Oleh: edratna | Juni 22, 2009

Duhh…Bandung kok makin macet aja

Paling senang sebetulnya mendapat tugas mengajar di daerah Bandung, karena sekaligus bisa menengok anak secara gratis. Tapi jika ada hal yang “agak disesali” kemarin, adalah waktunya bersamaan dengan acara “Bicara Film” di Salihara, yang sebetulnya sudah termasuk agenda untuk wajib dihadiri. Apa boleh buat, bagaimanapun dalam kehidupan kita sering dipaksa untuk memilih, apalagi saya yakin si sulung pasti hadir di acara tersebut.

Saat memberitahu si bungsu kalau ibu mau ke Bandung, kedengaran suaranya yang agak menyesal..”Ya…ibu, aku akhir pekan ada acara dengan teman-teman,” suaranya terdengar di ujung telepon. “Nggak apa-apa nak, minimal ibu masih bisa ketemu semalam, dan kita bisa mengobrol“. Kenyataannya, saya lelah sekali, jadilah saya tertidur di dekat nya saat menunggu si bungsu sedang menyelesaikan penulisan thesis nya. Jumat malam si bungsu berencana pergi ke Karimun Jawa bersama teman-teman nya. Akhir2 ini anakku cewek memang lagi senang berpetualang, sejak dia merasakan nikmatnya bepergian bersama teman-temannya ke Jawa Tengah, Jawa Timur beberapa bulan lalu, mendaki gunung Bromo dan ikutan rafting. Minggu lalu dia bersama teman-temannya mencoba snorkeling di Ujung Kulon.

Jadi, akhirnya saya menikmati Bandung berdua bersama suami, dan jika bepergian di Bandung pada akhir pekan, maka kemana-mana selalu dihadang kemacetan. Untungnya masih ada Popy, jadi setelah pulang dari rumah teman suami di daerah Bukit Vila Parahyangan, saya dan Popy turun di jalan Riau, suami terus ke rumah, maklum laki-laki suka males kalau di suruh mengantar perempuan jalan-jalan ke Factory Outlet. Kali ini saya santai aja karena sebetulnya barang yang dicari adalah keperluan si bungsu, dan karena anaknya sedang tak ikut jalan-jalan, saya dan Popy hanya sekedar jalan-jalan, kali aja ketemu barang yang ditaksir. Dan Popy geli, saat baru masuk ke salah satu FO, saya sudah mengatakan…”Cari makanan yukk...”. Jadilah kami berdua menikmati makan siomay dan minum hot lemon tea, di tengah area FO sambil melihat para perempuan sibuk memilih berbagai barang yang dipamerkan di FO tersebut. Tapi kali ini saya beruntung, karena dapat dua blouse yang bisa di pakai untuk kegiatan mengajar.

Minggu pagi saya mesti kembali ke Jakarta, supaya bisa ganti menemani si sulung, karena kalau hari kerja, dia sudah berangkat pagi-pagi dan pulang malam. Saya memilih naik travel yang terletak di jalan Dipati Ukur…..dan nyaris terlambat. Karena berpikir waktu masih satu jam, kami berangkat dengan santai, melewati jalan Riau, dan tahu-tahu jalanan macet sekali…entah ada apa di Gasibu. Pada saat mau putar balik di dekat Gasibu, tak ada satupun mobil yang mau mengalah…apa boleh buat, karena waktu sudah mendesak, akhirnya saya membuka pintu mobil….dan mulai menyetop dan mengatur mobil yang lewat. Entah karena lihat cewek mengatur lalu lintas, tukang parkir ikutan membantu mengatur lalu lintas, sehingga mobil saya bisa memutar….wuihh…rasanya tegang banget, untung tak ada orang yang iseng memotret saya saat bertugas menjadi polisi lalu lintas….

Ternyata, Minah salah jalan lagi, melewati depan gereja dan jalanan di palang, karena parkiran penuh dan luber dijalanan. Untungnya, kali ini saya tak perlu turun dari mobil, tapi hanya membuka jendela dan melambaikan tangan minta bantuan….Belum lagi tenang, telepon berdering, ternyata dari petugas travel, yang menanyakan, apakah saya jadi naik travel yang jam 10.15 wib. Akhirnya sambil bergegas, sampai juga di depan tempat travel, hanya 10 menit sebelum keberangkatan…..rasanya lega sekali.

Pada saat travel sudah berbelok dari Tol Cikampek dan masuk tol ke arah Pondok Indah, saya menilpon si sulung, apa ada acara atau mau mengajak ibu keluar, dia menjawab kalau ingin ke “Batavia Art Festival” di depan museum Fatahilah. Jadi, begitu sampai di rumah Jakarta, saya hanya menurunkan koper, sholat dulu, kemudian berangkat lagi ke museum Fatahillah (untuk ini cerita nya nanti di posting tersendiri).

Pelajaran yang saya petik, setelah beberapa kali terkena lalu lintas macet di Bandung adalah: 1) Kenali jalan yang akan di lalui, 2) Ingat hari itu, hari kerja apa hari libur, dan jam berapa. Karena ini sangat menentukan kepadatan lalu lintas, 3) Lebih baik menunggu daripada terburu-buru, dan ternyata dari daerah Buah Batu ke Dipati Ukur waktu satu jam masih belum cukup, terutama di akhir pekan.

Iklan

Responses

  1. waaah hebat ibu rupanya berbakat juga jadi polisi lalu lintas.
    Benar sekali….sayang tidak ada yang memotret ibu waktu itu. Kalau dipasang di blog kan asyik bu hehehe.

    EM

    Ikkyu_san,
    Hahaha….soalnya daripada nggak jalan, dan udah senewen…saya pernah ditinggal travel gara-gara macet. Jadi kemarin, berusaha tak terjadi lagi….

  2. Wah Bu, saya waktu ke Bandung tahun lalu juga merasakan kemacetan yang luar biasa…

    Denger-denger katanya di Bandung itu, seruas jalan bisa berubah-ubah aturannya dalam hitungan bulan, apa betul tho?

    Salam buat keluarga, Bu!

    DV,
    Wahh…lalu lintas Bandung memang paling aneh…sering diganti-ganti jalurnya, bikin bingung aja. Apalagi jika menggunakan sopir dari luar kota…saya pernah terjebak pas disopiri sopir jakarta, terpaksa dipandu anak dan suami agar nyampe rumah….hahaha

  3. Bundaaa….
    astagah bunda ngatur lalu lintas?
    HEBAT !
    coba dipoto bun 🙂

    btw Bandung memnag gak nyaman bgt kalo weekend apalagi long holiday. Duuuuh mendingan gak ke Bandung deh 🙂

    Eka,
    Hehehe…untungnya nggak ada Eka….jadi nggak ke foto…

  4. bunda…hehehehe
    hebat bener…salut!!!

    bener kata mbak imel dan mbak eka…
    coba ada fotonya ya 😀

    Ria,
    Padahal ada tustel…dan bersyukur nggak ada yang iseng memfoto

  5. Bude emang the best,lha wong pernah jadi Direktur Lalu Lintas je.
    Dimana-mana memang macet bude sekarang,Surabaya yang dulu adem-ayem sekarang juga udah banyak ruas jalan yang macet.
    Sabar ya bude.Kalo ngatur lalin jangan lupa pake masker ceremony lho.
    Salam kagem bude dari Surabaya

    Abdul Cholik,
    Wahh…polisi gadungan…jadi ya asal tangannya ndaplang kiri kanan….hehehe
    Mereka berhenti dan malah bantuin karena kasihan aja….

  6. pelajaran #4 dong, perlu jadi perempuan untuk diindahkan saat mengatur lalin. hihi…

    terakhir ke bandung sudah lama sekali, tahun 2006, saat kejadian sampah numpuk itu. wih, padahal waktu itu saya sedang menghadiri seminar lingkup asia pasifik, yang artinya banyak orang luar datang ke sana. what an impression.

    pertumbuhan prasarana jalan seantero indonesia yang bagai deret hitung sudah kewalahan menampung pertumbuhan kendaraan yang bagai deret ukur. nggak heran deh, bu.

    Marsmallow,
    Sebetulnya Bandung menyenangkan dan harga2 murah…..cuma karena bukan urang Bandung, saya mesti diantar kalau jalan-jalan, risikonya nggak pernah hafal jalan.
    Padahal suami saya sejak mulai kuliah tahun 1970, di sana terus…tapi teteup saya nggak hafal jalan karena lebih banyak di Jakarta.

  7. Wow, bunda Ratna turun dari mobil dan mengatur lalu lintas ? Hebat bunda, salut atas spontanitas bunda, semoga banyak yang niru hal ini, apalagi kalau macet.
    Wow, ternyata kegiatan bunda Ratna lumayan padat yach, jaga kesehatan lho bunda, jangan terlalu capek 🙂 🙂 🙂

    Best regard,
    Bintang

    Elindasari,
    Wahh jangan banyak yang niru….bukannya jalan makin lancar tapi malah makin macet nantinya….hehehe
    Itu juga terpaksa, karena terjebak macet yang nyaris berhenti (dan mesti ngejar travel), biasanya saya ya tenang-tenang aja, menikmati kemacetan yang memang sudah pemandangan sehari-hari

  8. hhhmm bandung…sekarang kayake gimana ya….

    Omiyan,
    Yang jelas Bandung makin panas hawanya, dan makin banyak kendaraan….

  9. Aduuhh… ibu hebat deh…
    Patut di contoh nih.. mau bekerja disaat yang lain gak ada perhatian

    Yanti,
    Lho! Itu justru karena agar jalan “agak lancar” biar mobil yang saya tumpangi bisa berjalan…maklum mengejar jadual keberangkatan travel, kalau ketinggalan uangnya hapus.

  10. Jalan-jalan di tengah keramaian gitu bikin kita capek sendiri ya Bun. Kalau aku pasti pakai pusing liat orang banyak lalu lalang.

    Salam buat Poppy si Bulet, ya bun 😀

    Puak,
    Salam untuk Popy akan saya sampaikan kalau ke Bandung lagi…

  11. hehehe.. nyang bikin maceeeeeet… akhir pekan orang jakarta buuuu… mereka berkumpul di semua tempat wisata Bandung sampai lembang… mungkin kehidupan jakarta membuat mereka semakin pengap… dengan Apartemen kecil bikin stresss.. berteman tembok

    KangBoed,
    Jadi orang Jakarta merupakan biang kemacetan ya…?
    Memang mungkin sih, karena kalau hari Minggu, kota Jakarta lengang…tapi ramainya di daerah wisata seperti Ancol dsb nya

  12. Banyak orang tidak mau mengalah karena tidak ada jaminan nantinya ada orang lain yg mau mengalah / memberikan jalan. Sekali-sekalinya orang mau “mengalah” adalah di parkiran mall, mereka mau dengan sabar menunggu kita keluar karena ada mau-nya yaitu menempati “bekas” tempat parkir kita … hehehe

    Oemar Bakrie,
    Betul pak, sekalinya diberi jalan, yang lain mengikuti terus menerus tanpa henti…jadinya yang mengalah malah terlihat konyol.
    Hehehe….saya kalau mau parkir di Mal, juga muter terus sambil mencari siapa yang kira2 mau keluar….

  13. beginilah bandung sekarang emang bu… menyebalkan sekali…
    jangankan kalau lagi liburan… ga libur aja udah macet ga karukaruan! tapi saya masih yakin ini masih kalah kalau di banding di jakarta 🙂
    wah… saya belum kebagian ketemu ibu nih di bandung 😀

    Natazya,
    Memang Jakarta lebih macet dan lebih ruwet, disamping panas menyengat.
    Lha ayo kapan kita mau ketemuan…ntar janjian sama Popy juga

  14. Ya, apalagi jalan2 seperti itu Bunda…

    Lha wong dari Dago atas ke Simpang saja, kalo hari Sabtu dan Minggu macetnya minta ampun dech….

    Bocahbancar,
    Padahal awal suami kuliah di Bandung, namanya angkot hanya setengah jam sekali..jadi orang dulu lebih suka jalan daripada menunggu angkot.
    Dan dulu Dago sepi karena hanya perumahan, sejak adanya FO jadi macet dimana-mana.

  15. Nambah satu lagi bu..pelajaran yang bisa kita dapatkan saat terjebak kemacetan adalah menjadi orang yang lebih sabar he he he..

    Salam kenal ya bu..semoga berkenan menerima uluran persahabatan dari saya..

    http://adiitya.wordpress.com

    Adiitya,
    Hmm…kalau nggak mengejar travel dan udah bayar, mungkin saya juga tenang2 aja…..
    Salam kenal juga, makasih telah berkunjung

  16. emang bu, bandung jadi muacet banget. beda sama waktu saya SMA dulu.. ke mana2 masih bisa naek motor, atau justru jalan kaki dan udara bersih..

    kalo sekarang,, wih.. susah!

