Oleh: edratna | Maret 3, 2009

Mungkinkah menunda kepikunan?

Apa yang dimaksud dengan pikun? Menurut KBBI, pikun atau linglung atau pelupa, dapat diartikan sebagai tingkah laku (sering lupa dsb nya) yang biasa terjadi pada usia lanjut. Ternyata pikun ini tidak hanya menghinggapi orang yang berusia lanjut, bahkan para eksekutif muda bisa terkena, yang sebagian disebabkan karena stres. Bedanya, kepikunan pada eksekutif muda, jika diberikan perawatan yang benar (sesuai dengan penyebabnya), maka kepikunan ini bisa disembuhkan.

Mengapa saya cerita tentang pikun?
Awal mula blog ini dibuat, antara lain juga untuk mengatasi agar tak mudah pikun. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, kami yang saat itu sedang mengikuti pelatihan kewirausahaan (diadakan oleh perusahaan, untuk mempersiapkan para staf/pejabat yang akan memasuki masa pensiun), diberikan pelatihan, dan salah seorang dokter menyarankan agar kita tetap melatih agar otak kita bekerja, dengan cara menulis, mendongeng, dan hal-hal yang membuat otak bekerja. Membaca ternyata merupakan pekerjaan pasif, yang tidak merangsang otak untuk berpikir, kecuali hasil bacaan tadi diceritakan kembali pada orang lain, atau dituliskan lagi.

Pada saat perjalanan pulang dari Bandung ke Jakarta, saya membeli Intisari di stasiun, maksudnya untuk dibaca selama perjalanan. Karena ketemu teman perjalanan yang mengasyikkan, majalah tadi tak tersentuh. Kemudian karena kesibukan, Intisari tadi baru saya baca belakangan ini. Ternyata ada isinya yang menarik, yang berjudul “Masih Muda kok Pikun”, karangan M.Sholekhudin. Dan karena isinya menarik, saya ingin sharing di blog ini.

Menurut M. Sholekhudin, faktor risiko yang menyebabkan kepikunan datang lebih cepat, walaupun pada umumnya faktor ini dapat dikendalikan, adalah:
•Stres berkepanjangan
•Kurang istirahat
•Konsumsi obat2an tertentu
•Kebiasaan merokok dan minum alkohol
•Diabetes, hipertensi dan hiperkolesterolemia

Kelima hal tersebut dengan perawatan dan konsultasi dengan dokter dapat dikendalikan, dan pasien masih mempunyai kemungkinan sembuh seperti sediakala

Bagaimana menunda kepikunan?
Sebagaimana yang pernah saya peroleh saat pelatihan kewirausahaan, M. Sholekhudin juga menyatakan, bahwa jika kita tidak ingin cepat pikun, maka faktor risiko yang bisa mempercepat kepikunan harus dihindari. Selain itu ada tip yang disarankan agar kepikunan tidak datang lebih cepat, antara lain dengan:

a.Pelajari hal-hal baru

Dengan mempelajari hal baru, maka kita melatih fungsi otak untuk melakukan save. Pada saat kita mengingat kembali hal baru yang dipelajari, kita melatih sel otak untuk melakukan fungsi open. Latihan ini akan membuat otak lebih aktif dan tidak gampang pikun. Sebaliknya jika kita malas mempelajari hal baru, dan merasa nyaman dengan kondisi yang monoton, sel otak kita akan terbiasa hanya fungsi open saja (membuka data). Tidak terbiasa dengan fungsi save (menyimpan ingatan). Padahal, kedua fungsi ini sama pentingnya dalam kaitan daya ingat.

b.Jangan bebani otak melebihi kapasitasnya

Terus mengaktifkan otak dan mempelajari hal-hal baru memang diperlukan, tapi otak juga mempunyai titik jenuh. Jika terus menerus bekerja, kinerjanya akan seperti komputer yang terus dipakai bekerja. Fungsi konsentrasi akan terganggu, karena itu otak juga perlu istirahat.

c.Perbanyak kegiatan interaktif

Kegiatan interaktif akan membuat sel otak terlatih menerima data, menyimpan, mengolah dan membukanya kembali. Kegiatan interaktif ini, misalnya bertemu dan berdiskusi dengan orang lain. Disitu ada proses mendengar informasi, mengolahnya dan mengeluarkannya secara aktif. Kurangi kegiatan yang membuat kita menerima data saja, seperti menonton teve.

d.Terapkan gaya hidup sehat
Olahraga teratur akan memperlancar pasokan nutrisi dan oksigen ke otak sehingga sel-sel otak bagian memori selalu bugar. Gizi yang cukup akan membuat proses regenerasi sel otak menjadi lancar.

Sebagaimana yang pernah diajarkan pada saya saat pelatihan, kita memang tak bisa menghindari faktor usia lanjut dan pikun, namun kita bisa menunda kepikunan tersebut dengan gaya hidup sehat, selalu aktif mempelajari hal-hal baru, banyak berinteraksi dengan orang lain, kalaupun tak menungkinan bisa dilakukan dengan menulis. Dengan menulis, paling tidak kita berusaha mengingat kembali apa yang kita baca, serta berusaha menuliskan kembali dengan gaya bahasa seperti yang kita inginkan.

Aktif menulis di blog, bisa menjadi upaya untuk menunda kepikunan ini.

Bahan Bacaan:

1.M. Sholekhudin. Masih Muda kok Pikun. Intisari, Januari 2009 hal 54-60.
2.Pelatihan Kewirausahaan, untuk para Staf/pejabat salah satu Bank BUMN. Agustus 2006.

Iklan

Responses

  1. Kalau di Jepang bu,
    disarankan untuk main piano, karena katanya syaraf di ujung jari yang penting untuk dipakai terus.
    berarti…. main game , ngeblog, mijit juga termasuk hehhehe

    EM

    Ikkyu_san,
    Saat anak-anak masih kecil, saya suka mengantar mereka latihan piano. Dalam suatu kesempatan, guru piano yang udah kenal dekat mengeluh, ada ibu-ibu yang baru mulai belajar piano…dia (guru anakku) stres, karena tangan di ibu nggak bisa menggenggam (kalau main piano, tangan harus bulat…sedang kalau organ, tangan tak harus bulat). Wahh, saya yang sebetulnya baru punya keinginan ikut kursus jadi batal deh…ntar yang stres malah gurunya…hehehe

    Betul juga, ngeblog kan ujung jari tangannya aktif ya…asal kesepuluh jari dipakai semua…hehehe

  2. Informasi yg sangat bermanfaat Bu. Betul kata Imelda mungkin perlu juga dilengkapi aktivitas yg juga melibatkan fisik, seperti berkebun, ngoprek sesuatu dll. yg mungkin bisa masuk kategori kegiatan interaktif itu ya ?

    Oemar Bakri,
    Saya pernah mendengar penjelasan dua tahun lalu..entah bahan pelatihan nya ada dimana, saya cari nggak ada..lha kemarin kok pas buka Intisari ketemu artikel ini, langsung saya kutip…siapa tahu bermanfaat bagi yang lain.

  3. iya bu… aktif di blog dan rajin blogwalking insya allah bisa menunda kepikunan.
    selain itu, mengisi tts juga bisa menunda kepikunan juga…

    Itik kecil,
    Betul…blogwalking dan memberi komentar, asal komentarnya sesuai dengan apa yang ditulis (tak sekedar komentar). Mengisi TTS membuat kita aktif mengingat…dan katanya kalau lupa, harus dipaksa untuk mengingat terus, jadi jangan dibiarkan berlalu begitu saja. memang akhirnya ingat sih, tapi kadang orangnya yang udah berlalu…hehehe

  4. Kakaknya simbah usianya dah 98 tahun. Entah apa resepnya dalam hal ingatan dan penglihatan kok masih joss. Hanya fisiknya aja yang memang sudah lemah sehingga aktivitas hanya di pembaringan.

    Ya, kalau bisa jangan sampai pikun Bu. Kita perlu mengantisipasinya dengan berbagai aktivitas positif seperti ngeblog ini. Otak harus tetap punya aktivitas sekecil apapun sehingga memori yang tersimpan dapat tetap terbaca.

    Mufti AM,
    Iya, memang nggak enak sih panjang umur, tapi pikun…kasihan yang merawat…dan apakah kita punya seseorang yang merawat? Karena makin lama semua orang makin sibuk..

  5. Menurut yang saya amati adik nenek saya yang rajin solat, sudah diatas seratus tahun masih mengenali saya dengan baik. Dan alhamdulillah sehat-sehat selalu

    Sunarnosahlan,
    Iya ya…orang kampung walau umur tua masih kuat, baik secara fisik maupun daya ingat. Padahal mereka kan tak pernah memanage bagaimana agar daya ingat tak menurun.

  6. mudah-mudahan saya ga pikun sampai usia lanjut..

    Utaminingtyazzzz
    ,
    Saya juga berdoa begitu

  7. yang penting selalu beribadah

  8. terima kasih infonya, bu. karena mungkin sering kurang istirahat, saya yang baru kepala 4 pun sudah mulai banyak pikunnya, bu, hehehe ….

    Sawali Tuhusetya,
    Wahh…iya, saya juga seneng menemukan tulisan tersebut di Intisari, karena bahan pelatihan saya nyingsal entah kemana. Kadang kan kita lupa, ternyata daya ingat perlu dikelola juga.

  9. Wah cerita soal pikun jadi inget nenek di rumah.
    Beliau sudah pikun dan berjuang melawan pikun dengan terus beraktivitas dengan membuat hiasan dinding, membaca, mengisi TTS… 🙂

    Bu, kalau nanti pikun jangan lupakan saya ya *loh*
    Hahahahaha….

    DV,
    Waduhh…iya nih…sekarang aja suka lupa nama orang…ehh tapi ini sih memang sifat, sejak masih muda pun susah menghafal nama orang.
    Kayaknya ga lupa deh sama Donny…lha badannya kan khas…

  10. Masalah kepikunan ini juga terkait dengan tipe kepribadian lho, Bu. Contohnya :

    Bapak saya, 63 tahun, saat ini masih aktif jadi dosen di ISI, jadi pembicara dimana2, masih kuliah S3 di UNS, dan menulis serta narasumber di surat kabar2 besar.

    Kalo dalam alat tes DISC (sering dipake untuk rekrutmen), Caution dan Steadiness-nya tinggi. Alias Melankolis yang Sempurna dengan kekhasan : ingatan akan detil cenderung kuat, menyukai data, dan berpikir sistematis.

    Ah, tapi Bapak saya emang IQnya di atas rata2 sih : 140! *moga nurun ke Wima dan Willa*

    Sanggita,
    Kalau melihat para Profesor, masih mengajar dan daya ingatnya tajam sampai sekitar umur 75 tahun, bahkan lebih, jika mendapat gelar Prof emiritus….mestinya ada banyak orang yang daya ingatnya tetap baik sampai usia lanjut.
    Yang jelas, Sanggita pasti mendapat turunan (warisan) dari kepandaian ayah.

  11. Sebelum pigi ngeluyur aku simpan barang-barang berhargaku tersebar di beberapa tempat, seperti yang biasanya aku lakukan.

    Tapi waktu balik, aku lupa di mana aku taruh buku cek (bank) dan cek liburan anak-anak. Duh aku harus mengingat-ingat dan melakukan tindakan seperti waktu menyembunyikan barang-barangku. Setelah 4 hari baru deh ketemu.

    Aku mulai pikun atau saking rahasianya persembunyian itu ya?

    Juliach,
    Kata dokter di pelatihan itu, kita tetap harus mencoba mengingat kembali dimana meletakkan barang-barang tsb. Dan faktor tak kenal menyerah untuk mengingat kembali ini, akan mengembalikan daya ingat. Dan latihan ini dilakukan terus menerus.

  12. Kepikunan dapat dicegah supaya tidak timbul dini. Di kantor kami, beberapa dosen yang sudah sepuh bersama-sama berdiskusi, bertukar pikiran tentang aktivitas masing, serta mempelajari beberapa teori dan aktivitas fisik yang berguna terkait dengan kepikunan. Menyenangkan sekali. Kondisi psikologis yang baik pasti punya andil dalam menciptakan kondisi jasmani dan rohani supaya tetap sehat

    Prameswari,
    Betul…. melakukan kegiatan interaktif…membuat otak bekerja bergantian antara open dan save.

  13. mudah2an aq masih lama pikunnya..

    ngeri juga ah…mulai sekarang harus rajin ngeblog…

    Elly S,
    Sama Elly…saya juga harus terus melatih diri…rasanya dulu saya selalu ingat tempat meletakkan barang-barang…sekarang mesti diulang-ulang terus. Tapi kalau masalah wajah orang, dari dulu sudah “agak” sulit mengingatnya. Nggak berbakat jadi detektif kayaknya.

  14. Mencegah Pikun ?
    hmmm …
    gimana ya …

    Mungkin … “Care” to others …
    Cukup Istirahat …
    Cukup Rekreasi …

    @EM …
    Perkara Main Piano mencegah pikun atau tidak ???
    hhmmm entah ya … hehehe
    iya kali …

    NH18,
    Jadi…kalau pandai main piano seperti trainer, selain hati riang juga akan mencegah kepikunan.

  15. wah ma kasih infonya Bu ..
    kalo mamah saya sih suka sering nganjurin yang ke-3 (c.Perbanyak kegiatan interaktif), mangkanya beliau punya niat abis pensiun ntar walo udah 66 masi pengen teruss ngajar .. minimal banyak membaca dan uptodate sama kejadian2 terkini

    Aldi,
    Memang kegiatan interaktif ini yang perlu

  16. apakah lupa termasuk tanda2 kepikunan? kalau begitu pikun tidak mengenal usia dong ya buw?

    saya termasuk orang yg pelupa, untuk mengatasinya salah satunya adalah dengan tidak menempatkan barang2 secara sembarangan, kalau perlu di tempat2 khusus dgn cara khusus 😉

    Aprikot,
    Sebetulnya, pikun adalah untuk orang usia lanjut, tapi terkadang kepikunan datang lebih cepat.
    Jika pelupa, karena banyak kesibukan…buat agenda, dan semua kegiatan dicatat….dan otak harus dilatih terus untuk mengingat….(ini kata dokter nya lho)

  17. Kata mamaku, rutin membaca Quran dapat mencegah kepikunan…

    Daniel Mahendra,
    Yup…setuju

  18. Mengiyakan mamanya DM Bu.

    Yoga,
    Yup…setuju…

  19. terima kasih. ke-4 cara itu akan saya praktikkan. soalnya sudah mulai pikun ringan nih…

    MT,
    sama-sama

  20. Semoga kepikunan itu tidak pernah menyapa Bu 🙂 Saya setuju ngeblog bisa menghambat kepikunan. Semoga 🙂

    Coretan pinggir,
    Betul…apalagi yang pakai menggambar kan…butuh ide lebih dulu, lha itu berarti mengaktifkan otak…

  21. doping vitamin bisa membantu gak ya ?

    Ariefdj
    ,
    Hmm…tak tahu…dari yang aku ikuti di pelatihan, yang penting kegiatan interaktif, yang memaksa otak bekerja untuk mengingat.
    Minum vitamin pasif kan? Karena membaca saja dianggap masih pasif, juga menonton TV

  22. kepikunan adalah fenomena alami….tingkatannya sangat ditentukan oleh potensi fisikdan mental setiaporang…..derajad kepikunan termasuk cepat lambatnya sangat ditentukan oleh pengalaman hidupnya,pemaknaan hidup dan kehidupan,pandai bersyukur dan berdoa,banyak berinteraksi sosial, dsb….juga oleh efektifitas pelatihan dalam memaknai ingatan-ingatan….konon ada salah satu cara yang bisa memperlambat kepikunan yakni sebelum tidur sebaiknya kita mengingat kejadian-kejadian selama 24 jam sepanjang hari terakhir…..kalau ini dilakukan secara teratur maka daya ingat akan selalu dicharge…..makanya tidak aneh ada yang sudah berusia 80’an bahkan 90’an namun daya ingatnya masih jempolan…..mungkin dia melakukan hal itu….

    Syafri Mangkuprawira,
    Betul pak…sekitar tahun 90 an, di kantor ada pelatihan untuk manager ke atas, diantara instrukturnya ada yang berprofesi sebagai psikiater…saya lupa pelatihan apa, kok ada gabungan psikolog, ekonom, dan psikiater, tapi tentang SDM.
    Salah satu psikiater mengajarkan seperti bapak, sebelum tidur kita mengingat apa yang kita lakukan hari ini, dan itu merupakan introspeksi….dengan melakukan itu setiap kali, kita mencoba merenung apa yang kita lakukan sudah tepat. Percaya nggak pak, awalnya saya bahkan sulit mengingat apa yang saya lakukan berurutan dari pagi sampai malam,….

  23. tadinya dlm waktu dekat ini si Sulung (6 thn) mulai masuk les piano atas anjuran dokter untuk meningkatkan motorik halusnya dan mengendalikan motorik kasarnya yang berlebihan. Tapi baca info dari Ikkyu_san, kayaknya saya harus ikut les Piano juga nih .. maklumlah mulai pikun untuk detil , tapi urusan “sakit hati” tetap inget .. hehehe “Dendam- Mode ON”

    Titin,
    Pelatihan piano bagus kok, kedua anakku, diluar jadual sekolah, seminggu sekali kursus piano.
    Tapi saya nggak berani ikutan, kawatir gurunya stres ngajar saya, yang mungkin nggak berbakat seni ini.

  24. Tulisan yang sangat bermanfaat Bunda, Terimakasih.

    Yulism,
    Sama-sama, saya juga diingatkan oleh tulisan yang ada di Intisari, makanya saya tulis lagi disini, siapa tahu teman2 tak sempat baca tulisan di intisari tersebut

  25. Menurut saya, salah satu cara untuk mencegah pikun adalah sering2 bertemu dengan teman2 lama, teman dimasa kecil, teman sekolah SD, SMP, SMA sampai kuliah, melalui acara2 reuni atau event-event lainnya. Cara ini bisa menstimulasi otak untuk mencari data2 lama di memori, mengingat-ingat kembali hal2 yg pernah lupa (nostalgia), sehingga otak disegarkan kembali (refreshing). Begitu kira2, menurut saya lho…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: