Oleh: edratna | Juni 8, 2009

Hubungan orangtua dan anak yang terkadang “sangat sulit”

Kita tentunya menyadari, bahwa hubungan anak dan orangtuanya tidak selalu berjalan mulus, terutama pada saat anak-anak beranjak remaja, dan sedang mencari jati dirinya. Saya pernah membahas disini, yang menceritakan betapa sulitnya posisi orangtua pada saat anaknya akan memilih jurusan di Perguruan Tinggi, yang terkadang pilihannya tadi didasarkan atas keinginan agar tetap bersama teman-temannya, padahal kompetensi masing-masing anak tak selalu sama.

Saya menyadari, saya sendiri harus mengakui, hubunganku dengan anak-anak seperti gelombang, yang terkadang naik turun. Namun, saya bersyukur, kesulitan apapun pada akhirnya dapat diatasi, walau terkadang saya terpaksa meminta jasa orang-orang lain, yang menurutku akan lebih banyak didengarkan anak. Pada saat seperti ini, kadang saran sebaik apapun dari orangtua akan dilanggar, malahan yang dilarang akan dilakukan. Diperlukan kedewasaan orangtua, untuk tidak mudah panik dan marah, yang berakibat semuanya malah berantakan.

Dua minggu sebelumnya, saya dan si sulung menonton dua film yang terkait dengan museum, yaitu “Angel and Demon” serta “Night at the Museum“, maka hari Minggu kemarin saya menonton 2 (dua) film komedi terkait dengan Capres, yang keduanya film Indonesia. Film pertama judulnya “Capres” yang merupakan singkatan dari Calo Presiden. Awalnya menarik, namun entah kenapa ceritanya kurang di explore, sehingga menurutku menjadi kurang greget, walaupun film ini tetap menarik untuk dilihat. Dan yang menyedihkan, dalam satu gedung (saya menonton jam 12 siang) hanya ada 5 (lima) penonton….wahh serasa memiliki gedung bioskop. Mungkinkah kurang promosi? Padahal ada beberapa petinggi negeri ini yang ikut bermain.

Film kedua berjudul “Queen Bee“, 2 (dua) hari sebelumnya anakku sudah menonton, dan dia cerita bahwa film tadi menarik untuk ditonton karena menggambarkan hubungan yang rumit antara seorang ayah dan putrinya, yang masih remaja. Saya tertarik untuk menonton film ini, bukan saja tertarik atas pendapat anakku, namun bagiku juga merupakan kesempatan untuk berdiskusi dengannya. Dimaklumi, diskusi dengan anak, jika dilakukan sambil makan di cafe, akan lebih efektif hasilnya dibanding jika diskusi dilakukan di rumah, entah apa sebabnya.

Film Queen Bee garis besarnya sebagai berikut: Queenita Siregar, seorang gadis remaja dari kelas menengah ke atas. Selain gaul, Queen juga seperti remaja umumnya, mencoba berbisnis kaos bersama kedua sahabat nya, yang kemudian menjualnya ke distro. Di sekolah, Queen diminta sumbangan oleh panitia Fancy (benar nggak sih istilahnya?) di sekolah, karena dianggap Queen anak orang berada, padahal di satu sisi ayah Queen menekankan kedisiplinan, pengeluaran uang harus untuk hal-hal yang bermanfaat.

Queen semenjak ibunya meninggal saat usianya 5 (lima) tahun, lebih dekat dengan Makcik, pengasuhnya yang telah ikut keluarga tersebut sejak dia masih kecil. Ayah Queen sibuk dengan politik, bahkan akhirnya menjadi calon Presiden. Sejak itu kehidupan Queen berubah, dan menjadi makin rumit. Adanya aparat keamanan yang disiapkan untuk melindungi Capres dan keluarganya makin membuat hidup Queen terkekang, terutama setelah aparat tadi juga membuntuti saat Queen kencan dengan pacarnya. Keinginan Queen sederhana, dia hanya ingin dekat dengan ayahnya dan tak ingin ayahnya menjadi Capres jika itu makin menjauhkan ayah dari Queen. Di satu sisi, sang ayah menganggap Queen masih gadis remaja, yang perlu dilindungi. Suatu ketika teman Queen membocorkan, bahwa Queen sebetulnya tertekan di sekolah, karena tak bisa ikut menyumbang acara sekolah. Sebagaimana Obama yang didukung oleh kaum face booker, maka disarankan agar ayah Queen juga menggunakan kaum muda, sehingga acara disekolah Queen bisa digunakan sebagai sarana menggaet kaum muda. Sayangnya, ternyata uang Rp.100 juta, oleh Queen tak diberikan pada panitia pesta sekolah, namun diberikan pada pacarnya (yang kerja di LSM), untuk disumbangkan ke masyarakat korban bencana. Disinilah, saat tim sukses mengecek di sekolah, ternyata panitia pesta sekolah tak menerima uang sesenpun dari Capres ayahnya Queen. Ayah sangat kecewa, demikian pula Queen, apalagi setelah tahu bahwa uang tsb digunakan untuk kepentingan pribadi pacarnya. Disini Queen berusaha meminta pertanggungjawaban pacarnya, dan menghilang dari rumah, membuat ayahnya, yang seharusnya datang di acara debat capres tak hadir di acara debat itu, namun memilih mencari anaknya yang hilang. Pada akhirnya, baik ayah dan anak, bisa saling memahami, bahwa keduanya saling mencintai.

Film ini menurutku sangat menarik untuk ditonton, namun entah kenapa gemanya sangat kurang, sehingga penonton biasa-biasa saja. Memang dalam hal film juga diperlukan unsur marketing, karena tanpa marketing yang benar, film yang sebetulnya layak ditonton kurang peminat. Apalagi setelah saya lihat, posternya menggambarkan cewek muda gaul, yang mengingatkan calon penonton pada film-film Indonesia lain yang lebih banyak mengetengahkan kaum remaja, semenjak sukses AADC. Saya bersyukur, si sulung termasuk maniak film, dan dia berusaha menonton film-film Indonesia, kecuali film yang berbau hantu-hantu an.

Pada kesempatan mengobrol dengan anakku, disitulah kami mencoba saling mengungkapkan isi pikiran bahwa sebetulnya orangtua menyayangi anaknya, walau terkadang cara menyayangi nya salah, atau tak diterima oleh pihak satunya. Saya juga mengatakan pada anakku, ibu juga minta maaf jika selama ini banyak melakukan hal-hal yang sebetulnya kurang cocok atau tak sesuai dengan keinginan anak.

Sebagai orangtua, kita memang harus percaya pada anak, namun kita juga memahami bahwa anak-anak terkadang masih lugu, dan tak memahami dunia tipu menipu, yang terkadang telah ada bahkan pada saat anak masih usia muda. Dan saya menjadi ingat, pertanyaan si bungsu mengapa kalau mas boleh, tapi saya tak boleh, dan saya selalu menjawab walau tidak dibedakan lagi oleh gender, namun tetap ada hal-hal yang berbahaya bagi anak gadis. Dan justru karena itulah, setelah tahu si bungsu sering ke warnet, yang membuatku kawatir karena tak mungkin si mbak membuntuti terus saat ke warnet, atas bantuan teman-teman (terutama yuniorku) saya belajar internet, dan mulai berlangganan internet di rumah, agar saya tak kawatir. Dan semakin menyenangkan, setelah akhirnya saya dapat berlangganan melalui kabel vision, karena biayanya fixed, sehingga teman-teman anakpun bisa ikut menggunakan warnet tanpa ada biaya tambahan.

Sebagai orangtua, kita memang harus bisa mengikuti kemajuan dan teknologi, agar bisa tetap bergaul dan bersahabat dengan anak. Dan jangan mudah putus asa jika hubungan tak berjalan mulus, percayalah, pada akhirnya si anak akan memahami bahwa orangtua menyayanginya, walaupun caranya mungkin membuat anak kurang nyaman.

Iklan

Responses

  1. Ya Bu Ratna … sebagai orang tua kita kadang bisa tergelincir terlalu dungu … lebensraum anak-anak kan berbeda … jadilah busur bagi melesatkan ke masa depan … betul ngak ya?

    Ersis Warmansyah Abbas
    ,
    Betul pak, kita harus berani melepaskan mereka untuk mencari kehidupan yang baik, tugas orangtua adalah memberikan pendidikan, memberi contoh yang baik, agar anak bisa mendapat teladan langsung di rumah, sebelum berkenalan dengan lingkungan di luar rumah.

  2. Iyaaa…. saya jg suka dgn filmnya Queen Bee…. sangat menyentuh…

    Di tengah kesibukannya di luar rumah, tetap saja sang orang tua lebih mengutama sang anak.

    Dan faktor kepercayaanlah yang membuat semuanya kembali menjadi harmonis ^_^

    Iko,
    Halo, udah lama kita tak saling menyapa, habis sulit sekali masuk ke blog nya Iko.
    Film nya bagus ya Iko, banyak sekali unsur pencerahannya, walu dikemas dalam bentuk yang sederhana dan cerita sehari-hari.

  3. Tadinya gak mau nonton tapi setelah di review bunda… jadi tertarik.

    Bunda… saya setelah lebih dari 1/4 abad umurnya bahkan sudah bersuami ini aja baru ngerti bahwa kadang cara pikir ornag tua dan caranya menyayangi itu berbeda dengan yang saya harapkan.
    But the bottom line is they do love me in their own way 🙂 kalo mama jadi keras kepala, saya berusaha mengingatkan diri, beda generasi nich, beda pola pikir. Didiemin dulu nanti kalau sudah adem baru komunikasi dengan cara lain

    Kalau ternyata gagal, ya sudah. Saya tetap menghormati hak dan otoritas orang tua 🙂

    Eka Situmorang,
    hehehe…itu menurut saya lho.
    Saya suka film yang ceria, ringan, namun ada unsur pendidikannya, sehingga setelah menonton merasa segar.
    Dan saya tak suka film yang “agak gelap” rasanya ikutan murung dan sedih…hehehe

  4. Saya bersyukur besar ketika jaman belum sebebas skrg. Tantangan paling berat adalah ketika nanti saya menjadi orang tua krn masa yg saya lewatin beda dgn yg dihadapin anak2 skrg.

    Mudah2an nanti kl punya anak bisa seakrab dan sedekat hubungan antara Ibu Enny dan putra-putri. Saya msh inget tips yg selalu mencium pipi setiap mo berangkat sekolah. Mudah2an nanti bs diaplikasikan hehehe

    Idawy,
    Percayalah, Ida pasti bisa. Namun memonitor anak tak bisa dilakukan dengan semata-mata membuntuti, namun berikan kebebasan dan kita monitor pakai jalan lain. Antara lain, mengenal kegiatan anak, teman-teman anak, orangtua temannya anak, dan ikut belajar teknologi yang disukai anak….kayaknya mudah tapi bikin puyeng…..hehehe

  5. Wah, harus nongton pelem queen bee nih bu. Siapa tau saya jadi Capres dan kebetulan dua anak saya adalah perempuan hehehe.

    Awaludin,
    Tak harus jadi capres juga akan mengalami kesulitan dalam hal memahami keinginan anak, terutama pada saat mereka remaja. Namun jika kita niat dengan baik, dan menyayangi anak, pasti ada jalan untuk bisa saling memahami.

  6. sekarang Zia masih kecil, semakin besar sepertinya saya harus banyak belajar.
    ingin juga seperti Ibu, akrab sekali sama putra-putranya

    Mascayo,
    Iya…nanti masa itu akan datang. Tapi kalau kita mengikuti sejak kecil, sebetulnya menyenangkan mengikuti anak dan bersahabat dengannya.
    Kenyataannya, anak-anak juga bangga, apalagi jika teman2nya juga bisa dekat dengan teman-temannya.

  7. Ibu, saya bersyukur ortu saya tak seketat ortu teman lain meski terkadang iri juga ke mereka karena justru krana tak ada kekangan dari ortu saya harus ‘cari’ aturan di tempat lain meski Thanks God masa remaja bisa saya lewati tanpa harus ngawur terlalu banyak 🙂

    DV,
    Saya juga bersyukur mengalami masa kecil sampai remaja dengan orangtua yang penuh pengertian. Justru karena itu saya berusaha tetap dekat dengan anak, mencoba memahami mereka, walau kadang sulit juga mengikutinya.
    Saya percaya, Donny mengalami masa-masa yang sangat indah dalam hubungan dengan orangtua dan teman.

  8. kesulitan terbesar adalah, bagaimana para orang tua mau menurunkan egonya sebagai orang tua, sehingga bisa membuka ruang komunikasi. Ini sulit karena selama inibanyak orang tua yang beranggapan bahwa merekamemilki kuasa penuh terhadap kehidupan anak-anaknya. Padahal jaman berubah dan berkembang. Yang harus dilakukan adalah menyesuaikan diri dengan perubahan. Bukankah yang tidak pernah berubah itu dalah perubahan itu sendiri ?. Disi lain anak juga harus memahami bahwa orang tua adalah mitra utama dalam berbagi dan menjalani hidup, karena bagaimanapun mereka lebih dulu hidup..hehehe (Stttt saya sendiri belum pernah meresakan jadi ortu lho heheheh, ntah nanti saya sanggup jadi ortu ya..)

    Imoe,
    Bergaul dengan anak sangat menyenangkan, saya sangat menikmatinya. Apalagi kita bisa mengikuti sejak kecil sampai dewasa, dari hanya sebagai pendongeng (saat anak kecil), kemudian mengajarkan mata pelajaran dan budi pekerti, mengantar ke beberapa kursus, menemani konser piano…dan akhirnya menjadi teman diskusi yang menyenangkan saat mereka dewasa. Dan pada akhirnya, saya malah banyak belajar teknologi dari mereka, termasuk menulis di blog. Dan kita harus menempatkan poisi anak sebagai teman, menerima dan mendengarkan kritik mereka, tidak menghakimi…percayalah justru bergaul dengan mereka benar-benar menyenangkan

  9. filmnya bagus ya, bu? wah, patut dicoba nih…

    v(^_^)

    kadang aku pikir juga gitu, bu. seringkali orang tua menyayangi anaknya dengan cara salah. kadang terlalu berlebihan dalam melindungi. padahal, seperti apa kata iklan, “berani kotor itu baik”.

    Farijs van Java,
    Menjadi orangtua memang sulit, harus berani melihat anaknya berbuat salah…kalau tak berani membiarkan, si anak tak akan pernah belajar dari kesalahan. Cuma bagaimana agar kesalahan itu tak menyangkut hukum, ini juga sulit. Dan bagiku yang sulit adalah mengajarkan pada anak, hak dan kewajiban sebagai warganegara yang taat hukum, punya nurani, menolong sesama. Dan hal ini perlu diskusi yang intens, terkadang perlu diskusi dengan orang lain…
    Syukurlah, akhirnya si sulung sangat menyenangi ilmu hukum….dan sebagai blogger, banyak sekali kesempatan diskusi masalah hukum.

    v(^_^)

  10. hehehe…ga kebayang nonton film ini…nunggu di You Tube kali yah?

    Pas saya di Indonesia, kakak saya mengunjungi saya di Semarang…2 hari kemudian anak kakak saya yg sudah menikah dan punya anak satu (tapi masih tinggal di rumah kakak saya) nelp…
    “ma… gimana cara masak makanan baby ma? dia ga mau makan ”

    looh piye to? trus 2 hari “cucu” mbak saya ini dikasih makan apa ama mbok nya?

    tuh kan contoh hubungan ibu dan anak di Indonesia…

    tapi…klo disini lain..anak 18 tahun sudah “bebas” nentuin langkahnya sendiri, ada seh beberapa teman saya yg masih tetep memberikan tempat tinggal buat anak2 nya yg umurnya sudah lewat 23 th…tapiiiii….kayanya banyak yg “nendang” mereka dari rumahnya….ato boleh tinggal dirumah asal bayar…nge kos gitu

    Wieda,
    Waduhh….dulu, walaupun saya bekerja, makanan pagi untuk anak tetap saya sendiri yang buat. Dan begitu sore, sepulang kantor, saya segera membersihkan badan, dan sampai mereka tidur tetap bersama saya. Kalaupun ada kerjaan kantor yang dibawa pulang (karena saya pulang teng go)…saya mengerjakannya setelah anak dan suami tidur. Jadi memang cape, rata-rata cuma tidur 2-3 jam setiap hari, tapi sangat menyenangkan melihat anak-anak tumbuh besar dan masih dekat dengan orangtuanya.

    Wieda, diantara teman-teman dan lingkunganku, rasanya semua mirip keluargaku…jadi contohmu di atas hanya sedikit di Indonesia. Adalah hal biasa, para ibu pekerja ini, hari cutinya adalah untuk menemani anaknya saat ujian, atau untuk bersama keluarga. Dan para ibu ini (baik yang pangkat manager sampai direktur), semua tetap memprioritaskan keluarga, selain kompeten di bidang pekerjaannya.

    Saya mengenal seorang ibu, mantan putri remaja, sekarang bergelar doktor dan dosen di suatu universitas di Jakarta. Dia cerita, dia selalu menjadi aktivis POMG (Perkumpulan orangtua murid) saat anak-anaknya TK s/d SMA, dan saat anaknya menjadi mahasiswa ITB, dia menjadi perwakilan di Persatuan Orangtua Mahasiswa (IOM ITB) yang aktif. Dari dialah, saya belajar dan ikutan friendster, supaya kita kenal dengan teman-teman anak.

  11. anak-anak terkadang masih lugu, dan tak memahami dunia tipu menipu, …

    ah saya merinding Bu … membaca ini …
    ini betul sekali …

    Ya mudah-mudahan saja kita semua selalu diberikan petunjuk untuk selalu bisa menjadi teman yang baik untuk anak-anak kita

    Salam saya ibu

    NH18,
    Sejak anak-anak SD sampai dengan mahasiswa, saya dekat dengan guru2nya. Dan saya selalu datang di acara pertemuan antara orang tua dan guru, disini sering dijelaskan bagaimana anak baik-baik bisa terperosok karena pergaulan yang salah.

    Saat SMP, saya diingatkan oleh Guru, agar anakku kalau jajan dilingkungan sekolah, dan jangan mau ditraktir kakak kelas apalagi jika traktirannya di luar sekolah, Karena bisa saja, nanti dimasukkan sesuatu, atau anak terlanjur berhutang budi, sehingga tak bisa menolah diajak kemanapun. Dan menjelaskan hal ini pada anak, pada usia dimana dia menganggap semua orang baik, adalah tidak mudah. Dan kita harus pandai-pandai menjga anak, tanpa dia merasa terkekang. Jika tak sibuk kerja sebetulnya alat paling mudah adalah ikutan aktif di POMG, sehingga anak tak curiga jika ortu sering ke sekolah.

  12. Wow…
    Tika Putri sampai bikin blog demi menjadi Quinita Siregar di Queen Bee. Terinspirasi Heath Ledger yang mengurung diri sebulan demi menjadi Joker di TDK.

    Kunderemp,
    Terimakasih nak, film ini memang bagus, dan ibu senang bisa diskusi denganmu, dan akhirnya engkau juga memahami bahwa hubungan yang sulit antara orangtua dan anak, karena memang terjadi gap, dan cara komunikasi yang salah. Masing-masing tak ada yang salah dalam hal ini, namun yang penting adalah dipahami bahwa sebetulnya orangtua menyayangi anak-anaknya

  13. Wow saya salut sama bunda Ratna. Ternyata dalam kehidupan ini saya mesti belajar lebih banyak lagi, apalagi bila anak2 sudah meranjak dewasa. Terima kasih saran2 & sharingnya bunda, saya jadi semakin banyak belajar dari pengalaman2 bunda, krn sekarang ini saya sudah jadi ortu untuk kedua putra saya. Meski masih 9,5 thn & 2,5 thn saya jadi punya ti & trik utk bekal mereka dewasa nanti bila menghadapi permasalahan yang mirip. Sukses terus buat bunda Ratna, juga titip salam buat keluarga tercinta 🙂 🙂 🙂

    Best regard,
    Bintang

    Elindasari,
    Jangan kawatir, semua berjalan mengalir saja, dan yang penting ada niat untuk belajar memahami secara terus menerus. Jika kita dekat dengan anak-anak, kita bisa belajar bersama mereka, sehingga kita tahu ada masalah, bahkan saat si anak tak cerita apapun.

  14. hal pertama yg harus diraih dalam hubungan anak-ortu adalah “hati”. bila kita sudah sehati, maka kesulitan apapun akan dg mudah diatasi… saya juga sedang belajar untuk menyatukan hati dg anak2…

    thanks reviewnya bu… bagus banget 🙂

    Vizon,
    Betul Uda, mereka juga tahu kok kalau orangtua sangat menyayanginya. Yang diperlukan bagi anak adalah “dipercaya”…nahh ini kadang sulit, apalagi anak sendiri belum memahami adanya tipu menipu di dunia ini. Jadi memang harus ada konsesnsus, anak diberikan suatu frame, dimana dia boleh bermain bebas, tapi orangtua tetap menjaga gawangnya. Dan sebelumnya harus disepakati dulu aturan mainnya.

    Film tersebut memang menarik, dari sisi anak muda, suka dengan pakaian nya yang fashionable, kaos2nya cantik…dari sisi anak dewasa (seperti anakku), ini adalah seperti pembelajaran politik, sedang dari sisi saya sebagi orangtua adalah bagaimana orangtua memberi kepercayaan pada anak, yang terkadang menjadi bumerang saat si anak ternyata tertipu oleh teman yang selama ini dianggap baik.

  15. Queen Bee..film yang disponsori sama salah satu produk shampoo, ya, bu ?

    syelviapoe3,
    Yup betul……sponsornya banyak, dan menurutku tetap bagus, tak terlalu terlihat, juga ada sponsor dari es cream….sayang penontonnya nggak dapat es cream

  16. Wah sepertinya bagus nih untuk aku yg punya anak gadis bisa untuk belajar nantinya. Di Yogya diputer nggak ya? Thank BU.

    mas8nur,
    Biasanya yang punya masalah adalah antara bapak dan anak….para ibu lebih mudah, karena biarpun kerja seharian, ibu masih menyisihkan waktu untuk memperhatikan hal-hal yang lebih detail, dan lebih mudah mendekati anak-anaknya.

  17. saya harus banyak belajar nih
    sebelum bener2 jadi orang tua 🙂

    Achoey,
    Yang penting niatnya…dan sangat menyenangkan lho, jika dekat dengan anak, jadi muda terus, mereka lucu-lucu, dan mengingatkan kita saat masih muda seusia mereka….

  18. Jadi udah langganan fast net nih Bu? Sama dong dengan akyu…Ha ha ha…
    Btw, akupun mengira film Queen Bee ini film ecek2, padahal kalau membaca dari ulasan Ibu ceritanya bagus ya…
    Itulah kalau marketingnya kurang pas…

    Hery Azwan,
    Saya juga awalnya mengira begitu, promosinya kurang, sutradaranya belum dikenal. Kan biasa, kita melihat film dengan melihat siapa sutradara nya, dan siapa pemainnya. Saya bersyukur si sulung maniak film, dan dia ngotot ibu harus menonton film itu…ternyata bagus.
    Saya suka permainannya Mathias Muchus, juga salah satu pemainnya yang pernah main sebagai Khudori di Perempuan Berkalung Sorban. Sedang Tika Putri disini saya lihat permainannya lebih bagus (mungkin tertantang adu main dengan Mathias Muchus), dibanding dengan saat main di Jagad xCode.

    Film ini segar, lucu, menyenangkan dan ada banyak pesan didalamnya tanpa kita merasa berat……hehehe…saya termasuk penonton yang suka melihat cerita ringan, karena itu tujuannya nonton, biar hati ringan.

  19. Saya sering melihat orangtua terlalu memanjakan anak-anaknya, karena saking sayangnya. Ada juga orangtua yang tidak berani melarang keinginan anaknya (meskipun keinginan itu salah) karena takut si anak tidak sayang lagi padanya.

    Mendidik anak secara benar memang ada ilmunya yang harus dipelajari. Ibu saya dulu mendidik dengan cara kuno : keras dan disiplin. Anak-anak memang menjadi mandiri, tapi merasa ‘kering’ …

    Tutinonka,
    Orangtua saya sudah termasuk berpikiran modern, walau disiplin dan hidup sederhana. Ayah ibu pacarannya 10 tahun dan teman seangkatan. Pendidikan yang demokratis ini secara tak langsung melekat dalam diri saya, saat saya membesarkan anak-anak. Dulu, saya bisa cerita dengan ayah, jika ada cowok yang naksir saya…hehehe
    Sekarangpun anak-anak suka cerita gebetannya (gebetan lho…belum pacar…hahaha).
    Dan hal biasa jika orang melihat, saya bersama anak suka cekikikan bareng…menyenangkan mbak Tuti, kita serasa ikutan muda…Juga terkadang berdebat sampai keras….tapi bukan berantem

  20. Kok Ibu bisa ya bicara secara terbuka dari hati ke hati begitu dengan anak…

    Hmmm…

    Daniel Mahendra,
    Ini yang diceritakan disini…aslinya lebih parah lagi…hehehe. Bisa cekikikan, ketawa-ketawa, juga sampai guling-guling an di kasur. Dan bisa mengobrol berjam-jam di Cafe, sambil makan dan minum, melihat orang berlalu lalang, ketawa-ketawa jika membayangkan kita memakai pakaian seperti yang dipakai orang yang lewat…dan lain-lain lagi.
    Btw, menyenangkan kok mengobrol dengan mereka….DM juga merasakan sendiri kan jika mengobrol dengan ponakanmu yang memanggil paklik itu?
    Kadang dia lagi melow, kadang lagi gembira…dan kadang uring-uringan….dan kita harus bisa menghadapi dengan tenang, dan juga terkadang harus melingkar, melalui orang lain…..

  21. orang tua juga manusia. tapi studi membuktikan makin tidak suka anak terhadap ortunya makin miriplah sifat dia dengan sifat ortunya.

    Boyin,
    Betulkah?
    Dengan kedekatan anak dan orangtua, kita malah bisa mengingatkan, agar kesalahan orangtua tak terulang dilakukan oleh anak. Selain faktor genetik, maka perilaku manusia bisa dibentuk dan dipengaruhi oleh lingkungan (saya pernah menulisnya di postingan sebelumnya)

  22. emang sulit bu,, apalagi kalo anaknya anak tengah, yang punya banyak keinginan dan cita2, tapi kadang ga sesuai dengan keinginan dan cita2 orang tuanya..

    Billy Koesoemadinata,
    Memang harus ada diskusi, dan sebaiknya orangtua tak menekan, namun memahami keinginan anak, dan berusaha mengingatkannya bila keinginan anak dianggap kurang tepat (mis. orangtua melihat potensi anaknya lebih dapat ditingkatkan lagi). Disini terkadang diperlukan bantuan pihak ketiga untuk membuka wawasan anak, yang terkadang sangat dipengaruhi lingkungan teman2nya, yang juga belum dapat melihat wawasan secara lebih luas.

  23. Assalaamu’alaikum..

    Kesulitan yang berlaku tertakluk kepada cara pendidkan yang diamalkan oleh orang tua itu sendiri. Jika anak-anak sejak kecil dididik dengan kasih sayang dan diperingatkan baik atau buruk berserta rahmah pasti kesulitan mudah diatasi. Ibarat pepatah Melayu menyatakan “melentur buluh biarlah dari rebungnya”. jangan sampai sudah menjadi buluh baharu hendak dilenturkan, pasti buluh akan patah dan timbul konfrantasi antara anak dan orang tua. Salam kenal dan hormat selalu.

    Siti Fatimah Ahmad,
    Betul bu, pada dasarnya seperti kita main layang-layang, gelasnya tak pernah dilepas…hanya kita mengatur kapan harus diulur dan kapan harus ditarik.
    Jadi antara anak dan ortu, komunikasi harus terus terjalin, dan jika hubungan baik, maka anak-anak akan senang saja diskusi dan mengobrol dengan orangtua. Bahkan teman-teman anakpun merasa senang datang dan bermain di rumah kita, karena kita juga menganggap mereka seperti anak sendiri.

  24. hmm, jadi ingat bapak ibu. meski jauh dan baru dekat dengan beliau beberapa tahun terakhir, ibu benar, orang tua selalu menyayangi anak-anaknya walaupun kadang si anak sulit memahami tentang arti sayang orang tua.

    thanks bu..

    Fety,
    Hmm ya, sifat dan karakter orangtua juga bermacam-macam, yang dipengaruhi oleh pola pendidikan mereka sebelumnya. Dan kita, sebagai orang yang pernah mengalami pendidikan, akan lebih banyak menyerap pengetahuan dan wawasan dari berbagai bidang, keluarga teman, tante dan om tempat kost…dan pada akhirnya kita juga memimpikan seperti apa keluarga kecil yang akan kita bentuk nanti.
    Siapapun orangtua kita, kita yakin beliau menyayangi anak-anaknya, walau terkadang tak bisa mengungkapkan rasa sayangnya secara nyata.

  25. sebuah pengalaman yang menarik bagaimana seharusnya menjalin komunikasi antara ortua dan anak, bu enny. jujur saja, saya juga mulai agak risau nih, bu. sulung mau naik ke kelas 3 SMA, dan yang kedua mau masuk SMA. kalau saya lihat, mereka malah memiliki kedekatan dg temen2 sebayanya dibandingkan dg ortunya sendiri. dalam soal memlih sekolah, misalnya, anak2 cenderung mengikuti kesepakatan teman2 karibnya, maski saya sendiri agak kurang sreg dg pilihannya. tapi mau gimana lagi, bu, saya juga mesti sesekali mengikuti kemauan mereka.

    Sawali Tuhusetya
    ,
    Betul pak, anak-anak sangat dipengaruhi teman-temannya. Dan agar mereka dekat dengan kita, maka kita juga harus menghargai teman-temannya, mengbrol dan menganggap mereka seperti anak kita sendiri.
    Temanku, yang putranya kelas 3 SMA cerita, anaknya malah tak pernah tanya-tanya, tapi jika teman2nya datang ke rumah, maka teman2nya tadi banyak tanya ke temanku (kebetulan temanku pernah menjabat Direktur di dua Bank, kemudian sekarang menjadi dosen dan juga ketua dewan salah satu lembaga pemberintah). Temanku sedih sekali, kenapa kok anaknya nggak mau tanya, tapi saya bilang, kan dia sudah memberi arahan pada teman2 anaknya, itu juga berarti memberi arahan pada anaknya secara tak langsung. Karena saat diskusi dengan teman anaknya, kan anaknya sendiri juga ikutan, walau pura2 cuek.
    Pak Sawali, yang penting adalah anak di test dulu, kira2 bakatnya kemana, nanti psikolog akan bisa menjelaskan, mana pilihan yang tepat sesuai bakatnya, jadi disini bapak bisa kerjasama dengan psikolog tadi. Saya yakin putranya akan mendengarkan pendapat psikolog tadi…dan biasanya sekolah memfasilitasi (anak2ku saat SMA ada tes yang dilakukan oleh sekolahnya dengan lembaga psikologi, dan dilanjutkan ada diskusi dengan psikolog).

  26. Review film nya oke… pembelajaran dari tulisan Bu Enny oke… Postingan bermutu, Bu.. Mudah2an menginspirasi saya dan isteri dalam membesarkan anak kami yang baru berumur 1,5 tahun, hehehe…

    Soyjoy,
    Sebenarnya mudah kok…asal kita mau memonitor dan mengikuti, tanpa mendikte…justru kita banyak belajar dari anak-anak dan temannya anak-anak.

  27. jadi memang nggak salah orang tua ikutan FB ya …

    Iman Brotoseno,
    Wahh itu mah wajib…
    Dengan ikutan FB, secara tak langsung kita bisa mengikuti perkembangan anak, apalagi jika anak udah sekolah atau kuliah di luar kota, bisa melihat kegiatan mereka apa saja (bisa dilihat dari foto2nya, atau celotehan teman-temannya)

  28. cerita film tho?

    Suwung
    ,
    ????

  29. Hari ini saya hanya ingin mengucapkan,”Pagi mBak Ratna”

    Puspita,
    Selamat pagi..ehh selamat siang…

  30. Anak-anak sekarang tambah nakal bu. Tapi yang jelas mereka tambah pintar. Ga ada cara untuk membendung mereka, yang penting adalah dikasih tau cara menyalurkan kenakalan mereka agar jadi positif.

    😉

    Bumi Magenta,
    Anak dilahirkan tidak nakal…ini cap yang salah dari orangtua dan lingkungannya.
    Namun yang ada adalah anak yang banyak akal, kreatif, sehingga terkadang orangtua sendiri tertatih-tatih untuk mengikutinya.

  31. Bunda…. apa kabar???

    “Sebagai orangtua, kita memang harus bisa mengikuti kemajuan dan teknologi, agar bisa tetap bergaul dan bersahabat dengan anak. Dan jangan mudah putus asa jika hubungan tak berjalan mulus, percayalah, pada akhirnya si anak akan memahami bahwa orangtua menyayanginya, walaupun caranya mungkin membuat anak kurang nyaman.”

    ahh bunda lagi-lagi mengingatkan aku pada alm Ibuku tentang sebaiknya sikap orang tua…

    Retie,
    Kabar baik….ehh Retie, kok kalau masuk ke blogmu lama sekali ya….?
    Menjadi orangtua menyenangkan kok, asal kita bisa menikmati dan mensyukurinya

  32. Sebagai orang tua yang belum lama punya anak, saya harus banyak belajar dari Bu Enny dan rekan blogger lainnya. Bagaimanapun juga, tumbuh kembang anak punya tantangan tersendiri tentunya.

    ups, nonton di bioskop hanya 5 orang saja? masih mending Bu. Saya pernah nonton film di bioskop. Penontonnya? hanya 2 orang saja.

    Zulmasri
    ,
    Iya…kadang saya berpikir, berapa biaya produksi, berapa biaya sewa, biaya operasional dsb nya….
    Namun salut karena bioskop tetap mau menayangkan film walau penontonnya sangat sedikit

  33. bener ya mbak.. anak jaman sekarang rada rada susah.. beda dengan jaman dulu yaaa..
    Salam Sayang

    KangBoed,
    Entahlah, menurutku anak sekarang justru lebih berani dan kreatif…
    Saya senang berada bersama anak-anak, dan selama ini hubungan kami sangat akrab, walau kadang saya harus tertatih-tatih untuk mengejar pemahamannya. Tapi anak-anakku selalu mendorong dan membuat ibu berani terus belajar.

  34. jaman dulu dunia jarang berubah.. ortu pas kecil maen gundu, anak jg maen dundu.

    kalau sekarang ortu pas kecil maen gundu, anaknya maen PS / X-BOX..
    memang tantangan calon ortu skrng utk bs mengimbangi zaman agar terus nyambung dgn anak2xnya

    Eric,
    Jangan kawatir Eric, orangtua zaman sekarang mau belajar terus agar bisa mengimbangi jika diajak mengobrol oleh anak-anaknya.

  35. Wah.. urusan anak emang gak mudah ya Bunda..
    Beda usia, beda cara pendekatannya…
    Disaat memasuki masa remaja, sepertinya paling bergelombang dan lebih sulit yaa..
    Saya juga terus belajar dan mencoba tiap2 kali pola pendekatannya mesti dirubah..
    Saya yakin anak2 pun tau betapa orang tuanya sayang pada mereka. Tapi pada saat2 tertentu pikiran mereka tidak menjadikan itu focus dan landasan pemikiran dan tindakan yg mereka ambil. Sementara kadang, bisa jadi orang tua juga kadang lupa berfikir dengan kerangka masa depan itu adalah kehidupan anak2nya dan bukan kehidupan mereka sendiri. Sehingga, kepentingan terbaik anak, bukan orang tua lah yang mestinya menjadi focus dan landasan berfikir dan tindakan yg mereka ambil.
    Hm.. simple but absolutely not easy at all.. ya Bunda.

    *Terus belajar dan mencoba untuk dapatkan hasil terbaik untuk anak-anakku…

    Nug,
    Terkadang saya juga nyaris patah semangat, tapi ternyata jika kita bisa melewati segala cobaan akan terasa menyenangkan. Dan anak-anak, juga akan berbuat kesalahan, sebagaimana orangtua yang juga tak selalu benar, namun memaafkan, menumbuhkan saling pengertian, dan menunjukkan pada anak bahwa orangtua menyayangi…itulah yang sangat berarti.

  36. untung bapak-ibu saya gak kenal fesbuk.. hihihihi…

    saya malah penasaran dengan film “bermutu hantu” itu, bu..

    lucu soalnya.. sebuah film horor yang jadinya malah film komedi.. hehehehehe

    Zam,
    Lha…kalau kenal fesbuk kan malah enak, bisa melihat tingkat atau perubahan status Zam setiap hari di fesbuk…juga nyambung jika diajak mengobrol gaya anak muda.

  37. wah saya pikir queenB cuma akan sama saja kaya film abege lainnya jadi malas buat nontonnya bu…
    bicara buat hubungan ortu anak, saya dan mama termasuk yang sulit skali nih…
    entah kenapa ga pernah bisa ada titik temunya, makin hari nampak makin miss… tapi ya sudahlah… skarang dijalani aja apa yang ada… mudah2an seiring waktu jadi membaik… atau paling ga jangan jadi memburuk 🙂

    Natazya,
    Gara-gara anakku maniak film, dia mendorongku terus untuk menonton film itu bersamanya (berarti dia dua kali nonton)….kalau hanya melihat posternya sih kurang menarik, gambarnya ABG…sayang kurang promosi padahal film nya menarik.

  38. enak bgt pny ortu yg bs d ajak diskusi spt bunda
    mw memperhatikan perkembangan putra-putrinya
    dengan maksimal…

    saya termasuk anak yg sering bermasalah dgn ortu terutama ibu saya

    saya sih slalu mrasa menyesal jk harus berdebat dgn ibu,,,,,
    saya jd g pernah tahu mana yg bener saya atau ibu saya,,,,

    saya mrasa tdk cocok dgn karakter bliau….padahal sdh 27 thn bliau jd ibu saya….
    pernah saya 1,5 thn tdk tgl serumah dgn bliau karna ikut suami,,,,byk rasa rindu…tapi…entahlah

    saya cm bingung…ktk berdebat hebat takut ditiru anak saya…krn sekarang saya tgl dgn ibu

    debatnya bukan debat presiden tapi debat kusir….
    krn pemahaman yg berbeda….mungkin…

    pusing…..bunda…..

    Yuyuk,
    Karena Yuyuk sekarang umur 27 tahun, cobalah dari Yuyuk yang melakukan pendekatan secara bertahap. Namun jika karakter terlanjur kuat, kita tak bisa memaksakan…nanti kalau Yuyuk berkeluarga, barulah bisa memberikan lingkungan keluarga agar menyenangkan dan nyaman bagi anak-anak, yang membuat anak setiap kali berani bicara terbuka pada orangtua nya

  39. bunda aku salut ma bunda.jd ingin sharing…boleh kan.aku punya adik yg bermasalah dg ibuku. pulang selalu tengah malam, jam 6 pg pergi lg. selama ni dia kerja di gamenet. alasannya sering gantiin jam kerja temannya. pdhal adikku orang yg plng dekat dengan ibu. mungkin karna adikku br berusia 3th waktu ayah meninggal.jd seolah2 masih kecil.(skrng21)spt mengurus dr sendiri aja ibu selalu campur tngan.kalau aku mengingatkan ibu, ibu selalu membela adiku. sy hny ingin adik bs mandiri karena dia laki2 satu2ny.apa yg hrs saya lakukan untuk menyadarkan ibuku dan sikap apa yg hrs kulakukan terhadap adik.makasih ya bu…

    Rin,
    Terkadang untuk mengingatkan melalui jalan berputar. Coba cari siapa kira2 orang yang didengar pendapatnya oleh adik , maka Rin bisa minta tolong orang tsb. Memang perlu proses, dan setiap kali akan melelahkan, tapi demi terciptanya hubungan yang baik, kita harus saling menghormati hubungan antara adik, kaka, dan orangtua. Semoga berhasil

  40. Bu OOT ya. Judul film Indonesia belakangan ini suka aneh-aneh. Jadi bikin bias dan bikin ilfil saya buat nonton. Kalau judulnya jelas, macam Garuda di Dadaku, King, atau Arisan misalnya, kans untuk saya tonton lebih besar. Padahal yang judulnya aneh belum tentu tak “berisi”.

    Yoga,
    Itu saya sadari setelah belakangan ini, sejak saya ikut diseret si sulung menemani dia menonton, sambil mendengarkan komentar dia melalui kuping kiri atau kanan (tergantung posisi duduknya).
    Film Queenbee tak akan saya tonton, kalau si sulung sebelumnya tak menonton, dan dia yang terus mendesakku untuk menonton. Poster, promosi juga ikut menentukan laku tidaknya film, karena bagaimana pun film telah menjadi bagian sebuah industri.

    Si sulung, yang memang suka film, dan sejak remaja suka diskusi dengan para sutradara, penulis skenario dll, berusaha menonton seluruh film nasional kita, kecuali film horor…jadi kayaknya, sepanjang ada waktu, semua film Indonesia di tontonnya. Makanya dia senang sekali saat ada undangan BF di Salihara, yang sayangnya saya terpaksa tak bisa ikut karena masih di lembang.

  41. makasih bunda sarannya tp apa maksudnya jalan berputar? misalnya apa bun?makasih

    Rin,
    Jalan berputar? Maksudnya tak “to the point”

  42. makasiii bunda ,…
    banyak kalimat yang sungguh bijak.. 🙂
    sarannya mantab .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: