Oleh: edratna | Januari 15, 2009

Ayah dan putri nya

Hubungan seorang ayah dan anak perempuan pada umumnya memang dekat, bahkan anak perempuan dianggap mampu menjadi jubir (juru bicara) di rumah jika komunikasi anggota keluarga kurang berjalan lancar. Hal ini dapat dipahami, karena seorang ayah, entah kenapa, memiliki hubungan khusus dengan anak perempuannya. Namun di satu sisi, ayah juga sering tidak memahami keinginan, ataupun apa yang sedang dilakukan oleh anak perempuannya. Dan kadang rasa sayang dan kekawatiran ini bisa berubah menjadi beban, karena si anak merasa di monitor terus keberadaannya.

Saya sekedar sharing pengalaman yang terkadang menggelikan berkaitan dengan hubungan antara ayah dan anak perempuannya ini. Kami mempunyai dua anak, si sulung laki-laki dan si bungsu perempuan. Si sulung ini lasak, nggak bisa diam, pokoknya kalau dia datang, rumah akan langsung menjadi ramai. Dan kalau datang dari manapun, entah dari sekolah, atau dari kegiatan yang lain, dari cara membuka atau menutup pintu sudah terdengar, karena dia jarang membuka atau menutup pintu dengan pelan. Belum suaranya minta makan kepada si mbak, ataupun hal lainnya. Ini sangat berbeda dengan si bungsu, walau si bungsu ini juga nggak bisa diam, tapi tak bersuara, jadi kadang dia tak terlihat apa sudah ada di rumah atau belum, kecuali dilihat di kamarnya. Jika tak ada kegiatan di luar rumah, si bungsu asyik sendiri dikamarnya, dari mulai mengerjakan tugas, atau membuat berbagai kerajinan, membaca buku atau sekedar bermain dengan Jacky.

Suatu ketika, Jakarta hujan lebat, padahal itu adalah waktunya si bungsu, yang saat itu masih SMP, pulang dari sekolah. Saya langsung mengingatkan sang ayah untuk menjemput, karena kebetulan si ayah lagi di rumah, ayah dan si sulung langsung lari ke garasi, dengan maksud segera menjemput si bungsu. Langsung deh heboh, si mbak sudah membuka pintu garasi, syukurlah saya terpikir untuk menengok kamarnya. Ternyata…si bungsu sudah tidur pulas berselimut, dan saat dibangunkan kelihatan bingung. Rupanya dia datang pas hujan mau turun, dan karena capek langsung tidur, apalagi hujan mulai turun.

Si sulung meneruskan kuliah di Jakarta, sedang si bungsu di Bandung, sehingga lebih sering ketemu ayahnya, karena suami kerja di Bandung. Kadang si ayah lupa kalau anaknya sudah mahasiswa, di kira putrinya masih kecil. Suatu malam Minggu, kebetulan saya ada acara sehingga tak ke Bandung, sekitar jam 7 malam suami menelepon, menanyakan keberadaan si bungsu. Saya tanya ada apa, ternyata si bungsu ditelepon di dua nomor hapenya, semuanya sedang off. Terus saya tanya, memangnya kenapa. Ternyata sang ayah lagi berada di kawasan Dago, jadi jika si bungsu masih di kampus akan dijemput sekalian. Saya langsung komentar, kalau si bungsu sekarang sudah mahasiswa, apalagi ini malam minggu, lha saya waktu masih SMA aja dulu, kalau malam minggu boleh pulang lebih malam, karena ayah ibu tahu siapa saja teman-temanku dan yakin putrinya aman, tak melakukan suatu hal yang membahayakan. Akhirnya suami ketawa, dan rupanya lupa kalau anak perempuannya sudah besar.

Si bungsu ini mandiri, dia lebih suka naik angkot daripada dijemput pakai mobil pribadi, karena nggak suka saling menunggu (sama seperti sifat ibunya). Tapi kelemahan si bungsu, dia bisa tertidur di angkot, apalagi jika duduknya di sebelah sopir. Suatu ketika, sudah jam 10 malam, kembali suami menelepon, menanyakan kok si bungsu belum pulang. Kadang saya juga sebal dan pengin ketawa, lha suami dan si bungsu kan di Bandung, tapi kok setiap kali telepon saya di Jakarta, lha mana saya tahu? Saya mencoba menghubungi telepon genggamnya, tak dijawab, mungkin di silent dan dimasukkan di tas, dan dia tak berani menjawab karena masih dalam perjalanan naik angkot. Saya menghubungi teman-temannya di Comlab ITB (saya punya nomor hape teman2 si bungsu), ternyata si bungsu sudah pulang sejak jam 8 malam. Saya ikut deg2an, kemana ya anak itu? Karena kawatir, suami menunggu di jalan depan rumah plus si mbak dan sepupu (jadi serumah siap-siap di depan rumah semua), maksudnya jika ada apa-apa mobil sudah siap keluar. Ternyata tak lama kemudian si bungsu datang dengan tenangnya, dan ternyata dia tertidur di angkot, saat membuka mata kaget kok jalanan gelap, rupanya sudah di jalan Sukarno Hatta, Bandung. Si bungsu anaknya tenang, dia kemudian melanjutkan naik angkot, sampai di daerah yang lampunya terang, baru turun, dan putar lagi untuk naik angkot kembali ke rumah.

Si bungsu lulus dan di wisuda pertengahan tahun 2007, kemudian dia mendapat beasiswa untuk melanjutkankuliah S2 di kampus yang sama. Kemarin, sang ayah bingung lagi di telepon, karena sudah jam 22.18 menit putrinya belum nongol di rumah, dan dihubungi hapenya mati. Hape mati ini merupakan penyakit yang tak pernah sembuh, kadang karena baterei habis, pulsa habis, atau di silent dan dimasukkan tas sehingga tak terdengar. Atau memang tak ingin ditelepon ayahnya ya? Saya mencoba menghubungi berkali-kali, nggak ada jawaban. Saya coba terus, dan kali kelima dia menjawab kalau sudah di depan rumah. Karena sudah di depan rumah saya tak menghubungi suami, dan besoknya suami kirim sms, yang isinya “tibane wis mulih”. Hahaha…padahal sebetulnya si bungsu pulang malam, dan datang diam-diam langsung masuk kamar sehingga ayahnya tak tahu.

Padahal alasan sang ayah sederhana, kalau si bungsu berniat pulang malam tinggal sms si mbak, nanti dijemput. Tapi ya itu tadi, si bungsu memang lebih suka melakukan apa-apa sendiri, dan tidak mau tergantung pada orang lain.

Iklan

Responses

  1. hihihi si babe memang suka heboh 😀

    Harusnya sudah paham, kalo putrinya males pulang malem nae angkot kan suka sms si mba buat minta jemput. Apalagi sebagai “penebeng sejati” (seperti yg dikatakan dlm blog-nya), saya rasa pasti ada aja yg bisa d tebengin (tul ga, pen? :P)….hihihi….

    Si Bulet,
    hahaha…penebeng sejati…bokap belum tahu sih, kalau tahu kan tenang …Lagi pula udah punya helm kuning yang lucu itu, herannya yang dititipi helm kok ya mau aja…

  2. (^_^)

    Saya tahu perasaan si bungsu karena saya anak perempuan satu2nya dan dimonitor cukup ketat juga oleh ayah saya, sedangkan ibu memang lebih santai, heheheee… Membaca ini jadi ingat beberapa kisah lucu dengan Papa… Jadi kangen juga kepada almarhum, sebab mmg hubungan saya dan papa sangat dekat.

    Ah, indahnya kelucuan2 itu, kenangan yg tidak akan pernah pupus..

    Sudah enakan bu badannya? Masih hujan terus niy… walaupun saya penggemar hujan, tapi jadi kangen matahari dan panas terik, semoga nnti kalo sdh panas ga mengeluh kangen huja. Ooh manusia, manusia… *out of topic niy bu..*

    -G-
    Iya, udah enakan kok….kuncinya cuma harus banyak makan (dan ini yang sulit). Cerita antara anak perempuan dan ayahnya memang suka lucu, karena sebetulnya sayang, tapi cara mengungkapkannya suka bikin ketawa dan kadang bikin sebel juga.

  3. cerita ayah dan anak perempuan memang ga ada habisnya ya, Bu

    saya juga punya banyaaaaaaaaaaaaaak cerita yang cuma saya simpan sendiri 🙂

    Utaminingtyazzzz,
    Ayo dong cerita di blogmu, saya yakin pasti banyak lucunya….hehehe

  4. Ibu yang sangat pengertian.
    Anak saya yang masih kecil juga punya alasan yang sama dengan HP-nya kalau tidak bisa dihubungi 😀

    Toni,
    Pasti mas Toni suka kangen ya, dan suka menghubungi putrinya…padahal si kecil udah mulai lebih suka bermain sama temen-temen nya….

  5. Dekat dengan anak ya laki ya perempuan adalah kenikmatan yang luar biasa ya Bunda..?? 🙂

    Nug,
    Wahh iya, bermain sama anak ga ada habisnya…..padahal anak-anak sudah besar. Kadang heran kalau ada orangtua yang nggak dekat sama anak-anaknya, padahal mereka menyenangkan lho.

  6. Jaman memang sudah banyak berubah ya Bu. Dulu seolah saya ini “diumbar” begitu saja oleh orang tua, mungkin karena orang tua sudah sangat percaya dan lingkungan pergaulan nggak aneh-aneh (cuma teman sekolah dan di kota kecil lagi). Belakangan saya baru tahu kalau sebenarnya orang tua saya juga suka nge-cek tapi secara tidak langsung … hehehe.

    Jamannya putri Bu Enny ya seperti cerita di atas. Alat komunikasi sebenarnya cukup membantu meski tetap bisa di-off juga. Jaman anak saya nanti bagaimana ya kira-kira ?

    Oemar Bakrie,
    Zaman saya, karena hanya tiga bersaudara, orangtua termasuk over protektif. Tapi saya dan adik-adik dekat dengan ayah dan ibu, pak Hendra bisa baca cerita di blognya Tridjoko. Ayah suka punya ide aneh-aneh, seperti mencoba petasan di dalam rumah, untung petasannya mejen (tak meledak), lha kalau nggak betapa hebohnya.

    Anak sekarang sih walau punya hp, suka off juga …alasannya habis baterei nya, habis pulsanya (saya suka memberikan tambahan pulsa hanya agar si bungsu dapat dihubungi).

  7. Kayaknya saya jarang dicari bapak saya deh bu. Yang ada kebalikan, saya yang nungguin bapak dan ibu saya pulang kondangan. Pernah suatu ketika ada acara Old n New, sudah jam 2 pagi belum pulang…. saya ngintipin jendela terus nunggu mobil mereka. Jadi saya lebih parno dari ortu saya. hehehe

    Saya juga terlalu alim mungkin ya dan tidak pernah merepotkan beliau. (Tapi beliaunya juga jarang di rumah sih bu, tugas ke LN terus)

    Jam malam sampai SMA adalah jam 9 malam. Sampai saya pernah diantar jemput ke pesta oleh papa sendiri. Pesta mulai jam 8 dan waktu saya dijemput pulang, makan malam belum mulai. hehehe jadi deh saya pulang tanpa makan.

    sorry jadinya saya yang cerita ndiri. Tapi soal ketiduran di angkot bahaya juga tuh. (Narpen hobby kita sama, saya suka ketiduran di bajaj heheh)

    EM

    Ikkyu_san,
    Ketiduran di bajaj? Wahh benar-benar nggak nyangka.
    Saya melihat Imel adalah pribadi yang sangat mandiri, mungkin karena sejak kecilnya terbiasa mandiri ya. Jam malam jam 9 malam? Waduhh…itu pesta belum mulai acara…lha acara kan baru dimulai minimal jam 10 malam.

    Tapi saat SMA, saya juga pergi keluar sama teman-teman yang telah dikenal ortu, juga masing-masing ortu saling kenal, maklum kota kecil. Dan di kota kecil kan nggak ada apa-apanya. Tapi saat SMA, kedua anakku nggak suka main sampai malam, bahkan saat acara perpisahan malah di dorong-dorong agar mau hadir.

  8. Tapi sikap Ayahnya Narpen itu kayaknya wajar dech bu 🙂 mungkin karena Narpen, anak cewek trus bungsu lagi 🙂

    hehehe jadi inget sama bapak saya. Sejak Ibu saya ga ada saya pernah hidup berdua saja dengan bapak, kedua adik saya pindah sekolah ke kota lain. Waktu itu bapak masih kerja dan hampir setiap waktu luangnya nelpon ke saya, nanya saya lagi ngapain dan dimana.

    Waktu saya keluar dari rumah, untuk pertama kalinya saya pindah ke Jkt untuk bekerja. Sebelumnya saya panjang lebar menjelaskan ke bapak, bahwa saya sungguh2 mau bekerja dan minta kepercayaan bapak saya bisa hidup mandiri di JKT di usia saya ke 20 th.
    Hampir 5hr bapak memikirkan diskusi kami berdua dann akhirnya saya boleh kerja tapiii ya teteup aja… tiap hari nelpon ke HP. dan 2 bulan sekali cari-cari kesempatan untuk ke JKT. 😛

    Sekarang,setelah saya menikah dan saya pindah ke Bekasi, hampir tiap hari pun bapak nelpon 🙂 kalau 1 hari aja saya ga nelpon mmmm komentarnya
    “kemana aja ya anakku koq ga ada kabar?”

    Retie,
    Ntar kalau anak-anak udah nikah dan punya cucu pasti lain lagi hebohnya ya.
    Saya dulu saat kuliah awal-awal di Bogor, ayah ibu bergantian nengok ke Bogor, tapi setelah setahun reda, karena yakin saya kost di tempat yang benar, lha iya kost di rumah dosen, setiap hari ditanya udah belajar belum, besok ada ujian apa enggak? Hahaha.

  9. Ibu, di keluarga saya pun demikian, Papa dan Mama saya memiliki dua anak, saya dan adik saya, Citra namanya.

    Citra lebih dekat dengan Papa dan saya dengan Mama. Sampai sekarang pun ketika saya sudah tinggal di Australia, kalau menelpon rumah dan yang mengangkat Papa, saya langsung bilang “Mama ada?”

    Hehehe kesannya musuhan padahal tidak 🙂
    Kami memang terbiasa demikian. Tapi pernah semua kecanggungan itu musnah ketika saya menikah dan pamit ke Sydney.

    Saya tak menyangka bahwa Papa yang tegar itu bisa menangis sesenggukan melepas saya dan istri pergi 🙂

    Ah, jadi kangen mereka semua, Papa, Mama dan Citra serta kedua anjing kesayangan saya, Ellen dan Pluto 😉

    DV,
    Sebetulnya ayah juga bangga terhadap anak laki-lakinya, tapi tak diperlihatkan. Makanya saat DV mau pergi ke Aussie, beliau kelihatan berkaca-kaca…ini sama dengan suamiku. Setiap kali dia juga nanya ke saya (tak enak kalau sms langsung), bagaimana kabar anakmu di Amrik? hahaha…padahal udah sama isterinya. Pasti ayah Donny juga begitu.
    Kalau ibu memang lebih ekspresif, baik terhadap anak laki-laki maupun anak perempuan. Saya masih suka memeluk dan mencium kedua anakku jika ketemu.

  10. Si Bungsu sangat mandiri ya. Kalau di keluarga yang paling gelisah, kalau kami belum pulang adalah Bapak. Tapi pada dasarnya kami sekeluarga dekat dengan semuanya.

    @Mbak Imel: Bisa ketiduran di bajaj? 😀

    Yoga,
    Seperti ceritaku, karena ibu juga perempuan, jadi lebih memahami dan mengenal putrinya, serta yakin putrinya nggak apa-apa.

    Tapi bapak, kan memang cenderung mengkawatirkan putrinya, jadi wajar ayah Yoga kawatir.
    Saya juga surprise, ternyata EM bisa ketiduran di bajaj

  11. jadi inget film the father of the bride. tentang ayah yang heboh melihat anaknya sudah besar dan minta menikah, he he he, lucu dan menghibur.

    Iwan Awaludin
    ,
    Saya juga kebayang kalau nanti si bungsu ijin mau menikah, pasti bapaknya nangis, antara sedih, terharu dan gembira….

  12. istri saya sering bilang…pah fania tuh lebih perhatian ma bapaknya kalo saya pulang dia cuek aja tapi kalo bapaknya pulang langsung tepuk tangan….

    yang jelas setiap menatap mata dan wajah fania saya begitu takjub ternyata seperti ini generasi saya…hhmm bersyukur banget

    Omiyan,
    Hahaha…sekarang udah mulai ada tanda-tanda nya ya.
    Wajah Fania mirip siapa, papa atau mama nya?

  13. Maaf Bu, bolehkah ku memanggil Bunda?
    Saat ku baca cerita bunda, aku jadi iri, dulu papa sangat sayang sama aku, masih kuingat dulu, papa sering gendong aku dan hubungan kami sangat dekat, tapi waktu aku usia 6th saat itu aku kelas 2, papa tinggalkan aku untuk selamanya, sedih kalau ingat :((

    kalau lagi sedih kuingin rasanya dekat bunda

    Radesya,
    Boleh aja…lha mamanya DM aja hanya selisih 2 tahun diatasku. Juga mamanya mbak Yoga usianya dibawahku.

    Jangan sedih Desya, bukankah masih ada mama yang menyayangimu? Dan kenangan atas papamu begitu indah, doakanlah beliau setiap engkau selesai sembahyang.

  14. wah .. anak perempuan saya sulung 🙂 yang bungsu laki laki .. gimana ya nanti ….. *imagine*

    Hilal Achmad,
    Pasti menyenangkan, anak perempuan manja pada papanya, sedang anak laki-laki bisa diajak bermain, nonton sepakbola bersama dengan ayahnya.
    Bukankah itu menyenangkan?

  15. nice story, bu. walaupun saya tidak sedekat itu dengan bapak saya.

    Fety
    ,
    Nanti untuk keluarga Fety (suami dan Fety) bisa dibuat hubungan yang dekat antara orangtua dan anak, karena sangat menyenangkan.

  16. Yah begitulah ayah itu. Perhatian banget. 🙂

    Rian Xavier
    ,
    Hmm ya, memang seperti itu…

  17. almarhum papa dan saya seprofesi bu. tapi pada waktu saya kuliah, beliau tidak pernah mau mendiskusikan secara langsung tugas2 yang sedang saya kerjakan. tetapi, setiap saya mengerjakan tugas, beliau tidak pernah mendahului saya tidur semalam apapun saya menyelesaikan tugas. dan pada pagi harinya di atas tugas yang sedang saya kerjakan selalu ada secarik kertas dengan komentar beliau mengenai tugas saya itu. hingga sekarang yang saya sesali adalah tidak menyimpan notes yang ayah buat untuk saya. he is my hero bu. salam

    Ami,
    Karakter masing-masing orang memang berbeda, ada orang yang ekspresif (saya termasuk ini), ada orang yang memberi perhatian secara diam-diam tapi akan selalu mendukungmu. Ayah Ami memberikan kasih sayangnya pada Ami dengan cara berbeda, tapi jelas dia sayang banget sama Ami.

  18. Bapak dan aku bertolak belakang deh kayaknya. Memang dia sangat memperhatikan sekali, tetapi menurutku ide dan tindakkannya tidak logis sama sekali bahkan berlebihan.

    Contohnya: th. 2003 saat ex-suami masuk penjara Polda, dia nyamperi ke Polda di saat aku lagi muter otak. Dia langsung nyodori daftar advokat terkenal di Jakarta yg temannya juga. Padahal aku akan menyekak polisi dengan kemampuanku sendiri, sehingga aku bilang,”Papa ini resek bener deh. Kalo pakek pengacara itu artinya kita punya uang banyak. Lagi pula aku ngak mo perkara ini sampe ke pengadilan. Lebih baek tutup di sini saja. Aku tak punya banyak waktu dan uang. Aku harus bisa menghidupi diriku dan Ines.”
    Tapi bapakku masih ngenyel, katanya uang tak jadi masalah. Sedangkan aku tak mau ngrepoti ortu, merasa udah tua seh. Jadi aku berteriak,”Shut up, would u, pls?”

    Ini membuatnya marah dan pulang ke Purwokerto, yang sebelumnya juga ngedumel sama semua orang kalo aku ini tidak membutuhkan lagi ortu.

    Di sini aku punya alasan yg kuat. Dengan mengebrak polisi seorang diri, aku bisa mengeluarkan ex-ku (org bule) hanya dgn 5jt di Polda Metro Jaya, dia hanya mendekam 6 hr plus filenya aku tarik (aku sudah check lagi). 3 minggu kemudian aku balik ke Perancis utk ketemu klient. Coba kalo pake pengacara, berapa duit yg harus keluar? Maling komputer aja polisi minta 5jt pada pelapor/korbannya.

    Juliach,
    Ada juga antara ayah dan putrinya saling bertentangan, mungkin ini karena perbedaan faham dan beda generasi, tapi saya tetap percaya bahwa ayah menyayangi Juliach, walau cara yang diambilnya menjadikan Juliach tidak suka.

  19. saya jadi membayangkan, bagaimana nanti zia kalau sudah besar. apa saya bakal mudah menghubungi kapan saja? Pasalnya mamanya zia tuh kadang punya tabiat yang sama seperti “si bungsu”, agak susah kalau ditelpon, kadang sampe sebel jadinya. Lho apa hubungannya? … biasalah .. ada pepatah, “anak nggak jauh dari orangtuanya”.

    Mascayo,
    Hahaha…membayangkan si kecil Zia yang sudah mulai mencueki ayahnya. Tapi kadang pada umur tertentu, anak lebih suka bergaul dengan teman-temannya…..dan orangtua tetap harus bisa menjaga agar hubungan tetap dekat, misalnya: saat akhir pekan usahakan waktu untuk Zia, entah cuma mendongeng di rumah, atau mengobrol apa aja…atau juga jalan-jalan.

    Tabiat mamanya Zia seperti si bungsu? hahaha….Saya sendiri kalau bilang suami, hari Jumat mau ke Bandung, naik travel X jam sekian dari Jakarta, sudah bisa dipastikan bahwa nanti akan beberapa kali terima sms atau telepon, hanya untuk menanyakan sampai di sana. Dan kalau nggak ingin di jemput, harus me wanti-wanti lebih dulu, dengan alasan pengin lebih mengenal Bandung. hahaha. Awalnya agak malas juga, tapi akhirnya sadar bahwa itu berarti suami kawatir…dan kawatir ini tanda sayang…..

  20. saya juga ndak tahu nih, bu, entah ini pengaruh “mitos”, latah, atau apa? saya sendiri dg si sulung yang kebetulan perempuan juga memiliki kedekatan dibandingkan anak saya kedua yang cowok. meski saya tak menampakkannya secara terang2an di depan anak2, tapi jujur saja hati saya kok terasa lebih dekat dg si sulung.

    Sawali Tuhusetya,
    Mungkin juga karena selama ini anak perempuan dianggap lebih lemah, dan memang risikonya tinggi, sehingga harus lebih diperhatikan dan dijaga.
    Ini wajar kok, karena bapak pasti sayang dan lebih kawatir terhadap putrinya, dan mungkin juga karena dia sendiri seorang laki-laki, jadi ingin lebih mengenal bagaimana sifat seorang perempuan yang diwakili putrinya.

  21. Jadi kepengen punya anak perempuan bu ed, mengingat anak saya laki-laki, apakah ada yang lucu yang bakal terjadi antara saya dan anak saya?

    hehehehehhe… sangat indah kisahnya… sederhana tapi sungguh bermakna dan menyentuh.

    Gempur,
    Punya anak perempuan dan laki-laki memang beda sekali, entah sifatnya, gayanya, atau apa saja. Saya bersyukur mendapat karunia anak laki-laki dan perempuan, sehingga bisa mengamati perbedaaannya.
    Mudah2an keinginan mas Gempur dikabulkan Allah swt. Amien

  22. Si bungsu nampaknya bisa jadi persona yang reliable ya.. pengertian memang ibunya, dan yakin bahwa si bungsu bisa menjaga ‘trust’ yang diberikan..

    Ayah dan putri adalah sebuah perpaduan yang melazimkan istilah baru – like father like daugther 😀

    Aku jadi rindu banget sama Abigail dirumah nih.. mana jadwal cuti masih lama dan penpanjangan passport dinas ini masih blom kunjung terdengar kapan diterima (sebel!).

    Inspiring indeed!

    Luigi Pralangga,
    Umur berapa Abigail sekarang? Tapi saya melihat, kang Luigi rajin menulis surat, mungkin sekarang surat-surat atau email tsb bisa ditujukan kepada masing-masing (kalau masih kecil, dibacakan oleh mamanya), kecuali untuk Arjuna yang masih kecil. Pasti mereka akan senang sekali, dan nanti mamanya diminta untuk cerita, seperti apa reaksi anak-anak (Alif dan Abigail) saat dibacakan surat dari ayahnya? Saya membayangkan saat si sulung dan si bungsu didongengi, waktu masih kecil dulu, begitu tekun mendengarkan, melongo, atau kadang mata berkedip-kedip…indah sekali kang. Tapi hal ini bisa akang dapat dari cerita nyonya.

    Sabar kang, kalau belum bisa cuti, itu adalah risiko pekerjaan. Semoga kang Luigi selalu diberi kekuatan dan ketabahan, saya bisa membayangkan sepinya di sana, jauh dari orang-orang yang kita sayangi.

  23. klau saya bu.. hubungan ma ayah kurang begitu dekat… mungkin saya dh lama tinggal ma kakak saya kali…

    Zoel,
    Ada beberapa keluarga yang hubungan dengan ayah ibu tak dekat, karena mungkin terpaksa tinggal atau kost di keluarga lain agar bisa sekolah (karena rumah di kampung), tapi tetap hal ini tak membuat ayah tidak sayang pada putranya, hanya cara menyampaikannya yang berbeda.

    Ada yang tak banyak bicara (kalau baca bukunya Andrea Hirata, ayahnya kan digambarkan pendiam), tapi tetap Andrea setelah besar bisa menuliskan bagaimana ayah sebenarnya sayang sama dia.

  24. Sangat senang bisa berkumpul dan bercengkrama dengan keluarga,sesuatu yang saya rindu dan mimpikan selama ini:'(

    Salam kenal Bu…ijinkan saya memasang tautan diblog saya yang sederhana sebagai pembuka silaturahmi dan persahabatan:-)

    Gusti Dana,
    Jika kita tak bisa berkumpul secara fisik, banyak cara agar tetap dekat, saling mengirim sms atau menelepon, kirim surat atau email dll.

    Salam kenal juga, sialhkan kalau mau memasang tautan.

  25. Mbak Enny, saya juga anak bungsu lho (dari 7 bersaudara), tapi seperti bungsunya Mbak Enny, saya sangat mandiri. Kemana-mana sendiri, melakukan segalanya sendiri.

    Tapi saya nggak pernah merasakan dicari-cari orang tua karena belum pulang ke rumah. Ibu saya percaya betul anak-anaknya bisa menjaga diri, jadi kalau pergi ya nggak pernah dicari. Nanti kalau sudah mau pulang kan ya pulang sendiri, begitu kata beliau … hihihi … Ayah saya berpulang ketika saya masih keciil.

    Sekarang pun, kalau pergi suami nggak pernah tanya saya mau kemana, soalnya sudah percaya penuh, isterinya nggak akan ‘aneh-aneh’ … (harus dijaga ya kepercayaannya).

    Tutinonka
    ,
    Benar mbak, stigma anak bungsu atau anak tunggal manja, itu juga tak selalu benar. Kebetulan anak bungsu saya sahabatnya bungsu juga dari tiga bersaudara, teman2 nya banyak yang anak bungsu, dan ternyata mereka sangat mandiri. Staf saya dulu anak tunggal, tapi mandiri banget, jadi saya juga kaget setelah tahu dia anak tunggal. Semua ini adalah karena cara mendidik orangtua serta lingkungan pergaulan yang membuat dia mandiri.

    Suami saya juga nggak pernah meributkan saya akan kemana, sebelum ada hp, saya tetap ngasih tahu mau kemana acara hari ini, agar dia dapat menghubungi jika ada perlu mendesak. Tapi setelah ada hp lebih nyaman lagi, tanpa ngasih tahupun, sudah tahu kemana akan menghubungi jika ada perlu.

  26. Wah, cerita yang ringan namun menyentuh. Kira-kira pengaruh apa ya sampai anak perempuan bisa lebih dekat dengan papanya ya? Padahal secara logika seharusnya dengan ibu, sebab sama ama perempuan.

    Dana
    ,
    Sebetulnya anak perempuan tetap dekat dengan ibunya, tapi kalau hubungan mesra dengan ibunya kan tak perlu diceritakan, karena sudah wajar terjadi. Tapi hubungan ayah dan putrinya banyak kelucuannya, karena cara pandang yang berbeda, atau ungkapan kasih sayang yang kadang menggelikan, tapi jika kita melihatnya secara dewasa, membuat terharu, dan agak geli.

  27. Bentuk sayang seorang ayah terkadang memang menjadi berbeda ketika diejawantahkan.

    Adikku usianya (berapa ya?), oh iya, 30 tahun. Ia bekerja sebagai arsitek juga sedang kuliah S2 Arsitek di ITB. Kedua kegiatan itu bikin sibuk minta ampun. Tapi kalau telat pulang dan hp-nya tidak bisa dikontak, mamaku selalu bingung dan mengontak aku: “Adikmu kemana ya, Niel?”

    Lha? Ha-ha-ha. Kadang aku jadi tertawa. Kok tanyanya ke aku. Tapi aku ya berusaha menelponnya juga. Ikut khawatir.

    Begitu pulang dia tampak tenang-tenang saja. Seperti tidak terjadi apa-apa. Lha dia sudah besar. Dan tau apa yang dia lakukan. Hanya terkadang kita selalu menganggapnya anak bungsu.

    Barulah mama menelponku kalau dia sudah sampai rumah.

    Daniel Mahendra,
    Itulah orangtua, walau anaknya sudah dewasa, tetap saja menganggap anak. Dan mama malah sms sama Daniel, itu sama seperti suami sms atau menelepon saya ke Jakarta, padahal jelas anaknya di Bandung dan sekota dengan si ayah… hahaha

    Mungkin karena papa DM sudah tiada, Mama mu menganggap DM sebagai orang yang pantas diajak berbagi, dan itu menandakan kepercayaan mamamu Niel.

  28. wah…sepertinya saya akna mengalami hal yang sama dengan putri kecil saya ini kelak…

    salam,

    bonar
    http://sihotang407.wordpress.com

    Bonar,
    Karena sekarang sudah punya blog, kelucuan dan kemesraan hubungan ayah dan putrinya nanti bisa dituliskan di blogmu, pasti banyak hal-hal yang menggelitik, dan itu akan menyenangkan jika dibaca putrimu saat besar nanti.

  29. Dekat dengan anak ya laki ya perempuan adalah kenikmatan yang luar biasa ya Bunda..?? 🙂
    hmmmmm….

    Mrpall,
    Betul, anak-anak sangat menyenangkan, baik anak laki-laki atau perempuan. Jika orangtua bisa membina hubungan dengan mereka sampai mereka dewasa, nantinya mereka bisa menjadi sahabat orangtua, dan malah banyak mengajarkan pada kita. Saya sendiri sekarang justru banyak belajar dari anak.

  30. @Bu Enny dan Yoga

    Saya ketiduran di bajaj karena kecapekan pulang praktikum waktu SMA. Tentu saja tidak sampai keterusan hehehe. Tapi kalau dipikir suara bajaj yang ribut dan getarannya lah kok bisa sampai ketiduran kan? hehehe.

    EM

    Ikkyu_san,
    Saya membayangkan EM ini dulu kayak si bungsu. Lha bajaj kan suaranya heboh, mana pake meliuk-liuk, kadang ada polisi tidurpun ditabraknya.

    Kalau kebetulan setelah meeting saya pulang dengan teman (biasa nebeng), saya berhenti di Pasar Mayestik, nanti ganti bajaj ke Cilandak…. sekarang bisa pilih naik Kancil, suaranya halus dan getarannya juga lebih tenang, tak seperti bajaj. Tapi Kancil ini masih sedikit di Jakarta. Awalnya, saya ambil taksi dari pasar Mayestik, lha kok dua jam baru sampai rumah, kalau naik bajaj cuma setengah jam, karena lewat jalan tikus kecil-kecil yang memang hanya muat untuk bajaj….hehehe

  31. Anak saya dua-duanya cewek. Karena masih kecil-kecil masih deket sama kedua ortunya. Saya juga punya hobi sama dengan anak bu Enny, suka ketiduran di angkot.

    Alris,
    Wahh rupanya penggemar tidur di angkot cukup banyak ya…

  32. hehehe..ini persis gambaran saya saat ini..kayaknya akan berlanjut 15 tahun kedepan..saat anak perempuan saya kuliah…

    Boyin,
    Tapi yang jelas menyenangkan kan, mengikuti perkembangan dan banyak kelucuan terjadi karena miskomunikasi karena beda pandangan, atau hanya kekawatiran.

  33. aku juga salah satu anak yang deket sama papa loh bunda, tapi walau demikian papa jarang banget nanya2 kalo aku pulang malam…kalau pun nelp dia cuman nanya:

    sama siapa?
    kemana?
    pulang jam brp?
    bawa kunci gak? 😀

    hehehehehehehehe

    Ria,
    Setiap orang apalagi ayah punya kebiasaan sendiri dalam memberikan perhatian buat anak-anaknya. Ada yang ekspresif, ada juga yang pendiam.

  34. Bundaaa…

    Meskipun aku deket sekali sama Papi (eh, bener lho, teorinya… anak perempuan memang cenderung lebih dekat sama Ayahnya ketimbang Ibunya…), tapi Papi tuh sangat memberikan kebebasan buat putera-puterinya. Seingatku malah Papi tuh nggak pernah bilang, “Nanti pulangnya jangan lewat jam segini…” atau “Nggak boleh pergi, bahaya… perempuan-perempuan kok pergi ke tempat itu…”

    Tapi dengan memberikan kebebasan semacam itu, kami, anak-anaknya, malah takut segan kalau melanggar… Sekalinya melanggar, bisa-bisa parno duluan sebelum pulang… hehehe…. (kata Papi, yang penting jelas tujuannya ke mana dan sudah memberitahu kapan rencana pulangnya)

    Mami sih over protective banget orangnya, tapi sering kalah sama Papi yang cenderung santai abisss… 🙂

    Sekarang, sering rindu juga dengan omelan-omelan Mami itu, Bunda… Seingatku, terakhir diomelin Mami tuh gara-gara aku nggak pulang-pulang dari kampus, keasyikan ngobrol sama GangGila di kantin… hehe…

    Eniwei,
    ketiduran di angkot?
    Lala dong.. hehe… Untungnya, aku turun di terminal akhir, jadi tinggal dibangunin sama supir, beres deh… Asal nggak dibawa pulang ke rumahnya si Supir, sih… Kalau udah begitu sih, nekat aja dia.. Wong aku makannya banyak! haha…

    Lala,
    Senang mendengar ceritamu…suka tidur di angkot juga…..wahh ternyata banyak juga ya, saya pikir dulunya yang suka tertidur hanya anak cowok…

  35. upsss…
    baru nyadar kalau udah ngoceh terlampau banyak di blog orang…
    hihi.. ampun, Bunda… 🙂

    Lala,
    Nggak apa-apa…ini kan memang ajang saling sharing pengalaman, bagaimana hubungan seorang ayah dan putrinya bisa berbagai macam, walau sebetulnya sama-sama dekat…

  36. Iya…paling enak kalo ngomong sama papa. Minta apa langsung dituruti gak pake nanya alasan ini itu. Trus kalo minta anter pasti langsung dianter gak pake gak boleh ini gak boleh itu.
    Cuman kalo ada temen yang maen kerumah dan udah lewat jam malem, papa jadi ngeselin. Mondar-mandir mulu….hihihi
    Meski deket ma papa, kalo ada apa2 selalu aja teteup….mama dilibatin .
    kata Mama : biasa….mama pasti kebagian urusan yang ruwet-ruwet. hehehe

    Prameswari,
    Bagi sang ayah, putrinya masih tetap seorang putri kecilnya. Makanya tak heran dalam setiap acara akad nikah, saat sang putri ini memohon ijin pada ayahnya, bisa menjadi ajang derai air mata, baik bagi sang anak perempuan maupun ayahnya, dan mengimbas pada seluruh keluarga yang hadir.

  37. kedekatan sama anak menumbuhkan semangat kerja. Tak jarang justru anakku yang masih balita nyuruh cepat-cepat berangkat kerja biar tidak terlambat

    Sunarnosahlan,
    Wahh hebat putranya….nanti akan menjadi anak yang penuh tanggung jawab…

  38. saya pun ingin sharing,saya mempunyai putri yang bukan putri kandung saya,anak angkat,setelah sekian lama saya bersama karena sesuatu hal saya harus berpisah dengan putri saya,saya menikah lagi dan mempumyai seorang putri yang lucu.setiap saya ingin bertemu dengan putri saya,selaluistri sya keberatan,itu berlangsung cukup lama,rasa rindu ini tak tertahankan,saya hanya bisa kontak melalui telephone,itupun secara sembunyi-sembunyi,saya sangat tertekan,saya ingin sekali istri saya memahami saya,untuk brtemu dengan putri saya yang lain,saya sering menangis dalam hati,saya hanya berdoa kepada allah semoga allah mempertemukan saya dengan putri saya,amien.

    Christ,
    Semoga harapan bapak dikabulkan oleh Nya

  39. Duh…jadi sirik nih. Hubungan saya dan ayah saya tidak dekat. Mungkin karena beliau dulu sangat super sibuk, sehingga urusan domestik hampir 100% diserahkan kepada ibu saya.
    Tapi meski begitu, saya tetap merasakan dan yakin akan kasih sayangnya.

    Ratna,
    Tapi yang penting Ratna tahu bahwa ayah menyayangi putrinya. Kadang waktu sang ayah tak memungkinkan untuk berdekatan secara fisik terus menerus dengan putrinya.

  40. saya juga dekat dengan putri saya sampai kalo mo rapat rt mesti ngikut, beda ma anak laki2 yang maunya sama mamanya

    Tomyarjunanto,
    Tapi saya sempat diingatkan psikolog, jika anak laki-laki usia 10 tahun ke atas harus dekat dengan ayahnya, melakukan kegiatan laki-laki bersama, seperti : ke bengkel, nonton sepak bola dll.

    Disadari, kedekatan ayah dengan anak laki-laki memang berbeda dengan dengan anak perempuan.

  41. rasa khawatir ya bu.

    Harri,
    Kawatir karena sayang….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: