri tapi meminta rokok ke temen, dsb)..

    Penjagaan yang paling ketatpun akan tembus bicara tentang narkoba ini. Yang paling penting adalah pendidikan dan keharmonisan rumah tangga yang bisa menjamin komunikasi “full duplex” (2 arah) dengan anak..

    Dan saya sempat mengelus dada, karena mendengar di lingkungan saya tinggal dulu ada 2 ustadz yang pagi, sore, siang, malam suara beliau selalu ada di loudspeaker mesjid…ternyata putranya terkena narkoba !

    Tridjoko,
    Quote…
    Dan menurut beliau, pintu masuk narkoba yang paling mudah adalah melalui rokok (hasil pengamatan beliau).
    …….

    Nahh kalau baca ini, kan itu pendapat guru dan kepala sekolah, dan rupanya selalu didengungkan di sekolah sehingga banyak murid juga berpendapat sama.

    Pengin cari buktinya? Kenapa nggak coba meneliti, dengan sample yang sesuai, sehingga nanti dibuktikan tingkat ilmiahnya, dan dari ilmu statistik. Namanya, juga salah satu pintu…jadi tentu saja ada pintu yang lain.

    Narkoba (kok jadi diskusi narkoba ya), tak hanya menyerang remaja dan ABG, buktinya seleb yang sudah berumur pun masih bisa terkena.
    Bagi saya, terlepas pro kontra soal merokok (karena merokok memang masih sulit dihindarkan…baca 2 postinganku terkait rokok), saya bersyukur anakku tidak merokok. Apapun merokok menurut saya tak bermanfaat (uangnya lebih berguna untuk hal lain), walau ada yang bilang bisa mendapatkan ide dengan merokok. Nahh ini juga bisa dibantah, yang tak merokokpun kenyataannya juga bisa mendapatkan ide cemerlang.

    Wahh kalau bantah2an seperti ini tak ada habisnya, kita boleh berbeda pendapat kan? Yang penting para perokok juga harus menghormati orang lain yang tidak merokok…dan peraturan agar merokok pada tempat tertentu di kantor sudah memadai, karena saya dulu merasakan beratnya, terutama jika lagi hamil muda….padahal sekarang semakin banyak staf perempuan di kantor.

  47. pertama coba rokok kelas 3 smp, dan lanjut ampe sekarang , pengen berenti neh, kasih info dong cara berenti merokok

    Babegue
    ,
    Tentu saja saya tak bisa memberi saran..lha tidak merokok

  48. saya tak merokok…

    walalupun lingkungan saya adalah perokok berat…..

    bukannya apa”…..

    saya cuma punya filosofi,,

    bahwa mencari uang itu susah,,

    dan sangat menyakitkan jika uang itu harus terbakar percuma

    Aziz,
    Sama Aziz, terlepas apakah menyebabkan penyakit atau bukan, uang kan sayang hanya untuk dibakar, apalagi sekarang apa-apa mahal, dan uangnya pas-pas an.

  49. Merokok memang bikin penyakit, selain bikin kanker beneran, merokok bikin kantong jd kering alias bokek..
    saya senyum2 nih baca komen sahut2annya ibu dan anak serta adik bungsu..

    btw kl boleh tahu kebiasaan mencium pipi anak laki2 sampe kelas brp Bu? sepertinya bisa ditiru krn dengan ini kt bs selalu dekat dgn anak2..

    Idawy,
    Untuk anak perempuanku, sampai sekarangpun masih, bahkan kalau ke Bandung dan dia nggak lagi sibuk mengerjakan tugas, saya masih bisa memeluknya sambil mengobrol di tempat tidur.
    Soal glundang glundung di tempat tidur, bercanda, masih sampai sekarang, bahkan sampai si sulung sudah menikahpun saya masih mencium pipi saat dia mau berangkat kerja (sekarang nggak bisa lagi karena dia sudah menyusul isterinya ke Amrik). Sempat memang si sulung nggak mau dicium di depan teman…tapi kan masih mau jika tidak ada temannya (bisa dikamar, atau dia pamit dan masuk ke kamar ibu). Suamipun masih mencium anak bungsuku setiap mau berangkat kuliah…demikian juga untuk isterinya jika baru ketemu, atau mau balik ke Jakarta.

    Menurut saya itu tak masalah, tapi semua tergantung merupakan kebiasaan di keluarga itu, ada yang tak mencium pipi, tapi mencium tangan.

  50. Saya tidak merokok lho bu, dan saya anti dengan ROKOK. MAka ketika ada wacana fatwa MUI tentang Haram Merokok, SAYA SETUJU.

    Bayangkan berapa dana yang dikeluarkan oleh negara untuk merawat orang miskin di Indo yang sakit karena rokok. Ngak sebanding dengan pemasukan. Lagian, saya baca di beberapa informasi, bahwa rata-rata usia anak pertama merokok di Indo sekarang dah naik jadi 8 tahun…ngerikan..ini ulah iklan dan perilaku orang dewasa yang merokok sembarangan. Saya juga baca bahwa 70 persen pengeluaran orang miskin di indo adalah untuk rokok, padahal kita perlu sekolah, perlu sehat dan lain-lain…jadi uang dihabiskan untuk hal yang sia-sia…

    MAKANYA DUKUNG FATWA MUI HARAM MEROKOK….

    Imoe,
    Saya kira tak perlu lah ada fatwa segala, karena juga tak mudah lho. Banyak juga saling kepentingan, dan menyangkut nilai ekonomi, terutama untuk petani tembakau. Mereka perlu di sosialisasikan untuk beralih ke tanaman lain yang lebih menguntungkan, dan ini tak mudah, karena sudah turun temurun menanam tembakau. Jadi, semua harus dipersiapkan dulu, lagi pula, yang penting adalah tidak merokok di sembarang tempat, di dekat anak kecil dan perempuan hamil.

  51. Bunda…
    bijaksana banget dalam mendidik anaknya ya…

    setuju bahwa merokok itu tidak berfaedah sama sekali, lebih banyak buruk dan tidak ada baiknya πŸ˜€

    Ria,
    Saya sekedar sharing pengalaman, mendidik anak tidak mudah dan sayapun juga melalui pasang surut…tapi tak perlu diceritakan disini kan?

  52. Perlu kesadaran ybs untuk memutuskan apakah ‘peer pressure’ bisa lebih merajai terahadap ‘logic’ – saya yakin sangjagoan-nya sudah mengambil ‘an informed decision’

    Ayah dan adik saya merokok, keduanya seperti kereta api – plas..plus… ngebul nggak keruan.. namun saya sengaja membuat batas, kalau ada anak2 kecil merokoklah diluar dan jauh dari mereka.. semoga dengan begitu mereka bisa faham bahwa meracuni diri sedianya tidak membawa serta orang lain. πŸ˜€

    Luigi Pralangga,
    Memang yang penting adalah pemahaman apa bahaya dan kerugiannya, dan diskusi dengan anak dilakukan pada saat santai, tanpa ada keinginan dominan…mendorong anak untuk bisa memikirkan sendiri akibat2nya.

    Kita memang tak bisa menghindari diri dari masalah rokok ini, karena banyak sekali unsur yang saling terkait, yang penting adalah memberikan ruang dan toleransi, agar tak membawa akibat yang merugikan bagi umum.

  53. you’ll be able to find any point of interest on a site and then call it direct from your site… good job frenzz πŸ˜‰ lam hangat dan kenal yah..

