Ternyata, saran mereka tak selalu salah

Membaca tulisan di blognya Marsmallow, menjadi teringat pada cerita beberapa teman. Memang sulit menjadi orangtua, terutama orangtua yang merasa dirinya mempunyai pengalaman dan wawasan, untuk mengarahkan anak-anaknya dalam memilih tujuan hidupnya. Dan pada dasarnya setiap orangtua selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya, walau bagi si anak, orangtua terasa seperti mendikte atau memaksakan. Terkadang diperlukan bantuan pihak ketiga, untuk menjembatani perbedaan tersebut, agar masing-masing pihak dapat melihat secara jernih dan terbuka.

Saya sadar ternyata saran orangtuaku tak salah,” kata seorang teman. Teman ini di awal perkuliahan sering membolos, dan sekedar datang kuliah tepat waktu saja merupakan hal yang sangat baik. Dari omong-omong dengan teman tadi, ternyata dia sebetulnya tak menyukai pilihan kuliahnya. Teman tadi cukup beruntung, karena otaknya encer, jadi walau kuliah ogah2an, dia bisa terus naik tingkat dengan nilai yang lumayan baik. Setelah tahun ketiga, rupanya teman tadi makin tertarik dengan kuliahnya, yang pada semester tersebut, setiap mahasiswa dapat memilih jurusan yang disukai. Dan dapat diduga, nilainya melejit, dan dia bisa menyelesaikan kuliah dengan mudah, bahkan melanjutkan ke S2-S3 dengan mendapatkan beasiswa. Saat ketemu, kami menanyakan bagaimana perasaan dia sekarang, teman tadi menyatakan dengan jujur, dia bersyukur mempunyai orangtua yang dapat melihat visi ke depan serta memahami kelebihan dan kekurangan anaknya.

Teman yang lain, menceritakan betapa ayahnya pernah jatuh sakit, hanya gara-gara kakaknya yang telah diterima di Fakultas Kedokteran, di salah satu universitas terbaik di Jawa Timur, pada tahun keempat keluar dan pindah ke jurusan teknik di Universitas swasta. Walau pada akhirnya kakak teman tadi selesai kuliahnya, namun situasi telah menjadi tidak enak.

Sekarang, pada umumnya saat kelas 2 SMA telah dapat dilakukan tes psikologi, untuk mengetahui bakat dan minat seorang pelajar sebaiknya akan melanjutkan kuliah dimana. Karena pernah ikutan bertugas di sebuah bimbel, dan membantu ortu yang ingin tahu sebaiknya anaknya mendaftar kemana, saya menjadi mengerti bahwa memilih jurusan untuk kuliah itu tidak mudah. Pada saat itu, saya memahami bagaimana orangtua stres menghadapi anaknya, namun si anak juga pusing. Ada istilah, jika orangtua sukses, dia menginginkan anaknya lebih sukses dibanding orangtuanya. Dan jika orangtua punya mimpi yang belum tercapai, maka orangtua ingin agar si anak dapat menggapai mimpi itu. Tugas saya saat itu adalah menjembatani keinginan orangtua dan anak, agar tetap sesuai dengan hasil test psikologi, namun juga tak menimbulkan pertentangan.

Terkadang anak juga ikut teman, kalau rata-rata temannya ingin melanjutkan ke Fakultas Kedokteran, maka anak juga ikutan ingin kesana, tanpa melihat kemampuannya. Pada saat ini jurusan yang disediakan oleh Perguruan Tinggi begitu beragam, dan terkadang kita melihatnya harus berhati-hati…..karena ada juga jurusan yang ternyata tak sesuai dengan yang tercantum dalam buku panduan. Di dalam buku panduan hanya dicantumkan jurusan, tanpa mencantumkan detail materi perkuliahan dari tahun pertama sampai selesai.

Saya masih ingat saat saya mendaftar masuk ke suatu Fakultas melalui surat, betapa malunya saat sudah diterima, ternyata jurusan yang saya cantumkan dalam surat lamaran, sebetulnya bukan jurusan namun hanya salah satu bagian dari materi perkuliahan. Namun universitas tersebut, yang menyadari bahwa saat itu (tahun 70 an) memang para siswa SMA belum terlalu mengenal, yang penting adalah nilai rapor sejak kelas 3 SMP sampai dengan nilai kelulusan SMA memenuhi persyaratan. Saat diterima sebagai mahasiswa, yang rupanya Universitas menyadari bahwa para mahasiswa berdatangan dari seluruh pelosok Indonesia, maka dalam surat penerimaan, disertakan juga barang-barang apa yang minimal harus dibawa, seperti selimut, jas hujan atau payung, obat2an yang biasa diminum. Diberikan peta, cara mencari gedung Rektorat, rute bemo, cara mencapai wilayahnya (dari Jakarta atau Bandung), serta tempat mencari kos2 an.

Mungkin kesan pertama ini yang membuatku langsung menyukai tempatku kuliah, walau sebetulnya kuliah disini bukan pilihan pertama, dan kebetulan saya indekost di tempat dosen. Pada saat awal 70 an, para dosen yang rumah dinasnya di sekitar universitas diinstruksikan dapat menampung sementara anak-anak yang berdatangan dari luar daerah, juga asrama putri dan asrama putra, yang juga berdekatan dengan kompleks universitas tersebut. Padahal universitas ini adalah bukan pilihan pertama, namun akhirnya saya juga menyadari bahwa disinilah sebetulnya tempatku yang sesuai.

Iklan

22 pemikiran pada “Ternyata, saran mereka tak selalu salah

  1. Resiko tulisan terlalu panjang adalah pengunjung enggan membacanya. Salam kenal.

    Zian X-Fly,
    Betulkah?
    Blog ini memang ditujukan pada segmen tertentu…
    Jika dianalisis, ternyata yang masuk Top Post adalah tulisan yang komentarnya sedikit, namun tulisan tsb ada manfaatnya buat orang lain. Masalahnya menulis “agak serius” di blog perlu waktu lebih lama.

  2. Mungkin ini kebetulan karena contohnya berakhir baik bu. Tidak sedikit juga yang sang anak akhirnya frustasi, karena memang benar-benar tidak bisa suka akan pilihan orang tua.

    Dana telco,
    Ada juga yang berakhir tak baik…
    Namun sebagai ortu tetap harus bertanggung jawab, dan mencoba meluruskan kembali jika anaknya mengambil pilihan yang salah…atau mau menerima dan memahami jika pilihan anaknya ternyata salah

  3. Senang ya mBak, kita bisa berbagi dan belajar apa saja di blog, terasa sekali manfaatnya.

    Masalah beda pendapat dengan ortu yang sangat memprihatinkan dalam 4 hari ini adalah kasus Ocha siswa salah satu SMP di Blitar yang meminta tebusan 1 milyar ke ortunya yang merupakan salah satu pejabat di Pemkab Blitar membuat skenario seolah-olah dia diculik, ternyata dia lari ke Bali dengan seorang kuli bangunan yang hanya lulusan SLTP di Banyuwangi yang dikenal lewat sms. gra-gara bertengkar dengan ortunya.

    Ternyata setiap hari kita memang harus belajar termasuk belajar memahami pilihan anak. Belajar jadi orangtua yang bijak. Yang paling penting jangan sampai ada salah komunikasi. Berbahaya.

    Terima kasih ilmunya mBak, saya ndak pernah bosan belajar pada mBak Ratna. Bersemangat!.

    Puspita,
    Itu juga pengalamanku dan juga pengalaman teman dalam menghadapi anak-anaknya (karena sekarang udah jadi orangtua), maupun pengalaman saat masih menjadi anak.
    Menjadi anak pertama di keluarga, seluruh harapan ortu tertumpah kepada anak sulung, hal ini terkadang juga menjadi beban tersendiri…namun setelah saya dewasa saya bisa memahami keinginan beliau, walau keinginan beliau tak dapat saya realisasikan, karena kemampuan saya tak sesuai dengan yang beliau harapkan. Dan tetap ada jalan keluar…

  4. Oh tentu saja bu, saran orang tua tak selalu salah. Apalagi orang tuaku yang sebetulnya lebih membiarkan kehendak anak-anaknya (sampai akhirnya harus berpisah jauh gini kan?)

    Saya masuk sastra Jepang juga karena saran papa, yang mengatakan jurusan apapun di UI, dengan nama UI kamu bisa mencapai yang lainnya. Kalau tidak suka, tahun ke dua bisa ambil yang lain. And… here am I, di negeri matahari terbit.

    EM

    Ikkyu_san,
    Betul Imelda..justru itulah sejak anak-anak kelas I SMA saya menekankah harus mulai mempersiapkan diri, karena diterima di Perguruan Tinggi tertentu akan memudahkan tiket selanjutnya…walaupun mungkin saja kita tak menggunakan tiket tersebut.

  5. memang harusnya manusia dilahirkan untuk mewakili zamanya, dia punya kebebasan, pilihan terbuka.
    Yang lebih dahulu dilahirkan seyogyanya hanya sebagai fasilitator untuk si dia menemukan jati dirinya dan merasionalkan pilihan2nya

    makasih bu postingnya

    Blogger Senayan,
    Justru zaman sekarang, orang tua yang kepontal-pontal agar bisa tetap bisa berkomunikasi dengan anaknya. Kesibukan bekerja, jalanan macet, serta kemajuan teknologi, mau tak mau memaksa orangtua terus belajar agar dekat dengan anak-anak.
    Saya bersyukur, anak-anak menganggapku sebagai sahabatnya, dengan rela mereka berbagi pengetahuan, dari mulai cara membuka account friendster, multiply, face book...dan blog inipun atas anjuran anak-anakku, agar ibu punya semangat menulis

  6. memang bu, pada saat kelas 2 atau awal kelas 3 sma sebaiknya orang tua mulai mengarahkan anaknya kemana dia selanjutnya melangkah namun juga harus disadari sejauh mana kemampuan anaknya. Jauh lebih penting dari itu adalah minat anak itu sendiri.

    Saya sendiri waktu mengambil jurusan teknik sipil itupun bukan karena perencanaan sebelumnya, ya dapat dikatakan saya adalah orang yang “tersesat”.

    Tapi setiap kejadian pasti ada hikmahnya, dulu sebelum memilih saya melakukan sholat istikharah. Hikmahnya adalah saya memang tersesat, tapi “tersesat di jalan yang benar”.

    alhamdulillah jurusan yang saya pilih tersebut banyak memberikan warna dan menentukan masa depan saya, juga ada rasa kebanggaan di dalamnya.

    Ciput Mardianto
    ,
    Saat saya kelas 3 SMA, orangtua saya menginginkan saya masuk jurusan tertentu dan jurusan favorit saat itu. Guru2pun mendukung melihat kompetensi saya, namun takdir berjalan lain, walau akhirnya saya suka kuliah di PTN tsb. Saat anak-anakku memilih jurusan adalah masa2 yang paling sensitif, dan ini juga menjadi ajang perdebatan dan adu argumentasi. Yahh…memang susah…temanku yang putranya kelas 3 SMA juga sedang stres menghadapi masalah ini, deg2n apakah putranya diterima sesuai yang diinginkan di anak.

  7. semua yang terjadi pasti udah direncanakan ama Yang di Atas.. Jalan yang dirasa janggal, sepertinya emang perlu untuk dilalui.. Mungkin saja, di balik itu terbentang jalan yang bener2 kita impikan

    Elmoudy,
    Namun kan sebelumnya kita tetap harus memilih kan?

  8. Komunikasi yang baik antara orang tua dan anaklah yang akan menjembatani antara keinginan anak dan harapan orang tua. Tapi kayaknya sekarang hal itu semakin sulit.

    dyadyaeko,
    Komunikasi antara ortu dan anak rasanya memang sulit-sulit gampang. Temanku sedih…teman anak-anaknya berdiskusi dengan dia, tapi anaknya sendiri malah diam2 aja…walau temanku tahu anaknya berjuang keras. Namun ortu kan juga ingin diajak mengobrol…yahh diskusi dengan kaum remaja memang sulit, dan banyak sekali terjadi miskomunikasi yang terkadang bisa membuat salah jalan.

  9. saya menyesal kenapa dulu ndak kuliah di sejarah, pariwisata, atau tata boga.. hehehehe..

    Zam,
    Hahaha…dan kalau cowok memilih jurusan itu, ortu mu belum tentu berkenan….terutama untuk tata boga
    Sekarang, apapun yang Zam pilih, pasti ortu yakin itulah yang terbaik

  10. Saya dulu hanya mengikuti apa kata hati saja, dan kebetulan pilihan saya tidak bertentangan dengan apa yang diinginkan orang tua…

    Blog Dokter,
    Untungnya pilihan sama antara ortu dan anaknya…

  11. Masalah ikut-ikutan saya pernah mengalaminya, tapi dulu sewaktu masih smp.
    karena nem nggak cukup untuk masuk stm pembangunan (ini cita-cita saya), lantas saya ikut-ikutan daftar stm jurusan otomotif.
    Sampai di rumah saya diomelin bapak, kenapa masuk otomotif, itu kan bidangnya sempit.
    Dan memang ada benarnya juga, tapi Alhamdulilah lulus stm saya masih diberi keinginan untuk melanjutkan kuliah, meskipun yaa sayangnya pilihan jurusan jadi terbatas

    Mascayo,
    Justru disitulah sebetulnya peranan orangtua…karena beliau biasanya melihat secara komprehensip.
    Saya pernah baca pendapat psikolog, yang menyaranan agar saat memilih universitas sebaiknya ortu tetap mendampingi, karena yng dikawatirkan adalah pengaruh teman yang belum tentu positif.

  12. vizon

    mengikuti saran ortu atau membiarkan anak memilih sendiri tidak sepenuhnya salah. anak harus mendengarkan pertimbangan ortu dan sebaliknya ortu harus memahami karakter anak.

    saya setuju dg tes kemampuan itu. karena, kita bisa memiliki acuan yg lebih jelas dalam memilih. hanya, terkadang tes itu tergantung dg situasi emosi seseorang ketika tes itu dilaksanakan. tapi, sekarang sudah ada tes dg menggunakan sidik jari. kabarnya, tes itu jauh lebih akurat, karena tidak tergantung emosi. hanya saja, tes itu masih mahal… so…? ikuti kata hati saja dan memohon petunjuk dari Tuhan tentunya (bagi muslim, shalat istikharah)

    Vizon,
    Biasanya sekolah mengadakan test secara bersama-sama sehingga biayanya murah.
    Dan yang sulit, kadang kita sendiri tak tahu apa sebenarnya kemampuan kita
    Saya bersyukur, punya atasan yang baik, yang melihat kompetensi saya….hahaha…kalau tidak saya juga tak tahu, apa persisnya kemampuan saya….
    Soalnya zaman saya dulu belum ada test bakat

  13. Film Queen Bee itu temanya tentang orang tua yang berusaha mempercayai anaknya lho…

    Kunderemp,
    Ibu senang, akhirnya engkau memahami juga bagaimana sulitnya komunikasi antara orangtua ini.
    Dan semoga engkau memahami bahwa ayah ibu menginginkan anak-anaknya bahagia.

  14. saya termasuk beruntung karena memiliki orang tua yang selalu memberi support dan batasan yang jelas bagi anak-anak..

    Utaminingtyazzzz,
    Iya, komunikasi yang baik, membuat anak dengan mudah bisa cerita apa saja pada ortunya, dan ini akan membuat hubungan menjadi baik.

  15. Beruntung saya punya orang tua yang membebaskan anak2nya memilih jurusan asalkan bertanggung jawab dan yang pasti harus kuliah di univ negeri. Orang tua pengen jurusan A, saya kekeuh jurusan B.

    Namun karena mereka memberikan kebebasan kepada saya, maka sebagai rasa hormat pilihan kedua dlm UMPTN saya tulis jurusan pilihan ortu. Dan ternyata saya diterima di jurusan keinginan ortu 🙂 which is setelah saya jalani, saya sukaaaa bgt ! 🙂 dan bisa lulus dgn IPK diatas 3.00

    Yang lebih parah adik saya, ngotot kuliah di Teknik Sipil, sementara kata orang tua saya kayaknya dia lbh cocok ekonomi. Tapi ya itu bun, bijaksananya orang tua, tdk memasksa. Adik saya disuruh menjalani sendiri. Sudah di Sipil UGM setahun adik saya angkat kaki. Ikut UMPTN lagi ambil jurusan ekonomi. Dan tidak sedikitpun ortu menyalahkan. Tetap support. Pdhl masuk UGM susah and ssst gak murah juga skr uang pangkalnya bun :p

    Saya percaya campur tangan Tuhan dlm hidup saya bun, saya percaya orang tua mengusahakan yg terbaik untuk anaknya. Hanya saja cara mengomunikasikannya bagaimana. Itu saja 🙂

    Eka,
    Terkadang orangtua juga bisa salah….
    Namun tak ada salahnya mencari juga pendapat orang-orang lain…..betapapun terkadang pilihan juga masih tak tepat. Jika demikian diperlukan kebesarana hati ortu maupun anaknya, untuk sama-sama mendorong untuk mencari jalan keluar yang lebih baik.

  16. Kayaknya masalah universal dari waktu ke waktu hampir selalu behubungan antara pilihan anak dan saran ortu ya? Kebetulan ortu saya tidak mau saya mengikuti jejaknya kalau hanya utk sekedar menyenangkan mereka …

    Oemar Bakrie,
    Memang perlu diskusi dua arah, terkadang juga diperlukan bantuan pihak lain.
    Bapak bersyukur karena orangtua membebaskan dalam menentukan pilihan….

  17. kayaknya sekarang jamanya ortu dan anak mendiskusikan apa pilihan-pilihan hidup. Jadi kalo terjadi kegagalan dalam pilihan itu, maka semua akan bertanggung jawab dan keluar dari kelsulitan tersebut bersama-sama juga….

    Imoe,
    Betul…karena pengalaman orangtua juga banyak gunanya, namun di datu sisi orangtua juga tak boleh memaksakan kehendaknya.

  18. Ping-balik: Hubungan orangtua dan anak yang terkadang “sangat sulit” «

  19. Ping-balik: Planet IPB | Hubungan orangtua dan anak yang terkadang “sangat sulit”

  20. tini

    orang tua selalu menginginkan anaknya sukses ya bu, sehingga ia pun mengarahkan anaknya sesuai dengan kemampuan akademis sang anak, hanya saja kadangkala persepsi anak berbeda dengan pola pikir orang tua, sehingga diperlukan komunikasi yang efektif untuk menggalinya…begitu bu kata psikolog.

    Tini,
    Masalah ini akan selalu dihadapi oleh orangtua dan anak, karena terkadang anak ingin ikut teman-temannya.
    Diperlukan adanya pihak ketiga yang bisa membuka wawasan anak, sekarang ada pengajar di bimbel, guru, psikolog…inilah yang akan bisa menjembatani antara anak dan orangtua dalam memilih jurusan sekolah.

  21. sebagai orang tua, tentu ingin yang terbaik untuk anaknya ya mbak..
    Tapi ketika nampak memaksakan…( bagi kami sendiri )…kasihan juga si anak..jadi bagaimana yang PAS..mungkin saran,doa dan arahan yang tidak mengikat..
    Sing penting Tanggung jawab dengan pilihannya…itu yang selalu saya katakan pada anak anak…( walau kadang kadang ),ingin memantau juga…nggak tegel…he..he…namanya anak..

    Dyahsuminar,
    Memang susah-susah gampang…
    Kalau udah merasakan punya anak dewasa seperti mbak Dyah dan saya…merasakan bagaimana kita deg2an tapi ga bisa mencampuri…hanya doanya saja yang nritil….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s