Unit Pelatihan yang terintegrasi, mendukung peningkatan kualitas SDM dalam membangun sistem keuangan mikro

Pengelolaan sebuah sistem keuangan mikro sebagai penjelasan pada tulisan sebelumnya, keberhasilannya tergantung pada staf-staf yang mendapatkan pelatihan yang baik serta memiliki motivasi yang tinggi. Bank secara berhati-hati perlu merencanakan insentif bagi staf yang menjalankan program-program pelatihan keuangan mikro yang dirancang secara khusus bagi staf unit Bank, dan para pengawas mereka. Investasi dalam Sumber Daya Manusia ini, berperan secara signifikan pada penambahan biaya overhead, namun sangat penting bagi luasnya jangkauan sistem Unit, tingginya tingkat pembayaran pinjaman maupun jumlah simpanan yang dihimpun, serta laba yang berkesinambungan.

Sebuah Bank yang memiliki jaringan besar di Indonesia, sebagai contoh, mengoperasikan enam Sentra Pendidikan besar, untuk para staf unit dan para pengawas mereka. Sentra pendidikan tersebut beroperasi sepanjang tahun dengan sekitar 80 instruktur full time, memiliki kualitas gabungan sebanyak 780 peserta latihan dalam satu kurun waktu. Para instruktur diambil dari Unit Bank, memberikan kursus bagi staf baru, kursus bagi staf yang akan dipromosikan ke jabatan baru, dan kursus-kursus tinjauan ulang bagi setiap staf paling sedikit setiap 12 bulan. Kursus-kursus penyegaran ini memiliki dua tujuan: untuk memberikan kesempatan yang berkesinambungan bagi pelatihan Staf jangka panjang, serta untuk menginformasikan kepada para pegawai mengenai berbagai kebijakan dan operasi terbaru. Antara 13.000 dan 18.000 staf Unit Bank dan Staf pengawas dilatih setiap tahun.

Pemikiran dan persiapan mendalam dilakukan dalam proses pemilihan instruktur, perancangan kurikulum, dan pengembangan fasilitas-fasilitas yang ada, serta metode pengajaran yang digunakan di Pusat-pusat pelatihan. Para instruktur diseleksi dalam sebuah proses yang kompetitif. Mereka harus memiliki pengalaman di Unit, harus memiliki kemampuan mengajar yang baik, dan harus bisa melaksanakan berbagai macam metode pengajaran, termasuk mengajar, memimpin diskusi, role play, sumbang saran (brainstorming) dengan para peserta pelatihan, mengamati para peserta pelatihan dalam melakukan praktek di model Unit Bank yang ada di Sentra pendidikan, mengawasi praktek lapangan, dan teknik-teknik lain yang menekankan pengajaran kreatif, dan mendukung masukan dari peserta pelatihan. Pengajar luar atau dosen tamu mengunjungi Sentra pendidikan tersebut untuk memberikan pelatihan dengan topik khusus, seperti Hukum, Bisnis dan Pemasaran.

Kurikulum dari keseluruhan pendidikan memiliki kaitan yang spesifik dengan keuangan mikro. Para petugas kredit diajarkan untuk menyusun neraca dan laporan laba rugi sederhana, untuk beragam perusahaan kecil dan mikro di bidang pertanian, perdagangan, industri dan Jasa. Dalam sesi investigasi kredit, para peserta pelatihan diminta untuk membahas dan membandingkan pengalaman mereka, dan untuk menyarankan metode yang sesuai untuk dapat diterapkan secara umum. Oleh karena itu kelas dapat belajar dari salah satu peserta mengenai bisnis pembuatan keramik lantai, dari peserta lain mengenai tambak udang, dan industri lainnya dari peserta yang lain. Isu-isu umum juga dibahas disini, misalkan bagaimana cara memeriksa persediaan sebuah toko kecil secara efisien, tanpa harus menghitung setiap barang.

Kurikulum maupun metode pengajaran mengikuti strategi bisnis unit. Instruktur memberikan input rutin terhadap perancangan kursus baru, mencakup semua topik yang dianggap penting. Pada saat banyak Bank memasuki sektor mikro, maka dirancang kursus baru untuk membangun rasa percaya diri bagi para pejabat Unit. Para instruktur ditunjuk untuk periode 4 (empat) tahun, dengan kemungkinan penunjukan ulang untuk periode berikutnya. Setelah itu, seorang instruktur harus dipindahkan kembali ke bagian operasional, hal ini diperlukan karena rotasi terhadap para instruktur dipercaya membantu menjaga kualitas pelatihan.

Dari uraian di atas dapat dipahami, bahwa instruktur memiliki kualifikasi tersendiri. Pengunjung internasional yang pernah datang ke Sentra pendidikan sering terkejut, bahwa semua instruktur diambil dari Unit. Staf pengajar tamu (dari Universitas) hanya memberikan materi pelajaran yang bersifat umum, dan sebagai pembanding.

Sumber Bacaan:

  1. Marguerite S. Robinson. The Micro Finance Revolution. Vol.2: Lessons from Indonesia. 2004. The World Bank, Washington, D.C. Open Society Institute, New York.
  2. Pengalaman penulis memimpin Divisi Pelatihan, yang juga membawahi Sentra pendidikan untuk keuangan mikro.

10 pemikiran pada “Unit Pelatihan yang terintegrasi, mendukung peningkatan kualitas SDM dalam membangun sistem keuangan mikro

  1. Ass.Wr.Wb..

    Tentunya jika kualitas SDM kita baik,maka akan meningkatkan kualitas kerja kita.Tapi jika SDM meningkat tanpa disertai dengan lapangan kerja yang memadai juga sulit Bunda…

    Gusti Dana,
    Mestinya jangan dikaitkan kondisi krisis sekarang (karena pasti jadi nggak ketemu)…..karena tulisan tsb adalah membahas bagaimana agar keuangan mikro dapat berkembang, yang penting adalah SDM nya. Untuk mendidik SDM perlu adanya pendidikan yang komprehensip.
    Dan baca referensinya, dari tulisan Marguerite yang di tulis berdasar penelitiannya di Indonesia selama 20 an tahun…

  2. utaminingtyazzzz

    menjadi instruktur itu sulit juga, harus mampu menarik perhatian audience. saya yang diberi kesempatan sharing ke temen” baru selama 2 jam saja harus berupaya supaya temen” ga ngantuk. Ngantuk itu memang musuh terbesar..

    tips dari Ibu waktu ketemuan kemaren menarik juga..

    Utaminingtyazzzz,
    Pusdik biasanya memberi pelatihan tentang “Training for trainers“…
    Kalau sering diminta mengajar, Mieke minta ikut pelatihan itu…teman-teman instruktur di Diklat sangat pandai melatihnya.
    Dengan mengajar, akan memaksa kita belajar hal-hal yang sebelumnya tak pernah terpkirkan, dan hasilnya kita lebih memahami pekerjaan kita, terutama bagaimana pandangan users, apakah produk/jasa kita mudah diaplikasikan dilapangan, apakah kebijakan yang dibuat dapat dilaksanakan, dan apakah cukup aman?

    Kapan-kapan bisa ketemu lagi untuk mengobrol hal yang lebih serius…hehehe…saya masih harus ambil buku dari perpustakaan…

  3. tapi kenyataannya instruktur tidak dipilih seketat itu yah, bu?

    Wennyaulia,
    Di tempat saya kerja dulu, dan juga sekarang dipilih dengan ketat, ada evaluasi dari peserta pelatihan. Kalau nilainya dibawah standar, langsung di grounded.
    Menjadi instruktur harus belajar keras, selain memahami ilmu yang diajarkan, juga harus memahami situasi kelas, membuat situasi pelatihan segar, peserta tidak mengantuk…ada trik2nya…. dll.

    Karena hasil pelatihan diaplikasikan langsung dilapangan,ada risiko kegagalan yang langsung terkena pada risiko finansial…(ini karena pelatihannya untuk perbankan, yang memang bergerak dibidang keuangan)

  4. Mengenai latihan penyusunan laporan keuangan jadi ingat dulu, ada beberapa lulusan dari sebuah lembaga pendidikan ternama di Bandung, yang jurusan akuntansinya benar2 ‘aduhai’ deh dalam menyusun laporan keuangan. Kalau balance sheet nggak balance itu sih sudah hal yang biasa dimaklumi, lha ini ada yang menyusun laporan keuangan dari balance sheet dulu baru income statement-nya!! Gimana caranya??????

    Yari NK,
    Huahuahua…
    Tak terbayangkan….kok bisa?
    Mungkin banyak teori saat kuliah, karena antara teori dan praktek dilapangan memang perlu penyesuaian. Tapi saya memahami kok, teman-teman fresh graduate dari universitas ternama, dalam praktek tetap harus belajar lagi….tapi paling nggak ya dasarnya mengerti…mestinya dari Laba/Rugi dulu, untuk memahami sebuah usaha untung apa rugi, baru buat neracanya. Bisa sih dibuat neraca, tapi pasti ada yang bolong dulu, karena ada hal-hal yang mengisinya menunggu dari hasil Laba/ruginya….

  5. wah satu pencerahan mengenai management tidak bisa komentar lain kecuali terima kasih karena tulisan ini perlu banget buat saya
    salam hormat dari kami

    Genthokelir,
    Sama-sama mas, syukurlah kalau bermanfaat.
    Pelatihan, memantau apakah pelatihan sudah sesuai, perbaiki lagi kurikulumnya agar lebih sesuai prktek dilapangan. Dan instruktur bukan hanya bisa teori, tapi betul-betul pernah praktek dilapangan, dan juga belajar bersama muridnya…

  6. ngakak saya membaca komentar mas yari.
    kemampuan-kemampuan “unik” semacam itu memang sepertinya diperlukan di indonesia, mas. hehe! tapi kompetensi seperti itu sebenarnya mutlak harus dihindari kan, bu?

    IMHO, instruktur memegang peranan yang penting dalam menset minda para staf asuhannya. apalagi mengingat ranah kerja mereka adalah para pengusaha ekonomi mikro yang beragam jenis dan problematikanya itu. jangan sampai salah asuh ya toh, bu?

    Marsmallow,
    Karena sejak tahun 80 an saya banyak berkecimpung membantu pelatihan, terutama adik-adik fresh graduate, apa yang diceritakan kang Yari bukan hal aneh, tapi kami lah yang harus melatih dan membimbing mereka sampai mereka siap dilapangan.
    Karena nantinya mereka akan langsung menghadapi klien dilapangan, mencari data, sebagai konsultan jika klien nya kesulitan dalam operasional usahanya dsb nya.

    Peran instruktur sangat penting, justru itu pemilihan instruktur sangat ketat, karena mereka tak sekedar pandai, tapi harus bisa memberikan sharing ilmu pada siswanya…apalagi ilmunya adalah ilmu terapan yang langsung terlihat hasilnya dilapangan. Dan para instruktur ini juga orang yang pernah praktek dilapangan, dan nantinya setelah sekian tahun, harus kembali menjadi orang operasional…digantikan instruktur baru….dengan demikian ilmunya terus terbarui.

  7. sebelum membenahi yang lain emang benar membenahi SDm adalah terpenting terutama mental terutama untuk profesionalisme dibidangnya

    Omiyan,
    SDM memang tulang punggung untuk meningkatkan aset yang produktif bagi perusahaan.

  8. Aku pernah jadi instruktur untuk IT bunda dan memang sangat sulit untuk menarik perhatian, terpaksa di sela2 serius menerangkan tentang memory dan sistem operasi harus di barengi dengan bercanda. Sekarang aja udah mulai keteterangan mengajarnya, dan hampir 1 bulan aku gak ke kampus, sampai2 kemarin mahasiswaku nyamperin kerumah…hehehehe…

    dan memang bener kalau dosen kayak aku semua apajadinya ya bunda, SDM yang suka seenaknya…hehehehe…dan membaca postingan bunda kali ini aku jadi flashback inget waktu aku masih mengikuti kelas manajemen perbankanku kekekekeke…

    Ria,
    Instruktur tak hanya pandai, tapi harus bisa mentransfer ilmunya, cara mengajarnya mudah diterima oleh peserta, serta pandai membuat suasana kelas tidak mengantuk (ini yang sulit, terutama setelah jam makan siang). Kadang orang pintar, belum tentu bisa mengajar dengan enak (mudah diterima oleh paserta pelatihan). Tapi, ada pelatihannya kok, dan instruktur harus mau introspeksi, yang dilihat dari hasil evaluasi yang dibuat oleh para peserta pelatihan…dengan begitu ilmunya akan berkembang, dan gaya mengajarnya akan makin baik.

  9. Ibu seperti sedang menceritakan pekerjaan saya sekarang …
    Di perusahaan kami ini …
    Saya yang mengelola unit pelatihan untuk orang-orang marketing …

    Sementara itu di dept/divisi lain …
    Sales-Operation … juga ada orang-orang seperti saya yang mengelola pelatihan dan pengembangan sesuai dengan specialisasi departemen masing-masing

    Salam saya

    NH18,
    Itu sama seperti pekerjaan saya, yang bergerak dibidang pelatihan.
    Setiap pelatihan harus disesuaikan dengan keinginan users, tujuannya untuk apa (untuk meningkatkan skill, konseptual, atau motivasi), karena setiap kurikulum dirancang berbeda.
    Dan Divisi pelatihan, strateginya adalah mendukung strategi SDM untuk meningkatkan kualitas SDM, agar bisa mencapai target bisnis, dan membuat perusahaan dapat mencapai tingkat laba yang diharapkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s