    Billy Koesoemadinata,
    Betul…Bandung makin macet aja…tapi memang menyenangkan kok jalan-jalan di kota Bandung ini, walau cuma sekedar melihat orang yang rame lalu lalang.

  17. waktu pulang ke Indonesia saya sempat ke Bandung…..macettt cet jalanannya palagi rush hours.

    tapi saya selalu kangen makan mie kocok Bandung….biar sekarang bandung panas tapi masih tetap “mild”

    Wieda,
    Biar macet, Bandung tetap menarik…orang2nya kreatif, sehingga ada aja jenis makanan baru

  18. Mengerikan … hihihi … bagaimana jika aku kangen bandung nanti ya?

    Kalo gitu jalan kaki saja!

    Juliach,
    Biar macet tetap menarik kok…anak-anak pasti suka diajak jalan-jalan mengelilingi Bandung, juga wisata gunung, air terjun, serta wisata tanaman hias dan buah.

  19. makanya sy suka males klo pake mobil ^^..
    enakan motor kemana-mana..

    jd inget pas lebaran mau ke cipanas macet total, terpaksa putar balik itupun sy hrs turun buat buka jln dr motor2x yg ga tertib 😀

    Eric,
    Lha saya takut dibonceng naik motor…pilih naik angkot aja…hehehe

  20. wah kota bandung kota idaman saya sebenarnya sangat ingin bener main ke bandung 14 tahun tinggal di jakarta belum sempat main ke bandung alasannya cuma satu nggak ada tempat teman yang di tuju di sana, kalo masalah macet itu wajar kota semakin besar ya akan macet seperti itu, salam kenal ya

    Investasi,
    Kan Jakarta Bandung dekat, serta banyak tranportasi untuk mencapainya…dan tak harus menginap.

  21. Ou ou, nanti kalo saya pulang ke bandung, udah kayak gimana ya? hehehe. miss bandung, hopefully cepet selesai nih kerjaan.

    Iwan Awaludin
    ,
    Jangan kawatir pak, Bandung tetap kota yang menarik….

  22. itulah akibat poerkembangan jaman jadi banyak kendaraan. bandingkan dg jaman dulu motor di satu desa hanya ada satu sekarang tiap rumah kan punya.

    Munirudin,
    Masalahnya kita tak bisa kembali ke masa lalu kan…cuma bagaimana mengaturnya, agar lalu lintas dan kemacetan tetap bisa membuat warganya nyaman

  23. wah bandung mah emang jadi sering macet sekarang mah bu.. saya aja yg orang bandung suka kesel .. he..he..

    Ganjar aja,
    Dan selalu yang disalahkan orang Jakarta ya…padahal orang Bandung sendiri yang promosi…saat Cipularang ditutup sementara untuk perbaikan, yang protes justru pengusaha Bandung. Dan sekarang untuk menggenjot penjualan, yang pakai NPWP dapat potongan 10 % (dan saya lupa nggak bawa kartu NPWP di kantong)….

  24. Bisa membayangkan bagaimana Ibu mengatur lalin. 😀

    Yoga,
    Hahaha…justru karena itu semua jadi berhenti, karena bingung dan pengin ketawa….
    Dan blouse ku kebetulan berwarna kuning….tanda hati-hati…hehehe

  25. Ahahaha mba minah lupa klo minggu pagi tuh mobil jgn deket2 deh sama gasibu…kan disana lagi ada pasar kaget (yg benar2 bikin kaget krn paling besar d Bandung). Jalanan mulai normal kembali setelah jam 12 siang. Cateeettt 😀

    Si Bulet,
    Kayaknya mesti menghapalkan jalan mana aja yang macet pada hari dan jam tertentu di Bandung

  26. Apa kabar mbak?

    Saya baru saja pulang diklat IPA Vokasi dari P4TK Bandung namun sayang pelaksanaannya di Surabaya.

    Gagal menikmati kemacetan kota Bandung. Namun semoga tahun depan di panggil diklat IPA di Bandung dan semoga pelaksanaannya benar-benar di Bandung. Amin.

    Puspita,
    Kabar baik Puspita….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: