Oleh: edratna | April 19, 2009

Hubungan yang saling menghormati

Membaca tulisan pak Armein Z.R. Langi, membuat saya teringat pada percakapan beberapa hari yang lalu. Saat sedang mengajar, pada istirahat makan siang dan sholat, jika ada peserta perempuan dari luar kota, maka saya ikutan sholat di kamarnya. Dan senangnya, jika bisa nebeng sholat di kamar peserta, saya juga menjadi makin akrab dengan mereka.

Keakraban ini sangat menyenangkan karena saya bisa bertanya, apa yang sebetulnya diharapkan dari peserta saat ikut pelatihan seperti ini. Dan kali ini, kebetulan peserta pelatihan, ceweknya 4 (empat) orang….dan setelah makan siang kita berkumpul di kamar Nani, karena yang lain memilih tidur di rumah saudara, dan bagi peserta dari Jakarta, tentu saja memilih pulang ke rumah masing-masing. Obrolan khas cewek pun terjadi, karena ada yang baru mau menikah beberapa bulan lagi, ada juga yang merencanakan setahun lagi. Bahkan ada satu orang, yang saat ikut pelatihan, terpaksa suaminya cuti karena anaknya masuk RS disebabkan demam tinggi. Si ibu yang terlanjur didaftarkan ikut pelatihan, tak mungkin membatalkan kepesertaannya.

Saat itu hari Jumat, hari terakhir pelatihan selama lima hari, Ayi menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur, dan berkata, “Ahh akhirnya hari ini saya bisa tidur di rumah.” Saya agak kaget, “Lho, kenapa?” Iya bu, selama empat hari kemarin saya tidur di rumah sakit, dan hari ini kata suami, anak saya boleh pulang dari rumah sakit, sehingga saya bisa pulang langsung ke rumah.” Saya terharu, mengingat betapa sang suami sangat mencintai isterinya dan mau bekerjasama menunggu anaknya di Rumah Sakit, karena isteri sedang ikut pelatihan. Saya bersyukur karena selama ini saya bisa berkarir dengan nyaman karena jika ada kondisi darurat suami mau mengulurkan tangan seperti suami Ayi.

Namun ada hal-hal sehari-hari yang kadang menimbulkan pertengkaran, seperti dikatakan pak Armein dalam blognya, bahwa sebaiknya isteri itu kadang-kadang “buta” dan suami itu kadang-kadang “tuli“. Isteri akan cenderung cerewet, atas barang-barang yang tak ditaruh pada tempatnya. “Yah, tolong dong, kalau mau buka pasta gigi, mencetnya dari bawah dulu,” kata si isteri. “Yah, baju kotornya jangan ditaruh sembarangan dong, kan udah ada tempatnya,” komentar isteri. Dan pasti hal-hal semacam ini akan mengagetkan saat memulai kehidupan baru, masalah sepele tapi kita sebagai isteri, kadang nggak boleh terlalu cerewet, dan suami juga harus memahami, bahwa isteri akan lelah setiap kali harus membereskan barang-barang yang berserakan, apalagi jika isterinya juga bekerja di luar kantor.

Dalam percakapan dengan peserta pelatihan, tiba-tiba ada yang nyeletuk, “Bu, saya masih serumah dengan ayah ibu, karena saya anak bungsu. Saat suami melamar, ayah ibu mensyaratkan, lamaran diterima, asal mau tetap tinggal menemani bapak ibu.” Kebetulan suami setuju, namun harus dipertimbangkan ada kemungkinan terjadi gesekan2 kecil. Seperti yang dikatakan oleh Ayi, suaminya pernah ngambeg hanya karena Ayi membeli kompor untuk orangtuanya tanpa konsultasi. Jadilah saya bak seorang penasehat perkawinan (gadungan) mengatakan, sebaiknya segala barang yang terlihat mata, kalau mau beli harus diskusi dulu antara suami isteri. Tapi barang yang tak terlihat, walau kadang mahal (perhiasan emas, berlian dsb nya), jika dibeli oleh uang isteri sendiri (karena isteri bekerja), kemungkinan suami tak keberatan. Kenapa? Walau barangnya sederhana, hanya sebuah kompor, suami ingin ikut berperanan untuk membelikan buat ayah dan ibu mertua tercinta. Andai hanya isteri yang beli, sebetulnya tak masalah, tapi mertua akan lebih gembira jika menantu juga menunjukkan kasih sayang secara nyata.

Saya jadi ingat masa lalu, karena terbiasa bekerja (saat itu belum ada hand phone), pulang kantor dengan tenangnya mampir belanja dan lupa bilang sebelumnya kalau mau mampir. Dan suami yang hari itu kebetulan tidak lembur, di rumah kelimpungan, karena tak tahu isterinya ada dimana, dan mulai berpikir macam-macam, kawatir ada kecelakaan dsb nya. Sekarang komunikasi telah canggih, namun begitu kita melangkah ke gerbang pernikahan tetap harus ada beberapa aturan komunikasi yang disepakati berdua.

Iklan

Responses

  1. Ada seorang pastor yang menceritakan pada saya, bahwa ada pasangan suami-istri baru yang bertengkar hanya karena si suami tidak membalikkan baju (bagian dalam di luar) yang dipakai dulu sebelum dicuci. Maunya si istri, dibalik dulu sebelum masukkan ke mesin cuci sehingga begitu mau dijemur, tidak usah repot-repot dibalik lagi. Saya langsung pikir, kok masalah sepele gitu aja diributin.

    Tapi waktu saya menjumpai kejadian begitu, saya memang jadi berpikir, membalik baju dalam keadaan basah itu sulit. Karena itulah si istri itu marah. BUT, saya pikir menjemur dalam keadaan terbalik akan lebih membuat baju awet (warnanya), dan jika kita membaliknya kalau sudah kering akan lebih mudah. Jadi buat saya no problem at all.

    Soal-balik membalik yang sepele saja jadi masalah. Untung saya tidak cerewet urusan yang kecil-kecil…. (malah suami yang cerewet tuh hehehe) Dan memang komunikasi, dan mengetahui kebiasaan suami/istri itu sangat penting. Ada (banyak) kebiasaan dari kecil yang sulit sekali diubah, sehingga kita harus hidup dengan itu.Kita buat nyaman saja sendiri.

    maaf kepanjangan komentarnya.

    EM

    Ikkyu_san,
    Buat orang yang semuanya terencana, seperti saya, awalnya sulit sekali. Tapi akhirnya kembali pada pertanyaan, apa yang kita inginkan? Ada beberapa hal yang memang perlu di review lagi setelah menikah, kebiasaan juga harus disesuaikan, kalau tidak urusan kamar mandi, soal menaruh pakaian kotor, soal mencet odol, atau sabun mandi bisa jadi rame. Belum hal kecil lainnya. Apalagi jika kita berusaha selalu pergi atau pulang kantor bersama (makanya saya lebih suka naik jemputan, rame2 dengan teman kantor lain, sebelum dapat mobil dinas)…..tapi sesekali saya suka nebeng teman (pasutri yang selalu pergi dan pulang bersama-sama)….akibatnya saya suka senyum aja mendengar pertengkaran mereka…hehehe..Bukankah kadang2 pertengkaran atau perdebatan itu adalah juga cara membangun komunikasi?

  2. Maaf Bun lama ga mampir.. Membaca postingan ini aku menjadi serasa terjewer.. Suka cerewet Bun.. Makasih banyak, semoga aku bisa lebih baik utk selanjutnya.

    Upik,
    Nggak apa-apa…memang benar kata pak Armein…sebagai perempuan, kadang2 kita harus agak membutakan diri…karena kalau tidak, akan menjadi “cerewet” sekali.
    Dan juga membuat pembantu nggak krasan…jadi kadang memang agak merem dikit, sepanjang nggak prinsipiil.

  3. Kok penasehat gadungan sih bun?
    Bukanlah, yang pasti bunda enny punya banyak pengalaman untuk dibagi.
    Bener bun, padahal komunikasi itu sebenernya gampang ya, tapi karena ego kok kayak nya berat kalo dikerjain. Hmm… mars dan venus.. 😀

    Puak,
    Entahlah….kadang memang saya dijadikan “penasehat gadungan” oleh anak buah saya atau yunior saya, yang perempuan….hehehe…padahal saya bukan dari psikologi.
    Dan nggak tahu juga apa omongan saya berguna bagi mereka. Tapi ya itulah, yang penting kita sharing pengalaman…jadi kalau tak sesuai, ya jangan diikuti ya..ntar malah jadi kacau.

  4. kalau belum terbiasa, para pasutri agaknya masih sering uring2an ketika ada salah satu di antaranya yang tidak ada di rumah, bu, apalagi kalau sedang punya momongan yang sedang sakit. tapi kalau jalinan komunikasi terbangun dengan baik, apalagi kalau bisa saling menghormati, problem apa pun insyaallah akan dapat teratasi.

    Sawali Tuhusetya,
    Memang diperlukan penyesuaian pak…jadi kayaknya setelah bulan madu, yang banyak adalah perdebatan dan penyesuaian karakter.
    Bisa dimaklumi, sedang antara adik dan kakak saja bisa berbeda sifat, apalagi dengan orang lain.
    Tapi cinta, penghormatan, akhirnya membuat komunikasi bisa dilakukan…..dan jangan sampai perdebatan dianggap hal yang tak sesuai. Justru terkadang perdebatan adalah cara komunikasi, asal tak saling menjatuhkan, tapi diarahkan untuk mencari solusi.

  5. wuih, boleh nih kalo dah saya dah nikah minta bimbingannya. hwehe…

    v(^_^)

    Farjs van Java
    ,
    Waduhh…ntar malah salah…hehehe

  6. Wah, entri yang bagus ni… Komunikasi itu memang penting ya dalam kehidupan apalagi keluarga..
    Wah bisa jadi referensi klo aku dah nikah nanti ni…
    😀

    Trinil,
    Hehehe…ini cerita iseng, hasil obrolan iseng juga, sambil menunggu istirahat di antara jam pelatihan

  7. Mencet odol. Baru tau loh kalau harus dari bawah… hahaha…8x Soalnya kalau gw mencet odol dari tengah, terus dikembungin lagi sebelum ditutup jadi keliatan baru padahal gembos. Hehehe…8x

    Hm… sama kek FvJ, mohon bimbingannya kelak Bu… 😀

    Mangkum,
    Latihan mencet odol dari sekarang……atau nanti latihan tuli ya…..:P

  8. ssst, jangan sampai istri saya tahu lho bu. di rumah yang cerewet justru saya. he he

    Zulmasri,
    Kata anak-anak, bokap lebih cerewet…hehehe…terutama tentang urusan efisiensi dan teknologi….

  9. Ya ya … persesuaian antara suami-isteri ‘dipelajari’ pada perjalanan perkawinan. Gagal saling memahami, biasanya karena komunikasi ngadat, atau kesenjangan pemikiran, mengundang bahaya hingga buah saling pengeryian susah dituai. Postingan bagus Bu Ratna. Saya belajar, terilhami. Salam.

    Ersis Warmansyah Abbas,
    Belajar nya juga terus menerus pak, karena keduanya juga berkembang. Banyak terjadi kegagalan karena salah satu berkembang pesat, pasangan tak bisa mengikuti…jadi antara pasangan harus terus ada komunikasi

  10. Setuju, Bu!
    Meski meruaknya jaringan komunikasi ini semakin membahagiakan, tetap perlu ada komitmen saling pengertian suami-istri.

    Saya sendiri merasai itu jauh sebelum menikah.
    Karena berpacaran jarak jauh 8 tahun lamanya, komunikasi adalah nyaris segalanya.

    Bersyukur kami ada di jaman SMS dan email (lalu sekarang facebook) sudah berjaya.
    Sehingga, jarak yang cukup jauh dulu merentang dibuatnya tak begitu terasa.

    Tulisannya sangat menarik, Bu!

    DV,
    Betul, komunikasi harus terus terjalin, betapapun jarak yang membentang diantara kedua pasangan, karena saat ini banyak pasangan yang terpisah karena pekerjaan mengharuskan melanglang buana.
    Komunikasi yang baik, akan menumbuhkan saling percaya, dan membuat ikatan semakin kuat.

  11. Pagi bunda…
    Kalau kehidupan suami istri aku belom ngerti sih..
    Mungkin sebaiknya suami-istri itu menjadikan mereka sebagai patner gitu. So bisa saling bantu dan bekerja sama.

    Saling pengertian dan menjaga komunikasi juga sangat penting..

    Tulisan bagus bunda, aku jadi belajar 🙂

    Radesya,
    Nggak apa-apa Radesya, saat awal menikah saya langganan “Ayah bunda”, disitu saya suka membaca kolom “Dapatkah perkawinan ini diselamatkan?”. Rubrik ini diasuh oleh psikolog, disitu saya melihat bahwa komunikasi tak bisa disepelekan, justru intinya ada disitu. Komunikasi yang baik, akan membuat jalinan cinta makin kuat, walau kadang terdapat intrik2 perdebatan yang disebabkan oleh masalah sepele. Tanpa komunikasi yang baik, masalah sepele tadi bisa menjadi besar, yang akhirnya meledak dan tak bisa diperbaiki.

  12. emang….yang penting saling mengerti dan memahami insya allah segala macam problema dapat teratasi …salam

    Mrpall,
    Betul….komunikasi yang intens akan memudahkan saling pengertian di antara pasangan

  13. Aduh, Bunda..
    Aku suka sekali dengan cerita ini. Sederhana banget, tapi menjawab sekali pertanyaanku. Emang sih, aku belum menikah, tapi pertanyaan ini sering berkelebat di benakku, lho.. Hihih… apa karena aku kebelet kawin ya, Bun? 🙂

    Tapi, memang.. benar seperti yang Bunda katakan. Kalau barang-barang yang terlihat memang sebaiknya diberikan atas nama berdua, supaya terkesan kalau menantunya peduli juga..

    Duh, duh..
    aku suka banget deh sama tulisan ini! 🙂

    Lala,
    Wahh…padahal karena bingung mau nulis apa, kebetulan pas istirahat ngajar, sempat mengobrol dengan peserta cewek, jadilah tulisan ini.
    Memang ini cerita sehari-hari….yang kadang sepele, tapi bisa berakibat runyam

  14. Setiap hubungan memang selayaknya dilandasi dengan saling menghormati, termasuk hubungan perkawanan apalagi hubungan suami-isteri.

    Di sini kita harus siap menerima kelemahan2 yang ada pada pasangan hidup kita. Intinya itu. Bahwasannya tidak ada individu yang sempurna. Kalau perlu kita saling menutupi kelemahan masing-masing. Kalau saya mendefinisikan kelemahan adalah sesuatu yang ‘kurang’ dan juga sesuatu yang ‘berlebihan’ atau over.

    Misalnya istri yang terlalu suka kerapihan, sehingga benda2 yang sudah rapih dirapihkan kembali sehingga membuang2 energi saja. Ya, kalau begitu diberitahukannya harus pelan2, karena merubah sifat orang tidak bisa dengan sekonyong2. Itu berlaku buat siapa saja, termasuk saya tentu saja. Dan memang terkadang tidak semua sifat ‘buruk’ bisa dihilangkan, terkadang kita hanya bisa meminimalisir saja. Ya tidak apa2, jalan keluarnya adalah kitalah menutupi bagian kekurangan pasangan hidup kita yang sukar diperbaiki itu sebaik mungkin…….

    Yari NK,
    Betul Kang, manusia tak ada yang sempurna. Saling mencintai, akan menimbulkan perasaan sayang dan saling menghormati, dan bisa menerima kekurangan masing2. Dan adanya perasaan diterima, membuat kita berusaha memperbaiki diri, bukankah mencintai berarti memberi dan membuat bahagia orang yang kita cintai?

  15. aku inget semua cerita” Ibu tentang berumah tangga..

    makasi atas share-nya, Bu 🙂

    Utaminingtyazzzz
    ,
    Iya, masalah sepele kadang bisa menjadi hal yang berlarut-larut.

  16. komunikasi adalah kunci langgengnya rumah tangga, berapa banyak keluarga yang akhirnya bubar karena faktor komunikasi

    achmad sholeh,
    Betul…kuncinya, komunikasi dua arah….

  17. kalau dikehidupan saya, mungkin saya lah yang tak pernah sabar ketika sebuah hal kecil bisa jadi amarah dan terkadang saya malu sendiri ….

    kalau masalah orang tua sebaiknya dibicarakan keduabelah pihak saya sendiri dan istri masih sama sama bantu orang tua, dan terkadang istri malah nganjurin saya buat bantu saudara yang membutuhkan

    Omiyan,
    Kita semua tak pernah berhenti belajar, untuk membuat hubungan yang lebih baik, terutama dengan pasangan yang kita cintai.
    Dan tak ada kata terlambat untuk belajar

  18. Baca tulisan di atas saya mesem-mesem sendiri. Kayaknya urusan mencet odol dari bawah itu agak generik ibu-ibu ya ? Belasan tahun yg lalu saya “berantem” sama istri gara-gara urusan itu lalu merembet ke mana-mana …

    Belakangan saya pikir yg cerewet kayaknya justru lebih banyak saya, tapi lebih ke arah hemat air, hemat listrik, kunci pintu dll. jadi agak ke arah urusan bapak-bapak …

    Oemar Bakrie,
    Iya pak…hehehe…
    Dan pak Oemar Bakri kayak suami saya, kecerewetannya karena bentuk kasih sayang, hal2 yang berhubungan dengan keamanan, dan penghematan (efisiensi)

  19. Komunikasi memang sangat penting apalagi bagi pasangan yang baru saja mengarungi kehidupan yang baru. salah satu pesan dari guru saya adalah perbaikilah bahasa dalam penyampaian yang mudah dimengerti. seperti contohnya :
    jangan bilang “ini mencet odol kok dari tengah, gimana sih ?” tapi mintalah “tolong pencet odolnya dari bawah. Jangan bilang “jangan menaruh gelas sembarangan!” tapi mintalah “tolong taruh gelasnya di meja, kulkas, atau tempat cucian”. Jangan bilang “Ini baju kotor berserakan dimana-mana, di gantungan, dilipat lagi, di bawah kasur, dijemur lagi, digulung gak karuan, maunya apa ?” tapi mintalah “baju kotor itu tempatnya di bak”
    Meskipun sepele namun jika salah ngomong sedikit saja bisa jadi perang dunia

    Adipati Kademangan,
    Contohnya bagus sekali…bisa menambah masukan bagi teman2 yang lain.
    Thanks

  20. Bun…..komunikasi itu memang harus terus di jaga…long distance tetep komunikasi….ketika bertemu berdua, teteeeeeep perlu komunikasi.
    Kita kan punya kemampuan untuk berkomunikasi, Terlalu banyak diam juga nggak bagus…malah dikira ada sesuatu yang nggak bener lagi….keep communication yang seimbang lah. Dan tidak menutup kuping dari keluhan yang disampaikan psangan kita.

    Pakde,
    Betul…komunikasi memang susah-susah gampang ya pakde, mudah diomongkan tapi terkadang dalam kehidupan sehari-hari suka keseleo juga.

  21. waks, mengena banget ibu tulisan ini. apalagi jarak indonesia-jepang yang memisahkan saya dan suami. komunikasi memang penting, yah bu. apalagi sesi curhat di tengah kesibukan masing-masing..benar-benar penting sekedar melepas lelah:)
    thanks ibu…

    Fety,
    Apalagi jarak jauh…kita tak bisa melihat tatap muka, komunikasi harus dilakukan saat kondisi tenang, karena nada suara kita kadang bisa membuat penerimanya salah tafsir.

  22. Bunda…. apa kabar?? Baik khan?Sehat khan,bun?
    Lama banget aku ngga mampir. hehehe saya termasuk istri yang cerewet. tapi kadang suami saya juga suka ngerjain saya. Ehhh udahannya ya saya juga yang ngerjain tapi ya sambil ngomel gitu trus berantem dech. 😀
    Say sich tau banget suami saya seperti apa, tujuan saya cerewet itu sich maunya suami saya jadi lebih peka lagi gitu lho tapiii emang taktik jitu saya berhasil 😀 hehehe

    Retie,
    Cara komunikasi masing-masing pasangan memang berbeda, tergantung dari karkternya. Pasti suami suka ganggu Retie, karena mungkin Retie jadi lucu kalau marah atau keluar cerewetnya…hehehe…
    Yang penting keduanya saling memahami

  23. Aha. Hal yang belum bisa kupecahkan adalah komunikasi, Bu. Terkadang aku kerap kesulitan dalam memahami keinginan atau cara berpikir seseorang. Di sisi lain aku merasa orang tersebut begitu sulit memahami apa yang ada di pikiranku.

    Kuncinya memang komunikasi. Bagaimana gembok bisa dibuka kalau kuncinya tak pernah bisa pas dan klik pada sasaran.

    Makasih, Bu.

    Daniel Mahendra,
    Betul Niel, justru komunikasi ini menjadi kunci untuk menyelesaikan permasalahan. Dengan komunikasi yang tepat, semuanya menjadi cair, tapi kita memang harus mau terbuka agar orang memahami apa yang kita inginkan. Jika tak saling terbuka, maka bisa terjadi salah interpretasi. Makanya orang yang bisa komunikasi dengan baik , karirnya akan bagus, karena dia bisa menjelaskan permasalahan yang rumit menjadi sederhana.

  24. Maaf Bu lama tak berkunjung. Kadang saya tak tersadari dengan kebiasaan saya sibuk dengan komputer bahwa istri juga butuh perhatian, butuh diajak meskipun sekedar bercanda. Apa yang Ibu tuliskan disini amat mengena bagi saya semoga bisa menjadi pengingat untuk menjaga amanah ini

    Sunarnosahlan,
    Sebetulnya tak masalah kok, kalau ikatan cintanya kuat, dan isteri tahu persis apa yang sedang dikerjakan. Suami saya juga tahu kalau saya lagi sibuk buat bahan mengajar tak bisa diganggu, demikian juga kalau dia lagi sibuk bikin makalah..

  25. Suami agar pura2 tuli, istri agar pura2 buta.
    Ehm…menarik juga konsepnya, dan sederhana sebenarnya.
    Intinya, janganlah masalah kecil yang tidak prinsip menjadi sumber pertengkaran.
    Selagi bukan menuju kepada kekufuran dan bukan selingkuh, tidaklah perlu dibesar2kan.

    Hery Azwan,
    Terkadang hal-hal sepele jika tak di manage, bisa menjadi besar. Perlu kedewasaan dalam menyikapi diantara pasangan.

  26. Dua Hal
    #1
    Iya ya bu …
    Sikap dan perilaku Trainee itu kadang sangat luar biasa … (seperti si Ayi itu ..)
    Dedikasi … profesionalisme … tanggung jawab dsb sungguh sangat mengharukan …

    Dan jujur saja bagi saya …
    ada banyak hal yang bisa saya pelajari dari mereka …

    #2
    Mengenai kehidupan Rumah tangga …
    Ya … betul sekali … kadang komitmen awal suka terpengaruh dengan hal-hal kecil yang berbeda satu sama lain …
    Tinggal kebesaran hati saja yang bisa mempertahankan itu semua …
    Because … no body’s perfect

    Salam saya ibu …

    NH18,
    Trainee itu memberikan contoh yang baik tentang komitmen, juga dukungan suami…yang siap membantu isterinya. Dalam lingkunganku sehari-hari saya banyak melihat seperti ini, ada juga suami yang dengan rela ditinggal dengan putrinya umur 7 tahun, karena isterinya harus mengikuti pendidikan ke luar negeri selama 6 (enam) bulan. Ada juga isterinya terpaksa tinggal di luar pulau, dan suami tetap tinggal di Jakarta bersama putra putrinya, karena anak-anak terlanjur sekolah atau kuliah di Jakarta. Dengan komunikasi yang baik, semua bisa diatasi.

    Kehidupan rumahtangga,
    setiap kali komitmen nya mesti disesuaikan, apakah visi dan misi masih sejalan, apa perlu diadakan koreksi dsb nya (hehehe…kok kayak perusahaan)…tapi setiap awal tahun saya selalu mendiskusikan hal ini bersama suami, dan anak-anak.

  27. bunda…
    Aku lama ya gak mampir sini…lama juga gak blogwalking…

    membaca artikel ini jadi punya tips untuk melangkah ke jenjang poernikahan nantinya…*walaupun blom tau kapan :D*

    Ria,
    Tenanglah, nanti akan datang waktu yang tepat, dan dengan pria yang tepat.
    Jadi nggak usah terlalu dipikirkan ya….

  28. ooooo…. that’s me…. cerewet … bawel…
    Alhamdulillah… suami dan anak-anakku… memahami.. kecerewetan dan kebawelanku.. untuk kebaikkan bersama… (ugh ugh… kePDan kali ya… sampai ngomong begini….) Sebagai proses pembelajaran dan pendewasaan masing-masing menjadi seorang manusia yang utuh….
    Alhamdulilllah…
    (jangan dikomfirmasi ke mereka …. pls pls… bisa-bisa pada mereka manyun nih…. he he he…)

    Yanti/Mama Aini,
    Suami atau anak-anak biasanya bisa membedakan, kecerewetan yang penuh kasih sayyang atau kecerewetan yang galak dan mengada-ada. Yang penting, tidak berlebihan

  29. Ah, saya jadi ingat waktu jadi “duda” saat ditinggal istri untuk Pra Jabatan dan saat ia merawat sang ibu. Memang penting untuk saling mengerti dan saling membantu.

    Racheedus,
    Benar pak…komunikasi dan saling pengertian ini kuncinya….

  30. Aih,, membaca tulisan ini, membuatku makin berpikir ..
    “apakah aku sudah siap untuk hidup berdua ..??”
    Uhmm …
    🙂

    Muzda,
    Kenapa takut? Yang penting adalah keinginan untuk saling membahagiakan dan mencintai berarti memberi kebebasan, tetap ada room di antara suami isteri, agar tetap bisa berkiprah.

  31. Sebetulnya aku tak perlu berkonsultasi dgn Zo, krn kami belum menikah. Namun semua masalah khususnya keuangan, aku sudah informasikan ke dia sebelum terjadinya act: pembelian barang, liburan, bantu ortu, …
    Padahal itu uangku sendiri, tapi aku biasakan tak main sembunyi. Biasanya ini yang sering bikin ribut rumah tangga.

    Juliach,
    Pengaturan keuangan kadang memang membuat ribut, jadi sejak awal harus dibuat aturan yang disepakati berdua.
    Karena suami lebih banyak tugas di luar kota (Bandung), saya lebih bebas, tapi tetap harus ada sisa setiap bulan untuk di tabung buat hari depan anak-anak dan kalau ada keadaan darurat.

  32. Hm.. Bunda benar, saling menghormati itu penting. Aku baru aja meng up load tulisan yang intinya (menurutku sih) masih2, perempuan dan laki2 itu mempunyai perannya masing2. Dan perpaduan keduanya sebagai sebuah sinergi akan menghasilkan kehidupan yang sempurna, saling melengkapi dan indah.

    Nug
    ,
    Betul….jika komunikasi lancar, saling menghormati, maka ber rumah tangga akan menyenangkan, dan anak-anak juga merasa nyaman dan tenang. Anak-anak yang dibesarkan dalam kondisi hubungan ortu yang saling menghormati juga akan tumbuh menjadi pribadi yang menghormati orang lain.

  33. jdi pgin msk ke Lingkaran itu

  34. waaah ternyata hal sepele (odol) aja bisa jadi bahan omelan yaaa…??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: