Oleh: edratna | Mei 12, 2009

Pengalaman selalu menyisakan pembelajaran

Ada istilah jangan sampai terperosok ke lubang yang sama dua kali. Artinya kita jangan mengulangi kesalahan yang sama. Terkadang mengajarkan kepada anak-anak, atau anak buah, sering terkesan menjadi cerewet, bahkan terkesan menggurui, padahal sebagai orang yang lebih senior, kita tidak menginginkan anak-anak kita, keluarga kita, para yunior kita melakukan kesalahan yang pernah kita lakukan.

Mendengar selalu lebih baik

Saya bisa memahami, rasanya bosan kalau dipesan yang itu-itu saja, dan cenderung ingin melanggarnya. Namun tak ada salahnya kita mendengarkan nasehat orang yang lebih tua, walau kadang bertambahnya usia juga membuat orang semakin kawatir berlebihan.

Hati-hati di Jakarta nak, karena di Jakarta ini terkadang orang tak pulang, ternyata sudah meninggal,” pesan bapak tempat kost saya, di daerah Tanah Abang, awal pertama kali saya bekerja di Jakarta.

Kalau jalan harus cepat dan fokus, agar orang yang mau menggendam tak sempat mengalihkan perhatian kita,” kata seorang teman yang lebih duluan punya pengalaman kerja di Jakarta.

Kalau malam hari, berjalanlah cepat dan di tempat yang terang,” kata teman lagi.

Lha, kan bisa ketabrak bis,” kata saya, mencoba membantah.

Sopir bis akan melihat ada orang berjalan jika kita berjalan di tempat terang, namun jika berjalan di trotoar yang gelap, kita bisa kena dorong orang yang mau merampok,” kata teman saya, lebih ngotot.

Obrolan ini terjadi saat awal tahun 1979, pertama kalinya saya hidup di Jakarta. Padahal saat itu, kondisi jalan belum macet, dan jarang atau hampir tak pernah terdengar ada penumpang dirampok oleh sopir taksi.

Perlu pengalaman sendiri untuk lebih menyadari pentingnya sebuah pesan

Pernah ada keluarga yang ikut tinggal di rumah saya dan sekolah di SMU. Sejak awal saya pesan, agar jika naik bis kota, naik bis dimulai dengan kaki kanan dan turunnya dengan kaki kiri. Dan ini juga pelajaran yang saya terima dari orang-orang yang lebih dulu tinggal di Jakarta. Pertama kali naik bis, badan sulit sekali mencapai keseimbangan, beberapa kali, jika bis bergoyang dan saya kebetulan tak mendapat tempat duduk, saya jatuh menimpa orang yang duduk di dekat saya. Malunya tak terkira, dan ini menjadi pengalaman yang saya bagikan, terutama pada keponakan atau saudara yang baru pertama kalinya akan tinggal di Jakarta.

Dan karena masih muda, mereka cenderung menyepelekan. Suatu ketika, saya yang masih cuti sehabis keguguran, dikejutkan oleh saudara yang pulang pagi, padahal seharusnya masih sekolah. Ternyata dia jatuh dari bis kota, dan usut punya usut, terjatuh dan nyaris terseret bis, karena saat turun kaki kanan melangkah lebih dulu. Padahal, kenek bis tak kurang-kurang selalu berteriak…”Ada yang mau turun…awaas…kaki kiri dulu…”. Mengapa bukan kaki kanan dulu, karena sopir tak sabar untuk segera menggeber bisnya begitu penumpang sudah menginjakkan kaki di tanah. Dengan kaki kiri lebih dulu, jika bis langsung berangkat, paling tidak tubuh kita akan mengikuti condong ke depan, sehingga tak terjatuh.

Penggendam, entah bagaimana selalu pintar memilih korban. Si mbak selalu di pesan, jangan memakai perhiasan berlebihan, yang akan mengundang orang-orang yang tak bertanggung jawab, untuk menipunya. Mungkin si mbak kesal, lha perhiasannya sendiri kok nggak boleh dipakai. Suatu ketika, sepulang dari swalayan, si mbak pulang dengan wajah pucat pasi, dan langsung terlihat mau menangis. Rupanya di jalan ditegur oleh seorang pemuda, berpakaian bersih, yang menanyakan suatu alamat di wilayah Bandung. Entah apa yang diobrolkan, yang jelas, perhiasan dan semua uang si mbak yang ada di dompet ludes di bawa si penipu. Kata suami, ”nahh kalau udah begitu, baru akan percaya kalau dikasih tahu.”

Jaga jarak dengan bawahan

Kelihatannya pesan ini bertentangan dengan postingan saya terdahulu, yaitu “Perlunya menjadi seorang Pemimpin yang bersifat melayani“. Pesannya sebetulnya masih sama, namun cerita ini dalam konteks yang berbeda.
Seorang manajer sebuah perusahaan, sering meminta tolong pada anak buahnya, sebut saja A. Manajer tersebut meminta tolong nya sampai ke hal-hal pribadi. Untuk melakukan tugas itu, A mendapat tip dari manajer yang meminta tolong, dan karena seringnya, A dan keuarganya menggantungkan uang sambilan ini menjadi bagian dari penghasilan bulanan.

Musim berganti, Manajer tersebut diganti dengan Manajer baru, yang melakukan pekerjaan secara aturan main. Akibatnya si A sangat kesal, tak semangat kerja, sering datang terlambat, makin malas datang ke kantor, rupanya ngobyek mencari tambahan uang, karena isterinya terlanjur menuntut. Teguran dari Manajer baru hanya dianggap angin lalu. Begitu perusahaan memutuskan melakukan ”Pensiun Dini Sukarela”, maka tentu saja si A termasuk yang terkena. Jadi, disini kebaikan Manajer yang lama sebetulnya mencelakakan anak buahnya.

Di kantor telah umum ada koperasi, biasanya setiap karyawan yang akan meminjam pada koperasi harus mendapat persetujuan atasan lebih dulu, terutama jika jumlah pinjaman telah melewati batas tertentu. Seorang pegawai, sering meminjam uang dari Koperasi, dan sebetulnya pinjaman ini lebih untuk membeli barang-barang elektronik (barang sekunder). Suatu ketika, pengurus koperasi menelepon atasan, agar mulai mengerem permintaan pinjam dari pegawai tersebut. Dan sejak pinjaman dipersulit, maka pegawai tadi jarang ke kantor, karena sibuk mencari uang tambahan. Rupanya pinjaman koperasi digunakan untuk ”gali lubang tutup lubang”, untuk menutup kebutuhan yang tak pernah selesai. Suatu ketika, atasan memanggil dan mengancam pegawai tadi, jika dia sering membolos maka akan terkena tindakan, disini baru ketahuan bahwa utangnya ada dimana-mana. Syukurlah atasan ini seorang yang baik, dia meminta isteri pegawai datang ke kantor untuk dinasehati, kalau tidak bisa mengerem belanja, maka ada risiko suaminya di pecat. Pengalaman ini membuat pengurus koperasi memperketat penilaian, siapa saja yang masih berhak mendapatkan pinjaman dari koperasi.

Dari sini atasan juga belajar, bahwa memimpin suatu unit kerja, berarti juga memahami karakter masing-masing karyawan, dan makin baik lagi jika mengenal seperti apa cara hidup keluarga karyawan tersebut. Berbuat baik tanpa terarah, bisa berakibat mencelakakan kehidupan bawahan.

Iklan

Responses

  1. wah, wah, ibu… contoh-contoh kasusnya serem-serem. tapi belajar memang tak harus dari pengalaman sendiri. pengalaman orang lain juga mustinya bisa dijadikan referensi untuk berhati-hati dalam bertindak.

    hmm… saya ketinggalan banyak tulisan nih sepertinya. sek, bu. saya baca-baca lagi ya?

    Marsmallow,
    Ha! mosok sih serem? Lha padahal itu cerita nyata, yang dikemas?

  2. kalau suami dipecat repot nanti Bu

    Sunarnosahlan,
    Iya pak, memang repot…dan sekarang yang namanya kerja sampai masa pensiun kan sudah sangat sulit.
    Kita memang perlu mempersiapkan diri jika terjadi sesuatu

  3. Orang tua jaman dulu kalau menasehati anaknya dengan kata2 yang memerlukan penafsiran lebih lanjut. Tujuannya untuk kebaikan diri sendiri dan juga bagi orang lain. Contohnya makan di depan pintu, bantal diduduki, perawan metu bengi dll dikatakan ora ilok. Namun kita juga perlu belajar dari pengalaman hidup orang-orang dahulu. Karena banyak pelajaran yang baik yang bisa diambil dari sana.

    Mufti Am,
    Iya…dan membuat anak bingung.
    Untuk anak sekarang, harus lebih spesifik dan contoh nyata

  4. Tulisan yang mencerahkan. Trims, bu. Sudah lama saya tidak berkunjung ke sini.

    Oh iya bagaimana cara atau tips supaya bisa menjadi orang tua yang selalu up to date dengan jaman, bu? Sehingga jika anak-anak sudah besar bisa memahami kebiasaan atau aktivitas anak sesuai jamannya.

    Indra KH,
    Saya pernah memposting, bagaimana bersahabat dengan anak? Bisa dicari di tag “Keluarga dan sharing pengalaman”.

  5. Hm… terimakasih sharingnya Bu En.

    Satu pengalaman yang jadi pelajaran buatku. Kalau lagi mendung atau sudah gerimis, jangan naik sepeda, karena bisa ditabrak motor dari belakang. Mendung sebelum hujan adalah waktu yang tepat buat motor untuk kebut…

    Mang Kumlod
    ,
    Ketahuan suka ngebut dengan alasan keburu hujan….

  6. Maap bu, kalimat yang ibu tulis:

    “……Ternyata dia jatuh dari bis kota, dan usut punya usut, terjatuh dan nyaris terseret bis, karena saat turun kaki kanan melangkah lebih dulu. Padahal, kenek bis tak kurang-kurang selalu berteriak…”Ada yang mau turun…awaas…kaki kanan dulu…”. Mengapa mesti kaki kanan dulu, karena sopir tak sabar untuk segera menggeber bisnya begitu penumpang sudah menginjakkan kaki di tanah. Dengan kaki kiri lebih dulu, jika bis langsung berangkat, paling tidak tubuh kita akan mengikuti condong ke depan, sehingga tak terjatuh…..”

    kok rasanya rancu ya? Jadi sebaiknya kaki kanan dulu atau kaki kiri? Sepemahaman saya yang jarang naik bis ini sih sebaiknya turun dengan kaki kiri dulu 🙂

    Dan ya, saya setuju, bahwa belajar dari pengalaman itu baik. Apalagi kalo belajar dari pengalaman buruk orang lain, jadi gak perlu merasakan sendiri sakitnya pengalaman buruk hehehe.

    Gm,
    Ternyata Gm teliti…yang benar kaki kiri dulu…..
    Sudah saya betulkan, inilah yang menunjukkan bahwa manusia suka salah…padahal sebelum di publish udah dibaca beberapa kali….
    Makasih ya

  7. Saya termasuk salah satu yg paling ngeyel kalo dinasihati orang tua. Dan akhirnya waktu orang tua capek nasihati saya, lingkungan sekitar yang keras akhirnya menyadarkan saya bahwa mendengar itu penting 🙂

    DV,
    Hahaha…udah ketahuan kok….anak-anak muda kan biasa begitu…
    Jadi orangtua, juga perlu belajar psikologi, agar tak terlalu sering menasehati, memberi ruang kebebasan pada anak.

  8. Pesan-pesan atau nasehat dari orang tua memang ada benarnya ya bun..
    Dari contoh yang bunda sampaikan, aku akan menjadikan suatu pelajaran yang berharga, semoga aku tidak mengalaminya..

    Tapi kadang manusia punya ego yang tinggi, tidak mau mendengar, apalagi kalau dikasih tau orang yang lebih muda, selalu disepelekan.., kadang juga orang selalu jatuh pada lubang yang sama, ada seorang teman yang seperti itu, dia tidak menjadikan pengalaman sebagai guru baginya..

    Radesya,
    Orangtua juga tak boleh memaksa, dan memang bosen kalau dinasehati terus menerus. Entah kenapa, kecenderungan ingin mencoba melanggar itu selalu ada….hehehe

  9. Masalahnya memang sangat kompleks mulai dari budaya kita yang tidak mau mendengar (arahan sering dibilang menggurui walaupun tentu saja arahan juga harus dengan bahasa yang pas), kesadaran dalam diri karyawan yang rendah, pola kehidupan yang konsumtif ditambah lagi masyarakat yang lebih cenderung menilai kedudukan lebih dengan harta daripada prestasi, dsb… memang benar2 masalah yang kompleks.

    Kalau saya selalu menerapkan sistem seimbang, dekat dengan karyawan memang perlu tetapi kita tidak perlu untuk terlalu dekat sehingga kita menjadi seorang yang pushover. Juga memahami setiap karakter karyawan tentu saja perlu, tetapi juga karyawan jangan terlalu ‘dimanja’ sehingga kita yang selalu menyesuaikan diri dengan karakternya karena karyawanpun harus mampu menyesuaikan diri dengan karakter2 yang ada di seklilingnya. Itu menurut pengalaman saya loh……

    Yari NK,
    Pada akhirnya gaya kepemimpinan juga mengikuti jenis bidang unit kerja yang dipimpin, dan juga kompetensi masing-masing bawahan. Terlalu dekat tak bagus, terlalu jauh juga tidak baik, jadi memang harus ada keseimbangan.

  10. Sebenarnya pesan orang tua itu baik, namun yang namanya anak muda sekarang sulit untuk mendengarkan, setelah kejadian buruk pada diri sendiri baru membenarkan apa kata orang tua.

    Adipati Kademangan,
    Iya, itu memang ciri khas anak muda, lebih mendengar kata teman atau orang lain, dibanding nasehat dari ayah ibu. Juga menjadi pelajaran bagi ortu, jangan terlalu sering memberi nasehat, karena akan berkurang maknanya dan yang dinasehati bosen.

  11. Bagus banget !
    Jadi bisa belajar byk soal hubungan pekerjaan.
    Kalo soal turun pake kaki kiri.
    Dulu juga bingung kenpa ya mesti kiri..
    pas udh nyunsep nyium aspal krn turun pake kaki kanan, baru sadar hahahha

    Ekaria27,
    Jadi…udah pernah nyungsep di aspal?

  12. Orang Pandai Belajar dari Kegagalannya
    Orang Cerdas Belajar dari Kegagalan Orang lain.

    Jamal el Ahdi,
    Yup…betul

  13. Hallo Bunda Ratna, gimana kabarnya. duch saya sudah agak lama nich nggak berkunjung, tapi setelah berkunjung seneng banget krn banyak postingan yang bermanfa’at yang bisa saya ambil pelajarannya. Salah satunya postingan bunda Ratna yang ini.

    Wah terima kasih banget bunda Ratna, kita-kita selalu disuguhi wejangan yang bermanfa’at 🙂 🙂 🙂

    Best regard,
    Bintang

    Elindasari,
    Saya akhir2 ini juga jarang BW.
    Syukurlah jika bermanfaat, ini hanya kumpulan cerita, yang pernah diceritakan teman atau kejadian sebenarnya (nama orang dan tempat diganti)

  14. Manusia memang makhluk unik. Terkadang sudah dinasehati bahwa api panas, masih juga tidak percaya dan nekat bermain api. Begitu ia terbakar, baru ia betul-betul menyadari bahwa api itu memang panas. Padahal tidak perlu ia mengorbankan tubuhnya sehingga gosong terbakar, jika ia rela menerima nasehat tersebut.

    Tulisan ibu betul-betul menyiratkan pengalaman yang luas dan perenungan yang dalam. Salut.

    Racheedus,
    Saya hanya mengumpulkan cerita-cerita yang pernah saya dengar, atau kejadian sebenarnya, yang mungkin berguna jika ditulis.

  15. Mama tuh dulu sering ngomel, Bunda ..
    Katanya .. “kalau Mama yang ngasih tau, gak mau nurut .. giliran orang lain yang bilang, langsung percaya ..”

    Pembelaan saya, “saya kan butuh second opinion, Ma ..”

    Ah, emang kecilnya saya tu keras kepala Bunda, gak bisa dibilangin, hehee 🙂

    Muzda,
    Walau bandel, tetap dengarkan juga…siapa tahu pesannya benar…

  16. Terkadang kita akan sadar bila kita mengalami nya, barulah kita mengerti apa artinya nasehat.
    Hutang boleh aja asal tidak lebih 10 % dari gaji.

    Wilbersitu,
    Ada yang berhutang bisa 50% dari gaji….semua tergantung dari kita, apakah ingin hidup dengan pusing kepala, atau ingin tenang

  17. Saya baru mengiyakan nasehat-nasehat ibu saya setelah jadi ibu. Hhh… manusia (baca: saya) emang kadang gitu ya, mesti kecentok sendiri dulu, baru mau nurut. Semoga anak saya nggak ngikutin ibunya ini ya.

    Dian,
    Yang paling tepat adalah dengan contoh nyata, sehingga tanpa banyak bicara anak akan mengikuti perilaku baik yang ditunjukkan oleh ortu nya.

  18. [..]”Ada yang mau turun…awaas…kaki kanan dulu…”. Mengapa mesti kaki kanan dulu [..]

    bukannya kalo urun pake kaki kiri, ya?

    *ngernet*

    Zam,
    Makasih koreksinya….hehehe..udah dibaca berulangkali, kok ya masih aja ada yang lewat.
    Wahh Zam, cocok jadi proofreader….

  19. JAGA JARAK DENGAN BAWAHAN ?…yang ini mesti gak siy bu ?

    Imoe,
    Yang benar adalah tergantung situasi nya. Terlalu dekat juga nggak bagus, karena membuat karyawan tergantung, tidak mandiri.. Terlalu jauh (cuek) tentu saja juga kurang baik. Bagaimana agar pas, tentu memerlukan pengalaman, dan sangat tergantung karakter bawahan juga.

  20. Pengalaman memang guru yg terbaik..

    Septarius
    ,
    Yup…betul

  21. Pengalaman dari pengamalan

    Iwan Awaludin,
    Yup…sepakat

  22. sebuah pengalaman yang menjadi pembelajaran hidup memang mahal untuk menebusnya tapi dengan begitu kita bisa belajar untuk menapaki hidup yang lebih baik…

    intinya kita bisa sekarnag karena semua kejadian yang kita alami

    Omiyan,
    Pengalaman memang akan mendewasakan kita…

  23. setuju bgt dengan judul postingannya :

    “Pengalaman selalu menyisakan pembelajaran”

    dan itulah yg terjadi pada diriku saat ini 😦

    Okta Sihotang,
    Semoga pengalamanmu semakin membuatmu dewasa

  24. waaah…lama gak kunjung…apa kabar mbak Eni ??
    tulisan yang membuat kita tersadar….ternyata …Jadi manusia yang bijak atau pemimpin yang baik itu sulit…kata mbak Eni…Harus mampu mendengar,mampu menjadi contoh dan mampu melayani…
    Lha..kalau belum siap syarat itu..jangan rebutan jadi pemimpin…

    Dyahsuminar,
    Iya mbak, memimpin unit kecil aja repot..lha menjadi orangtua yang baik juga susah kan?

  25. Kalo kaki kiri lebih dulu turun dari bis..kaki kanan akan lebih siap untuk menopang berat tubuh yang berikutnya akan turun…begitu, gak, ya, bu ? 😀

    Dengan pengalaman-pengalaman yang ada kita justru lebih mantap dalam bertindak…Ya, khan, Bu ? 🙂

    syelviapoe3,
    Turun kaki kiri dulu, ini kayaknya memang ajaran yang aneh, dan baru dengar setelah di Jakarta….padahal ternyata ada benarnya

  26. Iya ibu, dan saya adalah orang yang selalu mendengarkan nasehat orang …..hehehe

    Prameswari,
    Percaya kok, Nungki pasti mendengarkan nasehat orang yang lebih tua

  27. Selalu ada hikmah bagi orang2 yg cerdas

    Ada klasifikasi blogger di blog saya
    Biar gak terasing tuh 😀

    Achoey
    ,
    Hmm..maksudnya?

  28. belajar dari pengalaman, itu memang mutlak diperlukan, apalagi pengalaman dari para tetua kita…

    dulu, saya juga suka membantah bila dibilangin sama ortu. tapi, sekarang saya kena batunya, anak2 juga suka membantah kalau dibilangin… duh… karma nih kayaknya… hehehe… 🙂

    makasih bu, ini nasehat bagus sekali 🙂

    Vizon,
    Kalau anak membantah, kita tentu ingat masa kecil dan muda dulu…jadi kita memahami.
    Sering dikatakan, jika kita dulunya bandel, juga lebih memahami jika ada anak yang bandel, yang belum tentu nakal.

  29. Yg dari dulu sulit kulakukan: turun dari bus dg kaki kiri terlebih dahulu. Apalagi klo pake sepatu yg bertumit tinggi….beuh…susaaahhhhh bgt 😀

    Si Bulet,
    Sebelum jatuh saat outbound, herannya dulu kok bisa ya mengejar bis pake sepatu tumit tinggi?
    Tapi sejak ikut jemputan, jadi kurang sigap lagi.

  30. pengalaman memang mengasyikan, pepatah lama kan memang bilang begitu yach. “pengalaman adalah GURU yang paling baik”. Menarik mom ! Teruss inget pas jalan di brng’siang, hujan lagi, belum makan lagi, gampangane njur golek kenalan deket2 RS PMI, laah makan gratiiiiis ! Tapi teman2 di kost tunggu2, kirain kitanya balik betawi !
    Saluuut, karya mommy, cantik nian !

    Samnawi,
    Kenapa komen mu selalu ditelan akismet dulu?
    Waduhh..jadi mengenang berhujan-hujan di Baranang siang, sepayung berdua ya?

  31. betul sekali bu, pengalaman selalu memberikan banyak hikmah dan pembelajaran. semakin bertambah usia, pengalaman hidup juga makin banyak. saya sangat menghormati orang tua yang berkenan menceritakan pengalaman hidupnya, sebab dari situ saya bisa melakukan refleksi dan sekaligus juga bisa bersikap lebih hati2 kalau kebetulan mendapatkan pengalaman yang sama.

    Sawali Tuhusetya,
    Sebetulnya banyak pengalaman orangtua yang bermanfaat, cuma biasanya kaum muda mudah bosan apalagi jika banyak dibumbui nasehat.

  32. benar bu, kan ada pepatahnya juga: pengalaman adalah guru terbaik.
    soal turun naik bis kota, mulanya saya juga kesulitan, he.he..
    maklum di amuntai dan banjarmasin tak ada bis kota. setelah kuliah di surabaya baru tau gimana caranya turun naik bis kota. 🙂

    Suhadinet,
    Itulah pak, bagi orang yang baru datang pasti berpikir, apa sih susahnya naik turun bis kota…
    Dan ternyata bagaimana agar tetap bisa berdiri tegak, jika tak dapat tempat duduk, juga perlu latihan. Di awal2, saya sering jatuh ke pangku orang, saat tak dapat tempat duduk..duhh malunya

  33. wah saya termasuk yang suka nggak ndengerin nasehat nih bu…(lupa keseringan)

    jangan sampe ngalamin sendiri yang nggak enak deh…(mulai ndengerin nasehat) 🙂

    geRilyawan,
    Iya, masa muda memang penuh pemberontakan…orangtua pun harus bersikap bijaksana…

  34. pengalaman saya juga bilang, kalo kerja jangan di dunia migas. karena udah seperti artis. naeknya cepet, turunnya juga cepet. duitnya emang kenceng, tapi harga diri juga bisa cepet melayang. apalagi, nyawa.

    itu makanya, sampe sekarang saya tetep bertahan sebagai penulis, meski tawaran buat balik lagi ke migas tetep dateng

    *loh, koq jadi curhat?*

    Billy Koesoemadinata,
    Ahh rasanya teman-teman yang di dunia migas nggak parah-parah amat kok…
    Tergantung pada tipe orangnya, karena pada awal karir sering ditempatkan di daerah terpencil, ini yang membuat nggak kuat.
    Tapi yang tahan juga banyak yang berhasil.

  35. Sebagai anak muda, seringkali kita “menyepelekan” nasehat para orang tua. Seringkali kita merasa lebih mengerti “kondisi zaman ini” dan melupakan bahwa para orang tua kita itu lebih dahulu merasakan getirnya hidup jauh sebelum kita dilahirkan. Kita sering menganggap “cerewet” orang tua kita yang senantiasa memberikan wejangan/nasihat kepada kita. Dan biasanya kita baru sadar kalau sudah kena batunya.
    Ibu saya biasanya cuma bilang” sudahlah…kamu memang masih belum merasakan bagaimana rasanya jadi orang tua…” mana kala saya “ngeyel” bila dinasehati.
    Terima kasih Bu..tulisan ini kiranya dapat menggugah kembali pribadi saya, untuk bisa menjadi “pendengar yang baik”

    untuk sebuah nasehat.

    Gusfudz,
    Minimal mau mendengarkan…karena terkadang orangtua suka menasehati berulang-ulang yang membuat bosan.

  36. belajar mendengarkan itu memang susah yah, bu. Saya aja butuh waktu hampir setahun untuk belajar mendengar orang bercerita hingga titik, tanpa di komentarin. Alhamdulillah punya suami yang selalu ngingati untuk menjadi pendengar yang baik:)

    Fety,
    Keberhasilan seseorang sebetulnya sangat ditentukan oleh kemampuan mendengarkan ini….jadi sebetulnya dalam banyak hal, kemampuan mendengarkan ini sangat penting….terutama jika menjadi seorang atasan.

  37. Tahun 2002 lalu saat usia saya masih 31 dan belum menikah, saya diangkat menjadi kepala sekolah. Bawahannya, guru dan pegawai yg usianya jauh di atas saya. Walau kadang sudah berusaha menjadi pimpinan yg baik, kadang tetap saja saya dianggap anak kemarin sore. Nasib…, nasib….

    Zulmasri,
    Dan pasti perlu usaha yang keras, untuk membuktikan bahwa pak Zulmasri memang layak menjadi seorang pimpinan.

  38. Ibu, kalo nasehat anak gadis tidak boleh duduk didepan pintu kenapa ya? atau ga boleh makan sayap ayam? tks

    Tukangobatbersahaja,
    Kitapun meraba-raba kan apa maksudnya? Sebetulnya nasehat yang baik, jika disertakan penjelasan, mengapa hal tsb sebaiknya diwaspadai, terutama untuk anak-anak sekarang

  39. jaga jarak dengan bawahan…

    memang sepertinya penting banget, Bu.. ada beberapa kasus. serem.. kapan-kapan aja deh cerita ke Ibu 🙂

    Utaminingtyazzzz,
    hmm memang susah kok ya, membuat keseimbangan di dunia kerja…tapi lama-lama kita bisa mengatasi dan menyesuaikannya, mana yang paling tepat untuk dipilih.

  40. Menjaga jarak dengan bawahan. Hm.. saya rasa ini hanya masalah istilah. Saya cenderung menggunakan “mengatur” jarak dengan bawahan.

    Dari pengalaman kerja saya selama ini dibeberapa kantor, saya cenderung tergolong cukup “dekat” dengan bawahan dan gak terlalu formal dalam berkomunikasi dengan mereka. Apalagi saya sering mempunyai bawahan yang lebih tua umurnya dri saya. Namun yang terpenting sepertinya adalah mengatur agar memperoleh jarak yang tepat sehingga kerjaan yang dilakukan bisa dilakukan dengan hasil terbaik. Kedekatan dengan bawahan akan memberikan kita info langsung tentang kondisi real dilapangan sehingga kita bisa mengambil posisi dan menentukan kebijakan dengan tepat. Namun kadang perlu berhati-hati jika kedekatan bisalah artikan oleh orang2 tertentu hingga justru menjadi counter prodiktif terhadap hasil kerja yang maksimal. makanya jarak atasan bawahan perlu diatur dengan proporsi yang tepat. Tentu akan berbeda pola yang digunakan kerja di team dengan bawahan para profesional dengan kondisi di pabrik dengan bawahan para buruh yang gapnya cukup jauh.

    Menurut saya kedekatan sah2 aja sepanjang bisa tetap menjaga iklim kerja dan memberikan hasil yang maksimal.. Bener gak sih, Bunda..? 🙂

    Nug,
    Betul……seperti jika bekerja memimpin cabang perusahaan yang karyawannya terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan, tentunya tak sama dengan memimpin unit kerja yang semua karyawannya ber posisi sebagai staf, minimal S1.
    Dan cara berkomunikasi kita juga harus disesuaikan, begitu juga gaya kepemimpinan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: