Pengarang dan bukunya

Jika anda suka membaca buku, terutama buku karangan penulis tertentu, pasti anda akan senang sekali jika sempat berkenalan dengan penulisnya. Saya suka membaca buku, namun jenis bukunya berubah-ubah tergantung “mood“. Selain buku wajib yang terkait dengan buku pekerjaan, buku lainnya adalah buku yang bisa membawaku ke alam khayalan. Saya suka buku detektif, dari zaman Agatha Christie, Perry Mason, Sherlock Holmes, dan juga buku karangan John Grisham. Tapi saya juga suka buku yang menceritakan keseharian, yang juga menyinggung perilaku atau budaya manusia pada kondisi lokasi cerita tersebut, seperti bukunya Nh Dini. Juga buku petualangan yang pada umumnya berakhir happy end, seperti buku karangan Sidney Sheldon, Sandra Brown, Dan Brown…bahkan juga buku roman seperti terbitan Harlequin.

Nah, bagaimana dengan buku sastra? Wah, ini bacaan wajib, apalagi ayah saya seorang guru sastra, dan terdapat perpustakaan kecil dirumah kami. Dari buku Siti Nurbaya karangan Marah Rusli, pengarang seperti: Nur Sutan Iskandar, Abdul Muis, Sutomo Djauhar Arifin, Sutan Takdir Alisyahbana, Pramoedya Ananta Toer, Hamka dan lain-lain, bukunya lengkap di rumah ayah kami.

Belakangan saya juga tertarik membaca buku novel sejarah seperti karangan Langit Kresna Hariadi, atau karangan E.S Ito. Atau buku karya Andrea Hirata, maupun karangan Clara Ng. Terlihat sekali, penyebaran jenis bacaanku nggak jelas, jadi sepertinya saya tak punya kekhasan dalam membeli buku. Dan belakangan ini, kalau beli buku, sering terpukau oleh gambar sampulnya, yang berakibat membacanya tak sampai selesai, oleh karena itu sekarang saya lebih hati-hati lagi dalam membeli. Buku manis vampir vegetarian karangan Stephenie Meyer pun saya punya, dari Twilight, New Moon, Eclypse dan Breaking Dawn. Dan buku tersebut sekarang lagi beredar, untuk dibaca secara bergiliran oleh si bungsu dan tantenya.

Sayangnya, kok saya merasa, pembacaan buku sastra pada saat anak-anakku sekolah, kurang digalakkan. Ternyata perasaan ku ini ada benarnya, jika setiap kali membaca tulisan pak Sawali, guru sastra yang juga seorang blogger. Saya sendiri akhirnya juga tidak terlalu mengikuti buku sastra terbaru, malahan buku karangan Ayu Utami baru Saman dan Larung yang punya dan telah di baca, lainnya belum sempat beli. Kadang buku itu menumpuk begitu saja, menunggu pemiliknya punya waktu untuk membaca. Biasanya saya membaca menjelang tidur, setelah melakukan kegiatan penuh sehari-hari, akibatnya sering teridur sebelum selesai membaca, menyebabkan membaca satu buku kadang memerlukan waktu lama.

Ngeblog dan mengenal dunia maya, membuat saya juga ketemu para penulis (pengarang) melalui dunia maya. Seperti mbak Tuti Nonka yang mulai menulis sekitar umur 17 an tahun (waduh saya ngapain ya umur segitu?), terus pak Sawali yang juga telah menerbikan kumpulan cerpennya, serta Lala yang juga telah menerbitkan buku, yang awalnya di tulis di blog. Tak sengaja saya juga berkenalan, dengan seseorang yang selama ini saya kenal sebagai seorang jurnalis, dan seorang editor, yang tinggal di kota Bandung. Perkenalan ini, awalnya membuat saya pengin ikutan mencoba menulis, yang akhirnya keinginan tersebut harus saya buang jauh-jauh, karena saya sadar kompetensiku bukan disitu.

Beberapa minggu lalu, dalam suatu pertemuan di rumah Imelda (blogger yang selama ini tinggal di Tokyo), saya mendapatkan kenang-kenangan buku dari teman ini. Dan biasalah, namanya kopdar, kami begitu sibuk mengobrol dan makan (setiap kali ketemu selalu ada makan-makan), jadinya malah kumpulan buku tadi baru sempat saya lihat di rumah. Dua buku diantaranya merupakan buku karangan PAT, pengarang yang memang dikagumi bung DM ini. Dan satu bukunya…… adalah karangan DM sendiri, yang berjudul “Selamat Datang di Pengadilan“. Saya kaget, tak menyangka, walau memang sudah mendengar kalau DM adalah pengarang, tapi nggak menyangka kalau malam itu, buku yang diberikan padaku adalah karangannya sendiri. Ahh, andaikata tahu, saya pasti minta tanda tangan penulisnya….makasih ya Daniel.

Selamat Datang di Pengadilan
Selamat Datang di Pengadilan

DM telah menulis sejak SMP, cerpennya pertama kali dimuat di sebuah koran di kota Jember, saat DM masih duduk dibangku kelas 3 SMP. Dan “Selamat Datang di Pengadilan” adalah buku kumpulan cerpen pertamanya, yang diterbitkan pada bulan September 2001, pada saat DM berumur 26 tahun. Wahh benar-benar prestasi yang hebat.

Pada suatu siang yang sejuk, karena Jakarta hujan terus, saya mulai membolak balik cerpen karangan DM. Saya termasuk orang yang sulit menangis jika membaca novel, dan pernah sekalinya sedih dan keluar air mata saat membaca “Message from Nam“. Namun kali ini, cerpen DM, yang berjudul “Epitaph“, sukses membuat saya tak terasa menitikkan air mata. Saya pernah mendengar cerita, konon cerpen ini dekat dengan pengalaman pribadi DM. Cerpen yang berjudul “Bangsaku yang Fasis” mengingatkanku pada ospek mahasiswa yang suka memakan korban. Cerpen “Dia yang telah Pergi“, menggambarkan miskomunikasi antara generasi tua dan generasi muda (antara ayah dan anak lelakinya), diceritakan dengan menarik. Kadang perbedaan persepsi menyulitkan komunikasi, walau sebetulnya antara ayah dan anak lelakinya saling menyayangi. Saya tak akan menceritakan semua cerpen di bukunya DM ini, dan sebetulnya apabila ada yang menginginkan kumpulan cerpen itu, kemana harus membelinya DM? Saya merasa bahagia merupakan orang yang dipercaya menerima kumpulan cerpennya, yang menceritakan kondisi lingkungan kita sehari-hari, dan tetap terus terjadi sampai hari ini.

Iklan

28 pemikiran pada “Pengarang dan bukunya

  1. ibu, apa saya komentator pertama?
    wah, ternyata tulisan kita senapas nih, bu, soal kecenderungan membeli dan menumpuk buku tapi tak segera dibaca. kok bisa ya?

    asyik banget dapat oleh-oleh buku. saya paling senang dapat oleh-oleh buku, walapun mungkin tak segera dibaca, tapi bisa disimpan buat dibaca saat senggang.

    saya juga nggak punya kecenderungan untuk buku bacaan, nano-nano. dulu memang saya senang novel suspense detektif, penulis favorit saya sama seperti ibu. belakangan kenal patricia cornwell dengan tokoh dokter forensik wanitanya yang terkenal, dr. kay scarpetta. buku ini sukses jadi kegemaran saya begitu novel pertama, dan kemudian saya usahakan kumpulkan selama di sydney.

    makin ke mari jenis bacaan saya mulai nambah ragamnya. beberapa buku sastra sudah saya kenal sejak SMP, tapi sekarang penulis indonesia memang banyak yang bagus-bagus. saya merasa ketinggalan banyak banget. novel ayu utami juga baru punya “saman” dan “larung”, itu pun masih menunggu gilirannya.

    saya juga kebagian buku “selamat datang di pengadilan”, ibu. ternyata membaca buku tulisan seseorang yang kita kenal memberi kesan tersendiri yang unik, campuran bangga dan geli gitu. hehe!

    wah, saya malah posting di sini, bu. abis klik banget sih.

    Marsmallow,
    Saya sebetulnya tak bakat bikin resensi, kawatir diketawain orang-orang apalagi yang memang pandai dalam dunia tulis menulis. Tapi membaca buku DM, memang antara geli (apalagi lihat wajahnya yang masih “culun” itu…hihihi)…tapi penasaran.
    Kuakui dia berbakat menulis, dan isi tulisannya masih sesuai dengan kondisi sekarang…..
    Dan juga membuat bertanya-tanya…adakah bukunya yang lain?

    Iya nih…Marsmallow…pertamax…..hehehe

  2. Saya sendiri termasuk orang yang kecenderunganya membaca buku yang terkait sejarah. Apalagi buku-bukunya Pramoedya, hampir tak pernah saya lewatkan. Beliau salah satu inspirator saya dalam ngeblog. Karya Seno Gumira Ajidarma juga lumayan banyak menghiasi rak dinding kamar kost saya selain buku-buku Arswendo Atmowiloto dan Romo Sindhunata.

    Preferensi saya selalu ke sejarah, budaya, dan politik Indonesia. Kalau karya luar sih saya paling bisanya menikmati sastra Asia Timur (Tiongkok, Jepang) aja.

    Gun,
    Ada yang lupa, saya juga punya beberapa bukunya Sindunata. Buku Pram, baru belakangan ini saya beli lagi tetralogi satu set, dulu yang dua pernah beli dan baca nyaris tiga puluh tahun lalu. Maklum baru belakangan ini, setelah pensiun, punya waktu untuk menikmati membaca. Namun kadang masih ada pekerjaan lain, walau tak harus tiap hari ngantor, karena bisa melalui email dll.

    Buku-buku karangan Pearl S. Buck, sering menceritakan kehidupan di Asia Timur dan budayanya, saya juga punya dan senang karena bahasanya halus. Arswendo udah lama nggak beli, mungkin setelah ini…duhh biar punya waktu tetap aja nggak ngejar ya bacanya…

  3. hello.. salam kenal ya..
    aku indra..
    ku berasal dari palembang..
    aku senang banget membaca blog kamu..
    mogaa kita bisa menjadi teman ya

    Indra,
    Salam kenal juga…..

  4. Saya mengenal mas Daniel lewat toko buku dan penerbitannya ‘Malka’ yang saya add lewat salah satu situs pertemanan. Meskipun saya add, saya sama sekali gak ngeh kalo account mas Daniel dan Malka itu milik satu orang… hehehe

    Lewat obrolan, akhirnya saya tahu bahwa mas Daniel benar-benar meneruskan kebiasaannya menulis saat SMP. Dulu di SMP dia dikenal orang punya cerita bersambung dalam majalah SMP. Tentu saja saat itu saya tak bermimpi bisa berteman dengan sang penulis yang terkenal itu. Hehehe.

    Bertemu lagi dengannya pada sebuah kesempatan th 2007, dan mas Daniel memberi saya setumpuk buku (hmm jujur saya kurang dalam membaca tulisan fiksi, saya cenderung menikmati tulisan tentang biografi seseorang) termasuk buku yang sedang ibu resensikan ini. Itupun selesai dengan waktu yang lama (mas Daniel sampe mengira saya tak membacanya krn saking lama saya membicarakannya lagi). Saat membacanya, dan membandingkannya dulu pada waktu tulisan di SMP ada garis lurus yang saya tarik, bahwa mas Daniel jujur melihat dan menulis sesuatu dengan tegas. Kalau karakter itu agak berubah sekarang, mungkin karena ditambah dengan kematangan dan pengalamannya dalam hidup. Aduh Bu, maaf jadi panjang komentarnya

    Btw….foto mas Daniel itu emang lucu banget Bu. hehehe

    Prameswari,
    Setiap orang mempunyai jenis buku yang disenangi. Mungkin karena ayah berkecimpung pada bidang sastra, sejak kecil saya menyukai bacaan sastra, tapi tetap tak memahami yang namanya puisi dan lain-lain. Setelah sekolah, di SMA ada perpustakaan, disini selera bukunya bertambah, dengan meminjam buku yang ada di perpustakaan. Kalau saat mahasiswa, nyaris jarang beli buku di luar materi kuliah (maklum biaya hidup mahal), hanya sesekali saja beli buku sendiri, itupun yang menunggu unuk membaca sudah banyak banget, maklum hidup di kost2an.

    Memang foto DM “culun” banget…..hehehe

  5. mangkum

    Ah saya suka iri sama yang hobi baca buku kek gini, soalnya baru mulai baca buku pas lulus SMA. Emang di keluarga saya ga biasa baca buku sih. Buat pangan, sandang dan pendidikan aja udah engap2an apalagi buat beli buku. Tapi syukurlah sekarang saya suka bawa pulang buku ke rumah, jadi pada baca deh mereka… πŸ˜€

    Barusan dari Islamic Book Fair, cuman beli buku tulisan istrinya mas Pepeng, lagi bokek sih… Dapet tandatangannya juga, tapi nanti aja deh dibacanya cuz masih banyak yg masih outstanding… hehehe… 8x

    Mangkum,
    Dulu diperpustakaan SMA tempatku belajar, banyak sekali buku bacaan, dan teman2ku tak banyak yang “gila” membaca sepertiku. Jadi saya senang sekali bisa meminjam berbagai buku, saingannya sedikit.
    Pertama kali beli bukusendiri saat SD, uang yang seharusnya untuk naik becak (karena ada acara di alun-alun dan rumahku dipinggiran kota), saya pake beli buku…dan saya jalan kaki bersama teman-teman. Setiap lelah, duduk duluan, membaca buku…dan sampai rumah, bukunya udah tamat…hehehe.

  6. Sebetulnya saya suka buku-buku sastra. Bahkan buku yang pertama kali “sengaja” saya beli waktu SMP dulu adalah buku Aku -nya Chairil Anwar. Dulu waktu Smp juga suka iseng-iseng bikin cerpen ingin ikut-ikutan jadi penulis gitu .. cuman yang bener-bener jadi penulis yaa Mas DM itu kali yaa.
    Sekarang beli buku seringnya ke buku-buku teknis, motivasi, buku-buku islami.
    Nanti tak cari bukunya Mas DM ah ..
    apa request khusus aja yaa ?
    Hallo eM .. Mas DM… bagi bukunya dong πŸ™‚

    Mascayo
    ,
    Kayaknya memang perlu request khusus, karena bukunya DM tak bisa saya cari di toko buku….atau saya yang tak lihat?

  7. liswari

    Mengenai Buku?? kayaknya dulu waktu jaman SMU lebih sering membaca daripada skrng (minimal 2 buku seminggu), entah kenapa waktu ku makin sulit dicari.. mungkin karena aku kuliah di fasilkom yg kayaknya nyiksa banget tugas2nya dan selain itu kerja part time ngajar jadi kayaknya makin gak pernah megang buku lain selain buku2 kuliah..:-p

    Kalau skrng sudah sedikit mendingan ada beberapa buku yg bisa di selesaikan, seperti biografi nya J.K Rowling, The alchemist, dan beberapa buku ringan.. Aku kayaknya pecinta buku biografi, entah karena semangat perjalanan hidup seseorang membuat aku bisa jadi ikutan semangat dan gak cepet putus asa yah..

    Kemarin baru beli buku kumpulan tulisan2 tangan Abraham Linconl, pas beli nya semangat banget mau baca tapi belum kebaca sampai skrng :-p.. si gendut yg udah nyelesein baca kayaknya… gapapa dech nanti habis nyelesein tugas programming baru baca.. mudah2an ada waktu luang…

    Lis,
    Bisa membaca buku adalah suatu kemewahan (yang saya punyai sekarang). Dulu…pengin beli, uang sangat terbatas. Setelah bekerja, cukup uang untuk membeli buku, tapi waktu bacanya yang kurang…..dan bacanya hanya mau tidur, jadi banyak buku menumpuk tak terbaca.
    Tahu nggak, apa yang saya tulis di blog, seperti bukunya HK, itu diberikan sekitar enam atau tujuh tahun lalu dari penulisnya sendiri…dan baru sempat dibaca dan di review setelah punya blog ini. Jadi justru setelah pensiun, saya punya banyak waktu untuk membaca, tinggal mendisiplinkan diri, agar bacaannya bisa bervariasi, serta yang bisa di sharing disini untuk yang lain.

  8. saya kebetulan sangat telat mencintai buku. tak banyak juga buku2 yang saya baca. tetapi saya sangat menyukai pemikiran gus dur .. gitu aja kok repot :))

    Mantan Kyai,
    Setiap orang memang punya referensi buku apa yang menarik untuk dibaca

  9. saya baru pertama kali ketemu pengarang buku yg saya punya ya pas PB2008 kemarin.

    ketemu Trinity, si penulis The Naked Traveler, yang demi mendapatkan tanda tangan dan foto-foto dengnnya sampai lari-lari dan teriak-teriak.. hehehe.. norak banget lah!

    la buku saya kebanyakan buku komputer smua. makanya saya ndak bisa nulis bagus. logikanya logika mesin. hwakakaka..

    Zam,
    Saya juga punya lho buku “The Naked Traveler“…asyik bukunya….
    Siapa bilang Zam tak bisa menulis, aku suka gaya menulismu, apalagi tentang cerita perjalanan…dan engkau selalu memasukkan pula unsur budaya masyarakat setempat.

  10. saya baca buku juga mood2an bunda..
    kalau lagi pengen baca, bacaaa teruss…kalau ngeblog..ngeblogg terus.. πŸ˜€

    Puak,
    Itu wajar kok…saya lagi banyak kerjaan, tapi dari pagi malah BW terus, hehehe
    Zzzzt…masih ada libur dua hari untuk menyelesaikan kerjaan.

  11. hoho. jadi keinget draft novelku. hwehe…

    v(^_^)

    yah, anak muda sekarang kebanyakan lebih suka sastra hasil terjemahan luar, bu.

    Farijs van Java,
    Sebetulnya enggak juga…anak-anakku tetap suka cerita budaya Indonesia….
    Tapi juga membaca yang dari luar, agar wawasannya juga menambah

  12. aku juga suka membaca. sukanya sih novel-novel..asik bisa berimajinasi begitu. masih ada satu novel yang tertumpuk belom selesai dibaca. penasaran, mau cepet-cepet abis. eniwei, salam kenal ya bu. blogwalking sabtu pagi nih.

    Nie,
    Salam kenal juga, makasih telah berkunjung

  13. Mas Kopdang

    saya suka buku “how to”, sejarah, dan buku kreatif yang tata bahasanya ngalor-ngidul tapi substansinya “kena”.

    πŸ™‚

    Mas Kopdang,
    Ya, tiap orang punya selera masing-masing, justru itu yang menarik

  14. aku udah dapet bukunya lala…blom sempet dibaca…karena ternyata memang aku juga punya banyak buku yg masih di platikin blom dibuka πŸ˜€

    ohya bunda aku baru selesai membaca dwiloginya Fira Basuki, keren bgt…next mungkin membaca bukunya lala…terus lanjut ke darren shan…huhuhuhuhu….liburan 2 minggu gak sempet baca buku…dasar ria pemalas!

    Ria,
    Hayooo..jangan baca buku yang lain terus…prioritaskan thesismu….

  15. Aku lom dapet bukunya DM. Pengen :)♦

    DV,
    Wah keterlaluan itu…padahal kenal Donny udah lama sekali…
    Minta aja dikirim ke Sidney, bisalah DM mengirimnya….

  16. Beruntung seklai bu edratna bisa berkenalan dgn para penulis buku…

    Put sendiri hanya kenal satu orang penulis…

    Putri,
    Hehehe…malah sebelumnya saya tak tahu siapa DM sebenarnya, karena kenalnya melalui dunia maya, hanya saling blogwalking ke rumahnya

  17. dari para komentator ini, kok mas DM nggak muncul ya? hehehe.

    dulu waktu masih di Jogja, saya agak sering ke Toga Mas. lumayan kan kalau bisa beli buku baru dan dapat diskon. tapi sekarang di jakarta ini, saya agak “ngempet” beli buku. nanti saja kalau di Jogja, sekalian ngubek2 ke Toga Mas dan Social Agency.

    membaca buku memang mengasyikkan. dan saya selalu membawa satu buku di tas. lumayan buat teman di jalan atau pas sedang menunggu…

    Krismariana,
    Hmm …membaca buku memang membuat waktu tak terasa…..
    Di Jakarta, saya juga nggak setiap minggu ke toko buku, kalau dulu iya, sekaligus mengantar anak-anak saat masih kecil latihan piano, dan pulangnya mampir ke toko buku.
    Kalau sekarang, sekaligus beli banyak….nanti lamaaa nggak kesana lagi.

  18. ariefdjβ„’

    kira2, ide yang bagus kali ya kalo beberapa diantaranya di publish di blog, tapi kudu dengan se-izin mas DM dulu kali ya.. *sight*

    Ariefdj,
    Kalau baca blognya DM, ada beberapa yang dibahas lagi…seperti epitaph…malah lebih detail.
    Silahkan menengok kesana

  19. Treante

    penulis dan bukunya? saia aja baru punya satu novel–kebanyakan minjem juga dan kebanyakan yang aku baca yang karya luar πŸ™‚

    Treante,
    Sebelum punya uang sendiri, saya baca bukunya juga pinjam kok. Kadang uang saku dipakai beli buku, walau terpaksa menahan lapar dan jalan kaki, agar bisa beli buku.
    Dan sejak SMP, di sekolah ada perpustakaan, dan ternyata yang suka pinjam buku nggak banyak…jadi ya seneng banget, saingan sedikit

  20. utaminingtyazzzz

    Saya cari bukunya DM juga ahhhh

    Utaminingtyazzzz,
    Saya sulit menemukan di toko buku Jakarta…coba hubungi DM aja , mungkin di Bandung ada

  21. Memang keluarga yg suka membaca ya bu?
    Jadi bertekad menerapkan tabiat “membaca” juga jika kelak sudah “berkeluarga” hehe…

    Si bulet,
    Memang enak kan?Asyik kan membaca…si vampir vegetarian udah sampai mana? Jangan kuatir…ada banyak buku bacaan di Jakarta

  22. Saya sangat kurang dalam membaca buku, jika membaca kebangayak biografi atau sejarah. Dan itupun tidak banyak.

    Selamat mambaca Bunda, Thanks

    Yulism,
    Biografi dan sejarah juga menarik lho, kita jadi tahu perjalanan hidup seseorang, betapa mereka harus jungkir balik dulu sebelum meraih kesuksesan.

  23. tini

    betul bu, sangat menyenangkan bila kita mengenal sang penulis dan akhirnya kita selalu menanti buku2 berikutnya.

    perihal membaca, sering bu kalau mau tidur bu sampai ketiduran dan akhirnya …. pg bukunya dibawa lg buat baca di jalan menuju kantor….karena kebayakan baca di rumah anak-anak komplain bu mama nih baca melulu begitu katanya bu, maklum anak2 kepinginnya kita selalu memprhatikannya.

    Tini,
    Saat anak-anak kecil, saya hanya membaca buku, jika anak-anak udah mendapatkan dongeng dan tidur. Setelah mereka makin besar dan bisa baca sendiri, saya menemani mereka membaca sambil ikutan membaca, dan risikonya setiap kali mendapat pertanyaan dari mereka.
    Memang…saat anak-anak masih kecil, kesibukan kita hanya seputaran mereka, sosialisasi harus dibatasi…tapi tak terasa mereka cepat besar…bahkan kita kangen dibuatnya, untuk bisa memeluk saja makin sulit…apalagi jika sudah berjauhan.

  24. wah ketinggalan komentar di sini.

    Ya Bu, saya juga baru dapat bukunya DM, dan belum sempat baca. Nanti di Tokyo, saya akan baca deh.

    bener tuh fotonya masih culun yah….
    skr? hmmmmm (biar dijawab oleh yang muda muda aja deh hihihi)

    EM

    Ikkyu_san,
    Iya…fotonya culun banget. Saya sudah melahap dua buku dari tiga buku yang dikasih oleh DM. Itupun gara-gara badan kurang sehat, jadi berhenti sejenak untuk istirahat sambil baca buku.

  25. Fotonya? Culun banget.

    Tulisannya? Hm.. kerasa emosinya meledak-ledak nggak sih, Bunda.. Penulisnya lagi marah-marah saat nulis.. hihihi…
    Agak terbirit-birit juga ngejar emosi Mas DM (ngapain juga dikejar, La..)

    Aku paling suka cerita tentang asisten dosen dan percakapan malaikat maut yang hendak mencabut nyawa tapi diulur-ulur terus waktunya…

    Sumpah!
    Buku itu adalah teman yang menyenangkan sepulang dari Jakarta menuju Surabaya!

    Lala,
    Fotonya memang culun banget
    Emosinya? Menurutku wajar, saya sendiri mengalami pergolakan pada saat umur-umur seperti itu…dan tulisannya masih banyak yang sesuai dengan kondisi sekarang.

  26. Bu, baru mampir. Hehe. Perjalanan selalu menyita blogwalking.

    Weh, sampai diulas begini. Jadi malu Hihihi.
    Tapi makasih, Bu. Ternyata sungguh Ibu baca bukunya πŸ™‚

    Kok sampai menitikkan air mata tho, Bu…

    Sekali lagi ribuan terima kasih… πŸ™‚

    Daniel Mahendra,
    Hehehe….ketiga buku udah dibaca semua…..dan semuanya membuat murung.
    Jadi setelah itu perlu ganti suasana dengan membaca buku yang bisa tersenyum-senyum. PAT (4 buku) juga butuh pemikiran dan bikin murung….bahasanya bagus, tapi jadi ikutan ke situasi murung.

    Kumpulan cerpenmu bagus DM, adakah bukumu yang lain?

  27. donal

    hi..ibu..mau kenalan..ini pertama kali saya masuk blog ibu..langsung kepincut..tulisannya menarik..

    Klo teman2 pada komentar soal baca buku..saya jadi sedih..satu tahun yang lalu, waktu masih kuliah, saya paling suka baca buku sastra, novel yg paling berkesan yg pernah saya baca “ronggeng Dukuh Parung”. Wah..detel bangat penggambarannya..Tapi sekarang..hobby membaca tu harus tersisih karena caek kerja, padahal udah beli buku..kasihan bukunya ga dibaca..Untuk buknya DM kayaknya perlu juga itu, apalagi setelah baca tulisan ibu.
    Mat kenal semuanya ya..

    Donal,
    Kalau udah capek kerja, kan ada hari libur, saya biasanya memuaskan membaca buku saat libur atau saat mau tidur. Apalagi saat kerja, anak-anak masih kecil dan butuh perhatian, waktu membaca buku memang berkurang. Tapi kita kenyataannnya bisa membaca buku yang terkait bidang pekerjaan, kalau nggak seperti itu, karir juga akan berantakan. Jadi, tentu saja, tinggal prioritas kita kemana….

    Bagi penyuka buku, selalu ada waktu yang disisihkan setiap hari walau sedikit, karena di dalam tas selalu bisa ditambah buku…kadang dari kantor kita menunggu kendaraan, menunggu jemputan di loby dsb nya…yang saya lihat banyak teman-teman menunggu dijemput pasangan sambil membaca buku.

  28. Saya sukaa sekali buku anak2, dan pengarang favorit saya itu Enid Blyton, pengen ketemu langsung ama sang penulis buku2 kesukaan saya itu tapi sayang, untuk yang satu ini ngga mungkin 😦

    Pengalaman menarik ya, Bu, bisa bertemu langsung dengan sang penulis buku yang kita baca πŸ˜€

    Indah,
    Saya juga suka buku karangan Enyd Blyton, terutama “Lima Sekawan”.
    Buku-buku itu bacaan wajib saat anak-anak, walau sebagai orang dewasa tetap saja menyenangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s