    Donyk,
    Thanks dan salam kenal juga

  54. ya mbak…..itulah mungkin yang namanya sang anak sedang dalam proses tahap mencari identitasnya yang sejati…….semacam proses trial and error……atau semacam proses melihat fenomena tertentu yakni dimulai dengan timbulnya atensi melihat orang lain merokok…..karena ada dorongan intrinsik dan ekstrinsik lalu timbul minat….dan mencoba…..lalu merenung urgensi dan resiko merokok……akibat plus- minusnya….lalu muncullah kesadaran…..dan keputusannya?….hentikan merokok….karena ternyata dinilai lebih banyak mudharat ketimbang kebaikannya…….itulah pilihan terbaik yang diambil putra mbak…..tinggal lagi tetap diperlukan pemantauan secara bijak……. ada peringatan keras buat perokok: “matikan rokok sebelum rokok mematikan anda”……..

    Syafri Mangkuprawira,
    Betul pak, paling rawan adalah masa muda, masa ABG dan remaja, karena masa yang suka mencoba.
    Saya bersyukur anakku ter batuk-batuk dan tak merasakan nikmatnya rokok, benar-benar karunia Allah swt.

  55. Klo sudah pisah lama dg orang tua dan kumpul dg teman2 yg ndak akur dg orang tuanya, biasanya ntar anak jadi ndak keberatan kok klo dicium di depan umum. Pengalaman pribadi sih πŸ™‚ Dekat dg orang tua, apalagi dg ibu, sebenarnya adalah suatu hal yg amat membanggakan. ndak semua anak punya orang tua -ibu khususnya- yg bersedia dg ekspresif mengungkapkan sayang dan perhatiannya.

    Akhmad Guntar,
    Betul…tak semua orangtua mengekspresikan kasih sayangnya melalui pelukan maupun ciuman di pipi.
    Tapi anak dan orangtua, tetap bisa merasakan kedekatan dan aura yang terpancar di wajah masing-masing sudah cukup menunjukkan adanya hubungan kasih sayang tsb.

    Tapi juga ada kok ortu yang cuek…..entahlah, saya juga heran kok bisa ya…

  56. wah ibu bijaksana sekali dalam menyikapi anak yang mencoba rokok….memang untuk anak laki2 usia ABG, ingin merasakan rokok, pengalaman pribadi, saya sendiri saat usia SMP juga pernah mencoba. Alasannya seperti anak ibu, bahwa merokok diidentikkan dengan macho, kejantanan, berani, dll yang berbau laki2…..namun akhirnya setelah mencoba, saya sama sekali tidak merasakan nikmatnya rokok…sehingga sampai sekarang pun saya tidak merokok.

    salam kenal

    Aby,
    Saya dekat dengan teman-teman cowok yang perokok, jadi saya juga memahami perasaan mereka, awal mulanya kekapa mereka tertarik merokok…dan mereka sendiri berpesan, sebaiknya kita mendorong agar anak-anak jangan sampai merokok.

    Justru karena itu saya juga tak menyalahkan jika anakku merokok, tapi saya hanya ingin mengajak diskusi, bahwa sebaik-baik orang merokok tetap lebih baik yang tak merokok. Lha kan sayang uang kok di buang-buang…dengan membakar rokok.

  57. saya belajar merokok untuk memuaskan rasa ingin tahu & biar terlihat lebih keren πŸ˜€ kalau teringat pemikiran sewaktu masa remaja dulu saya jadi geli & jengkel sendiri. Saya bukan perokok Bu tapi kalau teringat anak & pemikiran saya sewaktu remaja dulu jadi kepikiran ma anak2 saya

    Tomyarjunanto
    ,
    Saya memahami pemikiran seperti itu, justru itulah saya tak marah, andaikata saat itu anakku merokok. Yang penting adalah memahami, apa keuntungan dan kerugiannya merokok. Kalau memang nggak ada keuntungannya, kenapa diteruskan? Kebetulan sejak kecil anakku terbiasa diajar pola pikir SWOT, jadi setiap kali diskusi ke arah sana. Dan dia sendiri yang mengambil keputusan, dengan segala risikonya.

    Syukurlah, sebelumnya dia justru sudah memutuskan untuk tidak merokok.

  58. merokok emang nyusahin, kudu ngeluarin uang tambahan, kudu cari tempat, kudu kena penyakin paru-paru, kudu berurusan dengan hukum (ada UU-nya kalo nggak salah), kudu ribut sama istri (istri saya juga MELARANG merokok), weleh repot banget ya. nggak ada untungnya

    Ekoph,
    Hehehe…memang bau asap rokok tidak nyaman. Padahal kata teman yang prokok, karena yang dicium asapnya, coba kalau merokok, pasti lebih nyaman. Jawaban ngeles…

    Sebagian besar wanita memang masih tidak suka bau rokok…lebih suka bau parfum yang segar…..hehehe

  59. @tridjoko:
    Berikan bukti kontradiksi pernyataan saya. Saya beberapa kali punya teman yang terlibat narkotik dan semua perokok. Berikan bahwa ada yang kecanduan narkotik tetapi tidak pernah merokok sama sekali.

  60. btw,
    di Richmond, Virginia kemarin, aku melihat kantor Phillip Morris.

    Kunderemp,
    Philip Morris di Amerika tidak berhubungan dengan rokok (ibu lupa…entah baca dimana), karena industri rokoknya telah dialihkan ke Asia, a.l Indonesia.

  61. Sampai saat ini saya juga masih belum bisa berhenti dari rokok dan kopi…
    Sekarang klo dirumah, saya kalau merokok wajib untuk keluar rumah, halaman atau duduk-duduk di pinggir jalan depan rumah. Karena rumah yang kecil itu, ada dua anak kecil dan juga seorang wanita hamil.
    Walaupun begitu, tetap saja saya bisa menghabiskan sebungkus 234 dan sebungkus Marlboro Light dalam waktu sekitar 24jam.
    Seperti dalam diskusi diatas, sebenarnya dari niat, saya sudah pernah berhenti selama 3 minggu, tetapi kembali lagi dan saya juga yakin karena kurangnya niat.
    Semoga anak-anak tidak akan meniru kebiasaan merokok bapaknya dan juga tingkah bapaknya ketika masih muda dulu…

    Sapimoto,
    Benar, berhati-hatilah, jangan sampai mengorbankan orang-orang yang kau sayangi karena merokok, karena menjadi perokok pasif sangat berbahaya. Kakak temanku, isterinya meninggal karena kanker paru-paru akibat menjadi perokok pasif (suami perokok berat)…bayangkan sedihnya sang suami, apalagi anak yang ditinggal masih kecil-kecil. Jangan sampai menyesal di kemudian hari.

  62. Ping-balik: IBSN: Tinggalkan Waralaba Berpindah ke Walarabba « My Weblog

  63. tridjoko

    @Mas Kunderemp :

    Perlu bukti orang tidak pernah merokok tapi terkena narkoba ? Buanyaaak sekali mas, contohnya di sekitar tempat saya tinggal sekarang. Banyak anak muda jadi korban, sebagian tewas sia-sia. Pernah merokokkah mereka ? Setahu saya tidak, atau jarang (saya tidak pernah memergoki mereka merokok)…

    Di kampus, yang terkena narkoba tanpa saya pernah tahu mereka merokok juga banyak (entah karena Binus dimana-mana ada larangan merokok atau gimana). Waktu saya jadi Dekan, saya banyak ditemui orangtua siswa yang minta anaknya tidak dikeluarkan karena jarang masuk dan ketika tangan si anak saya jabat…rasanya duingiiiin dan tangannya bergetar (itu sekitar thn 2000, mudah-mudahan si anak masih hidup sekarang ini)…

    Point saya, secara statistik seseorang yang merokok tidak signifikan apa ia bakal terkena narkoba (supaya signifikan 95% dari perokok harus terkena narkoba, dan supaya highly signifikan 99% dari perokok harus terkena narkoba, jika kurang dari 95%….secara statistik itu disebut “tidak signifikan”…artinya tolak Hipotesis Nol)..

    Mari kita pandang dari sudut “the bigger picture” atau “helicopter view”…

    Merokok itu kan sudah ada sejak tahun 1700-an mungkin di Indonesia. Ibu saja cerita begitu senengnya jadi petani tembakau dan panennya sukses. Lalu tembakau dikeringkan dan dikirim ke pabrik rokok. Begitu juga petani cengkeh. Begitu juga petani jagung (untuk rokok kelobot). Artinya rokok dan industri rokok itu “local genius” dan menghidupi banyak orang. Coba sekarang misalnya Indonesia melarang 100% orang merokok (jika merokok, maka bibirnya dicopot..hehe…), berapa juta orang yang bakal nganggur (dan copot bibirnya…hehe..) ?

    Sedangkan narkoba. Menurut saya, penyebaran narkoba sangat didukung oleh pihak-pihak asing di luar Indonesia yang tidak senang negara berkembang seperti Indonesia menjadi maju, maka cara termudah adalah dengan mengobok-obok negara tersebut adalah dengan narkoba, terutama generasi mudanya…dengan lemahnya negara tersebut, maka si negara maju dengan mudah bisa memainkan agendanya…

    Saya masih tetap salut terhadap orang yang masih merokok dengan pikiran di kepalanya, “saya ingin membantu saudara-saudara lain di Indonesia yang makan dari industri rokok ini”. Masalah kesehatan dan sebagainya, oh…biarlah itu dokter yang berbicara…. πŸ˜‰

    (Ada satu cerita, pernah ada eselon II di kantor yang “sok anti rokok”. Ada teman yang merokok 50 meter jauhnya dari dia, dipanggil dan dimarahi “Tau nggak, asap rokokmu itu mengganggu saya karena bisa sampai ke kamar saya dari lubang AC”. Teman yang dimarahi tadi diam saja, tapi banyak orang yang hadir tidak happy dengan marahnya si “kawan pejabat” tadi. Dan ketika akhirnya ia lengser, teman-teman sekantor pesta 7 hari 7 malam…. Bukan dengan merokok, tapi dengan makan-makan ! )

    Akhirnya, saya 100% setuju BNN dan lembaga pemerintah lainnya berantas narkoba. Tapi untuk memberantas orang merokok, posisi saya masih 50-50…(kalau dari kesadaran sendiri sih terserah, tapi dengan oppresive menurut saya malahan akan gagal)..

    @Kunderemp dan Tridjoko
    Sebaiknya diteruskan lewat japri aja.
    Berhenti merokok adalah keputusan dari diri sendiri. Pelarangan merokok di kantor tak bisa secara pribadi, hanya karena menjadi bos atau apa (walau saya merasakan beratnya saat hamil), tapi adalah aturan kantor yang telah disepakati oleh jajaran Direksi, dengan sanksi. Dan menyediakan ruang untuk merokok yang terpisah.

    Di sekolah memang sudah jadi semacam cap, bahwa merokok sangat berbahaya, terutama gampang kena narkoba…ini tak perlu diributkan, karena masing-masing orang punya argumen sendiri.

    Bagi saya yang penting adalah saling menghormati, yang merokok ya tahu aturan, yang tak merokok juga menghindar aja kalau ketemu perokok yang nggak tahu etika.

  64. *Waduuh, sampai mata thithilen baca setiap komen dan feedback dari ibu, hehe.

    Yang saya rasakan setelah membaca posting ini : khawatir kronis.

    Anak2 saya memang masih balita, Bu. Dulu sih menjalani hidup mengalir gitu aja. Tapi semakin tambah umur dan harus menghadapi uncertainty, kok malah jadi banyak khawatir ya. Jadi terlalu banyak analisis ini itu. Kadang suka pegel, Bu.

    Jadi inget pesen temen,”Positive thinking is a must, but stay alert.”

    Semoga saya bisa full mendampingi anak2 melewati setiap tahap perkembangannya, terutama fase remaja yang full of storm and stress.

    Mohon doanya, Bu. Ini khawatir tenan lho..

    Sanggita
    ,
    Kawatir boleh, tapi tak boleh berlebihan…bukankah Sanggita sendiri seorang psikolog? Saya dulu jadi pelanggan psikolog, hanya agar tak melakukan kesalahan yang berakibat fatal, jika menghadapi anak-anak. Dan saya pilih psikolog yang muda, yang tahu memahami anak ABG.

    Kunci utama adalah doa (tentu setelah kita berusaha untuk terus memonitor dengan halus)…..dan paling penting adalah keharmonisan keluarga, kedekatan anak dan orangtua. Jika ayah sibuk banget, ibu harus bisa menggantikan peran agar dekat dengan anak-anak, bergaul dengan mereka sebagai temannya. Berusaha untuk tidak menyalahkan anak, walau hati ini udah kaget dan jantungan.

  65. Jadi dapat bekal untuk menghadapi keponakan yg dua-duanya laki2, karena masih kecil2 jadi masih senang kalau dipeluk2 dan dicium2 (malah minta–haha) Tapi saya yakin bhw kalau sudah semakin besar pasti nanti jadi malu, soalnya saya ingat dulu itu mama saya paling suka cium ubun2 anak2nya, saya juga niy sekarang suka cium ubun2 ponakan (kebiasaan ini menurun rupanya)–nah sewaktu adik saya kelas lima es-de dia mulai protes, apalagi kalo pas dijemput sepulang sekolah, heheheee…

    Dan yg ttg merokok, ayah saya juga tidak merokok, tp dua adik saya yg nomer 3 dan 4 menjadi perokok, sangat disayangkan, karena pergaulan siy memang.. Mrk justru merokok setelah mahasiswa, dan yg satu lagi setelah bekerja. *Sigh* sangat disayangkan sekali..

    Semoga keponakan2 saya nantinya tidak merokok, soalnya ayah mereka tidak merokok, namun mereka sudah melihat Oom-nya merokok, dan kadang2 suka menirukan gaya sedang merokok. Kalo saya liat trus saya ajak bicara ttg bahaya rokok, hahahaaa… akibatnya kalau pas liat si Oom merokok mereka sekarang suka ‘sok tua’ menegur, lucu juga. Semoga bekal ini terbawa sampai dewasa dan membantu mereka untuk anti-rokok (^^,)

    -G-
    Saya juga belajar dari lingkungan, dari tetangga, teman, guru, juga psikolog. Menghadapi anak susah gampang, karena kita tak bisa hanya menyalahkan.
    Paling tidak, hubungan yang dekat antar keluarga, membuat anak-anak merasa nyaman.

  66. Wah…saya suka sekali cara Ibu berkomunikasi dengan anak. Saya betul-betul harus belajar banyak dari Ibu…

    Vacation,
    Sejak anak kecil saya suka konsultasi dengan dokter dan psikolog. Suami Ratna dokter kan?
    Anak tak boleh dipaksa, tapi diajak komunikasi sehingga sejak kecil mereka dibiasakan untuk memahami, kenapa ibu melarang melakukan itu, juga ada referensinya. Jadi saat anak males sarapan, terpaksa saya cari artikel, kenapa mesti sarapan….hehehe….Dan sebelum kenal rokok, sebelumnya sudah ada diskusi dulu….jadi istilahnya lebih baik prepare, daripada nanti udah terlanjur.

  67. Ping-balik: Pro kontra merokok : drama yang tidak pernah selesai « Sanggita

  68. Salut banget buat Ibu.

    Saya terlahir dengan ayah yang perokok berat jadi ya sama baunya rokok ya udah ga asing lagi πŸ™‚

    Waktu adik laki-laki saya beranjak remaja, bapak saya cuma bilang bahwa “kamu boleh ngerokok kalo kamu udah bisa menghasilkan duit sendiri dari kerja kerasmu”
    Dulu adik saya pernah mencoba merokok dan saya tau, saya tanya dari mana kamu dapet duit koq bisa beli rokok? Dari jualan pulsa
    Suatu ketika saya tanya ke dia, masih ngerokok?
    Dia jawab, ngapain buang2 duit hanya untuk beli rokok, belikan pulsa aja / buat traktir cewekku.
    Sampai saat ini dia punya penghasilan sendiri, dia ga merokok. πŸ˜›

    Mantan-mantan pacar saya dulu semuanya perokok. Begitu ketemu mantan saya yg satu ini (suami saya), dia bersih tidak merokok. Katanya pernah sesekali hanya untuk menghargai teman-temannya saja, tapi sejak saya kenal dia 7 th yg lalu belum pernah melihat dia merokok πŸ˜›

    Oh ya bu, saya mau mencuri trik-trik ibu menjadi SUPERMOM ya,boleh khan?? πŸ˜€

    Retie,
    Supermom? Wahh kayaknya enggak deh, walau orang di luar sana, termasuk teman-temanku banyak yang mengatakan saya supermom.
    Saya beruntung didukung oleh suami, dia mendorong saya untuk terus berkarir, dan menyelamatkan rumah tangga dengan membantu momong anak-anak jika saya harus tugas ke luar kota beberapa minggu. Dan jika saya harus masuk pendidikan selama tiga bulan, suami yang ikut terjun mengelola rumah tangga, walau ada si mbak, dan dia terpaksa bolak balik Jakarta-Bandung (saat itu belum ada Cipularang).

    Saya juga mudah sakit, justru karena itu saya memahami kesulitan si mbak, dan tak memaksanya bekerja sampai malam, atau jika dia kurang enak badan, maka makanan beli matang aja, kebetulan di dekat rumah banyak penjual makanan matang yang lumayan enak.

    Karena keterbatasanku ini, saya punya dua pembantu (minimal), bahkan si mbak ini suka nemeni si bungsu nonton film saat si bungsu remaja, dan si ibu tak ada untuk menemaninya nonton. Jadi,walau kerja, uang saya tak berlebih, karena dibagi lagi dengan beberapa asisten rumah angga, tapi saya senang karena mereka juga jadi tulang punggung keluarga, malahan asisten rumah tanggaku ada yang sekarang membantu suami ngetik di komputer, bisa nyopir (padahal cewek), dan dialah yang bertugas menjemput si bungsu jika terpaksa pulang malam.

    Retie, semua bisa dilakukan, dengan pengelolaan rumah tangga yang baik, dan dukungan dari suami tercinta, karena kita tak bisa melakukan semuanya sendiri.

  69. lah tante, saya sampe sekarang masih suka di sun sama emak. Sebaliknya aku juga suka sun emak, waktu dijakarta dulu, kalo mo berangkat kuliah pasti sun emak dulu. Gak tahu apa aku ini termasuk anak manja, maklum anak bontot.
    Kalo bapak gak suka sun2an.. gak ngerti deh kenapa.
    Aku pernah ngeroko, cuma 1 hisap seumur hidupku, abis itu gak suka, jadi gak merokok.

    Resi Bismo,
    Di Indonesia, entah karena buadayanya, saya lihat memang jarang ayah yang ngesun pipi anaknya, Tapi karena saya dibesarkan oleh orangtua yang demokratis (ayah ibu teman sekolah), kemudian sempat kost di keluarga yang terbiasa mengekspresikan kasih sayangnya pada putra2nya, maka saya berjanji membawa suasana keluarga seperti ditempat keluarga saya kost dulu. Dan akhirnya itulah keluargaku, jadi anak-anak juga terbiasa mengekspresikan perasaannya.

    Syulurlah Ario tak menyukai rokok, karena apapun tetap lebih banyak kerugiannya, dan nggak ada untungnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s