Oleh: edratna | Mei 22, 2009

Berharap semoga semuanya makin baik

Jika kita membaca media cetak beberapa hari belakangan ini, kita akan melihat beberapa pengumunan tentang hasil Rapat Umum Pemegang Saham untuk perusahaan yang telah go public, diumumkan pula bagaimana pembagian laba, serta bagaimana pembagian devidennya. Bagi orang yang memiliki saham, tentunya ini menjadi hal yang menggembirakan, setelah beberapa bulan lalu kita melihat pergerakan saham terpuruk.

Walau bukan pemilik saham yang besar, namun karena pernah bekerja di perusahaan go public, saya ikut senang melihat pergerakan saham perusahaan (tempat saya bekerja dulu) yang makin naik, dari pernah harga terendah mendekati Rp.3000,- per saham beberapa bulan lalu yang membuat hati miris, pagi ini saya membaca Kompas telah meningkat menjadi diatas Rp.6000,- per saham. Apakah hal tsb menunjukkan situasi makin baik?

Jika kita berjalan-jalan ke Mal, terutama di hari libur, maka terlihat bahwa bagian Food Court selalu dipadati pengunjung. Mengapa? Orang kita memang suka bergaul, mengobrol dan ketemu teman, karena di Jakarta lahan makin sempit, maka pertemuan sering diadakan di restoran. Dan sudah menjadi hal biasa, kalau kita datang ke rumah teman saat akhir pekan, dan mendekati makan siang, akan ditanya, mau makan dimana. Maksudnya mau makan di luar, atau mau dibelikan makanan. Ya, setelah 5 hari mencicipi makanan si mbak, akhir pekan adalah waktu kita bersantai, dan kalau kita sesekali membeli makanan di luar, si mbak juga akan senang, karena dia juga ikut mencicipi, dan juga akan belajar membuatnya.

Apabila kita berjalan-jalan di pertokoan atau Mal, jika ada kata diskon, maka pengunjung akan berjubel. Terkadang saya berpikir, mengapa ya orang hobi sekali melihat kata discount atau sale yang ditulis besar-besar? Tak dipungkiri, saya juga suka membeli barang yang lagi dijual diskon, terutama jika barang tersebut adalah barang yang memang saya perlukan. Sejak saya sempat terpeleset saat outbound tahun 1997, kaki saya tak sepenuhnya bisa sembuh kembali. Saya tak kuat lama menggunakan sepatu hak tinggi, oleh dokter disarankan menggunakan sepatu hak rendah dan empuk. Dan sepatu yang membuat kakiku nyaman adalah sepatu ber merk, seperti Scholl, walau bentuk sepatunya tak indah, namun membuat kakiku tak terlalu sakit buat berjalan yang agak jauh. Jika tanpa diskon, harga sepatu ini minimal Rp.800 ribu sd Rp.1.000 ribu, harga yang cukup mahal bagiku. Jadi kalau ada diskon, saya biasanya akan mencoba mencari sepatu di deretan sepatu yang alasnya terasa empuk di kaki dan berhak rendah. Sayangnya, jika diskon, jenis sepatu dan ukurannya juga ikut terbatas, jadi terkadang tak satupun barang didapat.

Membaca ulasan Bapak Cyrillus Harinowo H. di Kompas tanggal 20 Mei 2009 hal 6 tentang “Rapor Perekonomian Kuartal I-2009” membuat hati merasa agak terhibur. PDB kuartal I-2009 menghasilkan pertumbuhan secara riil 4,4 persen. Pertumbuhan ini akan merupakan kinerja yang biasa-biasa saja, jika terjadi dalam situasi normal. Namun mau tak mau, perekonomian dalam negeri juga dipengaruhi krisis ekonomi global, maka kita bersyukur, karena pertumbuhan masih positif. Dan, seperti telah diperkirakan, pertumbuhan ekonomi ini akan banyak disumbang oleh perekonomian domestik, bahkan konsumsi mengalami pertumbuhan 5,8 persen.

Ya, kita bisa melihat, pasar tradisional tetap ramai, food court di Mal tetap ramai. Betapapun ini akan terjadi aliran yang terus menerus, karena food court tsb juga akan mengambil bahan baku dari supplier, dan supplier tsb mengambil dari para petani. Bahkan pasar Mede, yang terletak di dekat rumah saya setiap pagi selalu dipenuhi mobil yang parkir dan para sopir bajaj, yang hilir mudik mengantar orang-orang yang belanja di pasar. Pasar di dekat rumah saya ini termasuk pasar di perkotaan, bertingkat 2 (dua) dan bersih. Jika rajin belanja ke pasar ini ber siap-siap lah ketemu para selebritis yang rumahnya banyak bertebaran di daerah sekitarnya. Si mbak pun paling suka kalau belanja, karena pulangnya akan cerita ketemu si Anu…. Harganya? Relatif memang lebih mahal, namun setelah hidup lebih dari duapuluh tahun di Jakarta Selatan ini, saya tak kaget lagi. Dulu, saat awal pertama pindah rumah dari Rawamangun, kemudian ke Condet, dan ke Cipete, saya betul-betul kaget, karena belanja sehari-hari harganya jauh lebih mahal, bahkan ada yang dua kali lipat. Padahal masih sama-sama di Jakarta, hanya berjarak dari Jakarta Timur ke Jakarta Selatan.

Kemarin, saya menikmati berjalan-jalan ke Mal dengan anakku, menonton film “Angel and Demon” yang kemudian diteruskan menonton “Night at the Museum“, lengkaplah sudah menonton sejak jam 12.15 sd. 17.00 wib. Keluar dari bioskop ingin mencari makanan yang tak terlalu berat, dan ujung-ujungnya cari bubur ayam (pasti Imelda ketawa deh, dan bisa menebak lokasinya dimana). Baru masuk restoran, clingak clinguk cari tempat duduk, ada yang memanggil nama saya. Ternyata teman lama, yang sebelumnya ingin saya telepon tapi nggak sempat terus….kami terus bergabung dan mengobrol sampai lama. Saya merasa pertemuan ini seperti ada yang menggerakkan, karena sebelumnya saya ingin mengobrol panjang, cuma waktunya kurang pas kalau ditelepon.

Tak terasa waktu kami makan sambil mengobrol telah lama, selesai makan diteruskan jalan-jalan ke Disc Tara, apalagi jika bukan ingin beli VCD film Indonesia. Anakku ingin beli “Perempuan Berkalung Sorban” yang belum pernah ditontonnya, dan “Jagad XCode” (baca: Jagad kali Code) yang disutradarai Herwin Novianto. Dan saya beli “Australia” yang dibintangi Nicole Kidman dan Hugh Jackman. Malam itu di rumah hanya sempat menonton “JagadXCode“, yang menggambarkan kehidupan masyarakat sekitar kali Code Yogyakarta. Ini mengingatkanku pada tulisan di Kompas beberapa hari lalu, yang menggambarkan wisatawan asing berjalan-jalan menyusuri pinggir kali Code, yang ditata kembali atas prakarsa Romo Mangun. Duhh…saya jadi ingin melihat pemukiman di pinggiran kali Code ini kalau ke Yogya.

Iklan

Responses

  1. iya bu. Di saat pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara yang diprediksi hanya akan tumbuh sekitar 0,7 % pada 2009 kondisi yang ada saat ini patut disyukuri. Alhamdulillah aktivitas ekonomi kalau kita lihat masih berjalan dengan baik.

    Indra KH,
    Saya berharap untuk ke depan pertumbuhannya tetap positif…

  2. amin Bu, semoga mengarah ke sana.

    Suhadinet,
    Semoga memang mengarah kesana…walau hiruk pikuk kampanye pilpres…harapannya ekonomi tak terimbas ke arah buruk. Malah ke arah baik, karena banyak belanja dari konsumsi, minimal untuk atribut partai, kaos dan barang-barang lain…

  3. pelaku usaha yang sekarang masih tetap bertahan walaupun di tahun-tahun kemarin terpuruk akan bernafas lega, pertumbuhan ekonomi naik berarti perkembangan usaha membaik.

    Adipati Kademangan,
    Iya…seneng kalau jalan-jalan dan melihat transaksi antara pedagang dan pembeli masih berjalan.
    Dan pinjaman KUKM masih juga bisa meningkat, artinya prosuktivitas usaha masih naik, karena ada kebutuhan pembiayaan untukmodal kerja maupun investasi.
    Dari Statistik Perbankan Indonesia, NPL (non Performing Loan), walau ada kecenderungan naik, juga masih terjaga pada batas angka.

  4. Yach, semoga saja akan terus membaik yach bunda Ratna. Krn dgn demikian roda perekonomian kitapun, sbg masyarakat ‘biasa’ nggak ketar-ketir akibat krisis global ini ๐Ÿ™‚

    Ok, bunda Ratna sekian dulu, see you ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

    Best regard,
    Bintang

    Elindasari,
    Iya…saya berharap semua lancar….sehingga roda perekonomian tetap berjalan.

  5. Wow! mulai dari Saham hingga Sale ๐Ÿ˜‰
    Btw, kembali eksis nonton bareng supektong niy yeee…
    Mau dong โ€œJagadXCodeโ€œ nya….karena dari semua yg disebutin d atas cuma itu yg belum kutonton ๐Ÿ˜€

    Si Bulet,
    Iya asyik…ada teman menonton, temen diskusi, juga teman ketawa-ketawa ga jelas…
    Ntar kalau ada yang ke Bandung, VCD film dan buku nya Trinity tak titipkan

  6. katanya usaha kecil dan menengah justru bisa lebih bertahan dalam kondisi krisis yg seperti sekarang ini karena bisnisnya lebih riil …

    Oemar Bakrie,
    Indonesia tertolong karena perbankan masih konservatif (tansaksi derivatif di Bank BUMN sangat dibatasi), demikian juga pengusaha…hikmah krisis 10 tahun yang lalu.
    Bisnis kecil, bahan baku, bahan untuk pembantu produksi dan pemasaran semuanya untuk domestik…konten impor dan ekspor nya nyaris tak ada. Dan pasar domestik sangat luas, karena rakyat Indonesia sangat banyak, dan suka jalan-jalan…misal jalan2 ke Mal, ke tempat rekreasi, yang membuat bisnis kecil, seperti makanan dan ikutannya tetap berjalan.

    Pada krisis saat ini, yang terpukul adalah usaha yang expor oriented (beda dengan 10 tahun lalu, yang expor oriented mendapat keuntungan besar)…karena dulu krisis hanya di Asia Tenggara…kali ini hampir seluruh dunia.

  7. assek banget jalan2 nya….buat saya ga kebayang nonton 2 film sekaligus…(saya sudah 15 th ngga ke gedung bioskop, karena memang ngga minat)….klo nonton film harus yg bisa direkam di tv, harus beli di “pay perview” trus selesainya 3 hari….(payah banget yah? )
    Tapi perkara blanja dicount saya jagoan….”shop till you drop” but never drop…..walau saya ga tau nantinya saya pakai sendiri ato saya bagikan klo pas saya pulang ke Indonesia…

    kapan jalan2 ke Canada? kabari saya yah..pasti saya antarkan ke discount store…dimana sepatu2 merk dr.scholl’s, clark, huss puppies, rockport harganya ga sampai 1/2 nya harga Indonesia

    Wieda,
    Wahh asyiknya….
    Ha, kapan ya bisa ke Canada, kayaknya tinggal mimpi deh…kesempatan jalan-jalan ke luar negeri kan dulu dibiayai dinas (seminar, kaitan pekerjaan kantor dsb nya). Setelah pensiun, memang terkadang masih suka jalan-jalan, tapi hanya seputar Indonesia.
    Btw …makasih tawarannya, siapa tahu?

  8. wahh .. jadi memang benar ya bu, pertumbuhan kuartal pertama positif 4,4%? Meski saya aslinya ngga ngerti, tapi turut bersenang hati.
    btw, jagadxcode? hmmm… referensi menarik sepertinya .. nanti cari ah

    Mascayo,
    Walau banyak PHK, tapi terbatas pada perusahaan yang expor oriented dan padat tenaga kerja. Misal, seperti perusahaan tekstil, memang sejak 10 tahun lalu sudah sulit, dan belum bisa bangkit kembali, sudah terkena hantaman lagi…apalagi kan usaha itu orientasi nya ekspor, bahan bakunya juga impor.
    Tapi untuk usaha yang bahan baku dari dalam negeri, dan dijual di dalam negeri, masih aman saja…karena pasar di Indonesia luas. Dan industri yang tak pernah mati adalah industri makanan, asal bisa bersaing dan mencari celah…Industri apa lagi ya? O, iya, industri yang terkait dengan kebutuhan perempuan, maklum kan kebutuhan perempuan dari kepala sampai kaki banyak sekali…hehehe

  9. Kayaknya justru usaha kecil dan menengah bahkan sektor informal yg lebih tahan terhadap krisis yg seperti ini ya Bu ? (sedang mencoba memahami sedikit-sedikit apa yg dibicarakan di TV oleh pengamat … hehehe).

    Mudah-mudahan yg tidak terlalu kena krisis bisa terus meng- “konsumsi” terutama produk lokal tanpa harus jadi konsumtif supaya ekonomi terus bergerak …

    Oemar Bakrie,
    Iya pak, contoh secara sederhana begini. Usaha kecil bahan baku dari dalam negeri, dijual juga di dalam negeri, sehingga tak terkena pengaruh kenaikan kurs, paling terkena inflasi karena harga semakin mahal. Jika industri cukup besar, bahan baku dari impor, saat beli bahan baku kurs dolar terhadap rupiah meningkat, sedang menjualnya dalam negeri…jika dijual mahal, daya beli tak bisa langsung ikut naik. Jika produk tadi dijual ekspor, pas saat ekspor kurs dolar terhadap rupiah menurun…hasilnya tak sebanding…..
    Makanya kalau pengusaha senengnya jika kurs dolar terhadap rupiah bisa dijaga tak bergejolak, walaupun cukup mahal, misalnya Rp.10.000,- per USD. Naik turunnya kurs ini akan membuat rencana perusahaan menjadi kacau.

  10. whalah2… satu hari yang penuh dengan nonton film…
    ini namanya sama saja dengan istirahat badan, tapi capek di mata bu Enny. ๐Ÿ˜€

    Goenoeng,
    Tapi enggak juga, karena menonton bersama anakku, jadi rasanya seneng aja ada temannya. Apalagi setelah itu ketemu teman lama, yang juga dikenal anakku juga…wahh ngobrolnya nggak habis-habis….

  11. seperti judul postingan ini, saya turut mengamini… semoga saja semuanya makin baik… ๐Ÿ™‚

    oya, kalau mau jalan2 di kali code, ntar saya antar deh bu… hehehe…

    Vizon,
    Iya Uda Vizon..padahal orang bule aja udah kesana…saya kok nggak kepikiran ya, setiap ke Yogya malah kemana-mana…yang jelas kalau belum ngukur jalan Maliboro dengan jalan kaki, rasanya belum ke Yogya

  12. apa kabar bu?

    kalau ngeliat kampanye capres, malah lebih menjanjikan ya: ada yg 8% ada yg 10% ๐Ÿ™‚

    kali code..hm, jadi pengen ke yogya lagi ๐Ÿ™‚

    Arifrahmanlubis,
    hehehe…nonton film tentang kali Code kok jadi pengin lihat kesana…dan kalau bagus, kenapa nggak jadi proyek percontohan ya…seperti proyek MH Thamrin zaman bang Ali di Jakarta, membuat gang-gang menjadi bersih dan hijau.

  13. Mudahan krisis global itu tak lagi menghentak kita kita di sini ya bu…

    BTW, jalan-jalan nya seharian nih….kompak ya!

    Salam kenal….

    Ammadis,
    Saya tetap percaya krisis di Indonesia masih bisa ditanggulangi, karena rakyatnya telah belajar saat krisis 10 tahun yang lalu. Asal keamanan tetap terjaga, sehingga bisnis tetap berjalan, dan masyarakat tetap punya daya beli. Apalagi masyarakat kita kan suka jalan-jalan, ke Bonbin, ke mal……tapi pasti kan beli makanan, paling tidak kalau seperti di Blok M ya beli di teh botol dan makanan oinggir jalan.

  14. Bun…. lokasi menentukan biaya hidup hahhaha.
    Tempo hari tinggal di daerah kuningan… maaaak apa2 mahal dech. Pindah ke timur terkaget2 lhooo koq murah ๐Ÿ™‚

    selamat weekend bunda… met nonton ya..

    (sambil megangin tissue… pilek nich Bun.. parah lagi)

    Eka,
    Iya…ternyata kalau hidup di Jakarta, tergantung kita mau beli barang dimana, mau murah atau mahal tergantung pilih tempatnya. Saya pernah belanja sama teman di pasar Tanah Abang, tapi bolak balik malah jadi diomelin teman, katanya menawarnya ketinggian….hahaha
    Dulu, tinggal di Rawamangun karena kantornya di jl. Veteran….terus kebetulan pasa udah dapat jatah rumah dinas, dapatnya di Jakarta Selatan….lha kantornya juga ikutan pindah di Sudirman…kebeneran banget, dari rumah tak terlalu jauh, tapi cukup 9 km saja ( 9 km ini dekat lho buat Jakarta)

    Week end ini udah nggak keluar rumah, masih ada kerjaan…kalau bosen ada buku yang belum dibaca, dan ada film di VCD yang belum ditonton.

  15. hahahha… Ibu nontonnya di PIM kan? jadi pasti bubur ayamnya AG? Sudah pernah coba di barito? Nanti kalau saya pulang dan ibu belum coba, akan saya antarin deh. Mak nyus deh bu.

    Hmmm jadi kepengen ke Kali Code juga deh (dan malioboro). Sayang sepertinya liburan tahun ini harus dipending hiks.

    EM

    Imelda,
    hehehe…saya udah lama pengin beli bubur ayam Barito ini, walau kata anak sulungku, hati2 agak “eneg” bagi yang tak suka telur dicampur bubur ayam. Bagi yang suka enak sekali. Tempatnya yang di depan makam itu ya, saya pernah lihat pas lewat sana malam-malam.
    Pernah baca, entah dimana bubur ayam di Radio Dalam juga enak..terus suatu ketika, saya lewat sana, dan mampirlah ke restoran yang tulisannya…”Aneka Bubur Ayam”…entah kenapa rasanya biasa aja. Kalau di AG, sebetulnya sih biasa saja…tapi biasanya kesana saat mampir sehabis jalan-jalan di PIM, nonton film, atau sambil ketemu teman dan mengobrol di sana. Sayang, sekarang toiletnya tak sebersih dulu, saat AG masih luas, dan belum ada jembatan penghubung itu…

    Imel, saya juga lagi mimpi mau ke Yogya, tapi yang santai, bawa tas kecil, terus menyusuri Malioboro, cari buku bekas yang tersebar di beberapa tempat di Yogya…dan pengin ke Gunung Kidul. Kalau ke Yogya bareng suami, akhirnya saya lebih banyak mengalah tinggal di GH, atau jalan2 sendiri, lha dia kayak orang nyidam keliling toko buku di Yogya…hahaha

  16. Wah, ternyata Mbak Enny hobi berat nonton film ya, lha nonton di bioskop kok sekaligus dua film ๐Ÿ˜€
    Tentang film “Perempuan Berkalung Sorban” kayaknya cukup banyak kontroversi ya. Saya malah disms teman, katanya ‘jangan nonton film ini, mesum!’. Lho, saya bingung juga …

    Saya juga suka nonton film, tapi lebih banyak nonton di teve atau VCD/DVD, agak jarang ke bioskop. Minggu ini Transteve memutar beberapa film bagus, seperti “Troy”, “Gladiator”, “The Last Samurai”, dan “Da Vinci Code”.

    Ngemeng-ngemeng, saya juga belum pernah ke pinggir kali Code lho Mbak. Ntar kalau ke Yogya, kita kesana bareng ya, diantar Uda Vizon ๐Ÿ˜€

    Tutinonka,
    Wahh hobiku sebetulnya jalan-jalan, berpetualang, baca buku dan nonton.
    Zaman mahasiswa miskin, kalau pulang ke Jatim, saya mampir Bandung dulu, terus nanti ke Yogya….dulu enak mbak, di Yogya tidur di rumah teman yang kuliah di UGM, dipinjami sepeda, jadilah kita keliling Yogya pake sepeda. Kalau buku, karena uang pas2-an, belinya suka patungan, dan bacanya gantian…tiap ada teman atau saudara ultah, hadiahnya buku, yang nanti bisa ikut pinjam baca…hahaha
    Nonton Film? Zaman mahasiswa, di Bogor ada film mulainya tengah malam, untuk mahasiswa. Dan kita nontonnya rame-rame..karena satu jalan semuanya mahasiswa…pas nonton wahh serunya nggak ketulungan, celetukan khas mahasiswa muncul. Kalau ke Bandung, sepupu saya suka ngajak npnton film di kampus ITB, nontonnya di ruang kuliah…kalau nonton di UNPAD jl. Dipati Ukur masih lumayan…karena di aula…..

    Soal PBS, banyak kontroversi dan sayangnya terkadang kita ikutan komentar hanya melihat trailernya atau baca resensinya. Anakku kaget setelah nonton VCD nya, ternyata beda sekali…jadi pembelajarannya…”Jangan berkomentar (berpendapat) sebelum menonton sendiri filmnya secara utuh”.

  17. menoba bertahan dan tetap exist, akan mampu membuat ekonomi membaik

    latqueire,
    Yup…betul…

  18. Saya juga suka memburu discount. Tapi productnya itu harus bener2 product bermerek. Harga sebelum dicount saya perhatikan 200 ribu. harga ketika akan di discount sampai 75% pun harga awalnya tidak di naikan tetep 200 ribu. ini artinya bener2 dicount. bayangin ajah bun 75 % discountnya. nggak ngeces gimana coba?

    Pakde
    ,
    Iya….saya hanya beli yang memang perlu, dan tahu harga sebelumnya
    Kata teman, saya bukan termasuk tipe pembeli yang akan dikejar penjual……hahaha

  19. Bicara bioskop saya ketinggalan jaman bun. Film disini basi semua. selisih satu bulan. huk huk huk

    Pakde,
    Ahh pakde, di Bandung aja suka ketinggalan.
    Saat ga ada teman, ada film yang pengin ditonton, tapi ga sempat terus…pas ke bandung, pikiran saya film itu sudah ada disana…ternyata belum.
    Dan ada juga beberapa film yang ditayangkan di Jakarta, tak mampir ke Bandung, kata anak saya. Juga kadang cari VCD nya nggak ada

  20. Wah syukur kalo ekonomi menggeliat, Bu.
    Si Kris, teman saya itu pernah komen soal film Kali Code… Hmmm jadi kangen Jogja…

    DV,
    Kalau ada teman Indonesia yang ke Sidney dititipi aja…
    Dulu saat anakku di Bne, temannya banyak yang titip dibawakan film Indonesia…begitu juga saat di AS kemarin
    Walau cuma setahun jadi penduduk Yogya, memang Yogyakotanya ngangeni….

  21. berharap bisa nonton, bisa makan di mall….n tetep berharap bisa liat kehidupan di kali Code….wah si ibu ini….keren deh

    bunda,
    Yah…harapan yang sederhana aja…

  22. kalo jadi ke sana, ajak2 saya ya bun
    jogja , dah lama saya ngga ke sana

    Reallylife,
    Iya…saya juga kangen Yogya

  23. ngomongin Kali Code, saya habis dari Jogja n lewat sana tapi ga mampir di angkringan..
    kapan-kapan mampir ahh

    Utaminingtyazzzz,
    Minimal kalau ke Yogya lagi, ada lokasi yang masih mau dilihat……dan pasti masih banyak kesempatan ke Yogya

  24. Kuncinya mesti optimis dlm kondisi apapun ya bun.. Biar tetep survive!

    dunia nA,
    Ya, optimis dan selalu berpikir positif

  25. bulan ini saya gagal ke Yogya dua kali, karena sedang di tegur Tuhan

    Sunarnosahlah,
    Bersyukur kalau setiap kali kita menganggap mendapat teguran Tuhan, sehingga akan berbuat lebih baik

  26. senang melihat ekonomi menggeliat lagi,mungkin yang kemarin itu emang udah di dasarnya kali, sekarang perlahan lahan naik.

    Boyin,
    Memang belum kembali seperti semula, namun pertumbuhan berapapun asal positif patut dihargai

  27. Karena daku tidak bisa menentukan sendiri siapa presiden baru yang akan meneruskan perubahan yang lebih baik ini, maka.. semoga presiden yang baru bersungguh-sungguh membesarkan bangsanya dan bukan egonya.

    Puak,
    Hehehe.. saya juga berharap, siapapun yang memimpin negeri ini adalah orang yang baik…..dan membawa perkembangan ke arah positif

  28. Badai pasti berlalu haiyah..
    Semoga banyak pelajaran yang di dapat dari keterpurukan ekonomi kemaren..

    Udah nonton -fire proof- belom, bagus ceritanya..
    Meski gak ada bintang terkenal..
    Ost. Nya juga keren..
    Sinopsis dan ost. Bisa di lihat di http://www.fireproffmymarriage.com

    Septarius
    ,
    Hmm..iya, sebetulnya segala sesuatu merupakan pembelajaran, jika kita bisa melihat nilai positif nya

  29. kapan2 nonton bareng Ria ya Bun ๐Ÿ˜€
    ohya masalah saham bikin stress bun, jadi mendingan invest di hal2 yg lebih tidak fluktuatif ๐Ÿ˜€

    Ria,
    Boleh..kapan2 kaau Ria libur ke Jakarta, bisa dibuat acara nonton bareng
    Investasi di saham tak masalah, jika orientasinya jangka panjang, dan tidak semua uang diinvestasikan dalam bentuk saham. Dan sekarang saham sudah membaik, walau belum kembali seperti tahun lalu

  30. wah, ibu, hari-harinya sepertinya selalu menyenangkan deh. cerita kesehariannya juga selalu penuh hal-hal seru. belakangan sedang doyan banget nonton ya, bu? apa pengaruh karena sang putra sulung sedang atau baru saja berkunjung? hehe…

    ya, melihat ramainya mal dan pusat-pusat perbelanjaan, seolah-olah krisis global tidak pernah menyerang negeri kita. mudah-mudahan keadaan segera membaik ya, bu?

    Marsmallow,
    Sebetulnya setiap hari bisa dibuat menyenangkan ya, walau melakukan hal-hal sederhana. Sayangnya kadang “bad mood” juga menyerang, kalau udah begini, ya memang harus istirahat.
    Saya berharap transaksi perdagangan tetap berjalan, pasar tradisional dan Mal tetap ramai….artinya masih ada transaksi jual beli.

  31. kita tunggu kebijakan pemerintah yang baru bu….

    Imoe,
    Kebijakan lama yang baik tetap bisa dilanjutkan….

  32. lama nggak lihat film saya. Film yang bagus sedang diputar sekarang apa ya?

    Ardianto,
    Dulu saya suka nonton Film yang diselenggarakan oleh Liga Film ITB, sekarang masih ada nggak?

  33. walah ulasanya mantap bu saya juga berbayang harapan harapan itu
    salam untuk keluarga

    Genthokelir,
    Hehehe…saya berharap semmoga semakin baik…bahkan dalam kondisi pemilihan pilpres pun berharap kondisi ekonomi tetap baik…

  34. Wah, enaknya ibu dan anak akur, bisa nonton bareng. Kayak temen aja.

    Racheedus,
    Sebenarnya senang kok jalan bersama anak…nanti mas Racheedus juga akan mengalami nya jika putra-putri nya telah besar.

  35. iyaaa… waaaah asyiiiik yaaaa… jadi pengeeeen nontoooon dah lama juga gak injak bioskop..

    Kang Boed,
    Hmm..menonton film bisa mengurangi stres….

  36. Mungkin kata ‘discount’ atau ‘on sale’ mempunyai efek seperti: “Yah… lumayan bisa dapat barang lebih murah sedikit” walaupun ‘discount’ sebenarnya maknanya adalah “penurunan mark-up”.

    Kalau film, saya juga baru menonton film Angels and Demons. Saya juga baru nonton film sains fiksi “Knowing” yang dibintangi Nicholas Cage. Saya senang menonton film2 sains fiksi tetapi bukan sains fiksi yang asal perang-perangan antarspesies di ruang angkasa. Kalau perang2an antarspesies seperti itu agak ogah saya menontonnya. Huehehe……

    Yari NK,
    Saya suka menonton, terutama film yang isinya juga menambah kan suatu pengetahuan pada kita, dan disajikan dengan menarik. Kalau sekedar perang2an saya juga ogah, harus ada sisi kemanusiaannya yang diungkap.

  37. wah, dari urusan soal saham hingga ke soal kali code. dalam amaan awam saya, kali code telah menjadi ikon perjuangan wong cilik dalam memperjuangkan hak2nya yang selama ini terpinggirkan. untung ada alm romo mangun. saya malah belum sempat datang ke kali code, bu.

    Sawali Tuhusetya,
    Menonton film kemarin mengingatkan saya, ternyata saya belum pernah melihat perkampungan di pinggir kali Code, yang pembenahan nya atas jasa Romo Mangun

  38. Jogja…jogja…jogja…jadi kangen nih…udah lama gak kesana…mau kesana bareng Bu?? ๐Ÿ™‚

    http://sendit.wordpress.com

    Sendit,
    Ke Yogya sih mau aja..entah kapan ada waktu…

  39. Saya paling seneng nongkrong di Code, Bunda ..
    Sekarang di sana kan bertembaran warung kecil sejenis angkringa, gelar tikar, ngobrol ngalor ngidul …
    Menikmati Jogja waktu malam ..

    Muzda,
    Ehh Muzda ini sebenarnya tinggal di Yogya atau Jakarta?
    Hmm kapan2 kalau ke Yogya mesti ke kali Code…

  40. Mungkin di pasar mede mahal karena harga artis bu
    (kita masuk kategori artis ga ya? hahahaha.. penari latar melissa :p)

    asik.. saham naik.. ibu kembali ceria..
    (lebay, hehe..)

    Narpen,
    Iya……tapi masih nunggu dapat dividen dulu …..hahaha..padahal cuma sedikit, namun lumayan kalau dibelikan bakso dibelakang BIP.
    Kamu kan memang artis, minimal pernah masuk TV…ehh dulu kan direkam ya…pasti masih ada dalam bentuk kaset VHS…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: